Tag: Benjamin Netanyahu

  • Israel Hancur dari Dalam? Kabinet Benjamin Netanyahu Terbelah Diserang Demo Berjilid-jilid

    Israel Hancur dari Dalam? Kabinet Benjamin Netanyahu Terbelah Diserang Demo Berjilid-jilid

    PIKIRAN RAKYAT – Perdana Menteri Israel Penjajah Benjamin Netanyahu dilaporkan tengah kalang-kabut menghadapi gelombang demonstrasi antipemerintah. Ia menuding, pihak oposisi politik yang menyulut ‘para anarki’ dari kalangan masyarakat.

    Beberapa hari terakhir, protes massal antipemerintah berlangsung di Israel untuk menekan Kabinet Benjamin Netanyahu. Bahkan, pemimpin oposisi Yair Lapid menyerukan aksi ‘pemberontakan’ jika pemerintah tak kunjung menuruti tuntutan aksi.

    Menanggapi protes tersebut, dalam pidatonya di parlemen pada Rabu, 26 Maret 2025, Netanyahu menepis adanya kemunduran dalam demokrasi sebagaimana digaungkan oposisi.

    “Kalian mengulang-ulang slogan usang dan konyol tentang ‘akhir dari demokrasi’. Baiklah, sekali untuk selamanya: Demokrasi tidak dalam bahaya, yang terancam adalah kekuasaan birokrat,” ucap dia, dikutip dari Al Jazeera, Kamis, 27 Maret 2025.

    “Bisa tidak kalian berhenti dulu menghalangi kerja pemerintah di tengah perang? Mungkin kalian bisa berhenti menyulut fitnah, kebencian, dan anarki di jalan-jalan?” ujar dia lagi.

    Isi Tuntutan

    Ribuan warga Israel telah ikut serta dalam protes antipemerintah beberapa hari terakhir. Massa menuduh Netanyahu merusak demokrasi dengan mencopot Ronen Bar, kepala agen keamanan internal Shin Bet, dan melanjutkan serangan di Gaza tanpa memperhatikan para tawanan alias rakyatnya yang ditahan di sana.

    Netanyahu terlibat dalam konflik dengan kepala Shin Bet, yang tengah menjalankan penyelidikan kasus suap terhadap kantor perdana menteri. Keduanya memang telah berselisih dan hal itu diperburuk oleh kecaman keras atas kegagalan mencegah serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023 di Israel selatan.

    Demonstrasi yang meletus minggu lalu ini diorganisir oleh koalisi luas kelompok antipemerintah, yang menyatakan bahwa Netanyahu hanya peduli pada langgengnya takhta dan kekuasaan pribadi.

    Mahkamah Agung (MA) Israel sebelumnya telah membekukan (membatalkan) pemecatan Bar setelah beberapa banding diajukan, termasuk oleh partai Yesh Atid yang dipimpin oleh pemimpin oposisi Yair Lapid dari garis kanan-tengah.

    Banding dari oposisi tersebut menyoroti dua alasan utama yang dilihat oleh para kritikus sebagai alasan Netanyahu bergerak melawan Bar.

    Pertama, kritik Bar terhadap pemerintah atas kegagalan keamanan yang memungkinkan serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Kedua, penyelidikan Shin Bet terhadap rekan-rekan dekat Netanyahu yang diduga menerima uang terkait dengan Qatar.

    Kantor Netanyahu telah membantah tuduhan tersebut sebagai hoaks alias berita palsu. ***

    Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News

  • Hamas Berduka atas Kematian Juru Bicara Abdel-Latif Al-Qanoua dalam Serangan Israel – Halaman all

    Hamas Berduka atas Kematian Juru Bicara Abdel-Latif Al-Qanoua dalam Serangan Israel – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Israel terus melancarkan serangan udara ke Gaza, Palestina.

    Salah satu serangan tersebut menewaskan juru bicara Hamas, Abdel-Latif Al-Qanoua.

    Dikutip dari Reuters, Kamis (27/3/2025), Al-Qanoua tewas ketika tendanya di Jabalia menjadi sasaran serangan udara Israel.

    Hamas mengonfirmasi kematian Al-Qanoua dalam pernyataan yang dipublikasikan di Telegram.

    Hamas menggambarkan Al-Qanoua sebagai “contoh keteguhan dan dedikasi dalam melayani rakyatnya dan tujuan mereka.”

    “Penargetan para pemimpin dan juru bicara gerakan oleh pendudukan tidak akan mematahkan tekad kami.”

    “Sebaliknya, hal itu hanya akan meningkatkan semangat kami untuk terus maju hingga pembebasan tanah dan tempat-tempat suci.”

    “Darah para martir akan tetap menjadi bahan bakar dan inspirasi bagi perlawanan hingga kemenangan,” ujar Hamas dalam pernyataannya.

    Serangan yang sama juga melukai beberapa orang di wilayah tersebut.

    Selain itu, militer Israel turut menyerang Kota Gaza dan Khan Yunis di Gaza selatan. Sedikitnya tujuh orang dilaporkan tewas dalam serangan di dua wilayah itu.

    Gencatan Senjata Berakhir, Serangan Berlanjut

    Awal pekan ini, serangan udara Israel juga menewaskan Ismail Barhoum, anggota kantor politik Hamas, serta Salah al-Bardaweel, salah satu pemimpin senior Hamas.

    Menurut laporan dari sumber Hamas, Barhoum dan Bardaweel merupakan bagian dari badan pembuat keputusan Hamas yang beranggotakan 20 orang.

    Sejak perang dimulai pada akhir 2023, sebelas anggota badan ini telah tewas akibat serangan Israel.

    Minggu lalu, Israel mengakhiri gencatan senjata yang telah berlangsung selama dua bulan dengan kembali melancarkan serangan udara dan operasi darat.

    Hal ini meningkatkan tekanan terhadap Hamas untuk membebaskan sandera yang masih ditahan.

    Sejak 18 Maret 2025, serangan militer Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 830 orang.

    Menurut laporan Al Jazeera, lebih dari setengah korban tewas adalah perempuan dan anak-anak.

    Israel dan Hamas saling menuduh telah melanggar kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku sejak Januari.

    Gencatan senjata tersebut sebelumnya memberikan jeda bagi 2,3 juta penduduk Gaza, yang telah mengalami kehancuran akibat aksi militer Israel.

    Pernyataan Netanyahu

    Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa serangan diperintahkan karena Hamas menolak perpanjangan gencatan senjata.

    Pada Rabu (26/3), Netanyahu kembali memperingatkan bahwa Israel akan merebut lebih banyak wilayah di Gaza jika Hamas tidak membebaskan para sandera yang masih ditahan sejak serangan 7 Oktober 2023.

    Hamas sendiri masih menahan 59 dari sekitar 250 sandera yang diculik dalam serangan tersebut.

    Kelompok itu menuduh Israel menghambat negosiasi pembebasan sandera dan merusak upaya mediator dalam mencari solusi permanen untuk mengakhiri pertempuran.

    Sementara itu, rumah sakit di Gaza dilaporkan kewalahan menghadapi lonjakan korban akibat serangan Israel.

    Blokade total yang diberlakukan Israel selama lebih dari tiga minggu telah memperburuk krisis kemanusiaan dengan minimnya pasokan medis dan bantuan untuk warga sipil di wilayah tersebut.

    (Tribunnews.com, Andari Wulan Nugrahani)

  • Beri Peringatan, Hamas: Sandera Akan Kembali ‘Dalam Peti Mati’ jika Israel Membebaskan dengan Paksa – Halaman all

    Beri Peringatan, Hamas: Sandera Akan Kembali ‘Dalam Peti Mati’ jika Israel Membebaskan dengan Paksa – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Kelompok militan Palestina, Hamas, memperingatkan bahwa para sandera mungkin akan dibunuh jika Israel mencoba membebaskan mereka dengan paksa dan serangan udara terus berlanjut di Jalur Gaza.

    Hamas mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka “melakukan segala yang mungkin untuk menjaga agar tawanan pendudukan tetap hidup, tetapi pemboman acak Zionis (Israel) membahayakan nyawa mereka.”

    “Setiap kali pendudukan mencoba membebaskan tawanannya dengan paksa, mereka akhirnya membawa mereka kembali dalam peti mati,” kata Hamas, Rabu (26/3/2025), dilansir Al Arabiya.

    Sementara, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan Hamas bahwa Israel akan merebut wilayah di Gaza jika kelompok itu menolak untuk membebaskan para sandera.

    Dari 251 sandera yang disandera selama serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang memicu perang, 58 masih ditahan di Gaza, termasuk 34 yang menurut militer Israel telah tewas.

    “Semakin Hamas bersikeras menolak membebaskan sandera kami, semakin kuat tekanan yang akan kami berikan,” kata Netanyahu kepada parlemen, Rabu.

    “Saya katakan ini kepada rekan-rekan saya di Knesset, dan saya katakan juga kepada Hamas: Ini termasuk perebutan wilayah, bersama dengan tindakan lain yang tidak akan saya uraikan di sini,” jelasnya.

    Pernyataan Netanyahu muncul beberapa hari setelah Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengancam akan mencaplok sebagian wilayah Gaza kecuali Hamas membebaskan sandera Israel yang tersisa.

    Dalam sebuah pernyataan pada Jumat (21/3/2025), Katz mengatakan:

    “Saya memerintahkan (tentara) untuk merebut lebih banyak wilayah di Gaza.”

    “Semakin Hamas menolak membebaskan para sandera, semakin banyak wilayah yang akan hilang, yang akan dianeksasi oleh Israel.”

    Israel Perintahkan Lebih Banyak Evakuasi

    Diberitakan AP News, militer Israel pada hari Rabu memerintahkan evakuasi sebagian wilayah Kota Gaza saat meningkatkan serangan barunya terhadap Hamas setelah melanggar gencatan senjata minggu lalu.

    Pengeboman dan operasi darat Israel telah menyebabkan kerusakan besar dan pada puncaknya menyebabkan sekitar 90 persen penduduk Gaza mengungsi.

    Di sisi lain, ribuan warga Palestina berunjuk rasa di Gaza utara yang hancur parah pada hari Rabu dalam hari kedua protes antiperang.

    Ini adalah unjuk rasa kemarahan publik yang jarang terjadi terhadap Hamas, meskipun protes tersebut tampaknya secara umum ditujukan terhadap perang di Gaza dan kondisi kehidupan mereka yang tidak tertahankan.

    Sebelumnya, Israel telah menghentikan semua makanan, bahan bakar, obat-obatan dan pasokan lainnya untuk sekitar 2 juta orang di Gaza yang dilanda perang sejak awal bulan — sebuah strategi yang menurut kelompok hak asasi manusia adalah kejahatan perang.

    Israel telah berjanji untuk meningkatkan tekanan militer hingga Hamas memulangkan 59 sandera yang tersisa — 24 di antaranya diyakini masih hidup.

    Israel juga menuntut Hamas melucuti senjata dan mengirim para pemimpinnya ke pengasingan.

    Hamas mengatakan tidak akan membebaskan sandera yang tersisa tanpa gencatan senjata yang langgeng dan penarikan penuh Israel dari Gaza.

    Sebagai informasi, Israel memulai kembali serangan udara yang intens di Jalur Gaza yang berpenduduk padat minggu lalu diikuti oleh operasi darat, menghancurkan ketenangan relatif yang diberikan oleh gencatan senjata pada bulan Januari dengan Hamas.

    Sejak Israel melanjutkan operasi militernya di Gaza, setidaknya 830 warga Palestina telah tewas, menurut kementerian kesehatan di wilayah tersebut.

    Serangan militer balasan Israel telah menewaskan sebanyak 50.183 orang di Gaza, sebagian besar warga sipil, menurut kementerian kesehatan.

    Tahap pertama gencatan senjata yang mulai berlaku pada 19 Januari 2025 menyaksikan Hamas membebaskan 33 sandera Israel dan warga negara ganda, termasuk delapan orang yang tewas, dan Israel membebaskan sekitar 1.800 tahanan Palestina.

    (Tribunnews.com/Nuryanti)

    Berita lain terkait Konflik Palestina Vs Israel

  • Tidak Ada Lagi Bantuan Militer untuk Mesin Perang Netanyahu

    Tidak Ada Lagi Bantuan Militer untuk Mesin Perang Netanyahu

    PIKIRAN RAKYAT – Amerika Serikat didesak untuk menghentikan pasokan senjata ke Israel yang sedang menjajah Palestina. Desakan ini datang dari Senator AS, Bernie Sanders yang turut menyoroti pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan Israel.

    “(Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu tidak mengizinkan bantuan apa pun masuk ke Gaza selama 22 hari. Ia melanggar gencatan senjata, dan melanjutkan kampanye pengeboman yang telah menewaskan lebih dari 50.000 orang,” katanya.

    Saat ini, Israel melanjutkan penjajahannya di Jalur Gaza dan melakukan serangan demi serangan setelah gagalnya kesepakatan fase kedua gencatan senjata. Kini, warga Palestina yang tewas kian bertambah.

    “Sekarang dia mengancam pendudukan jangka panjang di Gaza,” kata Sanders dilaporkan Anadolu Agency.

    Desakan dari Sanders ini setelah Israel melancarkan serangan udara pada Selasa, 18 Maret 2025 ke Jalur Gaza. Sejak serangan tersebut, sedikitnya 730 orang tewas meskipun situasi masih gencatan senjata dan perjanjian pertukaran tahanan yang berlaku pada bulan Januari.

    “TIDAK ADA LAGI BANTUAN MILITER UNTUK MESIN PERANG NETANYAHU,” kata Sanders.

    Dilaporkan kantor berita WAFA, sejak serangan Oktober 2023 hingga saat ini, 50.183 warga Palestina tewas yang sebagian besar wanita dan anak-anak. Selain itu, 113.828 warga Palestina lainnya mengalami luka-luka.

    Terlebih lagi, sedikitnya 10.000 orang tidak diketahui keberadaannya, diduga tewas di bawah reruntuhan rumah mereka di seluruh wilayah Gaza.

    Badan khusus pemindahan paksa warga Palestina

    Israel secara terang-terangan akan membentuk badan pemerintah yang mengurusi pemindahan paksa warga Palestina di Jalur Gaza. Hal ini telah dikonfirmasi oleh seorang juru bicara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Senin, 24 Maret 2025.

    Badan tersebut sedang disusun setelah mendapat persetujuan dari kabinet keamanan Israel menyusul rencana Menteri Pertahanan, Israel Katz. Rencana pembentukan badan ini lantas menuai reaksi keras dari Arab Saudi.

    Arab Saudi mengecam pengumuman Israel tentang badan yang bertujuan mengusir warga Palestina. Sementara, Mesir dan negara-negara Arab lainnya masih belum bersikap.

    Rencana Kementerian Pertahanan Israel ini merupakan tindak lanjut dari saran Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Trump sebelumnya meminta agar penduduk Palestina di Gaza dipindahkan ke negara lain.

    Kelompok hak asasi manusia dan kritikus di seluruh dunia menilai hal ini sebagai pembersihan etnis, pemindahan paksa suatu populasi dari rumahnya. Namun, Israel menyebut pemindahan paksa ini sebagai ‘sukarela’.

    “Mempersiapkan keberangkatan sukarela penduduk Jalur Gaza ke negara ketiga dengan cara yang aman dan terkendali,” kata sang juru bicara dilaporkan Al Jazeera.***

    Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News

  • Netanyahu: Israel Bisa Rebut Wilayah di Jalur Gaza jika Hamas Tak Bebaskan Sandera – Halaman all

    Netanyahu: Israel Bisa Rebut Wilayah di Jalur Gaza jika Hamas Tak Bebaskan Sandera – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengulangi ancamannya untuk merebut wilayah di Jalur Gaza jika Hamas gagal membebaskan sandera yang masih ditahannya. 

    “Semakin Hamas menolak membebaskan sandera kami, semakin kuat pula penindasan yang akan kami lakukan,” kata Netanyahu dalam sidang di parlemen (Knesset) pada Rabu (26/3/2025). 

    “Ini termasuk perebutan wilayah dan hal-hal lainnya,” ujarnya. 

    Netanyahu tidak menjelaskan lebih lanjut, tetapi Menteri Pertahanan Israel Katz menggemakan ancaman tersebut beberapa jam kemudian.

    Dalam sebuah video yang mendorong protes warga Gaza terhadap Hamas, Katz juga mengomentari demonstrasi di Gaza dengan berkata, “Hamas membahayakan nyawa Anda dan akan menyebabkan Anda kehilangan rumah dan semakin banyak wilayah.”

    Pernyataan Netanyahu disampaikan selama debat yang dikenal sebagai “Debat 40 Tanda Tangan,” yang merupakan versi Israel dari “Pertanyaan Perdana Menteri” versi Inggris.

    Debat tersebut mencakup serangkaian pidato singkat yang dihadiri perdana menteri, setelah itu perdana menteri dan pemimpin oposisi menyampaikan pidato penutup, seperti diberitakan The Jerusalem Post.

    Sebelumnya, Hamas memperingatkan Netanyahu, sandera mungkin akan kembali dalam peti mati jika Israel menggunakan kekerasan dan serangan udara yang terus berlanjut di Gaza.  

    Hamas mengatakan dalam sebuah pernyataan, mereka melakukan segala yang mungkin untuk menjaga agar sandera Israel tetap hidup, namun pemboman acak oleh Zionis (Israel) membahayakan nyawa mereka.

    “Setiap kali pendudukan mencoba mengambil tawanannya dengan paksa, mereka akhirnya membawa mereka kembali dalam peti mati,” katanya.

    Sebelumnya, Israel melanjutkan serangannya di Jalur Gaza pada Selasa (18/3/2025), melanggar perjanjian gencatan senjata yang disepakati dengan Hamas pada 19 Januari lalu.

    Lebih dari 830 warga Gaza terbunuh sejak serangan tersebut dan melukai lebih dari 1.800 lainnya.

    Jika dihitung sejak Oktober 2023, serangan Israel menewaskan lebih dari 50.183 warga Gaza dan melukai lebih dari 113.828 lainnya, menurut laporan Kementerian Kesehatan Gaza, dikutip dari Anadolu Agency.

    (Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

    Berita lain terkait Konflik Palestina vs Israel

  • Israel Dilaporkan Bersiap Pindahkan 100 Warga Gaza ke Indonesia

    Israel Dilaporkan Bersiap Pindahkan 100 Warga Gaza ke Indonesia

    GELORA.CO –  Media Israel melaporkan pada Rabu bahwa kelompok pertama yang terdiri dari 100 warga Palestina dari Jalur Gaza sedang bersiap untuk melakukan perjalanan ke Indonesia. Program ini disebut sebagai bagian dari program percontohan untuk mendorong “emigrasi sukarela” warga Palestina dari Jalur Gaza.

    Times of Israel mengutip Channel 12 News yang mengatakan bahwa program percontohan akan dijalankan oleh Mayor Jenderal Ghassan Alian, yang mengepalai Koordinator Kegiatan Pemerintah di Wilayah (COGAT), sebuah badan Kementerian Pertahanan. Laporan tersebut menambahkan bahwa sebagian besar warga Palestina akan dipekerjakan dalam pekerjaan konstruksi.

    Menurut surat kabar tersebut, Israel berharap jika program percontohan ini berhasil, maka akan mendorong ribuan warga Gaza untuk pindah ke Indonesia untuk bekerja dan mempertimbangkan pemukiman permanen di sana, sebuah langkah yang memerlukan persetujuan Jakarta, menurut Channel 12.

    Upaya Israel ini kerap dipandang sebagai bagian dari pengosongan Jalur Gaza untuk dicaplok kembali. Berbagai negara dan lembaga internasional melihat rencana “emigrasi sukarela” ini sebagai bagian dari pemberihan ernis di Gaza.

    Israel tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia, negara Muslim terbesar di dunia. Kendati demikian saluran komunikasi khusus telah dibuka antara kedua negara untuk mengembangkan program percontohan tersebut, kata laporan itu. Jika uji coba ini berhasil, “departemen imigrasi pemerintah” akan mengambil tanggung jawab atas program tersebut, menurut laporan tersebut.

    Surat kabar tersebut menyatakan bahwa Menteri Pertahanan Israel Israel Katz akan menunjuk pensiunan Brigadir Jenderal Ofer Winter—seorang perwira senior yang kontroversial di militer, namun sangat dihormati oleh orang-orang Israel yang religius—untuk memimpin proyek tersebut.

    Awal bulan lalu, Presiden AS Donald Trump memicu kejutan global ketika ia menyarankan Amerika Serikat mengambil alih Gaza, mengubahnya menjadi “Riviera Timur Tengah,” dan memaksa penduduknya untuk pindah ke Mesir, Yordania, atau negara lain.

    Sementara para menteri di pemerintahan Benjamin Netanyahu memuji usulan tersebut dan menyerukan agar perang dimanfaatkan sebagai peluang untuk membangun kembali pemukiman Israel di Jalur Gaza, Otoritas Palestina dan negara-negara Arab dengan tegas menolak gagasan tersebut.

    Januari lalu, situs Zaman Israel melaporkan bahwa pemerintah Israel melakukan kontak rahasia dengan Kongo dan negara-negara lain untuk mengusir ribuan penduduk dari Gaza.

    Kabar pemindahan warga Gaza ke Indonesia yang dianjurkan Trump sempat mengemuka pada Januari lalu. Saat itu, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyebut sama sekali tak mengetahui hal tersebut.

    “Pemerintah RI tidak pernah memperoleh informasi apapun, dari siapapun, maupun rencana apapun terkait relokasi sebagian dari dua juta penduduk Gaza ke Indonesia sebagai salah satu bagian dari upaya rekonstruksi pasca konflik,” kata Kemlu RI dalam keterangannya, Selasa (21/1/2025).

    Kemlu RI menolak berspekulasi tentang isu tersebut tanpa adanya informasi lebih jelas. Namun mereka menegaskan bahwa posisi Pemerintah RI tetap menolak upaya pemindahan atau relokasi warga Gaza.

    “Upaya untuk mengurangi penduduk Gaza hanya akan mempertahankan pendudukan ilegal Israel atas wilayah Palestina dan sejalan dengan strategi yang lebih besar yang bertujuan untuk mengusir orang Palestina dari Gaza,” kata Kemlu RI.

  • Hamas Peringatkan Israel: Sandera akan Pulang dalam Peti Mati jika Netanyahu Tuntut Bebaskan Paksa – Halaman all

    Hamas Peringatkan Israel: Sandera akan Pulang dalam Peti Mati jika Netanyahu Tuntut Bebaskan Paksa – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Kelompok militan Palestina, Hamas memberikan peringatan Israel jika nekat mencoba menyelamatkan sandera secara paksa di luar perjanjian gencatan senjata.

    Menurut Hamas, saat ini pihaknya telah berusaha semaksimal mungkin untuk tetap menjaga para sandera.

    “Kami melakukan segala yang mungkin untuk menjaga tawanan pendudukan tetap hidup,” kata Hamas pada hari Rabu (25/3/2025), dikutip dari Al-Arabiya.

    Akan tetapi, nyawa para sandera saat ini terancam karena Israel terus melancarkan serangan dengan menargetkan berbagai lokasi di Gaza.

    “Tetapi pemboman acak Zionis (Israel) membahayakan nyawa mereka,” jelas Hamas.

    Oleh karena itu, Hamas memperingatkan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu untuk tidak nekat menyelamatkan para sandera dengan cara mereka sendiri.

    Jika hal tersebut dilakukan, kemungkinan sandera masih hidup sangatlah kecil.

    “Setiap kali pendudukan mencoba untuk menyelamatkan tawanannya dengan paksa, mereka akhirnya membawa mereka kembali dalam peti mati,” katanya.

    Selain itu, Hamas juga mengatakan bahwa upaya Netanyahu untuk menenangkan keluarga sandera hanyalah ‘omong kosong’.

    “Netanyahu berbohong kepada keluarga tawanan ketika ia mengklaim bahwa opsi militer mampu membawa mereka kembali hidup-hidup,” kata Hamas, dikutip dari Al Mayadeen.

    Israel Tak Henti Bombardir Gaza

    Israel kembali meluncurkan serangan di Gaza mulai minggu lalu.

    Sejak saat itu, Israel meluncurkan operasi darat di tengah ketidakpastian gencatan senjata.

    Selain operasi darat, Israel juga meluncurkan serangan udara di Rafah, bagian barat Gaza Selatan.

    Khan Younis juga menjadi target drone Israel.

    Ribuan warga sipil masih terjebak di Rafah, dengan permintaan mendesak muncul dari warga di lingkungan Saudi, Tal al-Sultan, dan daerah Hashashin. 

    Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan jumlah korban tewas akibat serangan Israel sejak 18 Maret 2025 telah mencapai 830 warga.

    Sementara 1.787 lainnya terluka akibat pemboman Israel.

    Dalam 24 jam terakhir, sekitar 39 orang dikabarkan tewas dan 124 orang terluka.

    Sementara sejak Oktober 2023, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 50.100 warga Palestina.

    Sebagian besar korban adalah wanita dan anak-anak.

    Korban luka akibat serangan Israel sejak Oktober 2023 telah mencapai lebih dari 113.700 orang.

    (Tribunnews.com/Farrah)

    Artikel Lain Terkait Hamas dan Konflik Palestina vs Israel

  • 7 Update Gaza, Israel Tutup Perbatasan-Anak Dibunuh Tiap 45 Menit

    7 Update Gaza, Israel Tutup Perbatasan-Anak Dibunuh Tiap 45 Menit

    Daftar Isi

    Jakarta, CNBC Indonesia – Setidaknya 38 warga Palestina tewas dalam serangan Israel di Gaza dalam 24 jam terakhir, dan satu jenazah telah ditemukan dari reruntuhan, menurut Kementerian Kesehatan daerah kantong itu.

    Sementara badan kemanusiaan PBB, OCHA, mengatakan 142.000 warga Palestina telah mengungsi secara paksa sejak Israel melanjutkan perangnya di Gaza pada 18 Maret.

    Berikut update terkait situasi di wilayah tersebut saat ini, seperti dihimpun dari berbagai sumber oleh CNBC Indonesia pada Rabu (26/3/2025).

    Penutupan Perbatasan Gaza Dilaporkan Berdampak Buruk

    Kantor Media Pemerintah Gaza mengatakan keputusan Israel untuk menutup semua perlintasan perbatasan dengan daerah kantong itu berdampak buruk bagi keamanan pangan serta layanan lingkungan dan kesehatan.

    “Kami menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa, organisasi hak asasi manusia dan kemanusiaan, dan semua negara merdeka untuk segera menekan pendudukan agar membuka perlintasan dan mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan, sebelum bencana kemanusiaan ini berubah menjadi kelaparan yang meluas dan bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya di zaman modern,” kata pernyataan itu.

    Pernyataan itu mengatakan 85% dari 2,4 juta penduduk Gaza kehilangan akses ke bahan makanan pokok karena distribusi bantuan pangan dihentikan. Lebih dari 90% tidak memiliki sumber air bersih setelah Israel menghancurkan 719 sumur air.

    Selain itu, 34 rumah sakit dan 80 pusat kesehatan hancur dan saat ini tidak beroperasi. Masuknya pasokan medis dan dokter bedah spesialis telah dicegah. Jaringan pembuangan limbah juga hancur, sehingga meningkatkan kemungkinan penyakit.

    Israel Bunuh Seorang Anak di Gaza Setiap 45 Menit

    Israel dilaporkan membunuh seorang anak di Gaza setiap 45 menit. Ini artinya rata-rata 30 anak terbunuh setiap hari selama 535 hari terakhir.

    Sejak 7 Oktober 2023, Israel telah membunuh sedikitnya 17.400 anak, termasuk 15.600 yang telah diidentifikasi. Banyak lagi yang masih terkubur di bawah reruntuhan, sebagian besar diduga tewas.

    Banyak anak yang selamat telah mengalami trauma dari berbagai perang, dan mereka semua telah menghabiskan hidup mereka di bawah bayang-bayang blokade Israel yang menindas, yang memengaruhi setiap aspek kehidupan mereka sejak lahir.

    Pasukan Israel Tangkap 20 Orang Dalam Serangan Terbaru di Tepi Barat

    Masyarakat Tahanan Palestina mengatakan tentara Israel telah menangkap sedikitnya 20 orang, termasuk beberapa mantan tahanan, dalam serangan di seluruh Tepi Barat yang diduduki sejak tadi malam.

    Penangkapan tersebut terjadi di seluruh provinsi Ramallah, Bethlehem, Nablus, Tulkarem, dan Salfit, kata kelompok tersebut. Seperti yang dilaporkan sebelumnya, pasukan Israel melakukan interogasi lapangan selama berjam-jam terhadap puluhan orang selama beberapa penggerebekan, termasuk di kamp Beit Jibrin dekat Bethlehem.

    Penahanan terbaru tersebut membuat jumlah total penangkapan yang dilakukan oleh pasukan Israel di Tepi Barat sejak dimulainya perang di Gaza menjadi lebih dari 15.700, kata Prisoners Society.

    Israel Relokasi Tahanan Palestina dari Sde Teiman

    Militer Israel telah memindahkan ratusan narapidana Palestina ke penjara lain menyusul tekanan dari pengadilan tinggi Israel untuk memperbaiki kondisi di penjara Sde Teiman di Tepi Barat yang diduduki, menurut organisasi hak asasi manusia Israel.

    HaMoked dan Physicians for Human Rights-Israel mengatakan kepada kantor berita The Associated Press bahwa alih-alih memperbaiki pelanggaran termasuk pemukulan, pemborgolan berlebihan, dan pola makan serta perawatan kesehatan yang buruk, para tahanan dipindahkan ke pusat penahanan Ofer dan Anatot yang kondisinya tidak lebih baik.

    “Apa yang telah kita lihat adalah terkikisnya standar dasar penahanan yang manusiawi,” kata Jessica Montell, direktur HaMoked, salah satu kelompok hak asasi yang mengajukan petisi kepada pemerintah Israel untuk memperbaiki masalah ini untuk selamanya.

    Militer Israel mengatakan kepada AP bahwa mereka mematuhi hukum internasional dan “sepenuhnya menolak tuduhan mengenai pelanggaran sistematis terhadap para tahanan”.

    Israel Keluarkan Perintah Pemindahan Paksa Kota Gaza

    Avichay Adraee, juru bicara bahasa Arab untuk tentara Israel, telah mengeluarkan perintah pemindahan paksa untuk semua penduduk di lingkungan Zeitoun, Tal al-Hawa, dan Sheikh Ijlin di Kota Gaza.

    Ia mengatakan ini adalah peringatan terakhir untuk melarikan diri ke selatan Wadi Gaza melalui Jalan al-Rashid sebelum Israel mulai mengebom mereka.

    Netanyahu Ancam akan Rebut Sebagian Wilayah Gaza jika Hamas Menahan Tawanan

    Berbicara kepada parlemen, perdana menteri Israel mengatakan Israel akan meningkatkan “penindasan” terhadap Gaza semakin lama Hamas menolak membebaskan tawanan Israel.

    “Semakin Hamas terus menolak membebaskan sandera kami, semakin kuat penindasan yang akan kami lakukan,” kata Netanyahu. “Ini termasuk merebut wilayah dan hal-hal lainnya.”

    Ada 59 tawanan yang masih ditahan di Gaza, hanya 25 di antaranya yang diyakini Israel masih hidup.

    Semua tawanan yang selamat diharapkan akan dibebaskan selama tahap kedua dari kerangka gencatan senjata yang disepakati oleh Israel dan Hamas pada bulan Januari. Namun, Israel melanjutkan serangannya terhadap Gaza, mengingkari gencatan senjata selama tahap pertama kesepakatan tanpa kesepakatan apa pun pada tahap berikutnya.

    Hamas mengatakan hari ini bahwa jika Israel mencoba mengambil tawanannya “dengan paksa”, mereka akan dikembalikan “dalam peti mati”.

    Militer Israel Klaim Tembak Jatuh Proyektil dari Gaza Tengah

    Militer mengatakan mereka mengidentifikasi dua proyektil yang memasuki wilayah Israel dari Gaza tengah sekitar tengah hari.

    Angkatan udara Israel menembak jatuh salah satu proyektil, sementara yang lain mendarat di komunitas Zimrat, dekat perbatasan Gaza, menurut pernyataan yang dipublikasikan oleh militer di Telegram.

    Militer tidak melaporkan adanya korban jiwa dan mengatakan sedang menyelidiki rincian serangan tersebut.

    (fab/fab)

  • Media Israel: 100 Warga Palestina Pindah dari Gaza ke Indonesia! – Halaman all

    Media Israel: 100 Warga Palestina Pindah dari Gaza ke Indonesia! – Halaman all

    Media Israel: 100 Warga Palestina Pindah dari Gaza ke Indonesia!

    TRIBUNNEWS.COM – Media Channel 12 Israel, Rabu (26/3/2025) mengungkapkan kalau “sebuah proyek percontohan, sedang dilaksanakan untuk secara sukarela mengirim warga Palestina untuk bekerja di Indonesia di sektor konstruksi.”

    Media tersebut menjelaskan, proyek percontohan ini merupakan yang pertama dari jenisnya, sejak Israel secara resmi membentuk sebuah direktorat yang mengurus kepindahan ‘sukarela’ warga Gaza dari Palestina ke negara ketiga.

    Direktorat Israel itu merupakan tindaklanjut atas usulan Amerika Serikat yang mengusulkan pemindahan warga Gaza ke negara ketiga.

    Media Israel melaporkan, sebagai proyek percontohan, sebanyak 100 warga Gaza akan dikirim ke Indonesia.

    Laporan itu mencatat kalau “Koordinator Operasi di Wilayah tersebut bertanggung jawab atas proyek percontohan ini”.

    “Dan jika berhasil, proyek ini akan diambil alih oleh Departemen Imigrasi Israel, yang dibentuk oleh Menteri Yisrael Katz di Kementerian Pertahanan, dengan tujuan untuk membuktikan bahwa imigrasi sukarela ini berhasil dan mendorong ribuan warga Gaza untuk pindah bekerja di sektor konstruksi di Indonesia,” tulis laporan tersebut dilansir Khaberni, Rabu.

    Berdasarkan hukum internasional, siapa pun yang meninggalkan Jalur Gaza untuk bekerja akan diizinkan kembali.

    “Tetapi gagasan umumnya adalah untuk mendorong imigrasi dan tempat tinggal jangka panjang di sana. Ini (tinggal dan menetap) bergantung pada pemerintah di Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia,” tulis ulasan Khaberni.

    Laporan menambahkan, proyek percontohan tersebut didahului dengan pembicaraan dengan pemerintah Indonesia, yang tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Israel.

    “Perlu dibangun saluran komunikasi antara kedua negara,” kata laporan itu.

    Belum ada tanggapan resmi baik dari Pemerintah Israel maupun Pemerintah Indonesia atas kabar pelaksanaan proyek percontohan pemindahan sukarela warga Gaza ke Indonesia ini.

    Sebagai informasi, Israel membentuk Direktorat Pengurusan Pemindahan Sukarela Warga Gaza untuk menangani upaya evakuasi sukarela penduduk Gaza ke luar negeri dan membantu menciptakan peluang kerja guna mendorong emigrasi dari Jalur Gaza. 

    “Dengan berjalannya proyek percontohan, Menteri Pertahanan Israel harus memutuskan dalam beberapa hari mendatang siapa yang akan mengepalai direktorat tersebut,” tambah laporan tersebut. 

    Sejumlah laporan media Israel menyebut, tampaknya kandidat yang baru-baru ini diajukan untuk posisi tersebut adalah Brigadir Jenderal (Purn.) Ofer Winter.

    PENGUNGSI GAZA – Tangkap layar Khaberni, Rabu (26/3/2025) menunjukkan pengungsi warga Gaza yang berpindah mencari lokasi aman dari serangan Israel. Pemerintah Israel menindaklanjuti usulan Amerika Serikat yang mengusulkan pemindahan warga Gaza ke negara ketiga dengan membentuk Direktorat Urusan Pemindahan Sukarela warga Palestina yang ingin ke luar dari Gaza. Media Israel melaporkan, sebagai proyek percontohan, sebanyak 100 warga Gaza akan dikirim ke Indonesia.

    Proyek Menjijikkan

    Sebelum laporan proyek uji coba pemindahan warga Gaza ke Indonesia ini, telah juga muncul sejumlah laporan kalau negara-negara di Afrika juga menjadi opsi lokasi tujuan pemindahan.

    Profesor madya di Institut Studi Pascasarjana Doha, Tamer Qarmout mengecam usulan pemindahan paksa warga Palestina ke Afrika sebagai “garis merah yang tidak boleh dilampaui.”

    Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Qarmout menyatakan pemerintah dunia memiliki tanggung jawab untuk menghentikanusulan yang “menjijikkan” dan tidak boleh terlibat dalam skenario tersebut, terutama jika melibatkan pemindahan warga Palestina ke negara-negara Afrika yang masih berjuang melawan warisan kolonial.

    “Sudan dan Somalia masih dilanda perang akibat warisan kolonial,” katanya, dikutip dari Al Jazeera.

    “Mereka (pemerintah Israel) harus diekspos dan dimasukkan ke dalam daftar orang-orang yang harus dipermalukan,” ujar Qarmout.

    Menurut laporan, Amerika Serikat dan Israel dilaporkan melakukan pembicaraan diam-diam dengan beberapa negara Afrika Timur, termasuk Somaliland, mengenai kemungkinan penerimaan warga Palestina yang dipindahkan.

    Sebagai imbalannya, berbagai insentif – finansial, diplomatik, dan keamanan – diperkirakan akan ditawarkan kepada pemerintah tersebut.

    Seorang pejabat AS yang terlibat dalam upaya ini mengonfirmasi kepada Associated Press AS telah melakukan pembicaraan dengan Somaliland mengenai bidang-bidang tertentu yang bisa mereka bantu, dengan imbalan pengakuan internasional untuk wilayah yang memisahkan diri tersebut.

    Namun, pejabat Somaliland, Abdirahman Dahir Adan, Menteri Luar Negeri Somaliland, membantah bahwa pihaknya telah menerima atau membahas usulan tersebut.

    “Saya belum menerima usulan seperti itu, dan tidak ada pembicaraan dengan siapa pun terkait Palestina,” katanya kepada Reuters.

    Qarmout menilai usulan pemindahan paksa ini sebagai tindakan yang “keterlaluan” dan mendesak masyarakat internasional untuk menentangnya.

    Ia menegaskan bahwa negara-negara seperti Sudan dan Somalia, yang masih menghadapi tantangan besar akibat warisan kolonial, seharusnya tidak dilibatkan dalam rencana ini.

    AS-Israel Lirik Afrika untuk Pindahkan Warga Gaza

    Amerika Serikat (AS) dan Israel telah menghubungi pejabat dari tiga negara di Afrika Timur untuk mendiskusikan kemungkinan penggunaan wilayah mereka sebagai tempat penampungan bagi warga Palestina dari Gaza.

    Laporan ini muncul dari Associated Press pada Jumat (14/3/2025), yang mengutip sumber dari pejabat AS dan Israel.

    Namun, Sudan menolak tawaran tersebut, sementara Somalia dan Somaliland menyatakan ketidaktahuan mengenai usulan itu.

    Pejabat Sudan secara tegas menolak tawaran untuk menampung warga Gaza.

    Sementara itu, Somalia dan Somaliland mengaku tidak menerima informasi terkait tawaran tersebut.

    Hal ini menunjukkan ketidakpastian dan penolakan dari negara-negara yang diharapkan dapat menampung pengungsi.

    Langkah AS dan Israel ini berlawanan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump sebelumnya.

    Dalam sebuah konferensi pers di Gedung Putih pada Kamis (13/2/2025), Trump menegaskan, “Tidak ada yang akan diusir dari Gaza.”

    Pernyataan ini disampaikan ketika ia bertemu dengan Perdana Menteri Irlandia, Michel Martin.

    Rencana Kontroversial AS

    Pada Februari 2025, Trump mengusulkan rencana yang kontroversial untuk mengambil alih Gaza, merelokasi penduduk Palestina, dan mengubah wilayah tersebut menjadi “Riviera Timur Tengah.”

    Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Trump menyatakan keyakinannya bahwa Yordania dan Mesir tidak akan menolak permintaannya untuk menyambut pengungsi Gaza.

    Baik Yordania maupun Mesir menolak usulan tersebut, dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi dan Raja Yordania Abdullah sepakat bahwa Gaza harus dibangun kembali tanpa mengusir warga Palestina.

    Mesir bahkan mengusulkan rencana rekonstruksi senilai $53 miliar untuk Gaza, yang berfokus pada pembangunan infrastruktur dan layanan penting, tanpa melibatkan Hamas dalam kepemimpinan masa depan.

    Israel dan AS menolak rencana Mesir karena dianggap tidak menawarkan solusi yang jelas untuk mengeluarkan Hamas dari kekuasaan dan tidak mengatasi masalah keamanan serta pemerintahan jangka panjang.

    Dengan situasi yang terus berkembang, langkah AS dan Israel untuk mencari tempat penampungan di Afrika menambah kompleksitas dalam upaya penyelesaian konflik Palestina-Israel.

    Pasukan Israel Tangkap 8 Warga Palestina dalam Penggerebekan di Tepi Barat

    Pasukan Israel menangkap delapan warga Palestina dalam serangkaian penggerebekan yang terjadi di berbagai kota di Tepi Barat, menurut laporan terbaru dari kantor berita Wafa.

    Lima pemuda dari keluarga Al-Zalbani ditangkap selama penyerbuan di kota Anata, timur laut Yerusalem.

    Sebelumnya pada malam itu, seorang pemuda terluka setelah ditembak di perut dengan peluru tajam dalam bentrokan dengan tentara Israel di kota yang sama.

    Selain itu, pasukan Israel menangkap tiga warga Palestina dari kota Silwad, timur Ramallah, menurut sumber keamanan setempat.

    Pasukan Israel juga melakukan serangan di kota Anabta dan Bal’a, timur Tulkarem, serta kota Yerikho.

    Serangkaian penangkapan dan penggerebekan ini terjadi di tengah ketegangan yang meningkat di wilayah tersebut.

     

    (oln/khbrn/tribunnews/*)

     
     

  • Sandera Akan Pulang dalam Peti Mati Jika Israel Bebaskan Paksa

    Sandera Akan Pulang dalam Peti Mati Jika Israel Bebaskan Paksa

    Gaza City

    Kelompok Hamas, yang menguasai Jalur Gaza, mengancam bahwa para sandera mungkin akan terbunuh dan pulang dalam peti mati, jika Israel berupaya membebaskan mereka dengan paksa dan serangan udara terus berlanjut di daerah kantong Palestina itu.

    Hamas dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP, Rabu (26/3/2025), menegaskan mereka “melakukan segala hal yang mungkin untuk menjaga agar para tawanan pendudukan tetap hidup, tetapi bombardir acak Zionis (Israel) membahayakan nyawa mereka”.

    “Setiap kali pendudukan (Israel) berupaya menyelamatkan para tawanan dengan paksa, mereka akhirnya membawa para tawanan kembali dalam peti mati,” sebut Hamas dalam pernyataannya.

    Israel melanjutkan kembali serangan udara yang intens di Jalur Gaza sejak 18 Maret lalu, yang diikuti oleh operasi darat, yang menghancurkan ketenangan yang menyelimuti wilayah tersebut selama gencatan senjata berlangsung sejak pertengahan Januari.

    Sejak gempuran Tel Aviv berlanjut pekan lalu, menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikuasai Hamas, sedikitnya 830 orang telah tewas.

    Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, dalam pernyataan terbarunya pada Selasa (25/3), memperingatkan bahwa Tel Aviv akan mengambil lebih banyak wilayah di Jalur Gaza dan bertempur sampai Hamas musnah, jika kelompok militan itu terus menolak untuk membebaskan para sandera yang tersisa.

    “Jika Hamas tetap keras pendiriannya, maka mereka akan membayar harga yang sangat mahal dan semakin mahal dengan diambil alihnya wilayah (oleh Israel) dan menyingkirkan militan serta infrastruktur teror hingga mereka menyerah sepenuhnya,” tegas Katz dalam sebuah pernyataan video, seperti dilansir Reuters.

    Peringatan terbaru itu disampaikan ketika para mediator melanjutkan upaya untuk menyelamatkan kesepakatan gencatan senjata Gaza yang kolaps akibat gempuran Israel, setelah upaya memperbaruinya menghadapi kebuntuan.

    Israel menegaskan tidak akan pernah lagi menerima pemerintahan Hamas dan kekuatan militernya di Jalur Gaza, setelah serangan mematikan Hamas pada 7 Oktober 2023.

    Pekan lalu, militer Tel Aviv mengumumkan pasukannya memulai operasi darat secara terarah di Jalur Gaza bagian tengah dan selatan, setelah melanjutkan kembali pengeboman udara di wilayah tersebut.

    Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa tujuan dari operasi militer terbaru Tel Aviv adalah memaksa Hamas dan sekutunya membebaskan para sandera yang tersisa.

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini