“Mingkemnya” Pers Disentil Purbaya
Jurnalis, Mahasiswa S3 Ilmu Politik
MENTERI
Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyentil pers yang “mingkem”, tidak berani melontarkan kritik kepada pemerintah. Kritik itu disampaikan Purbaya dalam acara yang digelar Forum Pemimpin Redaksi di Jakarta, Minggu 16 November 2025.
Kritik Purbaya ini menarik dan mengandung separuh kebenaran. PK Ojong punya pandangan yang senada.
Pers
dibuat bukan untuk menjilat kekuasaan. Kritik pers memang dibutuhkan karena kekuasaan itu cenderung korup. Pada saat ini, kritik pers justru amat dibutuhkan ketika bangsa sedang mengalami krisis representasi.
DPR mengalami apa yang disebut Carl Schmitt sebagai telah kehilangan dasar moral dan spiritualnya. Itu ditulis Schmitt dalam buku
The Crisis of Parliamentary Democracy
, 1923. Selain pers yang “mingkem”, DPR, DPD, ormas pun sebenarnya “mingkem” melihat praktik politik penuh ketidakadilan. Dalam bahasa pemikir kebhinekaan, Sukidi, bangsa sedang dibangun dalam situasi republik ketakutan (
republic of fear
).
Gejala pers yang “mingkem” sudah ditengarai Daniel Dhakidae dalam disertasinya di Cornel tahun 1991. Dalam disertasi
The State, the Rise of Capital, and the Fall of Political Journalism: Political Economy of Indonesian News Industry
, Daniel memprediksi sistem pers Orde Baru dengan kontrol kertas di tangan pemerintah akan menciptakan situasi menjadi akhir dari jurnalisme politik (
the end of political journalism
).
Kritik Purbaya disebut sebagai separuh kebenaran karena sebenarnya ada juga pers, katakan Tempo, yang berani mengkritik pemerintahan secara lugas dan tegas terhadap tata kelola pemerintahan. Namun kini, Tempo tengah menghadapi gugatan ganti rugi Rp 200 miliar oleh Menteri Pertanian. Bisa saja pandangan Purbaya adalah pandangan pribadi seorang menteri berbeda dengan menteri yang lain.
Dalam praktik selama ini, dalam lingkungan komunitas pers, tertangkap suasana kebatinan bahwa pemerintah lebih suka dengan berita-berita positif, terlebih pujian. Dalam beberapa kejadian selalu ada upaya tangan tak kelihatan untuk mengendalikan pers bebas yang memang sedang dalam tahapan
survival mode
. “Padahal, pujian adalah
silent killer
,” kata Sukidi, dalam sebuah pernyataan di Forum Warga Negara.
Ini berbeda misalnya dengan pandangan Ali Sadikin. Ali Sadikin dalam satu wawancara pernah mengatakan, “… wartawan itu karyawan pemerintah yang tidak dibayar negara. Tugasnya justru mengkritik kebijakan pemerintah….,” kata Ali Sadikin.
Tapi apakah pejabat kita seterbuka Ali Sadikin menerima kritik dari
media
sebagaimana disampaikan Purbaya.
Sejak lama, media disebut sebagai pilar keempat demokrasi—
the fourth estate
—setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Media dimandatkan untuk mengawasi kekuasaan, menyediakan informasi publik, dan menjadi forum deliberasi bagi warga negara.
Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam The Elements of Journalism menulis: “Kewajiban pertama jurnalisme adalah kepada kebenaran, dan kesetiaan pertamanya adalah kepada warga.”
Namun kini, secara umum posisi media itu goyah. Bukan karena hilangnya idealisme, tetapi karena dua tekanan besar: krisis ekonomi di dalam industri media, dan dominasi algoritma di luar ruang redaksi. Media berdiri di persimpangan: antara bisnis dan etika, antara klik dan kebenaran.
Industri media kini menghadapi guncangan struktural yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pendapatan iklan berpindah ke platform digital seperti Google, Meta, dan TikTok. Ruang redaksi kehilangan kemandirian ekonomi, sementara pemilik modal semakin berkuasa menentukan arah pemberitaan. Robert McChesney menyebut fenomena ini sebagai
market censorship
— sensor pasar—di mana bukan negara yang menekan
kebebasan pers
, tetapi logika bisnis yang menentukan apa yang boleh dan tidak boleh diberitakan.
Konsentrasi kepemilikan membuat media kerap kehilangan keberanian moral. Liputan investigative berkurang. Isu publik tergantikan oleh sensasi politik. Kecenderungan media menjadi pelapor fakta. Namun, tentunya masih ada media yang mencoba menjalankan jurnalisme advokatif.
Selain krisis ekonomi, kita juga menghadapi krisis suara. Manuel Castells, dalam
Communication Power
, mengatakan: “Kekuasaan di era informasi adalah kekuasaan untuk memprogram arus komunikasi.”
Buzzer politik, influencer, dan mesin algoritma kini bertindak sebagai “editor baru” ruang publik. Mereka menentukan apa yang trending, bukan apa yang penting. Mereka menyebarkan emosi, bukan pengetahuan. Kita hidup dalam demokrasi simulatif: terlihat ramai, tapi kehilangan kedalaman. Setiap warga seolah punya suara, tapi suara-suara itu dikendalikan oleh kekuatan yang tak terlihat— oleh mesin, oleh modal, oleh kepentingan politik. Buzzer telah menjadi industri. Tapi apakah itu kebenaran? Belum tentu.
Saat Revisi UU KPK (2019) terjadi, bagaimana
cyber troops
dikerahkan untuk mendelegitimasi KPK dengan narasi “KPK sarang Taliban” dan narasi lain untuk menggolkan agenda politik revisi UU KPK dan kemudian berhasil. KPK berhasil dilumpuhkan melalui operasi kartel partai politik dalam lima hari.
Krisis media juga merupakan krisis relasi kekuasaan. Media tidak lagi di luar kekuasaan, tetapi menjadi bagian dari arena kekuasaan itu sendiri. Kita menyaksikan munculnya oligarki informasi— di mana konglomerasi media dan politik menyatu dalam kepentingan yang sama.
Hasilnya: ruang redaksi kehilangan otonomi, dan kebebasan pers berubah menjadi kebebasan bagi pemilik modal. McChesney pernah mengingatkan: “Kebebasan pers tanpa kebebasan ekonomi redaksi adalah kebebasan semu.”
Inilah paradoks media hari ini: secara hukum bebas, tetapi secara struktural terpenjara. Ketika kekuatan politik, kekuatan ormas, kekuatan media berada dalam satu tangan, bukankah itu merupakan tanda-tanda awal dari totalitarianisme?
Namun, krisis ini bukan akhir. Ia bisa menjadi awal kebangkitan baru bagi media— jika media berani kembali pada akarnya: etika, empati, dan keberpihakan serta dukungan publik.
Apakah publik mendukung jurnalisme yang sehat? Jurnalisme bukanlah propaganda. Jurnalisme yang membuka ruang perdebatan publik. Esensi jurnalisme adalah mengingatkan yang mapan (
polite watch dog
), menghibur yang papa. Namun itu juga sepenuhnya tergantung pengurus negara.
Ada empat langkah yang harus ditempuh.
Media harus kembali pada misi moralnya: berpihak pada publik, bukan kekuasaan. Mengutip Budayawan/Rohaniawan GP Sindhunata: bagaimana menjaga agar “danyang” jurnalisme tidak
oncat
atau mencelat dari ruang jurnalisme. “Danyang” adalah istilah dalam bahasa Jawa yang cenderung ada unsur mistis dan magis. Tapi “danyang” bisa diartikan sebagai roh yang menggerakan jurnalisme, nilai yang diperjuangkan dalam jurnalisme. Apakah “danyang” jurnalisme masih ada? Ada untuk beberapa media.
Bill Kovach menulis, “Verifikasi lebih penting daripada viralitas.” Kecepatan bukan ukuran profesionalisme; integritaslah yang utama.
Kemandirian ekonomi adalah syarat mutlak bagi independensi redaksi. Model
membership journalism
atau
public funding
bisa menjadi jalan keluar. Kita bisa belajar dari The Guardian, ProPublica, atau di Indonesia— Tempo Investigasi, Project Multatuli. Itu sekadar contoh. Tapi intinya, perkembangan media membutuhkan dukungan publik dan pemerintah. Perjuangan Forum Pemred memperjuangkan
No Tax For Knowledge
perlu dipertimbangkan Purbaya. Industri media yang sejatinya adalah industri pengetahuan masih dibebani begitu banyak pajak-pajak yang memberatkan.
Kebenaran adalah hasil kerja kolektif. Ekosistem kolaboratif—antara redaksi, universitas, dan NGO— akan memperkuat
fact checking
dan literasi publik. Dukungan pelanggan amat sangat menentukan.
Negara harus hadir bukan untuk membungkam, tetapi melindungi jurnalisme dari tirani algoritma. Transparansi konten politik berbayar dan keadilan algoritmik adalah prasyarat demokrasi digital yang sehat.
Media boleh lemah secara industri, tetapi jika ia teguh pada moralitas kebenaran, ia tetap akan menjadi penjaga rasionalitas bangsa. Justice Hugo Black pernah berkata: “
Freedom of the press is not for the press itself, but for the people to know
.”
“Kebenaran adalah pekerjaan rumah harian demokrasi.”
Tugas media bukan hanya menyampaikan berita, tetapi menjaga nurani bangsa agar tetap waras dan mengerakkan semangat berbela rasa, mengingatkan yang mapan dan menghibur yang papa, di tengah kebisingan digital. Di era suara sintesis, media sejati bukan yang paling keras, tetapi yang paling jujur. Namun itu semua membutuhkan dukungan publik.
Kritik Purbaya harus diterima. Namun, Purbaya perlu mengambill langkah melonggarkan beban pajak yang melilit industri pers.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Tag: Purbaya Yudhi Sadewa
-

Kakaknya Dituding ‘Autis’, Yudo Sadewa Anak Menkeu Purbaya Buat Sayembara 10.000 Dolar Buat Cari Pelaku
GELORA.CO – Anak kedua Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, Yudo Achilles Sadewa marah besar setelah kakaknya Yuda Purboyo Sunu diserang netizen di media sosial.
Di salah satu postingan Yuda seorang netizen menyebut mahasiswa Teknik Mesin di Universitas Indonesia (UI) itu sebagai bocah autis.
“Bocah autis,” tulis netizen.
Membaca komentar tersebut, Yudo Sadewa langsung meradang.
Ia mengadakan sayembara bagi siapa saja yang berhasil mengungkapkan identitas netizen tersebut akan diberi imbalan sebesar 100 dolar AS.
“Bounty yang menghina kakak aku, ungkap identitas asli= 100 dolar AS,” tulis Yudo Sadewa di Instagramnya, pada Sabtu (15/11/2025).
Tak cuma itu Yudo Sadewa bahkan menawarkan hadiah yang lebih fantastis yakni sebesar 10.000 dolar AS, bagi yang bisa memenjarakan netizen penghina kakaknya.
Sekedar informasi, 10.000 dolar AS setara dengan Rp167.120.000.
“Berhasil memenjarakan= 10.000 dolar AS,” tulis Yudo Sadewa.
Melihat adiknya marah, Yuda ikut menimpali.
Menurutnya netizen yang memberikan komentar miring kepadanya dikarenakan rasa iri.
“Itu yang ngatai saya pasti iri,” tulis Yuda.
Yuda Bantah ABK
Yuda ternyata pernah dituduh sebagai anak berkebutuhan khusus (ABK).
Klarifikasi soal tuduhan tersebut, Yuda mengaku pernah mengalami gangguan saraf.
Ia pun menjalani terapi untuk memulihkan kondisinya.
Melalui highlights Instagram, Yuda Purboyo Sunu mengaku ada jin di tubuhnya yang merusak sarafnya.
Namun kini jin tersebut telah diambil oleh sang terapis.
“Jadi dulu pernah ada jin di tubuh aku yang merusakkan saraf aku, sekarang udah diambil sama terapis aku,” tulis Yuda Purboyo di Instagram story-nya.
Lahir dari keluarga kaya tak lantas membuat Yuda Purboyo Sunu berpangku tangan.
Mahasiswa Teknik Mesin UI ini merintis bisnis berjualan ikan nila segar melalui e-commerce.
Layaknya banyak remaja seusianya, Yuda tak luput dari pesona budaya populer asal Korea Selatan, khususnya dunia K-Pop yang kini mendunia.
Di antara banyak grup idola yang bersinar, Yuda ternyata memiliki kekaguman khusus terhadap salah satu girlband fenomenal, yakni Blackpink.
Kecintaannya terhadap grup beranggotakan Lisa, Jennie, Rosé, dan Jisoo ini tampak jelas melalui salah satu unggahan di akun Instagram pribadinya.
Dalam postingan tersebut, Yuda dengan bangga memamerkan koleksi berharga miliknya, sebuah CD album terbaru Blackpink yang dilengkapi dengan tanda tangan asli dari keempat membernya.
Koleksi ini bukan hanya sekadar album biasa, melainkan barang istimewa yang tentu sangat bernilai bagi para penggemar sejati.
Dengan ekspresi wajah penuh kebahagiaan dan rasa bangga, Yuda menuliskan dalam keterangan fotonya:
“Aku foto dengan CD Blackpink dengan tanda tangan 4 artisnya.”
Unggahan tersebut langsung menarik perhatian warganet, khususnya sesama penggemar K-Pop yang paham betul betapa sulitnya mendapatkan album dengan tanda tangan langsung dari para anggota Blackpink.
Bagi Yuda, momen itu bukan sekadar pamer koleksi, tapi juga bentuk nyata dari kecintaannya terhadap musik dan idolanya. (*)
-

Dualisme Keraton Solo Memanas, PB XIV Purboyo Bakal Bawa PB XIV Mangkubumi ke Jalur Hukum
GELORA.CO – Dua kubu raja Keraton Kasunan Surakarta Hadiningrat makin memanas. SISKS Paku Buwana XIV Purboyo mengklaim jika penobatan kakaknya KGPH Hangabehi alias Mangkubumi sebagai Paku Buwana XIV tidak sah. Purboyo memastikan akan membawa sengketa tersebut ke jalur hukum.
Pernyataan tersebut dikemukakan kakak perempuan tertua Purboyo, GKR Timoer Rumbay Kusuma Dewayani usai Jumenengan Dalem Nata Binayangkare SISKS Paku Buwana XIV Purboyo, Sabtu (15/11).
“Pasti, ketika saya menemui Kanjeng Wiro (KP Eddy Wirabhumi, adik ipar Paku Buwana XIII) katanya juga akan apa namanya diselesaikan secara hukum,” ujarnya.
Kubu Purboyo Klaim Sudah Komunikasi dengan Kubu Mangkubumi buat Suksesi
Keraton Surakarta pernah mengalami dualisme kepemimpinan sepeninggal Pakubuwana XII. Dua anaknya dari istri yang berbeda, KGPH Hangabehi dan KGPH Tedjowulan sama-sama mengklaim menjadi raja dengan gelar Paku Buwana XIII.
Timoer menyayangkan Keraton Surakarta harus mengulang kembali perebutan tahta seperti yang terjadi tahun 2004 silam. Ia juga mengaku sudah berusaha berkomunikasi dengan kubu Mangkubumi untuk membicarakan permasalahan suksesi. Namun upaya tersebut tidak berhasil.
“Dari awal kami sudah berusaha merangkul. Ketika Sinuhun hari Rabu itu dimakamkan, pagi saya datang ke tempatnya Mangkubumi untuk berbicara. Kemudian malamnya, siangnya saya ketemu dengan Kanjeng Wiro dan Gusti Moeng (GKR Wandansari). Untuk apa? Untuk Merangkul. Bukan ingin meninggalkan. Monggo ayo sareng-sareng (mari kita bersama-sama),” ungkapnya.
2 Putra Almarhum Paku Buwana XIII Sama-Sama Mengklaim Jadi Raja
Seperti diketahui, dua anak laki-laki mendiang SISKS Paku Buwana XIII, KGPH Hangabehi alias Mangkubumi dan KGPAA Hamangkunagoro alias Purboyo sama-sama mengaku sebagai raja baru Keraton Kasunanan Surakarta.
Purbaya mendeklarasikan diri sebagai PB XIV di depan jenazah ayahnya saat akan dimakamkan. Sementara KGPH Mangkubumi dinobatkan keluarga besar sebagai PR XIV, saat rapat keluarga besar keraton, Kamis (13/11).
-
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5412974/original/092667700_1763110316-Menteri_Keuangan__Menkeu__Purbaya_Yudhi_Sadewa-14_Nov_2025a.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Menkeu Purbaya Ungkap Ada K/L ‘Menyerah’, Anggaran Triliunan Diambil Kembali
Liputan6.com, Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan sejumlah kementerian dan lembaga (K/L) telah mengembalikan anggaran yang tidak mampu mereka serap hingga penghujung tahun. Total dana yang kembali ke kas negara mencapai Rp 3,5 triliun.
“Ada beberapa yang sudah nyerah mengembalikan uang ke kita. Kita hitung-hitung ada Rp 3,5 triliun yang dibalikin sampai sekarang karena mereka enggak mampu belanjain,” kata Purbaya dalam media briefing di tulis Minggu (16/11/2025).
Dia menuturkan, pengembalian ini menandakan adanya program yang tidak berjalan sesuai rencana. Artinya, beberapa K/L “mengibarkan bendera putih” dan memilih mengembalikan anggaran sebelum tahun anggaran berakhir.
Ia menuturkan, uang tersebut dikembalikan karena masing-masing instansi tidak sanggup merealisasikan belanja sesuai target. Kondisi ini, katanya, terpantau dalam proses evaluasi rutin yang dilakukan Kemenkeu.
Meski demikian, Menkeu enggan membeberkan daftar instansi yang mengembalikan anggaran. Ia hanya menegaskan bahwa secara umum, penyerapan anggaran di sebagian besar K/L masih sesuai jalur.
“Kan masih gerak, cuma rata-rata (K/L) masih sesuai dengan rencananya,” ujarnya.
Evaluasi Penyerapan Anggaran hingga Akhir Tahun
Kementerian Keuangan memang terus memantau realisasi belanja kementerian dan lembaga hingga Oktober 2025.
Monitoring ini menjadi dasar untuk menentukan apakah anggaran dapat terserap penuh sebelum tahun anggaran ditutup. Jika dinilai tidak optimal, Kemenkeu memiliki kewenangan untuk menarik kembali alokasi tersebut.
Pengambilan kembali anggaran bukan sekadar pencatatan administratif, melainkan bagian dari strategi fiskal pemerintah. Dana yang tidak terserap akan dialihkan ke sektor yang membutuhkan percepatan, terutama program-program yang memiliki dampak langsung bagi masyarakat luas. Dengan demikian, efektivitas penggunaan APBN tetap terjaga.
-
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5413823/original/053175500_1763198533-menkeu_Purbaya_memamerkan_batik.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Top 3: Menkeu Purbaya Pamer Batik Baru
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memamerkan sebuah kemeja batik baru buatan UMKM asal Yogyakarta. Dia menunjukkan desain batik yang dibuat dengan hiasan gambar Garuda hingga peta Indonesia.
Purbaya memamerkan batik itu melalui akun Instagram resmi @menkeuri. Unggahan ini disebutnya sebagai salah satu mengikuti permintaan warganet.
“Sesuai komentar temen-temen netizen, saya pakai batik baru, ada gambar Garuda dan gambar Peta Indonesia, sepertinya ini Batik Garuda NKRI,” ungkap Purbaya, seperti dikutip Sabtu, 15 November 2025.
Dia mengakui telah memesan sebuah kemeja batik itu dari pengrajin di Yogyakarta. Menurut dia, potongan dan desainnya nyaman dipakai.
“Batik nya keren dan nyaman dipakai. Saya pesan ke pengrajin batik di Yogyakarta dan ini UMKM,” ucap Purbaya.
Tak berhenti di situ, nantinya Purbaya juga akan memamerkan produk-produk UMKM lainnya. Tujuannya untuk meningkatkan kelas produk UMKM. “Besok-besok saya akan bergantian pakai jaket UMKM, pakai Jaket dari Distro boleh lah, saya akan bantu promosikan, saya dukung UMKM naik kelas,” katanya.
Berita selengkapnya baca di sini
-

Purbaya Bocorkan Konsep Sumitronomics, ‘Obat’ Mujarab Percepat Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen
FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa membocorkan strategi dirinya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga dapat menembus angka 6-8 persen sebagaimana yang ditargetkan Presiden Prabowo Subianto.
Purbaya memperkenalkan filosofi “Sumitronomics” yang berfokus pada tiga pilar untuk membangun ekonomi Indonesia yakni pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerataan manfaat pembangunan, dan stabilitas nasional yang dinamis.
Menkeu menilai bahwa dengan strategi yang tepat, Indonesia mampu mencapai pertumbuhan ekonomi 6–8%.
Selanjutnya, Menkeu menyampaikan bahwa kunci pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat terletak pada keseimbangan tiga mesin utama yakni kebijakan fiskal, kebijakan moneter, dan aktivitas sektor swasta.
“Ekonomi kita bisa cepat jika tiga mesin jalan—fiskal, moneter, dan terejawantahkan pada sektor swasta yang tumbuh lebih cepat,” jelas Menkeu Purbaya dalam kuliah umum pada peringatan Dies Natalis ke-71 Universitas Airlangga, Surabaya, dikutip pada Sabtu (15/11).
Selain itu, Purbaya juga menyoroti pentingnya menjaga permintaan domestik sebagai motor utama penggerak ekonomi nasional. Dengan kontribusi hingga 90% terhadap PDB, konsumsi dalam negeri menjadi faktor penentu ketahanan ekonomi di tengah gejolak global.
“Jadi walaupun kondisi global gonjang-ganjing, kalau saya jaga permintaan domestik yang 80% masih bisa cukup untuk menopang pertumbuhan dalam negeri,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Menkeu memberikan dorongan kepada mahasiswa agar jangan berhenti belajar dan berkontribusi sehingga ilmu yang telah dipelajari dapat bermanfaat bagi kemajuan bangsa.
-

Ini Nomor Resmi Kemenkeu untuk Konfirmasi Aduan Pajak-Bea Cukai, Purbaya: Nggak Perlu Takut!
GELORA.CO – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan nomor khusus yang akan digunakan timnya untuk mengonfirmasi laporan dari masyarakat terkait permasalahan pelayanan pegawai pajak dan bea cukai. Ia pun meminta masyarakat tak perlu takut.
Menurut Purbaya, nomor tersebut adalah 08159966662. Nomor ini bertujuan menghilangkan keraguan dan ketakutan masyarakat saat dihubungi balik oleh pihak Kementerian Keuangan.
“Saya yakin waktu itu mereka takut siapa yang nelpon. Jangan-jangan tetangganya atau siapa yang bikin susah. Tapi dengan nomor resmi ini harusnya mereka nggak takut lagi ke depan,” kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Jumat (14/11/2025).
Purbaya menegaskan bahwa pengumuman nomor resmi ini sangat penting karena selama ini Kementerian Keuangan kerap terkendala dalam menindaklanjuti laporan. Banyak laporan yang tidak dapat dikonfirmasi karena nomor pelapor tidak merespons atau enggan berbicara.
“Jadi kesulitan kita di situ banyak sekali laporan ketika diverifikasi orangnya nggak mau ngomong. Mungkin juga takut. Mungkin juga iseng,” ujar Purbaya.
“Tapi yang jelas kita follow up semua. Kita kontak balik semuanya,” ungkap dia.
Sebagai informasi, saluran pengaduan layanan petugas pajak dan bea cukai ini telah resmi dibuka oleh Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa sejak 15 Oktober 2025.
Bagi masyarakat yang ingin mengirim aduan, dapat dilakukan via WhatsApp ke nomor 082240406600, dengan menuliskan laporan secara jelas terkait pajak atau bea cukai, serta mencantumkan nama dan email.
Purbaya memastikan sudah ada administrator yang siaga menerima pengaduan, yang kemudian akan disortir dan ditindaklanjuti secara berkala
/data/photo/2020/05/27/5ece622536c64.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)


