Bojonegoro (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus memperkuat ketahanan air untuk sektor pertanian. Hingga akhir tahun 2025, sebanyak 23 embung di berbagai desa telah rampung dinormalisasi, sementara sembilan embung baru selesai dibangun dan siap dimanfaatkan masyarakat.
Kepala Bidang Air Baku Irigasi Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) Bojonegoro, Bungku Susilowati, menjelaskan bahwa normalisasi dilakukan untuk mengembalikan fungsi embung yang sebelumnya mengalami pendangkalan akibat sedimentasi.
“Dulu banyak embung cepat kering karena endapan lumpur cukup tebal. Setelah dikeruk, kapasitas tampungnya meningkat signifikan. Contohnya embung di Desa Pajeng kini mampu menampung sekitar 19 ribu meter kubik air,” ujar Bungku, Sabtu (10/1/2026).
Menurutnya, normalisasi ini membuat embung tidak lagi sekadar menjadi kubangan air, tetapi benar-benar berfungsi sebagai cadangan air hujan yang bisa dimanfaatkan untuk irigasi sawah, kebutuhan ternak, hingga air baku desa. Total 23 desa kini memiliki embung dengan kondisi prima dan siap menunjang ketahanan pangan lokal.
Selain normalisasi, Pemkab Bojonegoro juga menuntaskan pembangunan sembilan embung baru yang tersebar di sejumlah kecamatan, di antaranya Kasiman, Padangan, Ngasem, Sumberrejo, Kedungadem, Sugihwaras, dan Balen. Seluruh paket pembangunan tersebut telah mencapai 100 persen secara fisik.
Menariknya, beberapa embung baru bahkan mencatatkan volume tampungan yang melampaui rencana awal sebagai bentuk optimalisasi lahan. Embung di Desa Ngasem, Kecamatan Ngasem, misalnya, memiliki volume realisasi sekitar 8.204 meter kubik, sementara embung di Desa Siwalan, Kecamatan Sugihwaras, mencapai 8.718 meter kubik.
“Seluruh paket pekerjaan pembangunan embung sudah selesai. Harapannya, manfaatnya bisa segera dirasakan masyarakat, terutama saat debit sungai menurun dan petani membutuhkan pasokan air yang lebih stabil,” kata Bungku.
Adapun sembilan embung baru yang telah selesai dibangun berada di Desa Ngaglik (Kasiman), Banjarejo (Padangan), Ngasem (Ngasem), Mlinjeng (Sumberrejo), Duwel Paket 1 dan 2 serta Desa Kedungadem (Kedungadem), Siwalan (Sugihwaras), dan Kedungdowo (Balen).
Dengan kombinasi normalisasi puluhan embung lama dan pembangunan embung baru, Pemkab Bojonegoro optimistis risiko gagal panen akibat kekeringan dapat ditekan. Infrastruktur air ini diharapkan menjadi penopang utama pertanian desa, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah secara berkelanjutan. [lus/kun]
