Pacitan (beritajatim.com) – Upaya pelestarian lingkungan sekaligus penguatan kesiapsiagaan bencana terus digencarkan di Jawa Timur. Gubernur Jawa Timur bersama musisi nasional Kaka Slank melakukan penanaman mangrove sekaligus meresmikan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (Pusdiklat PRBBK) di Watumejo Mangrove Park, Desa Kembang, Pacitan.
Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Kelompok Masyarakat (Pokmas) Jangkar Segoro Kidul dengan Rumah Zakat serta Turkish Cooperation and Coordination Agency (TIKA). Hadir pula perwakilan Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur dan unsur masyarakat setempat.
Gubernur Jawa Timur dalam sambutannya mengapresiasi sinergi lintas sektor yang terbangun antara masyarakat, lembaga sosial, hingga mitra internasional dalam menjaga ekosistem pesisir dan memperkuat ketangguhan warga menghadapi bencana.
“Penanaman mangrove ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Mangrove memiliki peran penting dalam mencegah abrasi, meredam gelombang pasang, sekaligus mengurangi risiko bencana di wilayah pesisir,” ujar Khofifah Indar Parawansa, Selasa (23/12/2025).
Ia menegaskan, upaya pelestarian lingkungan harus berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas masyarakat, terutama di daerah rawan bencana seperti pesisir selatan Jawa Timur.
Sementara itu, Akhadi Wira Satriaji atau Kaka Slank mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Menurutnya, aksi nyata seperti penanaman mangrove merupakan langkah sederhana yang berdampak besar bagi keberlanjutan alam dan kehidupan masyarakat pesisir.
“Kalau bukan kita yang peduli lingkungan, siapa lagi. Menanam mangrove hari ini adalah investasi untuk masa depan,” kata Kaka.
Selain penanaman mangrove, kegiatan ini juga ditandai dengan peresmian Pusdiklat PRBBK. Fasilitas tersebut diharapkan menjadi pusat edukasi, pelatihan, dan simulasi kebencanaan berbasis komunitas, sekaligus wadah penguatan pengetahuan lokal dalam menghadapi potensi bencana.
Perwakilan Rumah Zakat, Mei Sri Widuri, menyampaikan bahwa kehadiran Pusdiklat PRBBK tidak terlepas dari proses panjang pendampingan masyarakat pasca banjir besar yang melanda kawasan tersebut pada 2017.
“Sejak 2018, Rumah Zakat hadir mendampingi Pokmas Jangkar Segoro Kidul dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi potensi bencana, sekaligus menginisiasi terwujudnya kawasan konservasi Watumejo Mangrove Park melalui kolaborasi lintas sektor,” ungkap Mei.
Dengan diresmikannya Pusdiklat PRBBK dan penguatan kawasan konservasi mangrove, Watumejo Mangrove Park diharapkan tidak hanya menjadi destinasi wisata edukasi, tetapi juga pusat pembelajaran kebencanaan serta contoh praktik baik pengurangan risiko bencana berbasis komunitas di Pacitan. (tri/kun)
