Tag: Purbaya Yudhi Sadewa

  • Bahlil Hitung Rentang Bea Keluar Batu Bara, Mekanisme Berjenjang

    Bahlil Hitung Rentang Bea Keluar Batu Bara, Mekanisme Berjenjang

    Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia masih melakukan perhitungan terkait bea keluar untuk batu bara.

    Pengenaan tarif bea keluar itu bakal diterapkan pada 2026 dengan mekanisme berjenjang. Adapun, usulan tarif yang mengemuka dari Kementerian Keuangan berada pada kisaran 5%-11%. Besaran pungutan ini akan menyesuaikan dengan level harga acuan batu bara di pasar.

    Terkait hal itu, Bahlil mengatakan, pihaknya turut membuat perhitungan. Dia mengatakan, masih mengkaji pada level harga berapa bea keluar batu bara dikenakan sebesar 5% maupun 11%.

    “Kementerian ESDM sedang menghitung range. Misalnya, harga US$100–US$150 [per ton] dikenakan berapa, di atas US$150 dikenakan berapa,” ucap Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (8/11/2025).

    Menurut Bahlil, perhitungan itu juga bakal dikoordinasikan dengan Kementerian Keuangan. Dia juga menegaskan, pengenaan bea keluar bakal dilakukan secara adil baik untuk pengusaha maupun negara.

    “Ini akan dibahas dengan Kementerian Keuangan. Jangan sampai pajaknya terlalu berat sehingga pengusaha tidak bisa bekerja. Tapi kalau pengusaha untung, wajib bayar pajak. Harus fair,” jelas Bahlil.

    Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa dalam pembahasan di tingkat teknis, usulan tarif yang mengemuka berada pada kisaran 5% hingga 11%. Besaran pungutan ini akan menyesuaikan dengan level harga acuan batu bara di pasar.

    “Itu levelnya masih di pembahasan. Kalau enggak salah diusulkan tergantung harga batu baranya, ada 5%, ada 8%, ada 11%,” ujar Purbaya, Rabu (31/12/2025).

    Purbaya memerinci bahwa tarif terendah 5% akan dikenakan jika harga batu bara berada di bawah level tertentu, naik menjadi 8% di level menengah, dan mencapai 11% jika harga melonjak di atas level tertinggi yang ditetapkan.

    Kendati demikian, bendahara negara itu menegaskan bahwa angka-angka tersebut belum final. Pasalnya, rancangan Peraturan Presiden (Perpres) yang menjadi payung hukum kebijakan ini masih dalam proses penyusunan dan masih menuai keberatan dari sejumlah pelaku usaha.

    “Jadi, saya belum bisa pastikan berapa itu pasnya karena sebagian juga masih ada yang protes. Kita mungkin akan rataskan [rapat terbatas] ke depan,” jelasnya.

  • Saya Bisa Bikin Nol tapi Ekonomi Morat-Marit

    Saya Bisa Bikin Nol tapi Ekonomi Morat-Marit

    GELORA.CO -Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons soal pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang mencapai Rp695,1 triliun atau setara 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

    Angka ini melampaui defisit APBN 2024 sebesar Rp509,1 triliun atau 2,3 persen terhadap PDB. Selain itu angka ini juga melewati target awal sebesar 2,53 persen PDB dan mendekati ambang batas aman 3 persen.

    Menurut Purbaya, kebijakan tersebut merupakan bagian dari strategi fiskal countercyclical untuk menahan perlambatan ekonomi.

    Ia menegaskan, pemerintah sebenarnya memiliki ruang untuk menekan defisit hingga nol persen, namun opsi itu tidak diambil karena berisiko terhadap perekonomian nasional.

    “Defisitnya naik ke 2,92 persen dari rencana awal 2,53 persen, ini dengan misi untuk menjaga ekonomi tetap bisa berekspansi di tengah tekanan global yang tinggi. Sebetulnya kalau mau saya buat nol defisit juga bisa, saya potong anggarannya, tapi ekonomi morat-marit,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA di Jakarta Pusat, Kamis 8 Januari 2026.

    Meski defisit melebar, Purbaya memastikan posisi fiskal Indonesia tetap terjaga dan tidak melampaui batas yang diatur dalam Undang-Undang Keuangan Negara.

    “Jadi ini adalah kepiawaian dari teman-teman di Kementerian Keuangan untuk memastikan ekonomi bisa tumbuh terus tanpa mengorbankan sisi kehati-hatian dari fiskal. Walaupun gelembung (defisit), kita pastikan di bawah 3 persen. ini adalah standar yang paling ketat,” kata Purbaya.

    Untuk diketahui defisit APBN sendiri mencerminkan kondisi di mana realisasi belanja negara lebih besar dibandingkan pendapatan. Sepanjang 2025, pendapatan negara tercatat sebesar Rp2.756,3 triliun atau 91,7 persen dari target APBN. Sementara itu, belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3 persen dari pagu anggaran

  • Prabowo Tarik Utang Rp736,3 Triliun Selama Tahun 2025

    Prabowo Tarik Utang Rp736,3 Triliun Selama Tahun 2025

    Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan realisasi pembiayaan APBN 2025 mencapai Rp744 triliun atau 120,7% dari target. Dari pembiayaan itu, pembiayaan utang mencapai Rp736,3 triliun.

    Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono mencatat bahwa realisasi pembiayaan itu meliputi Rp736,3 triliun berupa pembiayaan utang atau 94,9% dari target APBN.

    Kemudian, pembiayaan nonutang yang merupakan investasi pemerintah yakni Rp7,7 triliun atau realisasinya minus 4,9% dari target APBN.

    “Total pembiayaan anggaran sampai 31 Desember sebesar Rp744 triliun itu dibagi pembiayaan utang Rp736,3 triliun atau 94,9% dari APBN, dan pembiayaan utang Rp7,7 triliun,” terang Tommy, sapaannya, pada konferensi pers APBN KiTa 2025 di kantor Kemenkeu, Jakarta, Kamis (8/1/2025).

    Sebelumnya, UU APBN 2025 menetapkan target pembiayaan yakni Rp616,2 triliun yang mencakup Rp775,9 triliun pembiayaan utang serta minus Rp159,7 triliun untuk pembiayaan nonutang.

    Pada pertengahan tahun, atau berdasarkan outlook laporan semester I/2025, pembiayaan diperkirakan mencapai Rp662 triliun yang mencakup Rp772,9 triliun dan minus Rp110,9 triliun.

    Pembiayaan utang, terang Tommy, dilakukan dengan penerbitan SBN dan pinjaman. Dia menyebut kebijakan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang memindahkan kas pemerintah total Rp276 triliun sejak September 2025 lalu memperbanyak likuiditas di pasar keuangan.

    “Di sana terlihat cost of fund turun bahwa itu juga terjadi karena likuiditas yang meningkat,” terang pria yang juga keponakan dari Presiden Prabowo Subianto itu.

  • APBN Perdana Prabowo Habiskan Anggaran Rp3.451,4 triliun, 95,3% dari Target

    APBN Perdana Prabowo Habiskan Anggaran Rp3.451,4 triliun, 95,3% dari Target

    Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat realisasi belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun sepanjang tahun 2025. Nilai itu berdasarkan realisasi sampai dengan 31 Desember 2025.

    Nilai realisasi belanja negara itu setara dengan 95,3% dari target. Adapun berdasarkan outlook laporan semester I/2025 belanja negara yakni diperkirakan Rp3.527,5 triliun.

    Outlook belanja itu juga sudah lebih rendah dari yang ditetapkan sebelumnya pada UU APBN 2025 sebesar Rp3.621,3 triliun.

    “Belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun atau 95,3% dari target pemerintah pusat,” terang Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa pada konferensi pers APBN KiTa 2025 di kantor Kemenkeu, Jakarta, Kamis (8/1/2026).

    Secara terperinci, realisasi belanja negara sepanjang 2025 meliputi belanja pemerintah pusat yakni total Rp2.602,3 triliun. Realisasinya mencapai 96,3% dari target.

    Belanja pemerintah pusat itu terbagi menjadi belanja kementerian/lembaga (K/L) dengan realisasi Rp1.500,4 triliun atau 129,3% dari target, serta non K/L Rp1.102 triliun atau 71,5% dari target.

    Sementara itu, belanja negara yang disalurkan ke daerah atau transfer ke daerah (TKD) terealisasi sebesar Rp849 triliun atau 92,3% dari target.

    Dengan penerimaan negara hanya terkumpul total sebesar Rp2.756,3 triliun, maka terjadi defisit sebesar Rp695,1 triliun atau 2,92% terhadap PDB.

    Purbaya mengungkap alasan pemerintah tidak memotong belanja agar menjaga defisit tidak melebar dari outlook lapsem I/2025 yakni 2,78% terhadap PDB.

    “Kami memberikan stimulus ke perekonomian ini adalah langkah pemerintah menjaga ekonomi tumbuh secara berkesinambungan tanpa mengorbankan APBN, walaupun defisitnya membesar Rp695,1 triliun itu lebih tinggi dibandingkan [outlook] APBN Rp662 triliun, tetapi kami tetap menjaga untuk memastikan bahwa defisitnya tidak di atas 3%. Defisitnya naik ke 2,92% dari rencana awal,” terang mantan Ketua LPS itu.

  • Target Meleset Jauh, Setoran Pajak 2025 Kurang Rp 271 Triliun

    Target Meleset Jauh, Setoran Pajak 2025 Kurang Rp 271 Triliun

    Jakarta

    Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan realisasi penerimaan pajak sepanjang 2025 terkumpul Rp 1.917,6 triliun. Jumlah itu bahkan tak mencapai 90% dari target, hanya 87,6% dari yang ditargetkan sebesar Rp 2.189,3 triliun. Artinya, terdapat shortfall Rp 271,7 triliun.

    “Penerimaan pajak hanya Rp 1.917,6 triliun, ini hanya 87,6% dari APBN,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026).

    Tidak tercapainya target penerimaan pajak membuat defisit APBN 2025 melebar menjadi Rp 695,1 triliun atau setara 2,92% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Hal itu dikarenakan belanja negara lebih besar mencapai Rp 3.451,4 triliun, sedangkan pendapatan negaranya hanya Rp 2.756,3 triliun.

    “Defisitnya membesar ke Rp 695,1 triliun, itu lebih tinggi dibandingkan APBN yang sebesar Rp 616,2 triliun, tapi kita tetap menjaga, pastikan bahwa defisitnya tidak di atas 3%” ucap Purbaya.

    Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan penerimaan pajak yang tidak terkumpul dikarenakan berbagai dinamika perekonomian yang terjadi di 2025. Perekonomian yang sempat melemah di awal tahun membuat penerimaan negara lesu di semester I, meski mengalami perbaikan di semester II.

    “Kalau kita bagi antara semester I dan II, PPh Badan itu Q1 minus 10% dibandingkan 2024, Q2 membaik 2,3%. PPh Orang Pribadi dan PPh 21 juga seperti itu, semester I minus 19,4% namun semester II membaik 17,5%. PPh Final, PPh 22, PPh 26, PPN dan PPnBM juga seperti itu, semester I tekanannya cukup tinggi, tapi ada perbaikan di semester II. Ini dinamika perekonomian yang tercermin dalam penerimaan pajak kita,” beber Suahasil.

    Menurut Suahasil, membaiknya penerimaan pajak di semester II-2025 menjadi modal pemerintah untuk masuk ke 2026. Ia optimis kinerja penerimaan pajak tahun ini akan lebih baik dibandingkan sepanjang tahun lalu.

    “Beberapa sektor yang besar yang utama industri pengolahan, perdagangan, keuangan dan asuransi, pertambangan, kita lihat di Q3 dan Q4 mengalami perbaikan dalam kinerja pengumpulan pajak. Ini adalah pijakan yang baik untuk kita masuk 2026,” tutur Suahasil.

    Tonton juga video “Resmi Berlaku! Ini Syarat Beli Rumah Bebas Pajak di 2026”

    (aid/fdl)

  • Di Bawah Janji, tapi Lumayan

    Di Bawah Janji, tapi Lumayan

    Jakarta

    Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 diperkirakan mencapai 5,45%. Angka ini meleset dari target Purbaya sebesar 5,7% di kuartal-IV 2025.

    Kendati begitu, Purbaya menilai pertumbuhan ekonomi di kuartal terakhir 2025 ini lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal-kuartal sebelumnya.

    Pada kuartal-I 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 4,87%, lalu naik menjadi 5,12% pada kuartal-II 2025. Namun, ekonomi Indonesia tumbuh melambat di 5,04% pada kuartal-III 2025.

    “Mungkin triwulan keempat di atas 5 (persen), mendekati lima. Kira kira 5,45% kalau tidak ada perubahan. Di bawah janji ya, tapi lumayan masih lebih tinggi dibanding triwulan-triwulan sebelumnya,” ujar Purbaya saat konferensi pers APBN Kita, di kantornya, Jakarta, Kamis (8/1/2025).

    Menurut Purbaya, ekonomi domestik tetap terjaga pada 2025. Salah satu indikatornya, yakni inflasi tetap terjaga sebesar 2,9% pada Desember 2025. Pergerakan nilai tukar terpantau melemah di level tp 16.475 sepanjang year to date. Kendati begitu, Purbaya menekankan ekonomi Indonesia masih relatif cukup stabil.

    Ia memastikan perbaikan ekonomi ke depan akan terus dilakukan sehingga tumbuh lebih baik.

    “Stabilitas ekonomi makro 2025 tetap terjaga pertumbuhan ekonomi diperkirakan di 5,2% sepanjang tahun 2025 dengan asumsi tadi triwulan keempat tumbuh 5,45%,” imbuh ia.

    Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini ekonomi di kuartal IV akan melonjak di kisaran 5,7%. Hal ini ditopang dari kebijakan atau stimulus yang dilakukan pemerintah untuk menggenjot perekonomian berjalan dengan baik.

    “Saya kira-kira di triwulan keempat bisa tumbuh di atas 5,5%, mungkin 5,6-5,7%,” ujar Purbaya saat gelaran CFD, di Jakarta Pusat, Minggu (16/11/2025)

    Tonton juga video “Pramono Tagih Janji Purbaya soal Dana Tambahan Rp 20 T”

    (acd/acd)

  • Data Purbaya, Pertumbuhan Ekonomi 2025 Diperkirakan Meleset Jadi 5,12%

    Data Purbaya, Pertumbuhan Ekonomi 2025 Diperkirakan Meleset Jadi 5,12%

    Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,45% pada kuartal IV/2025. Dengan demikian, realisasi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2025 hanya di angka 5,12% atau meleset dari target sebesar 5,2%.

    Purbaya merincikan bahwa laju produk domestik bruto (PDB) menunjukkan tren fluktuasi sepanjang tahun. Tercatat, ekonomi RI tumbuh 4,87% pada kuartal I/2025, kemudian berakselerasi menjadi 5,12% pada kuartal II/2025, sebelum akhirnya sedikit tertahan di level 5,04% pada kuartal III/2025.

    “Mungkin di triwulan [IV/2025] juga di atas 5% ya, kira-kira 5,45% kalau tidak ada perubahan. Di bawah janji saya [5,6% ke atas], tapi lumayan lah masih lebih tinggi dari triwulan-triwulan sebelumnya,” ungkapnya dalam konferensi pers APBN Kita di Kantor Kemenkeu , Jakarta, Kamis (8/1/2026).

    Sebagai catatan, Badan Pusat Statistik (BPS) belum merilis angka pertumbuhan ekonomi kuartal IV/2025. Kendati demikian, jika angka 5,45% yang disampaikan Purbaya benar maka pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ‘hanya’ mencapai 5,12% atau di bawah target APBN 2025 yang dipatok 5,2%.

    Meski demikian, Purbaya mengklaim bahwa trajektori pertumbuhan menunjukkan sinyal positif yang konsisten. Perkembangan tersebut, menurutnya,menjadi indikator vital bahwa fundamental ekonomi domestik mulai menemukan pijakan yang kuat.

    Menurut mantan ketua dewan komisioner Lembaga Penjamin Simpanan itu, fase perlambatan telah terlewati dan prospek ekonomi ke depan diprediksi akan jauh lebih solid.

    “Yang jelas adalah momentum pembalikan arah ekonomi sudah terjadi, jadi kita ke depan harusnya tumbuh akan lebih baik,” katanya.

  • Target Meleset Jauh, Setoran Pajak 2025 Kurang Rp 271 Triliun

    Anggaran Subsidi Rp 318 T di APBN 2026, Ini Alokasinya

    Jakarta

    Pemerintah menetapkan anggaran subsidi Rp 318 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Anggaran subsidi 2026 akan dialokasikan untuk energi, pupuk, dan lainnya.

    Hal ini tercantum dalam Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2025 tentang Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2026 yang akhirnya muncul di publik. Beleid ini menjadi dasar utama untuk pemerintah melakukan kebijakan pengelolaan anggaran negara selama setahun ke depan.

    “Program Pengelolaan Subsidi dalam Tahun Anggaran 2026 direncanakan sebesar Rp 318.886.235.607.000,” tulis pasal 17 beleid tersebut, dikutip Kamis (8/1/2026).

    Dalam pasal yang sama disebutkan anggaran untuk Program Pengelolaan Subsidi disesuaikan dengan kebutuhan realisasi pada tahun anggaran berjalan berdasarkan asumsi dasar ekonomi makro, perubahan parameter, perubahan kebijakan, dan atau pembayaran kekurangan subsidi tahun-tahun sebelumnya.

    Dalam beleid tersebut dijelaskan program pengelolaan subsidi adalah pemberian dukungan dalam bentuk pengalokasian anggaran kepada perusahaan negara, lembaga pemerintah, atau pihak ketiga berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk barang atau jasa yang bersifat strategis atau menguasai hajat hidup orang banyak. Dukungan itu disalurkan langsung kepada penerima manfaat, sesuai kemampuan keuangan negara.

    Program pengelolaan subsidi dilaksanakan secara efektif, efisien, dan tepat sasaran guna memberikan manfaat yang optimal bagi pengentasan kemiskinan dan ketimpangan pendapatan masyarakat.

    Tonton juga video “Momen Purbaya Ngaku Tak Bisa Tidur Jelang Tutup Buku APBN 2025”

    (hal/ara)

  • Di Bawah Janji, tapi Lumayan

    APBN 2025 Tekor Rp 695 T, Defisit Nyaris Sentuh Batas Aman!

    Jakarta

    Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 sepanjang tahun mencatatkan defisit Rp 695,1 triliun. Realisasi yang masih sementara (belum diaudit) setara 2,92% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

    “Defisitnya membesar ke Rp 695,1 triliun, itu lebih tinggi dibandingkan APBN yang sebesar Rp 616,2 triliun, tapi kita tetap menjaga, pastikan bahwa defisitnya tidak di atas 3%” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA di kantornya, Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2026).

    “Defisitnya memang naik ke 2,92% dari rencana awal 2,53%. Ini dengan misi untuk menjaga ekonomi tetap bisa berekspansi di tengah tekanan global yang tinggi,” tambah Purbaya.

    Defisit APBN itu berarti pendapatan negara lebih kecil dibanding jumlah pengeluaran atau belanja negara. Tercatat pendapatan negara sepanjang 2025 mencapai Rp 2.756,3 triliun atau 91,7% dari APBN, sementara belanja negara terealisasi sebesar Rp 3.451,4 triliun atau 95,3% dari APBN.

    Lebih rinci diketahui, pendapatan negara yang terkumpul Rp 2.756,3 triliun berasal dari penerimaan pajak Rp 1.917,6 triliun, kepabeanan dan cukai Rp 300,3 triliun, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp 534,1 triliun, serta penerimaan hibah Rp 4,3 triliun.

    Sementara itu, belanja negara yang mencapai Rp 3.451,4 triliun berasal dari belanja pemerintah pusat yakni Rp 2.602,3 triliun, serta transfer ke daerah Rp 849 triliun.

    “Kenapa nggak dipotong belanjanya supaya defisit tetap kecil? Kita tahu ketika ekonomi kita sedang mengalami down, turun ke bawah, kita harus memberikan stimulus ke perekonomian. Ini wujud dari komitmen pemerintah untuk menjadi ekonomi tetap tumbuh dan berkesinambungan, tanpa membahayakan APBN,” ucap Purbaya.

    Purbaya menyebut realisasi ini merupakan kebijakan dari APBN sebagai countercyclical. Menurutnya, bisa saja belanja negara ditekan agar defisit APBN lebih kecil, namun ia tidak mau karena itu bisa berdampak ke ekonomi.

    “Saya bisa potong anggarannya, tapi ekonominya morat-marit. Jadi ini adalah kepiawaian dari teman-teman di Kementerian Keuangan untuk memastikan ekonomi bisa tumbuh terus tanpa mengorbankan sisi kehati-hatian dari fiskal. Walaupun gelembung (defisit), kita pastikan di bawah 3% ini adalah standar yang paling ketat,” imbuh Purbaya.

    Tonton juga video “Momen Purbaya Ngaku Tak Bisa Tidur Jelang Tutup Buku APBN 2025”

    (aid/fdl)

  • IHSG Tembus 9.000, Purbaya: Akan Naik Terus!

    IHSG Tembus 9.000, Purbaya: Akan Naik Terus!

    Jakarta

    Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan menunjukkan tren kenaikan pada 2026. Hal ini dapat dilihat dari IHSG sempat menembus level 9.000 pada perdagangan hari ini.

    Purbaya mengatakan IHSG pada tahun 2025 ditutup pada level 8.646 atau naik 22,1% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ia menilai kinerja IHSG pada tahun ini akan terus mengalami kenaikan.

    “Sepertinya akan berlanjut terus kenaikannya di 2026. Kalau liat tadi sempet menembus 9.000,” ujar Purbaya saat konferensi pers APBN Kita, di kantornya, Jakarta, Kamis (8/1/2025).

    Menurut Purbaya, IHSG yang menembus level 9.000 ini karena kepercayaan investor baik domestik maupun asing sudah kembali, meskipun belum sepenuhnya. Kepercayaan yang kembali ini tak lepas dari kinerja pemerintah yang serius melaksanakan program-program yang mengerek pertumbuhan ekonomi.

    “Mereka (investor) pasti melihat juga walaupun belum penuh impact dari program pembangunan yang disebutkan selama ini. Mereka (pemerintah) bekerja serius dan dampak ke ekonomi mulai kelihatan sehingga di akhir triwulan tahun lalu ekonomi berbalik arah,” tambah Purbaya.

    Ia pun memaparkan pasar domestik makin diminati oleh asing. Di pasar surat berharga negara, tercatat aliran modal asing (inflow) masuk sebesar Rp 6,49 triliun pada Desember 2025. Di pasar Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), menunjukkan aliran modal asing masuk Rp 27,40 triliun dan pasar saham tercatat inflow sebesar Rp 12,24 triliun.

    “Artinya asing sudah masuk ke sini lagi. Inflow kan asing. Sudah masuk ke sini lagi. Kredibilitas ekonomi dan pasar keuangan sudah kembali saya yakin akan terus berlanjut 2026. Jadi IHSG yang naik ke 9.000 baru awal. Perkiraan saya akan naik terus karena ekonomi kita akan kita manage terus ke depan,” terang ia.

    Seperti diketahui, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat sejak awal pembukaan perdagangan hari ini, Kamis (8/1). IHSG hari ini juga sempat menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah atau All-Time High (ATH) di level 9.000.

    Berdasarkan data perdagangan RTI Business, IHSG sempat menyentuh level 9.002,92. IHSG masih menguat 0,45% kendati turun ke level 8.985,39 pukul 10.36 WIB.

    Tonton juga video “Pasar Modal Menguat, IHSG Berpeluang Lanjutkan Reli”

    (acd/acd)