Yaman Minta UEA Tarik Pasukannya di tengah Berlanjutnya Konflik

Yaman Minta UEA Tarik Pasukannya di tengah Berlanjutnya Konflik

JAKARTA – Pemerintah Yaman menyatakan harapan agar Uni Emirat Arab (UEA) benar-benar ditarik dari wilayah selatan negara itu, di tengah masih adanya kehadiran militer terbatas Abu Dhabi di sejumlah kawasan.

Wakil Menteri Informasi Yaman Mohammed Qizan mengatakan kepada saluran Al Jazeera berbasis Qatar UEA masih mempertahankan kehadiran militernya di Bandara Riyan di Mukalla, Pelabuhan Al-Dhabba, Pulau Socotra, dan Pulau Mayun.

Dilansir ANTARA dari Anadolu, Rabu, 31 Desember, Qizan menuturkan kehadiran militer UEA tersebut dengan dalih memerangi terorisme, meskipun pemerintah Yaman tidak pernah mengajukan permintaan tersebut. Dia menegaskan pemerintah Yaman menginginkan penarikan yang nyata, bukan sekadar pernyataan untuk menenangkan opini publik.

Wakil menteri itu menyebut pasukan Emirat yang ditempatkan di provinsi-provinsi selatan digunakan untuk melawan rakyat Yaman dan para pemimpin politik. Ia bahkan menyebut penempatan pasukan itu sebagai inti dari permasalahan yang ada.

Lebih lanjut, Qizan mengingatkan pengumuman serupa yang disampaikan UEA pada 2019 terkait penarikan pasukan, yang kemudian diikuti oleh tindakan-tindakan yang melanggar kedaulatan Yaman, termasuk pengeboman terhadap tentara nasional di Provinsi Shabwa pada 2022.

Qizan juga memperingatkan penarikan simbolis dapat diikuti oleh dukungan tidak langsung yang bertujuan memicu ketidakstabilan.

Ia menegaskan pemerintah Yaman memiliki hak hukum untuk mengajukan gugatan ke pengadilan internasional demi mempertahankan kedaulatan dan keutuhan wilayah negara.

Terkait kondisi di lapangan, Qizan menyatakan sebagian unit tentara menarik diri dari pos-pos mereka di wilayah selatan, sementara sebagian lainnya menyerah atau menyatakan kesetiaan kepada Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC) di bawah ancaman kekerasan.

Ia menambahkan Ketua Dewan Kepemimpinan Presidensial telah menyerukan seluruh angkatan bersenjata dan aparat keamanan untuk kembali ke barak serta berkoordinasi dengan otoritas lokal dan pimpinan koalisi.

Adapun Uni Emirat Arab pada Selasa (30/12) mengumumkan pengakhiran kehadiran militernya di Yaman setelah Dewan Kepemimpinan Presidensial menuntut penarikan pasukan UEA dalam waktu 24 jam.

Langkah tersebut diambil tak lama setelah koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman melancarkan serangan udara “terbatas” yang menargetkan dua kapal yang terkait dengan UEA di Pelabuhan Mukalla.

Serangan itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan sejak STC merebut provinsi-provinsi timur Hadramaut dan Al-Mahra awal bulan ini setelah bentrokan dengan pasukan pemerintah.