Tag: Benjamin Netanyahu

  • Israel Tunda Bebaskan 620 Tahanan Palestina, Netanyahu: Ini akibat Hamas Salah Kirim Jenazah Sandera – Halaman all

    Israel Tunda Bebaskan 620 Tahanan Palestina, Netanyahu: Ini akibat Hamas Salah Kirim Jenazah Sandera – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Israel memutuskan untuk menunda pembebasan 620 tahanan Palestina pada gelombang ke-7 pada Sabtu (22/2/2025).

    Pembebasan tersebut sebagai bagian dari tahap pertama perjanjian gencatan senjata yang disepakati dengan Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) yang berlaku mulai 19 Januari 2025.

    Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan penundaan ini terjadi karena Israel mengklaim Hamas melanggar perjanjian gencatan senjata.

    “Hamas sengaja merendahkan martabat para tahanan dan mengeksploitasi mereka untuk mencapai tujuan politik,” kata kantor Netanyahu dalam pernyataannya, Sabtu (22/2/2025).

    Kantor Netanyahu mengatakan keputusan untuk menunda pembebasan tahanan Palestina akan terus berlanjut hingga pembebasan tahanan dijamin tanpa apa yang digambarkannya sebagai dekrit yang memalukan.

    Sementara itu, Otoritas Urusan Tahanan Palestina dan Tahanan yang Dibebaskan mengonfirmasi Israel telah menunda pembebasan tahanan hingga pemberitahuan lebih lanjut.

    Seorang koresponden Axios mengutip seorang pejabat Israel yang mengatakan, “Penundaan pembebasan tahanan Palestina diputuskan setelah dua pertemuan keamanan yang diadakan oleh Netanyahu pada Sabtu malam.”

    Para pemimpin dinas keamanan merekomendasikan untuk tidak menunda pembebasan tahanan Palestina karena khawatir hal ini dapat mempengaruhi proses pengambilan empat jenazah sandera Israel yang masih ditahan di Jalur Gaza.

    “Pada akhir sesi pertama, kecenderungannya adalah membebaskan tahanan Palestina, tetapi keputusan berubah selama sesi kedua, yang hanya dihadiri oleh Netanyahu, Menteri Pertahanan Yisrael Katz , Menteri Luar Negeri Gideon Sa’ar , dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich,” kata pejabat Israel.

    Pembebasan Ditunda, Tahanan Palestina Dikembalikan ke Penjara Israel

    Media Israel mengutip sumber yang mengatakan para tahanan Palestina dinaikkan ke dalam bus dan kemudian dibawa pergi lagi dan dikembalikan ke penjara mereka.

    Sementara itu, Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan krunya menarik diri dari Rumah Sakit Hadassah di Yerusalem setelah pembatalan penyerahan tahanan yang terluka, Kazem Zawahra.

    Otoritas Penyiaran Israel mengatakan penundaan itu sebagai pembalasan Israel karena Hamas sebelumnya melakukan kesalahan ketika menyerahkan jenazah sandera Israel, Shiri Bibas, pada Kamis (20/2/2025), yang ternyata milik wanita Palestina.

    “Israel memutuskan untuk menunda pembebasan tahanan sebagai tanggapan atas pengiriman jenazah wanita Palestina oleh Hamas untuk menggantikan Shiri Bibas,” kata Otoritas Penyiaran Israel.

    Sementara itu, Hamas mengatakan kesalahan itu mungkin karena jenazah sandera Israel tumpang tindih dengan jenazah orang-orang Palestina yang terkena serangan Israel di kawasan penahanan sandera pada November tahun 2023.

    Pada Jumat (21/2/2025), Hamas telah menyerahkan jenazah Shiri Bibas, yang kemudian diidentifikasi oleh Lembaga Forensik Israel dan menyatakan jenazah tersebut benar milik Shiri Bibas.

    (Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

    Berita lain terkait Konflik Palestina vs Israel

  • Hamas Kecam Netanyahu Tunda Bebaskan Tahanan Palestina: Ganggu Perjanjian

    Hamas Kecam Netanyahu Tunda Bebaskan Tahanan Palestina: Ganggu Perjanjian

    Jakarta

    Hamas mengecam keputusan Israel yang menunda pembebasan tahanan Palestina. Hamas menyoroti alasan Israel yang menuding upacara penyerahan sandera adalah “memalukan”.

    Hamas mengatakan hal itu sebagai dalih untuk menghindari kewajiban Israel berdasarkan perjanjian gencatan senjata Gaza.

    “Keputusan Netanyahu mencerminkan upaya yang disengaja untuk mengganggu perjanjian, merupakan pelanggaran yang jelas terhadap ketentuannya, dan menunjukkan kurangnya keandalan pendudukan dalam melaksanakan kewajibannya,” kata anggota Hamas bidang politik, Ezzat El Rashq, dalam pernyataannya, dilansir Al Arabiya, Minggu (23/2/2025).

    Sementara itu dilansir Aljazeera, Hamas menilai upacara penyerahan tahanan bukanlah penghinaan terhadap para sandera yang dibebaskan. Justru menurutnya, upacara tersebut merupakan perlakuan manusiawi.

    “Upacara penyerahan tahanan tidak termasuk penghinaan terhadap mereka, tetapi justru mencerminkan perlakuan manusiawi yang mulia terhadap mereka”, kata Hamas, mengacu pada penyelenggaraan pembebasan tawanan.

    Hamas meminta mediator untuk campur tangan untuk mendesak Israel untuk mematuhi ketentuan kesepakatan.

    Sementara itu, keluarga tahanan Palestina mengaku kecewa dan marah dengan dibatalkannya pembebasan tahanan dari Israel.

    “Keluarga para tawanan perang berada dalam keadaan marah, sedih, dan dendam, dan para mediator harus melakukan bagian mereka saat mereka mulai menyelesaikannya sehingga keluarga para tawanan perang dapat bersukacita atas pembebasan tawanan perang mereka yang seharusnya dibebaskan hari ini,” kata salah satu warga, Bassam al-Khatib.

    “Anda telah menerima tawanan perang Anda, jadi mengapa menunda penyerahan tawanan perang Palestina kami? Ini adalah sesuatu yang menyakitkan hati, kurangnya komitmen dan mengabaikan semua standar dan hukum internasional, dan mengabaikan negara-negara yang mensponsori perjanjian ini,” tambahnya.

    Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menunda pembebasan tahanan Palestina berdasarkan kesepakatan gencatan senjata Gaza. Penundaan pembebasan tahanan itu akan dilakukan hingga Hamas mengakhiri ‘upacara yang dianggap memalukan’ saat menyerahkan sandera Israel.

    “Mengingat pelanggaran berulang Hamas –termasuk upacara memalukan yang tidak menghormati sandera kami dan penggunaan sandera secara sinis untuk propaganda– telah diputuskan untuk menunda pembebasan warga Palestina yang direncanakan kemarin (Sabtu) hingga pembebasan sandera berikutnya dipastikan, tanpa upacara yang memalukan”, kata kantor Netanyahu dalam sebuah pernyataan, dilansir AFP, Minggu (23/2/2025).

    Diketahui, sejak gencatan senjata berlaku pada 19 Januari, Hamas telah membebaskan 25 sandera Israel. Pembebasan sandera tersebut disiapkan dalam ‘upacara’, terlihat kelompok militan mengarak para tawanan di atas panggung, tawanan juga melambaikan tangan kepada warga Gaza yang berkumpul untuk menyaksikan acara tersebut. Para tawanan juga berbicara melalui mikrofon.

    Dalam upacara tersebut, para sandera juga diberikan sertifikat dalam bahasa Ibrani untuk menandai berakhirnya penahanan mereka sebelum diserahkan kepada petugas Palang Merah, yang selanjutnya diserahkan kepada pasukan Israel.

    Lihat juga Video: Israel Tunda Pembebasan Ratusan Tahanan Palestina

    (yld/gbr)

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • 2 Sandera Israel Syok Lihat Pembebasan 3 Rekannya: Netanyahu, Kami Juga Ingin Pulang – Halaman all

    2 Sandera Israel Syok Lihat Pembebasan 3 Rekannya: Netanyahu, Kami Juga Ingin Pulang – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Brigade Al-Qassam, sayap militer Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), menerbitkan video di balik layar pembebasan sandera Israel gelombang ke-7 yang berlangsung kemarin, Sabtu (22/2/2025).

    Video tersebut memperlihatkan dua sandera Israel yang seharusnya dibebaskan pada tahap kedua malah duduk di dalam mobil di tengah alun-alun saat Brigade Al-Qassam membebaskan rekan-rekannya.

    Kedua sandera, Itamar David dan Guy Gilboa Dalal, berada dalam keadaan syok dan mengirim surat kepada pemerintah dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk menuntut pembebasan mereka dengan segera.

    “Kami mohon agar kalian mengembalikan kami ke rumah kami… Netanyahu, kalian telah membunuh kami… Rekan-rekan kami yang bersama kami akan kembali setelah 500 hari. Wahai orang-orang Israel, kami mohon, kami ingin menjadi seperti mereka,” mengacu kepada para tahanan yang diserahkan, Sabtu (22/2/2025).

    Kedua sandera tersebut mengungkapkan keterkejutan mereka atas kejadian saat rekan-rekan mereka diserahkan, dan menuntut agar Netanyahu melanjutkan kesepakatan pertukaran sandera dengan cara apa pun.

    “Tekanan militer akan membunuh kita semua. Anda memulai kesepakatan, jadi teruskan saja,” kata salah satu sandera.

    Mereka juga meminta warga Israel untuk terus berdemonstrasi hingga sandera lainnya dibebaskan.

    “Tolong, kami ingin mencapai momen ini, kami ingin kembali ke rumah kami, tekanan militer bukanlah solusi.”

    Video tersebut memuat adegan dari proses serah terima, yang berlangsung di hadapan rakyat dan meliputi adegan perayaan dan parade militer perlawanan.

    Selain itu, Brigade Al-Qassam juga mengibarkan bendera Palestina berukuran besar di tiang tinggi serta memutar lagu kebangsaan Palestina.

    Klip tersebut berfokus pada frasa, “Tanah mengenal pemiliknya dari warga negara asing yang memiliki kewarganegaraan ganda.”

    6 Sandera Israel Dibebaskan secara Terpisah

    Video yang dirilis Brigade Al-Qassam pada Minggu (23/2/2025) memperlihatkan sejumlah pejuang dari Brigade Al-Qassam, yang bertugas melindungi tahanan, mengangkut tiga tahanan dengan mobil putih yang berlangsung pada Sabtu (22/2/2025).

    Mereka semua keluar dan berdiri di samping pohon zaitun yang telah ditebang oleh pendudukan Israel.

    Salah seorang sandera yang dibebaskan mengatakan pohon ini baginya tampak lebih besar dari negara Israel.

    Sementara sandera lain bertanya-tanya kejahatan apa yang telah dilakukan pohon ini sehingga ditebang, lalu mengatakan, “Tidak ada Hamas atau Al-Qassam di sini.”

    Salah satu sandera menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para pejuang Brigade Al-Qassam yang katanya peduli padanya, menyelamatkan hidupnya, dan melindunginya sebagaimana mestinya, seraya menekankan puluhan tawanan telah terbunuh selama perang tersebut.

    Sandera lain mengatakan semua orang bisa pulang sebelum kenyataan ini terjadi, yang menurutnya tidak seharusnya terjadi dan tidak ada alasan untuk itu terjadi sejak awal.

    Sandera itu, yang mencium kepala dua pejuang saat serah terima, menjelaskan leluhurnya datang dari Maroko dan Turki ke Palestina karena alasan yang tidak diketahuinya.

    “Setiap orang harus kembali ke tanah air mereka,” katanya.

    Kemarin, Sabtu, pihak perlawanan Palestina menyerahkan enam tahanan hidup yang seharusnya menjadi tahanan hidup terakhir yang akan diserahkan pada tahap pertama perjanjian gencatan senjata.

    Pembebasan dibagi menjadi tiga grup: dua sandera, tiga sandera, dan satu sandera secara terpisah.

    Sementara itu, Israel berkomitmen untuk membebaskan 602 tahanan Palestina sebagai imbalannya.

    (Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

    Berita lain terkait Konflik Palestina vs Israel

  • Israel Tunda Pembebasan Tahanan Palestina Usai Hamas Bebaskan 6 Sandera

    Israel Tunda Pembebasan Tahanan Palestina Usai Hamas Bebaskan 6 Sandera

    Jakarta

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menunda pembebasan tahanan Palestina berdasarkan kesepakatan gencatan senjata Gaza. Penundaan pembebasan tahanan itu akan dilakukan hingga Hamas mengakhiri ‘upacara yang dianggap memalukan’ saat menyerahkan sandera Israel.

    “Mengingat pelanggaran berulang Hamas –termasuk upacara memalukan yang tidak menghormati sandera kami dan penggunaan sandera secara sinis untuk propaganda– telah diputuskan untuk menunda pembebasan warga Palestina yang direncanakan kemarin (Sabtu) hingga pembebasan sandera berikutnya dipastikan, tanpa upacara yang memalukan”, kata kantor Netanyahu dalam sebuah pernyataan, dilansir AFP, Minggu (23/2/2025).

    Diketahui, sejak gencatan senjata berlaku pada 19 Januari, Hamas telah membebaskan 25 sandera Israel. Pembebasan sandera tersebut disiapkan dalam ‘upacara’, terlihat kelompok militan mengarak para tawanan di atas panggung, tawanan juga melambaikan tangan kepada warga Gaza yang berkumpul untuk menyaksikan acara tersebut. Para tawanan juga berbicara melalui mikrofon.

    Dalam upacara tersebut, para sandera juga diberikan sertifikat dalam bahasa Ibrani untuk menandai berakhirnya penahanan mereka sebelum diserahkan kepada petugas Palang Merah, yang selanjutnya diserahkan kepada pasukan Israel.

    Sebelumnya pada hari Kamis, militan telah menyerahkan jenazah tiga sandera dalam peti mati dengan sebuah ‘upacara’. Hal itu menuai kritik luas dari PBB.

    “Pengarakkan jenazah dengan cara yang terlihat pagi ini sangat menjijikkan dan kejam, serta bertentangan dengan hukum internasional,” kata kepala hak asasi manusia PBB Volker Turk.

    Sementara Hamas telah menolak seruan yang dilakukan berulang kali oleh Palang Merah untuk membebaskan para sandera secara tertutup.

    Sebelumnya pada Sabtu (22/2), Hamas juga telah membebaskan enam sandera Israel sebagai bagian dari pertukaran sandera-tahanan ketujuh yang dijadwalkan berdasarkan kesepakatan gencatan senjata tahap pertama.

    Sebagai imbalannya, Israel akan membebaskan lebih dari 600 tahanan Palestina.

    Akan tetapi, setelah para sandera Israel dibebaskan oleh Hamas, sumber-sumber Israel mengatakan bahwa Netanyahu diperkirakan akan memutuskan pembebasan tahanan Palestina.

    Lalu pada pagi ini, Netanyahu mengumumkan keputusannya untuk menangguhkan pembebasan tahanan Palestina hingga upacara penyerahan sandera dihentikan.

    (yld/gbr)

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • Netanyahu ke Tulkarm Perintahkan ‘Rata Tanah’, Israel Secara De Facto Kuasai 44,5 Persen Tepi Barat – Halaman all

    Netanyahu ke Tulkarm Perintahkan ‘Rata Tanah’, Israel Secara De Facto Kuasai 44,5 Persen Tepi Barat – Halaman all

    Netanyahu Datangi Tulkarm Perintahkan ‘Rata Tanah’, Israel Secara De Facto Kuasai 44,5 persen Tepi Barat

    TRIBUNNEWS.COM – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, Jumat (21/2/2025) dilaporkan mendatangi langsung Kamp Pengungsi Tulkarm di Utara Tepi Barat, The National melaporkan Sabtu (22/2/2025).

    Pada kesempatan itu, Netanyahu mengatakan Militer Israel (IDF) akan memperluas operasi militer besar-besaran di Tepi Barat yang diduduk.

    “Netanyahu, yang berpidato di Kamp Pengungsi Tulkarm yang hancur dan sebagian besar kosong di utara Tepi Barat yang diduduki, memberi perhatian khusus pada dugaan serangan teror “sangat serius” pada hari Kamis di mana tiga bus kosong meledak di pinggiran kota Tel Aviv,” kata laporan tersebut.

    Kunjungan Netanyahu dilakukan saat pasukan IDF melanjutkan operasi yang dijuluki “Tembok Besi” yang telah menggusur puluhan ribu warga Palestina dan menghancurkan sejumlah besar properti dan infrastruktur pribadi.

    Agresi besar-besaran ini memicu kekhawatiran bahwa Israel berusaha mengulangi perangnya di Gaza di Tepi Barat.

    Israel berdalih pihaknya meluncurkan operasi tersebut untuk memerangi ‘teror’.

    “Tahun lalu, kita telah meningkatkan aktivitas kita secara signifikan,” kata Netanyahu kepada pasukan IDF di lokasi kejadian. 

    Netanyahu juga mengindikasikan perintah ‘rata tanah’ bagi segala infrastruktur kota warga Palestina di Tepi Barat.

    “Kita memasuki benteng-benteng terorisme, menghancurkan seluruh jalan, dan melenyapkan teroris,” katanya.

    Empat kamp pengungsi di wilayah utara – Jenin , Tulkarm, Nur Shams, dan El Far’a – merupakan yang paling parah terkena dampak.

    Badan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA, mengatakan kamp Jenin “dilaporkan hampir sepenuhnya kosong dari penghuninya”.

    Badan tersebut juga melaporkan pasukan Israel menggunakan “persenjataan dan taktik militer yang semakin canggih”, sementara 17 serangan udara Israel tercatat antara tanggal 3 Februari hingga 9 Februari.

    Badan kemanusiaan PBB OCHA mengatakan 51 warga Palestina telah tewas dalam operasi tersebut hingga Kamis.

    Kementerian kesehatan Palestina mengumumkan kematian lainnya pada Jumat – seorang gadis berusia 13 tahun, Omar Amouri, yang terkena tembakan Israel di kamp Jenin.

    Komite Penyelamatan Internasional mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Kamis bahwa sedikitnya 224 anak telah tewas di Tepi Barat yang diduduki sejak Januari 2023.

    Pidato Netanyahu dari Tulkarem disampaikan tak lama setelah Menteri Pertahanan Israel Katz berkunjung untuk mengeluarkan peringatan serupa dan berjanji akan mengintensifkan operasi Israel.

    “Kami sedang berperang melawan teror Islam ekstremis dan kami akan menang, di sini, di Gaza, dan di mana pun,” kata Katz.

    Batalyon Tulkarm. (khaberni)

    Batalyon Tulkarm Brigade Qassam Kirim Pesan

    Batalyon Tulkarm Brigade Qassam mengeluarkan pesan kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setelah pasukannya menyerbu kamp Tulkarm pada hari Jumat.

    Komandan batalion tersebut memperingatkan bahwa upaya apa pun untuk menekan gerakan mereka pada akhirnya akan gagal.

    “Pesan kami kepada musuh, yang dipimpin oleh teroris Netanyahu, adalah bahwa semua upaya untuk menggagalkan proyek jihad akan gagal. Apa yang akan terjadi selanjutnya akan lebih buruk dan lebih pahit,” kata komandan Brigade Qassam – Batalyon Tulkarm, yang mengisyaratkan tekad mereka untuk melanjutkan operasi, dilansir RNTV. 

    Perdana Menteri Israel menyerbu kamp Tulkarm dan mengumumkan bahwa ia telah menginstruksikan peluncuran operasi militer tambahan di Tepi Barat. 

    Netanyahu menyatakan bahwa keputusan ini diambil sebagai respons terhadap serangkaian ledakan bus yang terjadi kemarin, Kamis, di seluruh Tel Aviv yang telah meningkatkan kekhawatiran keamanan.

    Pemukim Israel kembali ke pos terdepan Israel ilegal Homesh, setelah bentrokan antara pasukan keamanan Israel dan Palestina, memprotes kembalinya pemukim ke daerah tersebut, di desa Burqah Tepi Barat yang diduduki, pada 23 Desember 2021. (dok/AFP)

    Peta Tunjukkan Kendali de Facto Israel atas 44,5 persen Wilayah Tepi Barat

    Di tengah niat terang-terangan Israel menguasai Tepi Barat ini, Departemen Urusan Negosiasi Organisasi Pembebasan Palestina  pada Jumat, melansir sebuah peta yang menunjukkan bahwa 44,5 persen tanah Tepi Barat sekarang berada di bawah kendali Israel.

    Peta tersebut, yang disertakan dalam laporan yang diterbitkan oleh departemen tersebut, memberikan gambaran umum mengenai meningkatnya perluasan permukiman di Tepi Barat.

    “Peta tersebut memperlihatkan bahwa Israel membangun 5 permukiman baru pada tahun 2024 saja, di samping 50 pos permukiman baru,” tulis laporan Khaberni.

    Peta tersebut menunjukkan bahwa 44,5% wilayah Tepi Barat sekarang berada di bawah kendali Israel atau telah dianeksasi di balik tembok pemisah.

    Laporan tersebut juga menunjukkan kalau jumlah pemukim di Tepi Barat telah meningkat tiga kali lipat sejak 1995, mencapai sekitar 740.000 pada tahun 2024.

    Departemen itu memperingatkan dalam laporannya bahwa kebijakan Israel secara cepat dan tidak dapat diubah lagi menghilangkan solusi dua negara yang layak.

    Laporan badan itu menunjukkan kalau jika pembangunan dan perluasan permukiman di Tepi Barat berlanjut seperti biasa, permukiman tersebut dapat meluas hingga 5 kali ukurannya saat ini di tanah yang disita.

    Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menganggap permukiman di wilayah yang diduduki sebagai kegiatan ilegal, dan telah menyerukan selama puluhan tahun -secara sia-sia- agar hal itu dihentikan.

    PBB memperingatkan bahwa hal itu merusak peluang penyelesaian konflik sesuai dengan prinsip solusi dua negara.

    Sejak dimulainya perang pemusnahan di Jalur Gaza, Tel Aviv telah mempercepat dan memperluas laju pembangunan permukiman di Tepi Barat, dan pembicaraannya untuk mencaplok Tepi Barat ke Israel telah meningkat, dan penolakannya terhadap pembentukan negara Palestina yang merdeka telah meningkat.

    Pemerintah Benjamin Netanyahu menuntut agar Presiden AS Donald Trump mengakui kedaulatan Israel atas Tepi Barat, sesuatu yang terakhir dikatakan pada tanggal 4 Februari dan pemerintahannya akan segera mengeluarkan keputusan.

    Selama puluhan tahun, Israel telah menduduki tanah di Palestina, Suriah, dan Lebanon, dan menolak untuk menarik diri dari wilayah tersebut dan mendirikan negara Palestina yang merdeka – dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya – di perbatasan sebelum perang tahun 1967.

     

    (oln/thntnl/khbrn/*)

     
     

     

  • Kejanggalan Ledakan Misterius Bus di Tel Aviv: Rencana Palsu Israel untuk Menghancurkan Tepi Barat – Halaman all

    Kejanggalan Ledakan Misterius Bus di Tel Aviv: Rencana Palsu Israel untuk Menghancurkan Tepi Barat – Halaman all

    Kejanggalan Ledakan Misterius Bus-Bus di Tel Aviv: Rencana Palsu Israel untuk Menghancurkan Tepi Barat

    TRIBUNNEWS.COM – Pada Sabtu (22/2/2025), media Khabarni, memberikan ulasan seputar misteri yang masih menyelimuti rangkaian ledakan bus Israel yang terjadi pada Jumat malam di selatan Tel Aviv.

    Pada ulasannya tersebut, diungkap sejumlah kejanggalan yang terjadi, mengindikasikan kalau ledakan-ledakan itu cuma sandiwara, rencana palsu Israel sebagai pembenaran untuk mengintensifkan apa yang disebut sebagai Gaza-fikasi Tepi Barat,

    “Permainan “Insiden Pengeboman” dimulai pada malam tanggal 20 Februari dengan meledaknya lima bus kosong yang diparkir di sebuah alun-alun dekat kota Beit Yam, sebelah selatan Tel Aviv,” tulis ulasan Khaberni, dikutip Sabtu.

    Empat di antaranya meledak dan alat peledak lainnya berhasil dijinakkan.

    “Dugaan insiden peledakan itu diikuti oleh narasi surealis dari polisi Israel yang memunculkan plot yang lemah dan tidak logis,” kata ulasan tersebut.

    Klaim Israel adalah bahwa bom seberat 5 kg ditanam di bus-bus dan dipersiapkan untuk meledak di lain waktu.

    Pihak Israel menyebut, kesalahan pada jam pengatur waktu menyebabkannya meledak sebelum waktu yang dijadwalkan.

    “Tuduhan itu terus berlanjut hingga penonton mendapati dirinya, hingga detik ini, di depan sebuah film Bollywood dengan skenario dan arahan yang lebih dekat dengan fantasi,” tulis ulasan itu merujuk pada sejumlah kejanggalan klaim Israel. 

    Satu di antara kejanggalan, kata ulasan itu, misalnya, lokasi ledakan adalah depot bus.

    “Jika kita berasumsi bahwa lokasi ledakan itu nyata, lalu bagaimana cara masuknya, padahal tempat-tempat seperti itu biasanya dijaga ketat? Bom tersebut juga meledak secara tidak sengaja, tidak menimbulkan kerusakan atau korban luka,” kata ulasan Khaberni menggambarkan kejanggalan dari narasi Israel.

    Patut dicatat juga bahwa tak lama setelah insiden tersebut, diumumkan bahwa tiga orang telah ditangkap, termasuk dua orang Yahudi.

    Pengumuman dari Israel itu juga menyertakan identifikasi pihak yang bertanggung jawab atas peledakan tersebut, yaitu “Gerakan Hamas, khususnya di kamp Tulkarm” serta “Iran, yang menyediakan senjata dan uang, berada di belakang operasi tersebut.”

    Dari apa yang dituduhkan dengan apa yang dinyatakan penangkapan komplotan pelaku, menunjukkan kontradiksi, kata ulasan tersebut.

    TERBAKAR – Tangkap layar Ynet, Jumat (21/2/2025) menunjukkan bus yang terbakar dari ledakan bom yang meledak di depot Bat Yam, Tel Aviv Selatan. Ibu kota Israel tersebut diguncang tiga ledakan hebat yang membakar bus-bus. Tak ada korban jiwa dilaporkan atas insiden ini. (Ynet/Tangkap Layar)

    Bukan Cara-cara Hamas

    Sedikit lebih jauh dalam narasi yang dibangun Israel pada insiden tersebut sebagaimana dinyatakan dalam pernyataan polisi Israel adalah kalau alat peledak ditanam di dalam bus-bus.

    “Ini bukan merupakan metode Hamas, yang di masa lalu memilih melakukan operasi bunuh diri di dalam bus-bus yang digunakan pemukim Yahudi Israel saat alat transportasi itu sedang beroperasi,” kata ualasan tersebut.

    Yang juga mengejutkan, lanjut ulasan itu adalah kalau Hamas dituding sebagai dalang operasi peledakan ini sementara perhatian utama gerakan perlawanan Palestina itu saat ini adalah menjaga gencatan senjata yang rapuh di Gaza.

    Ulasan itu juga menyoroti narasi Israel yang mengatakan ditemukan tulisan berbahasa Arab dalam bom-bom yang tidak meledak pada sejumlah bus yang akan diledakkan.

    Argumen di ulasan tersebut yang menggambarkan kalau Israel bisa jadi pihak yang menuliskan bahasa arab dalam bom yang tidak meledak.

    “Sudah diketahui umum bahwa banyak perwira intelijen Israel berbicara bahasa Arab, beberapa dari mereka sangat fasih.  Namun ada permasalahan dalam bahasa Arab yang terkadang menyulitkan penuturnya. Misalnya, perbedaan antara huruf seen dan sad dalam bahasa Arab, sama halnya dengan perbedaan antara “saus” dan “suus”, yang pertama adalah seekor ayam muda dan yang kedua adalah minuman yang menyegarkan, khususnya di musim panas,” tulis ulasan itu.

    TERBAKAR – Sebuah bus terbakar setelah ledakan di tempat parkir di Bat Yam, Tel Aviv, 20 Februari 2025. Seorang tersangka peledakan bus Tel Aviv dilaporkan merupakan seorang Yahudi Israel. (timesofisrael)

    Alasan Buat Penghancuran Tepi Barat

    Khaberni dalam ulasan tersebut menggambarkan, kejanggalan-kejanggalan ini menuntun pada indikasi kalau peledakan bus-bus tersebut hanya drama demi memberikan alasan untuk lebih banyak penghancuran dan pembunuhan di Tepi Barat. 

    Israel memang tengah menjalankan agresi militer bertajuk ‘Operasi Tembok Besi’ yang kini sudah memasuki bulan kedua di Jenin, Tulkarm, dan meluas ke wilayah lain Tepi Barat.

    “Dan itulah yang sebenarnya terjadi. Kepemimpinan politik di Tel Aviv segera memutuskan untuk melancarkan operasi skala besar di Tepi Barat, terutama kamp-kamp pengungsi di utara Tepi Barat,” kata argumen tersebut.

    Terlebih, ulasan itu menambahkan, komentar dari Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, mengindikasikan kalau Israel memang sudah merencanakan ‘Gazafikasi” Tepi Barat.

    “Mungkin apa yang dibicarakan oleh menteri ekstremis Smotrich beberapa hari yang lalu ketika dia mengatakan untuk pertama kalinya bahwa kami akan menghancurkan lebih banyak rumah daripada yang mereka bangun, merujuk pada warga Palestina, adalah bagian dari rencana yang telah disiapkan sebelumnya,” kata ulasan tersebut.

    “Operasi ini, yang oleh banyak orang digambarkan sebagai rekayasa dan sandiwara, tidak mungkin terjadi kecuali mendapat perhatian dari penguasa dunia, Donald Trump, yang bertindak konyol atas nasib jutaan orang, dan memberikan keleluasaan kepada sekelompok penjahat di pemerintahan Israel untuk terus melakukan tragedi paling keji di abad ini. Holocaust Palestina disaksikan dan didengar oleh seluruh dunia yang mengaku beradab dan bebas,” tambah ulasan tersebut.

    Pertunjukan Netanyahu

    Penyelidikan awal oleh polisi Israel dan Shin Bet menunjukkan kalau bom yang ditemukan di Holon, yang tidak meledak, beratnya sekitar 5 kilogram, dan tertulis di atasnya dalam bahasa Arab: “Balas dendam untuk Tulkarm.”

    “Alasan ini yang mendorong Netanyahu dan Menteri Pertahanannya untuk melompat ke sana dan berfoto dengan para tentara dari dalam rumah Palestina setelah menggusur penghuninya, mengancam kamp-kamp Tepi Barat dengan pembunuhan dan penghancuran,” kata ulasan tersebut.

    Menanggapi penyerbuan Netanyahu terhadap Tulkarm, Otoritas Palestina menuduh Perdana Menteri Israel berusaha melanjutkan rencananya terhadap Palestina melalui pengusiran dan pembunuhan.

    Sementara Hamas mengatakan bahwa acara itu adalah “sebuah pertunjukan yang mencerminkan kebangkrutannya dan kegagalan politik dan militernya.”

    Ditambahkannya, “Ini adalah Netanyahu yang sama yang pernah menentang Netzarim dan Philadelphia di Jalur Gaza tetapi melarikan diri dari mereka.”

    “Sebagai pengingat, tentara pendudukan Israel telah melanjutkan agresinya di Tepi Barat utara selama beberapa minggu sebagai bagian dari Operasi “Tembok Besi”, yang menewaskan, mengusir, dan menangkap ratusan orang Palestina,” tulis ulasan tersebut.

     

    (oln/khbrn/*)

     
     
     
     

  • Hamas Rilis Pernyataan Tak Lazim dalam Bahasa Ibrani: Zionis Punya 2 Opsi, 1 IDF Keturunan Palestina – Halaman all

    Hamas Rilis Pernyataan Tak Lazim dalam Bahasa Ibrani: Zionis Punya 2 Opsi, 1 IDF Keturunan Palestina – Halaman all

    Hamas Rilis Pernyataan Tak Biasa dalam Bahasa Ibrani: Zionis Israel Punya Dua Pilihan, 1 IDF Keturunan Palestina

    TRIBUNNEWS.COM – Gerakan Pembebasan Palestina, Hamas, Sabtu (22/2/2025) dilaporkan menerbitkan pernyataan yang tidak biasa di situs web resminya dan melalui saluran Telegramnya.

    Laporan RNTV menyatakan pernyataan Hamas ini tidak biasa karena dilansir dalam bahasa Ibrani yang kerap digunakan pasukan Israel (IDF) dalam pernyataan resmi di berbagai platform.

    “Perlawanan Palestina di Gaza sekali lagi menunjukkan komitmennya terhadap perjanjian tersebut dengan memfasilitasi pertukaran enam tahanan pendudukan hari ini, sementara pendudukan Israel terus menunda pelaksanaan kewajibannya [terhadap gencatan senjata],” kata pernyataan itu, dikutip dari RNTV, Sabtu.

    “Zionis (Israel) kini dihadapkan pada dua pilihan,” Hamas menambahkan.

    “Entah mereka menerima tawanannya dalam peti mati, seperti yang disaksikan Kamis lalu akibat arogansi penjahat Netanyahu.”

    “Atau mereka menerimanya hidup-hidup dengan mematuhi persyaratan perlawanan.”

    Hamas juga memperingatkan Israel tentang segala upaya untuk menghindari ketentuan perjanjian dan mengatakan satu-satunya cara bagi para tawanan untuk kembali ke keluarga mereka adalah melalui “negosiasi dan komitmen tulus terhadap ketentuan perjanjian gencatan senjata.”

    “Upaya putus asa Netanyahu untuk lolos dari kekalahan tentaranya di Gaza dengan melakukan pembantaian di Tepi Barat tidak akan mematahkan tekad rakyat kami atau perlawanan mereka.”

    “Perlakuan kami terhadap tahanan didasarkan pada ajaran agama dan nilai-nilai kemanusiaan, sementara tahanan kami di penjara pendudukan mengalami penyiksaan dan penindasan,” simpul pernyataan itu.

    CIUM KENING – Omer Shem Tov, salah satu dari tiga sandera Israel yang dibebaskan mencium dahi seorang pejuang Hamas di panggung di Nuseirat, Gaza Tengah, Sabtu (22/2/2025). Pada putaran ketujuh pertukaran sandera-tahanan, Hamas membebaskan 6 sandera Israel yang akan ditukar dengan pembebasan 602 tahanan Palestina dari penjara Israel. (Foto: Tangkapan layar)

    Pembebasan Satu Sandera Israel Tanpa Seremoni

    Seperti diberitakan, Hamas kembali melanjutkan kesepakatan pembebasan sandera dengan menyerahkan enam tawanan Israel hari ini, Sabtu (22/2/2025).

    Nama-nama tawanan Israel yang dibebaskan adalah sebagai berikut:

    Eliya Cohen

    Omer Shem Tov

    Omer Wenkert

    Tal Shoham

    Avera Mengistu

    Hisham Al-Sayed

    Tal Shoham dan Avera Mengistu dibebaskan lebih dulu dalam prosesi yang dilakukan di Rafah, Gaza Selatan.

    Sementara Eliya Cohen, Omer Shem Tov, Omer Wenkert dibebaskan di lokasi lain di Nuseirat, Gaza Tengah.

    Pun, Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas, telah memutuskan untuk membebaskan tawanan Israel Hisham al-Sayed di Gaza tanpa upacara resmi, menurut sumber yang dikutip oleh Al Jazeera.

    KETURUNAN PALESTINA – Hisham al-Sayed, warga Israel keturunan Palestina yang ditawan Hamas selama 10 tahun di Gaza. Hisham al-Sayed dilaporkan pernah masuk menjadi personel militer Israel (IDF).

    Alasan di Balik Keputusan

    Sumber-sumber di dalam Brigade Qassam mengungkapkan bahwa keputusan itu dibuat karena rasa hormat terhadap warga Palestina di Pendudukan Israel.

    Rupanya, Hisham al-Sayed merupakan keturunan Palestina yang menjadi warga Israel dan sempat masuk menjadi personel militer Israel (IDF).

    Hamas menekankan kalau perekrutan warga Palestina dari dalam Pendudukan Israel ke dalam jajaran militer Israel secara luas ditolak oleh semua warga Palestina.

    Brigade tersebut menambahkan bahwa Israel meninggalkan al-Sayed selama 10 tahun karena asal-usul Palestinanya, meskipun pernah bertugas di ketentaraan Israel.

    Pembebasan ini terjadi di tengah perjanjian pertukaran tahanan yang sedang berlangsung antara Hamas dan Pendudukan Israel, yang telah menyaksikan pembebasan tahanan di kedua belah pihak.

    Pertukaran ini digelar setelah sempat ada masalah seputar pengembalian jenazah yang salah diidentifikasi pekan ini dari Hamas ke Israel.

    Buntut masalah ini, agenda pertukaran sandera sempat terancam gagal, mengancam gencatan senjata yang rapuh di Gaza.

    Namun, setelah kesalahpahaman tersebut rampung, Israel dan Hamas sepakat melanjutkan pertukaran sandera  di Gaza hari ini.

    Enam sandera yang akan dibebaskan di antaranya ada Eliya Cohen (27 tahun), Tal Shoham, (40 tahun), Omer Shem Tov (22 tahun), dan Omer Wenkert, (23 tahun). Mereka ditangkap Hamas selama serangan ke Israel pada 7 Oktober 2023.

    Sementara dua lainnya, Hisham Al-Sayed (36 tahun) dan Avera Mengistu (39 tahun) ditahan Hamas sejak mereka memasuki Gaza secara terpisah dalam keadaan yang tidak dapat dijelaskan sekitar satu dekade lalu.

    Adapun keenam sandera Israel yang dibebaskan Hamas merupakan kelompok terakhir yang masih hidup dari 33 orang yang disepakati akan dibebaskan di gencatan senjata tahap pertama.

    Mengutip BBC International, para sandera diperkirakan akan diserahkan sekitar pukul 08.30 pagi (06.30 GMT).

    Hingga kini Hamas belum menjelaskan secara detail di mana pertukaran sandera akan digelar.

    Meski begitu kemungkinan serah terima akan dilakukan di Khan Younis, Gaza selatan.

    Israel Bebaskan 602 Tahanan Palestina

    Sebagai imbalannya, Israel mengumumkan bahwa pihaknya akan membebaskan 602 tahanan Palestina dalam tahap terakhir pertukaran yang telah berlangsung sejak 19 Januari.

    Di antara mereka yang dibebaskan, 445 adalah warga Palestina dari Gaza yang diculik militer Israel setelah serangan Hamas pada 7 Oktober.

    Sebanyak 60 orang lainnya tengah menjalani masa hukuman penjara yang panjang, 50 napi menjalani hukuman penjara seumur hidup, dan 47 orang yang ditangkap kembali setelah pertukaran tahanan tahun 2011.

    Hal itu diungkap langsung oleh juru bicara kelompok advokasi Klub Tahanan Palestina, Amani Sarahneh sebagaimana dilansir Al Arabiya, Sabtu (22/2/2025).

    Namun sebagai catatan, dalam pembebasan kali ini nantinya 108 tahanan yang akan dideportasi ke luar Israel dan wilayah Palestina.

    Negosiasi Tahap Kedua Gencatan Senjata Dimulai

    Kendati kesepakatan gencatan senjata tahap pertama belum rampung digelar, namun Israel kabarnya telah memulai negosiasi tidak langsung dengan kelompok militan Palestina Hamas mengenai fase kedua perjanjian gencatan senjata di Gaza pekan ini.

    “Itu akan terjadi minggu ini,” kata Gideon Sa’ar Menteri Luar Negeri Israel, Rabu (19/2/2025).

    Perundingan untuk tahap kedua kesepakatan itu seharusnya dimulai pada 2 Februari.

    Namun, Qatar yang bersama Mesir dan Amerika Serikat menjadi penengah antara kedua pihak, mengatakan perundingan tersebut belum dilakukan secara resmi.

    Pada negosiasi tahap dua akan dibahas pengembalian sisa sandera berjumlah 64.

    Dalam perundingan kali ini, Israel dan Hamas kabarnya bakal membahas beberapa isu-isu seperti pemerintahan di Gaza pasca perang.

    Hal tersebut, turut dikonfirmasi seorang pejabat Israel yang mengatakan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menunjuk orang kepercayaannya untuk memimpin negosiasi tahap kedua gencatan senjata dengan Hamas.

    Orang kepercayaan Benjamin Netanyahu itu merupakan Ron Dermer yang lahir di Amerika Serikat (AS).

    Namun, kantor berita Reuters memprediksi bahwa negosiasi tahap kedua akan berlangsung alot.

    Sebab, masalah siapa yang memerintah di Gaza pasca-perang bakal ditentukan dalam perundingan kali ini.

     

    (oln/rntv/*)

  • Donald Trump Kaget Mesir dan Yordania Berani Menolak Usulan AS: Gaza Tak Bisa Dihuni – Halaman all

    Donald Trump Kaget Mesir dan Yordania Berani Menolak Usulan AS: Gaza Tak Bisa Dihuni – Halaman all

    Donald Trump Kaget Mesir dan Yordania Berani Menolak Usulannya: Gaza Tak Bisa Dihuni!

    TRIBUNNEWS.COM – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengatakan dia terkejut pada kurangnya sambutan dari Yordania dan Mesir terhadap rencananya untuk membangun kembali Jalur Gaza.

    Dalam pernyataannya tersebut, Donald Trump juga menyindir penolakan Mesir dan Yordania atas niatan ini terjadi meski AS sudah memberi dua negara tersebut miliaran dolar setiap tahun.

    Trump menambahkan dalam pernyataannya pada Jumat (21/2/2025), “Rencana saya terkait Gaza bagus, tetapi saya tidak memaksakannya dan saya cukup merekomendasikannya.”

    Ia melanjutkan, “Saya terkejut bahwa Jalur Gaza berada di lokasi yang indah, dan saya bertanya-tanya mengapa Israel meninggalkannya.”

    Trump menambahkan, “Gaza saat ini tidak dapat dihuni, dan jika penduduknya diberi pilihan, mereka akan pergi.”

    Dia melanjutkan, “Amerika Serikat akan memiliki Gaza sesuai rencana saya, tidak akan ada Hamas, dan kami akan mulai mengembangkannya.”

    Mengenai kesepakatan pertukaran tahanan antara Hamas dan Israel, Trump berkata: 

    “Adegan-adegan ini tidak dapat dipercaya dan sangat brutal, dan tidak terbayangkan bahwa ini akan terjadi di era modern.”

    Ia melanjutkan, “Sejumlah sandera Israel yang dibebaskan berada dalam kondisi yang sangat buruk dan tampak seperti mereka telah meninggalkan bekas kamp konsentrasi di Jerman”.

    Ia menambahkan: “Hamas berusaha membebaskan para sandera Israel yang kondisinya baik terlebih dahulu.”

    Trump berkata kalau jajak pendapat menunjukkan kalau usulannya sangat populer diterima.

    KEMBALI PULANG – Ratusan ribu warga Gaza yang terusir dan mengungsi karena agresi militer Israel, kembali ke rumah-rumah mereka ke wilayah Gaza Utara, Senin (27/1/2025). (RNTV/TangkapLayar)

    Israel Sebar Pamflet Pengusiran Paksa

    Terkait usalan reokasi paksa warga Gaza, Israel menyebarkan selebaran di Jalur Gaza yang merupakan ancaman bagi warga Palestina agar menyetujui usulan Presiden AS Donald Trump yaitu pemidahan paksa.

    Tentunya apa yang dilakukan Israel ini menjadi ancaman dan merupakan taktik perang psikologis.

    Dalam selebaran yang disebarkan baru-baru ini, terlihat foto Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

    Dalam pesan tersebut, Israel mengatakan bahwa memberikan kesempatan terakhir sebelum warga Gaza dipindah paksa.

    “Kepada warga Gaza, setelah peristiwa yang terjadi, gencatan senjata sementara, dan sebelum pelaksanaan rencana wajib Trump—yang akan memaksa Anda mengungsi, suka atau tidak suka—kami memberikan satu kesempatan terakhir bagi mereka yang ingin menerima bantuan dengan syarat bekerja sama dengan kami,” tulis pesan tersebut, dikutip dari The New Arab.

    Israel juga mengancam bahwa keberadaan Gaza tidak lagi diakui oleh peta dunia.

    “Peta dunia tidak akan berubah jika semua orang Gaza lenyap. Tidak ada yang akan peduli, tidak ada yang akan bertanya tentang Anda. Anda telah ditinggalkan untuk menghadapi takdir yang tak terelakkan. Iran bahkan tidak bisa melindungi dirinya sendiri, apalagi melindungi Anda, dan Anda telah melihat sendiri akibatnya.”

    Tidak hanya itu, Israel juga mengklaim bahwa nantinya Palestina tidak lagi mendapat dukungan Internasional, termasuk negara-negara Arab.

    Israel juga mengklaim bahwa nantinya mereka yang pernah mendukung Palestina akan beralih ke Israel.

    “Amerika dan Eropa tidak peduli dengan Gaza. Bahkan negara-negara Arab, yang kini menjadi sekutu kami, memberi kami uang dan senjata, sementara hanya mengirimkan kain kafan untuk Anda.”

    Menurut Israel, saat ini pihaknya memberikan kesempatan bagi warga Palestina untuk menyelamatkan diri.

    “Waktu yang tersisa semakin menipis, permainan hampir berakhir. Jika Anda ingin menyelamatkan diri sebelum terlambat, kami di sini, bertahan hingga akhir.”

    Selebaran ini sejalan dengan usulan Trump untuk “mengambil alih” Gaza dan memindahkan warga Palestina ke negara lain di Timur Tengah, sebuah ide yang telah menuai penolakan keras dari Palestina, Mesir, dan Yordania.

    Trump, dalam beberapa pernyataannya, menyebutkan bahwa pemindahan permanen warga Palestina dari Gaza ke negara-negara seperti Mesir dan Yordania akan menciptakan apa yang ia sebut ‘Riviera Timur Tengah’.

    PAMFLET ISRAEL – Tangkapan layar X/Twitter @tamerqdh yang diambil pada Sabtu (22/2/2025). Foto ini menunjukkan Israel menyebar pamflet di Gaza yang merupakan ancaman pemindahan paksa warga Palestina.

    Meski demikian, gagasan ini tidak mendapat sambutan positif dari negara-negara yang terlibat, yang menolak keras rencana tersebut.

    Mesir dan Yordania menegaskan bahwa mereka tidak bersedia menerima pemukiman warga Palestina dari Gaza.

    Namun, rencana Trump ini mendapat kecaman luas, baik dari negara-negara Arab maupun dari komunitas internasional. 

    Banyak yang khawatir bahwa kebijakan ini akan semakin meningkatkan ketegangan di kawasan yang sudah sangat sensitif ini.

    Banyak pihak di AS dan luar negeri yang menilai bahwa langkah tersebut berisiko memperburuk kondisi politik dan keamanan di Timur Tengah.

    Sementara itu, ini bukan pertama kalinya Israel menjatuhkan selebaran di Gaza.

    Sejak memutus akses komunikasi, Israel sering kali menjatuhkan selebaran di Gaza.

    Dalam beberapa bulan terakhir, isi pesan mereka menjadi semakin agresif.

    Sebelumnya, selebaran menggambarkan keluarga Palestina di tengah reruntuhan dengan nada mengejek “kemenangan perlawanan.”

    Namun, ancaman dalam selebaran terbaru telah memicu kemarahan global yang lebih besar karena menyiratkan genosida dan pemindahan paksa sebagai strategi yang terang-terangan dijalankan oleh Israel.

     

    (oln/khbrn/farrah/tribunnews/)

     

  • Kesepakatan Baru Digelar Hari Ini, Enam Tawanan Israel Ditukar 602 Tahanan Palestina – Halaman all

    Kesepakatan Baru Digelar Hari Ini, Enam Tawanan Israel Ditukar 602 Tahanan Palestina – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Pertukaran sandera yang melibatkan kelompok pejuang Palestina Hamas dan pemerintah Israel kembali dilanjutkan pada Sabtu, 22 Februari 2025.

    Dalam proses ini, enam tawanan Israel akan dibebaskan sebagai bagian dari kesepakatan yang lebih besar untuk memulangkan tahanan Palestina.

    Mengapa Pertukaran Sandera Ini Penting?

    Kesepakatan ini terjadi setelah sempat terjadinya masalah mengenai pengembalian jenazah yang salah diidentifikasi sebelumnya.

    Peristiwa tersebut menimbulkan ancaman bagi gencatan senjata yang rapuh antara kedua belah pihak.

    Namun, setelah kesalahpahaman itu diselesaikan, Israel dan Hamas sepakat untuk melanjutkan proses pertukaran sandera yang direncanakan di Gaza.

    Siapa Saja Tawanan yang Diberikan Kebebasan?

    Enam tawanan Israel yang akan dibebaskan terdiri dari:

    Mereka ditangkap oleh Hamas dalam serangan yang terjadi pada 7 Oktober 2023, sedangkan Hisham dan Avera telah ditahan sejak mereka memasuki Gaza secara terpisah sekitar satu dekade lalu.

    Mengutip BBC International, proses serah terima diperkirakan akan berlangsung sekitar pukul 08:30 pagi waktu setempat.

    Meskipun hingga kini Hamas belum memberikan rincian tempat pertukaran, kemungkinan besar acara tersebut akan dilaksanakan di Khan Younis, Gaza selatan.

    Apa yang Diperoleh Israel dalam Pertukaran Ini?

    Sebagai imbalan atas pembebasan keenam sandera tersebut, Israel mengumumkan bahwa mereka akan melepaskan 602 tahanan Palestina.

    Jumlah ini merupakan bagian dari tahap akhir dari pertukaran yang dimulai sejak 19 Januari lalu.

    Dari 602 tahanan yang dibebaskan, 445 di antaranya adalah warga Palestina yang ditangkap oleh militer Israel setelah serangan yang dilakukan oleh Hamas pada 7 Oktober 2023.

    Juru bicara Klub Tahanan Palestina, Amani Sarahneh, menyatakan bahwa sekitar 60 orang dari mereka sedang menjalani hukuman penjara yang panjang, termasuk 50 napi yang sedang menjalani hukuman seumur hidup.

    Sebanyak 108 tahanan juga akan dideportasi ke luar Israel dan wilayah Palestina.

    Bagaimana Proses Negosiasi Tahap Kedua Berjalan?

    Meskipun kesepakatan gencatan senjata tahap pertama belum sepenuhnya terlaksana, Israel dilaporkan telah memulai negosiasi tidak langsung dengan Hamas untuk fase kedua dari perjanjian gencatan senjata.

    Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, mengatakan bahwa negosiasi tersebut diharapkan dapat dimulai pada 2 Februari mendatang.

    Qatar, bersama Mesir dan Amerika Serikat, berperan sebagai penengah dalam negosiasi ini.

    Pada tahap kedua, akan dibahas mengenai pengembalian sisa sandera yang masih tersisa, yang berjumlah 64 orang.

    Selain itu, isu-isu tentang pemerintahan di Gaza pasca-perang juga akan menjadi agenda dalam perundingan tersebut.

    Pejabat Israel menegaskan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menunjuk Ron Dermer sebagai orang kepercayaannya untuk memimpin negosiasi ini.

    Meski demikian, kantor berita Reuters memprediksi bahwa negosiasi tersebut akan menghadapi banyak tantangan, terutama terkait siapa yang akan memerintah di Gaza setelah konflik berakhir.

    Dengan semua informasi ini, proses pertukaran sandera ini tidak hanya penting untuk kedua belah pihak, tetapi juga bisa menjadi langkah awal menuju perdamaian yang lebih permanen di wilayah yang telah lama dilanda konflik.

    Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).

  • Pertukaran Sandera Berlanjut Hari Ini, Enam Tawanan Israel Ditukar 602 Tahanan Palestina – Halaman all

    Pertukaran Sandera Berlanjut Hari Ini, Enam Tawanan Israel Ditukar 602 Tahanan Palestina – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Kelompok pejuang Palestina Hamas kembali melanjutkan kesepakatan pembebasan sandera dengan menyerahkan enam tawanan Israel hari ini, Sabtu (22/2/2025).

    Pertukaran ini digelar setelah sempat ada masalah seputar pengembalian jenazah yang salah diidentifikasi pekan ini dari Hamas ke Israel.

    Buntut masalah ini, agenda pertukaran sandera sempat terancam gagal, mengancam gencatan senjata yang rapuh di Gaza.

    Namun, setelah kesalahpahaman tersebut rampung, Israel dan Hamas sepakat melanjutkan pertukaran sandera  di Gaza hari ini.

    Enam sandera yang akan dibebaskan di antaranya ada Eliya Cohen (27 tahun), Tal Shoham, (40 tahun), Omer Shem Tov (22 tahun), dan Omer Wenkert, (23 tahun). Mereka ditangkap Hamas selama serangan ke Israel pada 7 Oktober 2023.

    Sementara dua lainnya, Hisham Al-Sayed (36 tahun) dan Avera Mengistu (39 tahun) ditahan Hamas sejak mereka memasuki Gaza secara terpisah dalam keadaan yang tidak dapat dijelaskan sekitar satu dekade lalu.

    Adapun keenam sandera Israel yang dibebaskan Hamas merupakan kelompok terakhir yang masih hidup dari 33 orang yang disepakati akan dibebaskan di gencatan senjata tahap pertama.

    Mengutip BBC International, para sandera diperkirakan akan diserahkan sekitar pukul 08.30 pagi (06.30 GMT).

    Hingga kini Hamas belum menjelaskan secara detail di mana pertukaran sandera akan digelar.

    Meski begitu kemungkinan serah terima akan dilakukan di Khan Younis, Gaza selatan.

    Israel Bebaskan 602 Tahanan Palestina

    Sebagai imbalannya, Israel mengumumkan bahwa pihaknya akan membebaskan 602 tahanan Palestina dalam tahap terakhir pertukaran yang telah berlangsung sejak 19 Januari.

    Di antara mereka yang dibebaskan, 445 adalah warga Palestina dari Gaza yang diculik militer Israel setelah serangan Hamas pada 7 Oktober.

    Sebanyak 60 orang lainnya tengah menjalani masa hukuman penjara yang panjang, 50 napi menjalani hukuman penjara seumur hidup, dan 47 orang yang ditangkap kembali setelah pertukaran tahanan tahun 2011.

    Hal itu diungkap langsung oleh juru bicara kelompok advokasi Klub Tahanan Palestina, Amani Sarahneh sebagaimana dilansir Al Arabiya, Sabtu (22/2/2025).

    Namun sebagai catatan, dalam pembebasan kali ini nantinya 108 tahanan yang akan dideportasi ke luar Israel dan wilayah Palestina.

    Negosiasi Tahap Kedua Gencatan Senjata Dimulai

    Kendati kesepakatan gencatan senjata tahap pertama belum rampung digelar, namun Israel kabarnya telah memulai negosiasi tidak langsung dengan kelompok militan Palestina Hamas mengenai fase kedua perjanjian gencatan senjata di Gaza pekan ini.

    “Itu akan terjadi minggu ini,” kata Gideon Sa’ar Menteri Luar Negeri Israel, Rabu (19/2/2025).

    Perundingan untuk tahap kedua kesepakatan itu seharusnya dimulai pada 2 Februari.

    Namun, Qatar yang bersama Mesir dan Amerika Serikat menjadi penengah antara kedua pihak, mengatakan perundingan tersebut belum dilakukan secara resmi.

    Pada negosiasi tahap dua akan dibahas pengembalian sisa sandera berjumlah 64.

    Dalam perundingan kali ini, Israel dan Hamas kabarnya bakal membahas beberapa isu-isu seperti pemerintahan di Gaza pasca perang.

    Hal tersebut, turut dikonfirmasi seorang pejabat Israel yang mengatakan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menunjuk orang kepercayaannya untuk memimpin negosiasi tahap kedua gencatan senjata dengan Hamas.

    Orang kepercayaan Benjamin Netanyahu itu merupakan Ron Dermer yang lahir di Amerika Serikat (AS).

    Namun, kantor berita Reuters memprediksi bahwa negosiasi tahap kedua akan berlangsung alot.

    Sebab, masalah siapa yang memerintah di Gaza pasca-perang bakal ditentukan dalam perundingan kali ini.

    (Tribunnews.com/Namira)