Bojonegoro (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk meningkatkan kewaspadaan selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026. Imbauan ini menyusul prakiraan cuaca ekstrem yang diprediksi masih berpotensi terjadi hingga 31 Desember 2025.
Kepala Pelaksana BPBD Bojonegoro, Heru Wicaksi, mengatakan kondisi cuaca ekstrem berisiko memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, hingga pohon tumbang, terutama di wilayah rawan dan kawasan wisata alam.
“Libur Nataru identik dengan meningkatnya aktivitas masyarakat, termasuk wisata alam. Kami mengingatkan agar keselamatan menjadi prioritas utama di tengah cuaca yang tidak menentu,” ujar Heru Wicaksi, Rabu (24/12/2025).
Untuk memastikan liburan tetap aman dan nyaman, BPBD Bojonegoro menyampaikan lima imbauan penting kepada masyarakat. Pertama, selalu mengecek lokasi tujuan dan menghindari daerah rawan banjir maupun longsor. Kedua, menyiapkan tas siaga berisi obat-obatan dan perlengkapan darurat.
Ketiga, mengawasi anak-anak dan tidak membiarkan mereka bermain atau berenang di sungai, waduk, maupun embung tanpa pengawasan. Keempat, rutin memantau informasi cuaca terkini dari BMKG atau BPBD. Kelima, segera melapor ke BPBD setempat jika terjadi kondisi darurat bencana.
Heru menambahkan, Bojonegoro memiliki sejumlah destinasi wisata alam yang banyak dikunjungi saat libur panjang, seperti Kayangan Api, Waduk Pacal, Air Terjun Kedung Maor dan Kedung Gupit, Negeri di Atas Angin Desa Deling, kawasan sumur minyak tua Wonocolo di Kecamatan Kedewan, hingga Gunung Pandan di Desa Klino, Kecamatan Sekar. Seluruh lokasi tersebut perlu diwaspadai karena rentan terdampak cuaca ekstrem.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini potensi cuaca ekstrem di Jawa Timur pada periode 21–31 Desember 2025. Kepala BMKG Juanda Sidoarjo, Taufiq Hermawan, menjelaskan bahwa seluruh wilayah Jawa Timur telah memasuki musim hujan, bahkan beberapa daerah berada pada fase puncak.
“Hingga akhir Desember diprakirakan terjadi peningkatan cuaca ekstrem yang berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat,” kata Taufiq dalam keterangan tertulis.
BMKG menyebutkan, kondisi ini dipengaruhi oleh aktifnya monsun Asia serta munculnya bibit siklon tropis 93S di Samudra Hindia selatan Jawa Barat. Meski tidak berdampak langsung, fenomena tersebut meningkatkan intensitas hujan dan berpotensi memicu bencana hidrometeorologi di berbagai daerah, termasuk Bojonegoro.
BPBD Bojonegoro pun mengajak masyarakat untuk tetap waspada, tidak memaksakan perjalanan wisata saat cuaca buruk, serta selalu mengutamakan keselamatan di mana pun berada selama libur Natal dan Tahun Baru 2026. [lus/ian]
