Tahanan Demo Agustus Meninggal Dalam Sel, Keluarga Lihat Luka di Jenazah

Tahanan Demo Agustus Meninggal Dalam Sel, Keluarga Lihat Luka di Jenazah

Surabaya (beritajatim.com) – Kematian Alfarisi bin Rikosen (21) di dalam sel tahanan Rutan Kelas I Surabaya, Medaeng, Kabupaten Sidoarjo pada Selasa (30/12/20265), masih menyisakan tanda tanya besar bagi pihak keluarga.

Alfarisi adalah salah seorang demonstran yang ditangkap dalam penindakan massa aksi bulan Agustus – September 2025 di Surabaya. Setelah meninggal dan hendak dimakamkan, tubuh pria 21 tahun ini diketahui menyimpan sejumlah luka lebam.

Kepala Biro Kampanye Hak Asasi Manusia (HAM) KontraS Surabaya, Zaldi Maulana, mengungkapkan bahwa pihak keluarga mendiang lah menemukan luka lebam tersebut. Luka ada di bagian dada sebalah kanan sampai ke punggung.

“Pada saat pemandian jenazah itu (keluarganya) melihat ada beberapa kejanggalan kedua telinga Alfarisi itu berwarna merah. Ada luka lebam merah ke-biru-an di dada sebelah kanan, sampai melingkar ke punggung belakang,” ujar Zaldi, hari Kamis (8/1/2026).

Kejanggalan lainnya, Zaldi turut mengungkapkan bahwa, Alfarisi sempat mengeluh saat ditahan di Mapolrestabes Surabaya. Ia diduga mendapatkan tindak kekerasan petugas, dipukul dan ditendang.

Usai mengalami kejadian dugaan kekerasan saat berada di Polrestabes Surabaya tersebut, Alfarisi diceritakan oleh teman sesama tahanannya sulit bernafas atau sesak, hingga puncaknya mengalami kejang dan kesulitan berbicara R atau cadel.

“Tahanan lain juga mengatakan, Alfarisi di Polres itu pernah (seperti) mengalami gejala stroke, bibirnya petot, tangannya itu kayak kiting. Sampai Alfarisi gak bisa ngomong R, itu setelah dipukuli,” katanya.

Lebih lanjut, Zaldi mengatakan kondisi kesehatan Alfarisi (21) semakin hari kian memburuk setelah dugaan penganiayaan yang ia alami. Berat badan turun drastis, 30-40 kilogram dalam empat bulan.

Zaldi menegaskan muncul pula dugaan kliennya selama sakit tidak diberi perawatan medis yang layak selama ditahan, baik dari pihak kepolisian maupun rutan.

“Sejauh ini kita tidak mendapat informasi kalau Alfarisi pernah dirawat atau ditangani tim medis. Justru (pihak) yang memberikan pertolongan pertama adalah kawan-kawannya sesama tahanan,” tegasnya.

KontraS juga meluruskan klaim pihak rutan yang sempat menyebut Alfarisi memiliki riwayat kejang sejak kecil. Pihak keluarga secara tegas membantah pernyataan tersebut.

“Pihak keluarga juga menyangkal bahwasanya pihak rutan kan mengatakan kalau semisal pihak keluarga bercerita kalau semisal Alfarisi memiliki riwayat kejang. Itu sama sekali tidak pernah pihak keluarga mengatakan seperti itu,” ucapnya.

Saat ini, KontraS Surabaya terus berkoordinasi dengan keluarga Alfsrisi di Sampang untuk menentukan langkah hukum selanjutnya. Yang jelas keluarga menuntut adanya penyelidikan independen untuk mengungkap fakta di balik kematian Alfarisi agar kejadian serupa tidak terulang kembali kepada tahanan lain.

“Keluarga masih belum puas dengan pernyataan bahwasanya Alfarisi meninggal karena kegagalan nafas gitu. Ya keluarga menginginkan kalau semisal pemerintah untuk segera melakukan penyelidikan independen terkait penyebab kematian Alfarisi,” kata Zaldi.

Kasi Humas Polrestabes Surabaya AKP Rina Shanty Dewi irit bicara saat dikonfirmasi perihal dugaan kekerasan terhadap Alfarisi semasa ditahan di Mapolrestabes Surabaya. Ia hanya mengucapkan terima kasih.

“Terima kasih infonya,” kata Rina saat dikonfirmasi awakmedia.

Sementara itu, Kepala Rutan Kelas I Surabaya, Tristiantoro Adi Wibowo, mengonfirmasi kabar meninggalnya Alfarisi. Ia menjelaskan, berdasarkan diagnosa medis Alfarisi mengalami gagal pernapasan. Namun, setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut dan koordinasi dengan pihak keluarga, diketahui bahwa Alfarisi memiliki riwayat kesehatan khusus sejak kecil yang diduga menjadi faktor pemicu kondisi tersebut.

“Jadi kalau diagnosa secara medis kan gagal pernapasan. Tapi tadi pas kakak kandungnya, keluarganya datang tadi menyampaikan memang benar kalau almarhum ini punya riwayat waktu kecil itu kejang-kejang,” kata Tristiantoro.

Berdasarkan informasi dari rekan sesama tahanan yang terlibat dalam perkara yang sama, Alfarisi disebut-sebut sudah pernah mengalami gejala serupa saat masih berada di tingkat penahanan kepolisian.

“Terus dari waktu di tahanan kepolisian pun teman yang satu perkaranya itu bilang Alfarisi memang pernah mengalami juga kejang-kejang itu,” ucapnya.

Alfarisi sendiri tercatat sudah menjalani masa penahanan di Rutan Medaeng selama kurang lebih empat bulan. Selama mendekam di balik jeruji besi sejak September lalu, pihak rutan menilai almarhum sebagai pribadi yang baik dan tidak pernah membuat masalah. Bahkan, di saat-saat terakhirnya, almarhum masih sempat menjalankan ibadah bersama rekan-rekannya.

“Bulan September berarti sudah jalan empat bulanan. Baik, beliau enggak ada masalah. Karena informasi juga kan di kamar pun istilahnya Salat Subuh kan di kamar ya Mas itu. Subuh itu Salat dengan teman-temannya begitu,” ungkapnya.

Disinggung soal kemungkinan adanya tindakan kekerasan atau penganiayaan terhadap Alfarisi selama di dalam rutan, Tristiantoro secara tegas membantah hal tersebut.

Ia memastikan bahwa proses penanganan dilakukan secara transparan kepada pihak keluarga. Pihak keluarga pun disebut telah menerima kepergian almarhum dan memilih untuk tidak melakukan autopsi lebih lanjut.

“Oh, enggak ada [kekerasan], Mas. Tadi pun kami sampaikan juga ke kakaknya kalau memang ini ‘kami menerima’ keluarga kandungnya tadi. Jadi tadi itu sudah kita sampaikan kalau ada pertanyaan lagi atau mau disampaikan monggo gitu tadi. Keluarganya bilang ‘cukup’ katanya,” tegas Tristiantoro. [rma/aje]