Tag: Benjamin Netanyahu

  • Netanyahu Tegaskan Israel Akan Capai Tujuan Perang di Gaza

    Netanyahu Tegaskan Israel Akan Capai Tujuan Perang di Gaza

    Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa negaranya akan mencapai semua tujuan perang Gaza. Netanyahu mengatakan bahwa Tel Aviv “bertekad” untuk mengamankan pemulangan jenazah semua sandera yang masih ada di Jalur Gaza.

    Hal tersebut ia sampaikan dalam upacara kenegaraan untuk mengenang tentara yang gugur selama konflik dua tahun dengan Hamas.

  • Temui Pejabat PBB, PM Palestina Jelaskan Rencana Rekonstruksi Gaza

    Temui Pejabat PBB, PM Palestina Jelaskan Rencana Rekonstruksi Gaza

    Ramallah

    Perdana Menteri (PM) Palestina, Mohammad Mustafa, bertemu dengan para pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menjelaskan rencana rekonstruksi Gaza. Rencana itu dipaparkan meski ada ketidakpastian terkait peran pemerintahnya di Gaza.

    “Saya yakin bahwa 12 bulan dari sekarang, Otoritas Palestina akan beroperasi penuh di Gaza,” kata Mustafa beberapa hari setelah gencatan senjata mulai berlaku di Gaza, dilansir AFP, Kamis (16/10/2025).

    Untuk diketahui, Otoritas Palestina (PA) tidak lagi berperan dalam pemerintahan Gaza sejak rivalnya, Hamas, merebut kendali wilayah tersebut pada tahun 2007. Meski demikian, Otoritas Palestina masih menyediakan beberapa layanan di wilayah tersebut.

    Rencana perdamaian Gaza yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tidak mengesampingkan kemungkinan pembentukan negara Palestina. Dia juga menyarankan untuk mengizinkan peran Otoritas Palestina setelah menyelesaikan serangkaian reformasi.

    Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah berjanji untuk menentang pembentukan negara Palestina dan hampir menolak opsi keputusan Otoritas Palestina yang berbasis di Ramallah atas Gaza pascaperang.

    Mustafa mengatakan Otoritas Palestina telah menyusun rencana 5 tahun untuk Gaza yang akan berlangsung dalam tiga tahap. Rencana itu membutuhkan USD 65 miliar untuk 18 sektor berbeda seperti perumahan, pendidikan, pemerintahan, dan banyak lagi.

    “Visi kami jelas. Gaza akan dibangun kembali sebagai bagian dari Negara Palestina yang terbuka, terhubung, dan berkembang,” ujar Mustafa kepada para menteri Palestina, kepala badan PBB, dan kepala misi diplomatik dari kantornya di Ramallah, di Tepi Barat yang diduduki Israel.

    Dia juga mengatakan diskusi teknis sedang berlangsung dengan Uni Eropa mengenai operasi penyeberangan yang aman, sistem bea cukai, dan unit kepolisian terpadu. Uni Eropa adalah salah satu donor terbesar bagi Otoritas Palestina.

    (fas/haf)

  • Netanyahu Tegaskan Israel Akan Capai Semua Tujuan Perang Gaza

    Netanyahu Tegaskan Israel Akan Capai Semua Tujuan Perang Gaza

    Tel Aviv

    Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa negaranya akan mencapai semua tujuan perang Gaza yang telah ditetapkan. Netanyahu mengatakan bahwa Tel Aviv “bertekad” untuk mengamankan pemulangan jenazah semua sandera yang masih ada di Jalur Gaza.

    Saat berbicara dalam seremoni kenegaraan untuk mengenang tentara yang gugur dalam perang melawan Hamas, seperti dilansir AFP dan Al Arabiya, Kamis (16/10/2025), Netanyahu mengatakan bahwa “perjuangan belum berakhir”.

    “Kita bertekad untuk menjamin pemulangan semua sandera,” kata Netanyahu saat berbicara dalam seremoni kenegaraan yang digelar di pemakaman militer Gunung Herzl di Yerusalem pada Kamis (16/10).

    Dalam pernyataannya, Netanyahu juga mengatakan bahwa musuh-musuh Israel telah menyadari bahwa siapa pun yang melawannya akan membayar harga yang sangat mahal.

    “Perjuangan belum berakhir, tetapi satu hal yang jelas — siapa pun yang menyentuh kita mengetahui bahwa mereka akan membayar harga yang sangat mahal,” tegasnya.

    “Kita bertekad untuk meraih kemenangan yang akan membentuk lingkungan sekitar kita selama bertahun-tahun,” sebut Netanyahu.

    Pernyataan itu disampaikan setelah sayap bersenjata Hamas, Brigade Ezzedine Al-Qassam, mengatakan kelompoknya telah menyerahkan semua jenazah sandera yang dapat ditemukan sejauh ini dan membutuhkan peralatan khusus untuk mengevakuasi jenazah-jenazah sandera lainnya dari reruntuhan Gaza.

    “Perlawanan telah memenuhi komitmennya terhadap perjanjian dengan menyerahkan semua perlawanan Israel yang masih hidup dalam tersingkir, serta pemakaman-jenazah yang dapat diakses,” kata pernyataan Brigade Ezzedine Al-Qassam dalam via media sosial.

    “Mengenai jenazah-jenazah yang tersisa, diperlukan upaya ekstensif dan peralatan khusus untuk pengambilan dan ekstraksi mereka. Kami mengerahkan upaya besar untuk menyelesaikan persoalan ini,” imbuh pernyataan tersebut.

    Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata Gaza yang berlaku sejak 10 Oktober, Hamas harus menyerahkan total 48 sandera yang masih berada di Jalur Gaza. Jumlahnya terdiri atas 20 sandera yang masih hidup dan 28 sandera yang sudah mati.

    Hamas telah menyerahkan semua 20 sandera yang masih hidup kepada Israel, melalui ICRC, pada Senin (13/10) waktu setempat. Sebagai imbalan, Israel membebaskan sebanyak 1.968 tahanan dan narapidana Palestina pada hari yang sama.

    Namun dari 28 jenazah sandera yang masih ada di Jalur Gaza, Hamas sejauh ini baru menyerahkan sembilan jenazah sandera kepada Israel, melalui ICRC. Satu jenazah di antaranya yang diserahkan Hamas telah dipastikan oleh Tel Aviv, bukanlah jenazah sandera.

    Sebelumnya, Menteri Pertahanan (Menhan) Israel, Israel Katz, mengancam akan melanjutkan pertempuran di Jalur Gaza, jika Hamas tidak menghormati kesepakatan gencatan senjata — yang merujuk pada penyerahan jenazah sandera yang tidak sesuai kesepakatan.

    “Jika Hamas menolak untuk mematuhi perjanjian tersebut, Israel, berkoordinasi dengan Amerika Serikat, akan melanjutkan pertempuran dan bertindak untuk mewujudkan kekalahan total Hamas, mengubah kenyataan di Gaza, dan mencapai semua tujuan perang,” tegas Katz dalam pernyataannya.

    Tonton juga video “Netanyahu Jelang Pertukaran Sandera: Peristiwa Bersejarah” di sini:

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Trump Bilang Israel Bisa Lanjutkan Serangan Jika Hamas Tak Patuhi Gencatan

    Trump Bilang Israel Bisa Lanjutkan Serangan Jika Hamas Tak Patuhi Gencatan

    Washington DC

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dirinya akan mempertimbangkan untuk mengizinkan Israel melanjutkan kembali operasi militer di Jalur Gaza, jika kelompok Hamas gagal menerapkan ketentuan yang diatur dalam kesepakatan gencatan senjata.

    Hal tersebut, seperti dilansir Anadolu Agency dan Al Arabiya, Kamis (16/10/2025), disampaikan Trump dalam wawancara via telepon dengan media terkemuka AS, CNN, pada Rabu (15/10) waktu setempat.

    Ketika ditanya oleh CNN soal apa yang akan terjadi jika Hamas menolak untuk melucuti senjata, Trump menjawab: “Saya akan memikirkannya.”

    Kemudian dia menambahkan: “Israel akan kembali ke jalan-jalan itu segera setelah saya mengatakan demikian. Jika Israel bisa masuk dan menghajar mereka habis-habisan, mereka akan melakukannya.”

    Trump melanjutkan dengan mengatakan bahwa dirinya “harus menahan mereka”, merujuk pada militer Israel dan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu.

    “Saya sudah bersitegang dengan Bibi,” ucapnya, menggunakan nama panggilan akrab untuk Netanyahu.

    Dalam apa yang digambarkan oleh CNN sebagai wawancara singkat via telepon, Trump dikutip mengatakan: “Apa yang terjadi dengan Hamas — itu akan segera diselesaikan.”

    Lebih lanjut, Trump menegaskan bahwa pembebasan 20 sandera Israel yang masih hidup merupakan hal “yang paling penting”, namun Hamas sekarang harus memenuhi komitmennya untuk menyerahkan jenazah-jenazah para sandera yang tewas di Jalur Gaza dan melucuti persenjataan mereka.

    Jika Hamas menolak untuk melucuti senjata, Trump sebelumnya menegaskan: “Kita yang akan melucuti senjata mereka.”

    Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata Gaza yang berlaku sejak Jumat (10/10) lalu, Hamas harus menyerahkan total 48 sandera yang diyakini masih berada di Jalur Gaza. Jumlah itu terdiri atas 20 sandera yang masih hidup dan 28 sandera yang sudah tewas.

    Hamas telah menyerahkan semua 20 sandera yang masih hidup kepada Israel, melalui Komite Palang Merah Internasional (ICRC), pada Senin (13/10) waktu setempat. Sebagai imbalan, Israel membebaskan sebanyak 1.968 tahanan Palestina dari penjara-penjara mereka pada hari yang sama.

    Namun dari 28 jenazah sandera yang masih ada di Jalur Gaza, Hamas sejauh ini baru menyerahkan sembilan jenazah sandera kepada Israel, melalui ICRC. Satu jenazah di antaranya yang diserahkan Hamas telah dipastikan oleh Tel Aviv, bukanlah jenazah sandera.

    Sebelumnya, Menteri Pertahanan (Menhan) Israel, Israel Katz, mengancam akan melanjutkan pertempuran di Jalur Gaza, jika Hamas tidak menghormati kesepakatan gencatan senjata. Ancaman ini dilontarkan setelah Hamas menyerahkan dua jenazah sandera lainnya pada Rabu (15/10) tengah malam.

    “Jika Hamas menolak untuk mematuhi perjanjian tersebut, Israel, berkoordinasi dengan Amerika Serikat, akan melanjutkan pertempuran dan bertindak untuk mewujudkan kekalahan total Hamas, mengubah realitas di Gaza, dan mencapai semua tujuan perang,” tegas Katz dalam pernyataannya, seperti dilansir AFP.

    Halaman 2 dari 2

    (nvc/idh)

  • Israel Ancam Lanjutkan Pertempuran Jika Hamas Tak Hormati Gencatan senjata

    Israel Ancam Lanjutkan Pertempuran Jika Hamas Tak Hormati Gencatan senjata

    Jakarta

    Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengancam akan melanjutkan pertempuran jika Hamas tidak menghormati ketentuan gencatan senjata untuk menghentikan perang di Gaza.

    Pernyataan itu muncul usai Hamas menyerahkan jenazah dua sandera lainnya yang telah meninggal, dan mengatakan bahwa mereka tidak akan dapat mengambil jenazah lagi dari reruntuhan Gaza tanpa peralatan khusus.

    Sebelum kedua jenazah tersebut diserahkan pada Rabu malam, Hamas telah mengembalikan tujuh jenazah dari 28 sandera yang diketahui telah meninggal — beserta jenazah kedelapan yang menurut Israel bukan jenazah mantan sandera.

    “Jika Hamas menolak mematuhi perjanjian tersebut, Israel, berkoordinasi dengan Amerika Serikat, akan melanjutkan pertempuran dan bertindak untuk mencapai kekalahan total Hamas, mengubah realitas di Gaza, dan mencapai semua tujuan perang,” demikian pernyataan dari kantor Katz, dilansir AFP, Kamis (16/10/2025).

    Sementara itu, Hamas mengatakan bahwa kedua jenazah yang dikembalikan akan menjadi yang terakhir untuk saat ini. Sebab Hamas menyebut proses evakuasi jenazah dari reruntuhan membutuhkan peralatan khusus.

    “Perlawanan telah memenuhi komitmennya terhadap perjanjian tersebut dengan menyerahkan semua tahanan Israel yang masih hidup yang berada dalam tahanannya, serta jenazah yang dapat diaksesnya,” kata Brigade Ezzedine Al-Qassam dalam sebuah pernyataan di media sosial.

    “Mengenai jenazah yang tersisa, dibutuhkan upaya ekstensif dan peralatan khusus untuk pengambilan dan ekstraksinya. Kami mengerahkan upaya besar untuk menyelesaikan masalah ini,” ujarnya.

    Namun, para penasihat senior AS mengatakan, setelah ancaman Israel untuk melanjutkan pertempuran, bahwa Hamas masih berniat untuk memenuhi janjinya.

    “Kami terus mendengar dari mereka bahwa mereka berniat untuk menghormati kesepakatan tersebut. Mereka ingin melihat kesepakatan tersebut tuntas dalam hal itu,” ujar seorang penasihat kepada wartawan yang tidak ingin disebutkan namanya.

    Akan tetapi, penundaan pengembalian jenazah yang tersisa kemungkinan akan menambah tekanan domestik terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mengaitkan bantuan kemanusiaan dengan nasib jenazah tersebut.

    Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, telah mengancam akan menghentikan pasokan bantuan ke Gaza jika Hamas gagal mengembalikan jenazah tentara yang masih ditahan di wilayah Palestina tersebut.

    Diketahui, sejak Senin kemarin, berdasarkan perjanjian gencatan senjata yang diusulkan Presiden AS Donald Trump, Hamas telah menyerahkan kembali 20 sandera yang masih hidup kepada Israel dengan imbalan hampir 2.000 tahanan Palestina yang dibebaskan dari penjara-penjara Israel.

    Simak Video ‘Trump Tidak Akan Pakai Militer AS untuk Melucuti Senjata Hamas’:

    (yld/dek)

  • Israel Serahkan 90 Jenazah Warga Palestina Sejak Gencatan Senjata di Gaza

    Israel Serahkan 90 Jenazah Warga Palestina Sejak Gencatan Senjata di Gaza

    Jakarta

    Israel kembali mengembalikan 45 jenazah warga Palestina kepada pihak berwenang Gaza sejak gencatan senjata disepakati. Hingga kini total 90 jenazah sudah diserahkan pihak Israel.

    Dilansir kantor berita AFP, Rabu (15/10/2024), kesepakatan gencatan senjata di Gaza yang telah dimulai sejak Sabtu (10/10) ini didorong oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan bertujuan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama dua tahun. Dalam kesepakatan ini, Israel harus menyerahkan 15 jenazah warga Palestina untuk setiap warga Israel yang meninggal dan jasadnya telah dipulangkan.

    Pada hari Senin (13/10), Hamas menyerahkan tiga jenazah warga Israel dan satu warga Nepal untuk dipindahkan. Ini diikuti pada Selasa (14/10) diserahkan tiga warga Israel yang meninggal dan satu jenazah yang belum teridentifikasi, yang menurut pihak militer bukan merupakan salah satu sandera yang tewas.

    Pertukaran ini juga telah membuat 20 sandera terakhir yang masih hidup kembali ke rumah mereka di Gaza, dengan imbalan hampir 2.000 tahanan Palestina yang dibebaskan dari penjara-penjara Israel. Kesepakatan ini juga terkait penghentian pertempuran dan pengeboman.

    Tersisa 20 sandera lainnya yang masih berada di Gaza, dan ada tekanan domestik terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mengaitkan bantuan dengan nasib jenazah.

    Pada hari Rabu, penyeberangan perbatasan antara Gaza dan Mesir tetap ditutup, meskipun ada laporan bahwa penyeberangan tersebut dapat dibuka kembali untuk konvoi bantuan. Hal ini dikarenakan Israel bersikeras bahwa Hamas harus menyerahkan jenazah para sandera yang meninggal.

    (wnv/ygs)

  • Netanyahu Ingatkan Hamas soal Perlucutan Senjata dan Demiliterisasi

    Netanyahu Ingatkan Hamas soal Perlucutan Senjata dan Demiliterisasi

    Jakarta

    Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengingatkan seruan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump agar Hamas melucuti senjatanya setelah kesepakatan gencatan senjata. Netanyahu mengatakan syarat Hamas melepaskan senjata ini termasuk dalam poin rencana perdamaian di Gaza.

    “Syarat-syarat dalam rencana perdamaian 20 poinnya sangat jelas. Bukan hanya kita harus mengeluarkan para sandera, tanpa memakai militer kita, tetapi kita selanjutnya akan melakukan demiliterisasi dan perlucutan senjata,” kata Netanyahu kepada CBS News dilansir Aljazeera, Kamis (15/10/2025).

    “Pertama, Hamas harus menyerahkan senjatanya, dan kedua, Anda harus memastikan tidak ada pabrik senjata di dalam Gaza, tidak ada penyelundupan senjata ke Gaza. Itulah demiliterisasi,” imbuhnya.

    Pemimpin Israel itu mengaku berharap perlucutan senjata terjadi secara damai. Dia mengatakan jika hal itu tidak dilakukan Hamas, maka akan terjadi kekacauan.

    “Jika tidak, saya rasa saya mendengar presiden berbicara malam ini, dan dia berkata, ‘dengarkan, mereka sebaiknya melakukannya’, atau…, katanya, ‘kekacauan akan terjadi’,” katanya.

    Sebelum Netanyahu memberikan peringatan, Hamas menyatakan pihaknya tidak akan memegang kendali dan pemerintahan di wilayah Gaza. Mereka juga bicara mengenai pelucutan senjata.

    Menurut sumber Hamas yang dikutip AFP, tidak ada perpecahan di antara para anggota senior Hamas, termasuk dalam hal perlucutan senjata, yang sejak lama digambarkan oleh kelompok tersebut sebagai red line.

    “Hamas menyetujui gencatan senjata jangka panjang, dan senjatanya tidak akan digunakan sama sekali selama periode ini, kecuali jika terjadi serangan Israel terhadap Gaza,” ucap sumber Hamas tersebut.

    Seorang pejabat Hamas lainnya, yang juga enggan disebut namanya, sebelumnya mengatakan kepada AFP bahwa pelucutan senjata Hamas merupakan hal yang mustahil. Klausul pertama dalam rencana perdamaian 20 poin yang diusulkan Trump menyerukan agar Jalur Gaza menjadi “zona bebas teror yang dideradikalisasi dan tidak menimbulkan ancaman bagi negara-negara tetangganya”.

    Simak juga Video Netanyahu Jelang Pertukaran Sandera: Peristiwa Bersejarah

    (zap/yld)

  • Netanyahu Ingatkan Hamas soal Perlucutan Senjata dan Demiliterisasi

    Netanyahu Ingatkan Hamas soal Pelucutan Senjata dan Demiliterisasi

    Jakarta

    Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengingatkan seruan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump agar Hamas melucuti senjatanya setelah kesepakatan gencatan senjata. Netanyahu mengatakan syarat Hamas melepaskan senjata ini termasuk dalam poin rencana perdamaian di Gaza.

    “Syarat-syarat dalam rencana perdamaian 20 poinnya sangat jelas. Bukan hanya kita harus mengeluarkan para sandera, tanpa memakai militer kita, tetapi kita selanjutnya akan melakukan demiliterisasi dan perlucutan senjata,” kata Netanyahu kepada CBS News dilansir Aljazeera, Kamis (15/10/2025).

    “Pertama, Hamas harus menyerahkan senjatanya, dan kedua, Anda harus memastikan tidak ada pabrik senjata di dalam Gaza, tidak ada penyelundupan senjata ke Gaza. Itulah demiliterisasi,” imbuhnya.

    Pemimpin Israel itu mengaku berharap perlucutan senjata terjadi secara damai. Dia mengatakan jika hal itu tidak dilakukan Hamas, maka akan terjadi kekacauan.

    “Jika tidak, saya rasa saya mendengar presiden berbicara malam ini, dan dia berkata, ‘dengarkan, mereka sebaiknya melakukannya’, atau…, katanya, ‘kekacauan akan terjadi’,” katanya.

    Menurut sumber Hamas yang dikutip AFP, tidak ada perpecahan di antara para anggota senior Hamas, termasuk dalam hal perlucutan senjata, yang sejak lama digambarkan oleh kelompok tersebut sebagai red line.

    Seorang pejabat Hamas lainnya, yang juga enggan disebut namanya, sebelumnya mengatakan kepada AFP bahwa pelucutan senjata Hamas merupakan hal yang mustahil. Klausul pertama dalam rencana perdamaian 20 poin yang diusulkan Trump menyerukan agar Jalur Gaza menjadi “zona bebas teror yang dideradikalisasi dan tidak menimbulkan ancaman bagi negara-negara tetangganya”.

    (zap/yld)

  • Sesumbar Para Influencer Pro Israel, Klaim Prabowo Akan Berkunjung

    Sesumbar Para Influencer Pro Israel, Klaim Prabowo Akan Berkunjung

    Jakarta

    Media sosial ramai dengan kabar Presiden Prabowo Subianto disebut akan mengunjungi Israel. Hal ini rupanya dihembuskan oleh para influencer pro-Israel, namun dibantah Kemlu RI.

    Seperti diketahui, Presiden Indonesia Prabowo Subianto sedang berada di Mesir untuk menghadiri KTT perdamaian Gaza. Lokasi acara ada di Sharm El-Sheikh yang ada di pangkal Terusan Suez, sudah mendekati Israel.

    Nah, sejak kemarin sampai Selasa pagi ini (14/10/2025) di lini masa media sosial, khususnya Threads banyak suara-suara yang menyebutkan Prabowo akan berkunjung ke Israel. Suara ini dihembuskan oleh para influencer pro Israel.

    Salah satu yang pertama membuat postingan adalah Hananya Naftali. Dia adalah influencer Israel yang jabatannya sebagai staf khusus komunikasi digital untuk PM Israel Benjamin Netanyahu, jadi dia bukan influencer kaleng-kaleng.

    “BREAKING NEWS: The President of Indonesia might come to Israel tomorrow, Israeli media reports. I hope this will happen. Time to make peace. ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฑ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ,” kata @hnaftali.

    Hal ini pun diikuti oleh postingan influencer pro-Israel lainnya dan bahkan media Times of Israel sendiri.

    “The president of Indonesia, the world’s largest Muslim country, will visit Israel tomorrow. The Middle East is changing,” kata @henmazzig.

    “Indonesia’s President Prabowo Subianto will arrive tomorrow in Israel, marking the first visit of a head of state from Jakarta to the country, according to a source familiar with the details. Subianto referred to Israel in surprisingly warm terms during his UN speech in September, ending his address with the word “Shalom.” Indonesia is the world’s largest Muslim-majority country,” kata @timesofisrael.

    Tentu saja hal ini mendapatkan banyak reaksi netizen Indonesia dan dunia. Banyak yang bilang cuitan para influencer Israel ini adalah propaganda dan disinformasi, karena yang benar adalah Prabowo ke Mesir. Namun ada juga yang khawatir kalau seandainya Prabowo sungguhan ke Israel.

    “Nice dreaming.. prabowo come to egypt not occupied palestine,” kata @drardi22

    “Another Zionist lie. Don’t you people ever get tired,” kata @aliyarjiakhanbhatti.

    “Never bro, your imagination is too wild, Indonesia will never accept countries practicing genicode killing innocent. Note this๐Ÿ™,” kata @awildanputra.

    Bantahan para netizen ini senada dengan keterangan resmi Kementerian Luar Negeri Indonesia. Menurut Menlu Sugiono tidak ada rencana ke Israel. Usai KTT perdamaian Gaza, Prabowo pulang ke Indonesia.

    “Tidak benar. Sesuai rencana awal Presiden akan kembali ke Tanah Air setelah acara di Mesir selesai,” ujar Menlu Sugiono.

    Selama berada di Mesir, Prabowo dijadwalkan menghadiri KTT Perdamaian Sharm El-Sheikh. Pada KTT ini rencananya Prabowo akan menyaksikan upacara penandatanganan perjanjian perdamaian dan penghentian perang di Gaza.

    KTT tersebut akan dihadiri oleh sejumlah Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan di antaranya adalah Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Raja Yordania Abdullah II, Emir Qatar Syekh Thamim bin Hamad Al Thani, Presiden Turkiye Recep Tayip Erdogan, Presiden Prancis Emmanuel Macron, PM Arab Saudi Muhammad bin Salman Al Saud, dan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

    Halaman 2 dari 2

    Simak Video “Skandal yang Menghancurkan Karier 5 Influencer Dunia”
    [Gambas:Video 20detik]
    (fay/fyk)

  • Anggota Parlemen Israel Interupsi Pidato Trump, Desak Akui Palestina

    Anggota Parlemen Israel Interupsi Pidato Trump, Desak Akui Palestina

    Jakarta

    Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan pidato di hadapan anggota parlemen Israel, Knesset. Namun, sebelum memulai pidato, tiba-tiba ada seorang anggota parlemen Israel menginterupsi.

    Dilansir kantor berita Al Jazeera, Senin (13/10/2025), anggota parlemen Israel itu menginterupsi pidato Trump untuk mendesak pengakuan Palestina. Anggota parlemen Israel yang menginterupsi itu diketahui bernama Ayman Odeh.

    Sebelumnya, Odeh mengunggah di akun X-nya: “Kemunafikan di pleno ini sungguh tak tertahankan. Menobatkan Netanyahu melalui sanjungan yang belum pernah terjadi sebelumnya, melalui kelompok yang terorganisir, tidak membebaskannya dan pemerintahannya dari kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan di Gaza, maupun dari tanggung jawab atas darah ratusan ribu korban Palestina dan ribuan korban Israel,” tulisnya.

    Kata Odeh, karena gencatan senjata di Gaza dirinya mau hadir saat pidato Trump di Israel. Dia menyebut perdamaian dan keamanan akan terwujud hanya dengan mengakui negara Palestina.

    “Tetapi hanya karena gencatan senjata dan kesepakatan keseluruhan, saya ada di sini,” tulisnya.

    Seperti diketahui, Donald Trump tiba di Israel pada Senin (13/10) waktu setempat, bertepatan ketika kelompok Hamas mulai membebaskan sandera Israel di Jalur Gaza berdasarkan kesepakatan gencatan senjata yang diusulkan Trump.

    Pesawat kepresidenan AS Air Force One yang membawa Trump, seperti dilansir AFP dan Al Arabiya, mendarat di Bandara Internasional Ben Gurion pada Senin (13/10) waktu setempat.

    Putri Trump, Ivanka, juga tampak hadir mendampingi ayahnya.

    Sesaat sebelum mendarat di Tel Aviv, Air Force One mengudara di atas Alun-alun Sandera Tel Aviv, yang menjadi tempat puluhan ribu orang berkumpul menanti pembebasan para sandera.

    Kedatangan Trump itu terjadi tepat setelah tujuh sandera dalam kelompok pertama tiba di Israel setelah dibebaskan Hamas di Jalur Gaza, dengan bantuan Komite Palang Merah Internasional (ICRC).

    Kunjungan Trump ke Israel yang akan berlangsung singkat ini menjadi bentuk pesan dukungan untuk Tel Aviv, sekutu dekat Washington. Trump berpidato di hadapan parlemen Israel, Knesset dan diperkirakan akan bertemu dengan keluarga para sandera.

    Setelah itu, Donald Trump dan Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi akan memimpin KTT perdamaian Gaza di Sharm el-Sheikh, Mesir.

    (whn/rfs)