Tag: Benjamin Netanyahu

  • Israel Disebut Pilih Rampas Tanah Gaza ketimbang Bebaskan Sandera, Menhan Disindir ‘Berkhayal’ – Halaman all

    Israel Disebut Pilih Rampas Tanah Gaza ketimbang Bebaskan Sandera, Menhan Disindir ‘Berkhayal’ – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Forum Sandera dan Keluarga Hilang menganggap Israel tidak memprioritaskan pembebasan warga Israel yang masih disandera Hamas di Jalur Gaza.

    Menurut forum itu, Israel di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu lebih memilih merampas wilayah di Gaza.

    “Mereka berjanji bahwa sandera adalah yang terpenting. Kenyataannya, Israel memlih merampas wilayah ketimbang membebaskan sandera,” kata forum itu dikutip dari The Times of Israel, (17/4/2025).

    “Mereka berjanji akan membuka ‘gerbang neraka’. Kenyataannya, mereka diam-diam mempersiapkan pembaruan bantuan kemanusiaan.”

    Menurut forum itu, rencana Menteri Pertahanan Israel Katz di Gaza hanyalah suatu “khayalan” atau kata-kata kosong semata.

    Forum itu meminta Israel segera mewujudkan perjanjian dengan Hamas demi memulangkan semua sandera yang tersisa.

    “Sudah waktunya menghentikan janji dan slogan palsu. Tak mungkin melanjutkan perang dan dalam waktu bersamaan membebaskan semua sandera,” ujar forum itu.

    Kata forum itu, satu-satunya cara membebaskan sandera ialah sebuah kesepakatan dengan Hamas yang nantinya akan mengakhiri perang di Gaza.

    PEMBEBASAN SANDERA – Foto ini diambil dari publikasi Telegram Brigade Al-Qassam (sayap militer gerakan Hamas) pada Minggu (23/2/2025), memperlihatkan sandera Israel, Omer Shem Tov, mencium kening anggota Brigade Al-Qassam dalam pertukaran tahanan gelombang ke-7 di Jalur Gaza pada Sabtu (22/2/2025). (Telegram/Brigade Al-Qassam)

    Hampir separuh warga Israel meragukan IDF

    Sementara itu, menurut jajak pendapat, hampir separuh warga Israel tidak percaya Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mampu membebaskan sandera dan mengalahkan Hamas di Jalur Gaza secara bersamaan.

    Survei yang dilakukan oleh Viterbi Family Center for Public Opinion and Policy Research menunjukkan bahwa 49 persen responden meyakini pembebasan sandera sekaligus pelenyapan Hamas adalah hal yang tidak mungkin tercapai.

    Adapun 46 persen responden mengaku yakin bahwa kedua hal itu bisa diwujudkan secara bersamaan.

    Ketika ditanya mengenai tujuan yang diprioritaskan, 68 persen responden mengatakan pembebasan sandera harus diutamakan. Hanya 25 persen yang meminta agar pemerintah Israel memprioritaskan penggulingan Hamas.

    “Jumlah responden yang memilih pemulangan sandera sebagai tujuan terpenting telah naik signifikan, sedangkan responsen yang memprioritaskan penggulingan Hamas turun,” kata lembaga survei itu dikutip dari Al Mayadeen.

    Survei ini dilakukan dari tanggal 31 Maret hingga 6 April 2025. Jumlah responden adalah 598 warga Yahudi dan 150 warga keturunan Arab.

    PASUKAN PERTAHANAN ISRAEL – Foto yang diambil dari laman resmi Pasukan Pertahanan Israel (IDF) tanggal 15 April 2025 memperlihatkan personel IDF sedang beraksi di Jalur Gaza. (Laman IDF)

    Sebelumnya, pada survei Januari 2024, baru sekitar setengah warga Israel meyakini pemulangan sandera adalah hal terpenting.

    Sebanyak 91 persen responden dari sayap kiri dan 60,5 responden dari sayap tengah mengatakan pemulangan sandera lebih penting. Sementara itu, hanya ada 52 persen responden dari sayap kanan yang berpikir serupa.

    Di antara responden yang memilih mengutamakan penggulingan Hamas, 74 persen di antara mereka merasa kedua tujuan Israel di Gaza bisa dicapai secara bersamaan.

    Adapun 59 persen dari responden yang meyakini pemulangan sandera adalah prioritas mengatakan kedua tujuan itu tidak bisa dicapai bersamaan.

    Survei yang mirip pernah dilakuan pada bulan November 2024. Hasilnya, 64 responden mengatakan pembebasan tahanan untuk mengakhiri perang harus diutamakan ketimbang melanjutkan perang.

    Hanya 20 persen responden yang mendukung perang diteruskan, sedangkan 11 persen lainnya belum memutuskan pilihan.

    (*)

  • Gempuran Israel Hantam Kamp Pengungsi di Gaza, 25 Orang Tewas

    Gempuran Israel Hantam Kamp Pengungsi di Gaza, 25 Orang Tewas

    Gaza City

    Gelombang serangan udara Israel menghantam sejumlah kamp pengungsi Palestina di Jalur Gaza. Sedikitnya 25 orang tewas akibat rentetan serangan terbaru Tel Aviv tersebut.

    Juru bicara badan pertahanan sipil Gaza, Mahmud Bassal, seperti dilansir AFP, Kamis (17/4/2025), melaporkan serangan-serangan udara Israel menargetkan beberapa tenda di area Al-Mawasi, Khan Younis, semalam. Sedikitnya 16 orang tewas akibat serangan di area tersebut.

    “Sedikitnya 16 orang tewas, kebanyakan dari mereka adalah wanita dan anak-anak, dan 23 orang lainnya mengalami luka-luka setelah serangan langsung dari dua rudal Israel menghantam beberapa tenda yang menampung keluarga-keluarga yang mengungsi di area Al-Mawasi di Khan Younis,” tutur Bassal kepada AFP.

    Menurut Bassal, dua serangan lainnya menghantam area perkemahan pengungsi lainnya hingga menewaskan delapan orang dan melukai beberapa orang lainnya.

    Salah satu serangan mengenai kamp pengungsi di kota Beit Lahia hingga menewaskan tujuh orang di antaranya, sedangkan satu serangan lainnya menghantam area dekat Al-Mawasi hingga menewaskan seorang ayah dan anaknya yang tinggal di tenda.

    Israel melanjutkan kembali serangan udara dan serangan darat terhadap Jalur Gaza sejak 18 Maret lalu, yang mengakhiri gencatan senjata dengan Hamas selama dua bulan yang sebagian besar telah menghentikan pertempuran di wilayah tersebut.

    Pada Rabu (16/4) dini hari, serangan udara Israel menghantam area Gaza City hingga menewaskan 10 orang, termasuk sejumlah wanita dan anak-anak. Serangan lainnya menghantam area Khan Younis dan menewaskan seorang anak.

    Sejak kembali melanjutkan serangannya terhadap Jalur Gaza pada Maret lalu, pasukan Israel telah merebut sebagian besar wilayah Jalur Gaza, dengan ratusan ribu penduduk sipil melarikan diri dari area-area yang menjadi target serangan insentif militer Tel Aviv.

    Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu (16/4) menyebut sekitar 500.000 warga Palestina telah mengungsi sejak berakhirnya gencatan senjata Gaza pada pertengahan Maret lalu.

    “Mitra kemanusiaan kami memperkirakan bahwa sejak 18 Maret, sekitar setengah juta orang telah mengungsi atau kembali terusir,” sebut juru bicara Sekjen PBB Antonio Guterres, Stephanie Tremblay.

    Pejabat-pejabat senior Israel, termasuk Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu, telah berulang kali menegaskan bahwa tekanan militer menjadi satu-satunya cara untuk memaksa Hamas membebaskan para sandera yang masih ditahan di Jalur Gaza.

    Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bahkan menegaskan kembali bahwa militer Tel Aviv akan terus menyerang Hamas dan infrastrukturnya di wilayah Jalur Gaza.

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

  • Palestina Kecam Kunjungan Langka Netanyahu ke Gaza: Penyerbuan!

    Palestina Kecam Kunjungan Langka Netanyahu ke Gaza: Penyerbuan!

    Gaza City

    Kementerian Luar Negeri Palestina mengecam keras kunjungan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu ke Jalur Gaza pada Selasa (15/4) waktu setempat. Otoritas Palestina yang berkantor di Tepi Barat menyamakan kunjungan Netanyahu dengan “penyerbuan”.

    “Penyerbuan provokatif oleh Benjamin Netanyahu ke Gaza bagian utara, beserta pernyataan-pernyataannya, dimaksudkan untuk memperpanjang dan mengintensifkan kejahatan genosida dan pemindahan paksa (di wilayah Palestina),” sebut Kementerian Luar Negeri Palestina seperti dilansir AFP, Kamis (17/4/2025).

    Dalam kunjungan singkat, yang tergolong langka, ke Jalur Gaza itu, Netanyahu menemui pasukan Israel yang ditugaskan di daerah kantong Palestina itu dalam perang melawan Hamas.

    Kunjungan ini dilakukan saat militer Israel terus melancarkan serangan udara dan serangan darat terhadap wilayah tersebut.

    Berbicara di hadapan pasukan Israel, Netanyahu menegaskan bahwa Israel akan terus melancarkan serangan militer terhadap Hamas untuk mengamankan pembebasan para sandera yang masih ditahan.

    “Mereka menyerang musuh dan Hamas akan terus merasakan pukulan demi pukulan. Kita bersikeras agar mereka membebaskan para sandera kita, dan kita bersikeras untuk mencapai semua tujuan perang kita,” kata Netanyahu kepada pasukan Israel di Gaza, menurut pernyataan yang dirilis oleh kantor PM Israel.

    Militer Israel melanjutkan serangannya terhadap Gaza pada 18 Maret lalu, yang mengakhiri gencatan senjata selama dua bulan dengan Hamas, yang sebagian besar telah menghentikan pertempuran di wilayah itu.

    Sejak saat itu, pasukan Israel merebut sebagian besar wilayah Jalur Gaza, dengan ratusan ribu penduduk sipil melarikan diri dari area-area yang menjadi target serangan gencar Israel.

    Pejabat-pejabat senior Israel, termasuk Netanyahu, telah berulang kali menegaskan bahwa hanya tekanan militer yang akan memaksa Hamas untuk membebaskan para sandera yang tersisa di Gaza.

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

  • Trump Menentang, Israel Batalkan Rencana Serang Fasilitas Nuklir Iran

    Trump Menentang, Israel Batalkan Rencana Serang Fasilitas Nuklir Iran

    Washington DC

    Israel sedang bersiap untuk melancarkan serangan militer terhadap sejumlah target nuklir di wilayah Iran, namun kemudian dibatalkan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melakukan intervensi. Trump dilaporkan menentang keras rencana serangan Tel Aviv terhadap fasilitas nuklir Teheran tersebut.

    Laporan New York Times (NYT), yang mengutip sejumlah pejabat pemerintahan AS yang memahami persoalan itu, seperti dilansir Reuters dan Newsweek, Kamis (17/4/2025), menyebut Trump memblokir rencana serangan Israel demi menegosiasikan kesepakatan dengan Iran untuk membatasi program nuklir mereka.

    NYT dalam laporannya menyebut Israel telah menyusun rencana untuk menyerang situs nuklir Iran pada Mei tahun lalu, dengan tujuan menghambat kemampuan Iran dalam mengembangkan senjata nuklir selama satu tahun atau lebih.

    Namun, menurut laporan NYT, Trump melakukan intervensi karena AS cenderung mengambil pendekatan diplomatik terhadap Iran daripada pendekatan militer.

    Disebutkan oleh NYT bahwa Trump memutuskan berunding dengan Iran setelah berbulan-bulan terjadi perdebatan internal di kalangan pejabat pemerintahan AS yang mendukung sikap militer yang lebih kuat terhadap Teheran dan kalangan yang mewaspadai perang lebih luas di Timur Tengah ketika ketegangan di kawasan itu sudah mencapai titik kritis.

    Trump, sebut laporan NYT, telah mengatakan kepada Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu bahwa AS tidak akan mendukung serangan militer terhadap Iran. Penegasan Trump itu menggagalkan optimisme Israel untuk mendapatkan dukungan Washington bagi rencananya.

    Bantuan AS, menurut laporan NYT, diperlukan tidak hanya untuk membela Israel dari pembalasan Iran, tetapi juga memastikan serangan itu berhasil.

    Pekan lalu, Trump mengumumkan AS sedang melakukan pembicaraan langsung dengan Iran membahas isu nuklir. Pengumuman itu disampaikan Trump di Ruang Oval setelah pertemuannya dengan Netanyahu yang berkunjung ke Gedung Putih.

    Pada Sabtu (12/5) lalu, AS dan Iran akhirnya menggelar pembicaraan di Oman, yang merupakan pembicaraan pertama kali selama pemerintahan Trump, termasuk pada masa jabatan pertamanya pada tahun 2017-2021 lalu. Kedua negara menggambarkan pembicaraan itu berlangsung “positif” dan “konstruktif”.

    Putaran kedua untuk pembicaraan itu dijadwalkan akan digelar pada Sabtu (19/4) mendatang, dengan seorang sumber yang memahami rencana pertemuan kedua itu menyebut pembicaraan kemungkinan akan dilakukan di Roma, Italia.

    Keputusan Trump untuk mengupayakan diplomasi dengan Iran sangat kontras dengan masa jabatan pertamanya, ketika dia menarik AS dari kesepakatan nuklir Iran dan memberikan izin untuk serangan militer yang menewaskan jenderal terkemuka Iran, Qassem Soleimani.

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

  • AS Siapkan 3.000 Amunisi, Bakal Dikirim ke Israel Jelang Operasi Lanjutan di Gaza – Halaman all

    AS Siapkan 3.000 Amunisi, Bakal Dikirim ke Israel Jelang Operasi Lanjutan di Gaza – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Amerika Serikat (AS) tengah bersiap mengirimkan 3.000 amunisi dan persenjataan tempur ke Israel menjelang digelarnya operasi lanjutan di Gaza.

    Selain pengiriman yang akan datang, AS  juga akan mengirimkan lebih dari 10.000 amunisi udara tambahan.

    Hal ini diungkap oleh Media lokal Israel Ynet, dalam laporannya terungkap bahwa Israel dalam waktu dekat akan menerima puluhan ribu amunisi dari Washington.

    Adapun pengiriman ini dilakukan AS selain untuk mengisi kembali persediaan yang habis selama satu setengah tahun terakhir akibat perang multi-front yang berkepanjangan.

    Juga untuk meningkatkan kesiapan kekuatan udara dalam operasi besar di Gaza.

    Lebih lanjut, pengiriman ribuan amunisi juga dimaksudkan untuk persiapan melawan Iran jika pembicaraan mengenai nuklir antara AS dan Teheran gagal mencapai kesepakatan.

    AS Sempat Tangguhkan Bantuan Senjata

    Sebelum pengiriman tersebut dilakukan, tahun lalu Presiden AS ke-45 Joe Biden sempat menangguhkan pengiriman senjata dari Israel lantaran pasukan Netanyahu terus melakukan invasi besar-besaran ke Rafah di Gaza selatan.

    Namun pasca kepemimpinan AS berpindah tangan ke Presiden Donald Trump, AS mulai kembali memasok persenjataan untuk Israel.

    Bahkan para Senat AS dengan suara bulat menolak tawaran untuk memblokir  penjualan senjata  ke Israel atas krisis hak asasi manusia yang dihadapi warga Palestina di Gaza.

    Alhasil pada Februari lalu pemerintah AS menyetujui kesepakatan pengiriman senjata besar-besaran ke Israel senilai 7,41 miliar dolar atau sekitar Rp124 triliun.

    Senjata-senjata yang dimaksud diantaranya ada 3.000 rudal AGM-114 Hellfire, 2.166 bom berpemandu GBU-39.

    Kemudian lebih dari 13.000 perangkat pemandu JDAM untuk bom udara berbagai ukuran, dan lebih dari 17.000 sekering FMU-152A/B juga akan dikirim ke Israel

    Komponen-komponen ini akan dipasok oleh kontraktor pertahanan utama Amerika seperti Lockheed Martin, Boeing, dan L3Harris, dengan pengiriman dimulai tahun ini dan berlanjut hingga 2028.

    Amerika Pemasok Utama Senjata Israel

    Bersamaan dengan pengiriman senjata untuk tentara Israel, AS mengatakan pihaknya akan terus mendukung diplomasi dan de-eskalasi di kawasan itu.

    Para kritikus telah mencatat bahwa Washington sejauh ini tak hanya memberikan dukungan diplomatik namun juga dukungan militer senilai miliaran dolar kepada Israel.

    Adapun bantuan seperti ini diketahui telah disalurkan AS selama puluhan tahun, hingga membuat negeri Paman Sam ini menjadi penyokong utama pendanaan  militer Israel dalam setiap perang melawan musuh-musuhnya. 

    Untuk membantu pertahanan Israel, setiap tahunnya AS diketahui menyumbangkan bantuan militer senilai 3,8 miliar dolar AS atau setara Rp 60,27 triliun.

    Bahkan ketika ketegangan antara Hamas dan Israel berlangsung, AS terus memasok Tel Aviv dengan 21.000 amunisi peluru artileri berukuran 155 mm.

    Serta ribuan amunisi penghancur bunker, 200 drone kamikaze dan bom presisi Spice Family Gliding Bomb Assemblies dengan nilai 320 juta  dolar atau setara Rp5 triliun.

     Menurut catatan The Washington Post, sejak perang Gaza pecah pada 7 oktober silam, Amerika Serikat setidaknya telah menyetujui 100 perjanjian senjata dengan pendudukan Israel.

    AS mengklaim penjualan  peluru tank kepada Israel merupakan bentuk dukungan untuk kepentingan keamanan Timur Tengah dari ancaman Hamas. Namun tindakan ini mendapat sorotan negatif dari sejumlah pihak.

    (Tribunnews.com / Namira)

  • Gagal Damai! Hamas Tolak Gencatan Senjata, Israel Ogah Hengkang dari Gaza – Halaman all

    Gagal Damai! Hamas Tolak Gencatan Senjata, Israel Ogah Hengkang dari Gaza – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Upaya gencatan senjata antara Israel dan Hamas kembali menemui jalan buntu.

    Hamas menolak proposal terbaru yang diajukan Israel karena dinilai sepihak dan tidak menjamin diakhirinya perang.

    Tak ada juga komitmen dari Israel untuk menarik pasukan dari Jalur Gaza.

    Mengutip laporan BBC dan JNS, Israel melalui mediator Mesir menawarkan pelucutan senjata Hamas dan pembebasan sebagian sandera.

    Sebagai imbalan, Israel akan memberikan gencatan senjata selama enam minggu dan membuka kembali akses bantuan kemanusiaan yang sebelumnya diblokade sejak awal Maret.

    Tidak ada klausul mengenai penghentian perang secara permanen atau penarikan militer Israel dari Gaza.

    “Usulan itu menyerukan pelucutan senjata tanpa jaminan akhir perang atau penarikan pasukan. Itu sebabnya Hamas menolaknya secara keseluruhan,” ujar seorang pejabat Hamas kepada BBC (16/4/2025).

    Hamas Ajukan Syarat Tegas: Hentikan Perang dan Hengkang dari Gaza

    Hamas bersedia membebaskan semua sandera jika Israel menghentikan agresi dan menarik pasukan dari seluruh wilayah Gaza.

    Pernyataan ini ditegaskan kembali oleh seorang pejabat senior Hamas dalam wawancaranya dengan The Times of Israel.

    Tuntutan itu ditolak oleh Israel.

    Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa perang tidak akan berakhir sebelum Hamas benar-benar dilumpuhkan.

    Netanyahu Didukung Sayap Kanan untuk Lanjutkan Serangan

    Netanyahu mendapat tekanan kuat dari koalisi sayap kanan untuk terus melanjutkan operasi militer di Gaza.

    Ia bahkan mengunjungi pasukan di Gaza utara pada Selasa (15/4) dan menyatakan bahwa Hamas akan terus diserang sampai menyerah.

    “Semakin mereka menolak, semakin besar pukulan yang akan mereka terima,” tegas Netanyahu dikutip dari JNS.

    Hamas Kehilangan Kontak dengan Penculik Sandera Amerika

    Di tengah ketegangan, Hamas mengklaim kehilangan kontak dengan tim penculik Edan Alexander, tentara Israel-Amerika yang menjadi salah satu sandera utama.

    Jubir sayap militer Hamas, Abu Obeida, menyebut serangan udara Israel sebagai penyebab putusnya komunikasi.

    Militer Israel (IDF) membantah telah melakukan serangan di lokasi tersebut.

    Alexander merupakan satu-satunya warga negara AS yang masih hidup di antara para sandera.

    Hamas sebelumnya menawarkan pembebasannya bersama jenazah empat warga AS-Israel lain, namun Israel menolak tawaran itu dan menyebutnya propaganda.

    Ribuan Tewas, Gencatan Masih Jauh dari Kenyataan

    Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 50.000 orang tewas atau hilang sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023.

    Israel mengklaim telah menewaskan lebih dari 20.000 pejuang Hamas.

    Sementara itu, 59 sandera diyakini masih ditahan di Gaza, dengan hanya 24 yang diperkirakan masih hidup.

    Blokade bantuan kemanusiaan tetap berlangsung.

    Negosiasi damai pun kembali gagal, dan perang terus berlanjut tanpa kepastian akhir.

    (Tribunnews.com, Andari Wulan Nugrahani)

  • Populer Internasional: China Batalkan Kontrak dengan Boeing – Kembalinya Kendaraan Lapis Baja Rusia – Halaman all

    Populer Internasional: China Batalkan Kontrak dengan Boeing – Kembalinya Kendaraan Lapis Baja Rusia – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Rangkuman berita populer internasional dapat disimak di sini.

    China membatalkan kontrak dengan Boeing, membuat perang dagang dengan AS semakin memanas.

    Sementara itu, AS mengeluarkan ultimatum kepada Iran untuk pengayaan uranium.

    Soal perang Rusia-Ukraina, kendaraan lapis baja Rusia kini mulai terlihat.

    Berikut berita selengkapnya.

    1. China Batalkan Kontrak dengan Boeing di Tengah Perang Dagang, Trump Tanggapi Sikap Beijing

    Ketegangan antara Amerika Serikat dan China kembali memanas setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa keputusan untuk melanjutkan perundingan dagang berada sepenuhnya di tangan Beijing.

    Pernyataan tersebut disampaikan oleh juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt pada Selasa (15/4/2025) di tengah meningkatnya friksi antara dua ekonomi terbesar dunia.

    “Bola ada di tangan China. China perlu membuat kesepakatan dengan kami. Kami tidak harus membuat kesepakatan dengan mereka,” ujar Leavitt saat membacakan pernyataan Trump, dikutip dari CNA.

    Meskipun Trump disebut terbuka untuk kembali bernegosiasi, Leavitt menegaskan bahwa inisiatif harus datang dari pihak China. 

    Pernyataan Trump ini menyusul keputusan China untuk membatalkan kesepakatan besar dengan Boeing. 

    Trump mengungkapkan di media sosial bahwa Beijing telah memerintahkan maskapai penerbangannya untuk tidak menerima pengiriman pesawat dari produsen jet asal AS tersebut.

    “Menariknya, mereka baru saja mengingkari kesepakatan besar dengan Boeing, dengan mengatakan bahwa mereka ‘tidak akan mengambil alih’ pesawat yang telah sepenuhnya dikomitmenkan,” tulis Trump dalam platform Truth Social.

    Laporan dari Bloomberg News menguatkan pernyataan Trump, menyebut bahwa China tidak hanya menolak pengiriman jet Boeing, tetapi juga menghentikan pembelian peralatan dan suku cadang pesawat dari perusahaan-perusahaan Amerika.

    BACA SELENGKAPNYA >>>

    2. AS Ultimatum Iran: Stop Total Pengayaan Uranium atau Bersiap Perang

    Amerika Serikat kembali mengeluarkan peringatan keras terhadap Iran.

    Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, menyatakan Teheran harus “menghentikan dan menghilangkan” seluruh program pengayaan nuklirnya jika ingin mencapai kesepakatan dengan Washington.

    “Setiap pengaturan akhir harus menetapkan kerangka kerja untuk perdamaian, stabilitas, dan kesejahteraan di Timur Tengah – yang berarti bahwa Iran harus menghentikan dan menghilangkan program pengayaan dan persenjataan nuklirnya,” kata Witkoff, Selasa (15/4/2025), dikutip dari Fox News dan Middle East Eye.

    Pernyataan ini tampak berbalik arah dari komentarnya sehari sebelumnya, yang menyiratkan AS bisa menerima pengayaan uranium dalam tingkat rendah untuk energi sipil.

    BACA SELENGKAPNYA >>>

    3. Kendaraan Lapis Baja Rusia Telah Kembali, Ukraina Rilis Video Pergerakan MT-LB di Sekitar Zaporizhia

    Setelah sebelumnya mengandalkan serangan infanteri ringan pada akhir tahun 2024 dan awal 2025, kepemimpinan militer Rusia di Moskow tampaknya kembali ke strategi awal, yakni mengerahkan tank, sepeda motor, bahkan kendaraan sipil untuk mengangkut pasukan penyerang ke garis depan.

    Temuan tersebut dilaporkan Institut Studi Perang (Institute for the Study of War/ISW), seperti dikutip Kyiv Post.

    ISW menilai Rusia beralih dari kendaraan berat ke infanteri ringan karena masifnya pergerakan pesawat nirawak milik Ukraina dalam menargetkan tank dan pengangkut personel lapis baja Rusia.

    Juru Bicara Kelompok Pasukan Luhansk, Letnan Kolonel Dmytro Zaporozhets, mengatakan pada akhir pekan lalu bahwa Angkatan Bersenjata Ukraina (AFU) berhasil menangkis serangan mekanis berskala kompi dari pasukan Rusia terhadap Stupochky (selatan Chasiv Yar) dan Klishchiivka (tenggara Chasiv Yar) pada hari Minggu (13/4/2025), di wilayah Donetsk yang diduduki. 

    BACA SELENGKAPNYA >>>

    4. Hamas: Menyerah Bukan Pilihan, Netanyahu Lakukan Kejahatan Perang demi Masa Depan Politiknya Sendiri

    Seorang pejabat senior Hamas menegaskan kembali bahwa menyerah bukanlah pilihan bagi kelompoknya.

    Ia juga mengecam keras agresi Israel yang disebutnya sebagai perang genosida di Jalur Gaza, serta mengecam Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, melakukan kejahatan perang demi kelangsungan karier politiknya sendiri.

    Mengutip PressTV, Sami Abu Zuhri, Kepala Biro Politik Hamas di luar negeri, menyatakan pada Selasa (15/4/2025) bahwa Hamas tidak akan pernah menyerah dan akan terus berjuang untuk memenuhi tuntutan rakyat Palestina.

    Zuhri menegaskan komitmen Hamas untuk menggunakan segala bentuk tekanan dalam menghadapi rezim pendudukan.

    Ia juga menyatakan bahwa Hamas telah merespons secara positif semua inisiatif gencatan senjata yang bertujuan memenuhi kebutuhan sah rakyat Palestina.

    BACA SELENGKAPNYA >>>

    5. 2 Dugaan Penyebab Jet Tempur F-16 Ukraina Bisa Dijatuhkan Rusia, Salah Satunya Terkait MEZ

    Penyebab jet tempur F-16 milik Angkatan Udara Ukraina (AUF) bisa ditembak jatuh oleh militer Rusia masih menjadi teka-teki,

    Jet tempur itu jatuh pada hari Sabtu, (12/4/2025), dan menewaskan pilotnya, yakni Pavlo Ivanov. AUF mengonfirmasi peristiwa itu pada hari yang sama.

    “Kami menyampaikan dukacita mendalam kepada keluarga Paul. Dia gugur dalam pertempuran untuk membela tanah airnya dari para penyerbu,” kata UAF dikutip dari Kyiv Post.

    Ukraina belum mengonfirmasi lokasi jatuhnya jet tersebut. Para blogger militer Rusia dan Ukraina mengklaim jet itu ditembak jatuh oleh rudal darat ke udara (surface to air missile).

    Sehari kemudian Kementerian Rusia menyebut jet itu ditembak oleh sistem pertahananan udara.

    “Sistem pertahanan udara menembak jatuh satu jet F-16 Ukraina, delapan bom udara berpemandu JDAM, tujuh rudal HIMARS buatan AS, dan 207 drone dengan sayap tetap,” kata kementerian itu dikutip dari Eurasian Times.

    BACA SELENGKAPNYA >>>

    (Tribunnews.com)

  • Bos Militer Zionis: Hamas Tak Bisa Dikalahkan, Pasukan Cadangan Israel Sudah Kewalahan – Halaman all

    Bos Militer Zionis: Hamas Tak Bisa Dikalahkan, Pasukan Cadangan Israel Sudah Kewalahan – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Kepala Staf baru militer Israel, Eyal Zamir, dilaporkan telah memperingatkan pemerintah Israel soal krisis tentara zionis di medan perang Gaza.

    Zamir menyebut kekurangan tentara dapat membatasi ambisi perang Tel Aviv di Jalur Gaza.

    Zamir mengatakan kepada Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu dan kabinetnya bahwa strategi militer saja tidak dapat memenuhi semua tujuan perang di Gaza.

    “Terutama jika tidak ada jalur diplomatik yang melengkapi,” ujar Zamir, Senin (14/4/2025).

    Dalam sebuah cuitan yang ditayangkan Palestine Chronicle, Zamir juga menyebut bahwa ‘Hamas tidak dikalahkan, dan pasukan cadangan sudah kewalahan’.

    Laporan tersebut mengutip pernyataan seorang pejabat senior pertahanan yang mengatakan bahwa ‘Zamir tidak menutup-nutupi fakta’.

    “Dia memberi tahu para pemimpin untuk meninggalkan sebagian fantasi mereka,” ujar pejabat senior tersebut.

    Dilaporkan juga terdapat keengganan tentara Isarel untuk berperang.

    Lantaran hal tersebut mereka anggap atau gambarkan sebagai kegagalan masa lalu.

    Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa 18 bulan setelah serangan di Gaza, Hamas terus menguasai sebagian besar Jalur Gaza.

    Dan, sambil membangun kembali perjuangan Gaza, yang mana masih memiliki sekitar 20.000 pejuang, menurut intelijen Israel.

    Ia juga mengutip pidato terbaru Zamir di mana ia mengakui bahwa Hamas belum dikalahkan.

    Laporan tersebut mencatat bahwa pendudukan Israel kembali Gaza secara penuh bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

    Dan tentu saja perlu pengaktifan kembali tentara cadangan Israel.

    (Tribunnews.com/Garudea Prabawati)

  • Tentara Israel Klaim Tewaskan Ajudan Komandan Senior Hamas yang Berkali-kali Lolos dari Serangan IDF – Halaman all

    Tentara Israel Klaim Tewaskan Ajudan Komandan Senior Hamas yang Berkali-kali Lolos dari Serangan IDF – Halaman all

    Tentara Israel Klaim Tewaskan Ajudan Komandan Senior Hamas yang Berkali-kali Lolos dari Serangan IDF

    TRIBUNNEWS.COM – Tentara Israel, Rabu (16/4/2025) mengklaim telah membunuh seorang tokoh senior dalam sayap bersenjata kelompok Perlawanan Palestina, Hamas dalam serangan di Kota Gaza beberapa hari yang lalu.

    Dalam pernyataan militer, yang dikutip oleh portal berita Times of Israel, tentara Israel (IDF) dan dinas keamanan dalam negeri (Shin Bet) ‘mengeleminasi’ Mahmoud Abu Hisirah.

    IDF mengidentifikasi dia sebagai pembantu dekat Izz ad-Din Haddad, komandan Brigade Gaza, Al-Qassam.

    Adapun Haddad selamat dari beberapa upaya pembunuhan Israel selama perang yang sedang berlangsung dan sebelumnya, menurut media Israel.

    Pernyataan itu juga mengklaim kalau Abu Hisirah ikut serta dalam serangan Hamas terhadap Pangkalan Militer Nahal Oz milik tentara Israel, dekat Gaza, pada tahun 2014, yang mengakibatkan lima tentara tewas.

    Hamas belum mengomentari klaim Israel tersebut.

    Tentara Israel memperbarui serangan mematikan di Gaza pada tanggal 18 Maret, menghancurkan gencatan senjata dan perjanjian pertukaran tahanan yang berlaku pada bulan Januari.

    Setidaknya 51.000 warga Palestina, sebagian besar wanita dan anak-anak, tewas di Gaza dalam serangan brutal Israel sejak Oktober 2023.

    Pengadilan Kriminal Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan November lalu untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanannya Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

    Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas perangnya di daerah kantong tersebut.

    NETANYAHU DI GAZA – Tangkap layar Telegram Netanyahu 16 April 2025, memperlihatkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kanan) dan Menteri Pertahanan Yisrael Katz (kiri) mengunjungi tentara Israel di Gaza utara pada hari Selasa (15/4/2025). (Telegram Netanyahu)

    Netanyahu Injak Tanah Gaza

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan secara langsung mengunjungi tentara Israel di Gaza utara pada hari Selasa (15/4/2025).

    Ia berjanji akan melakukan serangan udara lebih lanjut terhadap warga Palestina di daerah kantong yang hancur itu.

    Sebelumnya, Kantor Perdana Menteri Israel mengatakan Netanyahu bersama Menteri Pertahanan Israel Katz mengunjungi Jalur Gaza utara pada hari Selasa.

    “Saya di sini bersama Menteri Pertahanan, para komandan militer, para pejuang reguler dan tentara cadangan kita yang hebat… Mereka menyerang musuh,” kata Netanyahu saat inspeksi lapangan terhadap tentara di Gaza utara.

    Ia mengatakan Israel akan terus memberikan lebih banyak tekanan kepada Hamas.

    “Hamas akan terus menerima lebih banyak pukulan,” ujarnya.

    “Kami berkeras ingin membebaskan sandera kami, kami berkeras ingin mencapai semua tujuan perang kami, dan kami melakukannya berkat para prajurit pemberani kami,” imbuh Netanyahu.

    Sementara itu, Israel Katz mengklaim operasi militer Israel berlangsung dengan intensif.

    “Operasi yang sedang berlangsung (genosida intensif) menekan Hamas untuk membebaskan para tawanan, dan selama Hamas terus bersikap keras kepala, kami akan terus meningkatkan serangan hingga Hamas dikalahkan dan semua tawanan dikembalikan,” kata Israel Katz, seperti diberitakan Al Araby.

    Kunjungan mendadak itu dirahasiakan dengan sangat ketat dan tidak diumumkan hingga setelah kunjungan berakhir.

    Pernyataan Netanyahu juga tidak menanggapi pengumuman Hamas pada hari Selasa bahwa mereka telah kehilangan kontak dengan kelompok yang menyandera Aidan Alexander, seorang warga negara Israel-Amerika.

    100.000 Warga Israel Tandatangani Petisi untuk Menolak Perang

    Surat kabar Israel, Haaretz, melaporkan jumlah warga Israel yang menandatangani petisi untuk menghentikan perang dan mengembalikan tahanan melebihi 100.000 dalam lima hari. 

    Mereka yang berpartisipasi dalam penandatanganan petisi tersebut berasal dari berbagai kalangan.

    “Sekitar 1.700 seniman dan intelektual di Israel menandatangani petisi yang menyerukan diakhirinya perang di Gaza dan pengembalian tahanan yang ditahan di Jalur Gaza,” lapor Haaretz, Rabu (16/4/2025).

    Setelah sekitar 1.000 personel Angkatan Udara Israel menerbitkan surat yang menyerukan diakhirinya perang Israel di Jalur Gaza, lebih dari 150 mantan perwira angkatan laut Israel juga menandatangani surat serupa yang menentang perang di Jalur Gaza.

    Radio Angkatan Darat Israel juga melaporkan setidaknya ada 100 dokter militer cadangan yang menandatangani surat yang menyerukan gencatan senjata dan pengembalian tahanan.

     

    (oln/anews/*)

  • Al-Qassam: Tawanan Israel di Gaza Potensi Tewas dan Berada di Peti Mati Hitam usai Serangan Zionis – Halaman all

    Al-Qassam: Tawanan Israel di Gaza Potensi Tewas dan Berada di Peti Mati Hitam usai Serangan Zionis – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas memberikan peringatan pada keluarga sandera Israel, terkait keselamatan keluarga mereka yang saat ini masih berada di Gaza.

    Peringatan Al-Qassam dirilis dalam bentuk pesan video.

    Al-Qassam menyatakan para keluarga sandera perlu bersiap akan kemungkinan terburuk, hal ini lantaran banyak sandera Israel tewas lantaran ulah tentara zionis sendiri.

    “Bersiaplah. Sebentar lagi putra-putra kalian akan kembali dalam peti mati hitam,” ujar keterangan Al-Qassam, Selasa (15/4/2025).

    Pejuang Palestina tersebut juga mengatakan bahwa pemerintahan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu memang menargetkan tawanan Israel di Gaza.

    “Pimpinan kalian telah menandatangani surat perintah hukuman mati bagi para tawanan, jadi persiapkan tempat pemakaman mereka,” katanya, mengutip Palestine Chronicle, Rabu (16/4/2025). 

    Perkembangan ini menyusul perilisan video oleh Al-Qassam Sabtu lalu yang memperlihatkan seorang tawanan bernama Edan Alexander.

    Edan Alexander merupakan warga berkebangsaan ganda, termasuk Amerika Serikat (AS).

    Dalam video dirinya memohon kepada Presiden AS Donald Trump untuk campur tangan guna membebaskannya. 

    Dalam video tersebut, ia menuduh Netanyahu menelantarkan para tawanan di Gaza.

    Hal ini terjadi setelah Israel mengingkari perjanjian gencatan senjata dan melanjutkan serangannya di Jalur Gaza.

    Kekerasan Israel yang kembali terjadi pada tanggal 18 Maret telah melanggar gencatan senjata yang dimulai pada tanggal 19 Januari. 

    Tindakan militer Israel terbaru telah menewaskan dan melukai ribuan warga Palestina, sebagian besar warga sipil.

    Meskipun pelanggaran tersebut telah dikutuk oleh banyak negara dan kelompok hak asasi manusia, AS tetap melanjutkan dukungannya terhadap Israel.

    AS menegaskan bahwa kampanye militer tersebut dilakukan dengan pengetahuan dan persetujuan sebelumnya dari Washington.

    Diketahui, sejak Oktober 2023, Israel telah menewaskan lebih dari 50.000 warga Palestina, sebagian besar wanita dan anak-anak, dan meninggalkan Gaza dalam kondisi hancur. 

    Selain itu, lebih dari 116.000 orang terluka, sementara 14.000 orang masih hilang.

    Pada bulan November 2024, Pengadilan Kriminal Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant, menuduh mereka melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

    (Tribunnews.com/Garudea Prabawati)