Tag: Benjamin Netanyahu

  • Juru Bicara Hizbullah Tewas Akibat Serangan Israel di Beirut

    Juru Bicara Hizbullah Tewas Akibat Serangan Israel di Beirut

    Beirut

    Juru bicara Hizbullah, Mohammed Afif, tewas dalam serangan Israel di pusat Kota Beirut, Lebanon. Informasi tewasnya Afif telah dikonfirmasi oleh sumber keamanan Lebanon.

    “Serangan terhadap Ras al-Nabaa membunuh pejabat hubungan media Hizbullah, Mohammed Afif,” kata sumber keamanan tersebut, yang meminta tidak disebutkan namanya, dilansir AFP, Senin (18/11/2024).

    Kantor berita nasional Lebanon melaporkan bahwa sekretaris jenderal partai Baath cabang Lebanon, Ali Hijazi, juga telah mengkonfirmasi kematian Afif.

    Sementara itu, tentara Israel menolak berkomentar, namun Afif adalah orang terakhir dalam daftar panjang pejabat Hizbullah yang terbunuh sejak Israel pada 23 September mulai membombardir benteng-benteng Hizbullah setelah hampir setahun terjadi baku tembak lintas batas dengan kelompok yang didukung Iran terkait perang Gaza.

    Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan serangan itu menewaskan satu orang dan melukai tiga lainnya. Jumlah korban ini masih sementara karena proses pencarian sedang dilakukan dengan menghilangkan puing-puing dari lokasi serangan.

    Afif adalah bagian dari lingkaran dalam pemimpin lama Hizbullah, Hassan Nasrallah, yang terbunuh dalam serangan Israel pada September lalau.

    Selama bertahun-tahun, Afif bertanggung jawab atas hubungan media Hizbullah, memberikan informasi kepada jurnalis lokal dan asing, seringkali dengan kedok anonimitas.

    Setelah pembunuhan Nasrallah, Afif mengadakan beberapa konferensi pers di pinggiran selatan Beirut, termasuk bulan lalu di mana ia mengumumkan Hizbullah telah meluncurkan pesawat tak berawak yang menargetkan kediaman Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

    Konferensi pers itu terhenti ketika tentara Israel memperingatkan bahwa mereka akan menyerang sebuah bangunan di dekatnya.

    “Pengeboman tidak membuat kami takut, jadi bagaimana dengan ancamannya?” Afif berkata menantang ketika para jurnalis buru-buru mengambil mikrofon dari meja.

    Pejabat Hizbullah yang tewas dalam serangan Israel sebelumnya tidak hanya mencakup Nasrallah tetapi juga Hashem Safieddine, yang dianggap sebagai penerus mantan pemimpin tersebut.

    (fas/fas)

  • 2 Bom Suar Mendarat di Dekat Rumah Netanyahu, 3 Orang Ditangkap

    2 Bom Suar Mendarat di Dekat Rumah Netanyahu, 3 Orang Ditangkap

    Jakarta

    Dua bom suar mendarat di dekat kediaman Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di kota Caesarea pada Sabtu waktu setempat. Usai kejadian itu, sebanyak 3 orang ditangkap.

    “Dua suar mendarat di halaman luar kediaman perdana menteri,” kata polisi dan badan keamanan internal Shin Bet dalam sebuah pernyataan bersama, dilansir AFP, Minggu (17/11/2024).

    Saat insiden itu terjadi, Netanyahu tidak ada di rumah. Israel juga melakukan penyelidikan atas kejadian itu.

    “Perdana menteri dan keluarganya tidak berada di rumah pada saat insiden itu,” ujar mereka menambahkan.

    “Penyelidikan telah dibuka. Ini adalah insiden serius dan eskalasi yang berbahaya,” bunyi pernyataan itu.

    Sementara itu, Presiden Israel Isaac Herzog mengutuk insiden tersebut. Herzog memperingatkan terhadap peningkatan kekerasan di ruang publik.

    Insiden tersebut terjadi setelah serangan pesawat nirawak yang menargetkan tempat tinggal yang sama pada tanggal 19 Oktober, yang kemudian diklaim oleh kelompok militan yang didukung Iran, Hizbullah.

    Netanyahu saat itu menuduh Hizbullah berusaha membunuh dia dan istrinya.

    3 Orang Ditangkap

    “Tiga tersangka ditangkap semalam karena keterlibatan mereka dalam insiden” yang terjadi Sabtu malam,” kata polisi dalam sebuah pernyataan.

    Polisi menambahkan ketiga tersangka akan diinterogasi bersama dengan badan keamanan internal Shin Bet.

    Pernyataan itu menambahkan bahwa pengadilan memerintahkan larangan menerbitkan detail investigasi atau identitas tersangka selama 30 hari.

    Juru bicara parlemen Israel, Amir Ohana, menuduh pengunjuk rasa antipemerintah berada di balik insiden tersebut.

    “Tulisan itu terpampang di dinding, di jalan, dalam pesan-pesan yang menghasut, dan dalam demonstrasi,” katanya, merujuk pada protes antipemerintah yang meletus pada awal tahun 2023.

    “Jika kecurigaan itu benar dan aktivis berada di balik penembakan suar di kediaman perdana menteri, harus dikatakan dengan jelas: ini bukan protes, ini terorisme,” ujar mantan anggota kabinet perang dan tokoh oposisi Benny Gantz itu menulis di X.

    (yld/knv)

  • Israel Serang Beirut Usai Hizbullah Tembakkan Roket ke Haifa

    Israel Serang Beirut Usai Hizbullah Tembakkan Roket ke Haifa

    Jakarta

    Israel kembali menyerang Beirut selatan, Lebanon hari ini. Militer Israel menyebut pihaknya menargetkan kelompok Hizbullah, serangan itu merupakan serangan balasan usai kelompok yang didukung Iran itu mengaku menembaki pangkalan Israel di sekitar kota Haifa.

    Dilansir AFP, Minggu (17/11/2024), kolom asap mengepul di pinggiran selatan ibu kota Beirut. Rekaman AFPTV menunjukkan kepulan asap itu terlihat, menyusul sebelumnya ada peringatan dari militer Israel terhadap warga sipil untuk mengungsi dari tiga wilayah.

    Serangan itu terjadi setelah militer Israel melaporkan “serangan roket hebat” di Haifa pada Sabtu malam. Akibat serangan itu, sebuah sinagoge terkena serangan dan melukai dua warga sipil.

    Sementara militer Israel menyebut Hizbullah menembakkan sekitar 80 proyektil ke Israel pada hari Sabtu.

    3 Tersangka Ditangkap

    Polisi di Israel mengatakan tiga tersangka ditangkap setelah dua suar mendarat di dekat kediaman Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di kota Caesarea, selatan Haifa. Saat serangan itu terjadi, Netanyahu disebut tidak ada di rumah.

    Insiden itu terjadi sekitar sebulan setelah sebuah pesawat tanpa awak menargetkan kediaman yang sama, yang diklaim oleh Hizbullah.

    (yld/knv)

  • ‘Kado’ untuk Trump, Israel Upayakan Gencatan Senjata di Lebanon

    ‘Kado’ untuk Trump, Israel Upayakan Gencatan Senjata di Lebanon

    Tel Aviv

    Para pejabat pemerintahan Israel dilaporkan sedang melakukan pembicaraan dengan Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan menantunya, Jared Kushner, untuk merundingkan kesepakatan gencatan senjata segera di Lebanon dengan bantuan kerja sama Barat dan Rusia.

    Hal itu dimaksudkan untuk memberikan kemenangan awal dalam kebijakan luar negeri Trump, yang akan mulai menjabat Presiden AS pada Januari tahun depan.

    Informasi itu, seperti dilansir Al Arabiya, Jumat (15/11/2024), didasarkan pada laporan media terkemuka The Washington Post, yang mengutip tiga pejabat aktif dan mantan pejabat Israel yang mengetahui soal pembicaraan tersebut.

    The Washington Post melaporkan pada Rabu (13/11) bahwa Menteri Urusan Strategis Israel, Ron Dermer — dari pemerintahan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu — singgah di Mar-a-Lago sebagai bagian dari kunjungan ke AS pada Minggu (10/11), sebelum mengunjungi Gedung Putih untuk bertemu para pejabat pemerintahan Presiden Joe Biden guna membahas soal Lebanon.

    Menurut The Washington Post, persyaratan untuk kesepakatan gencatan senjata yang diusulkan itu akan mengharuskan para petempur Hizbullah untuk mundur dari area Sungai Litani, dan militer Lebanon akan mengambil alih kendali zona perbatasan selama 60 hari, dengan diawasi oleh AS dan Inggris.

    Sungai Litani merupakan tepi utara zona penyangga yang diawasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan ditetapkan setelah konflik Israel-Hizbulllah tahun 2006 lalu.

    Aspek yang lebih luas dari kesepakatan yang berkembang ini serupa dengan putaran negosiasi sebelumnya dan sejalan dengan keinginan Trump untuk mengakhiri perang multifront Israel di kawasan Timur Tengah, namun menurut para pejabat kedua negara, proposal itu belum secara resmi diserahkan kepada Hizbullah.

  • 7 Update Perang Arab, PBB Sebut Israel Lakukan Genosida di Gaza

    7 Update Perang Arab, PBB Sebut Israel Lakukan Genosida di Gaza

    Daftar Isi

    Jakarta, CNBC Indonesia – Perang Israel di Timur Tengah belum juga usai. Pasukan zionis secara konstan masih terus menyerang wilayah Gaza di Palestina hingga Lebanon.

    Di sisi lain, Komite PBB kini mengatakan metode perang Israel di Gaza sejalan dengan “genosida”, termasuk penggunaan kelaparan sebagai senjata perang.

    Berikut update terkait situasi di wilayah Timur Tengah saat ini, sebagaimana dihimpun dari berbagai sumber oleh CNBC Indonesia pada Kamis (14/11/2024):

    PBB Sebut Metode Perang Israel di Gaza adalah Genosida

    Komite khusus PBB untuk menyelidiki praktik Israel telah merilis laporan yang menyatakan bahwa korban sipil massal dan kondisi yang mengancam jiwa “sengaja dipaksakan” kepada warga Palestina di Gaza oleh tentara Israel. Menurut mereka, ini adalah genosida.

    “Sejak awal perang, pejabat Israel secara terbuka mendukung kebijakan yang merampas kebutuhan pokok warga Palestina yang dibutuhkan untuk bertahan hidup – makanan, air, dan bahan bakar,” kata komite tersebut dalam siaran pers, seperti dikutip Al Jazeera.

    “Pernyataan-pernyataan ini beserta campur tangan sistematis dan melanggar hukum terhadap bantuan kemanusiaan memperjelas niat Israel untuk memanfaatkan pasokan penyelamat jiwa demi keuntungan politik dan militer,” lanjutnya.

    Temuan laporan tersebut – bahwa Israel sengaja menahan bantuan dari Jalur Gaza, menggunakan kelaparan sebagai senjata perang, dan ceroboh dalam menimbulkan korban sipil – konsisten dengan kecaman PBB dan kemanusiaan lainnya atas tindakan Israel.

    Meski begitu, istilah “genosida” jarang diterapkan pada perang Israel di Gaza oleh badan mana pun yang terkait dengan PBB.

    HRW: Pengungsian Paksa oleh Israel di Gaza Adalah Kejahatan Perang

    Pihak berwenang Israel telah menyebabkan pengungsian paksa besar-besaran dan disengaja terhadap warga Palestina di Gaza, yang merupakan kejahatan perang. demikian temuan laporan baru oleh Human Rights Watch (HRW).

    Organisasi hak asasi manusia internasional tersebut menganalisis citra satelit, perintah evakuasi paksa Israel, dan pernyataan pejabat senior Israel untuk menunjukkan bahwa pihak berwenang di Israel secara sengaja dan permanen membuat warga Palestina tidak mungkin kembali ke sebagian besar wilayah Gaza.

    “Pasukan Israel telah menghancurkan sebagian besar infrastruktur air, sanitasi, komunikasi, energi, dan transportasi di Gaza serta sekolah dan rumah sakitnya” dan “secara sistematis menghancurkan kebun buah, ladang, dan rumah kaca”, kata penulis laporan Nadia Hardman kepada wartawan dalam konferensi pers sebelum laporan tersebut dirilis pada Kamis.

    Israel Selidiki Pembunuhan di Gaza Utara Terkait Pelanggaran Hukum Internasional

    Surat kabar Israel Haaretz melaporkan, militer telah mengidentifikasi “sedikitnya 16” serangan di Gaza utara yang akan diselidiki karena berada di bawah pengawasan internasional yang ketat atas serangannya di wilayah tersebut.

    Sejak 6 Oktober, Israel tanpa henti mengebom Gaza utara, menewaskan sedikitnya 1.000 orang, memutus jalur bantuan ke wilayah tersebut, dan menghancurkan banyak rumah dan bangunan lain dalam apa yang banyak orang katakan sebagai upaya pembersihan etnis.

    Haaretz melaporkan, militer mengalami kesulitan membenarkan skala pembunuhan dan penghancuran tersebut.

    Penyelidikan atas serangan antara 21 Oktober dan 2 November akan dilakukan oleh “Mekanisme Staf Umum untuk Penilaian Pencari Fakta, alias Mekanisme FFA”, menurut harian tersebut.

    “Pemeriksaan ini dilakukan jika ada kecurigaan bahwa serangan itu tidak proporsional, atau melampaui hukum internasional,” lapornya. “Sistem investigasi Staf Umum mengirimkan rekomendasinya kepada Advokat Jenderal Militer, yang memutuskan apakah akan membuka investigasi kriminal.”

    Mengutip organisasi hak asasi manusia, laporan tersebut menambahkan bahwa, berdasarkan rekam jejaknya, apa yang disebut mekanisme akuntabilitas ini akan digunakan untuk menutupi tindakan ilegal tanpa mengarah pada investigasi kriminal apa pun.

    “Investigasi Mekanisme FFA berlangsung selama bertahun-tahun (dibandingkan dengan beberapa hari atau minggu di angkatan darat lain), dan sebagian besar ditutup tanpa memulai investigasi kriminal terhadap mereka yang terlibat,” kata Haaretz.

    Rencana Baru Menteri Israel, Minta Rebut Banyak Tanah di Gaza

    Menteri Pemukiman Israel Orit Strock mengatakan kepada surat kabar Israel Yedioth Ahronoth, ia menyarankan pemerintah bahwa Israel perlu “merebut lebih banyak tanah di Gaza sehingga Hamas memahami bahwa ada harga yang tidak ingin mereka bayar”.

    “Saya tidak akan setuju dengan penarikan pasukan kami dari Gaza, dan saya akan meninggalkan pemerintahan jika kami keluar dari Koridor Philadelphia,” katanya seperti dikutip media tersebut.

    Strock juga mengatakan Israel harus mencaplok Tepi Barat yang diduduki, dengan mengklaim bahwa “hak nasional atas tanah di sana seharusnya hanya dimiliki oleh orang Israel.

    “Orang Palestina dapat tinggal di Yudea dan Samaria, dan kami harus memberi mereka hak penuh sebagai manusia, tetapi mereka tidak akan dapat memberikan suara dalam pemilihan Knesset [parlemen Israel],” katanya, merujuk ke Tepi Barat dengan nama wilayah tersebut dalam Alkitab.

    Strock menolak solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina, dan mengatakan bahwa itu bukanlah solusi “melainkan bencana”.

    Tentara Israel Tewas Berguguran di Lebanon

    Sebanyak enam orang tentara Israel (IDF) dilaporkan tewas dalam sebuah serangan di Lebanon Selatan, Rabu (13/11/2024). Hal ini terjadi saat IDF masih terus berada di wilayah itu untuk menghabisi milisi Hizbullah.

    Mengutip AFP, jumlah korban tewas ini membuat serangan Hizbullah kali ini menjadi hari paling mematikan bagi IDF. Kematian mereka berarti 47 tentara Israel telah tewas dalam pertempuran dengan Hizbullah sejak 30 September, ketika Israel mengirim pasukan darat ke Lebanon.

    “Para tentara tewas selama pertempuran di Lebanon Selatan,” kata militer dalam sebuah pernyataan.

    Pengumuman militer itu muncul setelah Menteri Pertahanan Israel yang baru, Israel Katz, mengatakan tidak akan ada pelonggaran dalam perang melawan Hizbullah.

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di platform media sosial X membagikan gambar simbol Brigade Golani, yang merupakan unit tempat para tentara yang tewas itu berasal.

    Sejak 23 September, Israel telah meningkatkan kampanye pengebomannya di Lebanon, terutama menargetkan benteng Hizbullah di Beirut selatan dan timur serta selatan negara itu. Pada 30 September, Israel mengirim pasukan darat.

    Israel Klaim Bunuh 200 Pejuang Hizbullah di Lebanon dalam Seminggu

    Tentara Israel mengklaim pihaknya telah menewaskan 200 pejuang Hizbullah serta menghancurkan lebih dari 140 peluncur roket milik kelompok tersebut di Lebanon selatan selama seminggu terakhir.

    Dikatakan dalam sebuah pernyataan di Telegram bahwa serangan terbaru terhadap kemampuan ofensif Hizbullah, yang telah menargetkan wilayah Galilea barat Israel dan pusat negara itu, terjadi kemarin dan Selasa.

    Pada Selasa, pesawat tempur Israel menewaskan kepala operasi batalion, kepala unit antipesawat batalion dan seorang komandan kompi di pasukan Radwan milik Hizbullah, klaim tentara.

    Sementara Hizbullah belum mengumumkan kematian apa pun dalam seminggu terakhir.

    Netanyahu Siap Caplok Tepi Barat Saat Trump Resmi Menjabat

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan akan melanjutkan rencana untuk merebut Tepi Barat, Palestina, saat Donald Trump resmi menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat.

    Media Israel, KAN, melaporkan bahwa Netanyahu berniat mendorong kembali rencana aneksasi Tepi Barat yang sempat tertunda saat Trump masih menjabat Presiden AS dahulu.

    Dalam pembicaraan tertutup, sang PM menyatakan bahwa dirinya akan memperkenalkan kembali plot aneksasi Tepi Barat dalam agenda pemerintahannya usai Trump resmi dilantik.

    Dilansir dari Anadolu Agency, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich pada Senin sempat menginstruksikan kepada Divisi Pemukiman dan Administrasi Sipil Israel untuk memulai pembangunan infrastruktur guna “menerapkan kedaulatan di Tepi Barat.

    “Kami hampir menerapkan kedaulatan atas pemukiman di Yudea dan Samaria (Tepi Barat) sebelum pemerintahan Biden,” kata Smotrich. “Sekarang waktunya bertindak.”

    (dce)

  • Menhan Israel Bersumpah Tak Akan Berhenti Serang Hizbullah

    Menhan Israel Bersumpah Tak Akan Berhenti Serang Hizbullah

    Tel Aviv

    Menteri Pertahanan (Menhan) Israel yang baru, Israel Katz, bersumpah tidak akan ada pelonggaran dalam perang melawan Hizbullah yang bermarkas di Lebanon. Katz sebelumnya menegaskan tidak akan ada gencatan senjata dengan Hizbullah.

    “Kita tidak akan melakukan gencatan senjata, kita tidak akan melonggarkan situasi, dan kita tidak akan mengizinkan pengaturan apa pun yang tidak mencakup pencapaian tujuan perang kita,” tegas Katz dalam pernyataan terbarunya, seperti dilansir AFP, Kamis (14/11/2024).

    “Kita akan terus menyerang Hizbullah di mana pun,” cetusnya.

    Penegasan terbaru itu disampaikan Katz saat berbicara kepada jajaran komandan senior militer Israel, dalam kunjungan ke perbatasan utara dengan Lebanon pada Rabu (13/11) waktu setempat.

    Itu menjadi kunjungan pertamanya sejak dia ditunjuk dan dilantik menjadi Menhan Israel, untuk menggantikan Yoav Gallant yang dipecat oleh Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu.

    “Kita telah menyerang Hizbullah dengan pukulan keras dan melenyapkan (pemimpin Hizbullah Hassan) Nasrallah — dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk terus menyerang mereka dengan kekuatan penuh untuk mewujudkan hasil kemenangan,” ucap Katz saat berbicara kepada panglima militer Israel, Herzi Halevi.

  • 6 Tentara Israel Tewas Saat Bertempur Lawan Hizbullah di Lebanon

    6 Tentara Israel Tewas Saat Bertempur Lawan Hizbullah di Lebanon

    Tel Aviv

    Israel mengalami salah satu hari paling mematikan dalam operasi darat melawan Hizbullah di wilayah Lebanon bagian selatan. Sedikitnya enam tentara Israel tewas dalam pertempuran melawan para petempur Hizbullah di dekat perbatasan kedua negara.

    Militer Israel dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP dan Al Arabiya, Kamis (14/11/2024), menyebut enam tentaranya itu “gugur dalam pertempuran di Lebanon bagian selatan”.

    Dengan kematian keenam tentara itu, berarti total sedikitnya 47 tentara Israel tewas dalam pertempuran melawan Hizbullah sejak 30 September lalu, sejak Tel Aviv mengirimkan pasukan darat ke Lebanon bagian selatan.

    Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu, dalam postingan media sosial X, membagikan gambar simbol Brigade “Golani” — unit yang menaungi tentara-tentara yang tewas, dengan disertai emoji patah hati.

    Satu tentara lainnya, menurut pernyataan militer Israel, mengalami luka parah setelah pasukan Tel Aviv menyerbu sebuah gedung yang mereka bom sebelumnya dan mengira gedung itu kosong. Saat memasuki gedung, pasukan Israel itu langsung disergap oleh para petempur Hizbullah.

    Kelompok Hizbullah dalam pernyataannya pada Selasa (12/11) mengklaim pasukannya telah menewaskan sedikitnya 100 tentara Israel sejak operasi darat dilancarkan ke Lebanon bulan lalu. Hizbullah juga mengklaim telah melukai sedikitnya 1.000 tentara Israel lainnya.

    Kelompok Hizbullah, yang didukung Iran ini, belum merilis jumlah atau informasi detail soal para petempurnya yang tewas dalam pertempuran melawan pasukan Israel. Namun diperkirakan lebih dari 1.000 petempur Hizbullah telah tewas.

    Lihat Video ‘Suara Mencekam Sirene Meraung saat Israel Diserang Rudal Hizbullah’:

  • Pemerintah Iran Lebih Takut pada Rakyatnya daripada Israel

    Pemerintah Iran Lebih Takut pada Rakyatnya daripada Israel

    Tel Aviv

    Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pesan langsung yang ditujukan kepada rakyat Iran. Dia menyebut pemimpin tertinggi negara Syiah itu, Ayatollah Ali Khamenei, sebenarnya lebih takut pada rakyat Iran daripada Israel.

    “Itulah sebabnya mereka menghabiskan begitu banyak waktu dan uang untuk mencoba menghancurkan harapan Anda dan mengekang impian Anda,” ucap Netanyahu dalam pesan video yang ditujukan untuk rakyat Iran, seperti dilansir Reuters dan Al Arabiya, Rabu (13/11/2024).

    “Baiklah, saya mengatakan ini kepada Anda: Jangan biarkan impian Anda mati. Saya mendengar bisikan: wanita, kehidupan, kebebasan. Zan, Zendegi, Azadi,” imbuhnya dengan menggunakan sedikit bahasa Farsi.

    “Jangan putus asa. Dan ketahuilah bahwa Israel dan negara-negara lainnya di dunia bebas mendukung Anda,” kata Netanyahu berbicara kepada rakyat Iran dalam pesan videonya.

    Dalam pesannya, Netanyahu merujuk pada serangan rudal Iran terhadap Israel pada 1 Oktober lalu, yang disebutnya telah memakan biaya sekitar US$ 2,3 miliar (Rp 36,2 triliun) dari “uang Anda yang berharga” namun hanya menyebabkan kerusakan kecil di wilayah Israel.

    Tel Aviv telah membalas Teheran pada 26 Oktober lalu, dengan menggempur pabrik rudal, sistem pertahanan dan aset-aset militer Iran lainnya.

    Netanyahu sebelumnya menyampaikan seruan serupa kepada warga sipil di Jalur Gaza dan Lebanon, juga kepada warga sipil Iran.

  • Menhan Israel Bersumpah Tak Akan Berhenti Serang Hizbullah

    Israel Tegaskan Tak Akan Ada Gencatan Senjata di Lebanon

    Tel Aviv

    Menteri Pertahanan (Menhan) Israel, Israel Katz, mengatakan tidak akan ada gencatan senjata di Lebanon hingga tujuan perang tercapai. Katz yang baru saja dilantik sebagai Menhan ini, menegaskan Tel Aviv akan terus menyerang Hizbullah di Lebanon dengan kekuatan penuh.

    Penegasan itu, seperti dilansir Reuters dan The Times of Israel, Selasa (12/11/2024), disampaikan oleh Katz setelah menggelar rapat dengan jajaran petinggi militer Israel. Katz baru saja dilantik sebagai Menhan Israel untuk menggantikan Yoav Gallant yang dipecat Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu.

    “Tidak akan ada gencatan senjata dan tidak ada jeda (pertempuran) di Lebanon,” tegas Katz dalam pernyataannya via media sosial X.

    Lebih lanjut, Katz mengatakan bahwa operasi ofensif Israel “harus terus berlanjut untuk melemahkan kemampuan Hizbullah dan mencapai hasil kemenangan”.

    “Kita akan terus menyerang Hizbullah dengan kekuatan penuh hingga tujuan perang tercapai,” cetusnya.

    “Israel tidak akan menyetujui pengaturan apa pun yang tidak menjamin haknya untuk menegakkan dan mencegah terorisme secara mandiri, memastikan tujuan perang di Lebanon tercapai, termasuk melucuti persenjataan Hizbullah, mendorong mereka keluar dari Sungai Litani, dan mengizinkan penduduk wilayah utara untuk kembali ke rumah mereka dengan aman,” ujar Katz.

    Sungai Litani merupakan sungai yang mengalir melintasi wilayah Lebanon bagian selatan, yang berjarak sekitar 30 kilometer sebelah utara perbatasan Israel.

  • Taiwan Tegaskan Tak Terlibat Ledakan Pager Mematikan di Lebanon, Kasus Ditutup

    Taiwan Tegaskan Tak Terlibat Ledakan Pager Mematikan di Lebanon, Kasus Ditutup

    Bisnis.com, JAKARTA – Taiwan telah menutup penyelidikan terkait insiden ledakan pager di Lebanon pada September yang menyebabkan sejumlah korban, termasuk anggota kelompok Hizbullah.

    Melansir dari Chanel News Asia, Selasa (12/11/2024) kasus ini bermula ketika sebuah pager yang diketahui memakai nama merek Gold Apollo yang terdaftar di Taiwan, meledak di Lebanon. 

    Media Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengonfirmasi tanggung jawab atas serangan tersebut, meskipun ada penolakan dari pejabat pertahanan dan politik yang menentang operasi itu.

    Penyelidikan awal menyebutkan bahwa pager yang meledak tersebut diproduksi oleh sebuah perusahaan bernama Frontier Group Entity, yang memiliki izin untuk menggunakan merek dagang Apollo milik Gold Apollo. Namun, jaksa Taiwan menegaskan bahwa Gold Apollo tidak terlibat dalam pembuatan pager tersebut, yang diproduksi di luar Taiwan.

    Jaksa Taipei menyatakan dalam pernyataan resmi bahwa mereka telah melakukan penyelidikan mendalam dan tidak menemukan bukti keterlibatan produsen atau individu Taiwan dalam kegiatan ilegal, termasuk pelanggaran Undang-Undang Anti-Pendanaan Terorisme. 

    “Tidak ada bukti konkret tentang kegiatan kriminal yang ditemukan dalam kasus ini, juga tidak ada individu tertentu yang terlibat dalam kegiatan kriminal apa pun, setelah penyelidikan menyeluruh,” ujar Jaksa.

    Penyelidikan sebelumnya juga mencakup pemeriksaan terhadap presiden dan pendiri Gold Apollo, Hsu Ching-kuang, serta seorang karyawan bernama Teresa Wu, yang berfungsi sebagai penghubung dengan Frontier Group Entity.

    Meskipun Wu terlibat dalam komunikasi dengan perusahaan tersebut, jaksa tidak menemukan bukti yang mengaitkannya dengan pengetahuan atau partisipasi dalam insiden ledakan.

    Sumber-sumber juga menyebutkan bahwa perusahaan Gold Apollo tidak memiliki keterlibatan langsung dalam produksi atau distribusi perangkat tersebut, yang telah dikirim dan dipasarkan oleh Frontier Group.

    Sejauh ini, Gold Apollo belum memberikan komentar lebih lanjut mengenai penutupan kasus ini setelah pernyataan resmi dikeluarkan oleh jaksa.