Tag: Soekarno

  • Korupsi sebagai Kalkulasi: Catatan dari Sidang Disertasi

    Korupsi sebagai Kalkulasi: Catatan dari Sidang Disertasi

    Korupsi sebagai Kalkulasi: Catatan dari Sidang Disertasi
    Dikdik Sadikin adalah seorang auditor berpengalaman yang saat ini bertugas di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), berperan sebagai quality assurer dalam pengawasan kualitas dan aksesibilitas pendidikan di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Memiliki minat mendalam terhadap kebijakan publik, Dikdik fokus pada isu-isu transparansi, integritas, serta reformasi pendidikan dan tata kelola pemerintahan. Dikdik telah menulis sejak masa SMP (1977), dengan karya pertama yang dimuat di majalah Kawanku. Beberapa cerpen fiksi dan opini karyanya telah dipublikasikan di media massa, termasuk di tabloid Kontan dan Kompas. Dua artikel yang mencolok antara lain “Soekarno, Mahathir dan Megawati” (3 November 2003) serta “Jumlah Kursi Menteri dan Politik Imbalan” (9 Oktober 2024). Ia juga pernah menjabat sebagai pemimpin redaksi dan pemimpin umum majalah Warta Pengawasan selama periode 1999 hingga 2002, serta merupakan anggota Satupena DKI. Latar belakang pendidikan suami dari Leika Mutiara Jamilah ini adalah Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (lulus 1994) dan Magister Administrasi Publik dari Universitas Gadjah Mada (lulus 2006).
    Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
    PUKUL
    09.00 WIB lebih sedikit pada Selasa pagi, 6 Januari 2026, saya menapaki lantai 4 Gedung M FIA Universitas Indonesia (UI) di Depok.
    Saya datang karena satu nama yang menggugah ingatan saya kembali ke Pekanbaru: Endang Hadiyanti. Dulu ia pegawai saya ketika saya menjabat Kepala Perwakilan BPKP
    Riau
    (2016–2019) di Pekanbaru.
    Kini di panggung auditorium UI itu, ia berdiri sebagai promovendus. Melangkah dari dunia memo, map, dan temuan audit, ke dunia metodologi, model, dan pertanggungjawaban akademik.
    Ketika Endang mulai menulis disertasinya, ia memiliki tiga anak. Penulisan itu memakan waktu tiga setengah tahun.
    Rentangan waktu yang bagi orang lain mungkin hanya pergantian kalender. Namun, bagi Endang sebagai seorang istri dan ibu, ia adalah rentang tubuh, tidur yang terpotong, dan rumah yang tak pernah benar-benar sunyi.
    Dalam masa itu, Endang tidak hanya menambah halaman dan daftar pustaka; ia juga menambah keluarga. Dari tiga anak, bertambah dua lagi. Saat disertasinya selesai, ia menjadi ibu dari lima anak.
    Pukul 10.00 WIB, di meja depan, Prof. Retno Kusumastuti, M.Si. membuka sidang. Di kiri-kanannya duduk para penguji: Prof. Dr. Eko Prasojo, Dr. Arief Hadianto, sementara layar zoom menampilkan para penguji lain: Prof. Dr. Roy V. Salomo dan Prof. Kumorotomo.
    Berdampingan dengan penguji hadir Dr. Lina Miftahul Jannah, M.Si. sebagai promotor, dan Dr. Achmad Lutifi, M.Si. sebagai ko-promotor.
    Judul disertasi Endang panjang seperti jalur administrasi yang berliku: “Desain Kebijakan Anti
    Korupsi
    : Studi Kasus di Provinsi Riau dengan Pendekatan Kontingensi.” Namun barangkali, untuk sesuatu yang rumit, kita memang perlu kalimat yang tak lekas selesai.
    Di kursi auditorium yang dingin itu, saya mendengar kata-kata akademik dari Endang tentang desain, kebijakan, dan kontingensi.
    Namun yang datang diam-diam bukan istilah, melainkan sebuah wilayah: Riau, dengan kabutnya, dengan kebun sawitnya. Juga dengan pertanyaan yang tidak pernah benar-benar pergi: mengapa kekuasaan begitu mudah jatuh ke dalam godaan?
    Saya pernah bekerja di mesin yang disebut pengawasan pemerintah. Di situ orang belajar satu hal: yang paling berbahaya bukan kesalahan yang gaduh, melainkan kesalahan yang menjadi kebiasaan. Sebab kebiasaan punya kemampuan menenangkan batin. Seolah semuanya normal.
    Di sidang itu, Prof. Eko Prasojo bicara tentang sesuatu yang kini sering kita dengar, tetapi jarang kita akui secara jujur.
    “Sekarang orang korupsi memakai pertimbangan cost–benefit analysis,” katanya.
    Seolah korupsi adalah proposal investasi: ada modal, ada biaya operasional, ada estimasi risiko, ada perkiraan laba. Penjara masuk kolom “biaya”. Remisi masuk kolom “diskon”.
    Kalimat itu terasa seperti mengetuk dinding kesadaran kita. Ia mengingatkan saya pada
    Lord Acton: power tends to corrupt
    .
    Namun di sini “corrupt” tak lagi dramatis; ia bekerja seperti
    spreadsheet
    . Ia menilai penjara sebagai biaya transaksi.
    Ia menilai hukuman sebagai
    discount rate
    . Dan kita tahu, angka-angka memungkinkan orang berdalih: “Saya hanya realistis”.
    Padahal realisme sering kali adalah nama lain dari menyerah. Kita terbiasa menganggapnya “memang begitu adanya”.
    Barangkali sebab itu, ketika Indonesia Corruption Watch memotret tahun 2024, angkanya tidak terasa sebagai kejutan, melainkan sebagai konfirmasi dari sesuatu yang sudah lama kita rasakan: 364 kasus, 888 tersangka, potensi kerugian negara Rp 279,9 triliun. (antikorupsi.org)
    Yang mengerikan bukan hanya besarnya, melainkan juga catatan ICW bahwa instrumen TPPU dan Pasal 18 UU Tipikor (yang bisa menguatkan pemulihan aset) belum dimanfaatkan optimal.
    Seakan-akan kita masih sering berhenti pada “memasukkan orang”, tidak cukup jauh mengejar “mengembalikan uang”. (antikorupsi.org)
    Dan di peta sebaran itu, Riau, provinsi yang dulu saya kenal lewat rapat, penugasan, dan audit, kembali muncul sebagai titik yang terlalu sering menyala: menurut pantauan ICW yang diolah Katadata, Riau mencatat 35 kasus, tertinggi pada 2024. (Databoks)
    Angka-angka itu seperti deru mesin. Ia tidak menjerit, tetapi menandai bahwa sesuatu terus bekerja, terus berulang. Dan itu yang lebih menakutkan: korupsi sebagai rutinitas.
    Riau sering disebut kaya akan minyak, gas, hutan, dan sawit. Namun, kekayaan alam kadang seperti magnet: ia menarik bukan hanya investasi, melainkan juga nafsu.
    Yang disedihkan: nafsu itu sering datang melalui jalur yang sangat rapi: dokumen, izin, rapat, paraf.
    Dalam sekitar dua dekade, Riau menyaksikan empat episode kegubernuran yang bersinggungan dengan perkara korupsi. Bukan sebagai kecelakaan tunggal, melainkan sebagai pola yang berulang.
    Babak pertama: seorang gubernur didakwa merugikan negara sekitar Rp 4,6 miliar dalam pengadaan 20 unit mobil pemadam kebakaran. (
    detiknews
    )
    Jaksa menuntut hukuman empat tahun penjara dan denda; pengadilan kemudian menjatuhkan vonis empat tahun penjara. (
    Hukumonline
    )
    Hari ini, Rp 4,6 miliar mungkin terdengar “kecil” dibanding skandal-skandal mutakhir. Namun, justru di situlah tragedinya: kita belajar mengecilkan yang seharusnya besar—lalu merasa wajar.
    Babak kedua: seorang gubernur pada 2014 divonis 14 tahun penjara dalam perkara korupsi terkait PON dan sektor kehutanan. (
    detiknews
    )
    Dalam dakwaan perkara kehutanan, kerugian negara yang disebut mencapai sekitar Rp 265,912 miliar. (
    Hukumonline
    )
    Di sini korupsi naik kelas: dari pengadaan yang terbatas menjadi pengelolaan sumber daya—hutan, lahan, izin—sesuatu yang nilainya bukan hanya rupiah, melainkan juga udara, ekologi, dan masa depan.
    Babak ketiga: seorang gubernur, meskipun sudah berganti orang, ditangkap KPK pada 2014 dalam perkara suap terkait alih fungsi hutan. Rincian suap yang diterima 166.100 dollar AS terkait alih fungsi hutan seluas 2.522 hektar.
    (detiknews
    )
    Vonisnya bermula dari enam tahun dan kemudian diperberat menjadi tujuh tahun; ia sempat mendapat grasi dan bebas, lalu kembali dijerat KPK dalam perkara lain terkait dugaan suap pengesahan RAPBD-P. (
    detiknews
    )
    Dalam kisah ini ada sesuatu yang lebih pahit daripada hukuman: pengulangan. Seolah sistem memberi ruang bagi kita untuk lupa. Dan lupa itu menjadi karpet merah bagi pelanggaran berikutnya.
    Babak keempat, lebih dekat dengan hari ini: pada November 2025, seorang gubernur ditetapkan KPK sebagai tersangka dalam kasus dugaan pemerasan dengan nilai yang disebut Rp 7 miliar. (
    detiknews)
     
    Dan pola itu tidak berhenti di tingkat provinsi. Di level kabupaten/kota di Riau, tercatat seorang bupati nonaktif yang divonis 6 tahun penjara dalam kasus suap proyek jalan.
    Ada pula mantan bupati yang divonis 4 tahun dalam perkara korupsi (dengan rincian denda dan uang pengganti dalam putusan). Lalu, pada 2025, seorang mantan penjabat wali kota divonis 5,5 tahun dalam perkara korupsi pemotongan GU/TU persediaan.
    Nama yang menjabat boleh saja berbeda. Namun, ketika siapa pun dia menyandang amanah sebagai kepala daerah, kita lihat, betapa pola itu seperti mengulang lagu lama dengan aransemen baru.
    Pembabakan ini penting bukan karena kita gemar daftar perkara, melainkan karena ia membentuk pola: korupsi bukan insiden, melainkan risiko yang dianggap bisa dikelola. Dan ketika risiko bisa dikelola, moralitas menjadi sekadar catatan kaki.
    Daftar bisa saja diperpanjang, tetapi poinnya satu: korupsi di daerah sering tumbuh bukan karena orang tidak tahu aturan, melainkan karena aturan dipakai seperti tirai, menutupi transaksi yang berjalan di belakangnya.
    Di titik ini, saya mengerti kenapa Endang memilih kata “kontingensi”. Dalam teori, kontingensi berarti: tidak ada satu resep untuk semua penyakit. Kebijakan yang bekerja di satu tempat belum tentu bekerja di tempat lain.
    Korupsi lahir dari pertemuan konteks: kelembagaan, politik lokal, ekonomi sumber daya, budaya patronase, dan (kadang) pandangan masyarakat yang cenderung permisif.
    Sebuah kearifan yang terdengar sederhana, tetapi sering dilupakan oleh kita yang gemar solusi tunggal.
    Namun, saya menangkap inti yang lebih politis: Prof. Eko Prasojo dalam tanggapannya membedakan korupsi kecil sekelas
    petty cash,
    dan korupsi besar, korupsi transaksi dan “corruption by design”, yang sering disebut orang sebagai korupsi kebijakan.
    Ini korupsi yang tidak selalu meninggalkan jejak uang tunai di laci, melainkan jejak pasal di dokumen: perubahan tata ruang, izin, penganggaran, dan sektor lainnya.
    Cirinya: membuka ruang “bermain” untuk menjarah. Secara formal sah; secara substansi merampok.
    Pada titik inilah ucapan Prof. Eko Prasojo tentang analisis
    cost–benefit
    atas jarahan korupsi terasa seperti kunci yang pas.
    Jika korupsi sudah menjadi kalkulasi, maka yang harus mengubahnya bukan sekadar khotbah moral, melainkan perubahan struktur insentif: buat korupsi menjadi tidak layak dihitung.
    Dan itu membawa kita ke kata yang sering menimbulkan resistensi: pemulihan dan perampasan aset.
    Di luar negeri, “follow the money” bukan slogan. Ia kebijakan yang diukur.
    Hong Kong, misalnya, membangun ICAC sejak 1974 dengan pendekatan tiga serangkai: penegakan hukum, pencegahan, dan edukasi publik. (ICAC)
    Lembar fakta resmi pemerintah Hong Kong menyebut ICAC bertanggung jawab langsung kepada
    Chief Executive
    , memakai strategi tiga-pronged itu, dan pada akhir 2024 memiliki
    establishment
    1.549 pos.
    Yang mereka bangun bukan hanya lembaga, melainkan rasa: bahwa korupsi bukan kelaziman. Mereka mengubah “normal” menjadi “memalukan”.
    Singapura menegakkan pilar hukumnya dengan Prevention of Corruption Act (PCA). CPIB menjelaskan PCA 1960 sebagai hukum utama anti-korupsi, diberlakukan pada 17 Juni 1960, yang memberi kewenangan investigasi dan mendefinisikan pelanggaran serta sanksinya. (Corrupt Practices Investigation Bureau)
    Kita boleh tak sepakat dengan semua hal tentang Singapura, tentang kedisiplinannya, tentang cara negaranya mengatur warganya, tetapi sulit menyangkal satu hal: negara itu membuat korupsi tidak nyaman, tidak menguntungkan, dan tidak mudah disembunyikan.
    Di Inggris, angka pemulihan aset dipublikasikan sebagai statistik tahunan: pemerintahnya melaporkan 284,5 juta pound sterling aset yang dipulihkan melalui
    confiscation, forfeiture,
    dan
    civil recovery
    pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2025. (GOV.UK)
    Bukan berarti Inggris suci, bahkan mereka bergulat dengan peran London sebagai “laundromat” global. Namun, mekanisme “mengambil kembali” tetap dijadikan ukuran yang transparan.
    Lalu kita kembali ke Indonesia, ke cermin yang agak buram, tetapi tetap memantulkan wajah kita. Di CPI 2024, Indonesia memperoleh skor 37 dan berada pada peringkat 99 dari 180 negara. (Transparency.org)
    AP News
    mengingatkan bahwa lebih dari dua pertiga negara di dunia skornya di bawah 50; dan negara-negara teratas seperti Denmark, Finlandia, Singapura tetap bertahan tinggi. (AP News)
    Indonesia tidak sendirian dalam masalah korupsi. Namun, itu bukan alasan untuk merasa wajar. “Banyak yang begitu” adalah obat bius yang paling murah.
    Yang menyakitkan, saya kira, adalah urusan malu. Di sidang itu, kata “malu” muncul seperti tamu tua yang lama tidak diajak bicara.
    Endang bicara tentang budaya malu; Prof. Eko menyinggung masyarakat yang masih bisa memuja pelaku, atau setidaknya memaafkannya terlalu cepat.
    Kita hidup di masa ketika seseorang bisa keluar dari penjara dan kembali mendapat kepercayaan publik.
    Bukan karena ia sudah menebus salah, melainkan karena publik menganggap salah itu “tidak terlalu penting”. Bahkan banyak masyarakat melihat kedermawanan justru lebih penting, meskipun sumbernya dari korupsi.
    Max Weber pernah mengingatkan bahwa etika tanggung jawab menuntut kita melihat konsekuensi, bukan sekadar niat.
    Namun, konsekuensi korupsi terlalu sering ditanggung oleh orang yang tidak ikut berhitung: petani yang lahannya terseret konflik izin; warga yang menghirup asap dari hutan yang digunduli; anak sekolah yang jalannya rusak karena proyeknya dipotong; dan negara yang kehilangan kemampuan mempercayai dirinya sendiri.
    Dalam sidang itu, saya menyaksikan sesuatu yang jarang: pengalaman birokrasi dipaksa masuk ke dalam bahasa teori. Dipaksa rapi, diuji, dibantah, diluruskan.
    Ada momen ketika pertanyaan Prof. Eko Prasojo terdengar seperti peringatan: di lubang mana disertasi ini akan “memutus” korupsi yang begitu besar?
    Dan Endang menjawab dengan kejujuran yang tidak melebih-lebihkan: mungkin ini batu kecil, tetapi tetap batu. Yang meskipun tidak berdentum tetapi tetap terasa dan menggugah ketika dilemparkan.
    Saya teringat Camus: tugas kita bukan menuntaskan semua, melainkan menolak berkompromi dengan kebohongan.
    Disertasi itu, walaupun membawa Endang Hadiyanti lulus Cum Laude, dengan IPK 3,8, tidak akan menurunkan korupsi sendirian.
    Ia tidak akan mengubah pejabat menjadi suci. Namun, setidaknya ia bisa melakukan sesuatu yang lebih dasar: membuat kita berhenti menyebut yang busuk sebagai wajar.
    Saya membayangkan kalimat antikorupsi menempel di dinding kantor-kantor pemerintahan: bukan sebagai dekorasi, tetapi sebagai pengingat bahwa negara dibangun di atas kepercayaan. Dan kepercayaan tidak bisa diaudit kalau sudah habis.
    Saya pulang siang itu dengan perasaan yang seperti riak air: kecil, tapi terus bergerak. Saya pikir, barangkali inilah yang paling mungkin kita kerjakan sekarang: memperbaiki desain kebijakan dan desain insentif; membangun pengawasan yang punya gigi. Dan, yang paling sulit, memulihkan rasa malu sebagai etika publik.
    Sebab, selama korupsi masih bisa dihitung sebagai keuntungan, ia akan selalu tampak rasional.
    Dan jika ia rasional, kita akan terus memproduksi babak-babak baru, nama-nama baru, sidang-sidang baru. Sementara luka lama tak pernah benar-benar sembuh.
    Namun pagi itu, di Depok, saya melihat seseorang yang pernah bekerja di bawah bayang-bayang laporan hasil audit instansi pemerintah, kini berdiri di bawah cahaya kampus, mencoba merumuskan jalan lain.
    Itu bukan akhir. Bahkan mungkin bukan awal yang besar. Namun, di negeri yang sering kalah oleh kebiasaan, sekadar tidak ikut menormalkan, itu sudah merupakan bentuk keberanian.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Fakta Penggerebekan Pabrik Narkotika Cair yang Produksi Happy Water, Apa Itu?

    Fakta Penggerebekan Pabrik Narkotika Cair yang Produksi Happy Water, Apa Itu?

    Bisnis.com, JAKARTA – Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil menggerebek laboratorium pembuatan narkotika yang dikemas dalam bentuk liquid vape dan happy water pada Selasa (6/1/2026).

    Pabrik pembuatan narkotika cair tersebut berlokasi di salah satu apartemen di wilayah Ancol, Jakarta.

    “Kami menemukan tempat yang digunakan untuk meracik, mengolah narkotika cair yang kemudian disuntikkan ke dalam liquid vape dan happy water,” kata Plt. Deputi Pemberantasan BNN Budi Wibowo di Jakarta Utara, Selasa, dikutip dari Antaranews.

    Budi menerangkan dalam pengungkapan tersebut petugas menangkap total empat orang, yang saat ini telah ditetapkan sebagai tersangka dengan perannya masing-masing.

    Incar kalangan muda

    Lebih lanjut, Budi mengungkapkan sindikat pengedar narkotika kini mengemas narkoba dalam bentuk cartridge liquid vape untuk mengincar kalangan muda.

    “Ada rentang klaster, kelompok tertentu yang menjadi sasaran mereka. Utamanya penikmat, pengguna vape yang tentu dari hasil survei kita semakin bertambah banyak anak-anak kita, generasi bangsa kita karena menganggap bagian daripada tren adalah dengan mengonsumsi vape sebagai alternatif daripada rokok konvensional,” kata Budi.

    Kronologi pengungkapan pabrik narkotika cair

    Pengungkapan lab pembuatan narkotika tersebut berawal dari Operasi Pengamanan Natal dan tahun baru (Nataru) di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

    Pada saat itu, dua orang penumpang asal Malaysia berinisial HHS dan DM ditangkap karena kedapatan membawa bahan yang diduga mengandung narkotika jenis MDMA dan Ethomidate.

    Berdasarkan temuan tersebut, petugas langsung melakukan pengembangan dan menangkap dua orang lainnya, yakni PS dan HSN, yang diduga berperan sebagai pengendali lapangan serta pengatur operasional jaringan.

    Dari keterangan tersangka PS, tim gabungan kemudian melakukan penggerebekan di sebuah apartemen di Jakarta, yang digunakan sebagai lokasi peracikan narkotika.

    Di tempat tersebut, bahan MDMA dan Ethomidate yang diselundupkan dari luar negeri dicampur dengan minyak nikotin dan cairan perasa untuk dijadikan liquid vape sebelum dipindahkan ke lokasi lain.

    Mengenal Happy Water

    Melansir situs BNN Surabaya, Happy Water merupakan campuran beberapa jenis narkotika dalam bentuk cair yang sering dicampurkan ke dalam minuman.

    Selain Happy Water, terdapat narkotika cair lain yang wajib diwaspadai oleh masyarakat. Salah satunya adalah liquid vape.

    Pada penggerebekan yang baru-baru ini dilakukan BNN, liquid vape mengandung narkotika dikemas dengan menggunakan merek dagang Love Ind.

    Barang terlarang tersebut akan diedarkan ke sejumlah tempat hiburan malam dan dijual dengan harga kisaran antara Rp2 juta hingga Rp5 juta.

  • Saat Prabowo Klaim MBG Berhasil 99,99%

    Saat Prabowo Klaim MBG Berhasil 99,99%

    Jakarta

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara statistik telah berhasil 99,99%. Hal ini diungkapkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di depan Kabinet Merah Putih.

    Dia memaparkan selama setahun program ini bergulir, tepatnya dari 6 Januari 2025 ke 6 Januari 2026 telah ada 55 juta penerima manfaat mulai dari anak sekolah hingga ibu hamil.

    Menurutnya, hal ini sangat membanggakan. Dia membandingkan dengan Brasil yang lebih dulu menjalankan program serupa di mana butuh waktu 11 tahun untuk menjangkau 40 juta penerima manfaat. Sementara, Indonesia hanya butuh 1 tahun untuk menyentuh 55 juta penerima manfaat.

    “Ini sesuatu yang membanggakan juga karena negara-negara yang kita ketahui, contoh Brasil, Presiden Brasil menyampaikan kepada saya mereka butuh 11 tahun untuk mencapai 40 juta penerima manfaat. Kita 1 tahun mencapai 55 juta penerima manfaat,” ungkap Prabowo dalam Taklimat Awal Tahun Presiden, di Hambalang, Jawa Barat, Selasa (6/1/2026).

    Prabowo menyadari masih ada kekurangan pada program Makan Bergizi Gratis. Baginya, usaha sebesar program ini memang tidak mudah untuk dilakukan.

    “Apakah ada kekurangan? Ada. Dalam usaha manusia sebesar ini pasti ada kekurangan. Apakah ada penyimpangan? Pasti. Dalam usaha manusia sebesar ini pasti ada kekurangan dan penyimpangan,” sebut Prabowo.

    Meski banyak kekurangan, Prabowo bilang secara statistik Makan Gratis boleh dibilang sukses dengan persentase 99,99%. Pemerintah pun akan terus mengejar agar kegagalan yang cuma nol koma sekian persen bisa diubah jadi keberhasilan.

    “Tapi kita bersyukur bahwa kalau kita pelajari dengan objektif, statistik, boleh dikatakan bahwa kita 99,99% berhasil. Jadi Saudara-saudara, tentunya kita harapkan zero defect, itu yang harus kita capai. Tidak kita puas dengan kekurangan nol koma nol sekian, itupun bagi kita sesuatu yang harus kita atasi,” papar Prabowo.

    “Tapi alhamdulillah kita sudah mengatasi dan kita sedang mengatasi terus langkah demi langkah pengawasan demi pengawasan, langkah-langkah pengamanan terus kita lakukan. Tapi intinya adalah bahwa kita intervensi,” ungkapnya.

    Prabowo juga mengutip ungkapan Presiden pertama Indonesia Soekarno atau Bung Karno terkait pentingnya pemenuhan kebutuhan dasar bagi rakyat yakni makanan. Sebab, perut lapar tidak bisa menunggu.

    Oleh karena itu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkannya ini merupakan bentuk intervensi dari pemerintah agar masyarakat Indonesia sepenuhnya dalam keadaan kenyang.

    “Intinya adalah bahwa kita intervensi saya ingat kata-kata pendahulu-pendahulu kita salah satu ucapan Bung Karno, perut yang lapar tidak bisa menunggu. Pemimpin yang bertanggung jawab dan punya hati dan kepedulian harus bekerja keras untuk hilangkan kelaparan dan kemiskinan. Ini tugas yang kita emban, tugas mulia dan alhamdulillah kita penuh keyakinan, kita buktikan saya sangat yakin,” papar Prabowo.

    Meski di awal banyak pihak menilai program MBG akan gagal, namun Prabowo menyakini hal itu tidak bakal terjadi. Menurut Prabowo program MBG sangat dinanti anak-anak di berbagai wilayah di Indonesia.

    “Walaupun begitu banyak pakar yang menyinyir bahwa MBG pasti gagal. Tapi kita bukti kan kepada meraka bahwa MBG berhasil, MBG dinantikan oleh rakyat. Bahkan sekarang saya repot, saya sedih kalau ke daerah-daerah, anak-anak panggil saya kapan saya dapat MBG,” terang Prabowo.

    (hal/acd)

  • Aksi di Disnakertrans Jabar, Serikat Buruh Keberatan soal UMSK
                
                    
                        
                            Bandung
                        
                        6 Januari 2026

    Aksi di Disnakertrans Jabar, Serikat Buruh Keberatan soal UMSK Bandung 6 Januari 2026

    Aksi di Disnakertrans Jabar, Serikat Buruh Keberatan soal UMSK
    Tim Redaksi
    BANDUNG, KOMPAS.com
    – Sejumlah serikat buruh menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Barat, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Selasa (6/1/2026).
    Aksi ini dilakukan untuk menyampaikan keberatan atas kebijakan penetapan Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (
    UMSK
    ) yang dinilai belum sepenuhnya mengakomodasi sektor-sektor kerja di Jawa Barat.
    Sekretaris Perda KSPI Jawa Barat, Krisdianto mengatakan bahwa fokus utama
    buruh
    saat ini adalah persoalan UMSK.
    Untuk upah minimum kabupaten/kota (UMK), sebagian besar tuntutan buruh telah diakomodasi oleh pemerintah daerah.
    “Saat ini kan memang yang vital itu kan UMSK ya, kalau yang lainnya kemarin UMK kan sudah diakomodir
    Alhamdulillah
    ,” katanya saat ditemui di lokasi aksi.
    Kris menyampaikan, dalam Pasal 35 PP Nomor 49, penetapan sektor dalam UMSK tidak melibatkan Dewan Pengupahan Provinsi.
    Berdasarkan aturan tersebut, gubernur memiliki kewenangan untuk menetapkan hasil yang telah disusun di tingkat kabupaten/kota.
    “PP 49 bahwa sektoral itu tidak ada campur tangan dari Dewan Pengupahan Provinsi. Jadi Gubernur hanya menetapkan saja langsung,” kata dia.
    Namun demikian, ia menilai terdapat perubahan dalam proses penetapan UMSK di Jawa Barat.
    Ia menyebut, dari ratusan sektor yang diusulkan, hanya sebagian kecil yang akhirnya diakomodasi.
    “Fakta di lapangan bahwa Gubernur mengubah dan menghilangkan dari 490-an sektoral itu hanya tinggal 40-50 yang diakomodir,” katanya.
    Kondisi tersebut, menurutnya, mendorong
    serikat buruh
    kembali menyuarakan aspirasinya melalui aksi.
    Ia juga menyampaikan bahwa gerakan buruh tidak berhenti pada aksi hari ini.
    Pihaknya masih melakukan konsolidasi dengan serikat buruh di berbagai daerah, termasuk DKI Jakarta, untuk menyamakan langkah dan tuntutan.
    “Jadi malam nanti kita akan lakukan rapat konsolidasi (mogok massal) sejauh barat, artinya nanti juga mungkin akan digabung dengan teman-teman dari DKI ya,” tutur Kris.
    Terkait revisi kebijakan UMSK yang telah dilakukan sebelumnya, Kris menilai hasilnya hanya mengakomodasi 17 dari 19 daerah dan itu belum sesuai dengan harapan buruh karena hanya mencakup sebagian sektor.
    Menurut dia, penetapan sektor seharusnya didasarkan pada beberapa indikator, seperti klasifikasi usaha melalui KBLI (Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia) serta faktor risiko dan karakteristik perusahaan.
    “Contoh bahwa kategori sektor itu kan seperti apa? Ada dalam KBLI, faktanya Dewan Pengupahan Kabupaten itu sudah menyusun KBLI,” katanya.
    Sebagai langkah lanjutan, serikat buruh juga tengah menyiapkan upaya hukum.
    Tim khusus telah dibentuk untuk menyusun gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).
    “Kemarin kita sudah bentuk timnya,
    insya Allah
    hari ini juga tim sudah bekerja, sudah mulai menyusun gugatan,” ucap Kris.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Lagi-lagi Mobil Lawan Arah, Ujung-ujungnya Diamuk Massa

    Lagi-lagi Mobil Lawan Arah, Ujung-ujungnya Diamuk Massa

    Jakarta

    Lagi-lagi ada pengendara mobil yang melawan arah. Pengendara mobil lawan arah itu berujung diamuk massa.

    Peristiwa itu terjadi di Bekasi, Jawa Barat, Senin (5/1/2026). Pengendara mobil Toyota Avanza berkendara melawan arah di Kalimalang, Bekasi, Jawa Barat, hingga menyeret sepeda motor.

    Berdasarkan video yang viral di media sosial, warga sekitar sempat menegur pengendara mobil Avanza yang melawan arah tersebut. Soalnya, pengendara mobil yang melawan arah itu menimbulkan kemacetan. Mobil yang melawan arah tersebut juga sempat menabrak kendaraan lain.

    Mobil Avanza itu kemudian kabur hingga menyeret sepeda motor. Sepeda motor tersangkut di kolong mobil.

    Dikutip detikNews, menurut Kanit Gakkum Satlantas Polres Metro Bekasi Kota Iptu Iswahyudi. peristiwa itu terjadi di Lampu Merah Caman, Jalan Raya KH Noer Ali, Kalimalang, Bekasi.

    “Berjalan dari arah Jatibening (selatan). Setiba di TKP ketika masuk ke jalur berlawanan arah hendak belok kanan ke arah Kota Bintang (Timur),” kata Iswahyudi.

    Avanza itu menabrak sepeda motor yang hendak belok ke kanan ke arah Jatibening. Bukannya berhenti, pemobil itu kabur hingga menyeret motor.

    Warga yang geram dengan ulah pengendara Avanza itu mengejarnya. Sampai-sampai mobil dan pengemudinya diamuk massa.

    “Setelah kejadian kendaraan minibus Toyota Avanza B-1241-HZH meninggalkan lokasi kejadian, sehingga warga sekitar lokasi kejadian mengejar hingga berhenti di Global Prestasi School. Kemudian Avanza B-1241-HZH hancur diamuk massa beserta pengemudinya dihakimi massa sekitar,” kata Iswahyudi.

    Makin Nekat Mobil Lawan Arah, Nggak Cuma Motor!

    Akhir-akhir ini semakin banyak pengendara mobil yang melawan arah. Aksi nekat melawan arah ini tidak hanya dilakukan oleh pengendara sepeda motor, tapi juga pengguna mobil yang dimensinya jauh lebih besar dan lebih membahayakan.

    Akhir pekan kemarin, viral mobil Avanza melawan arah di Tol Bandara Soekarno-Hatta. Mobil itu melawan arah dengan menggunakan bahu jalan, bahkan sempat masuk ke lajur satu untuk melewati kendaraan yang berhenti di bahu jalan.

    Sebelumnya, viral juga mobil listrik Wuling Air ev melaju dari arah berlawanan. Kendaraan tersebut melintas di bahu jalan sambil menyalakan lampu peringatan. Media sosial juga dihebohkan Toyota Fortuner yang melawan arah di area Pluit, Jakarta Utara. Bahkan, pengemudinya sampai adu mulut dengan pemotor yang melaju dari arah sebenarnya.

    Pakar keselamatan berkendara dari Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana mengatakan pelanggaran pengendara yang melawan arah itu tumbuh karena lemahnya penegakan hukum.

    “Banyak kendaraan lawan arah dan sekarang mulai masif atau berjamaah karena rendahnya penegakan hukum,” ujar Sony Susmana kepada detikOto.

    Menurut Sony, pengendara di Indonesia juga punya karakter nekat dan tak sabaran. Mereka, kerap mencari cara untuk memangkas waktu di jalan raya.

    “Nggak bisa dimungkiri, banyak juga pengemudi yang berpikir simpel atau pendek, sekalipun harus melawan arah, bahkan imbauan atau teguran polisi dianggap angin lalu. Menurut saya, ini salah satu yang membuat hilangnya wibawa petugas,” tuturnya.

    (rgr/din)

  • Perut Lapar Tidak Bisa Menunggu

    Perut Lapar Tidak Bisa Menunggu

    Bogor

    Presiden Prabowo Subianto menyinggung ungkapan Presiden pertama Indonesia Soekarno atau Bung Karno terkait pentingnya pemenuhan kebutuhan dasar bagi rakyat yakni makanan. Sebab, perut lapar tidak bisa menunggu.

    Oleh karena itu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkannya ini merupakan bentuk intervensi dari pemerintahannya agar masyarakat Indonesia sepenuhnya dalam keadaan kenyang.

    “Intinya adalah bahwa kita intervensi saya ingat kata-kata pendahulu-pendahulu kita salah satu ucapan Bung Karno, perut yang lapar tidak bisa menunggu. Pemimpin yang bertanggung jawab dan punya hati dan kepedulian harus bekerja keras untuk hilangkan kelaparan dan kemiskinan. Ini tugas yang kita emban, tugas mulia dan alhamdulillah kita penuh keyakinan, kita buktikan saya sangat yakin,” ujar Prabowo dalam acara Taklimat Awal Tahun Presiden Republik Indonesia, Hambalang (6/1/2025).

    Meski di awal banyak pihak menilai program MBG akan gagal, namun Prabowo menyakini hal itu tidak bakal terjadi. Menurut Prabowo program MBG sangat dinanti anak-anak di berbagai wilayah di Indonesia.

    “Walaupun begitu banyak pakar yang menyinyir bahwa MBG pasti gagal. Tapi kita bukti kan kepada meraka bahwa MBG berhasil, MBG dinantikan oleh rakyat. Bahkan sekarang saya repot, saya sedih kalau ke daerah-daerah, anak-anak panggil saya kapan saya dapat MBG,” terangnya

    Prabowo juga melaporkan saat ini penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah mencapai 55 juta orang hanya dalam waktu satu tahun pelaksanaan.

    Prabowo bilang capaian ini telah melampaui capaian dari Brazil yang telah menjalankan lebih dahulu makan bergizi gratis. Dari hasil laporan Presiden Brazil yang ia terima, dalam 11 tahun program makan bergizi dijalankan di sana baru sekitar 40 juta.

    “Hari ini adalah 6 Januari 2026 dan kita sudah mencapai, dilaporkan kepada saya 55 juta penerima manfaat 55 juta anak-anak Indonesia menerima makan tiap hari dan termasuk ibu-ibu hamil,” kata Prabowo.

    “Ini sesuatu yang Membanggakan juga karena negara-negara yang kita ketahui contoh Brazil presiden Brazil itu menyampaikan kepada saya mereka butuh 11 tahun untuk mencapai 40 juta penerima manfaat dan kita satu tahun 55 juta penerima manfaat,” sambungnya.

    (hrp/hns)

  • Kiriman Barang via Laut Melonjak per November 2025, ALFI: Efek Pembangunan Wilayah Timur

    Kiriman Barang via Laut Melonjak per November 2025, ALFI: Efek Pembangunan Wilayah Timur

    Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angkutan barang menggunakan moda laut domestik mengalami lonjakan signifikan pada November 2025, hingga 16,49% secara tahunan dan 3,58% secara bulanan.

    Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Trismawan Sanjaya mengungkapkan, peningkatan memang terjadi, khususnya untuk pengiriman barang menggunakan kapal laut ke wilayah Timur Indonesia. 

    “Ini karena pertumbuhan ekonomi dan kawasan industri di wilayah Timur yang signifikan. Seperti pembangunan infrastruktur kebutuhan mesin industri pertambangan,” tuturnya kepada Bisnis, Selasa (6/1/2026).

    Selain itu, Trismawan melihat peningkatan juga terjadi karena model kegiatan logistik barang konsolidasi atau pengiriman gabungan yang sebelumnya menggunakan angkutan udara, kini beralih melalui laut. 

    Bukan tanpa sebab, hal ini akibat seiring dengan kenaikan volume barang kiriman ke wilayah Timur dan demi menekan biaya logistik. 

    “Ada pergeseran pengiriman dari udara melalui laut karena volume logistik yang lebih besar,” lanjutnya. 

    Peningkatan tersebut terjadi di tengah penurunan kinerja angkutan barang melalui moda udara dan kereta api, yang masing-masing kontraksi sebesar -3,13% dan -2,52% month to month (MtM). 

    Sementara secara tahunan (year on year/YoY) atau dibandingkan dengan November 2024 lalu, kiriman barang domestik melalui angkutan udara anjlok sebesar -9,31%. Namun, angkutan barang menggunakan kereta masih tercatat tumbuh sebesar 7,12%, khususnya untuk kereta barang di Sumatra. 

    Melihat data secara kumulatif atau sepanjang Januari hingga November 2025, angkutan barang menggunakan pesawat mencapai 612.400 ton atau naik 0,82% dari periode yang sama tahun lalu. 

    Jumlah barang yang diangkut terbesar terdapat pada Bandara Soekarno Hatta-Tangerang yang mencapai 211.900 ton atau sebesar 34,6% dari jumlah seluruh barang yang diangkut, diikuti Sentani-Jayapura sebanyak 80.000 ton atau sebesar 13,06%.

    Pada periode yang sama, pengangkutan logistik menggunakan angkutan laut mencapai 463,8 juta ton atau naik 16,77%. 

    Peningkatan jumlah barang yang diangkut terjadi di Pelabuhan Makassar sebesar 8,78%, Tanjung Priok sebesar 4,72%, dan Panjang sebesar 0,24%. Sebaliknya, penurunan jumlah barang yang diangkut terjadi di Pelabuhan Balikpapan sebesar 20,60% dan Tanjung Perak sebesar 0,51%.

    Kemudian barang yang diangkut menggunakan kereta tercatat mencapai 67,5 juta ton atau naik 0,63%, utamanya untuk komoditas batu bara. Peningkatan jumlah barang terjadi di wilayah Sumatra sebesar 2,92%, sebaliknya penurunan di wilayah Jawa non-Jabodetabek -9,55%.

    PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI pun melaporkan batu bara menjadi komoditas terbesar yang diangkut KAI dengan volume 52.722.455 ton. Volume ini meningkat 4% dibandingkan periode yang sama tahun 2024, seiring meningkatnya kebutuhan pasokan energi.

  • InJourney Layani 10,2 Juta Penumpang saat Nataru, Ini 5 Bandara Tersibuk

    InJourney Layani 10,2 Juta Penumpang saat Nataru, Ini 5 Bandara Tersibuk

    Bisnis.com, JAKARTA — PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) melaporkan telah melayani 10,2 juta pelanggan selam masa Angkutan Nataru 2025/2026 mulai 15 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026. 

    Direktur Utama InJourney Airports Mohammad Rizal Pahlevi mengatakan, total penumpang kumulatif tersebut tercatat lalu lalang di 37 bandara yang InJourney kelola di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut terpantau turun tipis dari periode Nataru 2024/2025 yang sekitar 10,24 juta orang.  

    Pergerakan penumpang tertinggi pada arus keberangkatan sebelum Natal ada pada 24 Desember 2025 yakni 543.000 penumpang, serta sebelum Tahun Baru 2026 pada 28 Desember 2025 sebanyak 531.000 penumpang.  

    “Adapun pada arus balik, pergerakan tertinggi pada 4 Januari 2026 menyentuh hampir 560.000 penumpang,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (6/1/2026).  

    Menilik realisasi penumpang di bandara-bandara InJourney, jumlah tersebut terpantau lebih rendah dari prediksi awal yang mencapai 10,54 juta penumpang atau setidaknya meningkat 4,1% year on year (YoY). 

    Sementara dengan realisasi terkini, artinya jumlah penumpang yang InJourney layani kontraksi sebesar -0,39% YoY. 

    Adapun, pergerakan pesawat sepanjang Nataru 2025/2026 mencapai sekitar 76.000 penerbangan, termasuk sekitar 2.000 penerbangan tambahan (extra flight). 

    Lima bandara tersibuk adalah Soekarno-Hatta Tangerang (CGK) dengan total 3,5 juta penumpang dan 23.000 penerbangan), yang diikuti oleh I Gusti Ngurah Rai Bali (DPS) sebanyak 1,4 juta penumpang dengan 9.000 penerbangan. 

    Kemudian Juanda Surabaya (SUB) tercatat melayani 863.000 penumpang dengan 6.000 penerbangan, Sultan Hasanuddin Makassar (UPG) yang melayani 603.000 penumpang dengan 4.000 penerbangan.  

    Terakhir, kepadatan juga terpantau di Kualanamu Deli Serdang (KNO) dengan total 486.000 penumpang dan melayani 4.000 penerbangan.  

    Rizal menyampaikan, dalam pelaksanaan monitoring angkutan Nataru, peningkatan lalu lintas penerbangan dan pergerakan penumpang dapat dikelola dengan baik. 

    “Kami berterima kasih atas dukungan seluruh pengguna jasa, dan juga menyampaikan permohonan maaf apabila masih ada layanan yang dinilai belum sempurna,” lanjutnya.

    Selama periode itu pula, InJourney mampu mendorong optimalisasi operasional bandara melalui utilisasi slot time atau ketersedian waktu keberangkatan penerbangan dan kedatangan penerbangan di seluruh bandara.

    Secara kumulatif pada Nataru 2025/2026, utilisasi hampir menyentuh 90% atau lebih tinggi dibandingkan dengan Nataru 2024/2025 sebesar 84%. 

  • InJourney catat penumpang pesawat capai 10,2 juta selama Nataru

    InJourney catat penumpang pesawat capai 10,2 juta selama Nataru

    Jakarta (ANTARA) – PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) mencatat jumlah penumpang pesawat di 37 bandara yang dikelola selama periode angkutan libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026 mencapai 10,20 juta orang.

    “Sepanjang angkutan Nataru pada periode 15 Desember 2025 – 4 Januari 2026, InJourney Airports secara kumulatif di 37 bandara melayani sekitar 10,20 juta penumpang, atau relatif sama dengan periode 2024/2025 yang juga sekitar 10,24 juta penumpang,” kata Direktur Utama InJourney Airports Mohammad R. Pahlevi dalam keterangan di Jakarta, Senin.

    Dia menyampaikan pergerakan penumpang tertinggi pada arus keberangkatan sebelum Natal ada pada 24 Desember 2025 yakni 543 ribu penumpang. Kemudian sebelum Tahun Baru 2026 pada 28 Desember 2025 sebanyak 531 ribu penumpang.

    Adapun pada arus balik, pergerakan tertinggi pada 4 Januari 2026 menyentuh hampir 560 ribu penumpang.

    Sementara itu, pergerakan pesawat sepanjang Nataru 2025/2026 mencapai sekitar 76 ribu penerbangan, termasuk sekitar 2 ribu penerbangan tambahan (extra flight).

    Lima bandara tersibuk adalah Soekarno-Hatta Tangerang (3,5 juta penumpang dengan 23 ribu penerbangan), I Gusti Ngurah Rai Bali (1,4 juta penumpang dengan 9 ribu penerbangan), Juanda Surabaya (863 ribu penumpang dengan 6 ribu penerbangan).

    Selanjutnya Sultan Hasanuddin Makassar (603 ribu penumpang dengan 4 ribu penerbangan) dan Kualanamu Deli Serdang (486 ribu penumpang dengan 4 ribu penerbangan).

    Pahlevi mengatakan pada periode angkutan Natal dan Tahun Baru 2025/2026 ini InJourney Airports juga mampu mendorong optimalisasi operasional bandara.

    Utilisasi slot time atau ketersediaan waktu keberangkatan penerbangan dan kedatangan penerbangan di seluruh bandara secara kumulatif pada Natal dan Tahun Baru 2025/2026 hampir menyentuh 90 persen atau lebih tinggi dibandingkan dengan Nataru 2024/2025 sebesar 84 persen.

    “Optimalisasi bandara ini berkat kolaborasi dan dukungan dari seluruh pihak,” ujar Pahlevi.

    Wakil Direktur Utama InJourney Airports Achmad Syahir menambahkan selama periode Natal dan Tahun Baru 2025/2026 berbagai inisiatif terkait customer experience dijalankan dengan baik pada peak season akhir tahun.

    Inisiatif tersebut mencakup antara lain adanya desain tematis Nataru, dan aktivitas customer experience (On Ground Activation) di terminal penumpang pesawat.

    “Inovasi dari On Ground Activationnyang diluncurkan pada Nataru 2025/2026 adalah Customer Service Mobile dan Posko Terpadu Melayani Sepenuh Hati. Dua inovasi ini mampu menjaga standar pelayanan di bandara saat periode sibuk,” jelas Syahir.

    Syahir menjelaskan staf Customer Service Mobile bergerak secara mobile di terminal dan memberikan asistensi atau solusi bagi penumpang pesawat atau pengunjung bandara yang membutuhkan bantuan di titik manapun termasuk pada passenger service touch seperti area check-in, boarding lounge, arrival hall dan lain sebagainya

    Sementara itu, Posko Terpadu Melayani Sepenuh Hati melengkapi keberadaan Posko Terpadu Pusat Data. Lokasi Posko Terpadu Melayani Sepenuh Hati berada di kawasan terminal karena dirancang agar lebih mudah dijangkau oleh penumpang pesawat apabila membutuhkan bantuan.

    Lebih lanjut, Syahir menuturkan inovasi-inovasi pelayanan dan customer experience akan terus dikenalkan secara berkelanjutan ke depannya di seluruh bandara-bandara yang dikelola InJourney Airports.

    InJourney Airports resmi menutup Posko Terpadu Angkutan Natal dan Tahun Baru 2025/2026 di 37 bandara. Posko tersebut bertugas selama 20 hari yakni pada 15 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026.

    Penutupan posko itu sekaligus menandakan berakhirnya pelaksanaan monitoring angkutan Nataru di seluruh bandara yang dikelola InJourney Airports.

    Pewarta: Muhammad Harianto
    Editor: Triono Subagyo
    Copyright © ANTARA 2026

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • 3
                    
                        Operasional Transjakarta Kalideres-Bandara Dihentikan Imbas Macet Parah di Citra 7
                        Megapolitan

    3 Operasional Transjakarta Kalideres-Bandara Dihentikan Imbas Macet Parah di Citra 7 Megapolitan

    Operasional Transjakarta Kalideres-Bandara Dihentikan Imbas Macet Parah di Citra 7
    Tim Redaksi
    JAKARTA, KOMPAS.com –
    Transjakarta menghentikan sementara operasional rute SH1 Kalideres–Perkantoran Soekarno Hatta imbas kontainer mogok menyebabkan kemacetan di Jalan Citra 7, Kalideres, Jakarta Barat, Senin (5/1/2026).
    Kepala Departemen Humas dan CSR
    Transjakarta
    Ayu Wardhani mengatakan, penghentian layanan dilakukan karena bus tidak dapat melintas normal akibat kepadatan lalu lintas di lokasi tersebut.
    “Rute SH1 Kalideres–Perkantoran Soekarno Hatta sementara tidak beroperasi melayani pelanggan dikarenakan adanya kontainer mogok,” ujar Ayu saat dikonfirmasi, Senin.
    Hingga saat ini, rute tersebut masih belum dapat beroperasi dan melayani penumpang.
    Transjakarta juga menyampaikan permohonan maaf atas gangguan layanan yang terjadi.
    “Rute SH1 saat ini sementara tidak beroperasi melayani pelanggan. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya,” kata dia.
    Hingga kini, Transjakarta belum memastikan kapan layanan rute SH1 dapat kembali beroperasi.
    Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.