Tag: Joe Biden

  • Khawatir Pemilu Rusuh, Negara-negara Bagian AS Tingkatkan Keamanan

    Khawatir Pemilu Rusuh, Negara-negara Bagian AS Tingkatkan Keamanan

    Washington DC

    Sejumlah negara bagian di Amerika Serikat (AS) meningkatkan keamanan dan mengambil langkah pencegahan di tengah kekhawatiran terulangnya kerusuhan mengerikan awal tahun 2021, saat mantan Presiden Donald Trump kalah dari Presiden Joe Biden.

    Otoritas negara bagian Nevada yang menjadi lokasi kota Las Vegas, seperti dilansir Reuters, Selasa (5/11/2024), memasang pagar keamanan yang mengelilingi salah satu gedung yang menjadi lokasi otoritas setempat melakukan penghitungan suara nantinya setelah pemungutan suara digelar pada 5 November.

    Di negara bagian Arizona, seorang sheriff setempat mempersiapkan para deputi dan anggotanya dalam kondisi siaga tinggi untuk mewaspadai potensi aksi kekerasan. Mereka bahkan mengerahkan sejumlah drone dan penembak jitu sebagai langkah antisipasi.

    Tidak hanya itu, gubernur di sebanyak tiga negara bagian AS bahkan menyerukan pasukan Garda Nasional untuk membantu menjaga ketertiban dan perdamaian di wilayah mereka saat pemilu berlangsung.

    Ketegangan tengah menyelimuti AS saat Wakil Presiden Kamala Harris dan Trump bertarung sengit untuk memperebutkan suara rakyat demi menjabat di Gedung Putih sebagai Presiden AS selanjutnya, menggantikan Biden.

    Kekhawatiran mengenai potensi kekerasan politik telah mendorong para pejabat AS untuk mengambil berbagai langkah demi meningkatkan keamanan selama dan setelah Hari Pemilu.

    Langkah peningkatan keamanan banyak dilakukan oleh otoritas negara bagian yang menjadi medan pertempuran dalam menentukan pemenang pilpres AS. Salah satunya Nevada, yang diwarnai unjuk rasa para pendukung Trump usai kekalahan dalam pilpres 2020 lalu.

    Tahun ini, pagar keamanan dipasang mengelilingi area-area yang sebelumnya menjadi lokasi unjuk rasa, termasuk pusat tabulasi suara di Las Vegas.

    Gubernur Nevada Joe Lombardo mengatakan pekan lalu bahwa dirinya telah mengaktifkan “kontingen terbatas”, yang terdiri atas 60 personel Garda Nasional AS untuk memastikan respons tepat waktu terhadap setiap tantangan yang mungkin muncul.

    Lihat Video: Momen Kamala Harris Door to Door Sehari Jelang Pilpres AS

    Di Arizona, pagar keamanan serupa juga dipasang di sekitar pusat tabulasi suara di Maricopa County yang ada di pusat kota Phoenix, yang pada tahun 2020 lalu menjadi titik awal berkobarnya teori konspirasi pemilu dicurangi dan ancaman terhadap para pejabat pemilu.

    Sheriff setempat, Russ Skinner, mengatakan departemennya akan berada dalam kondisi “siaga tinggi” terhadap ancaman dan kekerasan. Dia juga menyatakan telah menginstruksikan para deputinya untuk siap bertugas. “Kami akan memiliki banyak sumber daya di luar sana, banyak staf, banyak peralatan,” ucapnya.

    Dia juga mengatakan bahwa para deputi sheriff akan menggunakan drone untuk memantau aktivitas di sekitar tempat pemungutan suara dan para penembak jitu serta pasukan tambahan bersiaga jika kekerasan terjadi.

    Ditambahkan Skinner bahwa “polarisasi” menjadi lebih intens pada hari-hari setelah pemilu sehingga aparat penegak hukum akan tetap waspada.

    Peningkatan keamanan juga dilakukan di negara bagian Michigan, yang juga negara bagian yang menjadi medan pertempuran para capres AS. Empat tahun lalu, para pendukung Trump menyerbu gedung konvensi di pusat kota Detroit dan menggedor-gedor jendela gedung saat penghitungan suara memasuki hari kedua.

    Tahun ini, rak sepeda berwarna kuning telah dipasang di kedua sisi jalan raya agar orang-orang tidak bisa mendekati gedung. Kemudian para pengunjung gedung juga harus melewati detektor logam, dengan sekitar 15 polisi terus berpatroli di aula besar tersebut.

    Daniel Baxter selaku chief operating officer untuk pemungutan suara absentee dan proyek khusus di Detroit, mengatakan personel kepolisian juga disiagakan di atap gedung dan mengelilingi gedung.

    Langkah-langkah serupa juga terlihat di negara bagian Oregon dan Washington yang mengumumkan telah mengaktifkan Garda Nasional mereka. Sementara itu, di ibu kota Washington DC, beberapa jendela etalase pertokoan dan bangunan lainnya telah dilapisi kayu sebagai antisipasi.

    Profesor sosiologi di Universitas Chapman di California, Peter Simi, yang meneliti ancaman terhadap pejabat publik, menyebut skenario terburuknya adalah Trump kalah dari Harris dan tidak mau mengakui kekalahannya.

    Menurut Simi, bukannya mengulangi insiden penyerbuan Gedung Capitol tahun 2021 oleh para pendukung Trump, konflik yang mungkin terjadi saat ini bisa berupa “peristiwa yang terbesar di berbagai lokasi”, yang akan lebih sulit ditangani para penegak hukum AS.

    Lihat Video: Momen Kamala Harris Door to Door Sehari Jelang Pilpres AS

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Trump Lontarkan Klaim Kecurangan Jelang Pilpres AS

    Trump Lontarkan Klaim Kecurangan Jelang Pilpres AS

    Pittsburgh

    Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump lagi-lagi melontarkan klaim adanya kecurangan menjelang pilpres 5 November. Trump menyebut Partai Demokrat, rival utama Partai Republik yang menaunginya, sebagai “mesin jahat” dan mengklaim negara-negara bagian AS sebagai “agen pemerintah federal”.

    Klaim-klaim itu disampaikan Trump tanpa memberikan bukti yang kuat, sama seperti sebelumnya.

    “Meskipun ini adalah pesta yang besar, kuat, dan kejam. Tidak, ini adalah mesin yang jahat. Maksud saya, mereka bisa menggunakan semua gagasan buruk dan memenangkan pemilu. Itu seperti, hanya ada satu acara agar Anda bisa melakukan itu,” ucap Trump saat berbicara di hadapan pendukungnya di Pittsburgh.

    “Satu cara, hanya ada satu cara. Kita harus menang dengan cara lama dan kemudian memperbaikinya,” cetusnya seperti dilansir CNN, Selasa (5/10/2024).

    “Tapi kita harus memperbaikinya. Kita tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Dan perlu diingat, negara bagian pada dasarnya adalah agen, jika saya bisa menggunakan istilah tersebut, tapi negara bagian adalah agen pemerintah federal,” tuding Trump.

    “Bisa dikatakan, negara bagianlah yang melakukan pengumpulan, dan mereka harus menerima perintah dari pemerintah federal. Dan bagaimana mereka bisa melakukan ini padahal mereka mengatakan itu akan memakan waktu berhari-hari,” sebutnya.

    Trump yang beberapa waktu terakhir selalu melontarkan kebohongan soal hasil pilpres 2020 ketika dirinya kalah dari Presiden AS Joe Biden, mengatakan bahwa: “Itu hal terburuk yang pernah terjadi di negara ini”.

    “Mereka sangat ini membuat kesepakatan dan kemudian kita mendapatkan pemilu yang buruk, hal yang sangat menjijikkan dan paling buruk yang pernah terjadi di negara ini adalah pemilu itu,” ujarnya.

    Dalam pernyataannya, Trump menyebut persaingan dirinya melawan capres Partai Demokrat, Wakil Presiden Kamala Harris, sebenarnya “tidak benar-benar ketat” meskipun jajak pendapat terbaru menunjukkan keduanya bersaing ketat secara nasional.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Jelang Pilpres AS, Kapan Pemenangnya Akan Diketahui?

    Jelang Pilpres AS, Kapan Pemenangnya Akan Diketahui?

    Jakarta

    Warga Amerika Serikat akan menentukan siapa presiden mereka yang baru dalam pemilihan umum yang akan ditutup pada Selasa (5/11) waktu setempat.

    Setelah pemungutan suara ditutup, bisa jadi siapa pemenang Pilpres AS 2024 baru akan diketahui dalam kurun waktu berjam-jam, berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.

    Hal ini akan bergantung pada seberapa ketat kontestasi kali ini.

    Kapan hasil Pilpres 2024 akan diketahui

    Persaingan antara politisi Partai Demokrat Kamala Harris yang saat ini menjabat sebagai wakil presiden dan mantan presiden Donald Trump dari Partai Republik telah berlangsung sengit selama beberapa pekan terakhir.

    Berbagai jajak pendapat skala nasional dan di level ‘swing state’ (negara bagian AS yang menjadi ‘medan tempur’ antara Republik vs Demokrat) menunjukkan hasil yang semakin ketat menjelang 5 November.

    Di beberapa wilayah AS, ada kemungkinan margin kemenangan akan sangat tipis sehingga memerlukan penghitungan ulang.

    Getty ImagesMantan Presiden AS Donald Trump dan Wakil Presiden AS Kamala Harris berdebat untuk pertama kalinya dalam kampanye pemilihan presiden pada 10 September 2024.

    Di sisi lain, di beberapa wilayah seperti Michigan, proses penghitungan suara telah dipercepat.

    Berbeda dengan Pilpres AS sebelumnya yang berlangsung saat pandemi, jumlah kertas suara yang dikirim melalui pos juga lebih sedikit.

    Semua fakta ini memunculkan beberapa kemungkinan: antara pemenang Pilpres AS diumumkan pada malam pemilihan, keesokan paginya, atau bahkan beberapa hari hingga minggu kemudian.

    Kapan hasil Pilpres AS 2020 diumumkan?

    Pilpres AS 2020 berlangsung pada Selasa, tanggal 3 November. Akan tetapi, TV-TV AS baru mengumumkan Joe Biden sebagai pemenangnya pada Sabtu, 7 November, menjelang siang hari.

    Kala itu, para pendukung Trump percaya diri bahwa kemenangan ada di tangan mereka.

    Akan tetapi, kedua kandidat berada dalam jangkauan 270 suara ‘electoral college’ yang dibutuhkan untuk menjadi presiden terpilih.

    Baca juga:

    Walaupun mayoritas negara bagian mengumumkan hasil pemilu mereka dalam kurun waktu 24 jam, tidak demikian halnya bagi beberapa negara bagian yang menjadi ‘kunci’termasuk Pennsylvania dan Nevada.

    Pennsylvania, yang punya 19 suara elektoral, mengindikasikan kemenengan di tangan Partai Demokrat.

    Pada Sabtu pagi, munculnya sejumlah suara baru dari negara bagian itu membuat TV-TV setempat yakin bahwa Biden akan menang di sana.

    CNN adalah yang pertama mengumumkan hasil Pilpres AS 2020. Jaringan TV lainnya mengekor dalam 15 menit berikutnya.

    Kapan hasil Pilpres AS biasanya diumumkan?

    Para pemilih AS umumnya terbiasa mengetahui siapa presiden baru pada larut malam sebelum mereka tidur atau setidaknya pada dini hari keesokan harinya.

    Pada tahun 2016, misalnya, ketika Trump pertama kali memenangkan kursi presiden, dia dinyatakan sebagai pemenang tak lama sebelum pukul 03.00 EST (15.00 WIB) sehari setelah pemilihan.

    Pada 2012, ketika Barack Obama menjadi presiden untuk periode kedua, kemenangannya telah diproyeksikan sebelum tengah malam pada hari pemungutan suara.

    Getty ImagesKetika Barack Obama menjadi presiden untuk periode kedua pada 2012, kemenangannya telah diproyeksikan sebelum tengah malam pada hari pemungutan suara.

    Satu pengecualian adalah Pilpres AS 2000 antara George W Bush dan John Kerry.

    Kedua kubu bersaing sengit di Florida. Pemilihan baru dinyatakan usai pada tanggal 12 Desember ketika Mahkamah Agung AS memutuskan untuk mengakhiri proses penghitungan ulang di negara bagian tersebut.

    Bush pun menjadi pemenang yang sah dan itu mengantarkannya ke Gedung Putih.

    Negara-negara bagian ‘kunci’ mana saja yang perlu diperhatikan?

    Di seluruh penjuru AS, pemilihan pertama akan ditutup pukul 1800 EST pada Selasa (05/11) malam, atau Rabu (05/11) pukul 8 WIB. Sementara yang terakhir akan ditutup pukul 0100 EST (0500 GMT) pada Rabu (06/11), sekitar pukul 13.000 WIB.

    Namun, hasil Pilpres 2024 diperkirakan akan ditentukan tujuh negara bagian ‘swing state’Arizona, Georgia, Michigan, Nevada, North Carolina, Pennsylvania, dan Wisconsin.

    1900 EST (07.00 WIB) – Pemungutan suara ditutup di Georgia dan lima negara bagian lainnya, dan sebagian di tiga negara bagian lainnya. Jaringan TV AS diperkirakan akan mulai melakukan proyeksi pertama mereka pada malam hari, di negara bagian yang kurang kompetitif seperti Kentucky.

    BBC

    BBC News Indonesia hadir di WhatsApp, TikTok, X, Instagram dan Facebook.

    Jadilah yang pertama mendapatkan berita, investigasi dan liputan mendalam dari BBC News Indonesia.

    BBC

    1930 EST (07.30 WIB) – Pemungutan suara ditutup di empat negara bagian, termasuk North Carolina, di mana Harris berharap dapat mengakhiri serangkaian kekalahan bagi kandidat presiden dari Partai Demokrat sejak 2008.

    2000 EST (08.00 WIB) – Pemungutan suara ditutup di Pennsylvania dan 16 negara bagian lainnya, serta sebagian di Michigan dan empat negara bagian lainnya.

    2100 EST (09.00 WIB) – Pemungutan suara yang tersisa ditutup di Michigan. Pemungutan suara juga akan berakhir di Arizona, Wisconsin, dan 12 negara bagian lainnya.

    2200 EST (10.00 WIB) – Pemungutan suara ditutup di Nevada dan dua negara bagian lainnya, dan sebagian di dua negara bagian lainnya.

    Bagaimana proses penghitungan suara Pilpres AS?

    Biasanya pemungutan suara yang berlangsung pada hari-H akan dihitung terlebih dahulu.

    Setelah itu, suara yang diambil sebelum hari-H dan suara via pos akan dihitung kemudian.

    Surat suara yang menjadi sengketa, surat suara dari luar negeri, dan surat suara dari anggota militer juga dihitung kemudian.

    Pejabat pemilu setempatbisa ditunjuk atau dipilihmemverifikasi, memproses, dan menghitung suara individu dalam proses yang dikenal sebagai canvassing.

    BBC

    Proses verifikasi surat suara antara lain termasuk membandingkan jumlah yang dicoblos dengan jumlah pemilih aktif; mengeluarkan, membuka, dan memeriksa setiap surat suara apakah ada sobekan, noda, atau kerusakan lainnya; serta mendokumentasikan dan menginvestigasi setiap ketidakkonsistenan.

    Penghitungan surat suara melibatkan memasukkan tiap surat suara ke dalam pemindai elektronik yang mentabulasikan hasilnya. Dalam beberapa kasus, diperlukan penghitungan manual atau pemeriksaan ulang.

    Setiap negara bagian dan daerah punya aturan ketat dalam menentukan siapa saja yang dapat berpartisipasi dalam canvassing, urutan pemrosesan suara, dan bagian mana yang terbuka untuk umum, termasuk bagaimana para pengamat partisan dapat memantau dan mengintervensi penghitungan suara.

    Apa yang bisa menunda hasil pemilihan presiden?

    Margin yang ketat akan membuat insan media harus menunggu lebih lama sebelum membuat proyeksi.

    Selain itu, margin yang ketat juga bisa berujung penghitungan ulang dan gugatan hukum.

    Di Pennsylvania, misalnya, penghitungan ulang di seluruh negara bagian secara otomatis diberlakukan jika ada perbedaan setengah poin persentase antara perolehan suara untuk pemenang dan pihak yang kalah.

    Pada tahun 2020, selisihnya hanya sedikit lebih dari 1,1 poin persentase.

    Baca juga:

    Lebih dari seratus gugatan prapemilu diajukan di seluruh negeri, termasuk yang mempertanyakan kelayakan pemilih dan manajemen daftar pemilih oleh Partai Republik.

    Putusan pengadilan yang sedang berlangsung dalam kasus-kasus ini telah membentuk pemilihan ini dari hari ke hari.

    Skenario lainnya yang dapat menunda hasil termasuk kejadian kekerasan terkait pemilu, terutama di lokasi pemungutan suara, dan hambatan dalam penghitungan suara, seperti meledaknya pipa air di tempat pemrosesan surat suara di Georgia pada tahun 2020.

    Apa yang terjadi ketika hasil Pilpres AS digugat?

    Setelah setiap suara yang sah dimasukkan ke dalam hasil akhir, dan setelah proses seperti penghitungan ulang selesai, hasil pemilu memperoleh sertifikasi sahpertama-tama di tingkat yurisdiksi lokal, kemudian di tingkat negara bagian.

    Pejabat eksekutif negara bagian, biasanya gubernur, kemudian mengesahkan daftar pemilih yang akan mewakili negara bagian mereka di electoral college.

    Para elektor ini bertemu di negara bagian masing-masing pada 17 Desember untuk memberikan suara dan mengirimkannya ke Washington.

    Pada 6 Januari, Kongres AS yang baru akan mengadakan pertemuan dalam sesi gabungan untuk menghitung suara elektoral. Wakil presiden yang sedang menjabat akan mengetuai penghitungan ini.

    Getty ImagesSeorang pria mengisi surat suaranya dalam pemungutan suara awal untuk pemilihan umum AS di Michigan, pada 3 November 2024.

    Setelah Pilpres 2020, Trump menolak untuk mengakui kekalahan dan menggalang para pendukungnya untuk berbaris di Gedung Kongres AS saat Kongres bertemu untuk mengesahkan kemenangan Biden.

    Trump mendesak wakil presidennya, Mike Pence, untuk menolak hasil tersebuttetapi Pence menolak.

    Bahkan setelah kerusuhan berhasil diatasi dan anggota Kongres berkumpul kembali, 147 anggota Kongres dari Partai Republik tidak berhasil membatalkan kekalahan Trump.

    Reformasi pemilu sejak itu mempersulit anggota parlemen untuk menolak hasil bersertifikat yang dikirimkan kepada mereka dari masing-masing negara bagian.

    Getty ImagesWarga Philadelphia mengantre di sekitar balai kota untuk memberikan suara mereka pada hari terakhir pemungutan suara awal, 29 Oktober 2024.

    Reformasi juga kian memperjelas bahwa wakil presiden tidak memiliki wewenang untuk secara sepihak menolak suara pemilu.

    Namun, para pengamat pemilu memprediksi upaya untuk menunda sertifikasi suara 2024 dapat terjadi di tingkat lokal dan negara bagian, dengan beberapa kelompok bersiap-siap untuk menebarkan keraguan atas hasil pemilu.

    Trump, pasangannya JD Vance, dan para pemimpin tertinggi Partai Republik di Capitol Hill telah beberapa kali menghindar ketika ditanya apakah mereka akan menerima hasil pemilu jika Trump kalah.

    Kapan presiden baru AS akan dilantik?

    Presiden AS terpilih akan dilantik pada hari Senin, 20 Januari 2025 di halaman kompleks US Capitol.

    Ini akan menjadi pelantikan presiden ke-60 dalam sejarah AS.

    Dalam acara ini, presiden yang baru akan menyatakan sumpahnya untuk menegakkan Konstitusi sebelum menyampaikan pidato pelantikan.

    (ita/ita)

  • Aliansi Rusia-Belarusia-China Dinilai Bakal Jadi Penyeimbang Kekuatan Barat – Page 3

    Aliansi Rusia-Belarusia-China Dinilai Bakal Jadi Penyeimbang Kekuatan Barat – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta Guru Besar ilmu Hubungan Internasional dari Universitas St.Petersburg, Connie Bakrie, menyatakan perkembangan keamanan global yang makin menuju pada multipolaritas membutuhkan kekuatan seimbang untuk menciptakan stabilitas.

    “Aliansi Rusia-Belarusia-China mewakili kekuatan yang tangguh untuk stabilitas regional dan keseimbangan kekuatan global,” kata Connie Bakrie dalam keterangannya, Senin (4/11/2024).

    Connie menyatakan pandangannya itu disampaikan juga ketika mengikuti Konferensi Internasional tentang Keamanan Eurasia, yang berlangsung di Minsk, Belarusia, pekan lalu.

    Konferensi Keamanan Eurasia itu digelar selama 2 hari, yaitu 31 Oktober sampai 1 November 2024. Konferensi tersebut dihadiri oleh perwakilan pejabat politik, keamanan, pakar dan juga analis isu pertahanan keamanan dari sekitar 30 negara.

    Tujuan dari digelarnya konferensi tersebut adalah untuk mengadakan diskusi yang lebih intensif mengenai prospek masa depan keamanan di kawasan Eurasia, khususnya dalam konteks perkembangan keamanan global yang dirasa sedang mengalami krisis akibat kontradiksi politik dan militer antar negara-negara kunci dunia. Konferensi ini juga diharapkan bisa menjadi jembatan komunikasi bagi negara-negara tersebut.

    Menurut Connie Bakrie, gabungan kemampuan militer, teknologi canggih, dan posisi strategis dari Rusia, Belarusia, China bisa menciptakan front yang tangguh dan solid serta mampu menantang dominasi Barat.

    “Hubungan yang mendalam dengan wilayah lain di Asia, membentuk kembali dinamika strategis kawasan dan sekitarnya,” kata Connie.

    Lebih lanjut, analis pertahanan militer dan intelijen itu menjelaskan bahwa saat ini ada pergeseran paradigma tatanan dunia, dari corak monosentrisme yang didominasi oleh kekuatan Barat pascaperang dingin, menjadi ke multipolar yang muncul dari kebangkitan China, Rusia, dan negara-negara lain.

    Oleh karena itu, pertanyaan yang harus dijawab adalah bagaimana cara untuk meminimalkan risiko keamanan di tengah transisi tatanan dunia yang semakin intensif tersebut.

    “Bagaimana menghidupkan kembali diplomasi ketika semua pihak fokus pada penguatan militer untuk menciptakan deterrence effect?” katanya.

    Presiden Joe Biden kembali ke Amerika Serikat dari Israel tanpa bertemu dengan para pemimpin Palestina atau Timur Tengah. Dengan konflik Israel-Hamas semakin memanas akibat ledakan di rumah sakit Gaza, kemampuan AS untuk mencegah perang meluas ke kaw…

  • Cawapres AS JD Vance Minta Warga Georgia Menangkan Donald Trump

    Cawapres AS JD Vance Minta Warga Georgia Menangkan Donald Trump

    Jakarta

    Calon Wakil Presiden Donald Trump, JD Vance, mengimbau masyarakat Georgia untuk mengajak teman dan keluarga untuk memberikan suara saat Pemilu AS 2024. Dia meminta mereka untuk memenangkan pasangannya Donald Trump.

    Dilansir CNN, Selasa (5/11/2024), JD Vance sempat berpidato di sebuah rapat umum di Atlanta. Dalam rapat itu, JD Vance mengimbau para pemilih Georgia untuk keluar dan memberikan suara.

    Dia juga sempat mengingatkan terkait kemenangan tipis Presiden Joe Biden atas Donald Trump di sana pada Pemilu 2020 silam.

    “Jadi begini, kita sudah selesai dengan pemungutan suara awal di negara bagian Georgia, jadi besok adalah harinya,” kata Vance.

    Dia juga menambahkan Selasa 5 November merupakan hari untuk memberikan suara demi perubahan, menurunkan harga bahan makanan, perumahan yang lebih terjangkau, menutup perbatasan

    “Besok (Selasa 5 November) adalah hari untuk menjadikan Donald Trump sebagai presiden Amerika Serikat,” ucap dia.

    Pemungutan suara awal di Georgia berakhir pada hari Jumat dan upaya pejabat pemilihan Republik untuk memperlambat gelombang misinformasi pemilu telah terhambat oleh ketidakpercayaan yang mendalam antara mereka dan sesama konservatif.

    “Jadi, inilah permintaan yang akan saya sampaikan kepada setiap orang di sini. Saya ingin setiap dari anda sekali lagi keluar sana dan memilih Donald J. Trump 10 kali,” candanya, mengklaim bahwa kalimat itu akan membuatnya menjadi berita utama karena penipuan pemilih.

    “Cara yang sah untuk memilih 10 kali adalah dengan mengajak teman-teman anda ke tempat pemungutan suara dan pergi sendiri ke tempat pemungutan suara dan mengajak sembilan teman dan keluarga anda untuk pergi bersama anda,” lanjut dia.

    Vance juga mengecam Harris atas kebijakan pemerintahan Biden, menggunakan retorika gelap untuk menggambarkan imigrasi di Georgia, sebelum juga menyerukan persatuan, dengan mengatakan “untuk tidak mengabaikan hubungan keluarga seumur hidup” atau persahabatan “karena orang-orang memilih dengan cara yang salah.”

    Ia menambahkan, “dalam dua hari, kita akan membuang sampah di Washington, DC, dan sampah itu bernama Kamala Harris.”

    (maa/maa)

  • Donald Trump Menang Pilpres AS, Petaka Besar Buat China

    Donald Trump Menang Pilpres AS, Petaka Besar Buat China

    Jakarta, CNBC Indonesia – Jika Donald Trump terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat (AS), China akan menghadapi petaka besar di sektor teknologi. 

    Para eksekutif perusahaan teknologi di China mengatakan, gaya kepemimpinan Trump yang tidak terduga dapat memberikan hukuman lain bagi industri yang kini sudah dikenakan sanksi pembatasan ekspor pada pemerintahan Joe Biden.

    Seperti diketahui, Trump memulai perang dagang China-AS selama masa jabatannya sebagai presiden pada 2017-2021. Trump melarang ekspor teknologi milik perusahaan AS ke China dengan alasan praktik perdagangan yang tidak adil dan keamanan nasional. Belum lagi pengaruh Trump kepada negara sekutu yang membuat mereka ikut memblokir teknologi dari China.

    Dalam survei pemilih, ia imbang dengan saingannya dari Partai Demokrat, Kamala Harris, yang diharapkan para eksekutif dapat melanjutkan kebijakan petahana untuk melakukan perubahan bertahap dan berkala pada kontrol ekspor teknologi. Ketepatan membuat Harris menjadi pilihan utama bagi banyak eksekutif.

    Para analis memberikan gambaran tentang bagaimana sektor teknologi China mengukur masa depan di bawah presiden berikutnya.

    Setengah dari analisis menganggap kemenangan Trump sebagai hal yang negatif dalam jangka pendek, karena kemungkinan yang lebih besar untuk mengintensifkan kontrol ekspor dan sanksi terhadap sektor semikonduktor China.

    Selama masa jabatan Trump sebagai presiden, ia mengenakan tarif pada barang-barang China senilai miliaran dolar dan memberikan sanksi kepada konglomerat termasuk pembuat chip SMIC dan produsen telekomunikasi Huawei.

    “Sebagai pemrakarsa peningkatan komprehensif dalam pengendalian sains dan teknologi China, jika Trump kembali berkuasa industri semikonduktor domestik mungkin akan semakin ditekan,” tulis perusahaan pialang Topsperity Securities yang berbasis di Shanghai, dikutip dari Reuters, Senin (4/11/2024).

    Sementara itu Material Energy Times, mengatakan kebijakan unilateralis Trump mungkin juga akan menghadapi tantangan dan ketidak-kerjasamaan dari komunitas internasional.

    Sementara kebijakan yang akan diwarisi Harris dari Presiden Joe Biden berdampak dalam waktu jangka panjang, terkoordinasi, dan dapat diprediksi. Ini dapat membuat industri lebih stabil tapi lebih lama bagi industri semikonduktor China untuk kembali berdagang normal dengan AS.

    Terlepas dari siapa yang memenangkan pemilihan Presiden AS, sektor teknologi China jauh lebih berfokus pada produksi dalam negeri dan mandiri dibandingkan saat Trump atau Biden menjabat, menurut analis dan tinjauan data Reuters.

    (fab/fab)

  • Kapan, Siapa Kandidatnya dan Bagaimana Sistemnya?

    Kapan, Siapa Kandidatnya dan Bagaimana Sistemnya?

    Jakarta

    Amerika Serikat (AS) akan segera menggelar pemilihan umum (Pemilu). Pemilu ini adalah untuk menentukan siapa yang akan menjadi Presiden AS berikutnya. Pemilihan Presiden (Pilpres AS) ini diselenggarakan setiap empat tahun sekali.

    Berikut ini serba-serbi tentang Pemilu Amerika Serikat 2024:

    Kapan Pemilu di Amerika Serikat 2024?

    Tanggal pemungutan suara untuk Pemilu Amerika Serikat 2024 adalah pada Selasa, 5 November 2024 waktu setempat. Jutaan warga Amerika Serikat yang telah memenuhi syarat sebagai pemilih akan mendatangi tempat pemungutan suara pada tanggal tersebut untuk memilih Presiden mereka berikutnya.

    Nantinya pemenang dalam Pemilu AS 2024 akan menjabat sebagai Presiden AS selama empat tahun di Gedung Putih, mulai Januari 2025. Mengutip dari Al Jazeera, di AS, warga negara harus memenuhi beberapa kriteria kelayakan yang sangat mendasar untuk dapat memilih, yaitu: Warga negara Amerika Serikat, penduduk negara bagian tempat mereka terdaftar untuk memberikan suara, dan sudah berusia 18 tahun atau lebih.

    Siapa Saja Kandidat yang Berpartisipasi?

    Mengutip dari BBC, pada awalnya ada 15 bakal calon Presiden AS, yakni 9 orang dari Partai Republik, 4 orang dari Partai Demokrat, dan 2 orang lainnya dari kubu independen. Namun dari 15 orang tersebut, pada akhirnya hanya tersisa 2 orang kandidat Presiden AS, yaitu Kamala Harris dan Donald Trump.

    Nama Kamala Harris sendiri muncul setelah Presiden Joe Biden mengumumkan pengunduran dirinya dalam persaingan pemilihan Presiden AS. Biden kemudian mendukung Harris untuk menggantikannya sebagai kandidat dari Partai Demokrat. Sementara di Partai Republik, mantan Presiden AS Donald Trump mengungguli pesaing terakhirnya, mantan Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley.

    Kamala Harris dan Donald Trump (Foto: BBC World)Bagaimana Mekanisme Pemilu Amerika?

    Cara memberikan suara dalam Pemilu AS yaitu warga negara AS akan mendatangi tempat pemungutan suara untuk memilih calon Presiden AS dan calon anggota Electoral College (lembaga pemilihan umum AS). Pada akhirnya, jumlah suara anggota Electoral College ini yang menentukan siapa pemenang untuk menjadi Presiden AS.

    Jumlah perwakilan anggota Electoral College untuk setiap negara bagian disesuaikan dengan total populasi di daerah tersebut. Secara keseluruhan, total anggota Electoral College adalah 538 orang. Seorang kandidat presiden harus mendapatkan suara terbanyak, yakni 270 suara atau lebih, untuk memenangkan pemilihan.

    Perlu diketahui, seperti dikutip dari Al Jazeera, bahwa Presiden AS tidak dipilih oleh suara populer nasional, atau jumlah total suara yang diterima setiap kandidat. Melainkan oleh suara terbanyak dari anggota lembaga pemilih atau Electoral College, yakni orang-orang yang akhirnya memberikan suara untuk presiden.

    Jadi untuk memenangkan Pilpres AS, seorang kandidat presiden harus memenangkan dukungan dari mayoritas pemilih. Para pemilih akhirnya memberikan suara mereka pada bulan Desember 2024, sekitar sebulan setelah pemilihan. Suara mereka kemudian disertifikasi oleh Kongres pada awal Januari 2025, ketika Presiden AS dikonfirmasi dan secara resmi menjabat.

    (wia/imk)

  • Bagaimana Nasib Gaza-Ukraina di Tangan Kamala Atau Trump?

    Bagaimana Nasib Gaza-Ukraina di Tangan Kamala Atau Trump?

    Jakarta

    Ketika Presiden Amerika Serikat Joe Biden berkunjung secara mendadak ke Kyiv pada Februari 2023, sirene udara terdengar meraung-raung.

    Kedatangan Biden bertujuan untuk menunjukkan solidaritas untuk Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.

    “Saya merasakan sesuatu lebih kuat dari sebelumnya,” kata Biden.

    “Amerika adalah mercusuar bagi dunia.”

    Dunia kini menantikan siapa yang akan mengambil alih tampuk kepemimpinan di mercusuar itu. Rakyat AS akan menentukan pilihan mereka dalam pemilihan presiden yang digelar pekan depan.

    Akankah Kamala Harris meneruskan jejak Joe Biden? Harris pernah berkata bahwa di “masa-masa yang tidak menentu ini, AS tidak bisa mundur” dari perannya di kancah global.

    Atau akankah Donald Trump yang punya prinsip “Amerikanisme, bukan globalisme” yang akan memimpin?

    Kekuatan-kekuatan regional berjalan dengan caranya sendiri, rezim otokratis membentuk aliansi mereka sendiri.

    Lalu konflik di Gaza dan perang di Ukraina telah membuat peran Washington dipertanyakan.

    Bagaimanapun, AS adalah pemain penting karena kekuatan ekonomi dan militernya, serta perannya dalam banyak aliansi.

    Saya berbincang dengan sejumlah pengamat mengenai bagaimana Pemilu AS akan berdampak terhadap situasi global.

    Kekuatan militer

    “Saya tidak bisa menutup-nutupi peringatan ini,” kata mantan Wakil Sekretaris Jenderal NATO, Rose Gottemoeller.

    “Donald Trump adalah mimpi buruk bagi Eropa, dengan ancamannya untuk menarik diri dari NATO yang terus bergaung.”

    Nilai belanja pertahanan AS setara dua pertiga dari total anggaran militer 31 negara anggota NATO lainnya.

    Kalau dibandingkan dengan negara-negara di luar NATO, AS menghabiskan lebih banyak uang untuk militernya ketimbang 10 negara termasuk China dan Rusia.

    Trump dengan bangganya mengatakan bahwa dia bersikap keras untuk memaksa negara-negara NATO lainnya memenuhi target belanja mereka, setara 2% dari PDB mereka.

    Hanya 23 negara anggota NATO yang mencapai target itu pada 2024. Namun, pernyataan Trump yang tidak menentu masih terasa janggal.

    Gottemoeller yakin “NATO akan berada di tangan Washington yang baik” kalau Harris menang. Akan tetapi, dia juga memberi peringatan.

    “Dia akan siap untuk terus bekerja dengan NATO dan Uni Eropa demi meraih kemenangan di Ukraina, tapi dia tidak akan mundur untuk memberi tekanan [pengeluaran] terhadap Eropa”.

    BBC

    BBC News Indonesia hadir di WhatsApp.

    Jadilah yang pertama mendapatkan berita, investigasi dan liputan mendalam dari BBC News Indonesia, langsung di WhatsApp Anda.

    BBC

    Meski demikian, pemerintahan Harris akan diimbangi dengan Senat atau DPR yang bisa saja dikuasai Partai Republik.

    Partai Republik akan cenderung untuk tidak mendukung perang di negara asing dibandingkan Partai Demokrat.

    Jadi ada semacam kekhawatiran bahwa siapa pun yang terpilih menjadi presiden, tekanan terhadap Ukraina akan meningkat untuk menemukan cara mengakhiri peran. Itu karena parlemen AS akan enggan menyetujui paket bantuan besar.

    Namun apa pun yang terjadi, Gottemoeller menyatakan tak yakin bahwa NATO akan bubar.

    “Eropa perlu melangkah maju untuk memimpin,” tuturnya.

    Pembawa perdamaian?

    Presiden AS berikutnya harus bekerja di tengah risiko terbesar terjadinya konfrontasi kekuatan-kekuatan besar global sejak era Perang Dingin.

    “AS tetap menjadi aktor internasional yang paling berpengaruh soal perdamaian dan keamanan”, kata Presiden dan CEO International Crisis Group, Comfort Ero.

    “Tapi kekuatan AS untuk membantu menyelesaikan konflik berkurang,” tambahnya.

    Perang semakin sulit diakhiri.

    “Konflik yang menimbulkan banyak korban jiwa menjadi semakin sulit diatasi, dengan persaingan kekuatan besar yang semakin cepat dan kekuatan menengah yang meningkat,” tutur Ero.

    Perang seperti di Ukraina melibatkan banyak kekuatan, sedangkan konflik seperti di Sudan mengadu aktor-aktor regional yang bersaing demi kepentingan masing-masing.

    Beberapa pihak lebih memilih berinvestasi dalam perang ketimbang perdamaian.

    Baca juga:

    Warga Palestina duduk di samping api unggun di reruntuhan rumah mereka yang hancur di Khan Younis (BBC)

    Selain itu, Ero berpendapat bahwa standar moral AS juga dipertanyakan.

    “Aktor-aktor global menyadari bahwa AS menerapkan satu standar moral atas tindakan Rusia di Ukraina, tapi juga menerapkan standar berbeda atas tindakan Israel di Gaza,” kata dia.

    “Perang di Sudan sangat mengerikan, tapi dianggap sebagai prioritas kedua,” sambung Ero.

    Kemenangan Harris “merepresentasikan keberlanjutan pemerintahan AS saat ini.”

    Sedangkan jika Trump yang menang, maka dia “mungkin akan memberi Israel keleluasaan yang lebih besar di Gaza dan di tempat lain”.

    Trump juga “mengisyaratkan bahwa dia bisa mencoba agar Ukraina dan Rusia dapat mencapai kesepakatan tanpa mengorbankan Kyiv”.

    Mengenai konflik di Timur Tengah, Harris telah berulang kali mengulangi dukungan tegas Biden soal “hak Israel untuk membela diri.”

    Namun, dia juga menekankan bahwa “pembunuhan warga Palestina yang tidak bersalah harus dihentikan.”

    Sementara itu, Trump juga menyatakan bahwa sudah waktunya untuk “kembali berdamai dan berhenti membunuh orang.”

    Namun di sisi lain, dia juga dilaporkan telah berkata kepada pemimpin Israel Benjamin Netanyahu untuk “melakukan apa yang harus Anda lakukan.”

    Trump menganggap dirinya sebagai pembawa perdamaian.

    “Saya akan mewujudkan perdamaian di Timur Tengah, segera,” janjinya dalam sebuah wawancara dengan TV Al Arabiya milik Arab Saudi pada Minggu malam.

    Dia berjanji akan memperluas Perjanjian Abraham 2020.

    Perjanjian bilateral ini menormalisasi hubungan antara Israel dan beberapa negara Arab, tapi juga dianggap telah mengesampingkan Palestina dan pada akhirnya berkontribusi pada krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya saat ini.

    Kamala Harris telah berjanji akan menjadi sekutu Ukraina (BBC)

    Mengenai Ukraina, Trump tidak pernah menyembunyikan kekagumannya terhadap sosok kuat seperti Presiden Rusia Vladimir Putin.

    Dia telah menegaskan bahwa dia ingin mengakhiri perang di Ukraina, dan dengan itu mengakhiri dukungan militer dan keuangan AS yang besar.

    “Saya akan keluar. Kita harus keluar,” tegasnya dalam kampanye baru-baru ini.

    Sebaliknya, Harris mengatakan, “Saya bangga mendukung Ukraina. Saya akan terus mendukung Ukraina. Saya akan berusaha untuk memastikan Ukraina memenangkan perang ini.”

    Namun, Ero khawatir situasi global akan menjadi lebih buruk siapa pun yang terpilih.

    Bisnis dengan Beijing

    Ketika Trump mengusulkan tarif 60% untuk semua barang impor China, pakar terkemuka China Rana Mitter menyebutnya sebagai “guncangan terbesar bagi perekonomian global dalam beberapa pekan terakhir”.

    Membebankan biaya tinggi pada China dan mitra dagang lainnya telah menjadi salah satu ancaman Trump yang paling konsisten dalam upayanya mengutamakan kepentingan AS.

    Namun, Trump juga memuji hubungan pribadinya yang dia anggap kuat dengan Presiden Xi Jinping.

    Dia mengatakan kepada dewan redaksi Wall Street Journal bahwa dia tidak perlu menggunakan kekuatan militer jika Beijing bergerak untuk memblokade Taiwan karena dia yakin Jinping “menghormati saya dan dia tahu saya gila.”

    Trump dan Harris sama-sama cenderung bersikap agresif.

    Baca juga:

    Keduanya menganggap China punya tekad mengalahkan AS sebagai kekuatan yang paling berpengaruh di dunia.

    Tetapi menurut sejarawan asal Inggris, Mitter, ada sejumlah hal yang membedakan mereka.

    Hubungan AS-China di bawah Harris “kemungkinan akan berkembang secara linier dari posisi saat ini.”

    Kalau Trump yang menang, skenarionya akan lebih cair. Misalnya terkait Taiwan, Mitter menilai ada keraguan Trump soal apakah dia akan membela pulau yang jaraknya jauh dari AS.

    Sementara itu, para pemimpin China disebut meyakini bawa Harris dan Trump sama-sama akan bersikap keras.

    Sebagian kecil yang menyukai stabilitas lebih memilih Harris karena merasa lebih baik menghadapi “musuh yang sudah dikenali”.

    Sebagian kecil lainnya menganggap Trump sebagai pengusaha dengan segala ketidakpastian. Itu bisa jadi berarti akan terjadi tawar-menawar besar dengan China betapapun kecil kemungkinannya itu.

    Krisis iklim

    “Pemilu AS juga sangat penting bagi seluruh dunia karena krisis iklim dan alam yang mendesak,” kata Mary Robinson, mantan Presiden Irlandia sekaligus Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia.

    “Setiap fraksi derajat penting untuk mencegah dampak terburuk perubahan iklim dan mencegah badai dahsyat seperti Milton menjadi hal yang biasa terjadi di masa depan,” sambungnya.

    Namun, saat Badai Milton dan Helene menerjang, Trump justru mencemooh rencana dan kebijakan lingkungan menghadapi darurat iklim.

    Dia menyebutnya sebagai “salah satu penipuan terbesar sepanjang masa”.

    Peringatan suhu panas ekstrem di Death Valley, California (BBC)

    Banyak yang memperkirakan dia akan menarik diri dari perjanjian iklim Paris 2015 untuk memerangi perubahan iklim. Itu pernah dia lakukan pada masa jabatan pertamanya.

    Meski demikian, Robinson yakin Trump tidak akan bisa menghentikan komitmen yang menguat.

    “Dia tidak bisa menghentikan transisi energi AS dan mencabut subsidi hijau senilai miliaran dolar. Dia juga tidak bisa menghentikan gerakan iklim non-federal yang tak kenal lelah.”

    Dia juga mendesak Harris, yang masih belum menegaskan sikapnya untuk maju “menunjukkan kepemimpinan, memanfaatkan momentum beberapa tahun terakhir, dan memacu penghasil emisi utama lainnya untuk mempercepat langkah.”

    Kepemimpinan kemanusiaan

    “Hasil pemilu AS punya makna yang sangat penting karena pengaruh AS yang tidak tertandingi, bukan cuma lewat kekuatan militer dan ekonominya.”

    “Tapi juga potensinya untuk memimpin dengan otoritas moral di panggung global,” kata Martin Griffiths, seorang mediator konflik yang belakangan menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat.

    Menurutnya, ada harapan yang lebih besar kalau Harris menang.

    Sementara terpilihnya Trump akan ditandai oleh “isolasionisme dan unilateralisme, tidak akan banyak membantu selain memperdalam ketidakstabilan global.”

    Namun, dia juga mengkritik pemerintahan Biden-Harris atas “keraguannya” menghadapi situasi yang memburuk di Timur Tengah.

    Para petinggi lembaga-lembaga bantuan kemanusiaan telah berulang kali mengutuk serangan mematikan Hamas pada 7 Oktober terhadap warga sipil Israel.

    Namun, mereka juga berulang kali meminta AS untuk berbuat lebih banyak untuk mengakhiri penderitaan mendalam warga sipil di Gaza dan juga di Lebanon.

    Sebuah papan reklame di Teheran menunjukkan presiden Iran dan pemimpin Garda Revolusi berada di seberang Biden dan Netanyahu (BBC)

    Biden dan pejabat-pejabat di pemerintahannya terus menyerukan agar lebih banyak bantuan mengalir ke Gaza. Ada kalanya itu memang berdampak.

    Akan tetapi, kritikus menilai bantuan dan tekanan semacam itu tidak pernah cukup.

    Beberapa bantuan militer penting dapat dipotong hingga setelah pemilihan umum AS.

    AS adalah donor tunggal terbesar PBB. Pada tahun 2022, AS memberikan bantuan sebesar US$18,1 miliar (sekitar Rp285,1 triliun).

    Namun pada masa jabatan pertama Trump, dia menghentikan pendanaan untuk beberapa badan PBB dan menarik diri dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Donor lainnya pun bergegas mengisi kekosongan yang ditinggalkan AS, dan ini persis dengan apa yang diharapkan Trump.

    Walau demikian, Griffths tetap percaya bahwa Amerika adalah kekuatan yang sangat diperlukan.

    “Di masa konflik dan ketidakpastian global, dunia mendambakan AS untuk bangkit menghadapi tantangan kepemimpinan yang bertanggung jawab dan berprinsip.”

    “Kami menuntut lebih. Kami layak mendapatkan lebih. Dan kami berani berharap lebih,” tuturnya.

    Baca juga:

    (ita/ita)

  • Pemilu AS Makin Dekat, Apa Dampaknya pada Pasar Keuangan?

    Pemilu AS Makin Dekat, Apa Dampaknya pada Pasar Keuangan?

    Jakarta, CNBC Indonesia – Tidak terasa, pemilu presiden AS sudah semakin dekat, para investor pun sedang dalam mode waspada. Ini mengingat, hasil kebijakan ekonomi Kamala Harris dan Donald Trump yang kontras dapat berdampak signifikan terhadap pasar keuangan.

    Dengan keputusan-keputusan penting yang menyangkut tarif pajak, regulasi, kebijakan energi, dan perdagangan, potensi peningkatan volatilitas pasar tergantung pada siapa yang melenggang ke Gedung Putih dan seperti apa keseimbangan kekuatan baru di Kongres AS nantinya.

    Analis Keuangan Octa Broker, Kar Yong Ang membeberkan perbedaan visi ekonomi para kandidat dan kemungkinan skenario untuk reaksi pasar pasca-pemilu, yang menyediakan wawasan penting bagi trader untuk menavigasi lanskap keuangan yang tidak menentu ke depannya.

    Asal tahu saja, kurang dari seminggu menuju pemilu presiden AS, investor dan trader bersiap menghadapi potensi dampaknya pada pasar keuangan. Meskipun kedua kandidat (Kamala Harris dan Donald Trump) menyatakan ingin mencapai tujuan yang sama khususnya menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan basis manufaktur AS, namun pendekatan mereka terhadap kebijakan ekonomi sangatlah berbeda.

    Oleh sebab itu, respon pasar keuangan hampir pasti akan berbeda tergantung siapa yang akhirnya melenggang ke Gedung Putih. Tak hanya itu, penting juga memperhitungkan kemungkinan perubahan dalam dominasi kekuasaan di Capitol Hill, karena 33 dari 100 senator dan seluruh 435 delegasi di DPR juga akan mencalonkan diri kembali pada November ini.

    Foto: Pemilu Amerika Serikat (Dok Ist)

    “Di Octa Broker, kami memutuskan untuk menyampaikan pandangan kami tentang apa yang dapat diharapkan dari pemilu mendatang dan dampak apa yang mungkin terjadi pada pasar keuangan secara umum, juga emas dan dolar AS secara khusus,” ungkap dia dalam keterangan resminya, Minggu (3/11/2024).

    Sebelum memaparkan kemungkinan skenarionya, berikut ini adalah rangkuman visi kebijakan ekonomi Wakil Presiden Kamala Harris, kandidat Partai Demokrat, dan mantan Presiden Donald Trump, kandidat Partai Republik, dan menggarisbawahi perbedaan utama mereka. Perlu diingat, pembahasan ini akan berfokus secara khusus pada kebijakan ekonomi kandidat yang diperkirakan akan memiliki dampak terbesar pada pasar keuangan dan memengaruhi trader rata-rata.

    Dengan demikian, fokus umumnya adalah pada kebijakan pajak, regulasi, kebijakan energi, kebijakan luar negeri, dan tarif. Artikel ini tidak akan membahas detail kebijakan lainnya, seperti hak aborsi, imigrasi, perumahan, dan kebijakan perawatan kesehatan.

    Perbandingan Kandidat

    Kebijakan pajak

    Harris secara umum mendukung pajak yang lebih tinggi, terutama bagi orang kaya. Ia mendukung usulan untuk meningkatkan tarif pajak penghasilan tertinggi menjadi 39,6% (dari 37%) dan memperkenalkan pajak minimum baru sebesar 25% pada individu dengan kekayaan bersih tinggi yang melebihi US$100 juta, termasuk pada keuntungan modal yang belum terealisasi. Ia juga mengusulkan kenaikan pajak keuntungan modal menjadi 28% (dari 20%) dan kenaikan tarif pajak perusahaan menjadi 28%.

    Penurunan pajak merupakan landasan platform ekonomi Donald Trump. Pada dasarnya ia mendukung penurunan pajak karena alasan ideologis, tetapi juga melihatnya sebagai cara untuk mendorong perusahaan manufaktur agar tetap berproduksi di dalam negeri dan tidak melakukan alih daya produksi ke negara lain. Ia berjanji akan menurunkan tarif pajak perusahaan menjadi 15% (dari 21%) untuk perusahaan yang berproduksi di Amerika Serikat. Trump juga ingin memperpanjang semua pemotongan pajak individu yang diterapkan pada tahun 2017, tetapi diproyeksikan akan berakhir pada tahun 2025.

    Regulasi
    Harris bukanlah pelopor deregulasi. Ia menginginkan pengawasan yang lebih ketat pada industri perbankan dan kemungkinan akan mendukung persyaratan modal baru untuk bank-bank besar. Selain itu, Harris berjanji akan menerapkan ‘larangan pertama kalinya untuk peningkatan harga yang tidak wajar pada pangan dan bahan makanan’. Meskipun Harris memulai karier politiknya di Silicon Valley, ia kini menyerukan peraturan untuk mengatasi bahaya Artificial Intelligence (AI) dan menambah aturan privasi data. Ia tampak mendukung terciptanya pendekatan federal terhadap tata kelola AI.

    Karena alasan ideologis, Trump meyakini regulasi yang lebih ramping dan ingin memangkas birokrasi di bidang AI dan kripto. Partai Republik secara umum berjanji membela hak warga Amerika untuk menambang Bitcoin (BTC) dan mengelola aset digital secara mandiri. Selain itu, mereka menjanjikan kebebasan transaksi digital dari pengawasan dan kontrol pemerintah. Mereka juga berencana membatalkan perintah eksekutif Presiden Biden tentang AI, yang mereka yakini menghambat inovasi.

    Kebijakan energi

    Harris dipandang sebagai pendukung setia energi bersih dan terbarukan. Sebelumnya ia mengadvokasi ‘biaya polusi iklim’ dan mengusulkan penghapusan subsidi federal untuk bahan bakar fosil. Namun, ia telah berulang kali menyatakan tidak mendukung pelarangan rekahan hidraulik dan tetap mendukung ekstraksi minyak dan gas.

    Trump telah berjanji untuk membantu industri minyak dan gas dengan menyetujui jaringan pipa baru serta mengizinkan kembali perekahan hidraulik di tanah federal. Secara umum, Trump bukan merupakan penggemar berat energi terbarukan dan telah mengatakan bahwa ia akan mempertimbangkan penghentian keringanan pajak untuk pembelian kendaraan listrik.
    Kebijakan luar negeri

    Harris sejalan dengan presiden saat ini, Joe Biden. Ia mengatakan bahwa Amerika Serikat akan mendukung Ukraina ‘selama diperlukan’ dan menyerukan solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina. Harris mendukung kerja sama militer di dalam NATO dan memilih bekerja sama dengan Tiongkok dalam menghadapi tantangan internasional utama.

    Trump mempertahankan pendekatan yang cukup agresif terhadap Tiongkok. Ia menganggap Tiongkok sebagai pesaing strategis dan ingin mengurangi defisit perdagangan bilateral Amerika Serikat yang besar dengan negara tersebut. Trump adalah pendukung setia Israel dan telah mengambil sikap bermusuhan terhadap Iran. Dia berkeinginan menjadi perantara kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina dan sangat tidak mungkin melanjutkan pemberian bantuan militer untuk Ukraina.

    Perdagangan

    Harris mengatakan bahwa pakta perdagangan harus mencakup ketentuan yang melindungi pekerja Amerika dan lingkungan. Ia bukan penggemar tarif baru, tetapi menyarankan bahwa Amerika Serikat harus mengurangi ketergantungan pada perdagangan dengan Tiongkok.
    Trump condong ke arah proteksionisme. Ia secara tegas berjanji untuk ‘menghentikan alih daya produksi dan mengubah Amerika Serikat menjadi negara adikuasa manufaktur’. Ia telah menguraikan rencana untuk tarif luas sebesar 10% hingga 20% untuk hampir semua impor dan tarif sebesar 60% atau lebih untuk barang-barang yang berasal dari Tiongkok. Trump secara terbuka mengatakan bahwa ia akan merundingkan ulang kesepakatan perdagangan bebas Amerika Utara.

    “Ketika Anda bangun pada tanggal 6 November untuk mengecek hasil pemilu presiden AS, ada dua hal yang perlu diingat. Pertama, penting untuk disadari bahwa kemenangan kandidat yang mana pun akan sangat menentukan. Kedua, sangat penting juga untuk memastikan komposisi baru Badan Legislatif,” ujar Kar Yong Ang.

    Menurutnya, jika Harris atau Trump memenangkan suara nasional dengan mayoritas tipis atau Electoral College memberi hasil yang beragam dan tidak pasti, investor mungkin akan merasa gelisah dan volatilitas pasar akan meningkat.

    “Hasil yang bertentangan tidak baik untuk pasar, karena dapat memicu perselisihan di antara pihak-pihak dan menunda keputusan ekonomi penting dalam skenario terbaik dan menyebabkan keresahan sosial serta kekerasan dalam skenario terburuk,” imbuhnya.

    Dia melanjutkan, komposisi DPR dan Senat sama pentingnya karena keduanya akan sangat menentukan keseimbangan kekuasaan dan arah undang-undang.

    Menurut simulasi ABC News, Partai Republik memenangi kendali Senat sebanyak 88 kali dari 100, yang berarti sangat tidak mungkin Partai Demokrat dapat menguasai majelis tinggi Kongres AS. Namun, jika menyangkut DPR, peluangnya adalah 50/50. Jadi, tampaknya masuk akal bila disimpulkan bahwa hanya ada empat skenario potensial dalam pemilu ini (lihat tabel di bawah).

    Skenario 1 dan 2

    Skenario 1 dan 2 mengasumsikan bahwa Kamala Harris yang menjadi Presiden Amerika Serikat berikutnya, tetapi kekuasaan eksekutifnya sangat terbatas atau terbatas sebagian. Apabila Partai Republik menguasai DPR dan Senat, inisiatif kebijakan Harris akan diblokir atau diubah secara substansial.

    Secara keseluruhan, masa jabatan presiden Harris yang berhadapan dengan Kongres yang bermusuhan akan menciptakan lingkungan politik yang tidak stabil dan tidak dapat diprediksi, hal yang tidak disukai para investor. Akibatnya, kinerja ekonomi akan buruk, saham akan turun, dan dolar akan melemah.

    “Pemerintah yang dilumpuhkan oleh disfungsi dan kebuntuan adalah skenario terburuk bagi ekonomi AS secara umum dan dolar AS secara khusus.’Kemungkinan kelumpuhan pemerintah dalam jangka panjang sangat tinggi dalam skenario ini. Pasar saham AS pasti akan terpukul,” kata dia.

    Inisiatif progresif Harris mengenai iklim dan lingkungan jelas akan terhambat, sementara kebijakan fiskal dan ekonomi akan menjadi pokok pertikaian utama, yang akan berujung pada kebuntuan besar dalam anggaran. Pada saat yang sama, masa kepresidenan Harris dapat mengakibatkan penurunan belanja pemerintah, yang akan berdampak pada deflasi, sehingga memicu Federal Reserve (Fed) untuk terus menurunkan suku bunga. Namun, itu juga akan berdampak negatif terhadap dolar AS dalam jangka panjang.

    Sebaliknya, pelemahan greenback mungkin berdampak positif pada komoditas, terutama emas, karena harganya akan lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lainnya. Faktor bullish lain untuk komoditas secara umum dan emas, khususnya, adalah bahwa konflik di Eropa Timur kemungkinan akan berlarut-larut di bawah pemerintahan Harris, mengingat ia lebih mendukung penyediaan senjata daripada mendorong kesepakatan damai.

    “Secara keseluruhan, saya rasa masa kepresidenan Harris akan disambut dengan reaksi bearish di pasar ekuitas AS, terutama di sektor energi. Perusahaan yang berfokus pada energi terbarukan mungkin berkinerja lebih baik, tetapi tetap akan menurun dalam jangka panjang karena Harris akan kesulitan mendorong agenda lingkungannya. Dolar AS hampir pasti akan sell-off, sementara euro dan yuan Tiongkok akan menguat,” jelasnya.

    Skenario 3 dan 4

    Skenario 3 dan 4 mengasumsikan bahwa Donald Trump yang menjadi Presiden Amerika Serikat, tetapi kekuasaan eksekutifnya akan dibatasi sebagian oleh DPR yang didominasi Demokrat atau, alternatifnya, ia berhasil meraih kemenangan besar dengan Partai Republik mengambil alih kendali penuh atas kedua dewan Kongres.

    Dalam kasus ini, investor kemungkinan akan bersorak (setidaknya dalam jangka pendek) karena Trump berjanji memangkas birokrasi dan menurunkan pajak. Indeks saham akan meningkat, dan dolar dapat menguat. Namun, tetap akan ada risiko jangka panjang yang terkait dengan kebijakan perdagangan Trump.

    “Ketakutan atas keberlanjutan utang AS tentu akan meningkat di bawah kepemimpinan Trump. Ia akan memperpanjang sekaligus memperbesar pemotongan pajak, yang pada dasarnya akan mengakibatkan pelonggaran kebijakan fiskal, dan pada akhirnya akan memaksa Fed untuk bersikap hawkish,” ungkap dia.

    Dia menambahkan, kemenangan telak Partai Republik tentunya merupakan skenario yang paling menguntungkan bagi dolar AS dalam jangka menengah. Pemotongan pajak yang bersifat inflasi akan meningkatkan perekonomian dan berpotensi memaksa Fed untuk menghentikan kampanye pemotongan suku bunga, yang akan mendukung dolar AS versus mata uang lainnya.

    Akan tetapi, defisit AS yang sangat besar kemungkinan akan terus meluas. Reuters memperkirakan bahwa rencana pemotongan pajak Donald Trump akan menambah sekitar $3,6 triliun hingga $6,6 triliun pada defisit federal selama satu dekade.

    Di satu sisi, pemotongan pajak dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi AS, yang seharusnya mendukung harga minyak, terutama mengingat Trump kemungkinan akan memberlakukan sanksi yang lebih ketat terhadap Iran.

    Di sisi lain, produksi minyak mentah dan gas alam AS dapat meningkat karena pemerintahan Trump kemungkinan akan mendukung perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam produksi bahan bakar fosil.

    Kebijakan perdagangan diperkirakan tidak akan menjadi prioritas utama Trump, tetapi ia mungkin tetap memberlakukan tarif baru pada tahun 2025-2026. Pertama dan terutama, ini akan berdampak negatif pada Tiongkok dan mata uangnya, yuan.

    Pada saat yang sama, kemenangan Trump akan menjadi faktor pendorong utama bagi industri kripto secara umum dan mata uang digital secara khusus. Ia tidak merahasiakan dukungannya terhadap kripto dan bahkan menganjurkan pembentukan cadangan Bitcoin nasional.

    Secara keseluruhan, Yong merasa masa kepresidenan Trump akan disambut dengan reaksi bullish di pasar ekuitas AS, terutama di sektor energi, dan khususnya dalam hasil kemenangan telak. Perusahaan yang berfokus pada energi terbarukan akan berkinerja buruk, bitcoin akan menguat, sementara euro dan yuan Tiongkok akan jatuh.

    “Namun, sebagian dari pasar telah memperhitungkan kemenangan Trump. Oleh karena itu, dalam skenario klasik ‘beli rumor, jual berita’, harga aset yang baru saja saya sebutkan di atas mungkin benar-benar turun segera setelah pemilu, tetapi kemungkinan akan tetap didukung pada tahun 2025,” tandas dia.

    (rah/rah)

  • AS-Rusia di Ambang Perang

    AS-Rusia di Ambang Perang

    Jakarta

    Amerika Serikat (AS) dan Rusia kini diambang perang. Dua negara itu kini sangat dekat untuk terlibat dalam konflik militer langsung.

    Pernyataan mengenai suasana panas dua negara ini dilontarkan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov. Sergey mengucapkan itu ketika diwawancara oleh media Turki.

    Laporan wawancaranya pun diterbitkan pada Jumat (1/11) kemarin. Sergey mengatakan bahwa Rusia dan AS sedang di ambang konflik militer.

    “Di bawah presiden saat ini (Joe Biden), yang telah membawa lingkaran Russophobia (sentimen anti-Rusia) di AS ke kesimpulan logisnya, negara-negara kami berada di ambang konflik militer langsung,” katanya kepada harian Hurriyet, tanpa merinci lebih lanjut, dilansir AFP dan Al Arabiya, Sabtu (2/11/2024).

    Lavrov juga menegaskan konflik di Timur Tengah hanya dapat diselesaikan dengan menghentikan kekerasan dan menciptakan kondisi untuk pembentukan negara Palestina yang merdeka. “Tidak akan ada pemenang dalam perang yang sedang berlangsung,” ujarnya.

    Pilpres AS Tak Akan Banyak Pengaruh

    Menurutnya, Pilpres AS yang akan berlangsung minggu depan juga tidak akan terlalu berpengaruh. Menurutnya, apapun hasil Pilpres juga tidak akan mengubah apapun.

    “Siapa pun yang memenangkan pemilihan, kami tidak berpikir kecenderungan anti-Rusia Amerika Serikat dapat berubah,” imbuhnya.

    Meskipun Trump sebelumnya telah menyatakan dengan jelas bahwa ia menyukai Presiden Rusia Vladimir Putin, kedua pria itu tidak dekat dan telah mempertahankan hubungan yang sengaja dibuat ambigu.

    Pekan lalu, Putin mengatakan hubungannya dengan Washington akan bergantung pada sikap yang diambil setelah pemilihan presiden. Putin juga menyambut baik pernyataan Trump tentang keinginannya untuk mengakhiri konflik Ukraina sebagai pernyataan yang “tulus”.

    (zap/ygs)