Tag: Benjamin Netanyahu

  • Benjamin Netanyahu Tunda Pembebasan 600 Warga Palestina dari Penjara Israel, Meski ada Rekomendasi – Halaman all

    Benjamin Netanyahu Tunda Pembebasan 600 Warga Palestina dari Penjara Israel, Meski ada Rekomendasi – Halaman all

    Benjamin Netanyahu Tunda Pembebasan 600 Warga Palestina

    TRIBUNNEWS.COM- Hamas menekankan bahwa pihaknya tidak akan terlibat dalam negosiasi lebih lanjut dengan “Israel” kecuali 600 tahanan Palestina, yang pembebasannya ditunda oleh Netanyahu pada hari Sabtu, dibebaskan.

    Utusan Gedung Putih Steve Witkoff akan mengunjungi Timur Tengah pada hari Rabu untuk berdiskusi dengan pejabat Israel, Qatar, dan Mesir mengenai potensi perpanjangan fase pertama perjanjian tahanan Gaza dan gencatan senjata, Axios melaporkan pada hari Minggu.

    Tahap awal kesepakatan dijadwalkan berakhir pada hari Sabtu. Berdasarkan kesepakatan tersebut, gencatan senjata tetap berlaku selama negosiasi untuk tahap kedua masih berlangsung.

    AS dan “Israel” berupaya memperpanjang fase ini dengan mengamankan pembebasan tawanan tambahan sebagai imbalan perpanjangan gencatan senjata selama satu hingga dua minggu.

    Pejabat Hamas Mahmoud Mardawi menyatakan di saluran Telegramnya bahwa kelompok itu tidak akan terlibat dalam negosiasi lebih lanjut dengan “Israel” kecuali 600 tahanan Palestina, yang pembebasannya ditunda oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Sabtu, dibebaskan.

    Jika tahap pertama berakhir tanpa perpanjangan, perang di Gaza diperkirakan akan berlanjut.

    “Kami berharap memiliki waktu yang tepat untuk menyelesaikannya — untuk memulai fase kedua dan menyelesaikannya serta membebaskan lebih banyak sandera dan memajukan diskusi,” kata Witkoff dalam sebuah wawancara di acara State of the Union di CNN pada hari Minggu.

    Netanyahu mengadakan konsultasi keamanan pada hari Sabtu untuk menentukan langkah selanjutnya dalam negosiasi tawanan dan gencatan senjata. Menurut pejabat Israel, meskipun ada rekomendasi dari kepala keamanan, perdana menteri Israel memilih untuk menunda pembebasan 600 tahanan Palestina , dengan alasan dugaan pelanggaran perjanjian oleh Hamas.

     

     

    Pejabat keamanan dilaporkan menyarankan Netanyahu untuk menggunakan semua jalur diplomatik untuk merundingkan tahap kedua kesepakatan atau memperpanjang tahap pertama.

    Pada hari Sabtu, Witkoff bertemu di Miami dengan Menteri Urusan Strategis Israel Ron Dermer, yang memimpin tim negosiasi “Israel”. Itu adalah pertemuan kedua mereka dalam 48 jam untuk membahas tahap selanjutnya dari perjanjian tersebut.

    Seorang pejabat Israel mengungkapkan bahwa Witkoff berusaha melibatkan Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani dan kepala intelijen Mesir Hassan Mahmoud Rashad dalam negosiasi, tetapi konflik penjadwalan menghalangi partisipasi mereka.

     

    SUMBER: AL MAYADEEN

  • Terungkap, PM Netanyahu Pernah Dipukul Putranya

    Terungkap, PM Netanyahu Pernah Dipukul Putranya

    Tel Aviv

    Seorang anggota parlemen Israel mengungkapkan bahwa Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu pernah dipukul putranya, yang kemudian “diasingkan” ke luar negeri. Yair Netanyahu, salah satu dari dua putra PM Israel, diketahui sudah dua tahun terakhir tinggal di Florida, Amerika Serikat (AS).

    Yair yang berusia 33 tahun meninggalkan Israel sejak Maret 2023 lalu, ketika marak laporan soal dia dilarang sang ayah, Netanyahu, untuk memposting apa pun di media sosial karena postingannya mengobarkan ketegangan di Israel.

    Yair yang dikenal berpandangan sayap kanan ini, kerap melontarkan klaim tidak berdasar soal konspirasi besar-besaran dan upaya kudeta oleh aparat kehakiman dan penegak hukum Israel terhadap ayahnya. Dia menjadi terkenal saat laporan meluas soal dia mempengaruhi kebijakan PM Israel pada saat itu.

    Sejak meninggalkan Israel, Yair dilaporkan tinggal di kondominium mewah di Florida, AS.

    Baru-baru ini, seperti dilansir The New Arab dan Times of Israel, Senin (24/2/2025), salah satu anggota parlemen Israel atau Knesset, Naama Lazimi, dari kubu oposisi Partai Demokrat Israel melontarkan pernyataan yang mengejutkan publik.

    Dalam rapat dengan Komisi Keuangan Knesset, Lazimi awalnya mempertanyakan pendanaan untuk anggota keluarga Netanyahu. Dia membahas pendanaan untuk kunjungan istri Netanyahu, Sara, ke AS dan soal biaya pengawal keamanan bagi Yair, putra Netanyahu dan Sara, yang tinggal di Miami, Florida, AS.

    Lazimi kemudian mengatakan bahwa Yair “diasingkan” ke luar negeri setelah memukul ayahnya.

    “Saya ingin bertanya tentang istri Perdana Menteri, Sara Netanyahu, yang tinggal di luar negeri selama dua bulan. Saya mau bertanya siapa yang membiayai hal ini, berapa biayanya, dan dari anggaran mana pembiayaan itu diambil?” ucap Lazimi dalam rapat pada Minggu (23/2) waktu setempat.

    “Saya ingin bertanya tentang putra Perdana Menteri, Yair Netanyahu. Tahun lalu, sebuah artikel menyebut bahwa biaya pengawal keamanannya mencapai sekitar NIS 2,5 juta (Rp 11,4 miliar) per tahun,” sebutnya.

    “Saya ingin bertanya apakah jumlah ini masih dianggarkan dan apakah masih ada niat untuk membiayai masa tinggal anak Perdana Menteri karena memukul Perdana Menteri dan dipaksa pergi ke luar negeri karena dia merusak simbol kekuasaan?” tanya Lazimi lebih lanjut.

    Sejumlah anggota Knesset lainnya yang hadir dalam rapat itu tampak kaget sekaligus tertawa kecil mendengar pernyataan Lazimi. “Apa maksud Anda?” tanya salah satu anggota Knesset, dengan nada tidak percaya, kepada Lazimi dalam rapat yang terekam video, yang beredar di media sosial.

    “Tentu saja, dia diasingkan ke luar negeri,” ucap Lazimi merujuk pada Yair Netanyahu.

    Lazimi tampak terkejut saat menyadari rekan-rekannya di Knesset tidak mengetahui tuduhan tersebut. Namun ketika dia didesak memberikan penjelasan lebih lanjut soal pernyataannya itu, Lazimi terkesan menepis pernyataan rekannya dan kembali membahas soal pendanaan.

    Pernyataan Lazimi ini menuai kecaman dan dibantah mentah-mentah oleh Partai Likud, yang menaungi Netanyahu. Ditegaskan oleh salah satu perwakilan Partai Likud bahwa pernyataan Lazimi itu “sebuah kebohongan tercela, sebuah titik terendah terbaru bagi kelompok sayap kiri”.

    “Naama Lazimi akan kehilangan kekebalannya dan gajinya, dan siapa pun yang melontarkan kebohongan keji semacam ini akan menghadapi gugatan hukum dan juga harus membayar,” tegas pernyataan yang dirilis perwakilan Partai Likud.

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • Pengamat Israel: Hamas di Gaza Tidak Tertekan, Tidak Sedang Kesulitan, Kini Ulur Waktu – Halaman all

    Pengamat Israel: Hamas di Gaza Tidak Tertekan, Tidak Sedang Kesulitan, Kini Ulur Waktu – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Hamas kini disebut sedang tidak dalam kondisi tertekan setelah kesepakatan gencatan senjata dengan Israel.

    Zvi Yehezkeli, seorang pengamat dan jurnalis Israel, mengaku tidak melihat tanda-tanda bahwa Hamas sedang didera kesulitan.

    Yehezkeli mengatakan Hamas menginginkan kesepakatan gencatan senjata dengan Israel dilanjutkan.

    “Hamas ingin mengulur waktu. Hamas ingin gencatan senjata diteruskan,” katanya, Minggu malam, (23/2/2025), dikutip dari Maariv.

    Dia lalu menyinggung rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengambil alih Jalur Gaza dan memindahkan paksa warga Palestina ke luar negeri.

    “Hamas memandang ke depan. Hamas ingin menghancurkan rencana Trump, jadi Hamas menginginkan [gencatan senjata] tahap kedua atau tahap pertama yang diperpanjang.”

    “Hamas tidak dalam tekanan karena ingin mengulur waktu. Dari sudut pandangnya, waktu yang berjalan saat ini bukanlah waktu yang berdampak terhadap Hamas, melainkan Israel.”

    Dia mengklaim AS, Qatar, dan Mesir yang menjadi juru penengah perundingan Israel-Hamas bakal mendapatkan cara untuk melanjutkan tahap pertama atau ketiga negara itu akan membahas tahap kedua.

    Yehezkeli memperkirakan tahap pertama akan berlanjut dengan sejumlah mekanisme.

    Hamas: Netanyahu ingin menyabotase gencatan

    Hamas menuding Netanyahu menggunakan cara kotor untuk menyabotase gencatan senjata di Gaza yang saat ini masih memasuki tahap pertama.

    Menurut Hamas, pemerintahan Netanyahu tidak tertarik untuk merundingkan tahap kedua gencatan.

    Tahap kedua gencatan seharusnya dirundingkan saat tahap pertama yang berlangsung selama enam minggu.

    Menurut kesepakatan, apabila tahap kedua tercapai, semua sandera Israel akan dibebaskan dan gencatan senjata akan berlaku permanen di Gaza.

    “Kami meyakininya sekali lagi, permainan kotor dari pemerintahan sayap kanan itu untuk menyabotase dan merusak perjanjian dan mengirimkan pesan tentang keinginan untuk kembali mengobarkan perang,” kata Basem Naim, anggota senior Polibiro Hamas, hari Sabtu, (22/2/2025), dikutip dari Al Jazeera.

    Naim mengatakan Hamas tetap berkomitmen untuk melanjutkan gencatan senjata dan memenuhi kewajibannya. Namun, kata dia, Israel malah melanggar perjanjian.

    “Lebih dari 100 warga Palestina telah tewas dibunuh sejak tahap pertama, sebagian besar dari bantuan kemanusiaan yang disepakati tidak diizinkan masuk ke Gaza, dan penarikan mundur [tentara Israel] dari Koridor Netzarim ditunda,” kata Naim.

    Awal  bulan ini pejabat Israel mengaku kepada The New York Times bahwa klaim Hamas tentang pelanggaran Israel itu memang benar. Namun, pemerintah Israel membantahnya.

    Sebagai bagian dari kesepakatan gencatan, Israel sudah setuju untuk mengizinkan sekitar 60.000 tempat tinggal sementara dan 200.000 tenda dikirim ke Gaza. Akaan tetapi, hal itu belum dipenuhi Israel.

    Ada lebih dari 90 persen penduduk Gaza yang mengungsi. Sebagian besar wilayah Gaza juga sudah hancur menjadi puing-puing.

    Sementara itu, Netanyahu sudah mengancam akan melanjutkan perang di Gaza. Di samping itu, dia mengaku berkomitmen mendukung rencana AS untuk mengambil alih Gaza.

    Perdana menteri sayap kanan itu berulang kali mengaku bertekad mencapai tujuan Israel dalam perang di Gaza. Salah satunya adalah menghancurkan Hamas.

    Kabinetnya juga belum menggelar pemungutan suara untuk menentukan apakah syarat-syarat untuk gencatan tahap pertama telah dipenuhi guna melanjutkan ke tahap kedua.

    Pada hari Selasa pekan lalu media Israel melaporkan bahwa Netanyahu sudah menunjuk Menteri Urusan Strategis Ron Dermer untuk memimpin negosiasi tahap kedua gencatan senjata.

    (*)

  • Pasukan Israel Tingkatkan Kesiapan Operasional di Gaza, Perang Lagi?

    Pasukan Israel Tingkatkan Kesiapan Operasional di Gaza, Perang Lagi?

    Jakarta

    Militer Israel mengatakan bahwa mereka meningkatkan “kesiapan operasional” di sekitar Gaza. Hal ini disampaikan pada Minggu (23/2) setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa negara tersebut siap untuk melanjutkan pertempuran melawan Hamas.

    “Setelah penilaian situasional, diputuskan untuk meningkatkan kesiapan operasional di area sekitar Jalur Gaza,” kata militer Israel dalam sebuah pernyataan, dilansir kantor berita AFP, Senin (24/2/2025).

    Sebelumnya, Netanyahu mengatakan bahwa Israel siap untuk melanjutkan pertempuran di Jalur Gaza kapan saja. Dia sesumbar sambil berjanji untuk menyelesaikan tujuan perang, baik melalui negosiasi atau dengan cara lain.

    “Kami siap untuk melanjutkan pertempuran sengit kapan saja, rencana operasional kami sudah siap,” kata Netanyahu dalam upacara untuk pasukan tempur, sehari setelah Israel menghentikan pembebasan tahanan Palestina yang seharusnya menjadi bagian dari kesepakatan gencatan senjata, dilansir AFP, Minggu (23/2/2025).

    “Di Gaza, kita telah melenyapkan sebagian besar pasukan terorganisir Hamas, namun tidak ada keraguan-kami akan menyelesaikan tujuan perang sepenuhnya-baik melalui negosiasi atau dengan cara lain,” tambahnya.

    Gencatan senjata di Gaza, yang dimulai pada 19 Januari, sebagian besar menghentikan pertempuran dahsyat yang telah berlangsung selama lebih dari 15 bulan di wilayah Palestina.

    Tahap pertama gencatan senjata berakhir pada awal bulan Maret mendatang. Tetapi negosiasi untuk tahap berikutnya belum dilakukan, yang dimaksudkan untuk mengakhiri perang secara permanen yang dipicu oleh serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.

    Israel sebelumnya diperkirakan akan membebaskan lebih dari 600 tahanan Palestina pada hari Sabtu (22/2) sebagai imbalan atas enam sandera Israel yang dibebaskan oleh militan Hamas di Gaza.

    Namun, Netanyahu mengatakan pembebasan tahanan Palestina akan ditunda sampai Hamas menghentikan “upacara memalukan” sambil membebaskan sandera Israel.

    Hamas mengkritik keputusan Israel, menyebut pemerintah Israel membahayakan gencatan senjata Gaza setelah menghentikan pembebasan tahanan Palestina.

    “Dengan menunda pembebasan tahanan Palestina kami sesuai dengan kesepakatan gencatan senjata fase pertama, pemerintah musuh bertindak semena-mena dan membahayakan keseluruhan kesepakatan ini,” kata Bassem Naim, pejabat senior Hamas, dalam sebuah pernyataan.

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • Ayah Sandera Israel Protes, Hamas Tak Gelar Upacara Pembebasan Hisham Al-Sayed – Halaman all

    Ayah Sandera Israel Protes, Hamas Tak Gelar Upacara Pembebasan Hisham Al-Sayed – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Keluarga sandera Israel bernama Hisham Al-Sayed protes karena Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) tidak menggelar upacara pembebasan putranya itu.

    Hisham Al-Sayed, yang pernah mengikuti wajib militer Israel, dibebaskan oleh Hamas dalam pertukaran tahanan gelombang ke-7 di Kota Gaza pada Sabtu (22/2/2025).

    Ia yang merupakan keturunan Arab Badui berdarah Palestina, ditangkap oleh Hamas setelah ia memasuki Jalur Gaza sendirian di dekat Persimpangan Erez pada April 2015.

    Hisham Al-Sayed dibebaskan secara terpisah dari lima sandera Israel pada hari yang sama dan Hamas tidak menggelar upacara pembebasannya seperti sandera-sandera sebelumnya.

    Shaaban Al-Sayed, ayah dari sandera Israel tersebut, yang merupakan warga Arab, mengomentari kegagalan Hamas untuk menggelar upacara pembebasan putranya.

    “Alasannya bukan karena rasa hormat kepada keluarganya dan karena asal-usul Palestinanya, seperti yang dikatakan Hamas, melainkan upaya untuk menyembunyikan situasi sulitnya,” kata Shaaban Al-Sayed, ayah Hisham al-Sayed kepada Yedioth Ahronoth, Minggu (23/2/2025).

    Shaaban Al-Sayed mengatakan putranya menderita patah tulang dan dalam kondisi kritis serta hampir tidak dapat berbicara dan tidak dapat mengangkat kepalanya.

    “Mungkin mereka mengisolasinya, mereka tidak menempatkannya di dekat orang-orang. Mereka tidak ingin orang-orang melihatnya, jadi tidak ada upacara,” katanya.

    Ia mengatakan Hamas seharusnya membebaskan putranya sejak lama.

    Sebelumnya, Hamas mengatakan tidak diadakannya upacara serah terima untuk sandera Hisham al-Sayed adalah karena menghormati keluarganya, karena ia berasal dari Palestina.

    “Pendudukan Israel menelantarkan tahanan Hisham al-Sayed selama 10 tahun karena ia adalah warga Palestina di dalam wilayahnya, meskipun ia pernah bertugas di dalam (militer)nya,” kata sumber kepada Al-Jazeera.

    “Kasus perekrutan warga Palestina yang tidak wajar dari dalam pendudukan ditolak oleh semua warga Palestina,” lanjutnya.

    Pada Sabtu (22/2/2025), Hamas membebaskan enam sandera Israel dalam pertukaran tahanan gelombang ke-7.

    Sementara itu, Israel berkomitmen membebaskan 620 tahanan Palestina sebagai imbalan, namun Perdana Menteri Israel Netanyahu menunda pembebasan tersebut karena kontroversi penyerahan jenazah sandera Shiri Bibas pada Kamis (20/2/2025) sebelumnya.

    Israel mengatakan sebelumnya jenazah yang diserahkan oleh Hamas pada hari Kamis bukan milik Shiri Bibas.

    Hamas kemudian melakukan penyelidikan dan kemungkinan jenazah tersebut tercampur dengan jenazah warga Palestina di lokasi yang sama dengan pengeboman Israel pada November tahun 2023.

    Pada Jumat (21/2/2025), Hamas menyerahkan jenazah asli Shiri Bibas yang kemudian telah dikonfirmasi oleh Lembaga Forensik Israel.

    (Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

    Berita lain terkait Konflik Palestina vs Israel

  • Kecaman Hamas ke Netanyahu Gegara Tahanan Palestina Belum Dibebaskan

    Kecaman Hamas ke Netanyahu Gegara Tahanan Palestina Belum Dibebaskan

    Jakarta

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menunda pembebasan tahanan Palestina berdasarkan perjanjian gencatan senjata Gaza. Penundaan pembebasan tahanan itu akan dilakukan hingga Hamas mengakhiri ‘upacara yang dianggap memalukan’ saat menyerahkan sandera Israel.

    “Mengingat pelanggaran berulang Hamas –termasuk upacara memalukan yang tidak menghormati sandera kami dan penggunaan sandera secara sinis untuk propaganda– telah diputuskan untuk menunda pembebasan warga Palestina yang direncanakan kemarin (Sabtu) hingga pembebasan sandera berikutnya dipastikan, tanpa upacara yang memalukan,” kata kantor Netanyahu dalam sebuah pernyataan, dilansir AFP, Minggu (23/2/2025).

    Penundaan pembebasan tahanan Palestina itu mendapat kecaman dari Hamas. Hamas menyoroti alasan Israel.

    Hamas mengatakan hal itu sebagai dalih untuk menghindari kewajiban Israel berdasarkan perjanjian gencatan senjata Gaza.

    “Keputusan Netanyahu mencerminkan upaya yang disengaja untuk mengganggu perjanjian, merupakan pelanggaran yang jelas terhadap ketentuannya, dan menunjukkan kurangnya keandalan pendudukan dalam melaksanakan kewajibannya,” kata anggota Hamas bidang politik, Ezzat El Rashq, dalam pernyataannya, dilansir Al Arabiya, Minggu (23/2/2025).

    Dilansir Aljazeera, Hamas menilai upacara penyerahan tahanan bukanlah penghinaan terhadap para sandera yang dibebaskan. Menurutnya, upacara tersebut merupakan perlakuan manusiawi.

    “Upacara penyerahan tahanan tidak termasuk penghinaan terhadap mereka, tetapi justru mencerminkan perlakuan manusiawi yang mulia terhadap mereka”, kata Hamas, mengacu pada penyelenggaraan pembebasan tawanan.

    Diketahui, sejak gencatan senjata berlaku pada 19 Januari, Hamas telah membebaskan 25 sandera Israel. Pembebasan sandera tersebut disiapkan dalam ‘upacara’, di mana terlihat kelompok militan mengarak para tawanan di atas panggung dan tawanan melambaikan tangan kepada warga Gaza yang berkumpul untuk menyaksikan acara tersebut. Para tawanan juga berbicara melalui mikrofon.

    Dalam upacara tersebut, para sandera juga diberikan sertifikat dalam bahasa Ibrani untuk menandai berakhirnya penahanan mereka sebelum diserahkan kepada petugas Palang Merah, yang selanjutnya diserahkan kepada pasukan Israel.

    Baca berita di halaman selanjutnya.

    Keluarga Tahanan Palestina Kecewa

    Terkait penundaan pembebasan tahanan Palestina oleh Israel, keluarga tahanan Palestina mengaku kecewa dan marah dengan hal tersebut.

    “Keluarga para tawanan perang berada dalam keadaan marah, sedih, dan dendam, dan para mediator harus melakukan bagian mereka saat mereka mulai menyelesaikannya sehingga keluarga para tawanan perang dapat bersukacita atas pembebasan tawanan perang mereka yang seharusnya dibebaskan hari ini,” kata salah satu warga, Bassam al-Khatib.

    “Anda telah menerima tawanan perang Anda, jadi mengapa menunda penyerahan tawanan perang Palestina kami? Ini adalah sesuatu yang menyakitkan hati, kurangnya komitmen dan mengabaikan semua standar dan hukum internasional, dan mengabaikan negara-negara yang mensponsori perjanjian ini,” tambahnya.

    Israel Siap Lanjutkan Perang

    Benjamin Netanyahu menyebut Israel siap untuk melanjutkan pertempuran di Jalur Gaza setiap saat. Dia sesumbar sambil berjanji untuk menyelesaikan tujuan perang, baik melalui negosiasi atau dengan cara lain.

    “Kami siap untuk melanjutkan pertempuran sengit kapan saja, rencana operasional kami sudah siap,” kata Netanyahu dalam upacara dengan petugas tempur, sehari setelah Israel menghentikan pembebasan tahanan Palestina yang seharusnya menjadi bagian dari kesepakatan gencatan senjata, dilansir AFP, Minggu (23/2/2025).

    “Di Gaza, kami telah melenyapkan sebagian besar pasukan terorganisir Hamas, namun tidak ada keraguan-kami akan menyelesaikan tujuan perang sepenuhnya-baik melalui negosiasi atau dengan cara lain,” tambahnya.

    Gencatan senjata di Gaza, yang dimulai pada 19 Januari, sebagian besar menghentikan pertempuran dahsyat yang telah berlangsung selama lebih dari 15 bulan di wilayah Palestina.

    Tahap pertama gencatan senjata berakhir pada awal bulan Maret mendatang. Tetapi negosiasi untuk tahap berikutnya belum dilakukan, yang dimaksudkan untuk mengakhiri perang secara permanen yang dipicu oleh serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.

    Israel diperkirakan akan membebaskan lebih dari 600 tahanan Palestina pada hari Sabtu dengan imbalan enam sandera Israel yang dibebaskan oleh militan Hamas di Gaza.

    Namun Netanyahu mengatakan pembebasan tahanan akan ditunda sampai Hamas mengakhiri ‘upacara memalukan’ sambil membebaskan sandera Israel. Hamas menuduh Israel membahayakan gencatan senjata di Gaza setelah pemerintah menghentikan pembebasan tahanan Palestina.

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • Netanyahu Sesumbar Siap Lanjutkan Perang di Gaza Kapan Saja

    Netanyahu Sesumbar Siap Lanjutkan Perang di Gaza Kapan Saja

    Jerusalem

    Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menyebut bahwa Israel siap untuk melanjutkan pertempuran di Jalur Gaza setiap saat. Dia sesumbar sambil berjanji untuk menyelesaikan tujuan perang, baik melalui negosiasi atau dengan cara lain.

    “Kami siap untuk melanjutkan pertempuran sengit kapan saja, rencana operasional kami sudah siap,” kata Netanyahu dalam upacara dengan petugas tempur, sehari setelah Israel menghentikan pembebasan tahanan Palestina yang seharusnya menjadi bagian dari kesepakatan gencatan senjata, dilansir AFP, Minggu (23/2/2025).

    “Di Gaza, kami telah melenyapkan sebagian besar pasukan terorganisir Hamas, namun tidak ada keraguan-kami akan menyelesaikan tujuan perang sepenuhnya-baik melalui negosiasi atau dengan cara lain,” tambahnya.

    Gencatan senjata di Gaza, yang dimulai pada 19 Januari, sebagian besar menghentikan pertempuran dahsyat yang telah berlangsung selama lebih dari 15 bulan di wilayah Palestina.

    Tahap pertama gencatan senjata berakhir pada awal bulan Maret mendatang. Tetapi negosiasi untuk tahap berikutnya belum dilakukan, yang dimaksudkan untuk mengakhiri perang secara permanen yang dipicu oleh serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.

    Israel diperkirakan akan membebaskan lebih dari 600 tahanan Palestina pada hari Sabtu dengan imbalan enam sandera Israel yang dibebaskan oleh militan Hamas di Gaza.

    Namun Netanyahu mengatakan pembebasan tahanan akan ditunda sampai Hamas mengakhiri ‘upacara memalukan’ sambil membebaskan sandera Israel. Hamas menuduh Israel membahayakan gencatan senjata di Gaza setelah pemerintah menghentikan pembebasan tahanan Palestina.

    (fas/aik)

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • Israel Tunda Pembebasan 620 Tahanan Palestina, Apa Sebabnya? – Halaman all

    Israel Tunda Pembebasan 620 Tahanan Palestina, Apa Sebabnya? – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Israel telah memutuskan untuk menunda pembebasan 620 tahanan Palestina yang seharusnya dilakukan pada Sabtu, 22 Februari 2025.

    Pembebasan ini merupakan bagian dari tahap pertama perjanjian gencatan senjata yang telah disepakati dengan Gerakan Perlawanan Islam Hamas, yang mulai berlaku pada 19 Januari 2025.

    Kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa penundaan ini disebabkan oleh pelanggaran perjanjian gencatan senjata oleh Hamas.

    Reaksi Otoritas Terkait

    Otoritas Urusan Tahanan Palestina dan Tahanan yang Dibebaskan telah mengonfirmasi bahwa pembebasan tahanan akan ditunda hingga pemberitahuan lebih lanjut.

    Seorang pejabat Israel mengungkapkan bahwa keputusan ini diambil setelah dua pertemuan keamanan yang diadakan oleh Netanyahu, di mana para pemimpin dinas keamanan merekomendasikan agar pembebasan tetap dilanjutkan.

    Namun, keputusan berubah ketika hanya beberapa menteri kabinet yang hadir dalam sesi kedua.

    Media Israel melaporkan bahwa para tahanan Palestina yang telah dipindahkan ke dalam bus untuk pembebasan, kemudian dikembalikan ke penjara.

    Bulan Sabit Merah Palestina juga mengonfirmasi bahwa mereka menarik diri dari Rumah Sakit Hadassah di Yerusalem setelah pembatalan penyerahan tahanan yang terluka, Kazem Zawahri.

    Kontroversi Jenazah Sandera Israel

    Penundaan ini juga dipicu oleh kesalahan Hamas dalam menyerahkan jenazah sandera Israel, Shiri Bibas, yang ternyata merupakan jenazah wanita Palestina.

    Otoritas Penyiaran Israel melaporkan bahwa penundaan pembebasan tahanan adalah sebagai respons terhadap kesalahan tersebut, yang disebabkan oleh tumpang tindih jenazah sandera Israel dengan jenazah orang-orang Palestina yang terkena serangan Israel pada November 2023.

    Hamas menyatakan bahwa kesalahan ini tidak disengaja dan berhubungan dengan situasi kompleks di kawasan tersebut.

    Pada 21 Februari 2025, Hamas akhirnya menyerahkan jenazah Shiri Bibas, yang kemudian diidentifikasi oleh Lembaga Forensik Israel.

    Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).

  • 2 Sandera Israel Terkejut Lihat 3 Rekannya Bebas, Desak Netanyahu Lanjutkan Pertukaran Tahanan – Halaman all

    2 Sandera Israel Terkejut Lihat 3 Rekannya Bebas, Desak Netanyahu Lanjutkan Pertukaran Tahanan – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Brigade Al-Qassam, unit militer Hamas, merilis rekaman eksklusif terkait pembebasan gelombang ketujuh sandera Israel yang berlangsung pada Sabtu (22/2/2025).

    Dalam video tersebut, tampak dua sandera Israel, Itamar David dan Guy Gilboa Dalal, yang seharusnya dibebaskan pada tahap kedua sedang duduk di mobil di tengah alun-alun, menyaksikan rekan-rekan mereka dibebaskan oleh Brigade Al-Qassam.

    Mereka mengirim surat kepada pemerintah dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, serta mendesak agar mereka segera dibebaskan.

    “Kami ingin pulang… Netanyahu, kalian telah membiarkan kami mati… Rekan-rekan kami akhirnya bebas setelah 500 hari. Wahai rakyat Israel, tolonglah kami, kami ingin diperlakukan seperti mereka,” kata mereka, merujuk pada para tahanan yang telah lebih dulu dibebaskan pada Sabtu (22/2/2025).

    Mereka mengungkapkan keterkejutan mereka melihat pembebasan rekan-rekannya, serta menuntut Netanyahu untuk tetap melanjutkan kesepakatan pertukaran sandera tanpa hambatan.

    “Tekanan militer hanya akan membuat kami semua terbunuh. Jika kesepakatan sudah dimulai, maka selesaikanlah,” ungkap salah satu sandera.

    Mereka juga menyerukan kepada warga Israel agar terus melakukan aksi demonstrasi hingga seluruh sandera berhasil dibebaskan.

    “Kami ingin mengalami momen itu, kami ingin kembali ke rumah. Solusi militer bukanlah jawaban,” tambah mereka.

    Video tersebut menunjukkan proses serah terima yang dilakukan di depan publik, disertai perayaan serta parade militer dari kelompok perlawanan.

    Selain itu, Brigade Al-Qassam mengibarkan bendera Palestina berukuran besar di tiang tinggi sambil memperdengarkan lagu kebangsaan Palestina.

    Dalam klip tersebut, terdapat pernyataan yang berbunyi, “Tanah ini mengenali pemilik aslinya, berbeda dengan mereka yang hanya memiliki kewarganegaraan ganda.”

    Pembebasan 6 Sandera Israel Dilakukan Secara Bertahap

    Dalam video lain yang dirilis pada Minggu (23/2/2025), terlihat para pejuang Brigade Al-Qassam sedang mengawal tiga sandera yang diangkut dengan mobil putih saat proses pembebasan pada Sabtu (22/2/2025).

    Pembebasan dilakukan dalam tiga tahap, yakni dua sandera pertama, disusul tiga sandera berikutnya, dan satu sandera terakhir yang dilepaskan secara terpisah.

    Sebagai bagian dari perjanjian tersebut, Israel berkomitmen untuk melepaskan 620 tahanan Palestina.

    Salah satu sandera Israel yang dibebaskan mengungkapkan bahwa baginya, pohon yang dilihatnya tampak lebih megah dibandingkan dengan negara Israel.

    Sementara itu, sandera lain bertanya-tanya mengapa pohon tersebut ditebang, kemudian menambahkan, “Di sini tidak ada Hamas ataupun Al-Qassam.”

    Seorang sandera lainnya mengungkapkan rasa terima kasih kepada Brigade Al-Qassam, yang menurutnya telah memperlakukannya dengan baik, menjaganya, serta menyelamatkan nyawanya.

    Ia juga menyoroti bahwa puluhan tawanan telah kehilangan nyawa dalam konflik ini.

    Sandera lainnya berpendapat bahwa semua pihak sebenarnya bisa kembali dengan damai sebelum situasi ini berkembang menjadi seperti sekarang.

    Menurutnya, kejadian ini seharusnya tidak terjadi dan tidak ada alasan yang cukup untuk membuatnya terjadi sejak awal.

    Seorang sandera yang terlihat mencium kepala dua pejuang saat serah terima mengungkapkan bahwa keluarganya berasal dari Maroko dan Turki sebelum menetap di Palestina, meskipun ia sendiri tidak mengetahui alasan di balik kepindahan leluhurnya tersebut.

    “Semua orang seharusnya kembali ke tanah air mereka,” ujarnya.

    Pada hari Sabtu, kelompok perlawanan Palestina menyerahkan enam sandera yang masih hidup.

    Mereka adalah kelompok terakhir yang dibebaskan dalam tahap pertama dari kesepakatan gencatan senjata.

  • Hamas Kecam Penundaan Pembebasan 620 Tahanan Palestina oleh Israel – Halaman all

    Hamas Kecam Penundaan Pembebasan 620 Tahanan Palestina oleh Israel – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Hamas mengecam keputusan Israel yang menunda pembebasan 620 tahanan Palestina pada Minggu, 23 Februari 2025.

    Penundaan ini dianggap sebagai upaya Israel untuk menghindari kewajiban berdasarkan perjanjian gencatan senjata di Gaza.

    Hamas membantah klaim Israel yang menyatakan bahwa upacara penyerahan sandera adalah memalukan.

    El Rashq, juru bicara Hamas, menegaskan bahwa upacara tersebut tidak mencerminkan penghinaan, melainkan perlakuan manusiawi terhadap para sandera.

    “Penghinaan yang sebenarnya adalah apa yang dialami para tahanan Palestina selama proses pembebasan,” ujarnya.

    Hamas mengungkapkan bahwa para tahanan Palestina sering kali diikat dan ditutup matanya, serta diancam untuk tidak merayakan pembebasan mereka.

    “Kondisi ini adalah contoh nyata dari penghinaan yang mereka terima dari otoritas Israel,” tambahnya.

    Israel sebelumnya mengumumkan penundaan pembebasan 620 tahanan Palestina hingga Hamas memenuhi persyaratan tertentu.

    Pernyataan dari Kantor Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebutkan bahwa Israel menunggu kepastian pembebasan sandera berikutnya sebelum melanjutkan rencana pembebasan.

    Penundaan ini terjadi setelah enam sandera Israel berhasil dibebaskan pada Sabtu, 22 Februari 2025, sebagai bagian dari pertukaran yang diatur dalam gencatan senjata.

    Pembebasan ini seharusnya menjadi yang terbesar dalam satu hari selama fase pertama gencatan senjata.

    Dampak Penundaan

    Penundaan pembebasan tahanan Palestina ini menimbulkan keraguan mengenai masa depan gencatan senjata.

    Komisi Otoritas Palestina untuk urusan tahanan mengonfirmasi bahwa penundaan tersebut akan berlangsung hingga pemberitahuan lebih lanjut.

    Video dari Associated Press menunjukkan keluarga tahanan yang menunggu di luar ruangan dalam cuaca dingin, tampak kecewa dan beberapa di antaranya terlihat menangis.

    Lima dari enam sandera yang dibebaskan pada hari Sabtu dikawal oleh militan bertopeng, tindakan yang mendapat kritik dari PBB dan Palang Merah.

    Konten ini disempurnakan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI).