Teknis dari langkah ‘jemput bola” ini, dipaparkan Komjen Dedi, dimulai dari jenazah ditemukan lalu langsung diidentifikasi oleh tim DVI Polri. Tentunya identifikasi, lanjut dia, dilakukan dengan metode paling simpel yakni sidik jari hingga metode paling kompleks yakni tes DNA. Hal tersebut tergantung kondisi jenazah.
“(Wilayah) Agam kami kirim tenaga kesehatan (nakes). Jadi jangan harus menunggu lama di sini (RS Bhayangkara Padang), kalau perjalan dari Agam ke sini membutuhkan waktu. Harusnya tim DVI kita bisa langsung setelah dapat jenazah dari relawan atau tim kita, bisa kita langsung identifikasi. Sidik jari dulu yang cepat. Kemudian baru antemortemnya, setelah antermortem selesai baru clear baru kita cari,” papar dia.
Untuk percepatan identifikasi jenazah, eks Kadiv Humas Polri ini menegaskan tim DVI dari Jakarta telah dikerahkan seluruhnya ke wilayah terdampak bencana alam di Sumatera. Dedi menyebut tak hanya Polri, tapi stakeholders lainnya seperti Pemerintah Daerah, TNI dan Basarnas juga berjibaku mengevakuasi korban, baik yang selamat maupun tewas.
“Tim dari Jakarta, semuanya turun ke sini, bahu-membahu. Dan pemerintah daerah, Basarnas, kemudian Badan Penanggulangan Bencana, TNI, dan sektor terkait lainnya. Ini kecepatan kita juga untuk segera mengevakuasi korban, baik itu korban meninggal dunia, khususnya korban yang harus kita selamatkan dan mendapat perawatan rumah sakit,” pungkas Dedi.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5317434/original/049160900_1755342686-87c00477-0123-4972-a909-764dbcad48cf.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)