Tag: Joe Biden

  • Dulu Jebol iPhone Pejabat RI, Kini WhatsApp Dibobol Israel

    Dulu Jebol iPhone Pejabat RI, Kini WhatsApp Dibobol Israel

    Jakarta, CNBC Indonesia – Perusahaan Spyware asal Israel NSO Group Technologies diputus bersalah dalam memata-matai pengguna WhatsApp. Menurut pengadilan Amerika Serikat (AS), perusahaan telah melanggar aturan peretasan, federal dan ketentuan layanan WhatsApp.

    Meta menggugat NSO karena mengawasi sebanyak 1.400 penggunaanya selama dua minggu pada 2019. Dalam aksinya itu, NSO disebut menggunakan software Pegasus untuk melakukan aksinya.

    Hakim Phyllis Hamilton telah meminta kode sumber spyware diberikan kepada WhatsApp sejak awal 2024. Namun menurutnya, NSO gagal mematuhi aturan tersebut.

    Kode sumber yang dipermasalahkan itu hanya bisa dilihat oleh warga Israel di negara tersebut. Hamilton menyebut tindakan tersebut tidak praktis, dikutip dari The Guardian, Selasa (24/12/2024).

    Dalam gugatan ini juga terungkap klaim NSO soal klien pemerintahnya mengendalikan penggunaan Pegasus dan bertanggung jawab atas kejahatan peretasan. Sebab NSO terbukti yang menginstal dan mengesktrak informasi dengan Spyware miliknya.

    Banyak pihak yang menjadi korban dalam kejadian ini. Mulai dari pejabat senior pemerintah, jurnalis, aktivis Hak Asasi Manusia, pembelot politik, dan diplomat.

    Keputusan pengadilan itu disambut baik oleh WhatsApp. Menurut anak perusahaan Meta, NSO tidak bisa lagi menghindari apa yang dituduhkan kepada mereka.

    “Setelah lima tahun ligitasi, kami berterima kasih atas keputusan. NSO tidak bisa menghindari akuntabilitas pada serangan melanggar hukum pada WhatsApp, jurnalis, aktivis HAM dan masyarakat sipil. Keputusan ini membuat perusahaan Spyware memperhatikan tindakan ilegal mereka tidak ditoleransi,” jelas WhatsApp.

    Sementara itu pihak NSO tidak segera menanggapi permintaan untuk berkomentar.

    Pada 2021, pemerintah Joe Biden telah memasukkan NSO Group pada daftar hitam. AS melarang lembaga pemerintahannya membeli produk dari perusahaan.

    Sasar pejabat RI

    Menurut laporan Reuters, iPhone milik pejabat pemerintah RI juga sempat menjadi sasaran spyware buatan NSO Group. Ponsel beberapa pejabat militer, diplomat, dan menteriRI, diduga terpapar pada 2021. Alat yang digunakan peretas ternyata sangat canggih.

    Enam dari pejabat dan penasihat  yang menjadi target menyatakan kepada Reuters bahwa mereka menerima e-mail dari Apple Inc pada November 2021, menyatakan bahwa Apple menduga para pejabat disasar oleh “serangan oleh oknum yang disponsori oleh negara”.

    Upaya peretasan ke iPhone para pejabat itu, menggunakan ForcedEntry, software yang dikembangkan oleh NSO Group. Peranti lunak ini memanfaatkan celah di iPhone sehingga bisa mengakses data tanpa membutuhkan respons pengguna.

    Lembaga pengawas keamanan siber Citizen Lab mempublikasikan tentang software ini pada September 2021. Bahkan, peneliti keamanan Google mendapuk ForcedEntry sebagai “teknik paling canggih” yang pernah mereka lihat, dalam blog pada Desember.

    Celah yang dimanfaatkan oleh ForcedEntry telah ditutup oleh Apple pada September tahun lalu. Pada November, Apple mulai mengirimkan pesan ke “beberapa pengguna yang diduga menjadi sasaran”.

    Adapun, spyware Pegasus menyusup ke ponsel untuk mencuri data atau mengaktivasi kamera dan mikrofon. Pegasus dikaitkan dengan pembunuhan jurnalis Jamal Kashoggi.

    Perusahaan ini juga terungkap sebagai aktor dibalik penyadapan ponsel jurnalis dan aktivis oleh pemerintah asing.Bahkan, NSO Group dikaitkan dengan upaya membobol ponsel Presiden Prancis Emmanuel Macron dan seluruh anggota kabinetnya.

    Pemerintah yang menjadi klien NSO Group, menurut Guardian, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan India.

    (npb/dem)

  • DPR Diacak-acak Elon Musk, AS Disebut Sujud ke Xi Jinping

    DPR Diacak-acak Elon Musk, AS Disebut Sujud ke Xi Jinping

    Jakarta, CNBC Indonesia – Anggota DPR Amerika Serikat terpecah belah karena Elon Musk. Jim McGovern dan Rosa DeLauro, dua anggota DPR AS dari Partai Demokrat, mengatakan bahwa rekan-rekan mereka dari Partai Republik menyerah pada tuntutan Elon Musk, dan membatalkan RUU anggaran pemerintah yang sebelumnya sudah disepakati kedua partai.

    Dalam tulisan di X, McGovern mengatakan sebetulnya banyak hal yang bisa dicapai dari RUU anggaran yang batal karena ulah Musk. Ketentuan yang dibatalkan akan membuat AS lebih mudah dalam mempertahankan teknologi AI dan komputasi kuantum mutakhir dikuasai Amerika. “Namun Elon memiliki masalah.” tulis dia.

    Tesla milik Elon Musk, adalah satu-satunya produsen mobil AS yang mengoperasikan pabrik di China tanpa perusahaan patungan lokal.

    Tesla juga membangun sebuah pabrik baterai pabrik mobilnya di Shanghai tahun ini, dan bertujuan untuk mengembangkan dan menjual teknologi kendaraan otonom di China.

    “Intinya, dia ingin tetap berada di tengah-tengah masyarakat China,” tulis McGovern tentang Musk.

    “Dia juga ingin membangun pusat data AI di sana, yang dapat membahayakan keamanan AS. Dia telah ‘bersujud’ untuk mengambil hati para pemimpin China,” imbuhnya.

    Sementara SpaceX, perusahaan luar angkasa milik Musk, dilaporkan telah menahan layanan internet satelit Starlink di Taiwan atas permintaan para pemimpin China dan Rusia.

    Taiwan adalah sebuah negara demokrasi yang memiliki pemerintahan sendiri yang diklaim Beijing sebagai wilayahnya. Status Taiwan merupakan salah satu titik api terbesar dalam hubungan AS-Tiongkok.

    Di satu sisi, DeLauro, anggota Partai Demokrat yang duduk di Komite Alokasi Dana DPR, menulis dalam sebuah surat kepada Kongres bahwa Musk membutuhkan persetujuan pemerintah Tiongkok untuk proyek-proyek perusahaannya di negara tersebut.

    “Sangat memprihatinkan, bahwa Musk telah mengambil hati kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok,” tulisnya.

    Dalam surat tersebut, DeLauro menyebut CEO Tesla dan SpaceX sebagai “Presiden” Musk, dan menyinggung fakta bahwa orang terkaya di dunia ini mulai mencerca RUU pendanaan sebelumnya, sebelum Presiden terpilih Donald Trump mengeluarkan pernyataannya sendiri.

    Trump menginginkan GOP untuk menenggelamkan RUU tersebut, dan mengeluarkan RUU baru yang akan menaikkan pagu utang sehingga ia dapat menghindari pertarungan tersebut pada awal masa jabatannya yang kedua.

    RUU pendanaan sementara, yang ditandatangani oleh Presiden Joe Biden, tidak termasuk penangguhan batas utang AS selama dua tahun yang diinginkan oleh Trump.

    Musk menanggapi kekhawatiran DeLauro dengan menyebutnya sebagai “makhluk yang mengerikan” dalam sebuah postingan di X.

    (dem/dem)

  • AS Bakal Menarik Diri dari Keanggotaan WHO, Ada Apa?

    AS Bakal Menarik Diri dari Keanggotaan WHO, Ada Apa?

    Jakarta, CNBC Indonesia – Tim transisi Presiden Donald Trump dikabarkan tengah menyusun rencana untuk menarik Amerika Serikat dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada hari pertama masa jabatan keduanya.

    “Saya mendapat informasi terpercaya bahwa ia berencana menarik diri, kemungkinan pada Hari Pertama atau segera setelah itu,” kata Lawrence Gostin, profesor kesehatan global di Universitas Georgetown dan Direktur WHO Collaborating Center on National and Global Health Law, yang memiliki akses ke diskusi tersebut.

    Rencana ini pertama kali dilaporkan oleh Financial Times, yang mengutip dua pakar. Salah satu pakar lainnya, Ashish Jha, mantan koordinator respons Covid-19 Gedung Putih, belum dapat memberikan komentar.

    Langkah ini akan menjadi pergeseran dramatis dalam kebijakan kesehatan global AS dan dapat makin mengisolasi Washington dari upaya internasional untuk menghadapi pandemi. Trump telah lama mengkritik WHO dan menuduh organisasi tersebut gagal meminta pertanggungjawaban China atas penyebaran awal Covid-19.

    Ia bahkan menyebut WHO sebagai “boneka Beijing” dan berjanji untuk mengalihkan kontribusi AS kepada inisiatif kesehatan domestik. Kritik ini mencerminkan sikap Trump sejak 2020, ketika ia memulai proses penarikan AS dari WHO. Namun, langkah tersebut dibatalkan oleh penerusnya, Presiden Joe Biden, enam bulan kemudian.

    Trump juga telah mencalonkan beberapa kritikus WHO untuk menduduki posisi tinggi dalam sektor kesehatan publik, termasuk Robert F. Kennedy Jr., seorang skeptis vaksin yang dicalonkan sebagai Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS). HHS memiliki yurisdiksi atas semua lembaga kesehatan utama AS, termasuk CDC dan FDA.

    Rencana penarikan ini mempertegas kebijakan Trump yang cenderung menentang kerja sama multilateral di bidang kesehatan, terutama dalam isu-isu yang melibatkan WHO.

    Tanggapan WHO

    WHO menolak memberikan komentar langsung atas rencana ini. Namun, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, sebelumnya menyatakan bahwa organisasi tersebut membutuhkan waktu dan ruang untuk transisi AS. Tedros juga optimistis bahwa negara-negara anggota dapat menyelesaikan kesepakatan pandemi global pada Mei 2025.

    Sementara itu, para pengkritik memperingatkan bahwa penarikan AS dapat merusak sistem pemantauan penyakit global dan respons darurat internasional.

    “AS akan kehilangan pengaruh dan kekuatan dalam kesehatan global, sementara China akan mengisi kekosongan itu. Saya tidak bisa membayangkan dunia tanpa WHO yang kuat. Tetapi penarikan AS akan sangat melemahkan organisasi tersebut,” ujar Gostin.

     

    (luc/luc)

  • Gerbang PD 3 Terbuka, Putin Ungkap Kapan Rusia Tembak Senjata Nuklir

    Gerbang PD 3 Terbuka, Putin Ungkap Kapan Rusia Tembak Senjata Nuklir

    Jakarta, CNBC Indonesia – Presiden Vladimir Putin mengatakan bahwa Kremlin berhak menggunakan senjata nuklir terhadap negara mana pun yang mengancam Rusia atau Belarus. Hal ini disampaikannya saat membahas doktrin nuklir baru negaranya.

    “Saat kita berbicara tentang bahaya militer tertentu yang dapat berkembang menjadi ancaman baru, kita berbicara tentang peningkatan tanggung jawab negara-negara non-nuklir yang dapat berpartisipasi dalam agresi terhadap Rusia, di samping negara-negara yang memiliki kemampuan nuklir,” kata Putin dalam sesi tanya jawab yang disiarkan televisi, seperti dikutip Newsweek, Senin (23/12/2024).

    “Jika negara-negara tersebut mengancam kami, kami berhak menggunakan senjata nuklir kami untuk melawan mereka,” tambahnya.

    Putin juga mengumumkan bahwa jika ancaman yang sama ditujukan kepada Belarus, pihaknya akan melakukan segala hal untuk menjamin keamanan negara sekutu tersebut.

    “Saya pikir ini adalah komponen yang sangat penting dari doktrin nuklir yang diperbarui,” tambahnya.

    Doktrin nuklir baru Rusia untuk menurunkan ambang batas penggunaan persenjataan atom terbesar di dunia menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat internasional.

    Dokumen yang diperbarui tersebut ditandatangani 1.000 hari sejak dimulainya invasi skala penuh Rusia ke Ukraina dan diikuti oleh pemerintahan Presiden Joe Biden yang mencabut pembatasan penggunaan ATACMS (Sistem Rudal Taktis Angkatan Darat) oleh Kyiv untuk menyerang wilayah Rusia.

    Perubahan sikap Rusia mencakup setidaknya empat perubahan besar.

    Pertama, agresi terhadap Belarus ditambahkan ke doktrin tersebut, yang sebelumnya hanya menyebutkan ancaman terhadap Rusia. Pemimpin Belarus, Alexander Lukashenko, adalah sekutu terdekat Putin di Eropa dan telah mengizinkan negaranya menjadi tuan rumah bagi hulu ledak nuklir Rusia.

    Kedua, Rusia sebelumnya telah memperingatkan tentang respons nuklir jika “keberadaan negara terancam.” Pedoman yang direvisi sekarang merujuk pada “ancaman kritis” terhadap “kedaulatan,” serta “integritas teritorial” Rusia dan Belarus.

    Ketiga, doktrin baru tersebut menambah daftar hal-hal yang dianggap Rusia sebagai bahaya militer yang mungkin memerlukan respons nuklir.

    Hal-hal tersebut termasuk kepemilikan segala jenis senjata pemusnah massal yang dapat digunakan untuk melawan Rusia, latihan militer di dekat perbatasan Rusia, serta upaya untuk menyerang fasilitas yang membahayakan lingkungan atau mengisolasi sebagian wilayah Rusia.

    Terakhir, dokumen yang diperbarui tersebut tidak lagi mengatakan bahwa Rusia menganggap senjata nuklir “hanya” sebagai alat pencegahan, dan menambahkan bahwa Moskow dapat menggunakan senjata nuklir untuk melawan musuh-musuh “potensial”.

    (sef/sef)

  • Israel Disebut Bakal Takut Lihat Kekuatan Iran, Mundur Perlahan untuk Hindari Konflik – Halaman all

    Israel Disebut Bakal Takut Lihat Kekuatan Iran, Mundur Perlahan untuk Hindari Konflik – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Koresponden Urusan Utara dan Militer Maariv Israel, Avi Ashkenazi, menyebut kekuatan militer Iran tetap menjadi yang terbesar dibandingkan dengan Israel.

    Israel disebut-sebut akan kewalahan jika meniatkan diri untuk melawan Iran bila perang pecah.

    Menurut Ashkenazi, Iran memiliki kekuatan besar, dengan ratusan ribu rudal, ekonomi yang lebih besar dari Israel, dan sumber daya yang besar, termasuk mineral, gas alam, dan minyak.

    Dalam pernyataan Ashkenazi, ia mempertanyakan apakah Israel mampu terlibat perang melawan Iran, dan menekankan, masalahnya lebih kompleks.

    Dikutip dari Al Mayadeen, Ashkenazi juga menyebut Lembaga Intelijen Israel, Mossad marah besar setelah adanya kebocoran dari wartawan politik yang mengklaim kepala Mossad merekomendasikan peluncuran kampanye melawan Iran.

    Kepala Mossad, David Barnea pun langsung menyatakan laporan tersebut tidak sepenuhnya akurat.

    “Saya berasumsi Barnea mengacu pada rencana operasional yang dapat merugikan Iran. Saya yakin itulah yang dimaksudnya,” kata Ashkenazi.

    Ashkenazi pun menekankan pentingnya untuk tidak meremehkan Iran, bahkan ketika mereka terluka.

    “Akhirnya, Barnea mengakui bahwa pada akhirnya, Israel akan mundur dari perang dengan Iran,” ucap Ashkenazi.

    AS Khawatir dengan Iran

    Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, sangat khawatir dengan Iran yang menurutnya makin melemah.

    Meski semakin melemah, AS khawatir dengan pembangunan senjata nuklir yang dilakukan oleh Iran.

    Iran telah mengalami kemunduran dalam pengaruh regionalnya setelah serangan Israel terhadap sekutunya, Hamas Palestina dan Hizbullah Lebanon, diikuti oleh jatuhnya Presiden Suriah yang bersekutu dengan Iran, Bashar al-Assad.

    Serangan Israel terhadap fasilitas Iran, termasuk pabrik rudal dan pertahanan udara, telah mengurangi kemampuan militer konvensional Teheran.

    “Tidak mengherankan ada suara-suara (di Iran) yang mengatakan, ‘Hei, mungkin kita perlu mengembangkan senjata nuklir sekarang juga. Mungkin kita harus meninjau kembali doktrin nuklir kita’,” kata Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, Jake Sullivan kepada CNN.

    Iran mengatakan program nuklirnya bersifat damai, tetapi telah memperluas pengayaan uranium sejak Trump, dalam masa jabatan presiden 2017-2021, menarik diri dari kesepakatan antara Teheran dan negara-negara besar dunia yang membatasi aktivitas nuklir Iran dengan imbalan keringanan sanksi.

    Sullivan mengatakan ada risiko bahwa Iran mungkin mengabaikan janjinya untuk tidak membangun senjata nuklir.

    “Ini adalah risiko yang sedang kami waspadai sekarang. Ini adalah risiko yang secara pribadi saya sampaikan kepada tim yang akan datang,” ucap Sullivan.

    Trump, yang akan mulai menjabat pada 20 Januari, dapat kembali ke kebijakan garis kerasnya terhadap Iran dengan meningkatkan sanksi terhadap industri minyak Iran.

    Sullivan mengatakan Trump akan memiliki kesempatan untuk melakukan diplomasi dengan Teheran, mengingat “negara Iran yang melemah”.

    “Mungkin dia (Trump) bisa datang kali ini, dengan situasi yang dialami Iran, dan benar-benar menyampaikan kesepakatan nuklir yang mengekang ambisi nuklir Iran untuk jangka panjang,” katanya.

    Iran Bersumpah Hancurkan Tentara Bayaran AS

    Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei (Khamenei.ir)

    Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei telah bersumpah akan menghancurkan siapa pun yang bersedia menjadi tentara bayaran Amerika Serikat (AS).

    Pernyataan Ali Khamenei ini muncul setelah Pemimpin Tertinggi itu marah karena Iran selalu disalahkan ketika Timur Tengah memanas.

    Dalam pidatonya, Khamenei menguraikan strategi AS untuk mendominasi negara-negara, yang katanya berputar di sekitar dua skenario.

    Pertama, mendirikan rezim despotik yang sejalan dengan kepentingan mereka.

    Lalu yang kedua adalah mengobarkan kekacauan dan kerusuhan ketika rezim seperti itu tidak dapat didirikan.

    “Di Suriah, mereka menggunakan kerusuhan dan menciptakan kekacauan,” jelas Khamenei, dikutip dari IRNA.

    Dirinya pun mengkritik tindakan AS dan Israel baru-baru ini, yang menyatakan bahwa rasa kemenangan mereka saat ini telah mengarah pada retorika yang gegabah.

    “Sekarang, mereka membayangkan telah meraih kemenangan. Orang Amerika, rezim Zionis, dan kaki tangannya merasa telah berhasil, yang membuat mereka membual.”

    “Inilah sifat orang-orang yang berbuat jahat — ketika mereka yakin telah menang, mereka kehilangan kendali atas lidah mereka dan mengucapkan omong kosong,” ujarnya.

    Ia secara khusus menanggapi komentar terbaru dari seorang pejabat AS, yang dianggap Khamenei sebagai provokasi tak berdasar.

    “Orang-orang ini telah terjerumus ke dalam omong kosong. Seorang pejabat Amerika, dalam pernyataan sombongnya—meskipun dibalut dengan kehalusan, tetapi sepenuhnya jelas—mengatakan, ‘Siapa pun yang memicu kerusuhan di Iran, kami akan mendukung mereka’. Orang-orang bodoh ini mengira mereka telah menemukan emas,” tegas Khamenei.

    “Poin pertama adalah bahwa bangsa Iran akan menghancurkan siapa pun yang bersedia bertindak sebagai tentara bayaran Amerika dalam masalah ini,” pungkas Khamenei.

    (Tribunnews.com/Whiesa)

  • Trump Sinyalkan Dukung TikTok Tetap Beroperasi di AS

    Trump Sinyalkan Dukung TikTok Tetap Beroperasi di AS

    Jakarta

    TikTok terancam diblokir di Amerika Serikat dalam waktu kurang dari satu bulan. Namun Presiden terpilih Donald Trump memberikan sinyal bahwa ia mendukung TikTok tetap beroperasi di AS setidaknya untuk sementara waktu.

    “Menurut saya kita harus mulai berpikir karena, Anda tahu, kami sudah menggunakan TikTok, dan kami mendapatkan respons yang luar biasa dengan miliaran view, miliaran dan miliar view,” kata Trump saat berbicara di depan peserta konferensi AmericaFest, seperti dikutip dari Reuters, Senin (23/12/2024).

    “Mereka memberikan saya sebuah grafik, dan itu adalah sebuah rekor, dan itu sangat indah untuk dilihat, dan ketika saya melihatnya, saya mengatakan, ‘Mungkin kita harus pertahankan ini untuk sementara waktu’,” sambungnya.

    Komentar ini merupakan indikasi paling kuat bahwa ia menentang pemblokiran TikTok di AS. Padahal pada tahun 2020 ia pernah mencoba memblokir TikTok di AS lewat perintah eksekutif.

    Trump sepertinya mulai berubah pikiran sejak membuka akun TikTok pada Juni 2024, bersamaan dengan kampanye pemilihan presiden AS. Hanya beberapa hari setelah membuka akun, Trump langsung mendulang lebih dari 3,6 juta follower di TikTok.

    Pekan lalu, Trump bertemu dengan CEO TikTok Shou Zi Chew di kediamannya. Dalam konferensi pers di hari yang sama, ia mengatakan memiliki ‘rasa sayang’ di hatinya untuk aplikasi milik ByteDance tersebut.

    Rencana pemblokiran TikTok di AS didasari oleh undang-undang yang disahkan Presiden AS Joe Biden ada April 2024. Undang-undang itu mewajibkan ByteDance menjual TikTok sebelum 19 Januari 2025 (sehari sebelum Trump dilantik), dan jika gagal maka TikTok akan diblokir di AS.

    Belum diketahui bagaimana Trump akan membatalkan perintah divestasi TikTok, yang mendapatkan dukungan kencang di Senat AS. Saat ini TikTok juga sedang berusahan melawan pemblokiran lewat jalur hukum, dan ByteDance akan menyampaikan argumennya di hadapan Mahkamah Agung AS pada 10 Januari 2025.

    (vmp/rns)

  • TikTok Mendadak Mau Dicaplok Miliarder AS, Ini Sosoknya

    TikTok Mendadak Mau Dicaplok Miliarder AS, Ini Sosoknya

    Jakarta, CNBC Indonesia – Sosok miliarder asal Amerika Serikat (AS) Frank McCourt tertarik membeli TikTok. Bahkan, ia dilaporkan sudah menyusun rencana penawaran aplikasi milik ByteDance asal China tersebut.

    ByteDance diketahui harus melepas kepemilikannya TikTok di AS agar aplikasi tetap bisa diakses di negara itu. Tawaran McCourt bisa menyelamatkan aplikasi video pendek itu agar tak diblokir permanen oleh pemerintah AS.

    Pemilik tim bisbol Los Angeles Dodgers mengaku menerima pendanaan lisan senilai US$20 miliar (Rp 323 triliun) dari konsorsium investor untuk membeli TikTok, dikutip Reuters, Senin (23/12/2024).

    Penawaran itu diikuti dengan rencana perombakan pada model bisnis milik TikTok yang dijalankan sekarang. Dia merubah model periklanan dan mengajukan agar pengguna akan punya kendali atas iklan dan jenis konten pada TikTok.

    TikTok akan mendapatkan pemasukan dari tempat lain, e-commerce dan data lisensi untuk pelatihan kecerdasan buatan.

    Namun rencana McCourt punya beberapa penghalang. Salah satu yang terbesar mungkin pendirian TikTok yang menegaskan tidak akan dipisahkan dari ByteDance.

    TikTok juga masih berupaya mengajukan banding ke Mahkamah Agung. Agar aturan pemerintah Joe Biden terkait penjualan aplikasi bisa dibatalkan.

    McCourt meyakini Mahkamah Agung tidak akan meloloskan permintaan TikTok. Jika prediksinya benar, maka ByteDance akan membuka ruang untuk bernegosiasi.

    Selain menyusun desain model bisnis baru, McCourt dan timnya telah melakukan percakapan awal dengan pemerintahan baru di bawah Donald Trump. Tim itu juga telah berbicara dengan CEO potensial jika TikTok telah ada di tangan McCourt.

    Reuters mengutip seorang sumber mengatakan CEO yang dimaksud adalah mantan kepala operasi TikTok, V. Pappas. Dia tidak menanggapi permintaan berkomentar terkait laporan tersebut.

    Jika aturan tersebut tetap dilakukan dan TikTok tidak dijual ByteDance maka akses aplikasi akan dilarang di AS pada 19 Januari 2025 mendatang.

    (fab/fab)

  • China Tegaskan AS “Bermain Api” usai Sepakati Bantuan Militer untuk Taiwan

    China Tegaskan AS “Bermain Api” usai Sepakati Bantuan Militer untuk Taiwan

    JAKARTA – Pemerintah China memprotes Amerika Serikat (AS) atas keputusan perdagangan dan bantuan militer untuk Taiwan, Minggu 22 Desember. 

    Mengutip AP, China menyebut AS sedang “bermain api” atas tindakan tersebut.

    Presiden AS Joe Biden pada Sabtu 21 Desember setuju untuk memberikan dukungan pertahanan senilai 571,3 juta dolar AS untuk Taiwan.

    Dukungan itu termasuk material dan layanan Departemen Pertahanan AS meliputi pendidikan dan pelatihan militer.

    Terpisah, Departemen Pertahanan AS mengatakan pada Jumat 20 Desember telah menyetujui penjualan alat perang atau militer senilai 265 juta dolar kepada Taiwan.

    Penjualan alat militer itu termasuk sekitar 300 sistem radio taktis dan 30 juta dolar AS untuk 16 dudukan senjata.

    Meresponsnya, Kementerian Luar Negeri China mendesak AS untuk berhenti mempersenjatai Taiwan. Kemenlu menilai “tindakan itu berbahaya” berpotensi merusak perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan.

    Dukungan pertahanan senilai 571,3 juta dolar AS tersebut merupakan tambahan dari kebijakan Biden untuk tujuan yang sama sebesar 567 juta dolar AS pada akhir September 2024 lalu. 

    Kemenlu Taiwan menyambut baik kesepakatan dukungan militer dan jual beli senjata yang dilakukan Taiwan bersama AS.

    “Komitmen pemerintah AS terhadap pertahanan kita,” ujar Kemenlu Taiwan.

  • Kongres AS Sepakati RUU Pengeluaran, Pemerintah Terhindar dari ‘Shutdown’

    Kongres AS Sepakati RUU Pengeluaran, Pemerintah Terhindar dari ‘Shutdown’

    Bisnis.com, JAKARTA – Kongres AS meloloskan undang-undang pengeluaran pada Sabtu (21/12/2024) dini hari waktu setempat yang menghindarkan pemerintah mengalami penutupan atau government shutdown yang tidak stabil menjelang musim liburan yang sibuk. 

    Mengutip Reuters pada Minggu (22/12/2024), Senat AS yang dikuasai Demokrat dalam pemungutan suara 85-11 meloloskan RUU untuk melanjutkan pendanaan pemerintah 38 menit setelah berakhir pada tengah malam. Adapun, Pemerintah AS tidak menerapkan prosedur penutupan sementara.

    Pemerintah federal menghabiskan sekitar US$6,2 triliun tahun lalu dan memiliki utang lebih dari US$36 triliun. Dengan demikian, Kongres AS merasa perlu bertindak untuk mengesahkan pinjaman lebih lanjut pada pertengahan tahun depan.

    UU tersebut akan memperpanjang pendanaan pemerintah hingga 14 Maret, menyediakan US$100 miliar untuk negara bagian yang dilanda bencana dan US$10 miliar untuk petani, dan memperpanjang program bantuan pertanian dan pangan yang akan berakhir pada akhir tahun.

    RUU itu sekarang akan dikirim ke Gedung Putih, di mana Presiden Joe Biden diperkirakan menandatanganinya menjadi undang-undang. Paket tersebut sebelumnya telah disetujui DPR yang dikuasai Partai Republik dengan dukungan bipartisan.

    Pemungutan suara larut malam itu mengakhiri minggu yang penuh kepanikan saat Presiden terpilih Donald Trump dan sekutu miliardernya Elon Musk mengalahkan kesepakatan bipartisan awal, yang membuat Kongres menjadi kacau.

    Versi final UU itu mencabut beberapa ketentuan yang didukung oleh Partai Demokrat, yang menuduh Partai Republik menyerah pada tekanan dari miliarder yang tidak dipilih dan tidak memiliki pengalaman dalam pemerintahan.

    Kongres tidak menindaklanjuti permintaan Trump untuk menaikkan pagu utang, tugas yang sulit secara politis, sebelum dia menjabat pada 20 Januari 2025.

    Beberapa anggota Partai Republik memberikan suara menentang paket tersebut karena tidak memangkas pengeluaran. Ketua DPR Mike Johnson mengatakan partai tersebut akan memiliki pengaruh yang lebih besar tahun depan, ketika mereka akan memiliki mayoritas di kedua kamar Kongres dan Trump akan berada di Gedung Putih. 

    “Ini adalah langkah yang diperlukan untuk menjembatani kesenjangan, untuk membawa kita ke momen di mana kita dapat memberikan pengaruh pada keputusan akhir tentang pengeluaran,” katanya kepada wartawan setelah pemungutan suara DPR. 

    Dia mengatakan Trump mendukung paket tersebut. Penutupan pemerintah akan mengganggu segalanya mulai dari penegakan hukum hingga taman nasional dan menangguhkan gaji bagi jutaan pekerja federal. 

    Sebuah kelompok perdagangan industri perjalanan memperingatkan bahwa hal itu dapat merugikan maskapai penerbangan, hotel, dan perusahaan lain sebesar US$1 miliar per minggu dan menyebabkan gangguan yang meluas selama musim Natal yang sibuk. 

    Upaya Ketiga

    Paket tersebut menyerupai rencana bipartisan yang dibatalkan awal minggu ini setelah serangan daring dari Trump dan Musk. Mereka mengatakan paket tersebut berisi terlalu banyak ketentuan yang tidak terkait, seperti kenaikan gaji untuk anggota parlemen dan tindakan keras terhadap pengelola tunjangan farmasi.

    Partai Republik mencoret sebagian besar elemen dari RUU tersebut – termasuk ketentuan yang membatasi investasi di China yang menurut Partai Demokrat akan bertentangan dengan kepentingan Musk.

    “Dia jelas tidak ingin menjawab pertanyaan tentang seberapa besar rencananya untuk memperluas bisnisnya di China dan berapa banyak teknologi Amerika yang akan dijualnya,” kata anggota DPR AS dari Partai Demokrat Rosa DeLauro di gedung DPR.

    Trump telah menugaskan Musk, orang terkaya di dunia, untuk memimpin gugus tugas pemotongan anggaran tetapi dia tidak akan memegang jabatan resmi di Washington.

    Sementara itu, Musk menulis di platform media sosialnya X bahwa dia senang dengan paket tersebut. 

    “Uang itu berubah dari tagihan yang beratnya hanya beberapa pound menjadi tagihan yang beratnya hanya beberapa ons,” tulisnya.

    Pemimpin DPR dari Partai Demokrat, Hakeem Jeffries, mengatakan partainya masih mencapai beberapa tujuannya dan mencegah Partai Republik memberlakukan kenaikan plafon utang yang akan mempermudah pemotongan pajak.

    “Kami telah berhasil memajukan kebutuhan warga Amerika sehari-hari, tetapi masih ada hal-hal yang harus dikerjakan dan kami menantikan perjuangan itu di tahun baru,” katanya kepada wartawan.

    Permintaan Trump untuk menaikkan plafon utang ditolak dengan suara bulat oleh DPR – termasuk 38 anggota Partai Republik – pada hari Kamis. Johnson mengatakan anggota parlemen akan membahas masalah tersebut pada bulan Januari.

    Perwakilan Rich McCormick, salah satu dari 34 anggota Partai Republik yang memberikan suara menentang RUU hari Jumat, mengatakan RUU itu tidak mengubah lintasan fiskal negara dan hanya akan menambah beban utang.

    “Kita akan menjadi negara masa lalu jika kita terus melakukan apa yang kita lakukan,” katanya.

    Pemerintah federal terakhir kali tutup selama 35 hari selama masa jabatan pertama Trump di Gedung Putih karena perselisihan tentang keamanan perbatasan.

    Pertikaian sebelumnya mengenai batas utang telah membuat pasar keuangan khawatir, karena gagal bayar pemerintah AS akan menyebabkan guncangan kredit di seluruh dunia. 

    Batas tersebut telah ditangguhkan berdasarkan perjanjian yang secara teknis berakhir pada 1 Januari, meskipun anggota parlemen kemungkinan besar tidak perlu menangani masalah tersebut sebelum musim semi.

  • Kongres Loloskan Rencana Anggaran, Pemerintah AS Terhindar dari Shutdown

    Kongres Loloskan Rencana Anggaran, Pemerintah AS Terhindar dari Shutdown

    Washington DC

    Pemerintah Amerika Serikat (AS) terhindar dari penutupan atau shutdown setelah Kongres, pada Sabtu (21/12) dini hari, berhasil meloloskan rancangan undang-undang (UU) yang mengatur pendanaan untuk lembaga-lembaga federal hingga pertengahan Maret mendatang.

    RUU yang disebut sebagai stopgap funding bill ini, seperti dilansir AFP dan CNN, Sabtu (21/12/2024), mendapatkan dukungan mayoritas anggota House of Representatives atau DPR dan Senat AS dalam voting yang digelar mendekati batas waktu pada Jumat (20/12) tengah malam sebelum shutdown bisa terjadi.

    DPR AS, yang dikuasai politisi Partai Republik, terlebih dulu meloloskan RUU tersebut dalam voting pada Jumat (20/12) malam. Meskipun ada 34 suara anggota dari Partai Republik yang menolak RUU itu, namun hampir semua anggota dari Partai Demokrat menyetujuinya.

    Hasil voting menunjukkan sebanyak 366 anggota DPR memberikan suara dukungan dan 34 suara lainnya menolak, yang berarti RUU itu diloloskan dan selanjutnya diteruskan kepada Senat, yang dikuasai Partai Demokrat, untuk dibahas dan divoting.

    Tidak lama setengah tengah malam, atau pada Sabtu (21/12) dini hari, para Senator AS meloloskan RUU tersebut setelah memutuskan untuk membatalkan prosedur normal guna mempercepat voting. Sebanyak 85 Senator mendukung RUU itu, dengan 11 Senator lainnya menolak.

    Meskipun secara teknis RUU ini diloloskan setelah batas waktu pada malam berakhir, namun langkah ini tetap menghindari penutupan pemerintah AS yang akan berdampak luas.

    Selanjutnya, RUU ini akan diteruskan kepada Presiden Joe Biden untuk ditandatangani menjadi undang-undang (UU).