Wiranto Ungkap Sikap Prabowo soal Usulan Copot Gibran
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com
– Penasihat Khusus Presiden Bidang Politik dan Keamanan,
Wiranto
, menyampaikan sikap Presiden
Prabowo Subianto
terkait tuntutan
Forum Purnawirawan TNI-Polri
yang meminta Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI mengganti Wakil Presiden
Gibran Rakabuming Raka
.
Menurut Wiranto, Presiden Prabowo menghormati aspirasi yang disampaikan forum purnawirawan tersebut.
Namun, sebagai Kepala Negara dan pemerintahan, Prabowo memahami batasan kewenangan dalam sistem pemerintahan yang menganut prinsip trias politika.
“Yang pertama, kan beliau perlu pelajari dulu isi dari
statement
itu, isi dari usulan-usulan itu. Dipelajari satu per satu, karena itu masalah-masalah yang tidak ringan, masalah yang sangat fundamental,” kata Wiranto, dalam konferensi pers usai bertemu Presiden Prabowo, di Kantor Presiden, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (24/4/2025).
“Namun, tentunya presiden, sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, mempunyai kekuasaan yang tidak tak terbatas, ya. Artinya, kekuasaan beliau, kekuasaannya terbatas juga. Dalam negara yang menganut trias politika, ada pemisahan antara eksekutif, legislatif, dan yudikatif, tidak bisa saling mencampuri di situ,” imbuh dia.
Selain pencopotan Gibran, forum tersebut juga mengusulkan
reshuffle
kabinet terhadap menteri-menteri yang diduga terlibat korupsi, serta meminta ketegasan terhadap aparat negara yang dianggap masih memiliki loyalitas kepada Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Menanggapi hal tersebut, Wiranto menekankan bahwa keputusan dalam pemerintahan tidak diambil hanya berdasarkan satu sumber informasi.
Wiranto menyatakan bahwa tuntutan tersebut bukan bidang Presiden Prabowo untuk menanggapi.
“Harus banyak sumber-sumber lain yang beliau dengarkan. Juga beliau memberi keputusan bukan hanya fokus kepada satu bidang, banyak bidang-bidang lain yang harus dipertimbangkan presiden sebelum mengambil keputusan,” ujar dia.
Iya menyebut bahwa Prabowo paham bahwa akan selalu ada pro dan kontra di lingkup masyarakat, yang menurut dia merupakan hal yang wajar.
Namun, ia berharap, jangan sampai perbedaan itu mengeruhkan suasana, di saat negara sedang menghadapi banyak tantangan.
“Iya (termasuk soal Gibran). Kan ada kan delapan poin itu, kan sudah beredar di medsos ya. Sudah banyak berita yang muncul. Maka, inilah ya sikap presiden, bukan mengacaukan, tapi tetap menghargai,” ujar Wiranto.
Dikutip dari Tribunnews, beredar deklarasi Forum Purnawirawan Prajurit TNI yang berisi delapan poin.
Pernyataan sikap ini ditandatangani oleh 103 purnawirawan jenderal, 73 laksamana, 65 marsekal, dan 91 kolonel.
Beberapa yang menandatangani surat pernyataan itu adalah Wakil Panglima TNI periode 1999-2000 Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi hingga Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) periode 1988-1993 Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno.
Berikut ini 8 poin isi pernyataan tersebut:
1. Kembali ke UUD 1945 asli sebagai tata hukum politik dan tata tertib pemerintahan.
2. Mendukung program kerja Kabinet Merah Putih yang dikenal sebagai Asta Cita, kecuali untuk kelanjutan pembangunan IKN.
3. Menghentikan PSN PIK 2, PSN Rempang, dan kasus-kasus yang serupa dikarenakan sangat merugikan dan menindas masyarakat serta berdampak pada kerusakan lingkungan.
4. Menghentikan tenaga kerja asing China yang masuk ke wilayah NKRI dan mengembalikan tenaga kerja China ke negara asalnya.
5. Pemerintah wajib melakukan penertiban pengelolaan pertambangan yang tidak sesuai dengan aturan dan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 Ayat 2 dan Ayat 3.
6. Melakukan
reshuffle
kepada para menteri yang sangat diduga telah melakukan kejahatan korupsi dan mengambil tindakan tegas kepada para pejabat dan aparat negara yang masih terikat dengan kepentingan mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
7. Mengembalikan Polri pada fungsi Kamtibmas (keamanan dan ketertiban masyarakat) di bawah Kemendagri.
8. Mengusulkan pergantian Wakil Presiden kepada MPR karena keputusan MK terhadap Pasal 169 Huruf Q Undang-Undang Pemilu telah melanggar hukum acara MK dan Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Tag: Fachrul Razi
-
/data/photo/2025/04/24/680a21c7bfa5b.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
4 Wiranto Ungkap Sikap Prabowo soal Usulan Copot Gibran Nasional
-

Hari Bumi 2025, Menag: Pohon Matoa dari Papua Indonesia untuk Dunia
Jakarta, Beritasatu.com – Menteri Agama Nasaruddin Umar memimpin langsung Gerakan Tanam Sejuta Pohon yang digelar secara nasional dalam momentum peringatan Hari Bumi 2025.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi aksi nyata terhadap isu lingkungan hidup, tetapi juga menjadi bentuk kontribusi spiritual dan ekologis Indonesia kepada dunia, melalui pendekatan nilai-nilai keagamaan dan budaya lokal. Salah satu hal yang menarik perhatian adalah pemilihan pohon matoa khas Papua sebagai simbol dalam gerakan ini.
“Pohon matoa adalah tanaman khas Papua yang tumbuh dengan cepat, tahan terhadap berbagai cuaca, dan buahnya bisa dinikmati oleh siapa saja. Ini simbol dari Indonesia, simbol dari kesatuan, keragaman, dan kepedulian terhadap alam. Kita ingin menjadikan matoa sebagai persembahan dari Indonesia untuk dunia,” ujar Nasaruddin Umar, Selasa (22/4/2025).
Gerakan Tanam Sejuta Pohon yang dilaksanakan serentak dari Sabang sampai Merauke ini menjadi tonggak penting dalam menunjukkan bahwa Indonesia tidak tinggal diam dalam menghadapi krisis iklim global. Indonesia dengan hutan tropisnya yang luas memiliki kapasitas sebagai “paru-paru dunia”.
Sayangnya, dalam dua dekade terakhir, kerusakan lingkungan yang ditandai oleh deforestasi, kebakaran hutan, dan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, turut memperburuk kondisi iklim dunia.
Kementerian Agama, melalui gerakan ini, menunjukkan peran strategisnya dalam menyelaraskan nilai-nilai keagamaan dengan praktik ekologi yang berkelanjutan. Ekologi Islam, sebagai salah satu nilai utama yang diusung, mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan alam sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual manusia. Dalam Islam, bumi bukanlah milik mutlak manusia, melainkan amanah dari Sang Pencipta yang harus dijaga dan dilestarikan.
“Semua agama pada dasarnya mengajarkan kita untuk tidak merusak bumi, bahkan menganjurkan kita menjadi penjaga bagi alam. Maka, sangat penting bagi para tokoh agama untuk memberikan keteladanan dalam pelestarian lingkungan,” lanjut Menag dalam gerakan yang dilakukan pada Hari Bumi 2025 ini.
Pemilihan pohon matoa dalam gerakan ini bukan hanya simbol keberagaman hayati Nusantara, tetapi juga representasi dari perhatian negara terhadap wilayah Indonesia Timur, yang kerap kali terpinggirkan dalam narasi pembangunan nasional. Dengan menjadikan pohon matoa sebagai ikon, Indonesia seolah menyampaikan pesan kepada dunia bahwa solusi krisis iklim tidak hanya datang dari teknologi tinggi atau kebijakan internasional, tetapi juga dari kearifan lokal yang selama ini hidup berdampingan dengan alam.
Kegiatan penanaman pohon juga melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh lintas agama, santri, pelajar, hingga organisasi keagamaan di seluruh penjuru Tanah Air. Sinergi ini menjadi bukti bahwa pelestarian alam adalah tanggung jawab bersama.
Dari Aceh hingga Papua, umat beragama diajak untuk menanam, merawat, dan melestarikan bumi sebagai bentuk ibadah ekologis.
Lebih jauh, gerakan ini menjadi bagian dari diplomasi lingkungan hidup Indonesia. Dengan menanam pohon matoa dan menyebarkannya ke berbagai belahan dunia, Indonesia mengajak negara-negara lain untuk mengenali nilai-nilai ekologis berbasis budaya lokal. Pohon matoa bisa menjadi duta hijau Indonesia, sebagaimana bambu milik Cina atau sakura milik Jepang.
Menteri Agama juga menyampaikan bahwa gerakan ini akan menjadi program berkelanjutan dan tidak berhenti di peringatan Hari Bumi 2025 saja. Kemenag berkomitmen menjadikan ekologi sebagai bagian dari kurikulum pendidikan agama, khutbah keagamaan, dan pesan-pesan dakwah di berbagai lini.
Dengan demikian, kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan akan tumbuh sejak dini dan menjadi karakter hidup beragama yang menyatu dengan alam.
“Ini bukan sekadar menanam pohon, tetapi menanam harapan, menanam kesadaran, dan menanam nilai-nilai spiritual bahwa merawat bumi adalah bagian dari iman,” tegas Menag Nasaruddin Umar terkait peringatan Hari Bumi 2025.
-

Vesakha Sananda 2569 BE: Kegiatan Menyambut Waisak 2025
Jakarta –
Dalam rangka menyambut peringatan Hari Raya Suci Waisak 2569 BE (Buddhist Era), Direktorat Jenderal (Ditjen) Bimbingan Masyarakat (Bimas) Buddha mengimbau untuk melaksanakan kegiatan bermakna melalui Vesākha Sānanda. Apa itu?
Imbauan tersebut sebagaimana termuat dalam Surat Edaran (SE) Ditjen Bimas Buddha Nomor 67 Tahun 2025 tentang Vesākha Sānanda 2569 BE/Tahun 2025.
Apa Itu Vesakha Sananda?
Mengutip dari Ditjen Bimas Buddha, Vesākha Sānanda adalah momentum rangkaian kegiatan menyambut Hari Raya Suci Waisak, dan sebagai bentuk menyemarakkan Waisak secara nasional, dalam praktik Dhamma secara nyata.
Kegiatan Vesakha Sananda merupakan bentuk nyata implementasi dari asta program prioritas Menteri Agama (Menag RI). Hal ini penting, sebagai bentuk upaya pelestarian alam yang merupakan bagian dari praktik spiritual umat Buddha.
Kegiatan Vesakha Sananda 2025
Dengan semangat tema Waisak 2025, yaitu “Tingkatkan Pengendalian Diri dan Kebijaksanaan Mewujudkan Perdamaian Dunia,” maka rangkaian kegiatan Vesakha Sananda diharapkan dapat menjadi ruang internalisasi nilai-nilai Dhamma dalam kehidupan sehari-hari umat Buddha di Indonesia.
Kegiatan Vesakha Sananda meliputi berbagai aktivitas spiritual, sosial, dan eco-theology.
1. Kegiatan Sebulan Pendalaman Dhamma
Dalam sebulan penuh menuju Waisak, umat Buddha memperdalam Dhamma melalui berbagai praktik spiritual. Kegiatan ini, meliputi:
Pembacaan Paritta di Vihara, Cetiya, dan KampusPembacaan DhammapadaGerakan Vikāla BhojanaGerakan Atthasila di hari UposathaDhamma Talk2. Kegiatan “Eco-Theology”
Konsep “Eco-Theology” mengajarkan bahwa menjaga bumi bukan sekadar upaya ilmiah atau kebijakan negara, tetapi juga merupakan bagian dari spiritualitas dan ibadah kita kepada Tuhan. Kegiatan ini, meliputi:
Penanaman pohon (diutamakan Pohon Matoa atau Pohon Kesadaran dan Pohon Bodhi/Ficus Religiosa)Gerakan eco enzyme dan pemilahan sampahFangsheng atau pelepasan makhluk hidupMembersihkan rumah ibadah agama BuddhaMenghias sekolah, rumah ibadah, kantor atau sekretariat dengan atribut keagamaan3. Kegiatan SosialDonor darah dan/atau pengobatan gratisKarya bhakti membersihkan Taman Makam Pahlawan4. Perjalanan Spiritual Thudong
Dalam rangkaian kegiatan Vesākha Sānanda, perjalanan spiritual Thudong menjadi salah satu simbol praktik kesederhanaan dan keteguhan batin. Para Bhikkhu berjalan kaki menempuh jarak yang jauh menuju Candi Borobudur, sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai luhur Dhamma. Perjalanan ini bukan hanya fisik, tapi juga batiniah, yakni mengajarkan ketekunan, kesabaran, dan pengendalian diri di tengah berbagai tantangan.
5. Perayaan Tri Suci Waisak 2569 BE / 2025
Puncak rangkaian Vesākha Sānanda 2569 BE, ditandai dengan pelaksanaan Puja Bhakti Hari Raya Tri Suci Waisak secara serentak pada tanggal 12 Mei 2025 di vihara, cetiya, sekolah, dan/atau Candi Buddhis secara khidmat. Selain itu juga akan diselenggarakan Saṁnipāta Waisak sebagai bagian dari perayaan spiritual umat Buddha.
(wia/imk)
Hoegeng Awards 2025
Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini
-

Materi Ujian UM-PTKIN 2025: Penalaran Akademik dan Matematika, Literasi Membaca serta Ajaran Islam – Halaman all
TRIBUNNEWS.COM – Pendaftaran Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) resmi dibuka pada Selasa (22/4/3035) pukul 8.00 WIB.
Proses pendaftaran dilakukan secara online melalui laman https://um.ptkin.ac.id hingga 28 Mei 2025.
Bagi peserta yang belum memiliki akun SPAN-PTKIN 2025, klik tombol “DAFTAR”.
Adapun biaya pendaftaran sebesar Rp200.000 (Dua Ratus Ribu Rupiah), belum termasuk biaya tambahan jika transaksi menggunakan bank selain Bank Mandiri.
Diketahui, UM-PTKIN diselenggarakan dalam satu sistem yang terpadu secara serentak oleh Panitia Pelaksana yang ditetapkan oleh Menteri Agama Republik Indonesia.
Pada tahun 2025 UM-PTKIN diselenggarakan secara luring di PTKIN Titik Lokasi Ujian yang dipilih oleh peserta dan menggunakan aplikasi Sistem Seleksi Elektronik (SSE).
SSE adalah aplikasi ujian yang menggunakan komputer (PC/Laptop).
Melalui SSE, pelaksanaan ujian tidak lagi menggunakan kertas (paperless), baik untuk naskah soal maupun lembar jawaban.
Pelaksanaan Ujian SSE UM-PTKIN dijadwalkan pada tanggal 10-12 Juni 2025 dan 14-18 Juni 2025.
Sebagai persiapan, berikut ini materi-materi untuk menghadapi ujian SSE UM-PTKIN tersebut.
Materi Ujian Tes UM-PTKIN 2025
1. Penalaran Akademik (PA) mengukur kemampuan potensi calon mahasiswa yang dapat menghantarkan penyelesaian dan keberhasilan studi di jenjang strata satu. TPA terdiri atas:
Penalaran Verbal berupa kemampuan pemahaman berbahasa secara tertulis dan ketrampilan bahasa yang berdasarkan struktur dan aturan bahasa baik dalam kata, kalimat, maupun narasi;
Penalaran Gambar berupa kemampuan dalam menvisualisasikan dan memahami objek atau simbol secara abstrak. Penalaran gambar sangat cocok untuk memprediksi kreativitas calon mahasiswa;
Penalaran Kuantitatif berupa kemampuan menerapkan konsep hitungan, logika angka, simbol numerical dalam berpikir sistematis dan memecahkan masalah. Konteks dalam tes penalaran “gambar” bersifat umum, sedangkan konteks dalam penalaran “verbal” dikaitkan dengan aspek-aspek dalam kehidupan sehari-hari yang meliputi masalah keindonesiaan, keislaman, sains dan teknologi, Pendidikan, Kesehatan, ekonomi dan bisnis, dan seni budaya dan olah raga.2. Penalaran Matematika mengukur kemampuan peserta dalam memahami dan menganalisis isi bacaan sederhana dengan menggunakan penalarannya guna memecahkan permasalahan kehidupan sehari-hari melalui penerapan konsep, prosedur dan fakta dalam matematika. Bacaan tersebut dielaborasi melalui beragam representasi (grafik/ tabel/bagan atau representasi lainnya) untuk memprediksi dan/atau mengambil keputusan yang dibutuhkan mereka sebagai bekal dalam menghadapi tuntutan hidup abad ke-21.
3. Literasi membaca mengukur kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dalam konteks sosio humaniora dan konteks sains serta jenis teks Bahasa Arab untuk menyelesaikan masalah dan mengembangkan kapasitas individu yang moderat dan unggul sebagai warga Indonesia dan warga dunia agar dapat berkontribusi secara produktif dan proporsional.
4. Literasi Ajaran Islam mengukur kemampuan memahami, menerapkan dan menganalisis materi ajaran Islam meliputi Al-Quran, Hadis, Fikih dan Sejarah Kebudayaan Islam dalam konteks personal, masyarakat, global dan moderasi untuk mewujudkan masyarakat madani. Penguasaan literasi ajaran Islam ini sangat penting untuk menanamkan kepribadian yang baik dan memperkuat iman serta mengaplikasikan ajaran Islam dalam kehidupan individu sehari-hari maupun dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Jadwal Pelaksanaan UM-PTKIN 2025
Pendaftaran : 22 April 2025 pukul 08.00 WIB – 28 Mei 2025 pukul 15.00 WIB
Pembayaran : 22 April 2025 pukul 08.00 WIB – 28 Mei 2025 pukul 23.59 WIB
Finalisasi Pendaftaran: 22 April 2025 pukul 08.00 WIB – 31 Mei 2025 pukul 23.59 WIB
Cetak Kartu Peserta Ujian SSE UM-PTKIN: Dimulai pada 1 Mei 2025 pukul 08.00 WIB
Pelaksanaan Ujian SSE UM-PTKIN: 10-12 Juni 2025, 14-18 Juni 2025
Pengumuman: 30 Juni 2025(Tribunnews.com/Latifah)
-

Presiden Prabowo Utus Jokowi Hadiri Pemakaman Paus Fransiskus, Sammy Notaslimboy: Harusnya Gibran
FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi menunjuk Jokowi untuk menghadiri upacara pemakaman Paus Fransiskus yang akan digelar di Vatikan pada Sabtu, 26 April 2025 mendatang.
Meski keputusan ini dinilai sebagai upaya menjaga hubungan diplomatik dan penghormatan terhadap Vatikan, reaksi publik di media sosial justru menunjukkan beragam respons.
Kehadiran Jokowi dalam kapasitas sebagai utusan dari Prabowo memicu reaksi tajam dari warganet.
Salah satu komentar datang dari komedian Sammy Notaslimboy melalui akun X pribadinya @NOTASLIMBOY, ikut mengomentari langkah tersebut dengan mempertanyakan absennya Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam misi kenegaraan itu.
“Harusnya Gibran lah, apa kapasitas Mulyono? Nggak jelas…,” tulisnya, dikutip @NOTASLIMBOY pada Rabu (23/4/2025).
Unggahan tersebut langsung mendapat reaksi netizen, banyak yang melayangkan kritikan tajam dan menyinggung wakil presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Karena dia tau anaknya ngga bisa”, kata netizen.
“Sebenarnya Presiden sudah utus Wakil Presiden untuk berangkat, tapi berhubung Wakil Presidennya sedang berhalangan maka Wakil Presiden minta tolong kepada bapaknya untuk mewakili”, kata lainnya.
“Kan ada Wapres, Menlu, Menag eh yang dipilih malah rakyat sipil biasa, aneh banget”, tambah lainnya.
“Emang sepenting itu ya bapak yang satu ini di negara ini, kadang-kadang emang”, timpal lainnya.
Sebagai tambahan informasi, selain mantan presiden Jokowi, Prabowo juga mengutus beberapa tokoh nasional lainnya untuk mewakili Indonesia dalam prosesi tersebut.
-
/data/photo/2025/04/21/6805796672f04.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
9 Menag Usul Revisi UU Perkawinan Buntut Tingginya Angka Perceraian Nasional
Menag Usul Revisi UU Perkawinan Buntut Tingginya Angka Perceraian
Tim Redaksi
JAKARTA, KOMPAS.com –
Menteri Agama
Nasaruddin Umar
mengusulkan revisi terhadap Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dengan menambahkan bab khusus mengenai
pelestarian perkawinan
.
Usulan ini diutarakan Nasaruddin melihat tingginya
angka perceraian
di Indonesia yang menjadi sinyal bahwa ketahanan rumah tangga perlu mendapat perhatian serius.
“Sudah saatnya
UU Perkawinan
menegaskan pentingnya pelestarian perkawinan, sebagai bentuk perlindungan keluarga dan investasi masa depan bangsa,” kata Nasaruddin dalam keterangan resmi, Rabu (23/4/2025).
“Jika perlu, kita usulkan Undang-Undang baru tentang ketahanan rumah tangga. Negara tidak cukup hanya mengatur legalitas pernikahan, tetapi juga perlu hadir dalam menjaga keutuhannya,” ujar dia.
Menurut Nasaruddin, perceraian harus dihindari karena dapat menyebabkan munculnya masalah perekonomian yang baru.
Oleh karena itu, negara perlu hadir bukan hanya dalam mengesahkan, tetapi juga menjaga keberlangsungan pernikahan.
“Perceraian sering kali melahirkan orang miskin baru. Korban pertamanya adalah istri, lalu anak,” kata dia.
Nasaruddin menyoroti perlunya pendekatan mediasi sebagai langkah preventif dalam menjaga keutuhan perkawinan.
Untuk itu, ia merekomendasikan 11 strategi mediasi yang dapat dilakukan Badan Penasihatan, Pembinaan, dan
Pelestarian Perkawinan
(BP4).
“Kami perlu lebih fokus pada mediasi. BP4 menjadi pihak yang paling tepat dalam merespons dan mencegah meningkatnya angka perceraian,” kata Imam Besar Masjid Istiqlal itu.
Berikut 11 strategi mediasi yang direkomendasikan Nasaruddin untuk BP4:
1. Memperluas peran mediasi kepada pasangan pra-nikah dan usia matang yang belum menikah.
2. Proaktif mendorong pasangan muda untuk menikah.
3. Berperan sebagai “makcomblang” atau perantara jodoh.
4. Melakukan mediasi pascaperceraian untuk mencegah anak telantar.
5. Menjadi mediator dalam konflik antara menantu dan mertua.
6. Bekerja sama dengan peradilan agama agar tidak mudah memutus perkara cerai.
7. Memediasi pasangan nikah siri untuk melakukan isbat nikah.
8. Menjadi penengah dalam permasalahan yang menghambat proses pernikahan di KUA.
9. Melakukan mediasi terhadap individu yang berpotensi selingkuh.
10. Menginisiasi program nikah massal agar masyarakat tidak terbebani biaya.
11. Menjalin koordinasi dengan lembaga pemerintah yang mengelola program gizi dan pendidikan agar anak-anak mendapat perhatian yang layak.
Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.


/data/photo/2025/03/19/67daa14f516d1.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
/data/photo/2025/04/23/680910a534255.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)