Tag: Benjamin Netanyahu

  • Marah Sinagoge Dibakar, Netanyahu Tuduh Rezim Australia Anti-Israel

    Marah Sinagoge Dibakar, Netanyahu Tuduh Rezim Australia Anti-Israel

    Jakarta, CNN Indonesia

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengecam insiden pembakaran sebuah sinagoge di Melbourne, Australia, pada Jumat (6/12) dini hari.

    Netanyahu menganggap insiden itu terjadi “tidak lepas” dari “sentimen anti-Israel” pemerintah Perdana Menteri Anthony Albanese.

    “Tindakan keji ini tidak dapat dipisahkan dari sentimen anti-Israel yang berasal dari pemerintahan Partai Buruh Australia,” ucap Netanyahu dalam pernyataannya seperti dikutip AFP.

    Netanyahu mendasari tuduhannya itu dari keputusan Australia mendukung resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada September lalu yang menuntut Israel menghentikan pendudukan di wilayah Palestina.

    Netanyahu menganggap sikap Australia dalam resolusi PBB yang melawan Israel itu sebagai “keputusan keterlaluan.”

    Ia juga menganggap “sentimen anti-Israel adalah anti-Semitisme.”

    Polisi Australia sejauh ini masih mencari dua orang yang diduga sengaja memicu kebakaran di sinagoge Addas, selatan Melbourne. Insiden ini menyebabkan satu orang terluka dan kerusakan besar.

    Kepolisian Victoria menjelaskan bahwa seorang jemaat yang sedang berada di sinagoge untuk doa pagi melihat dua orang yang tampaknya menyebarkan cairan mudah terbakar di dalam gedung sebelum menyalakan api.

    “Kami percaya ini sengaja dilakukan. Kami yakin ini ditargetkan. Yang belum kami ketahui adalah alasannya, dan kami akan mencari tahu,” ujar Detektif Inspektur Chris Murray kepada wartawan.

    Perdana Menteri Anthony Albanese mengecam serangan tersebut dan menegaskan bahwa Australia tidak menerima sikap anti-Semitisme.

    “Tindakan kekerasan, intimidasi, dan perusakan di tempat ibadah ini adalah tindakan yang sangat mengejutkan. Serangan ini telah membahayakan nyawa dan jelas bertujuan untuk menciptakan ketakutan di masyarakat,” kata Albanese dalam sebuah pernyataan.

    Asosiasi Yahudi Australia menyatakan “sangat marah namun tidak terkejut” dengan serangan tersebut, dan mengatakan bahwa komunitas Yahudi merasa diabaikan oleh pemerintah saat ini.

    Kantor Albanese belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar mengenai pernyataan asosiasi tersebut.

    Australia telah mengalami peningkatan insiden anti-Semitisme sejak Israel melakukan serangan balasan terhadap serangan kelompok militan Palestina Hamas pada 7 Oktober 2023. Serangan tersebut diikuti dengan serangan Israel ke Gaza yang menyebabkan puluhan ribu orang tewas.

    Kota-kota besar di Australia telah menyaksikan puluhan protes pro-Palestina selama setahun terakhir, sementara komunitas Yahudi mengatakan bahwa pemerintah belum berbuat cukup untuk mengatasi meningkatnya anti-Semitisme.

    (rds)

    [Gambas:Video CNN]

  • Israel Membabi Buta, Bombardir RS Kamal Adwan lalu Usir Paksa Para Dokter di Gaza Utara – Halaman all

    Israel Membabi Buta, Bombardir RS Kamal Adwan lalu Usir Paksa Para Dokter di Gaza Utara – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Pasukan pertahanan Israel (IDF) kembali melancarkan serangan brutal terhadap RS Kamal Adwan yang berada di Beit Lahia, Gaza Utara, Jumat (6/12/2024).

    Serangan darat ini dilakukan militer IDF secara intens dengan disertai tembakan senjata api dan artileri.

    Menurut kantor berita resmi Palestina WAFA, pasukan Israel meledakkan blok pemukiman dekat RS Kamal Adwan, yang mengakibatkan sejumlah warga sipil tewas dan luka-luka.

    Tak hanya melakukan serangan, mereka juga turut memblokade fasilitas tersebut dari semua arah.

    Keterangan resmi MER-C menyebutkan, situasi di RS Kamal Adwan semakin memburuk. Sementara kebutuhan medis di Jalur Gaza terus meningkat akibat eskalasi konflik.

    Serangan ini bukan kali pertama yang dilakukan Israel. Sejak 5 Oktober, pasukan Netanyahu telah melancarkan operasi darat berskala besar di Gaza Utara.

    Mereka berdalih serangan dilakukan untuk “mencegah” kelompok perlawanan Palestina Hamas bangkit kembali.

    Menurut otoritas kesehatan setempat, lebih dari 3.500 orang dilaporkan tewas dan hilang sejak operasi tersebut dimulai. Imbas serangan tersebut  lebih dari 3.500 orang dilaporkan tewas dan hilang sejak operasi itu dimulai.

    Tim Medis Diusir Paksa

    Akibat ancaman Israel, para petugas medis MER-C yang sedang bertugas di rumah sakit tersebut terpaksa berjalan kaki sepanjang 8 kilometer dari RS Kamal Adwan menuju Jalan Salahuddin.

    “Kami baru saja keluar dari RS Kamal Adwan. Ada dua peringatan (dari Israel)  supaya kami keluar dari RS Kamal Adwan. Dan mereka masih membom RS Kamal Adwan sekarang,” demikian keterangan dari salah satu relawan Mer-C sebagaimana dikutip dari Palestina Chronicle.

    Tak dijelaskan berapa banyak tim medis yang angkat kaki dari RS Kamal Adwan.

    Namun menurut juru bicara RS tersebut masih banyak staf medis yang terancam jiwanya karena bertahan di RS Kamal Adwan.

    “Dari kabar terkini yang kami dengar, sudah ada 50 syuhada di rumah sakit. Namun masih banyak yang masih terjebak di sana,” Kata salah satu relawan Mer-C.

    “Tolong doakan kawan-kawan kami, staf medis di Kamal Adwan dan orang-orang yang masih dirawat di sana,” imbuhnya.

    RS di Gaza Krisis

    Kepala RS Kamal Adwan, Hussam Abu Safiya mengeluarkan pernyataan yang merinci kekejaman yang terjadi di dalam rumah sakit dan sekitarnya.

    Ia menggambarkan situasi di dalam dan sekitar rumah sakit sebagai “bencana”.

    “Tidak ada ahli bedah yang tersisa. Satu-satunya tim medis yang melakukan operasi adalah delegasi medis Indonesia dan mereka adalah tim pertama yang terpaksa meninggalkan pos,” jelas Abu Safiya.

    Selain melakukan serangan, Tentara Israel juga turut membatasi pergerakan siapa pun yang berada di rumah sakit.

    Akibat pergerakan terbatas ini, seorang perawat pengawas di RS Gaza mengatakan mereka kehabisan persediaan medis, termasuk kain kasa steril dan obat-obatan.

    “Pasokan air telah terputus dan tidak ada makanan selama empat hari berturut-turut,” katanya kepada Swiss Info

    Lazzarini dari UNRWA mengatakan orang-orang yang terluka tergeletak tanpa perawatan di rumah sakit yang terkena serangan.

    “Tempat penampungan UNRWA yang tersisa sangat penuh sesak, sebagian pengungsi kini terpaksa tinggal di toilet,” katanya.

    (Tribunnews.com / Namira Yunia)

  • Oposisi Suriah Bidik Homs Seusai Taklukkan Hama, Israel Bersiap Hadapi Runtuhnya Rezim Assad – Halaman all

    Oposisi Suriah Bidik Homs Seusai Taklukkan Hama, Israel Bersiap Hadapi Runtuhnya Rezim Assad – Halaman all

    Oposisi Suriah Bidik Homs Seusai Taklukkan Hama, Israel Bersiap Hadapi Runtuhnya Rezim Assad
     
    TRIBUNNEWS.COM – Israel dilaporkan sedang menyiapkan diri menghadapi kemungkinan kalau tentara Suriah akan runtuh saat menghadapi pasukan oposisi bersenjata yang maju secara cepat.

    Antisipasi Israel itu tampak saat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengadakan musyawarah keamanan mengenai masalah tersebut pada Kamis (5/12/2024) malam.

    Channel 13 melaporkan kalau IDF kini menilai pemberontak dapat menjadi ancaman nyata bagi kelanjutan pemerintahan Presiden Suriah, Bashar al-Assad. 

    Menurut laporan di Channel 12, Israel terkejut dengan lemahnya tentara Suriah, karena terus kehilangan wilayah dengan cepat dari para pejuang oposisi yang dipimpin jihadis.

    Laporan itu menambahkan kalau Israel telah mengirimkan peringatan keras kepada Iran agar tidak mengirim persenjataan ke Suriah yang dapat sampai ke tangan kelompok Hizbullah di Lebanon.

    Israel Cemas Oposisi Diprediksi Maju Sampai Dataran Tinggi Golan

    Kantor berita Kan melaporkan, mengutip dua sumber yang tidak disebutkan namanya, kalau Israel dan Amerika Serikat (AS) “mendeteksi tanda-tanda pasti akan terjadi keruntuhan” dalam tentara Suriah.

    Terkait kemajuan yang diraih oposisi anti-rezim Assad itu, salah satu kekhawatiran utama Israel adalah bahwa para pemberontak akan maju sejauh selatan perbatasan Israel dengan Suriah di Dataran Tinggi Golan yang diduduki (Israel).

    Channel 13 mengatakan Israel telah menyampaikan pesan kepada para pemimpin oposisi untuk menjauh dari perbatasan.

    Sebelumnya pada hari Kamis, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz dan Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Herzi Halevi mengadakan penilaian tentang perkembangan di Suriah, saat oposisi bersenjata yang dipimpin oleh kelompok Islam Hayat Tahrir al-Sham (HTS) merebut kota utama Hama, sedikit lebih dari seminggu setelah mereka melancarkan serangan, tepat saat gencatan senjata terjadi antara Israel dan sekutu Assad di Lebanon, Hizbullah.

    Minggu lalu pasukan pemberontak menguasai Aleppo, kota terbesar kedua di Suriah, dan sejak itu terus maju ke selatan, merebut Hama pada hari Kamis dan terus maju ke selatan menuju Homs, kota pusat utama yang berfungsi sebagai persimpangan yang menghubungkan wilayah-wilayah terpadat di Suriah.

    Penilaian militer Israel diadakan dengan Forum Staf Umum IDF, petinggi militer.

    “IDF mengikuti perkembangan dan bersiap menghadapi skenario apa pun dalam penyerangan dan pertahanan,” kata militer dalam sebuah pernyataan.

    “IDF tidak akan membiarkan ancaman di dekat perbatasan Suriah-Israel dan akan bertindak untuk menggagalkan ancaman apa pun terhadap warga Negara Israel.”

    Seorang pejuang oposisi Suriah merobek lukisan yang menggambarkan Presiden Suriah Bashar Assad dan mendiang ayahnya Hafez Assad di Bandara Internasional Aleppo di Aleppo, Suriah, 2 Desember 2024. (tangkap layar ToI/Kredit Foto: AP/Ghaith Alsayed)

    Israel Ingin Mereka Terus Berperang Satu Sama Lainnya

    Di tengah meningkatnya kekhawatiran, dua pejabat senior Israel mengatakan kepada situs berita Axios bahwa runtuhnya garis pertahanan rezim dalam 24 jam terakhir terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan.

    Seorang pejabat AS yang juga berbicara kepada situs tersebut mengatakan bahwa Israel telah menyatakan kekhawatirannya kepada Washington atas potensi pengambilalihan Suriah oleh kelompok radikal Islam dan meningkatnya kehadiran pasukan Iran di negara itu untuk mendukung Assad.

    Pada saat yang sama, seorang pejabat yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan kepada The Times of Israel bahwa kepentingan Israel dalam pertempuran baru di Suriah adalah “agar mereka terus berperang satu sama lain.”

    Mereka menambahkan: “Sangat jelas bagi kami bahwa satu pihak adalah jihadis Salafi dan pihak lainnya adalah Iran dan Hizbullah. Kami ingin mereka saling melemahkan.”

    Pejabat itu menekankan bahwa Israel tidak akan terlibat di kedua pihak.

    “Kami siap menghadapi skenario apa pun dan akan bertindak sesuai dengan itu.”

    Hingga minggu lalu, perang di Suriah sebagian besar telah terhenti selama bertahun-tahun, tetapi para analis mengatakan kekerasan pasti akan berkobar karena konflik tersebut tidak pernah benar-benar terselesaikan.

    Setelah bertahun-tahun terkurung di balik garis depan yang membeku, para pemberontak telah bangkit untuk melancarkan serangan tercepat di medan perang oleh kedua belah pihak sejak pemberontakan terhadap Assad berubah menjadi perang saudara 13 tahun lalu.

    Perebutan Hama telah memberi mereka kendali atas kota pusat yang strategis yang sebelumnya tidak pernah berhasil direbut oleh pasukan oposisi.

    Pemberontak terlihat di televisi berparade melalui Hama hingga Kamis malam diiringi suara tembakan sebagai tanda perayaan. Rekaman lain menunjukkan para tahanan keluar dari penjara kota setelah pemberontak membebaskan mereka.

    Para pemberontak mengatakan mereka siap bergerak ke selatan menuju Homs, yang menghubungkan ibu kota Damaskus di utara dan kota-kota pelabuhan di pesisir.

    “Waktunya telah tiba,” kata seorang anggota ruang operasi pemberontak dalam sebuah posting daring, yang menyerukan warga Homs untuk bangkit dalam revolusi melawan pasukan pemerintah.

    Kelompok pemberontak yang paling kuat adalah HTS, kelompok Islam Sunni yang dulunya merupakan afiliasi al-Qaeda di Suriah.

    Pemimpinnya Abu Mohammed al-Julani telah berjanji untuk melindungi kelompok minoritas agama di Suriah dan telah meminta mereka untuk meninggalkan Assad, tetapi banyak yang masih takut terhadap para pemberontak.

    Kelompok ini telah berupaya untuk memoderasi citranya dalam beberapa tahun terakhir, tetapi para ahli mengatakan kelompok ini menghadapi tantangan dalam meyakinkan pemerintah Barat bahwa mereka telah sepenuhnya meninggalkan jihadisme garis keras.

     

    (oln/toi/*)

  • Al Qassam: Kami Berhasil Menargetkan 50 Orang Tentara Israel dengan Bom Antipersonel di Tel Al-Hawa – Halaman all

    Al Qassam: Kami Berhasil Menargetkan 50 Orang Tentara Israel dengan Bom Antipersonel di Tel Al-Hawa – Halaman all

    Al Qassam: Kami Berhasil Menargetkan 50 Orang Tentara Israel dengan Bom Antipersonel di Tel Al-Hawa

    TRIBUNNEWS.COM – Brigade Al-Qassam, sayap militer kelompok Palestina Hamas, mengumumkan pada Kamis (5/12/2024) kalau mereka menargetkan 50 tentara Israel (IDF) dengan alat peledak antipersonel di lingkungan Tel al-Hawa, Kota Gaza. 

    Al-Qassam menyebut sasaran penargetan kali ini adalah para personel infanteri IDF yang tengah berpatroli jalan kaki di wilayah tersebut. 

    “Kami berhasil menargetkan patroli jalan kaki Israel yang terdiri dari 50 tentara dengan alat peledak antipersonel di dekat Masjid Al-Falah,” kata Al Qassam dalam sebuah pernyataan tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

    Israel melancarkan perang genosida di Jalur Gaza pada bulan Oktober tahun lalu, menewaskan hampir 44.600 orang, kebanyakan dari mereka adalah wanita dan anak-anak, dan melukai lebih dari 105.700 orang.

    Tahun kedua genosida di Gaza telah menuai kecaman internasional yang semakin meningkat, dengan para pejabat dan lembaga melabeli serangan dan pemblokiran pengiriman bantuan sebagai upaya yang disengaja untuk menghancurkan suatu populasi.

    Bulan lalu, Pengadilan Kriminal Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

    Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas perang mematikannya di Gaza.

    Kekuatan Senjata Tak Bisa Selamatkan Sandera

    Sebelumnya, Hamas mengatakan pada Kamis (5/12/2024) kalau kematian enam sandera Israel selama serangan udara militer Israel (IDF) di dekat tempat mereka ditahan membuktikan kegagalan cara-cara militer untuk menyelamatkan para tawanan.

    Seperti diketahui, pada Rabu (4/12/2024) Tentara Israel mengklaim kalau keenam sandera yang jasadnya ditemukan di Gaza pada Agustus silam kemungkinan ditembak mati oleh para penculik mereka pada bulan Februari, sekitar waktu yang sama ketika serangan udara Israel menghantam dekat tempat mereka ditahan di kota selatan Khan Younis.

    “Kematian lebih banyak tawanan di tangan tentara mereka menegaskan kegagalan teori (Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu untuk membebaskan tawanan dengan kekerasan, dan bahwa tekanan militer tidak membebaskan sandera , tetapi membunuh mereka,” kata Hamas dalam sebuah pernyataan, Kamis dilansir Anews.

    “Netanyahu bertanggung jawab langsung atas kematian puluhan tawanan karena ia gagal mencapai kesepakatan , ” kata kelompok perlawanan tersebut.

    “Tidak ada alternatif selain menghentikan agresi, penarikan pasukan pendudukan, dan (mencapai) kesepakatan pertukaran,” tegasnya.

    Israel, yang menurut kelompok tahanan menahan sekitar 10.000 warga Palestina di penjaranya, memperkirakan ada 101 tawanan Israel di Gaza.

    Hamas mengatakan bahwa 33 tawanan Israel telah tewas dalam serangan udara Israel yang membabi buta di Gaza.

    Upaya mediasi yang dipimpin oleh AS, Mesir, dan Qatar untuk mencapai gencatan senjata Gaza dan perjanjian pertukaran tahanan antara Israel dan Hamas telah gagal karena penolakan Netanyahu untuk menghentikan perang.

    Israel melancarkan perang genosida di Jalur Gaza menyusul serangan Hamas pada Oktober 2023, yang menewaskan lebih dari 44.530 orang, sebagian besar wanita dan anak-anak, serta melukai lebih dari 105.500 orang.

    Tahun kedua genosida di Gaza telah menuai kecaman internasional yang semakin meningkat, dengan para pejabat dan lembaga mengecam serangan dan pemblokiran pengiriman bantuan sebagai upaya yang disengaja untuk menghancurkan penduduk.

    Bulan lalu, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

    Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas perang mematikannya di Gaza.

    Menteri Luar Negeri Israel Israel Katz (Tehran Times)

    Israel Klaim Hamas Sudah Tertekan 

    Di sisi lain, Israel mengklaim kalau Hamas sudah dalam posisi tertekan, sedemikian rupa hingga milisi perlawanan Palestina siap menerima gencatan senjata.

    Hal itu diungkapkan Menteri Pertahanan Israel Yisrael Katz pada Rabu.

    Katz menyatakan optimismenya mengenai tercapainya kesepakatan mengenai tahanan yang ditahan oleh kelompok perlawanan di Jalur Gaza.

    Media Israel mengutip Katz yang mengatakan bahwa tekanan terhadap Gerakan Hamas semakin meningkat.

    “Kami benar-benar dapat mencapai kesepakatan mengenai para sandera saat ini,” katanya.

    Dalam klip video yang disiarkan dua hari lalu, Hamas mengumumkan terbunuhnya 33 tahanan Israel yang ditahannya, karena sebagian besar dari mereka tewas akibat pemboman tentara pendudukan Israel di berbagai wilayah Jalur Gaza sejak dimulainya agresi pada tahun 2018. Oktober 2023.

    Sementara itu, Presiden terpilih AS Donald Trump Senin lalu mengancam dengan “neraka di Timur Tengah jika para tahanan di Gaza tidak dibebaskan sebelum pelantikannya pada 20 Januari.”

    Trump mengatakan, dalam sebuah postingan di platform media sosial, “Para pejabat akan menerima pukulan yang lebih parah daripada yang pernah diterima siapa pun dalam sejarah Amerika Serikat yang panjang dan kaya… Bebaskan para tahanan sekarang.”

    Hamas menyerukan diakhirinya perang dan menyelesaikan penarikan Israel dari Jalur Gaza dalam kerangka perjanjian apa pun untuk membebaskan tahanan yang tersisa, sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersikeras untuk melanjutkan perang sampai Hamas dilenyapkan dan memastikan bahwa mereka tidak menyerah pada ancaman bagi Israel.

     

    (oln/khbrn/Anews/*)

  • Bertemu di Kairo, Fatah dan Hamas Bahas Wacan Pembukaan Koridor Rafah

    Bertemu di Kairo, Fatah dan Hamas Bahas Wacan Pembukaan Koridor Rafah

    ERA.id – Gerakan Pembebasan Nasional Palestina (Fatah) dan kelompok perjuangan Hamas melakukan pertemuan di Kairo, Minggu (1/12). Pertemuan itu guna menindaklanjuti usulan Mesir soal pembukaan kembali koridor perbatasan Rafah.

    “Fatah sangat mendukung penghentian segera perang Israel terhadap Jalur Gaza, mempercepat pengiriman bantuan, dan memulai rekonstruksi,” kata pejabat Fatah, Abdullah Abdullah, dikutip Anadolu, Senin (2/12/2024).

    “Delegasi Fatah hadir di Kairo untuk berdiskusi dengan delegasi Hamas mengenai usulan Mesir terkait pembukaan kembali lintasan perbatasan Rafah (antara Gaza dan Mesir) dan pengelolaannya oleh Otoritas Palestina di sisi Palestina,” sambungnya.

    Diketahui, perbatasan Rafah yang juga sebagai jalur utama bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza ditutup oleh Mesir sejak Mei lalu. Penutupan ini dilakukan Mesir setelah Israel menguasai sebagian besar wilayah Palestina. 

    Mesir menuntut penghentian pendudukan tersebut agar lintasan perbatasan dapat dibuka kembali.

    Meski demikian, Abdullah tidak mengungkapkan rincian lebih lanjut tentang usulan-usulan Mesir tersebut.

    Menurut surat kabar Israel, Yedioth Ahronoth, delegasi Hamas yang dipimpin oleh pejabat tinggi Khalil al-Hayya tiba di ibu kota Mesir untuk bertemu dengan Kepala Badan Intelijen Umum Mesir, Mayor Jenderal Hassan Mahmoud Rashad, pada Sabtu (30/11).

    Surat kabar tersebut melaporkan pada Minggu bahwa Mesir berusaha memperkuat rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah sambil mendorong kesepakatan pertukaran sandera.

    Dalam laporan tersebut, yang mengutip sumber media, dikatakan bahwa Hamas bersedia menerima “kesepakatan bertahap” yang mirip dengan kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku antara Israel dan Lebanon pada 27 November.

    Kesepakatan tersebut akan melibatkan penarikan pasukan Israel secara bertahap dari Jalur Gaza, bukan penarikan segera seperti yang sebelumnya diminta oleh Hamas. 

    Pada 21 November, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

    Israel juga menghadapi kasus genosida di Pengadilan Internasional atas perang mematikan yang dilancarkan di Gaza.

  • Inggris Tinjau Ekspor Komponen F-35 ke Israel setelah Dapat Tekanan dari Aktivis – Halaman all

    Inggris Tinjau Ekspor Komponen F-35 ke Israel setelah Dapat Tekanan dari Aktivis – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Pemerintah Inggris sedang melakukan peninjauan terhadap keputusan ekspor komponen jet tempur F-35 ke Israel.

    Peninjauan ini dilakukan sebagai respons terhadap kekhawatiran dari kelompok pegiat yang berupaya memblokir ekspor tersebut.

    Dikutip dari Middle East Eye, dua kelompok kampanye, Jaringan Aksi Hukum Global (GLAN) dan AlHaq, mengungkapkan bahwa mereka telah menerima konfirmasi dari pemerintah Inggris mengenai peninjauan ini.

    Peninjauan dilakukan setelah adanya ancaman dari kedua kelompok untuk meminta perintah pengadilan darurat guna menghentikan semua ekspor senjata ke Israel, dengan alasan bahwa senjata buatan Inggris dapat digunakan untuk melanggar hukum humaniter internasional di Gaza.

    Dalam pernyataan yang dikeluarkan, pemerintah Inggris mengakui bahwa mereka sedang meninjau lisensi ekspor komponen pesawat tempur F-35 dan lisensi ekspor senjata langsung ke Israel.

    Pada bulan September, Inggris telah menangguhkan 30 lisensi ekspor senjata ke Israel setelah menemukan risiko pelanggaran yang jelas.

    Namun, ratusan lisensi ekspor senjata lainnya masih tetap berlaku.

    Meskipun demikian, pemerintah Inggris menegaskan bahwa mereka tidak akan menghentikan ekspor komponen F-35 ke kumpulan global yang dikelola oleh AS, meskipun ada kemungkinan komponen tersebut dapat berakhir di Israel.

    Menurut pemerintah, program F-35 merupakan bagian integral dari keamanan internasional.

    Peninjauan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Gaza, di mana hampir 45.000 orang dilaporkan tewas akibat konflik.

    Para ahli menyatakan bahwa Israel telah mengandalkan jet F-35 untuk serangan udara di Gaza dan Lebanon selama 13 bulan terakhir.

    Komponen buatan Inggris menyumbang sekitar 15 persen dari total jet tersebut.

    Pengadilan Kriminal Internasional juga telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas tuduhan kejahatan perang.

    Saat dihubungi oleh Middle East Eye, Departemen Bisnis dan Perdagangan Inggris menolak untuk memberikan komentar lebih lanjut mengenai situasi ini.

    (Tribunnews.com, Andari Wulan Nugrahani)

  • Lebanon Pastikan Hizbullah Tak Akan Diam Jika Israel Terus Melanggar: Kesabaran Ada Batasnya – Halaman all

    Lebanon Pastikan Hizbullah Tak Akan Diam Jika Israel Terus Melanggar: Kesabaran Ada Batasnya – Halaman all

    TRIBUNNEWS.com – Anggota Parlemen Lebanon, Hassan Ezzeddine, memastikan Hizbullah tak akan tinggal diam jika Israel terus melakukan pelanggaran gencatan senjata.

    “Kesabaran ada batasnya,” kata dia baru baru ini saat wawancara bersama Al Mayadeen.

    Ezzeddine mendesak komite yang bertanggung jawab untuk memantau penerapan Resolusi 1701 agar “memenuhi tanggung jawab dan tugasnya.”

    Ia juga menambahkan, “Hizbullah tetap berkomitmen untuk tidak melanggar perjanjian gencatan senjata. Sementara, pelanggaran Israel telah melampaui batas.”

    “Kita sudah menang, Perlawanan tetap ada, berlanjut, dan akan selalu hadir untuk mempertahankan tanah kita,” tegasnya.

    Ezzeddine kemudian menekankan, “tidak seorang pun bisa meremehkan arti penting kemenangan yang didapat lewat ketegugan.”

    Terpisah, Wakil Kepala Dewan Politik Hizbullah, Mahmoud Qomati, menilai mekanisme gencatan senjata “masih belum jelas”.

    Ia mengkritik Amerika Serikat (AS) karena bersikap lunak dan membiarkan Israel melakukan pelanggaran, tanpa menghadapi risiko apapun.

    Dalam konteks ini, Qomati menekankan, “Kelalaian komite yang mengawasi gencatan senjata adalah sesuatu yang disengaja.”

    “Musuh (Israel) dibiarkan melakukan apa yang gagal mereka lakukan selama agresi,” imbuh dia.

    Karena itu, Qomati mendesak perlunya “gencatan senjata yang sebenarnya diterapkan.”

    Sebab, menurut dia, “Israel lah yang membutuhkan gencatan senjata ini.”

    Israel Lakukan 18 Pelanggaran dalam Dua Hari Pertama Gencatan Senjata

    Sebelumnya, otoritas Lebanon melaporkan Israel telah melakukan pelanggaran sejak hari pertama gencatan senjata.

    Dalam kurun waktu Rabu (27/11/2024) dan Kamis (28/11/2024), Israel dilaporkan telah melakukan 18 pelanggaran.

    Angka itu menurut penghitungan Anadolu Ajansi, yang dikumpulkan melalui pengumuman tentara Israel dan sumber berita, termasuk Kantor Berita Nasional Lebanon.

    Berikut 10 pelanggaran yang secara rinci tercatat dilakukan Israel atas gencatan senjata dengan Hizbullah.

    Pelanggaran pada Rabu

    Serangan drone Israel menghantam sebuah mobil di Kota Markaba, Distrik Marjayoun, Provinsi Nabatieh. Serangan ini melukai dua orang.

    Radio Angkatan Darat Israel mengatakan mobil itu menjadi sasaran “karena memasuki area terlarang.”

    Pesawat tempur Israel menyerang sebuah lokasi di Lebanon selatan, yang diklaim militer sebagai milik Hizbullah dan menampung roket.
    Tembakan tank Israel menghantam Kota Kafr Shuba dan Al-Wazzani di Distrik Hasbaiyya, Provinsi Nabatieh.
    Artileri Israel menembaki Kota Taybeh dan Khiam, serta dataran Marjayoun di Distrik Marjayoun.
    Artileri Israel menembaki perbukitan Kota Haltah di Distrik Hasbaiyya, dan wilayah Ras al-Zaher di Kota Mays al-Jabal, Distrik Marjayoun.
    Drone Israel terbang di atas kota-kota di Distrik Tye di Provinsi Selatan, dan Kota Bint Jbeil di Provinsi Nabatieh.
    Artileri Israel menembaki Kota Aita al-Shaab, dan Kota Bint Jbeil di Distrik Bint Jbeil.

    Pelanggaran pada Kamis

    Tentara Israel menembaki jurnalis di Kota Khiam, Distrik Marjayoun, saat mereka meliput kepulangan penduduk dan penarikan pasukan Israel.

    Serangan itu melukai dua orang.

    Artileri Israel menembakkan peluru di dekat Gerbang Fatima di Kota Kafr Kila di Distrik Marjayoun.

    Kota Khiam dan Odaisseh juga menjadi sasaran.

    Tentara Israel menangkap empat warga di Lebanon selatan, dengan tuduhan mendekati pasukan Israel di wilayah itu.

    Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan mereka adalah anggota Hizbullah dan salah satu dari mereka adalah pemimpin setempat.

    (Tribunnews.com/Pravitri Retno W)

  • Jelang Pelantikan, Trump Ancam Hamas Bebaskan Sandera: Neraka yang Harus Dibayar!

    Jelang Pelantikan, Trump Ancam Hamas Bebaskan Sandera: Neraka yang Harus Dibayar!

    ERA.id – Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ancaman nyata yang ditujukan untuk Hamas. Trump akan menyeret Hamas ke neraka bila tidak membebaskan para sandera.

    Ancaman itu disampaikan oleh Trump lewat media sosialnya, Senin (2/12). Pada unggahan itu, Trump mendesak Hamas untuk membebaskan para sandera sebelum pelantikan pada 20 Januari mendatang. 

    “Jika para sandera tidak dibebaskan sebelum tanggal 20 Januari 2025, tanggal ketika saya dengan bangga memangku jabatan sebagai Presiden Amerika Serikat, akan ADA SEMUA NERAKA YANG HARUS DIBAYAR di Timur Tengah, dan bagi mereka yang bertanggung jawab atas kekejaman terhadap Kemanusiaan ini,” kata Trump, dikutip Reuters, Selasa (3/12/2024).

    Selama serangan mematikan mereka pada tahun 2023 di Israel, militan yang dipimpin Hamas menangkap lebih dari 250 orang, menurut penghitungan Israel, termasuk warga negara Israel-Amerika. 

    Sekitar setengah dari 101 sandera asing dan Israel yang masih ditahan tanpa akses komunikasi di Gaza diyakini masih hidup

    “Mereka yang bertanggung jawab akan menerima pukulan lebih keras daripada yang pernah diterima siapa pun dalam Sejarah Amerika Serikat yang panjang dan bertingkat,” ujar Trump.

    Hamas telah menyerukan diakhirinya perang dan penarikan total Israel dari Gaza sebagai bagian dari kesepakatan apa pun untuk membebaskan sandera yang tersisa.

    Tetapi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan perang akan terus berlanjut hingga Hamas diberantas dan tidak lagi menimbulkan ancaman bagi Israel.

    Pada hari Senin, Hamas mengatakan bahwa 33 sandera di Gaza telah tewas selama perang yang berlangsung hampir 14 bulan antara kelompok militan Palestina dan Israel di daerah kantong itu, tanpa menyebutkan kewarganegaraan mereka.

    Israel melancarkan perangnya setelah pejuang yang dipimpin Hamas menyerang komunitas Israel pada 7 Oktober 2023, menewaskan 1.200 orang, menurut penghitungan Israel.

    Serangan militer Israel telah menewaskan lebih dari 44.400 warga Palestina dan membuat sebagian besar penduduk Gaza mengungsi, kata pejabat Gaza. Sebagian besar daerah kantong itu hancur.

  • Netanyahu Kali Ini Tunjukkan Keseriusan dalam Mencapai Kesepakatan di Gaza, Ada Intervensi Trump – Halaman all

    Netanyahu Kali Ini Tunjukkan Keseriusan dalam Mencapai Kesepakatan di Gaza, Ada Intervensi Trump – Halaman all

    Dapat Intervensi Trump, Netanyahu Kali Ini Tunjukkan Keseriusan dalam Mencapai Kesepakatan di Gaza

    TRIBUNNEWS.COM- Sumber politik yang dekat dengan pemerintah Israel melaporkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk pertama kalinya menunjukkan keseriusan dalam negosiasi mengenai perjanjian pertukaran tahanan dengan Hamas.

    Netanyahu telah mengambil inisiatif untuk mengajukan proposal terbaru yang mencakup ide-ide baru yang serupa dengan perjanjian gencatan senjata bisa dicapai dengan Lebanon.

    Sumber tersebut mengatakan bahwa ada beberapa alasan yang mendorong Netanyahu untuk membuat kemajuan ke arah ini.

    Yang paling penting adalah intervensi efektif dari Presiden terpilih AS Donald Trump dan timnya dalam pembicaraan dengan kru yang dekat dengan Netanyahu.

    Kru yang dipimpin oleh Menteri Urusan Strategis Ron Dermer, yang dianggap sebagai orang kepercayaan dan sekretaris terdekat Netanyahu dan dihormati terutama oleh Trump.

    Menurut situs web Walla, Trump mengirim pesan tegas dan kategoris di mana ia mengancam para pemimpin Hamas dengan neraka baru di satu sisi, dan di mana ia meyakinkan Israel bahwa ia tidak akan menerima kelanjutan perang tanpa tujuan dan menyia-nyiakan kesempatan untuk melakukan hal yang sama. 

    Mencapai kesepakatan, dan tuntutan tegasnya agar dia ingin kesepakatan ini diselesaikan sebelum dia memasuki Gedung Putih.

    Alasan kedua adalah Netanyahu kini mampu meyakinkan pemerintahannya mengenai kesepakatan ini, karena kesepakatan tersebut merupakan perjanjian gencatan senjata sementara yang akan terus diuji dan tetap membuka pintu untuk kembali berperang, seperti yang terjadi di Lebanon. 

    Di mana tentara Israel terus melakukan serangan dan operasi bahkan setelah gencatan senjata. 

    Dalam hal ini, hanya Menteri Keamanan Nasional yang ekstremis, Itamar Ben Gvir, yang secara serius menolak perjanjian tersebut.

    Dan bahkan hal ini lemah dan tidak menimbulkan ancaman untuk menggulingkan pemerintah Netanyahu, di mana ia akan mendapatkan keistimewaan di bidang pemukiman di Tepi Barat. 

    Dan tetap memasukkan gagasan pemukiman di Jalur Gaza dalam agendanya.

    Namun alasan yang paling penting adalah bahwa perhitungan pribadi Netanyahu telah berubah. 

    Jika dia tidak mengambil tindakan menuju kesepakatan tersebut, fokus masyarakat Israel akan tertuju pada persidangan Netanyahu dalam kasus korupsi, yang akan dilanjutkan pada Selasa depan, dan berminggu-minggu akan dihabiskan untuk mendengarkan kesaksiannya sebagai tersangka utama. 

    Laporan ini juga akan fokus pada kasus-kasus korupsi lain yang meledak di hadapan Netanyahu dan pemerintahannya, seperti isu kebocoran file keamanan yang melanggar hukum.

    Sedangkan menuju kesepakatan, fokusnya akan tertuju pada perundingan dan tahapan implementasi kesepakatan, dalam beberapa tahap, selangkah demi selangkah, dan akan meliput berita pengadilan selama beberapa minggu. 

    Dalam posisi ini, Netanyahu dan para penasihat strategisnya didasarkan pada fakta bahwa oposisi partai lemah dan tidak memanfaatkan krisis pemerintah dan koalisinya dengan baik. Masyarakat umum juga sudah bosan dengan penundaan dalam mencapai kesepakatan.

    Koresponden militer surat kabar “Maariv”, Avi Ashkenazi, menjelaskan alasan lain perubahan sikap Netanyahu, yakni terbitnya hasil investigasi pembunuhan 6 tahanan Israel yang ditahan “Hamas” pada Februari lalu, yang hanya terungkap pada bulan Agustus, dan ternyata mereka ditembak mati oleh orang-orang Hamas, yang menerima perintah untuk membunuh setiap tahanan jika pasukan Israel mendekat untuk membebaskannya secara militer. 

    Dia juga menegaskan bahwa meskipun para tahanan ini tidak ditembak mati, mereka akan melakukannya telah mati seperti… Para penculik dan pengawal mereka berasal dari Hamas akibat gas beracun yang ditimbulkan oleh serangan Israel. 

    Oleh karena itu, kemungkinan untuk membebaskan mereka dengan paksa saat mereka masih hidup kini mendekati nol.

    Optimisme yang hati-hati

    Ashkenazi berkata, “Ada optimisme yang hati-hati di kalangan aparat keamanan dan tentara Israel mengenai masalah ini. Mereka yang berada di sekitar negosiasi – di Mossad, Shin Bet, dan tentara – tidak ingin media diberitahu tentang perkembangan tersebut. 

    Penjelasannya adalah bahwa mereka tidak ingin mengembangkan ekspektasi di kalangan masyarakat, namun di tingkat tempur di militer mereka menceritakan tentang perubahan yang terjadi di Gaza.” Menurut sumber-sumber tersebut, Hamas sedang berubah dan mulai melunakkan posisinya.

    Sumber-sumber ini menyebutkan beberapa alasan perubahan di tubuh Hamas, yang pertama adalah likuidasi Yahya Sinwar, yang menyebabkan guncangan di semua tingkat organisasi. 

    Alasan kedua adalah operasi “Divisi 162” di Jabalia utara dan Beit Lahia. Tentara melenyapkan lebih dari 1.300 anggota perlawanan di sana, dan menangkap sekitar 1.500 lainnya. 

    Operasi ini berdampak pada salah satu jangkar operasional dan moral Hamas di Gaza. Alasan ketiga adalah ketegasan tentara Israel di Lebanon selatan dan mundurnya Hizbullah yang terpaksa menyerah untuk melanjutkan pertempuran.

    Saluran 11 televisi resmi Israel telah mengkonfirmasi bahwa “setiap hari tentara Israel kehilangan tekanannya terhadap Hamas. 

    Tentara tenggelam dalam lumpur Gaza, dan fakta bahwa tingkat politik tidak memiliki rencana strategis untuk masa depan Gaza membuat kita semakin terkejut. sulit untuk bekerja secara fokus.”

    Gencatan senjata sementara

    Saluran tersebut mengutip para pejabat Israel yang mengatakan bahwa “Israel mengajukan kepada Hamas melalui Mesir pada awal minggu ini sebuah proposal mengenai garis besar perjanjian yang diperbarui untuk membebaskan warga Israel yang diculik dan gencatan senjata sementara di Gaza.” 

    Informasi awal menunjukkan bahwa proposal baru Israel tidak berbeda secara signifikan dengan proposal yang dibahas sebelumnya, dan berfokus pada upaya implementasi tahap pertama dari kesepakatan yang dinegosiasikan pada Agustus lalu, yang pada akhirnya tidak membuahkan hasil dan tidak membuahkan hasil.

    Pejabat senior Israel mengatakan bahwa usulan Israel yang diperbarui telah disetujui dalam diskusi yang diadakan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, pada hari Minggu, dengan sejumlah menteri senior dan kepala badan keamanan. 

    Prinsip-prinsip garis besar yang diperbarui telah disampaikan kepada para pejabat intelijen Mesir, dan mereka menyampaikannya kepada perwakilan Hamas dalam pembicaraan yang diadakan di Kairo pada hari Senin dan Selasa.

    Proposal yang diperbarui mencakup kesiapan Israel untuk melakukan gencatan senjata antara 42 dan 60 hari, dan pembebasan semua wanita yang masih hidup dan ditahan oleh Hamas, dan semua pria yang masih hidup berusia di atas 50 tahun yang ditahan oleh Hamas, selain mereka yang diculik, orang yang berada dalam kondisi kesehatan yang serius.

    Israel sebelumnya menuntut pembebasan 33 orang yang diculik dan masih hidup dari kelompok usia dan sosial tersebut, namun saat ini Israel siap melepaskan jumlah yang lebih kecil. 

    Salah satu alasan perkiraan ini adalah bahwa beberapa korban penculikan dari kategori ini sudah tidak hidup lagi.

    Sebagai imbalannya, Israel siap melepaskan ratusan tahanan Palestina sebagai imbalan atas pembebasan orang-orang yang diculik, beberapa di antaranya menjalani hukuman penjara seumur hidup.

    SUMBER: ASHARQ AL-AWSAT

  • PBB Desak IDF Angkat Kaki dari Dataran Tinggi Golan, Sebut Tindakan Israel Ilegal – Halaman all

    PBB Desak IDF Angkat Kaki dari Dataran Tinggi Golan, Sebut Tindakan Israel Ilegal – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Majelis Umum PBB secara resmi menuntut PM Israel Benjamin Netanyahu menarik pasukan pertahanan IDF dari Dataran Tinggi Golan, Suriah.

    Desakan itu dilayangkan lewat resolusi atau naskah formal yang diadopsi oleh PBB, pada Kamis (5/12/2024).

    Isi resolusi tersebut menegaskan kembali perlunya Israel untuk mematuhi hukum internasional dan resolusi PBB yang relevan.

    Serta menekankan bahwa keputusannya untuk memaksakan hukum dan yurisdiksinya di Dataran Tinggi Golan adalah “batal demi hukum dan tidak memiliki keabsahan apa pun.”

    Lebih lanjut, pasukan Israel juga dituntut untuk menarik diri dari seluruh Golan, Suriah hingga ke garis batas 4 Juni 1967.

    Resolusi itu juga menekankan legalitas pembangunan pemukiman serta kegiatan lain di wilayah tersebut.

    “Pendudukan berkelanjutan atas Golan Suriah dan aneksasi de facto merupakan batu sandungan dalam upaya mencapai perdamaian yang adil, komprehensif, dan abadi di wilayah tersebut,” jelas resolusi tersebut, dikutip dari Anadolu Agency.

    PBB tak sendiri untuk menekan resolusi tersebut sekelompok negara turut mendukung upaya ini diantaranya ada Bolivia, Kuba, Korea Utara, Mesir, Irak, Yordania, Lebanon.

    Disusul Oman, Qatar, Arab Saudi, Afrika Selatan, Sudan, Suriah, Tunisia, Uni Emirat Arab, Venezuela, dan Yaman.

    Dataran Tinggi Golan sejak dulu menjadi medan tempur antara Israel dan Hizbullah. 

    Penara berbatu yang menjulang hingga ketinggian 2.800 meter di barat daya Suriah itu telah lama diperebutkan lantaran letaknya yang strategis.

    Golan sendiri membelah Israel, Lebanon, Suriah dan Yordania, antara Danau Galilea di barat, Sungai Yarmouk di selatan, Wadi Raqqad di timur dan Gunung Hermon di utara.

    Meski dipenuhi berbatu, Golan menyisakan lahan pertanian yang luas yang kini digunakan untuk perkebunan anggur atau lahan rumput untuk sapi dan domba.

    Elevasi ini yang membuat Golan bernilai strategis bagi militer Israel, terutama untuk mencegah serangan dari Suriah dan Lebanon.

    Karena dengan menduduki Golan, militer Israel memaksa Suriah tidak berkutik karena punya alat perang yang hanya berjarak 60 kilometer dari ibu kota Damaskus. 

    Selain itu, dengan menduduki Golan Israel dapat mengamankan sumber air minum bagi populasinya.

    Alasan ini yang membuat Israel mencaplok wilayah tersebut pada tahun 1981, sebuah tindakan yang tidak diakui oleh sebagian besar komunitas internasional.
     
    Suriah mengatakan wilayah tersebut selalu menjadi miliknya dan telah berjanji untuk merebut kembali wilayah tersebut, sementara Israel mengatakan bahwa ketinggian tersebut sangat penting untuk pertahanannya dan akan tetap berada di tangannya selamanya.

    Pasca perebutan itu, sekitar 20.000 pemukim Yahudi dilaporkan tinggal secara ilegal di Dataran Tinggi Golan.

    Permukiman tersebut dianggap ilegal menurut hukum internasional, meskipun Israel membantahnya.
     
     (Tribunnews.com / Namira Yunia)