Tag: Joe Biden

  • Ukraina Krisis Senjata, Pasukan Zelensky Curhat Kehabisan Rudal ATACMS Untuk Lawan Rusia – Halaman all

    Ukraina Krisis Senjata, Pasukan Zelensky Curhat Kehabisan Rudal ATACMS Untuk Lawan Rusia – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Ukraina diketahui kehabisan stok Rudal Taktis pasokan Amerika Serikat ATACMS yang biasa digunakan dalam perang melawan Rusia.

    Hal itu diungkap seorang pejabat militer  Ukraina yang bertempur di medan perang melawan Rusia.

    Dalam laporan yang dikutip dari Kyiv Independent, pejabat militer Ukraina itu menjelaskan bahwa pasukannya tidak lagi memiliki misil ATACMS di gudang senjata.

    Sementara itu, dalam laporan lain seorang pejabat Amerika menyebut jika pasokan rudal ATACMS dari negaranya yang dipasok untuk Ukraina sudah habis sejak akhir Januari 2025 lalu.

    ATACMS sendiri merupakan rudal balistik yang dipasok AS yang dapat terbang hingga 300 kilometer (sekitar 186 mil).

    ATACMS dilengkapi dengan sistem panduan GPS yang memungkinkan presisi tinggi dalam penargetan.

    Dengan kemampuan ini, ATACMS mampu menghancurkan target yang sangat spesifik dengan kerusakan minimal pada area sekitarnya.

    Selain itu ATACMS dapat menyasar berbagai target penting dengan cepat dan akurat.

    Oleh karena itu ATACMS ideal untuk digunakan dalam operasi militer berskala besar yang membutuhkan serangan cepat untuk mengganggu logistik atau menghancurkan kekuatan musuh yang kritis.

    Ukraina sendiri mulai menerima dan menggunakan sistem rudal ATACMS pada Oktober 2023.  sementara penggunaan ATACMS pertama kali tercatat pada 17 Oktober 2023.

    Serangan ini menargetkan koridor darat yang diduduki Rusia menuju Krimea dan pangkalan udara Rusia di utara Krimea, yang mengakibatkan penghancuran beberapa helikopter militer Rusia di darat.

    Pada 19 November 2024, Ukraina kembali menggunakan ATACMS dengan menargetkan wilayah dalam perbatasan internasional Rusia, menghancurkan fasilitas penyimpanan amunisi di wilayah Bryansk.

    AS Stop Pasok Senjata ke Ukraina

    Saat masa kepemimpinan Presiden Joe Biden, AS diketahui mengirim 40 misil ATACMS ke Ukraina.

    Namun sejak Presiden terpilih AS Donald Trump menjabat, AS mulai memperketat aturannya dengan membatasi pasokan senjata ke Ukraina.

    Termasuk menghentikan pasokan misil ATACMS, hal ini yang membuat Kyiv kehabisan rudal tersebut sejak Januari

    Presiden AS, Donald Trump diketahui memerintahkan penangguhan semua bantuan militer ke Ukraina.

    Penangguhan sementara bantuan militer ini tidak hanya mempengaruhi bantuan di masa mendatang, tetapi juga senjata yang sedang dalam perjalanan.

    Termasuk pengiriman melalui pesawat dan kapal, serta peralatan yang sedang transit di Polandia.

    Keputusan ini diambil setelah pertemuan yang penuh ketegangan antara Trump dan Zelensky, di mana ketidaksepakatan mengenai bantuan militer dan sikap strategis Ukraina memicu ketegangan.

    Imbas penangguhan ini, Amerika diprediksi tidak akan memasok lagi rudal ATACMS ke Ukraina. Pasalnya, Trump sangat menentang penggunaan rudal jarak jauh untuk menyerang wilayah Rusia.

    Zelensky Akui Ukraina Krisis senjata

    Presiden Ukraina mengakui bahwa sebagian besar unit militer Kiev mengalami krisis senjata.

    Ia mengungkap bahwa krisis terjadi lantaran negaranya kesulitan untuk memasok senjata di tengah meningkatnya kerusakan peralatan dan masalah pemeliharaan yang terus-menerus.

    Komentar Zelensky muncul di tengah meningkatnya tekanan dari para pendukung Kiev, khususnya Amerika Serikat yang mulai memperketat aturan.

    Tak hanya krisis senjata, Ukraina juga mengalami krisis pasukan selama perang melawan Rusia.

    Informasi publik militer Ukraina, Deep State menunjukkan dalam peta garis depan, pertempuran Ukraina mempertahankan tanah mereka banyak mengalami kegagalan.

    Ini lantaran pasukan yang diterjunkan menghadapi Rusia yang tidak memadai.

    Adapun jumlah pasukan yang dikerahkan untuk brigade nya hanya 3-5 ribu orang. Padahal untuk melawan Rusia dibutuhkan setidaknya 25.000 personel.

    Buntut krisis ini militer Kiev diam-diam memasukkan para dokter dan operator serta teknisi rudal Patriot untuk berjuang di garis depan.

    Wakil parlemen dari Partai Hamba Rakyat yang dikenal vokal tersebut mengatakan bahwa sejatinya dokter akan bertugas di belakang untuk menjamin kesehatan, sementara operator dan teknisi Patriot mengoperasikan rudal tersebut untuk menyerang Rusia.

    Akan tetapi kini mereka justru diperintahkan untuk angkat senjata berperang sebagai pasukan infanteri.

    (Tribunnews.com / Namira)

  • SpaceX Tunda Misi Pemulangan 2 Astronaut NASA yang ‘Terjebak’ di ISS

    SpaceX Tunda Misi Pemulangan 2 Astronaut NASA yang ‘Terjebak’ di ISS

    Jakarta

    SpaceX terpaksa menunda penerbangan dari Kennedy Space Center, Amerika Serikat (AS), ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada Rabu (12/03) waktu setempat karena masalah sistem hidrolik di darat. Padahal, misi tersebut bertujuan menggantikan dua astronaut NASA, Butch Wilmore dan Suni Williams, yang sudah “terjebak” di ISS selama kurang lebih sembilan bulan.

    Kekhawatiran terkait sistem hidrolik yang digunakan untuk melepaskan salah satu dari dua “lengan” penahan roket ke struktur pendukungnya itu, muncul hanya beberapa jam sebelum jadwal peluncuran.

    Empat astronaut yang dijadwalkan berangkat, yaitu spesialis misi Kirill Peskov dari Roscosmos Rusia, pilot Nichole Ayers dan komandan Anne McClain dari NASA AS, serta spesialis misi Takuya Onishi dari JAXA Jepang, awalnya sudah mengenakan sabuk pengaman di dalam roket Falcon tersebut. Namun, keputusan final penundaan datang kurang dari satu jam sebelum lepas landas.

    SpaceX belum mengumumkan tanggal peluncuran baru, tetapi membuka peluang peluncuran berikutnya dilakukan paling cepat pada Kamis (13/03) waktu setempat.

    Intervensi Trump dan Musk

    NASA sebelumnya memajukan misi penyelamatan Wilmore dan Williams dua minggu dari jadwal, setelah Presiden AS Donald Trump dan CEO SpaceX, Elon Musk, meminta agar kedua astronaut tersebut dibawa pulang lebih awal. NASA awalnya menjadwalkan misi tersebut pada 26 Maret.

    Seruan Trump dan Musk agar Wilmore dan Williams dibawa kembali ke Bumi lebih awal, merupakan intervensi yang tidak biasa dalam operasi penerbangan antariksa berawak NASA. NASA pun pada akhirnya menukar kapsul SpaceX yang pertama kali disiapkan dengan kapsul lain yang lebih cepat siap.

    Tanpa memberikan bukti, Trump dan Musk juga telah berupaya menyalahkan mantan Presiden Joe Biden atas tertundanya kepulangan Wilmore dan Williams.

    Apakah kedua astronaut baik-baik saja?

    Dalam sebuah panggilan telepon pada 4 Maret, Williams mengatakan kepada para wartawan bahwa ia tidak sabar untuk bertemu dengan keluarga dan anjing peliharaannya ketika ia tiba di rumah.

    “Ini merupakan roller coaster bagi mereka, mungkin sedikit lebih berat daripada kami,” kata Williams.

    “Kami di sini, kami memiliki misi, kami hanya melakukan apa yang kami lakukan setiap hari, dan setiap hari itu menarik karena kami berada di luar angkasa dan itu sangat menyenangkan,” tambahnya.

    Ketika kru baru nanti tiba di ISS, Wilmore dan Williams serta dua orang lainnya – astronot NASA Nick Hague dan kosmonot Rusia Aleksandr Gorbunov – dapat kembali ke Bumi menggunakan sebuah kapsul yang telah terpasang di ISS sejak September.

    gtp/as (Reuters, AFP, AP)

    (ita/ita)

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • TSMC Investasi Triliunan di Amerika, Taiwan Malah Ketakutan

    TSMC Investasi Triliunan di Amerika, Taiwan Malah Ketakutan

    Jakarta

    Raksasa chip asal Taiwan, TSMC, belum lama ini mengumumkan akan berinvetasi di Amerika Serikat senilai USD 100 miliar, membuat total investasi mereka di negeri Paman Sam tembus USD 160 miliar. Aksi TSMC itu rupanya membuat sebagian pihak di Taiwan ketakutan.

    Chip canggih TSMC digunakan dari smartphone sampai jet tempur sehingga peran mereka sangat krusial. Seiring dengan ancaman China yang ingin menginvasi Taiwan, Amerika Serikat saat era Joe Biden sampai sekarang Donald Trump pun meminta agar ada produksi TSMC di negara itu.

    Chairman TSMC CC Wei dan Presiden Taiwan, Lai Ching-te, menegaskan bahwa investasi besar di AS bukan karena tekanan dari Trump. “Kapanpun TMSC membuat produksi di luar Taiwan, itu selalu didorong permintaan konsumen,” kata Wei yang dikutip detikINET dari Deutsche Welle.

    Dia juga berjanji teknologi TSMC yang paling canggih akan tetap berada di Taiwan. Namun demikian, pakar menilai TSMC takkan mau menambah investasi di AS tanpa tekanan dari Trump. Terlebuh belum jelas apakah memproduksi chip di AS dengan biaya tinggi akan menguntungkan.

    Nah selama ini, ‘perisai silikon’ Taiwan adalah perlindungan keamanan penting bagi mereka, terutama dari ancaman China. Taiwan mendominasi manufaktur semikonduktor global, memproduksi 60% chip dunia, dengan TSMC sebagai pemain utama.

    Karena TMSC berinvestasi besar di AS, dicemaskan bahwa keunggulan Taiwan itu akan berkurang dan China bisa menyerang tanpa perlu mencemaskan pasokan chip. Demikian pula AS mungkin tidak akan terlalu melindungi karena sudah ada pabrik TSMC di negara mereka.

    Partai Kuomintang yang saat ini oposisi, mengkritik presiden Lai karena membiarkan pemerintah asing melemahkan perisai silikon. Mereka memperingatkan pengalihan produksi chip canggih ke AS bisa merusak industri chip Taiwan dan berbahaya bagi keamanan nasional.

    “Saya pikir secara fundamental, aksi ini sungguh didesain untuk memastikan bahwa perusahaan-perusahaan AS punya akses terhadap chip higj end jika ada blokade di sekitar Taiwan,” cetus Antonia Hmaidi, periset di Mercator Institute for China Studies (MERICS).

    (fyk/fay)

  • Fakta Resesi AS karena Trump ‘Trumpcession’, Mengapa Bisa Terjadi?

    Fakta Resesi AS karena Trump ‘Trumpcession’, Mengapa Bisa Terjadi?

    Jakarta, CNBC Indonesia – Prospek perekonomian Amerika Serikat (AS) terus mendapatkan potensi yang gelap. Hal ini disebabkan sejumlah kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menduduki posisi orang nomor satu di negara itu sejak Januari lalu.

    Ketakutan akan penurunan cepat dalam ekonomi terbesar di dunia, yang disebut ‘Trumpcession’, mulai merasuki pasar keuangan di tengah kekhawatiran tentang dampak dari tarif perdagangan yang besar serta pemangkasan belanja pemerintah oleh Presiden AS Donald Trump.

    Setelah serangkaian data ekonomi yang lebih lemah dari Amerika Serikat, pelacak PDB real-time Bank of America menunjukkan ekonomi AS menyusut dengan cepat, dengan ukuran turun menjadi 1,7% pada kuartal ini, dari 2,3% pada periode tiga bulan sebelumnya.

    Lalu, apa saja kebijakan Trump dan sentimen pasar yang mengarahkan AS pada jalur resesi? Berikut faktanya Selasa (11/3/2025).

    1. Tarif Perdagangan

    Penggunaan tarif yang agresif oleh pemerintahan Trump merupakan faktor yang memicu kekhawatiran pasar. Sementara pemikiran ekonomi sebelumnya menyatakan bahwa tarif terutama memicu inflasi dengan menaikkan harga barang impor, pasar sekarang melihatnya sebagai resesi, mengganggu rantai pasokan, mengekang investasi perusahaan, dan membebani pengeluaran konsumen.

    Menurut Budget Lab di Yale University, tarif yang diusulkan untuk Meksiko dan Kanada (sekarang dihentikan sementara), ditambah yang sudah ada untuk China, akan menaikkan tarif efektif AS ke level tertinggi sejak 1943. Mereka memperkirakan tingkat harga yang lebih tinggi dapat membebani rumah tangga hingga US$ 2.000 (Rp 32,6 juta).

    Putaran bea masuk terbaru bertepatan dengan aksi jual tajam di ekuitas, yang menggarisbawahi keresahan investor. Rencana pemerintahan untuk mengurangi pengeluaran federal dan memangkas ribuan pekerjaan pemerintah hanya menambah kekhawatiran tentang kemunduran ekonomi.

    Tracy Chen, seorang manajer portofolio di Brandywine Global Investment Management, memperingatkan bahwa urutan kebijakan di mana Trump dapat tarif terlebih dahulu, pemotongan pajak kemudian dapat memperburuk kelemahan ekonomi.

    “Risiko resesi jelas lebih tinggi karena urutan kebijakan Trump,” tuturnya kepada The Global Tresurer.

    2. Kebijakan Imigrasi

    Tindakan keras Trump terhadap imigrasi mengancam industri-industri utama, termasuk pertanian, konstruksi, dan perawatan kesehatan, yang tengah berjuang untuk merekrut tenaga kerja.=

    “Tindakan keras yang direncanakan terhadap imigran gelap, yang jumlahnya sedikitnya 5% dari angkatan kerja, akan menambah jumlah kehilangan pekerjaan,” tambah ekonomi Inggris Tej Parikh kepada Financial Times.

    Hal yang sama juga disampaikan kepala ekonom di PNC, Gus Faucher, dalam catatan kepada investor pada hari Jumat. Ia mengatakan bahwa imigran saat ini berkontribusi besar untuk sejumlah industri yang cukup penting.

    “Ketidakpastian tentang prospek tarif dapat menyebabkan perusahaan memperlambat perekrutan. Dan pembatasan imigrasi dapat membatasi pasokan tenaga kerja yang tersedia, yang akan membebani perolehan lapangan kerja selama beberapa tahun ke depan.”

    3. Efisiensi

    Langkah efisiensi Trump, yang dimotori oleh Kepala Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE), Elon Musk, juga menjadi katalis timbulnya sentimen negatif terhadap ekonomi AS. Musk telah ditugaskan untuk memangkas pemborosan belanja pemerintah sebesar US$ 1 triliun (Rp 16.340 triliun).

    Sejumlah manuver yang dilakukan Musk adalah dengan melakukan pemotongan tenaga kerja. Bank investasi Evercore ISI memperkirakan bahwa upaya pemangkasan biaya sektor publik oleh Elon Musk dapat memangkas total setengah juta lapangan pekerjaan di AS tahun ini. Dalam skenario ekstrem, jumlah tersebut dapat mencapai lebih dari 1,4 juta.

    Kondisi ini pun dapat menjadi beban keuangan rumah tangga. Pekerja yang terdampak yang tidak dapat segera menemukan pekerjaan baru mungkin terpaksa memenuhi kebutuhan hidup tanpa penghasilan tetap.

    “Mayoritas pekerja yang mengalami kehilangan pekerjaan terdampak dalam jangka panjang, karena mereka kesulitan menemukan pekerjaan purna waktu baru dan selanjutnya memperoleh penghasilan lebih sedikit,” menurut sebuah makalah penelitian tahun 2016 oleh profesor emeritus ekonomi di Universitas Princeton, Henry Farber, dikutip CNBC International.

    Direktur ekonomi di Yale University Budget Lab, Ernie Tedeschi, mengungkapkan dampak yang lebih luas. Ia menitikberatkan pada bisnis-bisnis yang akan terganggu karena kekuatan keuangan warga AS, yang berprofesi sebagai PNS, dapat menemui batasan setelah dikeluarkan dari kantornya.

    “Dampak ekonomi dari PHK bagaikan efek domino yang menyebar ke seluruh perekonomian lokal hingga ke bisnis-bisnis yang tampaknya tidak memiliki hubungan apapun dengan pemerintah federal,” tuturnya.

    4. Detoksifikasi

    Dalam tanda yang lebih mengkhawatirkan bagi pasar, Trump telah menghindari mengesampingkan resesi tahun ini dengan mengakui dalam sebuah wawancara dengan Fox News pada hari Minggu (Senin 10/3/2025) bahwa “diperlukan sedikit waktu” sebelum orang Amerika akan melihat hasil dari kebijakannya.

    “Saya tidak suka memprediksi hal-hal seperti itu,” kata Trump. “Ada masa transisi karena apa yang kita lakukan sangat besar.”

    Hal yang sama juga dilontarkan Menteri Keuangan Scott Bessent. Dalam wawancara baru-baru ini, Bessent menggambarkan perubahan tersebut sebagai ‘periode detoksifikasi’, dengan alasan bahwa ekonomi telah menjadi terlalu bergantung pada belanja pemerintah dan sekarang perlu beralih ke pertumbuhan yang didorong oleh sektor swasta.

    “Pasar dan ekonomi telah terpikat pada belanja pemerintah, dan akan ada periode detoksifikasi,” kata Bessent.

    Ahli strategi nilai tukar mata uang asing di National Australia Bank, Ray Attrill, mengatakan bahwa pernyataan ini diarahkan untuk menitikberatkan bahwa situasi ekonomi yang rusak saat ini disebabkan oleh pendahulunya.

    “Narasi AS tampaknya sedikit berubah dari menyalahkan Joe Biden menjadi tidak ada ruginya, tidak ada untung,” kata Attrill.

    5. Data Ekonomi Suram

    Ketakutan akan resesi telah membebani dolar AS meskipun statusnya sebagai aset aman yang biasanya naik selama periode ketidakpastian. Indeks yang melacak greenback terhadap sekeranjang mata uang utama telah jatuh 4% sejak Trump kembali ke Gedung Putih dan minggu lalu mencapai level terlemah sejak November.

    Kegelisahan itu juga melanda pasar saham AS, dengan indeks acuan S&P 500 turun 3,8% sejak pelantikan Trump dan turun 6% dari rekor tertinggi bulan lalu. Sentimen konsumen juga mencapai titik terendah dalam 15 bulan di tengah kekhawatiran tentang PHK dan kenaikan harga.

    Imbal hasil obligasi pemerintah AS turun pada hari Senin karena investor mencari tempat yang aman karena kekhawatiran akan perlambatan ekonomi meningkat. Imbal hasil 10 tahun turun 9 basis poin menjadi 4,226%. Imbal hasil obligasi pemerintah AS 2 tahun turun hampir 10 basis poin menjadi 3,906%. Satu basis poin sama dengan 0,01%, dan imbal hasil dan harga bergerak berlawanan arah.

    Di sektor lapangan kerja, AS menambah lebih sedikit lapangan pekerjaan daripada yang diperkirakan para ekonom pada bulan Februari. Pengusaha mempekerjakan 151.000 pekerja bulan lalu, kurang dari ekspektasi penambahan 170.000 lapangan pekerjaan. Tingkat pengangguran naik ke 4,1%, yang tetap menjadi angka terendah dalam sejarah.

    Untuk pembelian, belanja konsumen turun 0,2% untuk bulan tersebut. Jika disesuaikan dengan inflasi, belanja akan turun hingga 0,5%. Itu adalah penurunan bulanan terbesar sejak Februari 2021.

    “Harga mulai pulih, naik 0,5% dari Desember, laju tercepat sejak Agustus 2023, sehingga menghasilkan tingkat inflasi tahunan sebesar 3% selama 12 bulan yang berakhir pada Januari,” menurut data Indeks Harga Konsumen terbaru yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja.

    (sef/sef)

  • Trump Nilai Penjualan TikTok Bakal Menguntungkan, Siapa Pembelinya?

    Trump Nilai Penjualan TikTok Bakal Menguntungkan, Siapa Pembelinya?

    Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa pihaknya sedang melakukan pembicaraan dengan empat kelompok berbeda mengenai penjualan platform media sosial TikTok.

    Sebagai informasi, Trump sebelumnya melibatkan perusahaan Oracle dan sekelompok investor luar untuk mengambil alih kendali operasi aplikasi tersebut.

    Melansir dari Reuters, Senin (10/3/2025) Trump menyampaikan bahwa semua opsi yang ada dalam pembicaraan ini sangat menguntungkan bagi kedua belah pihak.

    Menanggapi pertanyaan wartawan di dalam Air Force One mengenai kemungkinan kesepakatan segera terkait TikTok, Trump mengatakan hal tersebut bisa saja terjadi.

    “Kami sedang berurusan dengan empat kelompok berbeda, dan banyak orang menginginkannya. Keempatnya (opsi pembeli) bagus,” kata Trump.

    Hingga saat ini, TikTok dan ByteDance belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar Reuters di luar jam kerja normal.

    Ketegangan seputar TikTok telah menarik sejumlah calon pembeli, termasuk mantan pemilik Los Angeles Dodgers, Frank McCourt.

    Frank menyatakan minatnya untuk membeli bisnis yang terus berkembang ini, yang menurut perkiraan analis dapat bernilai hingga US$50 miliar.

    Diberitakan sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menandatangani sebuah perintah eksekutif yang menunda larangan pengoperasian TikTok di Amerika Serikat selama 75 hari.

    Melansir dari Techcrunch, Selasa (21/1), perintah ini bertujuan untuk memberikan waktu bagi pemerintah dan lembaga terkait untuk mengejar resolusi guna menjaga keamanan nasional sekaligus memungkinkan kelangsungan layanan aplikasi TikTok di AS.

    Perintah eksekutif tersebut menginstruksikan Jaksa Agung AS untuk menangguhkan penegakan Undang-Undang Melindungi Warga Amerika dari Aplikasi yang Dikendalikan Musuh Asing (PAFACA), yang pada dasarnya melarang TikTok beroperasi di AS. 

    Selama periode penundaan ini, Departemen Kehakiman diminta untuk tidak melakukan tindakan hukum apapun terhadap entitas yang tidak mematuhi ketentuan PAFACA.

    Adapun keputusan Trump ini datang setelah Mahkamah Agung AS memutuskan untuk menegakkan PAFACA, yang pertama kali disahkan dengan dukungan bipartisan selama masa pemerintahan Presiden Joe Biden.

    Meski demikian, langkah ini memberi ruang bagi TikTok untuk tetap beroperasi sementara pemerintah mencari solusi lebih lanjut terkait masalah keamanan dan kontrol data.

  • Trump: Zelensky Dapat Uang dari Biden Semudah Mengambil Permen dari Bayi – Halaman all

    Trump: Zelensky Dapat Uang dari Biden Semudah Mengambil Permen dari Bayi – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menyamakan kemampuan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dalam mengamankan ratusan miliar dolar dari pemerintahan sebelumnya dengan mengambil permen dari bayi.

    Ia telah berulang kali mengkritik pendahulunya, mantan Presiden Joe Biden, atas kemurahan hatinya yang tak terkendali terhadap Ukraina, dengan menekankan AS tidak memperoleh imbalan apa pun.

    “Dia mengambil uang dari negara ini, di bawah Biden, seperti permen dari bayi. Itu sangat mudah,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox News yang ditayangkan pada Minggu (9/3/2025).

    Trump mengklaim Presiden Ukraina tersebut gagal menunjukkan rasa terima kasih yang sepantasnya kepada AS.

    “Saya rasa dia tidak bersyukur. Kami memberinya 350 miliar dan dia berbicara tentang fakta bahwa mereka telah berjuang dan mereka memiliki keberanian ini,” imbuh Trump.

    Trump sekali lagi menegaskan bahwa seandainya ia menjadi presiden AS pada tahun 2022, konflik Ukraina tidak akan meningkat menjadi perang terbuka.

    Trump: Rusia Lebih Mudah Diajak Berkomunikasi daripada Ukraina

    Sebelumnya, Trump mengatakan AS dapat meninggalkan Ukraina jika Zelensky tidak ingin berdamai dengan Rusia.

    “Jika (Ukraina) tidak ingin berdamai, kami akan keluar dari sana,” kata Trump kepada wartawan pada Jumat (7/3/2025).

    Trump kembali membahas pembicaraannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada pertengahan Februari 2025 yang mengatakan Rusia menginginkan perdamaian.

    “Apakah Anda masih percaya ketika dia (Putin) mengatakan bahwa dia menginginkan perdamaian?” tanyanya.

    “Saya percaya padanya. Saya pikir hubungan kami dengan Rusia berjalan sangat baik,” jawabnya.

    Ia mengatakan Rusia lebih mudah diajak berkomunikasi dibandingkan Ukraina.

    “Sejujurnya, saya merasa lebih sulit untuk berurusan dengan Ukraina. Dan mereka tidak punya kartunya,” imbuh Trump.

    “Dalam hal mendapatkan penyelesaian akhir, mungkin lebih mudah berurusan dengan Rusia, yang mengejutkan karena mereka punya semua kartunya,” lanjutnya.

    Bantuan AS lebih lanjut akan bergantung pada Ukraina yang menunjukkan komitmennya untuk mencapai perdamaian dengan Rusia.

    (Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

    Berita lain terkait Konflik Rusia VS Ukraina

  • Departemen Kehakiman AS Tetap Minta Google Divestasi Chrome

    Departemen Kehakiman AS Tetap Minta Google Divestasi Chrome

    Bisnis.com, JAKARTA — Departemen Kehakiman AS (Department of Justice/DOJ) masih menyerukan agar Google menjual peramban webnya, Chrome, menurut dokumen pengadilan yang diajukan pada Jumat (7/3/2025) berdasarkan laporan Techcrunch.

    DOJ pertama kali mengusulkan agar Google melepas kepemilikan di Chrome tahun lalu di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden saat itu. Namun, tampaknya rencana tersebut tetap dipertahankan di bawah pemerintahan Trump yang kedua.

    Meski begitu, departemen ini tidak lagi menuntut agar Google melepaskan seluruh investasinya di kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), termasuk miliaran dolar yang telah diinvestasikan ke Anthropic.

    “Tindakan ilegal Google telah menciptakan raksasa ekonomi yang mengacaukan pasar untuk memastikan bahwa—apa pun yang terjadi—Google selalu menang,” kata DOJ dalam dokumen yang ditandatangani oleh Omeed Assefi, penjabat Jaksa Agung untuk antimonopoli. Assefi merupajan calon pilihan Trump untuk memimpin kebijakan antimonopoli di DOJ masih menunggu konfirmasi.

    Karena alasan tersebut, DOJ menyatakan bahwa mereka tidak mengubah “komponen inti” dari proposal awal mereka, termasuk pelepasan Chrome dan larangan pembayaran terkait pencarian kepada mitra distribusi.

    Terkait AI, DOJ kini hanya meminta pemberitahuan terlebih dahulu untuk investasi masa depan di bidang AI, bukan mendesak divestasi wajib dari investasi yang telah dilakukan.

    Selain itu, DOJ juga tidak lagi memberikan opsi kepada Google untuk segera melepas Android. Keputusan tersebut akan diserahkan kepada pengadilan pada masa mendatang, tergantung pada apakah pasar menjadi lebih kompetitif.

    Proposal ini muncul setelah gugatan antimonopoli yang diajukan oleh DOJ dan 38 jaksa agung negara bagian, yang mengarah pada keputusan Hakim Amit P. Mehta bahwa Google bertindak ilegal untuk mempertahankan monopolinya di pencarian online.

    Google telah menyatakan akan mengajukan banding atas keputusan Mehta, tetapi sementara itu, perusahaan menawarkan proposal alternatif yang diklaim dapat mengatasi kekhawatiran hakim dengan memberikan lebih banyak fleksibilitas kepada mitra mereka.

    Juru bicara Google mengatakan kepada Reuters bahwa proposal DOJ yang terlalu luas masih jauh melampaui keputusan pengadilan. Perusahaan juga berpandangan proposal tersebut akan merugikan konsumen Amerika, perekonomian, serta keamanan nasional.

    Hakim Mehta dijadwalkan untuk mendengar argumen dari Google dan DOJ pada April 2025.

  • Rusia Gempur Lagi Ukraina, Trump Ancam Beri Sanksi Baru untuk Kremlin

    Rusia Gempur Lagi Ukraina, Trump Ancam Beri Sanksi Baru untuk Kremlin

    Washington

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan memberi sanksi baru terhadap Rusia atas pengebomannya di Ukraina baru-baru ini. AS sebelumnya menangguhkan bantuan ke Kyiv dalam upaya untuk mendorong diplomasi.

    “Berdasarkan fakta bahwa Rusia benar-benar ‘menggempur’ Ukraina di medan perang saat ini, saya sangat mempertimbangkan sanksi perbankan, sanksi dan tarif berskala besar terhadap Rusia hingga gencatan senjata dan perjanjian penyelesaian akhir perdamaian tercapai,” tulis Trump di platform Truth Social miliknya, dilansir AFP, Jumat (7/3/2025).

    “Kepada Rusia dan Ukraina, segeralah berunding, sebelum terlambat,” tambahnya.

    Ancaman Trump muncul setelah Rusia melancarkan serangan pesawat nirawak dan rudal besar-besaran pada Jumat hari ini terhadap infrastruktur energi Ukraina.

    Beberapa hari sebelumnya, pemerintahan Trump menangguhkan pengiriman bantuan militer AS dan pembagian informasi intelijen dengan Ukraina setelah perselisihan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

    ADVERTISEMENT

    `;
    var mgScript = document.createElement(“script”);
    mgScript.innerHTML = `(function(w,q){w[q]=w[q]||[];w[q].push([“_mgc.load”])})(window,”_mgq”);`;
    adSlot.appendChild(mgScript);
    },
    function loadCreativeA() {

    var adSlot = document.getElementById(“ad-slot”);
    if (!adSlot) return;
    adSlot.innerHTML = “;

    if (typeof googletag !== “undefined” && googletag.apiReady) {
    googletag.cmd.push(function () {
    googletag.display(‘div-gpt-ad-1708418866690-0’);
    googletag.pubads().refresh();
    });
    } else {
    var gptScript = document.createElement(“script”);
    gptScript.src = “https://securepubads.g.doubleclick.net/tag/js/gpt.js”;
    gptScript.async = true;
    gptScript.onload = function () {
    window.googletag = window.googletag || { cmd: [] };
    googletag.cmd.push(function () {
    googletag.defineSlot(‘/4905536/detik_desktop/news/static_detail’, [[400, 250], [1, 1], [300, 250]], ‘div-gpt-ad-1708418866690-0’)
    .addService(googletag.pubads());
    googletag.enableServices();
    googletag.display(‘div-gpt-ad-1708418866690-0’);
    googletag.pubads().refresh();
    });
    };
    document.body.appendChild(gptScript);
    }
    }
    ];

    var currentAdIndex = 0;
    var refreshInterval = null;
    var visibilityStartTime = null;
    var viewTimeThreshold = 30000;

    function refreshAd() {
    var adSlot = document.getElementById(“ad-slot”);
    if (!adSlot) return;
    currentAdIndex = (currentAdIndex + 1) % ads.length;
    adSlot.innerHTML = “”;
    ads[currentAdIndex]();
    }

    var observer = new IntersectionObserver(function (entries) {
    entries.forEach(function (entry) {
    if (entry.intersectionRatio > 0.1) {
    if (!visibilityStartTime) {
    visibilityStartTime = new Date().getTime();
    requestAnimationFrame(checkVisibility);
    }
    } else {
    visibilityStartTime = null;
    if (refreshInterval) {
    clearInterval(refreshInterval);
    refreshInterval = null;
    }
    }
    });
    }, { threshold: 0.1 });

    function checkVisibility() {
    if (visibilityStartTime && (new Date().getTime() – visibilityStartTime >= viewTimeThreshold)) {
    refreshAd();
    if (!refreshInterval) {
    refreshInterval = setInterval(refreshAd, 30000);
    }
    } else {
    requestAnimationFrame(checkVisibility);
    }
    }

    document.addEventListener(“DOMContentLoaded”, function () {
    var adSlot = document.getElementById(“ad-slot”);
    if (!adSlot) {
    console.error(“❌ Elemen #ad-slot tidak ditemukan!”);
    return;
    }
    ads[currentAdIndex]();
    observer.observe(adSlot);
    });

    var mutationObserver = new MutationObserver(function (mutations) {
    mutations.forEach(function (mutation) {
    if (mutation.type === “childList”) {
    visibilityStartTime = new Date().getTime();
    requestAnimationFrame(checkVisibility);
    }
    });
    });

    mutationObserver.observe(document.getElementById(“ad-slot”), { childList: true, subtree: true });

    Trump dan Wakil Presiden JD Vance pada 28 Februari mencaci maki Zelensky dalam sebuah pertemuan yang disiarkan televisi di Gedung Putih. Trump menuduhnya tidak tahu terima kasih atas senjata AS senilai miliaran dolar.

    Trump sejak itu menghadapi kritik keras dari sekutu dan lawan domestik yang mengatakan bahwa ia berpihak pada Rusia, yang menginvasi Ukraina pada tahun 2022.

    Amerika Serikat memberikan suara bersama Rusia dan menentang sekutu Eropa-nya pada resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyerukan diakhirinya perang tanpa menekankan integritas teritorial Ukraina.

    Trump bulan lalu berbicara melalui telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam langkah awal untuk memulihkan hubungan normal dan mencabut sanksi besar-besaran yang dijatuhkan di bawah mantan Presiden Joe Biden atas invasi Ukraina.

  • Trump Kirim Surat ke Pemimpin Tertinggi Iran, Pezeshkian Pilih Patuhi Khamenei Ogah Negosiasi – Halaman all

    Trump Kirim Surat ke Pemimpin Tertinggi Iran, Pezeshkian Pilih Patuhi Khamenei Ogah Negosiasi – Halaman all

    Donald Trump Kirim Surat ke Pemimpin Tertinggi Iran, Pezeshkian Pilih Patuh ke Khamenei

    TRIBUNNEWS.COM – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump kembali membuat manuver mengejutkan terkait sikap dan posisi negaranya dalam konstalasi geopolitik dunia.

    Dalam sebuah pernyataan, Trump menyatakan ia telah mengirim surat kepada Pemimpin Revolusi Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.

    Surat, kata Trump, berisi harapan kalu Iran akan setuju untuk mengadakan perundingan dengan AS terkait nuklir.

    “Trump mengatakan dia ingin merundingkan kesepakatan nuklir dengan Iran dan mengirim surat kepada pimpinan tertinggi Iran pada Kamis yang mengatakan dia berharap mereka akan setuju untuk berunding,” tulis laporan MNA, Jumat (7/3/2025).

    “Saya berharap Anda akan bernegosiasi, karena ini akan jauh lebih baik bagi Iran,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox Business Network yang disiarkan pada hari Jumat.

    “Saya pikir mereka ingin mendapatkan surat itu,” katanya, sambil mengklaim bahwa alternatif lainnya adalah, “Kita harus melakukan sesuatu, karena kita tidak bisa membiarkan senjata nuklir lain.”

    Iran telah berulang kali mengatakan kalau mereka tidak membuat senjata nuklir, dan menekankan bahwa teknologi nuklirnya semata-mata untuk tujuan sipil. 

    Selain itu, ada Fatwa dari Pemimpin Revolusi Iran yang melarang kepemilikan dan penggunaan senjata pemusnah massal.

    Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei (Khamenei.ir)

    Pezeshkian Patuhi Khamenei 

    Sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah mengatakan pada Minggu (2/3/2025) kemarin kalau meskipun ia secara pribadi mendukung negosiasi dengan AS, Teheran tidak akan terlibat dalam pembicaraan dengan Washington selama Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei menentangnya.

    “Saya sendiri percaya bahwa lebih baik berdialog. Kemudian [Pemimpin Tertinggi Khamenei] mengatakan bahwa kami tidak akan berunding dengan Amerika. Setelah itu, saya mengumumkan bahwa kami tidak akan berdialog dengan Amerika,” kata Pezeshkian.

    Sambil menegaskan kembali keyakinannya pada diplomasi, Pezeshkian menegaskan bahwa pemerintahannya akan mengikuti posisi dan sikap Khamenei terkait AS “sampai akhir.”

    Di Iran, pemimpin tertinggi memegang otoritas tertinggi atas urusan negara, termasuk kebijakan luar negeri dan program nuklir.

    Ali Khamenei, 85 tahun, telah memimpin negara tersebut sejak 1989.

    “Ketika pemimpin tertinggi menetapkan arah, kita harus menyesuaikan diri dengannya. Untuk beradaptasi, kita harus mencoba menemukan jalan,” tambah Pezeshkian.

    Wilayah industri di Ibu Kota Iran, Teheran. Iran dilaporkan berencana memindahkan ibu kotanya dari Teheran ke wilayah Selatan negara tersebut. Dilaporkan, wilayah Makran dekat Teluk Oman diproyeksi menjadi lokasi baru ibu kota Iran. Masalah kepadatan dan lingkungan menjadi alasan utama rencana pemindahan ibu kota, namun disebut-sebut Iran juga bersiap menghadapi perang besar melawan Israel. (ATTA KENARE / AFP)

    Ekonomi Iran Jeblok

    Ia menyampaikan pernyataan tersebut dalam proses pemakzulan terhadap Menteri Ekonomi Abdolnaser Hemmati, yang kemudian dicopot oleh parlemen karena inflasi yang melonjak dan mata uang yang anjlok.

    Hemmati kalah dalam pemungutan suara mosi tidak percaya, dengan 182 dari 273 anggota parlemen mendukung pemecatannya.

    Pemakzulan ini terjadi di tengah tekanan ekonomi baru dari AS, dengan Presiden Donald Trump memberlakukan kembali kebijakan “tekanan maksimum” terhadap Iran sambil pada saat yang sama menyerukan negosiasi.

    Namun, bulan lalu, Khamenei menolak perundingan dengan Washington, dengan alasan bahwa perundingan tersebut tidak akan menyelesaikan masalah Iran dan menggambarkan perundingan tersebut sebagai “tidak cerdas maupun terhormat.”

    Membela Hemmati sebelum ia dicopot, Pezeshkian mengatakan kepada para anggota parlemen: “Kita sedang dalam perang (ekonomi) skala penuh dengan musuh… kita harus mengambil formasi perang.”

    Ia juga berpendapat bahwa masalah ekonomi Iran “tidak dapat disalahkan pada satu orang.”

    Pezeshkian, yang menjabat pada bulan Juli, telah berjanji untuk menghidupkan kembali ekonomi dan meringankan sanksi Barat melalui diplomasi.

    Ekonomi Iran terpukul keras oleh sanksi internasional, terutama setelah AS menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 pada tahun 2018 selama masa jabatan pertama Trump.

    Pada tahun 2015, rial Iran diperdagangkan pada harga 32.000 per dolar, tetapi pada saat Masoud Pezeshkian menjabat pada bulan Juli, nilai tukarnya telah jatuh ke harga 584.000 per dolar.

    Baru-baru ini, mata uang Iran tersebut telah jatuh lebih jauh, dengan toko-toko penukaran mata uang di Teheran sekarang memperdagangkan 930.000 rial per dolar.

    Berdasarkan konstitusi Iran, pemecatan Hemmati berlaku segera, dengan penunjukan menteri sementara hingga penggantinya dipilih.

    AS Mau Ganggu Pasokan Minyak Iran dengan Menghentikan Kapal di Laut

    Sebelum mengirimkan surat permintan berunding ke Khamenei, Donald Trump dilaporkan sedang mempertimbangkan rencana untuk menghentikan dan memeriksa kapal tanker minyak Iran di laut berdasarkan perjanjian internasional yang bertujuan untuk melawan penyebaran senjata pemusnah massal, sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan kepada Reuters .

    Trump telah berjanji untuk memulihkan kampanye “tekanan maksimum” untuk mengisolasi Iran dari ekonomi global dan mendorong ekspor minyaknya ke nol, untuk menghentikan negara tersebut memperoleh senjata nuklir.

    Trump menghantam Iran dengan dua gelombang sanksi baru pada minggu-minggu pertama masa jabatan keduanya, yang menargetkan perusahaan-perusahaan dan apa yang disebut armada bayangan kapal tanker minyak tua yang berlayar tanpa asuransi Barat dan mengangkut minyak mentah dari negara-negara yang terkena sanksi.

    Langkah-langkah tersebut sebagian besar sejalan dengan langkah-langkah terbatas yang diterapkan selama pemerintahan mantan Presiden Joe Biden, di mana Iran berhasil meningkatkan ekspor minyak melalui jaringan penyelundupan yang kompleks.

    Para pejabat Trump kini tengah mencari cara bagi negara-negara sekutu untuk menghentikan dan memeriksa kapal-kapal yang berlayar melalui titik-titik kritis seperti Selat Malaka di Asia dan jalur laut lainnya, menurut enam sumber yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena sensitivitas subjek tersebut.

    Hal itu akan menunda pengiriman minyak mentah ke kilang. Hal itu juga dapat menyebabkan pihak-pihak yang terlibat dalam memfasilitasi perdagangan tersebut terkena dampak kerusakan reputasi dan sanksi, kata sumber tersebut.

    “Anda tidak harus menenggelamkan kapal atau menangkap orang untuk memberikan efek yang menakutkan bahwa hal ini tidak sepadan dengan risikonya,” kata salah satu sumber.

    “Keterlambatan pengiriman … menimbulkan ketidakpastian dalam jaringan perdagangan gelap tersebut.”

    Pemerintah sedang mengkaji apakah inspeksi di laut dapat dilakukan di bawah naungan Inisiatif Keamanan Proliferasi yang diluncurkan pada tahun 2003, yang bertujuan untuk mencegah perdagangan senjata pemusnah massal.

    AS mendorong inisiatif tersebut, yang telah ditandatangani oleh lebih dari 100 pemerintah.

    Mekanisme ini dapat memungkinkan pemerintah asing untuk menargetkan pengiriman minyak Iran atas permintaan Washington, salah satu sumber mengatakan, yang secara efektif menunda pengiriman dan memukul rantai pasokan yang diandalkan Teheran untuk mendapatkan pendapatan.

    Dewan Keamanan Nasional, yang merumuskan kebijakan di Gedung Putih, sedang menyelidiki kemungkinan inspeksi di laut, kata dua sumber.

    Tidak jelas apakah Washington telah mendekati penandatangan Prakarsa Keamanan Proliferasi untuk menguji kesediaan mereka untuk bekerja sama dengan proposal tersebut.

    John Bolton, yang merupakan negosiator utama AS untuk inisiatif tersebut saat dibentuk, mengatakan kepada Reuters bahwa “akan sepenuhnya dibenarkan” untuk menggunakan inisiatif tersebut guna memperlambat ekspor minyak Iran. 

    Ia mencatat bahwa penjualan minyak “jelas penting untuk meningkatkan pendapatan bagi pemerintah Iran guna menjalankan kegiatan proliferasi dan dukungannya terhadap terorisme.”

    Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih tidak menanggapi permintaan komentar.

    Kementerian perminyakan dan luar negeri Iran tidak menanggapi permintaan komentar terpisah.

    Iran sebelumnya telah menekankan bahwa mereka tidak akan menyerah pada tekanan dan sanksi yang dijatuhkan oleh Washington.

    Upaya sebelumnya untuk menyita kargo minyak Iran telah memicu pembalasan oleh Iran.

    AS mencoba mencegat setidaknya dua kargo minyak Iran pada tahun 2023, di bawah Biden. Hal ini mendorong Iran untuk menyita kapal-kapal asing – termasuk satu kapal yang disewa oleh Chevron Corp (CVX.N) , yang menyebabkan harga minyak mentah naik.

    Kondisi harga minyak yang rendah saat ini memberi Trump lebih banyak pilihan untuk memblokir aliran minyak Iran, mulai dari sanksi terhadap perusahaan tanker hingga penyitaan kapal, menurut Ben Cahill, seorang analis energi di Pusat Energi dan Sistem Lingkungan di Universitas Texas.

    “Saya pikir jika harga tetap di bawah $75 per barel, Gedung Putih memiliki lebih banyak keleluasaan untuk mempertimbangkan sanksi yang akan memengaruhi pasokan dari Iran dan negara-negara lain. Akan jauh lebih sulit untuk melakukan ini dalam lingkungan harga $92 per barel,” kata Cahill.

     

     

    (oln/mna/memo/*)

  • Astronaut Tak Bisa Pulang Bingung Elon Musk Ngamuk Sendiri

    Astronaut Tak Bisa Pulang Bingung Elon Musk Ngamuk Sendiri

    Jakarta, CNBC Indonesia – Astronaut Sunita “Suni” Williams dan Barry “Butch” Wilmore bingung Elon Musk marah-marah soal peristiwa yang membuat mereka terdampar selama berbulan-bulan di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) karena tak punya pesawat untuk pulang.

    Suni dan Butch sudah berada di ISS sejak 5 Juni 2024 padahal mereka dijadwalkan hanya 2 pekan di orbit. Mereka tak bisa pulang karena pesawat buatan Boeing yang membawa mereka ke ISS dinilai tidak aman untuk perjalanan kembali ke Bumi.

    Elon Musk pekan lalu marah-marah dalam sebuah wawancara televisi soal Suni dan Butch. Musk dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim kedua astronaut tersebut ditinggalkan di luar angkasa oleh pemerintahan Joe Biden.

    “Kami mempercepat kembalinya mereka, yang tertunda terlalu lama. Mereka ditinggalkan di atas sana untuk alasan politik, ini tidak baik,” kata Musk di Fox News.

    Namun dalam konferensi pers dari ISS, Wilmore mengaku bahwa ia dan Williams tak menerima informasi apapun soal tawaran Musk untuk memfasilitasi kepulangan mereka.

    “Apa yang ditawarkan, atau tidak ditawarkan, ditawarkan ke siapa, prosesnya seperti apa, kami tak punya informasi soal itu,” kata Wilmore.

    Bill Nelson, pemimpin NASA di bawah Biden, juga mengaku tak pernah mendengar soal tawaran Musk.

    “Tak pernah disinggung ke saya. Tidak pernah ada pembicaraan atau apapun. Mungkin [Elon Musk] menyatakannya ke orang di level rendah,” katanya.

    Nelson menjelaskan bahwa NASA memutuskan Williams dan Wilmore kembali menggunakan pesawat Crew Dragon buatan SpaceX menggantikan Starliner buatan Boeing. Crew Dragon saat ini berlabuh di ISS. Namun, pesawat itu tidak bisa berangkat ke Bumi sampai pesawat baru SpaceX siap untuk digunakan mengantar 4 astronaut sebagai pengganti kru ISS yang pulang.

    Astronaut pengganti seharusnya berangkat pada Februari. Namun, keberangkatan mereka dari Bum ditunda sebulan karena teknisi harus melakukan beberapa persiapan tambahan. 

    “Kami tidak punya dana untuk menggunakan Dragon tambahan hanya untuk menjemput mereka. Namun, kami punya rotasi [kru] dalam waktu dekat,” kata Nelson kepada Washington Post.

    Ocehan Musk soal Williams dan Wilmore sempat memicu adu tudingan antara dirinya dengan seorang astronaut. Andreas Mogensen, astronaut badan antariksa Eropa dan mantan komandan di ISS, menanggapi komentar Musk dengan ketus di media sosial X.

    “Bohong, kebohongan dari orang yang selalu rewel mengeluh soal kejujuran media,” tulis Mongensen di media sosial X.

    Musk kemudian menganggapi balasan Mogensen dengan bahasa yang kasar.

    “Anda orang terbelakang. SpaceX seharusnya sudah membawa mereka pulang berbulan-bulan lalu. Saya menawarkannya langsung ke pemerintah Biden dan mereka menolak. Ditunda untuk alasan politik. Idiot,” kata Musk lewat akun X miliknya.

    (dem/dem)