Tag: Benjamin Netanyahu

  • Netanyahu Tak Jadi Hadiri KTT Gaza di Mesir, Ini Alasannya

    Netanyahu Tak Jadi Hadiri KTT Gaza di Mesir, Ini Alasannya

    Jakarta

    Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu yang diundang oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menghadiri pertemuan puncak perdamaian Gaza di Mesir, tidak akan menghadiri KTT tersebut. Alasannya, acara tersebut terlalu dekat dengan dimulainya hari raya Yahudi, ungkap kantor Netanyahu.

    Di KTT perdamaian Gaza tersebut, lebih dari 20 pemimpin dunia akan mempertimbangkan langkah-langkah selanjutnya dalam rencana 20 poin Trump, yang bertujuan untuk mengamankan perdamaian abadi setelah dua tahun perang Israel-Hamas di Gaza.

    “Perdana Menteri Netanyahu diundang oleh Presiden AS Donald Trump untuk menghadiri konferensi di Mesir hari ini,” demikian pernyataan kantornya.

    “Perdana Menteri berterima kasih kepada Presiden Trump atas undangannya, tetapi mengatakan ia tidak dapat hadir karena waktunya bertepatan dengan dimulainya hari raya Simhat Torah, yang dimulai Senin malam dan berlangsung hingga matahari terbenam Selasa,” kata kantor Netanyahu, dilansir kantor berita AFP, Senin (13/10/2025).

    Sebelumnya, seorang juru bicara kepresidenan Mesir mengatakan bahwa Netanyahu akan hadir di KTT tersebut.

    “Baik Presiden Palestina Mahmoud Abbas maupun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan berpartisipasi dalam pertemuan puncak perdamaian tersebut untuk memperkuat kesepakatan guna mengakhiri perang di Gaza dan menegaskan kembali komitmen mereka terhadap kesepakatan itu,” kata juru bicara tersebut, dilansir kantor berita AFP dan Reuters, Senin (13/10/2025).

    (ita/ita)

  • Netanyahu Bakal Hadiri KTT Perdamaian Gaza di Mesir

    Netanyahu Bakal Hadiri KTT Perdamaian Gaza di Mesir

    Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu akan menghadiri KTT perdamaian Gaza yang digelar di Mesir pada hari Senin (13/10). Kepastian soal kehadiran Netanyahu disampaikan oleh seorang juru bicara kepresidenan Mesir.

    “Baik Presiden Palestina Mahmoud Abbas maupun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan berpartisipasi dalam pertemuan puncak perdamaian tersebut untuk memperkuat kesepakatan guna mengakhiri perang di Gaza dan menegaskan kembali komitmen mereka terhadap kesepakatan itu,” kata juru bicara tersebut, dilansir kantor berita AFP dan Reuters, Senin (13/10/2025).

    Juru bicara tersebut juga mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump dan Netanyahu telah melakukan panggilan telepon dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi saat mereka berada di Israel pada hari Senin (13/10).

    Sebelumnya, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa Presiden Palestina Mahmoud Abbas akan menghadiri KTT Gaza di Mesir pada Senin (13/10) waktu setempat. Macron menyebut kehadiran Abbas sebagai pertanda sangat baik.

    Abbas, yang memimpin Otoritas Palestina, “akan hadir di KTT ini”, kata Macron.

    “Ini pertanda sangat baik… Ini merupakan pengakuan atas peran yang harus dimainkan Otoritas Palestina sebagai entitas yang sah,” ujarnya, dilansir kantor berita AFP, Senin (13/10/2025).

    “Mengenai masalah tata kelola, kami akan memainkan peran khusus untuk mendampingi Otoritas Palestina dan memastikannya menjalankan perannya, serta melakukan reformasi untuk masa mendatang,” ujar Macron tentang Prancis.

    KTT tersebut, yang akan dipimpin Trump dan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, akan dihadiri lebih dari 20 pemimpin negara untuk menandai gencatan senjata Gaza dan pembebasan para sandera Israel dengan imbalan para tahanan Palestina.

    Trump mengatakan perang di Gaza, Palestina, sudah berakhir. Dalam perjalanannya menuju Israel dengan para wartawan, Trump dengan percaya diri mengatakan bahwa “perang telah berakhir”.

    Tonton juga video “Netanyahu Jelang Pertukaran Sandera: Peristiwa Bersejarah” di sini:

  • Macron Bilang Presiden Palestina Akan Hadiri KTT Gaza di Mesir

    Macron Bilang Presiden Palestina Akan Hadiri KTT Gaza di Mesir

    Jakarta

    Presiden Palestina Mahmoud Abbas akan menghadiri KTT perdamaian Gaza yang akan berlangsung di Mesir pada Senin (13/10) waktu setempat. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyampaikan hal tersebut dan menyebut kehadiran Abbas sebagai pertanda sangat baik.

    KTT tersebut, yang akan dipimpin Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi, akan dihadiri lebih dari 20 pemimpin negara untuk menandai gencatan senjata Gaza dan pembebasan para sandera Israel dengan imbalan para tahanan Palestina.

    Abbas adalah rival Hamas yang tidak akan ikut menghadiri KTT tersebut.

    Abbas, yang memimpin Otoritas Palestina, “akan hadir di KTT ini”, kata Macron.

    “Ini pertanda sangat baik… Ini merupakan pengakuan atas peran yang harus dimainkan Otoritas Palestina sebagai entitas yang sah,” ujarnya, dilansir kantor berita AFP, Senin (13/10/2025).

    “Mengenai masalah tata kelola, kami akan memainkan peran khusus untuk mendampingi Otoritas Palestina dan memastikannya menjalankan perannya, serta melakukan reformasi untuk masa mendatang,” ujar Macron tentang Prancis.

    Sebelumnya, Trump mengatakan perang di Gaza, Palestina, sudah berakhir. Dalam perjalanannya menuju Israel dengan para wartawan, Trump dengan percaya diri mengatakan bahwa “perang telah berakhir”.

    Trump dijadwalkan tiba di Israel usai pembebasan para tahanan. Trump akan berpidato di hadapan parlemen Israel sebelum menuju Mesir yang menjadi tuan rumah pertemuan para pemimpin dunia terkait perdamaian di Gaza.

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim negaranya meraih kemenangan atas Hamas. “Bersama-sama kita meraih kemenangan luar biasa, kemenangan yang memukau seluruh dunia… Namun di saat yang sama, saya harus memberi tahu Anda, perjuangan belum berakhir,” ujar Netanyahu.

    Senada dengan Netanyahu, Panglima Angkatan Darat Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, juga mengklaim kemenangan. “Tekanan militer yang kami terapkan selama dua tahun terakhir, bersama dengan langkah-langkah diplomatik pelengkap, merupakan kemenangan atas Hamas,” kata Zamir.

    Halaman 2 dari 2

    (ita/ita)

  • Hamas Serahkan 13 Sandera Lagi, Total 20 Sandera Dibebaskan

    Hamas Serahkan 13 Sandera Lagi, Total 20 Sandera Dibebaskan

    Gaza City

    Kelompok Hamas menyerahkan 13 sandera lainnya dalam kelompok kedua di Jalur Gaza pada Senin (13/10) waktu setempat, sesuai dengan kesepakatan gencatan senjata dengan Israel. Ini berarti total 20 sandera yang masih hidup telah diserahkan oleh Hamas kepada Israel, melalui Komite Palang Merah Internasional (ICRC).

    Laporan televisi publik Israel, seperti dilansir AFP dan Al Arabiya, Senin (13/10/2025), menyebut Hamas telah membebaskan sandera-sandera yang masih hidup itu dalam dua kelompok, yang diserahkan kepada perwakilan ICRC di Jalur Gaza yang kemudian membawa mereka ke wilayah Israel.

    Kelompok pertama yang terdiri atas tujuh sandera diserahkan lebih awal pada Senin (13/10) pagi waktu setempat. Kelompok kedua yang terdiri atas 13 sandera lainnya diserahkan kemudian, pada hari yang sama, kepada perwakilan ICRC di wilayah Khan Younis, Jalur Gaza bagian selatan.

    Pembebasan para sandera ini merupakan bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang disetujui Israel dan Hamas, dengan didorong oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyusun rencana perdamaian 20 poin untuk mengakhiri perang Gaza.

    Jenazah sebagian dari 28 sandera yang tewas, dan dua orang lainnya yang nasibnya belum diketahui, juga akan diserahkan pada Senin (13/10).

    Sebagai imbalan pembebasan sandera oleh Hamas, Israel akan membebaskan hampir 2.000 tahanan Palestina dan para narapidana yang ditahan di penjara-penjara mereka. Sebagian besar tahanan Palestina itu merupakan warga Gaza yang ditahan sejak awal perang berkecamuk.

    Pembebasan para sandera itu disambut sorakan dan tangisan ratusan orang yang berkumpul di Alun-alun Sandera Tel Aviv.

    “Kami telah menunggu 738 hari untuk mengatakan ini: Selamat datang kembali,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Israel via media sosial X.

    Kementerian Luar Negeri Israel baru merilis nama tujuh sandera yang dibebaskan Hamas, yakni Guy Gilboa Dalal, Eitan Mor, Matan Angrest, Alon Ohel, Gali, Ziv Berman and Omri Miran. Nama 13 sandera lainnya belum diumumkan oleh Tel Aviv.

    Kendaraan ICRC membawa para sandera yang diserahkan Hamas pada Senin (13/10) setelah ditahan di Gaza selama dua tahun terakhir Foto: Reuters

    Sementara itu, di Jalur Gaza, belasan pria bersenjata yang memakai penutup wajah dan berpakaian hitam, yang tampaknya anggota sayap bersenjata Hamas, tiba di Rumah Sakit Nasser di mana panggung dan kursi telah disiapkan untuk menyambut para tahanan Palestina yang akan kembali.

    Juru bicara Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu, Shosh Bedrosian, sebelumnya mengatakan kepada wartawan bahwa Israel akan mulai membebaskan tahanan Palestina setelah mendapat konfirmasi soal semua sandera yang ditahan di Gaza telah tiba dengan selamat di negara tersebut.

    “Tahanan-tahanan Palestina akan dibebaskan setelah Israel mendapat konfirmasi bahwa semua sandera kami yang akan dibebaskan besok telah melintasi perbatasan perbatasan menuju Israel,” kata Bedrosian pada Minggu (12/10).

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Hamas Bebaskan Sandera, Trump Tiba di Israel

    Hamas Bebaskan Sandera, Trump Tiba di Israel

    Tel Aviv

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendarat di Israel pada Senin (13/10) waktu setempat, bertepatan ketika kelompok Hamas mulai membebaskan sandera Israel di Jalur Gaza berdasarkan kesepakatan gencatan senjata yang diusulkan Trump.

    Pesawat kepresidenan AS Air Force One yang membawa Trump, seperti dilansir AFP dan Al Arabiya, Senin (13/10/2025), mendarat di Bandara Internasional Ben Gurion pada Senin (13/10) waktu setempat.

    Saat menuruni Air Force One, Trump disambut langsung oleh Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu dan Presiden Isaac Herzog. Trump didampingi oleh Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dan menantunya, Jared Kushner, yang turut berperan dalam merundingkan gencatan senjata Gaza.

    Putri Trump, Ivanka, juga tampak hadir mendampingi ayahnya.

    Sesaat sebelum mendarat di Tel Aviv, Air Force One mengudara di atas Alun-alun Sandera Tel Aviv, yang menjadi tempat puluhan ribu orang berkumpul menanti pembebasan para sandera.

    Kedatangan Trump itu terjadi tepat setelah tujuh sandera dalam kelompok pertama tiba di Israel setelah dibebaskan Hamas di Jalur Gaza, dengan bantuan Komite Palang Merah Internasional (ICRC).

    Kunjungan Trump ke Israel yang akan berlangsung singkat ini menjadi bentuk pesan dukungan untuk Tel Aviv, sekutu dekat Washington. Trump dijadwalkan akan berpidato di hadapan parlemen Israel, Knesset, pada Senin (13/10), dan diperkirakan akan bertemu dengan keluarga para sandera.

    Presiden Herzog sebelumnya mengumumkan bahwa dirinya akan memberikan penghargaan sipil tertinggi kepada Trump, atas perannya mengamankan pembebasan sandera dan membantu mengakhiri perang Gaza. Pemberian penghargaan ini akan dilakukan kemungkinan pada akhir tahun ini.

    Dalam penerbangan dari Washington DC ke Israel pada Minggu (12/10) waktu setempat, Trump mengatakan kepada para wartawan di dalam Air Force One bahwa: “Perang telah berakhir.”

    Dari Israel, Trump selanjutnya akan bertolak ke Mesir untuk memimpin pertemuan puncak atau KTT perdamaian Gaza, yang digelar di Sharm el-Sheikh, bersama Presiden Abdel Fattah al-Sisi.

    Hamas Serahkan 7 Sandera Difasilitasi Palang Merah Internasional

    Militer Israel mengatakan bahwa pihaknya telah menerima tujuh sandera yang dibebaskan Hamas — dari total 20 sandera yang diyakini masih hidup di Jalur Gaza. Penyerahan ketujuh sandera itu dibantu oleh ICRC yang membawa para sandera dari Jalur Gaza menuju ke wilayah Israel.

    “Kami telah menunggu 738 hari untuk mengatakan ini: Selamat datang kembali,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Israel via media sosial X.

    Ketujuh sandera yang dibebaskan Hamas itu diidentifikasi sebagai Guy Gilboa Dalal, Eitan Mor, Matan Angrest, Alon Ohel, Gali, Ziv Berman and Omri Miran.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Disambut Tangisan Warga Israel, Hamas Serahkan 7 Sandera

    Disambut Tangisan Warga Israel, Hamas Serahkan 7 Sandera

    Tel Aviv

    Ratusan orang yang berkumpul di Alun-alun Sandera Tel Aviv, Israel, pada Senin (13/10), meluap dengan kegembiraan, air mata, dan nyanyian saat kelompok Hamas diberitakan telah menyerahkan tujuh sandera dalam kelompok pertama yang dibebaskan, setelah dua tahun disandera di Jalur Gaza.

    Kebanyakan warga datang sejak matahari terbit, seperti dilansir AFP, Senin (13/10/2025), membawa foto para sandera, dan mengibarkan bendera Israel yang dipasangi pita kuning, simbol gerakan yang menyerukan pembebasan para sandera.

    Noga, yang mengenakan lencana bertuliskan “Hari Terakhir”, membagikan rasa sakit dan kegembiraan yang dirasakannya dengan AFP.

    “Saya terbelah antara emosi dan kesedihan bagi mereka yang belum akan kembali,” ucapnya.

    Hamas dan para militan sekutunya menawan 251 sandera di Jalur Gaza sejak serangan 7 Oktober 2023 yang memicu perang. Kebanyakan dari mereka dibebaskan dalam gencatan senjata sebelumnya, namun 47 sandera lainnya masih ditahan di Gaza, dengan hanya 20 orang diyakini masih hidup.

    Sejak saat itu, Noga mengenakan lencana kecil setiap hari, menghitung hari-hari penahanan para sandera yang belum bebas.

    Selama dua tahun terakhir, orang-orang menggelar unjuk rasa dan pertemuan rutin di alun-alun Tel Aviv, yang kemudian dikenal sebagai Alun-alun Sandera. Selama berbulan-bulan, alun-alun tersebut menjadi pusat kampanye untuk pembebasan para sandera.

    Ketika kabar meluas bahwa sebanyak tujuh sandera dalam kelompok pertama telah dibebaskan oleh Hamas di Jalur Gaza, alun-alun itu dipenuhi sorak-sorai dan nyanyian kegembiraan.

    Forum Keluarga Sandera dan Hilang, organisasi utama yang mewakili keluarga para sandera, telah mengajak orang-orang berkumpul di area tersebut.

    “Perjuangan kita belum berakhir. Perjuangan ini tidak akan berakhir sampai sandera terakhir ditemukan dan dikembalikan untuk dimakamkan dengan layak. Ini adalah kewajiban moral kita. Hanya dengan begitulah bangsa Israel akan utuh,” demikian pernyataan forum tersebut.

    Pemulangan para sandera Israel ini menandai langkah pertama dalam kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang menyusun rencana perdamaian 20 poin untuk mengakhiri perang berkelanjutan di Jalur Gaza.

    Sebagai imbalannya, Israel akan membebaskan hampir 2.000 tahanan Palestina dari penjaranya. Sebagian besar tahanan Palestina itu merupakan warga Gaza yang ditahan sejak awal perang berkecamuk.

    Tel Aviv: Tahanan Palestina Dibebaskan Setelah Sandera Tiba di Israel

    Juru bicara Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu, Shosh Bedrosian, mengatakan kepada wartawan bahwa Israel akan mulai membebaskan tahanan Palestina setelah mendapat konfirmasi soal semua sandera yang ditahan di Gaza telah tiba di negara tersebut.

    “Tahanan-tahanan Palestina akan dibebaskan setelah Israel mendapat konfirmasi bahwa semua sandera kami yang akan dibebaskan besok telah melintasi perbatasan perbatasan menuju Israel,” kata Bedrosian dalam pernyataan pada Minggu (12/10).

    Simak juga Video: Pertukaran Sandera Hamas-Israel Dimulai

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Hamas Serahkan Tawanan, Trump ke Tel Aviv

    Hamas Serahkan Tawanan, Trump ke Tel Aviv

    Anda sedang membaca Dunia Hari Ini, rangkuman berita-berita dunia yang terjadi dalam 24 jam terakhir.

    Perkembangan dari Gaza menjadi pembuka edisi Senin, 13 Oktober 2025.

    Tawanan perang dibebaskan

    Media Israel melaporkan Hamas sudah menyerahkan tujuh sandera kepada Palang Merah di Kota Gaza.

    Atas nama seluruh rakyat Israel, selamat datang kembali!

    “Kami telah menunggu kalian, kami memeluk kalian.

    “Sara dan Benjamin Netanyahu,” demikian tulisan yang ditulis PM Netanyahu bagi para tawanan

    Hari ini Presiden Donald Trump diperkirakan akan mendarat di Israel untuk berpidato di hadapan parlemen Israel, kemudian ia akan bertolak ke Mesir untuk menghadiri pertemuan soal Gaza bersama para pemimpin dunia lainnya.

    Selain 20 orang Israel yang ditawan Hamas, hampir 2.000 warga Palestina ditahan Israel, yang rencananya juga akan dibebaskan sebagai bagian dari fase pertama rencana perdamaian.

    Mahasiswa Madagaskar dituduh lakukan kudeta

    Tuduhan mahasiswa hendak merebut kekuasaan dengan kekerasan disampaikan Kantor kepresidenan Madagaskar, setelah semakin banyak tentara yang mendukung gerakan protes yang dipimpin oleh pemuda.

    Presiden Magadaskar, Andry Rajoelina mendesak melakukan “dialog untuk menyelesaikan krisis”, sebut pernyataan itu.

    Namun, keberadaan Rajoelina tidak diketahui, sehingga banyak warga yakin ia sudah meninggalkan negara itu.

    Protes yang terinspirasi oleh gerakan yang dipimpin Generasi Z di Kenya dan Nepal ini dimulai pada 25 September, dipicu kekurangan air dan listrik, sebelum bergulir lebih besar dan menjadi ancaman bagi pemerintahan Rajoelina sejak terpilih kembali pada tahun 2023.

    Setidaknya 41 orang tewas di Meksiko

    Penyebabnya adalah tanah longsor dan banjir yang dipicu oleh hujan lebat yang terus-menerus di Meksiko bagian tengah dan tenggara.

    Di Veracruz, curah hujan tercatat lebih dari 50 cm sepanjang 6-9 Oktober.

    Di Poza Rica, sebuah kota penghasil minyak yang terletak 275 kilometer di timur laut Mexico City, hampir tidak ada peringatan sebelum air datang.

    Pihak berwenang mengatakan hingga saat ini mereka sedang mencari 27 orang hilang di seluruh negeri.

    Sementara itu, lebih dari 320.000 orang terkena dampak pemadaman listrik yang disebabkan oleh hujan lebat.

    Pemerintah Australia bersikukuh tidak bernegosiasi dengan peretas

    Pemerintah federal Australia tetap pada pendiriannya untuk tidak bernegosiasi dengan penjahat siber atau membayar tebusan, setelah ada ancaman untuk merilis data Qantas yang dicuri.

    Perusahaan penerbangan Australia ini adalah salah satu dari 40 perusahaan global pengguna cloud Salesforce yang datanya dicuri.

    Setelah batas waktu pembayaran tebusan yang ditetapkan berakhir akhir pekan lalu, peretas merilis data yang melibatkan data pribadi 5,7 juta pelanggan Qantas tersebut di web gelap.

    Bagi sebagian besar pelanggannya, data yang dicuri terbatas pada nama, alamat email, dan detail frequent flyer, sementara beberapa lainnya mencakup alamat, tanggal lahir, nomor telepon, dan jenis kelamin, tetapi Qantas mengatakan tidak ada detail kartu kredit yang terdampak.

    Jaksa Agung Federal Michelle Rowland mengatakan pemerintah telah mengalami kemajuan setelah berkomitmen untuk menegakkan hukum privasi, dibuktikan dengan kewenangan baru Komisioner Informasi Australia dan peningkatan sanksi bagi perusahaan yang gagal melindungi data pelanggan.

  • Penyerahan Sandera Israel Dimulai di Gaza

    Penyerahan Sandera Israel Dimulai di Gaza

    Jakarta

    Sandera pertama diserahkan kepada Palang Merah, demikian laporan media Israel.

    Dilaporkan bahwa tujuh sandera pertama telah diserahkan kepada Komite Palang Merah Internasional (ICRC) di Gaza.

    Namun sejauh ini BBC belum menerima konfirmasi dari ICRC maupun militer Israel.

    Sebelumnya, Kantor berita Palestina Shehab, sekitar pukul 11.30 WIB, Senin (13/10), melaporkan bahwa Hamas telah merilis nama-nama 20 sandera yang akan dibebaskan.

    Dalam waktu hampir bersamaan, IDF (Pasukan Pertahanan Israel) telah mengonfirmasi pembebasan sandera pertama akan terjadi dalam waktu dekat.

    Seorang pejabat keamanan Israel telah mengonfirmasi bahwa sandera pertama akan dibebaskan dalam waktu dekat.

    “IDF sedang mempersiapkan pemindahan dan pemulangan para sandera sebagai bagian dari implementasi perjanjian, pada pagi hari (Senin waktu setempat0 mendatang, mulai pukul 08:00 waktu setempat di Jalur Gaza utara,” kata pejabat tersebut.

    Angkatan Udara Israel juga mengunggah di X bahwa mereka memiliki dua helikopter yang siap untuk membawa pulang para sandera.

    Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan “perang telah berakhir” saat dia menuju Israel untuk pembebasan para sandera dari Gaza.

    Penyerahan sandera diperkirakan akan dimulai sekitar pukul 08.00 waktu setempat, atau pukul 12.00 WIB, menurut media Israel.

    Kerumunan orang berkumpul di Tel Aviv sambil menunggu kabar pembebasan para sandera.

    Hamas memiliki waktu hingga pukul 12.00 waktu setempat (16.00 WIB) untuk memulangkan 48 sandera, yang 20 di antaranya diyakini masih hidup.

    Sebagai imbalannya, Israel akan membebaskan 250 tahanan Palestina dan lebih dari 1.700 tahanan.

    Trump diperkirakan akan tiba di Israel untuk bertemu Benjamin Netanyahu dan berpidato di hadapan parlemen negara tersebut.

    Dia kemudian akan bertolak ke Mesir untuk menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) tentang perdamaian di Timur Tengah, yang juga akan dihadiri oleh para pemimpin dunia termasuk Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.

    Hamas merilis nama-nama sandera yang dibebaskan

    Kantor berita Palestina Shehab , sekitar pukul 11.30 WIB, Senin (13/10), melaporkan bahwa Hamas telah merilis nama-nama 20 sandera yang akan dibebaskan.

    Nama-nama tersebut tampaknya sesuai dengan daftar 20 sandera yang diyakini masih hidup yang dilaporkan BBC News:

    BBC

    Sejumlah media lokal Israel melaporkan, pembebasan sandera akan dimulai pukul 08.00 waktu setempat (atau pukul 12.00 WIB)

    Rincian lebih lanjut tentang kapan para sandera akan dibebaskan mulai disebarkan.

    Serah terima diperkirakan akan dimulai pukul 08:00 waktu setempat dari koridor Netzarim, dan berlanjut pukul 10:00 waktu setempat di Khan Younis, Gaza, ungkap Reuters, mengutip media Israel.

    Sejumlah keluarga korban telah diberitahu agar menuju pangkalan Re’im di perbatasan Gaza sebelum orang-orang yang mereka cintai dibebaskan, seperti dilaporkan Channel 12.

    Pembebasan akan berlangsung dalam dua tahap, menurut saluran tersebut, dimulai dengan pembebasan beberapa sandera dari Jalur Gaza tengah pada pukul 08:00 waktu setempat.

    Pukul 10:00 waktu setempat, para sandera yang masih hidup akan dibebaskan dari Khan Younis dan kamp-kamp pengungsi perkotaan di Gaza tengah.

    Keluarga sandera dan warga Israel berkumpul di Tel Aviv menunggu pembebasan sandera

    Keluarga sandera dan warga Israel berkumpul di Tel Aviv menunggu pembebasan sandera.

    Mereka berkumpul di sebuah area di Tel Aviv sebelum fajar tiba, yaitu pukul 04.55 waktu setempat.

    Orang-orang ini menyambut kabar yang telah lama ditunggu-tunggu: Orang-orang yang mereka cintai akhirnya bakal dibebaskan.

    Rakyat Gaza terima pasokan gas

    Sementara pasokan gas untuk memasak dilaporkan sudah memasuki Gaza untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan terakhir, kata PBB

    Sambil menunggu kabar pembebasan sandera Israel dalam beberapa jam mendatang, video ini memperlihatkan kerumunan warga Palestina berbondong-bondong mencari bantuan yang sangat dibutuhkan di kota Khan Younis di Gaza selatan.

    Bantuan lain yang masuk ke Gaza, termasuk tepung, buah-buahan, dan daging, serta peralatan medis, ujar PBB.

    Bantuan pertama tiba untuk warga Gaza yang kelaparan

    Sebelumnya, truk-truk pertolongan pertama sejak gencatan senjata telah tiba di Gaza, Minggu (12/10) kemarin.

    Suasana kacau terjadi di Khan Younis, di selatan Jalur Gaza, saat warga yang kelaparan berebut mendapatkan paket makanan.

    Siapa saja yang akan menghadiri KTT perdamaian Gaza di Mesir?

    Presiden AS Donald Trump dan Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi akan menggelar KTT perdamaian tersebut.

    Di antara mereka yang telah dikonfirmasi akan hadir adalah Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Prancis Emmanuel Macron.

    Kanselir Jerman Friedrich Merz, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, dan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez juga dikonformasi akan datang.

    Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antnio Guterres juga mengatakan akan hadir.

    Sementara, Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas akan menghadiri KTT yang bertujuan mengakhiri perang di Gaza, menurut kantornya.

    Siapakah sandera yang diyakini masih hidup?

    Pada Senin (13/10) ini Hamas diperkirakan akan membebaskan 48 sandera yang masih ditahannya setelah dua tahun perang.

    Berikut nama-nama 20 sandera yang diperkirakan masih hidup:

    Ariel Cunio, 28 tahun, diculik bersama saudaranya, David Cunio, 35 tahun, dalam serangan di Kibbutz Nir Oz pada 7 Oktober.

    Pesan terakhir Ariel kepada keluarganya berbunyi: “Kita seperti berada dalam film horor.”

    Evyatar David, 24 tahun, berada di festival Nova saat Hamas menyerang.

    Ia mengirim pesan kepada keluarganya: “Mereka menyerang pesta kami.”

    Gali dan Ziv Berman, saudara kembar berusia 28 tahun, diculik dari Kibbutz Kfar Aza.

    Omri Miran, 48 tahun, salah satu sandera tertua yang selamat, dibawa pergi dari rumahnya di Nahal Oz.

    Sandera lain yang akan dibebaskan adalah: Matan Angrest, 22 tahun; Matan Zangauker, 25 tahun; Nimrod Cohen, 21 tahun; Guy Gilboa-Dalal, 24 tahun; Yosef-Chaim Ohana, 25 tahun; Elkana Bohbot, 36 tahun; Avinatan Or, 32 tahun; Eitan Mor, 25 tahun; Bar Kupershtein, 23 tahun; Segev Kalfon, 27 tahun; dan Rom Braslabski, 21 tahun.

    Tiga sandera memiliki lebih dari satu kewarganegaraan: Eitan Horn, 38 tahun, berkewarganegaraan ganda Israel-Argentina; Maxim Herkin, 37 tahun, berkewarganegaraan ganda Israel-Rusia; dan Alon Ohel, 24 tahun, berkewarganegaraan Israel, Jerman, dan Serbia.

    Berita ini akan terus diperbarui secara berkala.

    (ita/ita)

  • Israel Akan Hancurkan Terowongan Hamas Setelah Semua Sandera Bebas

    Israel Akan Hancurkan Terowongan Hamas Setelah Semua Sandera Bebas

    Tel Aviv

    Israel berencana menghancurkan sisa-sisa jaringan terowongan bawah tanah Hamas yang ada di wilayah Jalur Gaza, setelah semua sandera dibebaskan berdasarkan kesepakatan gencatan senjata terbaru. Pemerintah Israel menyebut penghancuran terowongan akan dilakukan dengan persetujuan Amerika Serikat (AS).

    Hal tersebut, seperti dilansir AFP dan Al Arabiya, Senin (13/10/2025), disampaikan oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Israel, Israel Katz, dalam pernyataan terbarunya pada Minggu (12/10) waktu setempat.

    Katz mengatakan bahwa operasi penghancuran terowongan bawah tanah Hamas itu akan dilakukan di bawah “mekanisme internasional” yang dipimpin AS, yang menjadi salah satu mediator gencatan senjata Gaza yang berlangsung sejak Jumat (10/10) lalu.

    “Tantangan besar Israel setelah fase pembebasan sandera adalah penghancuran semua terowongan teroris Hamas di Gaza,” kata Katz dalam sebuah pernyataan.

    “Saya telah memerintahkan militer untuk bersiap melaksanakan misi ini,” ujarnya.

    Disebutkan oleh Katz bahwa terowongan bawah tanah di Jalur Gaza akan dihancurkan dalam kerangka perlucutan senjata dan demiliterisasi Hamas, yang diperkirakan akan terjadi pada tahap selanjutnya, atau tahap kedua, dari rencana gencatan senjata yang diusulkan Presiden AS Donald Trump.

    Hamas telah menyetujui tahap pertama, yang mewujudkan gencatan senjata sejak Jumat (10/10) dan pembebasan 48 sandera Israel pada Senin (13/10) waktu setempat, dengan imbalan pembebasan lebih dari 1.700 tahanan Palestina dari penjara-penjara Israel.

    Namun demikian, Hamas telah menolak seruan untuk melucuti persenjataan mereka.

    Salah satu pejabat senior Hamas, Hossam Badran, mengatakan kepada AFP pada Minggu (12/10) bahwa tahap kedua dari rencana damai Gaza yang diusulkan Trump “mengandung banyak kerumitan dan kesulitan”.

    Sebelumnya, Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu mengklaim Israel meraih kemenangan atas Hamas.

    “Bersama-sama kita meraih kemenangan luar biasa, kemenangan yang memukau seluruh dunia… Namun di saat yang sama, saya harus memberi tahu Anda, perjuangan belum berakhir,” ujar Netanyahu.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/ita)

  • Di Israel, Trump Dijadwalkan Bertemu Warga yang Ditahan Hamas

    Di Israel, Trump Dijadwalkan Bertemu Warga yang Ditahan Hamas

    Jakarta

    Hamas dijadwalkan membebaskan semua sandera yang masih hidup pada Senin (13/10) waktu setempat. Imbalannya, Israel membebaskan tahanan Palestina yang ditahan Israel.

    Dilansir AFP, Senin (13/10/2025), Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dikabarkan menuju Israel untuk menghadiri pertemuan puncak perdamaian setelah menyatakan perang Gaza “berakhir”.

    Kunjungan singkat Trump ke Israel dan Mesir bertujuan untuk merayakan perannya dalam menengahi gencatan senjata dan kesepakatan pembebasan sandera minggu lalu — tetapi datang di saat yang genting karena Israel dan Hamas sedang merundingkan langkah selanjutnya.

    Berdasarkan peta jalan yang diusulkan presiden AS, setelah militan Palestina menyerahkan para sandera yang masih hidup, Israel akan mulai membebaskan sekitar 2.000 tahanan sebagai imbalan. Namun, belakangan Israel merevisi jumlah yang dibebaskan menjadi 1.718 orang.

    Israel memperkirakan seluruh 20 sandera yang masih hidup akan diserahkan kepada Palang Merah “Senin pagi”, menurut juru bicara kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

    “Saya pikir gencatan senjata ini akan bertahan. Saya pikir orang-orang sudah lelah. Ini sudah berabad-abad,” kata Trump tentang perang di Gaza.

    Di Israel, Trump dijadwalkan bertemu dengan keluarga sandera yang disandera Hamas dalam serangan lintas perbatasan mematikan dua tahun lalu yang memicu perang, sebelum berpidato di hadapan parlemen Israel di Yerusalem.

    Perjalanannya sebagian merupakan langkah kemenangan atas kesepakatan Gaza yang ia bantu mediasi dengan rencana perdamaian 20 poin yang diumumkan pada akhir September.

    “Semua orang sangat gembira dengan momen ini,” kata Trump sebelumnya saat bersiap menaiki pesawat di Pangkalan Gabungan Andrews dekat Washington.

    Para pejabat penting AS yang ikut bersamanya antara lain Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, kepala CIA John Ratcliffe, dan perwira tinggi militer Dan Caine.

    (zap/imk)