Jakarta (ANTARA) – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus, saat menghadiri puncak Innovative Government Award (IGA) 2025, meminta daerah menggali pendapatan asli daerah (PAD) lewat penguatan inovasi tanpa membebani masyarakat.
Dia mengatakan inovasi merupakan amanat langsung Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Pemerintah daerah diberi keleluasaan untuk berkreasi dan menghadirkan solusi sesuai karakteristik dan potensi lokal.
“Langkah tersebut dapat menjadi pembangkit kinerja pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas pelayanan, percepatan pembangunan dan meningkatkan daya saing daerah guna terwujudnya kesejahteraan masyarakat,” kata Akhmad di Jakarta, Rabu, sebagaimana keterangan tertulisnya.
Ia menyoroti dinamika global yang semakin kompetitif dan menuntut setiap negara, termasuk Indonesia, untuk terus memperkuat daya saing nasional.
Indonesia, kata dia, diyakini memiliki peluang besar untuk meningkatkan kinerja kompetitifnya melalui penguatan ekosistem inovasi daerah yang lebih sistematis, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Menurut dia, peningkatan daya saing tidak bisa mengandalkan kebijakan pusat semata, tetapi daerah harus berani mencari formula baru dalam mengoptimalkan potensi ekonomi lokal, memperkuat kolaborasi lintas sektor, serta melakukan digitalisasi layanan publik.
Wamendagri mencontohkan beberapa langkah strategis, seperti optimalisasi pajak restoran, pajak alat berat, pajak air tanah, maupun pengelolaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) secara lebih profesional.
“Daerah harus berani mencari terobosan baru yang sesuai dengan potensi wilayah masing-masing dengan begitu meski terjadi dinamika TKD (transfer ke daerah) roda pembangunan tetap berjalan dan kesejahteraan masyarakat dapat tetap meningkat,” ujarnya
Menurut dia, inovasi yang ada diharapkan dapat mampu menggerakkan perekonomian lokal sekaligus memperluas akses pasar internasional.
Selain itu, Akhmad juga mendorong replikasi inovasi antar daerah agar terobosan tidak berhenti pada satu wilayah tertentu saja, tetapi menjadi gerakan nasional.
Dia menyoroti praktik baik seperti pembangunan jembatan dan sumur bor berkemajuan non-APBD di Kabupaten Sambas yang mengedepankan gotong-royong, kolaborasi masyarakat, dan efektivitas anggaran.
Menurut dia, replikasi inovasi adalah kunci agar solusi tidak bersifat parsial. Dengan cara tersebut, ketahanan ekonomi semakin kuat dan pemerataan pembangunan dapat terwujud.
Adapun IGA 2025 mengusung tema Astacita yang selaras dengan visi dan misi presiden dan wakil presiden dalam memperkuat kualitas layanan publik, transformasi digital, dan percepatan pembangunan.
Melalui penghargaan itu, Kemendagri berharap inovasi daerah semakin terarah, berdampak luas, dan memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
“Dengan tema tersebut IGA memastikan inovasi dari daerah selaras dan relevan dengan prioritas strategi pemerintah pusat,” ujar Akhmad.
Sementara itu, Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Yusharto Huntoyungo mengatakan inovasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis bagi daerah untuk mampu menjawab tantangan pembangunan yang semakin kompleks.
“Kami berharap penghargaan IGA 2025 menjadi pemacu bagi daerah untuk meningkatkan kreativitas, memperluas replikasi inovasi, serta memastikan inovasi hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat,” ucapnya pada kesempatan yang sama.
Pewarta: Fath Putra Mulya
Editor: Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
