Tag: Benjamin Netanyahu

  • Demonstran Israel Kecam Keputusan Netanyahu Lanjutkan Perang di Gaza

    Demonstran Israel Kecam Keputusan Netanyahu Lanjutkan Perang di Gaza

    Jakarta

    Demonstran Israel mengecam keputusan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk melanjutkan perang di Gaza, Palestina. Mereka meminta Netanyahu fokus pada pembebasan tawanan di Gaza.

    “Satu-satunya alasan pemerintah ingin kembali berperang adalah untuk tetap berkuasa. Itu tidak ada hubungannya dengan apa yang terbaik bagi Israel,” kata salah satu pengunjuk rasa, Roy Emek, dalam sebuah rapat umum di Tel Aviv seperti dilansir Al-Jazeera, Selasa (18/3/2025).

    Einav Livne, yang berdemonstrasi di Eshkol, mengatakan dia merasa hatinya mendidih melihat keputusan Netanyahu. Dia mengatakan Netanyahu seolah mengorbankan para sandera.

    “Apa yang terjadi adalah pengorbanan nyawa para sandera dan kemungkinan mengembalikan jenazah untuk dimakamkan dengan layak. Negara Israel, yang seharusnya melindungi warganya, sungguh mengerikan,” ujarnya.

    Sebelumnya, militer Israel melancarkan serangan udara di Jalur Gaza sejak gencatan senjata pada bulan Januari lalu. Tim penyelamat melaporkan lebih dari 400 orang tewas dalam serangan Israel pada Selasa (18/3) waktu setempat itu.

    Atas serangan udara terbaru Israel ini, kelompok Hamas menuduh pemerintah Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu menggagalkan gencatan senjata.

    Seorang pejabat Israel mengatakan kepada AFP bahwa operasi itu akan terus berlanjut selama diperlukan dan akan diperluas melampaui serangan udara. Dalam sebuah posting di Telegram pada Selasa dini hari waktu setempat, militer Israel mengatakan pihaknya saat ini melakukan serangan besar-besaran terhadap target-target milik Hamas di Jalur Gaza.

    Gencatan senjata tahap pertama di Gaza telah berakhir. Israel dan AS ingin perpanjangan gencatan senjata.

    (azh/haf)

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • 9 Update Gaza: Israel ‘Kumat’, China Turun Tangan-Rusia Ngamuk

    9 Update Gaza: Israel ‘Kumat’, China Turun Tangan-Rusia Ngamuk

    Jakarta, CNBC Indonesia – Wilayah Gaza, Palestina kembali memanas. Pertumpahan darah kembali terjadi setelah Israel melanggar gencatan senjata dan menyerang hampir seluruh titik di kantong itu, Selasa dini hari.

    Hingga berita diturunkan, serangan terbaru Israel tersebut menewaskan sedikitnya 326 orang. Serangan ini diketahui Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

    Berikut perkembangan terbaru eskalasi itu sebagaimana dirangkum CNBC Indonesia, dikutip dari beberapa sumber:

    1. PBB Teriak

    PBB buka suara terkait serangan Israel ke Gaza. Kepala badan pengungsi Palestina PBB (UNRWA), Philippe Lazzarini, telah mengeluarkan pernyataan tentang pemboman besar-besaran Israel itu.

    “Pemandangan mengerikan warga sipil tewas di antara mereka anak-anak setelah gelombang pemboman besar-besaran dari Pasukan Israel semalam,” tulisnya di media sosial.

    “Memicu ‘neraka di bumi’ dengan memulai kembali perang hanya akan membawa lebih banyak keputusasaan & penderitaan,” tambah Lazzarini.

    “Kembali ke gencatan senjata adalah suatu keharusan.”

    Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengaku terkejut oleh serangan udara Israel yang kembali di Jalur Gaza. Ia meminta agar gencatan senjata dihormati kembali.

    “Sekretaris Henderal terkejut dengan serangan udara Israel di Gaza… ia sangat mengimbau agar gencatan senjata dihormati, agar bantuan kemanusiaan tanpa hambatan diberikan kembali, dan agar para sandera yang tersisa dibebaskan tanpa syarat,” kata juru bicara PBB Rolando Gomez dalam jumpa pers.

    2. China “Turun Tangan”

    China memberi pernyataan khusus terkait kembali memanasnya situasi Gaza. Kementerian Luar Negeri pemerintah Presiden Xi Jinping menyerukan langkah-langkah segera untuk mencegah “bencana kemanusiaa” baru, kembali terjadi di Gaza.

    “China sangat prihatin dengan situasi terkini antara Israel dan Palestina,” kata juru bicara kementerian luar negeri Mao Ning, dikutip AFP.

    “Menyerukan ke kedua pihak untuk menghindari tindakan apa pun yang dapat menyebabkan eskalasi situasi, dan mencegah bencana kemanusiaan berskala lebih besar”.

    3. Negara-Negara Eropa Buka Suara

    Negara-negara Eropa mengecam gelombang serangan mematikan Israel di daerah Gaza. Pernyataan terbaru datang dari pemerintah Malta dan Belgia, dengan Swiss juga menyerukan segera kembali ke gencatan senjata.

    Dalam sebuah posting di X, Perdana Menteri (PM) Malta, Robert Abela menyebut serangan itu, yang telah menewaskan sedikitnya 300 orang, “biadab”. Menteri Luar Negeri Belgia Maxime Prevot juga mengkritik “serangan baru Israel dan banyaknya korban jiwa”.

    “Saya menyerukan para pihak untuk melaksanakan fase kedua perjanjian, yang harus membuka jalan bagi rekonstruksi dan perdamaian bagi semua,” tulisnya di X.

    Kementerian Luar Negeri Swiss bereaksi terhadap serangan Israel dengan menekankan “kewajiban untuk melindungi penduduk sipil”.

    “Swiss menyerukan segera kembali ke #gencatan senjata, pembebasan semua sandera, dan pengiriman bantuan kemanusiaan tanpa hambatan,” kata kementerian itu.

    4. Gaza Kekurangan Darah

    Kementerian Kesehatan dan semua rumah sakit di seluruh Jalur Gaza mengimbau warga Palestina untuk menyumbangkan darah. Hal ini dikarenakan tingginya jumlah korban luka dan kekurangan pasokan darah yang parah.

    Fasilitas kesehatan juga kekurangan pasokan medis dasar yang dibutuhkan untuk merawat korban luka, seperti kain kasa dan obat pereda nyeri. Selama 17 hari, otoritas Israel telah melarang masuknya truk bantuan apa pun di mana para dokter mengatakan bahwa ini merupakan tantangan yang sangat besar.

    Selain itu, terjadi kekurangan bahan bakar yang membuat semua fasilitas medis berisiko kolaps. Otoritas kesehatan mengimbau masyarakat internasional untuk menekan pihak Israel agar mengizinkan pasokan ini masuk ke Jalur Gaza.

    5. Empat Pejabat Gaza Tewas

    Sementara itu, kantor media pemerintah Gaza menyebutkan nama empat pejabat tinggi pemerintah yang tewas dalam pemboman Israel semalam. Mereka termasuk Kepala Pekerjaan Umum Issam al-Dalis, Wakil Menteri Kehakiman Ahmed al-Hatta, Wakil Menteri dalam Negeri Mahmoud Abu Watfa, dan Direktur Jenderal Dinas Keamanan Dalam Negeri Bahjat Abu Sultan.

    “Semoga Tuhan mengasihani mereka, bersama dengan ratusan martir dari rakyat Palestina sebagai akibat dari kejahatan yang terus berlangsung sejak fajar hari ini,” kata pernyataan itu.

    6. Keluarga Sandera Israel Kecam Netanyahu

    Keluarga sandera Israel mengecam serangan terbaru pemerintah Netanyahu ke Gaza. Ibu dari tawanan Israel David dan Ariel Cunio, mengatakan dirinya ‘takut dengan apa yang mungkin terjadi’ setelah itu.

    “Saya memohon mereka untuk menghentikan pertempuran, tetapi mereka tidak mendengarkan,” katanya kepada surat kabar Israel Maariv.

    “Tampaknya pemerintah Netanyahu memiliki tujuan tertentu dan mereka tidak ingin mengembalikan yang diculik. Ini yang saya rasakan,” tambahnya.

    Dia juga menuduh Netanyahu “tidak punya hati”. Bahkan, menurutnya, Netanyahu bersedia mengorbankan nyawa lebih banyak tentara Israel di Gaza.

    Ariel Cunio dan kakak laki-lakinya David diculik oleh pejuang Palestina dari pemukiman Nir Oz di Israel selatan pada 7 Oktober 2023. Ariel dibawa bersama pacar lamanya Arbel Yehoud, yang dibebaskan pada Januari tahun ini.

    Sementara itu, Forum Sandera dan Keluarga Hilang, kelompok utama yang mewakili keluarga tawanan Israel di Gaza, mengatakan para anggotanya akan menuju Yerusalem untuk melakukan protes. Ia akan menyerukan kepada masyarakat Israel untuk bergabung dengan mereka.

    “Tidak ada yang lebih mendesak dari ini!” kata kelompok tersebut dalam sebuah posting di X.

    “Tekanan militer akan menyebabkan terbunuhnya para sandera yang masih hidup dan hilangnya para sandera yang telah tewas!”

    7. Respons Hamas

    Hamas mengatakan bahwa manuver Israel untuk mempersenjatai militernya dan menyerang Gaza adalah dalih yang lemah untuk membenarkan kembalinya mereka ke perang. Hamas juga mengatakan ini alat politik Netanyahu melanggengkan kekuasaan.

    “Israel berusaha menyesatkan opini publik dan menciptakan pembenaran palsu untuk menutupi keputusannya sebelumnya untuk melanjutkan genosida terhadap warga sipil yang tidak bersenjata”, kata Hamas, seraya menambahkan bahwa pemerintah Netanyahu “acuh tak acuh” terhadap ketentuan gencatan senjata.

    “Hamas mematuhi perjanjian tersebut hingga saat-saat terakhir dan ingin melanjutkannya, tetapi Netanyahu, yang mencari jalan keluar dari krisis internalnya, lebih suka menyalakan kembali perang dengan mengorbankan darah rakyat kami,” tambahnya.

    Netanyahu diperkirakan akan bersaksi dalam persidangan korupsi terhadapnya. Namun kehadirannya ditunda karena ‘perkembangan keamanan’ di Gaza.

    8. Rusia Kutuk Israel

    Rusia mengutuk pemboman Israel yang kembali di Jalur Gaza. Serangan itu menjadi yang paling mematikan sejak gencatan senjata berlaku antara Israel dan Hamas, Januari.

    “Moskow sangat menyesalkan dimulainya kembali operasi militer Israel di Jalur Gaza,” kata kementerian luar negeri Rusia, dikutip AFP.

    “Rusia mengutuk keras tindakan apa pun yang menyebabkan kematian warga sipil dan penghancuran infrastruktur sosial.”

    Kremlin mengatakan sebelumnya bahwa mereka khawatir serangan tersebut akan menyebabkan eskalasi spiral. Pemerintah Presiden Vladimir Putin mengaku memantau situasi dengan sangat cermat.

    “Kami menunggu situasi kembali damai,” kata juru bicara Dmitry Peskov kepada wartawan.

    9. Turki Sebut Genosida Babak Baru

    Turki mengatakan bahwa serangan Israel terhadap Gaza merupakan “babak baru dalam kebijakan genosida” terhadap warga Palestina. Ankara juga mendesak masyarakat internasional untuk mengambil sikap tegas guna memastikan gencatan senjata ditegakkan dan bantuan kemanusiaan disalurkan.

    Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Turki menambahkan bahwa tindakan Israel yang menyebabkan “siklus kekerasan baru” di wilayah tersebut tidak dapat diterima. Badan itu menambahkan bahwa “pendekatan bermusuhan” pemerintah Israel mengancam masa depan Timur Tengah.

    (sef/sef)

  • Rusia Kutuk Israel Kembali Serang Gaza, Buat 413 Orang Tewas

    Rusia Kutuk Israel Kembali Serang Gaza, Buat 413 Orang Tewas

    Jakarta CNBC Indonesia – Rusia mengutuk pemboman Israel yang kembali di Jalur Gaza. Serangan itu menjadi yang paling mematikan sejak gencatan senjata berlaku antara Israel dan Hamas, Januari.

    Hingga kini serangan yang terjadi Selasa (18/3/2025) telah menewaskan ratusan orang. Menurut kementerian kesehatan Gaza, setidaknya 413 orang tewas dalam serangan terbaru itu.

    “Moskow sangat menyesalkan dimulainya kembali operasi militer Israel di Jalur Gaza,” kata kementerian luar negeri Rusia, dikutip AFP.

    “Rusia mengutuk keras tindakan apa pun yang menyebabkan kematian warga sipil dan penghancuran infrastruktur sosial.”

    Kremlin mengatakan sebelumnya bahwa mereka khawatir serangan tersebut akan menyebabkan eskalasi spiral. Pemerintah Presiden Vladimir Putin mengaku memantau situasi dengan sangat cermat.

    “Kami menunggu situasi kembali damai,” kata juru bicara Dmitry Peskov kepada wartawan.

    Sebelumnya, (PM) Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan operasi itu diperintahkan setelah “penolakan berulang Hamas” untuk membebaskan sandera yang ditawan selama serangan Oktober 2023. Operasi itu sendiri dikatakan diketahui oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

    Sejak melancarkan serangan ke Ukraina, Rusia telah menjalin hubungan yang lebih erat dengan Iran, yang mendukung Hamas dan Hizbullah, sambil mempertahankan hubungan yang umumnya baik dengan Israel. Pengaruh Moskow di kawasan itu sebenarnya sedikit berkurang sejak sekutunya Bashar al-Assad digulingkan oleh pemberontak Suriah tahun lalu.

    Sebelumnya, Qatar, Mesir, dan AS memediasi fase awal gencatan senjata, yang mulai berlaku pada 19 Januari. Fase ini sebagian besar menghentikan pertempuran selama lebih dari 15 bulan di Gaza.

    Fase pertama itu berakhir pada awal Maret, dan meskipun kedua belah pihak sejak itu menahan diri dari perang habis-habisan, mereka belum dapat menyetujui langkah selanjutnya untuk perundingan gencatan senjata. Israel juga telah melakukan serangan hampir setiap hari di Gaza, tetapi tidak dalam skala operasi hari Selasa.

    Dalam sebuah posting di Telegram pada dini hari Selasa, tentara Israel mengatakan bahwa mereka “melakukan serangan besar-besaran terhadap target teror milik organisasi teroris Hamas di Jalur Gaza”. Israel memerintahkan semua sekolah yang dekat dengan wilayah tetangga Gaza ditutup, karena pemerintah mengatakan akan meningkatkan aksi militer terhadap Hamas.

    Hamas merespons hal itu seraya mengatakan Israel memutuskan untuk mengorbankan sanderanya dengan meluncurkan kembali operasi militer besar-besaran di Jalur Gaza. Langkah Negeri Zionis tersebut telah menghancurkan periode tenang sejak gencatan senjata bulan Januari.

    (sef/sef)

  • AS Dukung Dimulai Lagi Agresi Pasukan IDF Masuk Gaza, Israel Katz: Gerbang Neraka Terbuka – Halaman all

    AS Dukung Dimulai Lagi Agresi Pasukan IDF Masuk Gaza, Israel Katz: Gerbang Neraka Terbuka – Halaman all

    AS Dukung Dimulai Laginya Agresi Pasukan IDF Masuk Gaza, Israel Katz: Gerbang Neraka Terbuka di Gaza

    TRIBUNNEWS.COM – Surat kabar berbahasa Ibrani Maariv mengungkapkan, dari narasumber-narasumber Israel, rincian di balik dimulainya kembali agresi pendudukan di Jalur Gaza.

    Perang Gaza resmi pecah setelah Israel melancarkan serangan udara dengan intensitas besar di sejumlah wilayah di Gaza pada Selasa (18/3/2025) dini hari.

    Surat kabar tersebut melaporkan pada Selasa kalau Israel menolak sodoran usulan Hamas yang bersedia secara selektif membebaskan sandera Israel yang memegang kewarganegaraan Amerika. 

    Hamas juga bersedia menyerahkan empat jenazah sandera Israel.

    Israel menolak dan memilih opsi untuk kembali berperang.

    Laporan media tersebut menambahkan, Israel memberi tahu pemerintah AS kalau upaya diplomatik telah habis.

    Laporan juga mencatat bahwa kabinet keamanan Israel telah memberi wewenang kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan untuk menentukan tanggal dimulainya kembali pertempuran.

    “Keputusan untuk melanjutkan pertempuran dibuat kemarin, Senin, selama pertemuan yang diadakan oleh Netanyahu di Kementerian Pertahanan di Tel Aviv,” tulis laporan itu.

    LEDAKAN BOM – Bola api dari ledakan bom dari serangan udara Israel di Jalur Gaza, Selasa (18/3/2025). Serangan yang berlangsung di tengah gencatan senjata dengan Hamas ini dilaporkan menewaskan lebih dari 400 korban, termasuk wanita dan anak-anak. (RNTV/TangkapLayar)

    Rencana Israel Perang Lagi di Gaza Disetujui AS, Gerbang Neraka Terbuka

    Laporan juga menjelaskan kalau rencana Israel memulai pertempuran baru di Gaza dikoordinasikan dengan pemerintah AS dan disetujui oleh Washington.

    Laporan menekankan kalau Israel memperbarui pertempuran di Gaza tanpa tekanan AS untuk mengizinkan masuknya bantuan, yang dapat membantu upaya Israel menguasai perang.

    Artinya, ini seperti apa yang dituduhkan Hamas kalau AS terlibat langsung dalam agresi kembali militer Israel (IDF) ke Gaza ini.

    Laporan menjelaskan, rencana militer IDF tersebut dalam agresi yang yang kembali dilakukan ini menyerukan pasukan untuk maju ke Jalur Gaza, membersihkan area tertentu, dan memindahkan warga sipil ke zona kemanusiaan.

    Dalam praktik agresi selama 15 bulan sejak 7 Oktober 2023, Israel kerap membombardir apa yang mereka sebut sebagai koridor kemanusiaan, lokasi jalur evakuasi warga Gaza yang mengungsi.

    Menteri Pertahanan Israel mengatakan, “Kami kembali bertempur karena penolakan Hamas untuk membebaskan tentara yang diculik dan ancamannya untuk menargetkan tentara dan permukiman.”

    Ia menambahkan, “Jika Hamas tidak membebaskan semua tahanan, gerbang neraka akan terbuka di Gaza.”

    2 Menteri Sayap Kanan Israel Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich (X/Twitter)

    Smotrich dan Ben-Gvir Kegirangan

    Atas dimulainya kembali agresi IDF ke Gaza ini, politisi sayap kanan Israel menyuarakan reaksi kegembiraan menyusul serangan baru Angkatan Udara Israel (IAF) di Gaza pada Selasa dini hari, yang menandai eskalasi agresi yang sedang berlangsung.

    Serangan tersebut telah menyalakan kembali perdebatan dalam kalangan politik Israel mengenai pendekatan terbaik terhadap krisis tersebut.

    Menteri Keuangan Bezalel Smotrich menyatakan dukungannya terhadap tindakan militer IDF, menekankan kalau tujuan Israel tetaplah pembubaran total Hamas.

    Dalam sebuah tweet, Smotrich menyatakan, “Siapa pun yang melakukan kepada kami apa yang Hamas lakukan pada Simchat Torah akan dihancurkan.” 

    Ia menggambarkan serangan militer baru tersebut sebagai langkah penting dalam upaya menghancurkan Hamas, mengamankan kembalinya semua tawanan, dan menghilangkan ancaman yang ditimbulkan oleh Gaza.

    Smotrich lebih lanjut mencatat kalau Pasukan Pendudukan Israel (IDF) telah mempersiapkan momen ini dalam beberapa minggu terakhir, menyusul penunjukan kepala staf baru.

    “Ini adalah proses yang bertahap, dan dengan pertolongan Tuhan, hasilnya akan benar-benar berbeda dari apa yang telah dilakukan selama ini,” imbuh Smotrich, menegaskan kembali komitmen “Israel” untuk mencapai tujuannya di Gaza.

    Itamar Ben-Gvir, pimpinan partai sayap kanan Otzma Yehudit, juga sangat mendukung aksi militer tersebut.

    Ia menyebut pertempuran baru tersebut sebagai langkah yang perlu dan “moral” untuk menghancurkan Hamas dan memulangkan tawanan “Israel”.

    Ben-Gvir telah menjadi pengkritik keras kesepakatan damai dengan Hamas yang melibatkan penghentian operasi militer.

    Pada bulan Januari, ia dan partainya meninggalkan koalisi sebagai protes terhadap kesepakatan yang melibatkan gencatan senjata, menuduhnya merusak upaya IOF dan menyerah kepada Hamas.

    Menteri Pendidikan Yoav Kisch menyuarakan sentimen Ben-Gvir dengan menyatakan secara lugas, “Bebaskan para sandera atau api neraka. Sekarang.”

    Namun, tidak semua tokoh politik setuju dengan tindakan tersebut.

    Yair Golan, pemimpin partai oposisi Democratic Camp, mengkritik serangan militer baru-baru ini sebagai taktik pengalihan perhatian oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

    Golan berpendapat bahwa fokus Netanyahu pada tindakan militer merupakan upaya untuk mengalihkan perhatian dari pemecatan kepala Shin Bet Ronen Bar baru-baru ini.

    “Tentara di garis depan dan para sandera di Gaza hanyalah kartu dalam permainan bertahan hidupnya,” klaim Golan.

     “Netanyahu menggunakan nyawa warga negara dan tentara kita karena ia takut akan protes publik atas pemecatan kepala Shin Bet.”

     

    (oln/khbrn/rntv/*)

     

  • BREAKING NEWS Juru Bicara PIJ Abu Hamza Tewas Bersama Anak-Istri Dibom Israel  di Gaza – Halaman all

    BREAKING NEWS Juru Bicara PIJ Abu Hamza Tewas Bersama Anak-Istri Dibom Israel  di Gaza – Halaman all

    BREAKING NEWS Juru Bicara PIJ Abu Hamza Tewas Bersama Anak-Istri Dibom Israel  di Gaza

    TRIBUNNEWS.COM – Naji Abu Saif, juru bicara militer Jihad Islam Palestina (PIJ) dilaporkan tewas pada Selasa (18/3/2025) dalam serangan udara Israel yang menargetkan Jalur Gaza bagian tengah – menurut laporan media.

    “Naji Abu Saif – yang dijuluki Abu Hamza – tewas bersama istri dan anak-anaknya dalam serangan yang menargetkan rumah mereka,” tulis laporan RNTV, dikutip Selasa.

    Jihad Islam Palestina (PIJ) belum mengeluarkan pernyataan.

    Sebelumnya, laporan menyebut kalau serangan Israel juga menewaskan sejumlah petinggi gerakan Hamas.

    Sedikitnya ada lima anggota biro politik dan pejabat senior Hamas yang tewas lantaran menjadi target serangan militer Israel di Gaza pada Selasa dini hari (18/3/2025).

    Adalah jenderal Mahmud Abu Watfa, salah satu petinggi Hamas yang dinyatakan tewas akibat serangan brutal Israel.

    Menurut laporan Al Arabiya, Abu Watfa, yang memimpin polisi Hamas dan dinas keamanan internal di Jalur Gaza, tewas dalam serangan yang menghantam area Gaza City, kota terpadat di daerah kantong Palestina.

    Selain Watfa, sejumlah petinggi Hamas lainnya yang berperan dalam membangun kembali pemerintahan Hamas di Jalur Gaza juga menjadi target serangan.

    Korban tewas tersebut di antaranya ada Issam Aldialis dan Mohammad Al-Jmasi yang saat ini menjabat sebagai komandan keamanan internal dan Direktur Jenderal pada Kementerian Kehakiman Hamas.

    Sementara, tiga identitas pejabat Hamas lainnya yang tewas hingga saat ini masih belum diketahui secara jelas.

    Namun, analis meyakini, para pejabat senior Hamas yang menjadi target serangan terbaru Israel itu memainkan peran utama dalam membangun kembali kekuasaan Hamas atas Jalur Gaza.

    Korban Tewas Gaza Melonjak 400 Jiwa

    Tak hanya menargetkan para petinggi Hamas, rentetan serangan terbaru Israel yang melanda Gaza bagian utara, Gaza City, Deir al-Balah, Khan Younis, dan Rafah telah memicu lonjakan angka kematian.

    Laporan terbaru otoritas kesehatan Palestina, yang dilansir Reuters, menyebut lebih dari 400 warga sipil tewas akibat rentetan serangan udara Israel yang menghantam puluhan target di Jalur Gaza pada Selasa pagi.

    Adapun hampir separuh korban tewas termasuk di antaranya anak-anak, wanita, dan orang tua yang tinggal di Gaza bagian selatan.

    “Pembantaian-pembantaian brutal yang dilakukan pasukan penjajahan Israel menunjukkan kembali bahwa penjajah ini hanya mengerti bahasa pembunuhan, penghancuran, dan genosida,” demikian pernyataan Kantor Media Pemerintah Gaza, dikutip Al Jazeera.

    Meski serangan ini kembali menambah panjang daftar korban jiwa dalam genosida yang terus berlangsung di wilayah tersebut, namun Netanyahu menegaskan serangan udara yang dilakukan pasukannya, ditujukan untuk menekan milisi Hamas yang selama ini menolak membebaskan sandera Israel.

    “Ini menyusul penolakan berulang kali Hamas untuk membebaskan sandera kami, serta penolakannya terhadap semua proposal yang telah diterimanya dari Utusan Presiden AS Steve Witkoff,” kata Netanyahu

    “Israel akan, mulai sekarang, bertindak melawan Hamas dengan kekuatan militer yang meningkat,” imbuhnya.

    Jurnalis Al Jazeera di Kota Gaza, Hani Mahmoud, melaporkan, Israel mengubah pusat-pusat evakuasi menjadi “jebakan maut” bagi warga Gaza.

    “Intensitas pengeboman di barat Kota Gaza sangat terasa hingga banyak orang yang terbunuh terlempar dari bangunan, daging mereka ditemukan di jalan dan halaman rumah tetangganya,” kata Mahmoud.

    Hamas Sebut Israel Melanggar Gencatan Senjata

    Merespons tindakan yang dilakukan Israel, Hamas menegaskan mereka mengutuk keras serangan ini.

    Pejabat senior Hamas juga menyatakan Israel secara sepihak telah membatalkan perjanjian gencatan senjata.

    Mereka menyebut serangan Israel sebagai “serangan berbahaya” terhadap warga sipil yang tidak berdaya, dan mengklaim tujuan Israel adalah untuk menggagalkan kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati.

    Lebih lanjut, untuk mencegah terjadinya eskalasi yang lebih luas, Hamas menyerukan kepada negara-negara Arab dan Muslim untuk mendukung “perlawanan Palestina” dalam upaya mematahkan blokade terhadap Gaza.

    Hamas juga mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera mengeluarkan resolusi yang memerintahkan Israel menghentikan “agresinya.”

     

    (oln/RNTV/*)

  • Perdana Menteri Pemerintahan Hamas Issam al-Daalis Gugur, Korban Pemboman Israel di Gaza Melonjak – Halaman all

    Perdana Menteri Pemerintahan Hamas Issam al-Daalis Gugur, Korban Pemboman Israel di Gaza Melonjak – Halaman all

    Perdana Menteri Hamas Issam al-Daalis Gugur, Korban Pemboman Israel Digaza Melonjak

    TRIBUNNEWS.COM – Sumber-sumber Palestina mengumumkan tewasnya Issam al-Daalis, Perdana Menteri pemerintah Hamas, dalam serangan udara Israel yang menargetkan rumah tempat ia berada, Selasa (18/3/2025).

    Laporan Kantor berita Reuters juga mengonfirmasi terbunuhnya Mahmoud Abu Watfa, seorang pejabat keamanan senior Hamas, dalam serangan di Gaza.

    Selain Watfa, sejumlah petinggi Hamas lainnya yang berperan dalam membangun kembali pemerintahan Hamas di Jalur Gaza juga menjadi target serangan.

    Korban tewas tersebut di antaranya ada Issam Aldialis dan Mohammad Al-Jmasi yang saat ini menjabat sebagai komandan keamanan internal dan Direktur Jenderal pada Kementerian Kehakiman Hamas.

    Sementara, tiga identitas pejabat Hamas lainnya yang tewas hingga saat ini masih belum diketahui secara jelas.

    Namun, analis meyakini, para pejabat senior Hamas yang menjadi target serangan terbaru Israel itu memainkan peran utama dalam membangun kembali kekuasaan Hamas atas Jalur Gaza.

    Korban Jiwa Melonjak

    Direktur Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza, Mohammed Abu Salmiya, mengatakan kalau mereka tidak mampu menampung jumlah orang yang terluka dalam serangan Israel di Jalur Gaza.

    Abu Salmiya menambahkan, sejumlah besar obat-obatan dan pasokan medis telah habis akibat perang yang sedang berlangsung dan blokade Israel.

    Sumber medis mengatakan jumlah korban tewas akibat serangan udara Israel di Jalur Gaza telah meningkat menjadi 356 jiwa.

    Diduga, jumlah korban pembantaian Israel akan melonjak seiring banyak korban yang masih dalam kondisi kritis dan banyak lainnya masih tertimbun puing-puing bangunan.

    Puluhan orang terluka dilaporkan di Rumah Sakit Al-Awda di Nuseirat, akibat penargetan rumah-rumah warga sipil di kamp pengungsi Nuseirat dan Al-Bureij di Jalur Gaza tengah.

    Sumber medis di Rumah Sakit Al-Awda di kamp pengungsi Nuseirat melaporkan bahwa 14 orang martir tiba di rumah sakit tersebut setelah pengeboman dua tenda di Jalur Gaza selatan. Lebih dari 70 orang terluka, beberapa di antaranya kritis, setelah rumah warga sipil di kamp tersebut menjadi sasaran.

    SERANGAN UDARA ISRAEL – Serangan udara Israel terhadap tenda-tenda pengungsi Palestina pada Selasa (18/3/2025) pagi menyebabkan kamp tersebut terbakar saat para penduduk tengah tidur di Khan Yunis. Akibatnya sebanyak 200 orang tewas atas serangan udara Israel ini. (Telegram Quds News Network)

    Cara Keji Israel Tekan Hamas

    Tak hanya menargetkan para petinggi Hamas, rentetan serangan terbaru Israel yang melanda Gaza bagian utara, Gaza City, Deir al-Balah, Khan Younis, dan Rafah telah memicu lonjakan angka kematian.

    Laporan terbaru otoritas kesehatan Palestina, yang dilansir Reuters, menyebut lebih dari 308 warga sipil tewas akibat rentetan serangan udara Israel yang menghantam puluhan target di Jalur Gaza pada Selasa pagi.

    Adapun hampir separuh korban tewas termasuk di antaranya anak-anak, wanita, dan orang tua yang tinggal di Gaza bagian selatan.

    “Pembantaian-pembantaian brutal yang dilakukan pasukan penjajahan Israel menunjukkan kembali bahwa penjajah ini hanya mengerti bahasa pembunuhan, penghancuran, dan genosida,” demikian pernyataan Kantor Media Pemerintah Gaza, dikutip Al Jazeera.

    Meski serangan ini kembali menambah panjang daftar korban jiwa dalam genosida yang terus berlangsung di wilayah tersebut, namun Netanyahu menegaskan serangan udara yang dilakukan pasukannya, ditujukan untuk menekan milisi Hamas yang selama ini menolak membebaskan sandera Israel.

    “Ini menyusul penolakan berulang kali Hamas untuk membebaskan sandera kami, serta penolakannya terhadap semua proposal yang telah diterimanya dari Utusan Presiden AS Steve Witkoff,” kata Netanyahu

    “Israel akan, mulai sekarang, bertindak melawan Hamas dengan kekuatan militer yang meningkat,” imbuhnya.

    Jurnalis Al Jazeera di Kota Gaza, Hani Mahmoud, melaporkan, Israel mengubah pusat-pusat evakuasi menjadi “jebakan maut” bagi warga Gaza.

    “Intensitas pengeboman di barat Kota Gaza sangat terasa hingga banyak orang yang terbunuh terlempar dari bangunan, daging mereka ditemukan di jalan dan halaman rumah tetangganya,” kata Mahmoud.

    Hamas Sebut Israel Melanggar Gencatan Senjata

    Merespons tindakan yang dilakukan Israel, Hamas menegaskan mereka mengutuk keras serangan ini.

    Pejabat senior Hamas juga menyatakan Israel secara sepihak telah membatalkan perjanjian gencatan senjata.

    Mereka menyebut serangan Israel sebagai “serangan berbahaya” terhadap warga sipil yang tidak berdaya, dan mengklaim tujuan Israel adalah untuk menggagalkan kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati.

    Lebih lanjut, untuk mencegah terjadinya eskalasi yang lebih luas, Hamas menyerukan kepada negara-negara Arab dan Muslim untuk mendukung “perlawanan Palestina” dalam upaya mematahkan blokade terhadap Gaza.

    Hamas juga mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera mengeluarkan resolusi yang memerintahkan Israel menghentikan “agresinya.”

     
     

  • Ini Alasan Benjamin Netanyahu Memecat Kepala Shin Bet, Ronen Bar – Halaman all

    Ini Alasan Benjamin Netanyahu Memecat Kepala Shin Bet, Ronen Bar – Halaman all

    Benjamin Netanyahu Pecat Kepala Shin Bet karena Kurangnya Kepercayaan

    TRIBUNNEWS.COM- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan pada hari Minggu keputusannya untuk memecat kepala Shin Bet, Ronen Bar, dengan alasan kurangnya kepercayaan di antara mereka, Anadolu melaporkan.

    “Setiap saat, dan terutama selama perang eksistensial seperti ini, harus ada kepercayaan penuh antara perdana menteri dan kepala Shin Bet,” kata Netanyahu. 

    “Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya; saya tidak lagi memiliki kepercayaan itu.”

    Ketegangan antara Netanyahu dan dinas keamanan dalam negeri meningkat dalam beberapa hari terakhir menyusul penyelidikan internal Shin Bet terhadap serangan lintas batas Hamas pada 7 Oktober 2023. 

    Netanyahu menolak temuan laporan tersebut, dengan mengatakan bahwa laporan tersebut gagal menjawab pertanyaan-pertanyaan utama.

    Temuan itu mendorong para pemimpin oposisi Yair Lapid dan Benny Gantz menuntut Netanyahu untuk meminta maaf. 

    Mereka menuduhnya mengalihkan kesalahan.

    Shin Bet mengakui kegagalannya menilai kemampuan Hamas sebelum serangan, tetapi mengatakan bahwa kebijakan Netanyahu juga merupakan salah satu penyebab yang mendasarinya.

    Perdana menteri berpendapat bahwa pemecatan Bar sangat penting untuk mencapai “tujuan perang dan kemenangan total” di Gaza. 

    Pemerintah akan meninjau usulan tersebut pada hari Rabu, menurut Channel 12 Israel.

    Sementara beberapa pejabat militer dan intelijen telah mengundurkan diri, mengambil sebagian tanggung jawab atas kegagalan 7 Oktober, Netanyahu menolak untuk menerima tanggung jawab apa pun dan telah menolak seruan oposisi agar pemerintahannya mengundurkan diri dan pemilihan umum lebih awal.

    Sebelumnya pada hari Minggu, polisi memanggil mantan kepala Shin Bet Nadav Argaman untuk diinterogasi setelah Netanyahu mengajukan pengaduan terhadapnya, demikian laporan surat kabar Yedioth Ahronoth .

    Dalam sebuah wawancara pada hari Kamis, Argaman mengancam akan mengungkapkan informasi sensitif dari pertemuannya dengan Netanyahu jika perdana menteri bertindak melawan hukum. 

    “Kita harus segera mengakhiri perang di Gaza dan membawa kembali semua tahanan,” katanya. “Tidak ada yang membenarkan tinggal di sana di Gaza.”

    Keesokan harinya, Netanyahu mengajukan pengaduan kepada Komisaris Polisi Daniel Levy. 

    “Saya meminta Anda untuk segera membuka penyelidikan, karena semua garis merah telah dilanggar,” kata pemimpin Israel tersebut. 

    “Mantan kepala Shin Bet memilih untuk mengancam dan memeras perdana menteri yang sedang menjabat, dengan menggunakan metode geng kejahatan terorganisasi, seolah-olah dia adalah seorang pemimpin mafia dan bukan mantan pejabat keamanan Israel.”

    Menurut Netanyahu, “Kejahatan ini merupakan bagian dari kampanye pemerasan dan ancaman yang lebih luas yang dipimpin oleh kepala Shin Bet saat ini [Ronen Bar], yang tujuannya adalah untuk mencegah saya membuat keputusan yang diperlukan untuk mereformasi Shin Bet setelah kegagalannya yang membawa bencana pada 7 Oktober 2023.”

    Dalam tanggapannya, Shin Bet menyebut tuduhan Netanyahu “serius” dan menekankan bahwa, “Ronen Bar mendedikasikan seluruh waktu dan upayanya untuk menjaga keamanan nasional, berupaya membawa kembali tawanan Israel, dan membela demokrasi.” 

    Badan keamanan tersebut menambahkan bahwa klaim lainnya tidak berdasar.

     

    SUMBER: MIDDLE EAST MONITOR 

  • Lima Petinggi Hamas Tewas, Jadi Korban Kebrutalan Serangan Israel di Gaza – Halaman all

    Lima Petinggi Hamas Tewas, Jadi Korban Kebrutalan Serangan Israel di Gaza – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM –  Sedikitnya ada lima anggota biro politik dan pejabat senior Hamas yang tewas lantaran menjadi target serangan militer Israel di Gaza pada Selasa dini hari (18/3/2025).

    Adalah jenderal Mahmud Abu Watfa, salah satu petinggi Hamas yang dinyatakan tewas akibat serangan brutal Israel.

    Menurut laporan Al Arabiya, Abu Watfa, yang memimpin polisi Hamas dan dinas keamanan internal di Jalur Gaza, tewas dalam serangan yang menghantam area Gaza City, kota terpadat di daerah kantong Palestina.

    Selain Watfa, sejumlah petinggi Hamas lainnya yang berperan dalam membangun kembali pemerintahan Hamas di Jalur Gaza juga menjadi target serangan.

    Korban tewas tersebut di antaranya ada Issam Aldialis dan Mohammad Al-Jmasi yang saat ini menjabat sebagai komandan keamanan internal dan Direktur Jenderal pada Kementerian Kehakiman Hamas.

    Sementara, tiga identitas pejabat Hamas lainnya yang tewas hingga saat ini masih belum diketahui secara jelas.

    Namun, analis meyakini, para pejabat senior Hamas yang menjadi target serangan terbaru Israel itu memainkan peran utama dalam membangun kembali kekuasaan Hamas atas Jalur Gaza.

    Korban Tewas Gaza Melonjak 308 Jiwa

    Tak hanya menargetkan para petinggi Hamas, rentetan serangan terbaru Israel yang melanda Gaza bagian utara, Gaza City, Deir al-Balah, Khan Younis, dan Rafah telah memicu lonjakan angka kematian.

    Laporan terbaru otoritas kesehatan Palestina, yang dilansir Reuters, menyebut lebih dari 308 warga sipil tewas akibat rentetan serangan udara Israel yang menghantam puluhan target di Jalur Gaza pada Selasa pagi.

    Adapun hampir separuh korban tewas termasuk di antaranya anak-anak, wanita, dan orang tua yang tinggal di Gaza bagian selatan.

    “Pembantaian-pembantaian brutal yang dilakukan pasukan penjajahan Israel menunjukkan kembali bahwa penjajah ini hanya mengerti bahasa pembunuhan, penghancuran, dan genosida,” demikian pernyataan Kantor Media Pemerintah Gaza, dikutip Al Jazeera.

    Meski serangan ini kembali menambah panjang daftar korban jiwa dalam genosida yang terus berlangsung di wilayah tersebut, namun Netanyahu menegaskan serangan udara yang dilakukan pasukannya, ditujukan untuk menekan milisi Hamas yang selama ini menolak membebaskan sandera Israel.

    “Ini menyusul penolakan berulang kali Hamas untuk membebaskan sandera kami, serta penolakannya terhadap semua proposal yang telah diterimanya dari Utusan Presiden AS Steve Witkoff,” kata Netanyahu

    “Israel akan, mulai sekarang, bertindak melawan Hamas dengan kekuatan militer yang meningkat,” imbuhnya.

    Jurnalis Al Jazeera di Kota Gaza, Hani Mahmoud, melaporkan, Israel mengubah pusat-pusat evakuasi menjadi “jebakan maut” bagi warga Gaza.

    “Intensitas pengeboman di barat Kota Gaza sangat terasa hingga banyak orang yang terbunuh terlempar dari bangunan, daging mereka ditemukan di jalan dan halaman rumah tetangganya,” kata Mahmoud.

    Hamas Sebut Israel Melanggar Gencatan Senjata

    Merespons tindakan yang dilakukan Israel, Hamas menegaskan mereka mengutuk keras serangan ini.

    Pejabat senior Hamas juga menyatakan Israel secara sepihak telah membatalkan perjanjian gencatan senjata.

    Mereka menyebut serangan Israel sebagai “serangan berbahaya” terhadap warga sipil yang tidak berdaya, dan mengklaim tujuan Israel adalah untuk menggagalkan kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati.

    Lebih lanjut, untuk mencegah terjadinya eskalasi yang lebih luas, Hamas menyerukan kepada negara-negara Arab dan Muslim untuk mendukung “perlawanan Palestina” dalam upaya mematahkan blokade terhadap Gaza.

    Hamas juga mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera mengeluarkan resolusi yang memerintahkan Israel menghentikan “agresinya.”

    (Tribunnews.com / Namira)

  • Benjamin Netanyahu ‘Tumbalkan’ 59 Warga Israel demi Serang Gaza Lagi, Ada 300 Korban Jiwa

    Benjamin Netanyahu ‘Tumbalkan’ 59 Warga Israel demi Serang Gaza Lagi, Ada 300 Korban Jiwa

    PIKIRAN RAKYAT – Kantor Perdana Menteri Israel Penjajah, Benjamin Netanyahu menyerang Jalur Gaza lagi, mengkhianati kesepakatan gencatan senjata. Ia menyebutkan, membawa pulang warga mereka yang ditahan Hamas, merupakan alasan utama keputusan ini.

    Keterangan tersebut dilaporkan Al Jazeera dari Amman, Yordania, sebab ada larangan media masuk oleh Israel dan Otoritas Palestina di Tepi Barat yang diduduki.

    Netanyahu bersikeras perang ini satu-satunya cara menyelamatkan puluhan sandera. Namun, dengan menyulut kembali perang, Israel justru sama saja menarik diri dari negosiasi fase kedua, dari kesepakatan gencatan senjata.

    Seharusnya, pada akhir fase ini, perang berakhir dan kesemua 59 tahanan Israel yang masih ditahan di Gaza dapat terbebas.

    Bahkan, para tawanan besar kemungkinan dibebaskan beberapa minggu lalu melalui perundingan. Namun, Israel memilih untuk memulai kembali serangan bom bertubi di Gaza.

    Negosiasi tersebut seharusnya sudah dilakukan beberapa pekan ke belakang, bahkan lebih dari sebulan lalu.

    Namun, Netanyahu sebagian besar menolak untuk mengirim delegasi ke ibu kota Mesir atau ibu kota Qatar untuk bertemu dengan para mediator guna membahas langkah selanjutnya dari kesepakatan ini.

    Namun, setelah tekanan dari Amerika Serikat, yang diikuti dengan kunjungan utusan Timur Tengah AS, Steve Witkoff, ke wilayah tersebut, Netanyahu akhirnya memutuskan untuk mengirim delegasi Israel.

    Meski begitu, pejabat yang berbicara secara anonim mengatakan bahwa terlalu besar ketidaksepahaman antara kedua pihak. Ada begitu banyak ketidaksepakatan antara Israel dan Hamas sehingga para mediator tidak dapat dengan mudah menjembatani.

    Hamas di sisi lain mengatakan bahwa mereka bersedia, sekali lagi, menawarkan semua tahanan mereka yang masih ada sebagai imbalan untuk mengakhiri perang.

    300 Sipil Palestina Tewas Dibom

    Serangan udara Israel Penjajah terbaru di Gaza menyebabkan lebih dari 300 korban tewas, termasuk banyak anak-anak dan perempuan.

    Menurut laporan dari sumber medis setempat, serangan ini kembali menambah panjang daftar korban jiwa dalam genosida yang terus berlangsung di wilayah tersebut.

    Dalam pernyataan resmi, Hamas menyebut serangan ini sebagai tindakan pengkhianatan terhadap warga sipil yang sudah dalam keadaan terkepung dan tak berdaya.

    Tujuan dari serangan ini, menurut mereka, adalah untuk menggagalkan kesepakatan gencatan senjata yang telah tercapai sebelumnya.

    Izzat al-Risheq, anggota biro politik Hamas, mengatakan bahwa Israel mengorbankan nyawa para tahanan yang masih ada di Palestina.

    “Keputusan Netanyahu untuk kembali berperang adalah keputusan untuk mengorbankan para tahanan pendudukan, dan merupakan hukuman mati bagi mereka,” kata al-Risheq, dikutip dari Al Jazeera, Senin, 18 Maret 2025.

    “Musuh tidak akan mencapai suatu hasil menggunakan perang dan penghancuran, yang bahkan mereka gagal capai melalui negosiasi,” ucapnya menegaskan.

    Kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati sejak Januari 19, 2025, tampaknya tidak bertahan lama, dengan kedua pihak saling menyalahkan.

    kata Smotrich dan Ben-Gvir Soal Serangan Berat ke Gaza

    Kedua politikus Israel menyambut baik serangan baru ke Gaza, yang sejauh ini telah menewaskan ratusan orang, termasuk banyak anak-anak.

    “Kembalinya serangan intensif ke Gaza adalah proses bertahap yang telah direncanakan sejak kepala staf militer Israel yang baru dilantik awal bulan ini,” ucap Menteri Keuangan sayap kanan, Bezalel Smotrich.

    Dia menambahkan bahwa kembalinya pertempuran akan “sangat berbeda” dari sebelumnya.

    Sementara itu, politikus sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, yang mengundurkan diri dari jabatannya sebagai menteri keamanan nasional atas kesepakatan gencatan senjata, berpendapat bahwa kembali berperang adalah langkah yang “benar dan dibenarkan”. ***

    Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News

  • Israel Dilaporkan Bakal Lakukan Pembersihan Etnis Massal di Tepi Barat Palestina

    Israel Dilaporkan Bakal Lakukan Pembersihan Etnis Massal di Tepi Barat Palestina

    PIKIRAN RAKYAT – Israel tampaknya benar-benar akan merealisasikan rencananya jangka panjangnya untuk mengambil alih tanah Palestina. Seorang pakar PBB mengatakan bahwa warga Palestina menghadapi ancaman nyata pembersihan etnis massal.

    Dilaporkan bahwa pembersihan etnis yang dilakukan Israel ini meliputi tindakan yang merupakan kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan bahkan genosida.

    Pelapor Khusus PBB untuk hak asasi manusia di wilayah Palestina yang diduduki, Francesca Albanese mengatakan Tepi Barat, Palestina menghadapi situasi sulit imbas serangan Israel.

    Serangan yang dilakukan Israel kali ini dinilai lebih buruk sejak Intifada Kedua pada 2000 lalu. Saat ini Israel melakukan serangan udara, penghancuran rumah dan infrastruktur penting, termasuk lahan pertanian.

    “Sejarah menunjukkan bahwa strategi Israel untuk membangun ‘Israel Raya’ yang bebas dari kehadiran Palestina bergantung pada pemindahan paksa dan penindasan terhadap rakyat Palestina,” katanya dilaporkan WAFA.

    Lebih lanjut, dia mengatakan Israel bertujuan untuk membersihkan etnis dan menghapus orang Palestina sebagai suatu bangsa.

    Masyarakat internasional didesak untuk memenuhi kewajibannya dalam melindungi warga Palestina dari pemusnahan. Menurutnya, satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah dengan menerapkan Pendapat Penasehat Mahkamah Internasional.

    Pendapat ini menyatakan pendudukan yang dilakukan Israel selama puluhan tahun di wilayah Palestina sebagai tindakan yang melanggar hukum. 

    “Palestina adalah luka yang dalam, menegaskan bahwa apa yang terjadi pada orang Palestina adalah tragedi yang dapat diduga, noda dalam sejarah Israel yang menjadi tanggung jawab kolektif masyarakat internasional,” tuturnya.

    Dia menegaskan dunia belum terlambat untuk melindungi para warga Palestina dan bisa melakukan apa yang seharusnya dilakukan.

    Sementara itu, situasi di Gaza juga semakin pelik dengan tindakan Israel yang terus melakukan pelanggaran dalam gencatan senjata. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan pihaknya akan meningkatkan serangan. Dia memerintahkan militer untuk mengambil ‘tindakan tegas’ terhadap Hamas.

    “Israel, mulai sekarang, akan bertindak melawan Hamas dengan kekuatan militer yang semakin meningkat,” kata Kantor Perdana Menteri dalam sebuah pernyataan.***

    Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News