Tag: Benjamin Netanyahu

  • Ledakan Besar Terdengar, Bahan Peledak Ditemukan di Bus-bus di Tel Aviv, Tak Ada Korban Luka – Halaman all

    Ledakan Besar Terdengar, Bahan Peledak Ditemukan di Bus-bus di Tel Aviv, Tak Ada Korban Luka – Halaman all

    Ledakan Terdengar, Bahan Peledak Ditemukan di Bus-bus di Beberapa Wilayah di Tel Aviv

    TRIBUNNEWS.COM- Pasukan pendudukan Israel melancarkan respons besar setelah alat peledak ditemukan di beberapa bus di Tel Aviv dan daerah sekitarnya.

    Pihak berwenang Israel telah melancarkan operasi keamanan besar-besaran setelah sejumlah alat peledak ditemukan di dalam bus di berbagai lokasi, yang memicu kepanikan di Tel Aviv dan daerah sekitarnya, ungkap laporan media.

    Menurut polisi Israel, tiga bus meledak, tetapi tidak ada korban luka yang dilaporkan. “Terjadi kepanikan di Tel Aviv,” kata polisi, seraya menambahkan bahwa semua bus dihentikan untuk diperiksa.

    Media Israel melaporkan ancaman tambahan, dengan Israel Hayom mengklaim bahwa alat peledak lain ditemukan di sebuah bus di Holon, sebelah selatan Tel Aviv. 

    Sementara itu, Channel 12 melaporkan bahwa dua bom yang belum meledak ditemukan di lokasi terpisah, dengan sumber keamanan menyatakan bahwa setiap alat peledak berbobot hingga lima kilogram.

    Situasi tersebut mendorong tindakan segera, termasuk arahan dari Menteri Perhubungan Miri Regev untuk menghentikan semua layanan kereta api di Bat Yam. 

    Radio militer Israel juga menginstruksikan semua pengemudi bus di daerah tersebut untuk menghentikan kendaraan mereka, membuka pintu, dan melakukan pemeriksaan keamanan.

    Laporan menunjukkan bahwa serangan itu merupakan bagian dari operasi yang lebih luas. 

    Dilaporkan, sumber keamanan mengatakan kepada Israel Hayom bahwa 15 bus akan diledakkan di wilayah Gush Dan, bersama dengan lima bom Feda’i di sistem kereta ringan. 

    Menanggapi meningkatnya ancaman, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan mengadakan konsultasi keamanan darurat dalam waktu satu jam, diikuti oleh pertemuan keamanan tingkat tinggi besok pukul 2:00 siang. 

    Pihak berwenang juga telah mengintensifkan patroli keamanan di Holon, dengan Walikota Moti Sasson mendesak penduduk untuk tetap waspada.

     

    SUMBER: AL MAYADEEN

  • Israel Marah karena 1 Jenazah Bukan Sandera, Hamas Bilang Gini

    Israel Marah karena 1 Jenazah Bukan Sandera, Hamas Bilang Gini

    Gaza City

    Kelompok Hamas menanggapi kemarahan Israel yang menuduh kelompok itu melanggar kesepakatan gencatan senjata Gaza, setelah satu dari empat jenazah yang diserahkan pada Kamis (20/2) ternyata bukan sandera Israel.

    Militer Israel sebelumnya mengumumkan bahwa dua jenazah yang diserahkan Hamas telah diidentifikasi sebagai dua balita Israel, Kfir Bibas dan Ariel Bibas, yang diculik Hamas dalam serangan pada 7 Oktober 2023. Satu jenazah lainnya diidentifikasi sebagai Oded Lifshitz yang berusia 83 tahun ketika diculik oleh Hamas.

    Namun satu jenazah lainnya, yang seharusnya merupakan Shiri Bibas, ibunda dari kedua balita itu, didapati tidak cocok dengan DNA Shiri atau pun DNA sandera wanita lainnya. Hingga kini, satu jenazah itu masih belum teridentifikasi.

    Hamas dalam penjelasannya, seperti dilansir Reuters dan The Times of Israel, Jumat (21/2/2025), menyebut jenazah yang seharusnya Shiri Bibas telah tercampur dengan potongan tubuh jenazah lainnya dari reruntuhan setelah serangan udara Tel Aviv menghantam tempat dia ditahan di Jalur Gaza.

    Salah satu pejabat Hamas, Ismail al-Thawabteh, mengklaim bahwa jenazah Shiri “menjadi beberapa bagian setelah tampaknya tercampur dengan mayat-mayat lainnya di bawah reruntuhan”.

    Pernyataan Hamas ini menegaskan kembali bahwa Israel berada di balik kematian Shiri saat ditahan di Jalur Gaza.

    Kelompok Hamas mengumumkan pada November 2023 bahwa Shiri dan kedua anaknya tewas akibat serangan udara Israel yang melanda Jalur Gaza. Namun kematian mereka tidak pernah dikonfirmasi oleh otoritas Israel.

    Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu, dalam pernyataannya saat mengonfirmasi identitas jenazah sandera itu, menyebut mereka “dibunuh secara brutal dalam penyanderaan Hamas”. Netanyahu juga menegaskan bahwa Hamas akan membayar harga karena tidak menyerahkan jenazah Shiri.

    “Kita akan bertindak dengan tekad untuk membawa pulang Shiri bersama dengan semua sandera kita — baik yang hidup maupun yang sudah meninggal — dan memastikan Hamas akan membayar harga penuh atas pelanggaran perjanjian yang kejam dan keji ini,” tegas Netanyahu dalam pernyataan video terbaru.

    Netanyahu bahkan menuduh Hamas “memasukkan jenazah seorang wanita Gaza ke dalam peti mati” yang seharusnya menjadi tempat jenazah Shiri.

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • Perang Baru Palestina, Netanyahu Umumkan Operasi Militer Baru Israel

    Perang Baru Palestina, Netanyahu Umumkan Operasi Militer Baru Israel

    Jakarta, CNBC Indonesia – Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan operasi intensif militer di Tepi Barat yang diduduki, Jumat (21/2/2025). Hal ini dilakukannya setelah tiga bus meledak di Israel Tengah pekan ini.

    Mengutip AFP, kantor Netanyahu mengatakan di media sosial pada Jumat pagi bahwa ia telah menyelesaikan penilaian keamanan dengan pejabat tinggi. Netanyahu kemudian memerintahkan operasi kontra terorisme baru serta meningkatkan keamanan di kota-kota Israel.

    “PM telah memerintahkan IDF (militer) untuk melakukan operasi intensif terhadap pusat-pusat terorisme di Yudea dan Samaria,” kata kantor Netanyahu di X, menggunakan istilah alkitabiah untuk Tepi Barat.

    “PM juga memerintahkan Polisi Israel dan ISA (badan keamanan internal) untuk meningkatkan aktivitas pencegahan terhadap serangan tambahan di kota-kota Israel,” tambahnya.

    Perintah ini dikeluarkan Netanyahu setelah tiga perangkat meledak di bus-bus di kota Bat Yam pada Kamis malam. Sejauh ini, masih ada dua bom yang dalam proses penjinakan oleh tim penjinak bom, dengan dilaporkan tidak ada korban atas kejadian itu

    Pasukan keamanan dan unit penjinak bom terlihat oleh seorang jurnalis AFP saat mereka memeriksa sisa-sisa bus yang hancur. Media Israel mengatakan bahwa pengemudi bus di seluruh negeri telah diminta untuk berhenti dan memeriksa kendaraan mereka untuk mencari alat peledak tambahan.

    “Unit penjinak bom polisi sedang memindai benda-benda mencurigakan lainnya. Kami menghimbau masyarakat untuk menghindari area tersebut dan tetap waspada terhadap benda-benda mencurigakan,” timpal Kepolisian Israel.

    Menteri Pertahanan Israel Katz menduga bom itu dilakukan kelompok-kelompok ‘teroris Palestina’. Ia pun memerintahkan peningkatan operasi untuk menggagalkan terorisme di kamp-kamp pengungsi Tepi Barat, khususnya Tulkarem.

    Militer telah melakukan penggerebekan hampir setiap hari di kota-kota dan kamp-kamp Tepi Barat selama beberapa minggu ini yang menargetkan militan Palestina. Banyak warga sipil Palestina juga tewas dalam penggerebekan tersebut, sementara pasukan keamanan Israel telah menghancurkan rumah-rumah dan infrastruktur.

    Kekerasan di Tepi Barat, yang telah diduduki Israel sejak 1967, telah meningkat sejak pecahnya perang di Jalur Gaza pada Oktober 2023. Setidaknya 897 warga Palestina telah dibunuh oleh pasukan Israel atau pemukim di Tepi Barat sejak perang Gaza dimulai.

    Di sisi lain, setidaknya 32 warga Israel termasuk beberapa tentara, tewas dalam serangan atau konfrontasi Palestina selama operasi Israel di Tepi Barat selama periode yang sama. Di wilayah Gaza, saat Israel melancarkan perangnya melawan Hamas, lebih dari 48.000 warga Palestina tewas.

    (sef/sef)

  • Netanyahu Tuduh Hamas Langgar Perjanjian: Israel Belum Menerima Jenazah Shiri Bibas – Halaman all

    Netanyahu Tuduh Hamas Langgar Perjanjian: Israel Belum Menerima Jenazah Shiri Bibas – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) akan membayar harga karena melanggar perjanjian dengan tidak mengembalikan jenazah Shiri Bibas.

    Pada Kamis (20/2/2025), Hamas menyerahkan empat jenazah sandera Israel yaitu Kfir Bibas (9 bulan), Ariel Bibas (4), ibu mereka Shiri Bibas (32) dan Oded Lifshitz (83) kepada Palang Merah Internasional (ICRC) untuk dibawa ke Israel.

    Netanyahu mengatakan jenazah yang dikembalikan itu adalah jenazah seorang wanita dari Jalur Gaza, bukan jenazah Shiri Bibas.

    Ia menuduh Hamas melanggar perjanjian gencatan senjata karena dituduh tidak mengembalikan jenazah Shiri Bibas.

    “Kami akan bertindak dengan tekad untuk membawa Shiri Bibas pulang bersama semua sandera kami, baik yang hidup maupun yang mati, dan memastikan bahwa Hamas membayar harga penuh atas pelanggaran perjanjian yang kejam dan jahat ini,” kata Netanyahu, Kamis.

    Ia bersumpah tidak akan membiarkan operasi Hamas pada 7 Oktober 2023 terulang kali.

    “Peti mati keempat orang yang kita cintai memaksa kita lebih dari sebelumnya untuk berjanji dan bersumpah bahwa apa yang terjadi pada 7 Oktober tidak akan terjadi lagi,” tambahnya.

    PEMBEBASAN SANDERA – Foto ini diambil dari publikasi Telegram Brigade Al-Quds (sayap militer gerakan Jihad Islam) pada Jumat (21/2/2025), memperlihatkan anggota Brigade Al-Qassam (sayap militer Hamas) membawa peti mati dengan gambar sandera Israel, Shiri Bibas. Hamas menyerahkan empat jenazah sandera Israel; Kfir Bibas (9 bulan), Ariel Bibas (4), ibu mereka bernama Shiri Bibas (32) dan Oded Lifshitz (83), kepada Palang Merah Internasional (ICRC) dalam pertukaran tahanan gelombang ke-7 di Khan Yunis, Jalur Gaza pada Kamis (20/2/2025). (Telegram Brigade Al-Quds)

    IDF: Itu Bukan Jenazah Shiri Bibas

    Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengumumkan pada Jumat (21/2/2025) bahwa hasil otopsi menunjukkan jenazah yang diserahkan oleh Hamas bukan milik Shiri Bibas, ibu dari dua anak Israel yang jenazahnya diserahkan kemarin.

    “Tiga jenazah lainnya yang diserahkan telah diidentifikasi sebagai putranya, Ariel dan Kfir, yang berusia lima dan dua tahun, dan Oded Lifshitz,” kata IDF.

    “Namun jenazah keempat bukanlah Shiri atau sandera lainnya,” lanjutnya.

    Sebelumnya, Hamas mengatakan Shiri Bibas dan kedua anaknya tewas dalam serangan Israel di Jalur Gaza pada November tahun 2023 yang juga membunuh anggota Hamas yang menjaga mereka.

    Ayah dari kedua anak tersebut, Yarden Bibas, yang juga ditahan Hamas dari Kibbutz Nir Oz, dibebaskan pada pertukaran tahanan gelombang ke-4 pada 1 Februari 2025.

    Sejak dimulai gencatan senjata Israel dan Hamas pada 19 Januari 2025, Hamas telah membebaskan 19 tahanan Israel yang masih hidup dan empat jenazah sandera.

    Hamas akan membebaskan enam sandera Israel yang masih hidup pada Sabtu (22/2/2025), sementara penyerahan empat jenazah lainnya belum dijadwalkan.

    Enam sandera Israel yang akan dibebaskan besok yaitu Eliya Cohen, Omer Shem Tov, Omer Wenkert, Tal Shoham, Hisham Al-Sayed dan Avera Mengistu, menurut laporan NBC News.

    Sebagai imbalan, Israel diperkirakan akan membebaskan ratusan tahanan Palestina.

    (Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

    Berita lain terkait Konflik Palestina vs Israel

  • Netanyahu Ancam Hamas karena Tak Serahkan 1 Jenazah Sandera Israel

    Netanyahu Ancam Hamas karena Tak Serahkan 1 Jenazah Sandera Israel

    Tel Aviv

    Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu bertekad untuk membuat Hamas membayar karena tidak menyerahkan satu jenazah sandera Israel. Hal ini disampaikan setelah Tel Aviv menyebut satu dari empat jenazah yang diserahkan Hamas di Gaza pada Kamis (20/2) bukanlah sandera Israel.

    Militer Israel sebelumnya, seperti dilansir Reuters dan The Times of Israel, Jumat (21/2/2025), mengumumkan bahwa dua jenazah telah diidentifikasi sebagai dua balita Israel, Kfir Bibas dan Ariel Bibas, yang diculik Hamas dalam serangan pada 7 Oktober 2023.

    Satu jenazah lainnya, yang seharusnya merupakan Shiri Bibas, ibunda dari kedua balita itu, didapati tidak cocok dengan DNA sandera mana pun. Hingga kini, satu jenazah itu masih belum teridentifikasi. Satu jenazah lainnya diidentifikasi sebagai Oded Lifshitz yang berusia 83 tahun ketika diculik oleh Hamas.

    “Kita akan bertindak dengan tekad untuk membawa pulang Shiri bersama dengan semua sandera kita — baik yang hidup maupun yang sudah meninggal — dan memastikan Hamas akan membayar harga penuh atas pelanggaran perjanjian yang kejam dan keji ini,” tegas Netanyahu dalam pernyataan video terbaru.

    Netanyahu mengonfirmasi bahwa tiga jenazah lainnya yang diserahkan Hamas adalah benar jenazah Kfir, Ariel dan Oded.

    “Ketiganya dibunuh secara brutal dalam penyanderaan Hamas pada minggu-minggu pertama perang. Semoga Tuhan membalas darah mereka — dan kita juga akan membalasnya,” ujarnya.

    Dalam pernyataannya, Netanyahu kemudian menuduh Hamas bertindak “dengan cara yang sangat sinis” dengan menempatkan jenazah seorang wanita Gaza di dalam peti mati yang seharusnya menjadi tempat jenazah Shiri dibaringkan.

    Shiri dan kedua anaknya merupakan bagian dari keluarga Bibas yang menjadi simbol krisis sandera yang melanda Israel sejak perang Gaza berkecamuk. Shiri dan kedua putranya, Ariel yang berusia empat tahun dan Kfir yang baru berusia sembilan bulan, diculik dari rumah mereka di dekat perbatasan Gaza.

    Yarden Bibas, suami Shiri dan ayah dari kedua balita itu, diculik secara terpisah pada 7 Oktober 2023 dan dibebaskan dalam keadaan hidup dari Gaza pada 1 Februari lalu.

    “Kekejaman monster Hamas tidak mengenal batas. Mereka tidak hanya menculik ayahnya, Yarden Bibas, ibu muda, Shiri, dan kedua bayi kecil mereka,” ucap Netanyahu dalam pernyataannya.

    “Namun dengan cara yang sangat sinis, mereka tidak mengembalikan Shiri bersama anak-anaknya yang masih kecil, para malaikat kecil, dan mereka memasukkan jenazah seorang wanita Gaza ke dalam peti mati,” kecamnya.

    Hamas mengumumkan pada November 2023 bahwa Shiri dan kedua anaknya tewas akibat serangan udara Israel yang melanda Jalur Gaza. Namun kematian mereka tidak pernah dikonfirmasi oleh otoritas Israel.

    Sejauh ini, Hamas belum memberikan tanggapan terhadap tuduhan Israel.

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • Netanyahu Perintahkan Operasi Militer di Tepi Barat Usai Ledakan Bus

    Netanyahu Perintahkan Operasi Militer di Tepi Barat Usai Ledakan Bus

    Tepi Barat

    Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, pada Jumat (21/2), memerintahkan operasi militer intensif terhadap apa yang disebut sebagai “pusat-pusat terorisme” di wilayah Tepi Barat. Perintah itu diberikan Netanyahu setelah ledakan mengguncang tiga bus yang ada di wilayah Israel bagian tengah.

    Kepolisian Israel menyebut ledakan yang mengguncang pada Kamis (20/2) malam waktu setempat itu bersumber dari bom-bom yang dipasang pada tiga bus di area kota Bat Yam. Dua bom lainnya berhasil dijinakkan.

    Tidak ada korban luka akibat ledakan itu. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menuduh kelompok “teroris Palestina” ada di balik rentetan ledakan tersebut.

    Kantor PM Israel dalam pernyataan via media sosial, seperti dilansir AFP, Jumat (21/2/2025), mengumumkan Netanyahu telah melakukan penilaian situasi keamanan dengan para pejabat tinggi Tel Aviv usai rentetan ledakan itu.

    Netanyahu, menurut pernyataan kantor PM Israel, memerintahkan operasi kontraterorisme dan peningkatan keamanan di kota-kota Israel.

    “Perdana Menteri telah memerintahkan IDF (Angkatan Bersenjata Israel) untuk melakukan operasi intensif terhadap pusat-pusat terorisme di area Yudea dan Samaria,” sebut kantor Netanyahu dalam pernyataan via media sosial X, menggunakan sebutan Israel untuk wilayah Tepi Barat.

    “Perdana Menteri juga memerintahkan Kepolisian Israel dan ISA (badan keamanan dalam negeri) untuk meningkatkan aktivitas pencegahan terhadap serangan-serangan tambahan di kota-kota Israel,” imbuh pernyataan itu.

    Lihat Video ‘3 Bom Meledak di Bus yang Terparkir di Israel’:

    Kepolisian Israel menyebut rentetan ledakan itu sebagai “dugaan serangan teror” dan mengerahkan sejumlah besar personelnya untuk memburu para tersangka.

    “Unit penjinak bom dari kepolisian sedang memindai benda-benda mencurigakan lainnya. Kami mengimbau masyarakat untuk menghindari area tersebut dan tetap waspada terhadap benda-benda mencurigakan,” demikian pernyataan Kepolisian Israel.

    Seorang komandan kepolisian dari wilayah Israel bagian tengah, Haim Sargarof, mengatakan bahwa peledak yang digunakan dalam rentetan ledakan bus itu mirip dengan peledak yang ditemukan pasukan militer Tel Aviv dalam operasinya di Tepi Barat.

    Sementara Katz dalam pernyataan terpisah mengatakan dirinya telah memerintahkan pasukan militer Israel untuk “mengintensifkan operasi untuk menggagalkan terorisme” di area kamp pengungsi di Tepi Barat, khususnya Tulkarem.

    Imbas dari ledakan ini, menurut laporan media lokal Israel, para pengemudi bus di seluruh wilayah Israel diminta untuk menghentikan operasional dan memeriksa kendaraan mereka untuk mencari kemungkinan peledak tambahan.

    Lihat juga Video ‘3 Bom Meledak di Bus yang Terparkir di Israel’:

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • Analis: Ledakan 3 Bus di Tel Aviv Bisa Jadi Rekayasa untuk Kepentingan Israel – Halaman all

    Analis: Ledakan 3 Bus di Tel Aviv Bisa Jadi Rekayasa untuk Kepentingan Israel – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Polisi Israel melaporkan bahwa serangkaian ledakan mengguncang kota Bat Yam, yang terletak di selatan Tel Aviv pada Kamis (20/2/2025), malam, waktu setempat.

    Tiga bom meledak di dalam bus, sementara dua alat peledak lainnya berhasil dijinakkan, dikutip dari Al-Arabiya.

    Menurut pernyataan resmi dari walikota Bat Yam, Tzvika Brot, tidak ada korban luka dalam insiden tersebut.

    Juru bicara kepolisian menyatakan bahwa aparat sedang melakukan penyisiran di area kejadian untuk mencari tersangka dan benda-benda mencurigakan lainnya.

    “Unit penjinak bom polisi sedang memindai benda-benda mencurigakan lainnya. Kami menghimbau masyarakat untuk menghindari area tersebut dan tetap waspada terhadap benda-benda mencurigakan,” katanya,

    Beberapa analis mengungkapkan kemungkinan bahwa ledakan tersebut bukan sekadar insiden biasa.

    Melainkan sebuah rekayasa untuk mengalihkan perhatian publik dari situasi politik yang tengah memanas di Israel.

    Seorang analis Israel, Ihab Jabarin menyoroti kecepatan Israel dalam menyimpulkan bahwa insiden ini bersifat nasionalistis.

    Ia mempertanyakan siapa yang akan diuntungkan dari kejadian ini, terutama di tengah kritik terhadap pemerintah Israel terkait pemulangan tahanan dalam peti mati.

    Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Jabarin mengingatkan bahwa insiden serupa telah terjadi di masa lalu, sering kali tanpa klaim tanggung jawab dari pihak mana pun.

    Namun, waktu kejadian ini mencurigakan, karena terjadi ketika pemerintah Israel berada dalam tekanan akibat kebijakan perangnya di Gaza dan Tepi Barat. 

    Jabarin berspekulasi bahwa Israel dapat memanfaatkan insiden ini untuk memperkuat narasi keamanan nasional serta meningkatkan agresinya di Tepi Barat dan Gaza.

    Tekanan Politik dan Intelijen Israel

    Selain itu, ledakan ini juga dapat berdampak pada dinamika politik dalam negeri Israel. 

    Jabarin menduga bahwa insiden ini mungkin memberikan alasan bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk mengganti Kepala Shin Bet, Ronen Bar, setelah sebelumnya Kepala Staf Militer Herzl Halevi mengundurkan diri akibat tekanan dari koalisi sayap kanan.

    Sementara itu, pakar militer Brigadir Jenderal Elias Hanna mencatat bahwa respons militer Israel terhadap ledakan ini menunjukkan adanya kepanikan. 

    Ia mengkritik kegagalan intelijen Israel dalam mendeteksi ancaman ini sejak awal serta langkah militer yang berlebihan dalam menampilkan bom yang telah dijinakkan kepada publik.

    Hanna juga menyoroti fokus Israel pada tulisan Arab di bom tersebut, yang menurutnya tidak memiliki signifikansi militer, dikutip dari Palestine Chronicle.

    Di tengah ketegangan ini, laporan dari situs berita Walla mengungkap bahwa alat peledak yang ditemukan di Bat Yam direncanakan untuk meledak secara bersamaan pada Jumat pagi. 

    Radio militer Israel juga mengklaim bahwa upaya pengeboman ini kemungkinan berasal dari Tepi Barat.

    Sementara itu, operasi militer Israel di kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat utara terus berlanjut selama sebulan terakhir.

    Puluhan warga Palestina, termasuk wanita dan anak-anak, telah menjadi korban tewas akibat agresi ini. 

    Sebagian besar wilayah di Tepi Barat seperti, kamp pengungsi di Tulkarm, Nour Shams, dan Jenin hancur akibat serangan Israel.

    Ledakan di Bat Yam, baik disengaja maupun tidak, meningkatkan ketegangan antara Israel dan Palestina serta memicu spekulasi mengenai motif di balik insiden tersebut.

    (Tribunnews.com/Farrah)

    Artikel Lain Terkait Tel Aviv

  • Keluarga Bibas Diperlakukan Secara Manusiawi, tapi Dibunuh oleh Pemboman Israel yang Membabi Buta – Halaman all

    Keluarga Bibas Diperlakukan Secara Manusiawi, tapi Dibunuh oleh Pemboman Israel yang Membabi Buta – Halaman all

    Keluarga Bibas Diperlakukan Secara Manusiawi, tapi Dibunuh oleh Tentara Israel kata Pejuang Hamas

    TRIBUNNEWS.COM- Kelompok perlawanan Palestina telah memberikan tempat berlindung yang aman kepada sandera Israel Shiri Bibas dan anak-anaknya dan memperlakukan mereka secara manusiawi.

    Tetapi tentara Israel telah membunuh mereka, kata seorang komandan Palestina pada hari Kamis, Anadolu melaporkan.

    Hamas menyerahkan jenazah Shiri, kedua anaknya; Ariel dan Kfir, serta Oded Lifshitz di kota Khan Younis di Gaza selatan pada hari Kamis berdasarkan perjanjian gencatan senjata dan pertukaran tahanan dengan Israel.

    Kelompok Palestina mengatakan keempat tawanan itu tewas dalam pemboman Israel yang membabi buta selama perang genosida Israel di Gaza.

     

     

     

    JENAZAH SANDERA ISRAEL – Tangkapan layar ini diambil dari tayangan YouTube live streaming CNBCTV18 pada Kamis (20/2/2025), memperlihatkan anggota Brigade Al-Qassam membawa peti jenazah sandera Israel dalam pertukaran tahanan gelombang ke-7 pada Kamis (20/2/2025) untuk diserahkan kepada Palang Merah Internasional (ICRC) sebelum dibawa ke Israel. Empat jenazah sandera Israel diserahkan ke ICRC. (Tangkapan Live Streaming YouTube CNBCTV18)

     

     

     

     

    “Shiri pernah bertugas di Komando Selatan tentara Israel dan bekerja di Unit 8200, divisi intelijen elektronik elite Israel,” kata komandan Brigade Mujahidin, sayap militer Gerakan Mujahidin, saat upacara serah terima keempat sandera yang terbunuh.

    “Setelah penangkapannya, kami menitipkan anak-anak Shiri kepadanya karena rasa iba, menyediakan tempat berlindung yang aman dan nyaman bagi mereka, dan memperlakukan mereka secara manusiawi sebagaimana yang diamanatkan agama Islam,” katanya.

    “Namun karena pemboman yang membabi buta dan brutal oleh tentara Israel, mereka terbunuh bersama para penculiknya,” tambahnya.

    Berbeda dengan jenazah warga Palestina yang jenazahnya dikembalikan Israel dalam bentuk tumpukan di dalam tas tanpa disertai identifikasi yang tepat, jenazah keempat tawanan Israel ditempatkan dalam peti mati terpisah yang dilengkapi dengan rincian identifikasi.

    Kesepakatan gencatan senjata Gaza mulai berlaku bulan lalu, menghentikan perang genosida Israel yang telah menewaskan lebih dari 48.300 orang, sebagian besar wanita dan anak-anak, dan meninggalkan daerah kantong itu dalam reruntuhan.

    November lalu, Pengadilan Kriminal Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanannya Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

    Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas perangnya di daerah kantong tersebut.

     

    SUMBER: MIDDLE EAST MONITOR

  • Dunia Hari Ini: Ledakan Bus di Israel Diduga ‘Serangan Teror’

    Dunia Hari Ini: Ledakan Bus di Israel Diduga ‘Serangan Teror’

    Dunia Hari Ini kembali dengan laporan dari beberapa belahan dunia selama 24 jam terakhir.

    Berita utama dalam edisi Jumat, 21 Februari 2025 kami hadirkan dari Israel.

    Serangkaian ledakan bus di Israel

    Serangkaian ledakan bus di Israel dilaporkan kepolisian Israel, Kamis kemarin, yang mereka sebut sebagai “dugaan serangan teror.”

    “Banyak laporan diterima tentang ledakan yang melibatkan beberapa bus di lokasi berbeda di Bat Yam,” katanya.

    Sejauh ini belum ada laporan korban yang meninggal maupun cedera.

    Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengonfirmasi insiden ledakan di wilayah Tel Aviv dalam sebuah pernyataan dan akan segera mengadakan penilaian situasi keamanan.

    Paus dalam keadaan ‘sadar’

    Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengatakan Paus Fransiskus “sadar dan tanggap” ketika dia mengunjunginya di rumah sakit di Roma.

    “Kami bercanda seperti biasa. Dia tidak kehilangan selera humornya,” bunyi pernyataannya.

    Paus berusia 88 tahun itu dirawat karena komplikasi pneumonia ganda dan infeksi bronchitis.

    Vatikan mengatakan secara umum kondisi Paus tetap stabil dengan “sedikit perbaikan” dalam tes darahnya.

    Mereka juga tidak memberikan informasi apa pun tentang berapa lama Paus akan dirawat di rumah sakit.

    Mantan kepala sepak bola dinyatakan bersalah

    Pengadilan Tinggi Spanyol menyatakan mantan kepala sepak bola Spanyol Luis Rubiales bersalah karena mencium bibir striker Jenni Hermoso tanpa izin.

    Rubiales, 47 tahun, dituduh melakukan pelecehan seksual dan pemaksaan atas tuduhan mencoba menekan Hermoso untuk menyatakan ciuman itu atas dasar suka sama suka.

    Pengadilan memerintahkannya untuk membayar denda senilai lebih dari 10.000 euro ($16.300), tetapi membebaskannya dari tuduhan pemaksaan.

    “Hakim memahami, mengingat dampak serangan berupa ciuman … ia tidak perlu direhabilitasi khusus untuk kejahatannya, kami menjatuhkan hukuman uang, yang tidak seberat hukuman kurungan,” bunyi putusan tersebut.

    Loyalis Trump menjadi direktur FBI

    Senat Amerika Serikat memberikan suara untuk mengonfirmasi Kash Patel sebagai direktur FBI.

    Pemungutan suara dilakukan di tengah keraguan dari Demokrat tentang kualifikasinya.

    Muncul juga kekhawatiran ia akan menaati perintah Presiden Donald Trump untuk mengejar musuh-musuh presiden dari Partai Republik.

    “Saya tidak dapat membayangkan pilihan yang lebih buruk,” ujar Senator Demokrat Dick Durbin dari Illinois.

    Sebagai loyalis Presiden Trump yang sudah mengkritik keras badan tersebut, Kash akan mewarisi FBI yang dilanda kekacauan karena Departemen Kehakiman selama sebulan terakhir telah memaksa keluar sekelompok pejabat senior biro tersebut.

    Lihat Video ‘ 3 Bom Meledak di Bus yang Terparkir di Israel’:

  • Faksi Palestina: Kerugian Tentara Israel Jauh Lebih Banyak dari yang Diumumkan – Halaman all

    Faksi Palestina: Kerugian Tentara Israel Jauh Lebih Banyak dari yang Diumumkan – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Sumber dari berbagai faksi perlawanan Palestina menegaskan bahwa kerugian tentara Israel di Gaza jauh lebih besar dari angka yang dilaporkan secara resmi oleh pemerintah Israel.

    Dalam pernyataan terpisah kepada The New Arab, para pejuang perlawanan Palestina mengklaim bahwa mereka telah menyebabkan banyak korban di pihak tentara Israel, terutama selama konfrontasi darat di Gaza.

    Pejabat Hamas secara terbuka mengatakan bahwa militer Israel sengaja mengecilkan jumlah kerugian mereka. 

    Hanya dalam pertempuran di Gaza Utara saja, Hamas mengklaim ratusan tentara Israel tewas.

    Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal Jihad Islam Palestina, Mohammed al-Hindi, menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berada dalam “ilusi”.

    Ia menegaskan bahwa setiap negosiasi di masa depan harus mencakup penghentian total pertempuran.

    Pemimpin Hamas, Khaled Meshaal, juga menegaskan bahwa kelompoknya tetap mampu mempertahankan perlawanan meskipun menghadapi perang berkepanjangan.

    “Hamas akan bangkit dari keterpurukan seperti yang selalu terjadi,” ujarnya, seraya menekankan bahwa mereka masih memiliki kekuatan untuk menyerang tentara Israel.

    Di sisi lain, Netanyahu berulang kali menyatakan bahwa aksi militer Israel telah melemahkan Hamas dan Jihad Islam secara signifikan, membuat mereka mengalami kemunduran selama bertahun-tahun.

    Namun, analis independen berpendapat bahwa ketergantungan Israel pada serangan udara menunjukkan bahwa mereka menghadapi perlawanan yang jauh lebih kuat dari yang diperkirakan.

    Kerugian Tentara Israel

    Statistik resmi Israel mengklaim bahwa sejak dimulainya serangan darat di Gaza, 401 tentara Israel telah tewas, sehingga total korban militer menjadi 831, dengan lebih dari 5.590 tentara terluka.

    Dari jumlah tersebut, 2.535 tentara terluka sejak invasi darat dimulai.

    Menurut surat kabar Israel Maariv, total korban militer Israel sejak 7 Oktober 2023 mencapai 891, termasuk 390 di Gaza, 50 di Lebanon, 11 di Tepi Barat, 37 di Israel Utara, dan 65 lainnya dalam insiden operasional.

    Laporan juga menunjukkan peningkatan bunuh diri di kalangan tentara Israel.

    Pada tahun 2023, 27 tentara mengkhiri hidup, dan 21 kasus tambahan tercatat sejak awal 2024.

    Pada bulan Desember 2023, media Haaretz melaporkan adanya perbedaan besar antara jumlah tentara yang terluka yang dilaporkan oleh militer dengan catatan rumah sakit.

    Data dari Kementerian Kesehatan Israel menunjukkan bahwa jumlah tentara terluka mencapai 10.548, jauh lebih tinggi dari yang diumumkan oleh militer, yakni 1.593.

    Selain itu, Haaretz melaporkan bahwa sekitar 1.000 tentara terluka dirawat di pusat rehabilitasi setiap bulan.

    Media Israel lainnya juga menyatakan bahwa jumlah korban militer Israel mungkin lebih tinggi karena pemerintah berupaya mengendalikan persepsi publik dan menjaga moral warganya.

    Keluarga tentara Israel semakin mengkhawatirkan kurangnya transparansi terkait kondisi sebenarnya di medan perang.

    Seorang pejabat senior di Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas, mengatakan kepada The New Arab bahwa meskipun Israel memiliki keunggulan militer, para pejuang perlawanan menggunakan taktik gerilya yang sangat efektif di medan perang perkotaan, menyebabkan kerugian signifikan bagi Israel.

    Seorang pejuang perlawanan, yang berbicara secara anonim, mengatakan:

    “Setiap hari, para pejuang kami melakukan banyak serangan, mulai dari penyergapan konvoi militer hingga menembaki tentara musuh.”

    “Semua operasi ini didokumentasikan dengan cermat.”

    “Penggunaan terowongan bawah tanah, alat peledak rakitan, dan rudal anti-tank telah membuat pasukan Israel kesulitan menguasai wilayah di Gaza,” tambahnya.

    Pejuang dari Brigade Al-Quds, sayap militer Jihad Islam Palestina, juga menyuarakan hal serupa.

    Ia mengatakan bahwa ketidakmampuan Israel untuk terlibat langsung dalam pertempuran menyebabkan mereka meningkatkan serangan terhadap warga sipil.

    Hamas dan Jihad Islam bukan satu-satunya faksi yang bertempur.

    Pejuang dari Fatah dan Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP) juga berpartisipasi dalam perlawanan.

    Seorang pejuang Fatah mengatakan, “Perbedaan politik menghilang di tengah perang. Misi kami adalah membela rakyat dan melawan pendudukan.”

    Koordinasi yang erat antara faksi-faksi perlawanan mengarah pada serangan yang lebih terorganisir, termasuk penggunaan drone untuk pengintaian dan serangan.

    Menurut pejuang Fatah, kemajuan dalam taktik ini telah berkontribusi pada peningkatan kerugian militer Israel.

    Profesor Saeed Shaheen, seorang analis politik Palestina, mengatakan bahwa meningkatnya korban di pihak Israel memberikan tekanan pada pendudukan tersebut untuk menunjukkan fleksibilitas dalam negosiasi.

    “Meningkatnya jumlah korban memaksa Israel mempertimbangkan pendekatan yang lebih hati-hati,” katanya.

    Ia juga menekankan bahwa tekanan diplomatik dari Amerika Serikat turut berperan dalam mencapai gencatan senjata.

    (Tribunnews.com, Tiara Shelavie)