Jakarta –
Sebuah eksperimen ilmiah yang dilakukan lebih dari tiga dekade lalu kembali menjadi sorotan. Ini terkait pemindaian Magnetic Resonance Imaging (MRI) terhadap pasangan yang berhubungan seks di dalam mesin tersebut.
Ternyata, hal ini mengubah pemahaman dunia medis tentang anatomi wanita dan mekanisme hubungan seksual.
Eksperimen tersebut dilakukan pada 1991 oleh Ida Sabelis dan pasangannya, Jupp, atas permintaan ilmuwan asal Belanda Menko Victor ‘Pek’ van Andel. Tujuannya adalah mengungkap apa yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh manusia saat berhubungan seks.
Gambar yang dihasilkan dari pemindaian MRI itu menjadi yang pertama di dunia. Kemudian dipublikasikan dalam artikel ilmiah yang sangat populer di British Medical Journal (BMJ) pada 1999.
Hingga kini, studi tersebut masih dibaca ribuan orang setiap bulannya.
Sebuah eksperimen ilmiah yang dilakukan lebih dari tiga dekade kembali menjadi sorotan. Ini terkait apa yang terjadi selama pria dan wanita berhubungan seks. Foto: British Medical Journal (BMJ)
Meski peristiwa itu terjadi lebih dari 30 tahun, Ida Sabelis baru-baru ini menceritakan pengalamannya secara mendalam di podcast ‘What Was It Like’. Ia mengaku tidak menyangka eksperimen tersebut akan menghasilkan temuan besar tentang tubuh wanita.
“Ini adalah salah satu mesin MRI pertama yang pernah ada, jadi mengambil fotonya membutuhkan waktu,” kata Ida, dikutip dari News.com.au.
“Ada perintah dari ruang kendali untuk tetap dalam posisi tersebut selama, entah berapa lama, satu menit. Jadi, dalam hal itu, ini sangat lucu,” sambungnya.
Ida awalnya berencana menggunakan posisi misionaris. Tetapi, ukuran mesin MRI membuat hal itu tidak memungkinkan.
“Jupp dan saya merangkak masuk ke dalam mesin itu dan mulai melakukannya. Itu bukan romantis, lebih seperti tindakan cinta dan pertunjukan,” tutur Ida.
“Untungnya kami tidak mengalami klaustrofobia,” tambahnya.
Alasan Ikut Eksperimen
Ida sebelumnya juga menjelaskan bahwa keterlibatannya dalam eksperimen tersebut didorong oleh latar belakangnya sebagai aktivis hak-hak perempuan. Ia ingin membantu memperluas pemahaman medis tentang tubuh wanita.
“Saat saya melihat foto-foto itu, saya langsung berpikir ‘oh, begitulah kita cocok bersama’,” terangnya.
Dalam penjelasannya, Ida mengaku melakukan hubungan fisik dalam posisi berpelukan, karena posisi misionaris menurutnya hampir tidak menimbulkan gairah.
Sebelumnya, anatomi vagina kerap digambarkan lurus, termasuk dalam ilustrasi terkenal Leonardo da Vinci dari tahun 1492. Itu menunjukkan vagina sebagai silinder lurus.
Namun, hasil MRI menunjukkan penis yang melengkung mengikuti tubuh wanita tanpa menimbulkan rasa sakit pada pria saat ereksi.
Temuan ini kemudian menjadi dasar studi formal yang dilakukan Ida dan Pek antara 1991 hingga 1999, dan dipublikasikan di BMJ. Eksperimen lanjutan dilakukan dalam posisi misionaris dengan relawan berusia di atas 18 tahun yang dapat menghentikan eksperimen kapan saja.
Meski dipublikasikan pada 24 Desember 1999, makalah tersebut menjadi salah satu ‘artikel paling populer sepanjang masa’ di BMJ. Bahkan mendapatkan penghargaan khusus pada peringatan 20 tahun jurnal tersebut tahun 2019.
Halaman 2 dari 2
(sao/kna)
