Tag: Benjamin Netanyahu

  • Ribuan Warga Israel Geruduk Gedung Parlemen Yerusalem, Protes Keputusan Netanyahu Atas Serangan Gaza – Halaman all

    Ribuan Warga Israel Geruduk Gedung Parlemen Yerusalem, Protes Keputusan Netanyahu Atas Serangan Gaza – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Ribuan warga Israel menggelar aksi demo di depan Gedung Parlemen Yerusalem untuk memprotes kebijakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Rabu (19/3/2025).

    Aksi protes ini terjadi sehari setelah Netanyahu memerintahkan untuk pasukannya untuk melanjutkan serangan besar-besaran ke jalur Gaza yang merupakan daerah kantong Palestina.

    Netanyahu berdalih serangan dilancarkan untuk menggertak Hamas, usai militan Palestina ini menolak membebaskan sandera Israel.

    Dengan melanjutkan serangan ke jalur Gaza, Netanyahu berharap Hamas dapat segera memulangkan 59 sandera Israel yang ditawan Hamas sejak Oktober 2023.

    Namun keputusan ini justru dinilai masyarakat Israel sebagai ancaman, lantaran dapat mempengaruhi upaya Hamas dalam melakukan pengembalian tahanan.

    Kerabat para sandera di Jalur Gaza mengatakan keputusan untuk melanjutkan serangan dapat “mengorbankan” orang-orang yang mereka cintai. 

    Dalam konteks ini, Hamas sering kali terlibat dalam perundingan mengenai pertukaran tahanan, yang biasanya melibatkan tawar-menawar terkait dengan penyanderaan atau pertukaran tahanan antara Israel dan kelompok tersebut.

    Akan tetapi, serangan militer atau eskalasi konflik seringkali memperumit jalannya negosiasi semacam itu.

    Eskalasi militer dapat memperburuk hubungan antara kedua pihak dan meningkatkan ketegangan.

    “Pemerintah tidak bertindak demi kepentingan terbaik rakyat. Sebaliknya, mereka melayani kepentingan politik mereka sendiri untuk tetap berkuasa,” kata Merav Hemi (45), seorang warga Israel, mengutip dari Anadolu.

    Sandera yang dibebaskan Yarden Bibas, yang istri dan dua putranya yang masih kecil dibunuh saat ditawan, mengatakan bahwa kembalinya Israel ke medan perang membawanya kembali ke Gaza.

    “Tekanan militer membahayakan sandera, kesepakatan membawa mereka kembali,” kata Bibas.

    Warga Kecam Pemecatan Bos Shin Bet

    Selain memprotes serangan Gaza, aksi demo digelar untuk melampiaskan amarah publik karena Netanyahu memecat kepala badan intelijen Shin Bet Ronen Bar.

    Ini lantaran Ronen Bar sangat dihargai oleh banyak pihak karena profesionalisme dan keberhasilannya dalam menjaga keamanan, sehingga pemecatannya dianggap sebagai langkah yang kontroversial. 

    Warga merasa bahwa pemecatan ini bisa mempengaruhi stabilitas dan efektivitas badan intelijen yang sangat penting, serta memicu kekhawatiran masyarakat karena Netanyahu kemungkinan akan menunjuk loyalisnya untuk posisi vital itu.

    “Sudah saatnya kita mengakhiri kegilaan ini sebelum kita tidak punya siapapun untuk diselamatkan, sebelum kita tidak punya negara lagi,” kata pemimpin protes Shikma Bressler.

    Tak hanya masyarakat sipil yang melakukan aksi protes atas tindakan kontroversi Netanyahu, pemimpin oposisi Yair Lapid juga turut melayangkan kecaman keras kepada Netanyahu.

    Di laman X, Yair Lapid mengimbau masyarakat untuk bersatu, mentang kebijakan Pemerintah Netanyahu.

    “Pemerintah tidak akan berhenti di garis merah. Satu-satunya solusi adalah persatuan, tetapi bukan persatuan yang diam, bukan persatuan yang menyerah, bukan pula persatuan yang semu,” ujar oposisi Yair Lapid di X.

    “Yang kami maksud ialah persatuan seluruh rakyat yang bersatu dan berkata: Cukup,” imbuhnya.

    (Tribunnews.com/Namira)

  • Gempuran Israel Hantam Rumah-rumah di Gaza, Tewaskan 10 Orang

    Gempuran Israel Hantam Rumah-rumah di Gaza, Tewaskan 10 Orang

    Gaza City

    Serangan udara Israel menghantam wilayah Khan Younis di Jalur Gaza bagian selatan pada Kamis (20/3) dini hari, saat operasi militer intens kembali dilakukan di daerah kantong Palestina tersebut. Sedikitnya 10 orang tewas akibat gempuran Tel Aviv itu.

    “Sedikitnya 10 warga sipil tewas dan puluhan orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan udara Israel yang menargetkan enam rumah di sebelah timur Khan Younis di Jalur Gaza bagian selatan,” tutur juru bicara badan pertahanan sipil Gaza, Mahmud Bassal, seperti dilansir AFP dan Al Arabiya, Kamis (20/3/2025).

    Serangan udara besar-besaran Israel kembali menghujani Jalur Gaza sejak Selasa (18/3) waktu setempat, saat upaya untuk memperpanjang gencatan senjata menghadapi kebuntuan. Gempuran militer Tel Aviv itu merusak ketenangan yang berlangsung selama dua bulan terakhir di wilayah tersebut.

    Laporan Bassal pada Rabu (19/3) menyebut sedikitnya 470 orang tewas di Jalur Gaza sejak Israel kembali melanjutkan serangan udara skala besar.

    Sedikitnya 14 orang lainnya, sebut Bassal, tewas akibat serangan udara Israel yang menghantam kota Beit Lahia, Jalur Gaza. Para korban tewas itu disebut berasal dari satu keluarga yang sama.

    Bassal menyebut serangan udara Israel “menargetkan sebuah rumah yang menjadi tempat tenda duka didirikan”. Beberapa orang lainnya dikhawatirkan masih tertimbun reruntuhan.

    Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu mengatakan dirinya memerintahkan militer Israel untuk mengambil “tindakan keras” terhadap Hamas sebagai respons atas penolakan kelompok itu untuk membebaskan para sandera yang tersisa, dan karena penolakan mereka terhadap proposal gencatan senjata.

    Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, dalam pernyataan via video memberikan apa yang disebutnya sebagai “peringatan terakhir” untuk “penduduk Gaza”.

    “Ikuti saran Presiden Amerika Serikat. Kembalikan para sandera dan singkirkan Hamas, dan pilihan-pilihan lainnya akan terbuka bagi Anda — termasuk kemungkinan untuk pergi ke tempat-tempat lainnya di dunia bagi mereka yang menginginkannya,” ucap Katz dalam peringatannya.

    Dia tampaknya merujuk pada peringatan yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada awal bulan ini, yang berbunyi: “Kepada rakyat Gaza: Masa depan yang indah menanti, tetapi tidak jika Anda menahan para sandera. Jika Anda melakukannya, Anda MATI!”

    Dari total 251 sandera yang ditahan sejak serangan mengejutkan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, sebanyak 58 sandera diyakini masih ditahan di Jalur Gaza, termasuk 34 sandera yang menurut militer Tel Aviv telah tewas.

    Sementara itu, dengan dilanjutkannya serangan-serangan Israel, menurut otoritas kesehatan Gaza, total jumlah korban tewas di Jalur Gaza sejak awal perang kini mencapai lebih dari 48.570 orang.

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

  • Rusia Khawatir dengan Serangan Terbaru Israel ke Gaza

    Rusia Khawatir dengan Serangan Terbaru Israel ke Gaza

    PIKIRAN RAKYAT – Israel kembali melakukan serangan besar-besaran ke Gaza pada Selasa, 18 Maret 2025 yang menewaskan lebih dari 400 orang warga Palestina. Serangan Israel ini menuai kecaman dari dunia internasional.

    Rusia memperingatkan soal kemungkinan ‘spiral eskalasi’ di tengah serangan terbaru Israel di Gaza. Serangan tersebut menewaskan mayoritas wanita dan anak-anak.

    “Situasi yang makin memburuk, kembalinya ketegangan yang meningkat, inilah yang membuat kami khawatir,” kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov kepada wartawan di Moskow dilaporkan Anadolu Agency.

    Peskov menyebut Rusia akan terus memantau situasi di Gaza dan berharap agar situasi kembali ke arah yang damai.

    Sejak serangan Oktober 2023, Israel telah membunuh 48.500 warga Palestina yang sebagian besar wanita dan anak-anak. Selain itu, lebih dari 112.000 lainnya mengalami luka-luka.

    Dunia internasional telah berulang kali mengecam tindakan Israel yang melakukan genosida di Gaza. Pada November 2024, Pengadilan Kriminal Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanannya Yoav Gallant.

    Keduanya dinilai sebagai dua orang yang harus bertanggung jawab atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

    Tak hanya perintah penangkapan, Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional karena genosida di Gaza.

    Palestina desak dunia internasional

    Terkait serangan yang kembali digencarkan Israel di Jalur Gaza, Kementerian Luar Negeri Palestina mendesak dunia internasional untuk segera bertindak agar Israel tak lagi melakukan serangan. 

    “Gangguan terhadap upaya internasional untuk membangun kembali Gaza dan penghindaran Israel terhadap kewajiban gencatan senjata,” demikian pernyataannya.

    “Kami menyerukan sikap internasional yang tegas untuk menegakkan penghentian agresi segera dan memperingatkan terhadap upaya pendudukan untuk melaksanakan rencananya untuk menggusur rakyat kami,” kata kementerian tersebut.

    Fasilitas kesehatan rusak

    Dampak serangan Israel ini juga telah menyebabkan banyak fasilitas medis di Gaza rusak. Palang Merah Internasional memperingatkan soal kondisi ekstrem yang bisa mengganggu fasilitas kesehatan di Gaza.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengonfirmasi kekurangan obat-obatan di Jalur Gaza yang juga telah dikonfirmasi oleh Palang Merah Palestina (PRCS).

    “Banyak fasilitas medis benar-benar kewalahan di seluruh Gaza”, kata Tommaso Della Longa, juru bicara Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.

    Della Longa mengatakan fasilitas medis sedang berjuang dengan jumlah pasien dan tekanan pada persediaan medis yang semakin menipis.

    “Terjadi kekurangan makanan, perlengkapan, dan bahan bakar,” katanya.

    Juru bicara WHO, Tarik Jasarevic memperingatkan bahwa stok obat-obatan semakin menipis.

    “Sayangnya, karena kekurangan obat-obatan ini, ada risiko petugas kesehatan tidak dapat memberikan perawatan untuk berbagai kondisi medis, tidak hanya untuk cedera trauma,” katanya kepada wartawan.

    Kondisi fasilitas medis di Gaza yang mengkhawatirkan ini juga diperparah dengan ditutupnya akses bantuan. Padahal, WHO memiliki 16 truk berisi persediaan medis yang siap memasuki Gaza, yang mana untuk itu diperlukan gencatan senjata dan akses.***

    Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News

  • Israel Sebar Selebaran, Paksa Warga Gaza Mengungsi Jelang Operasi Serangan Maut – Halaman all

    Israel Sebar Selebaran, Paksa Warga Gaza Mengungsi Jelang Operasi Serangan Maut – Halaman all

    TRIBUNNEWS.COM – Militer Israel kembali menyebarkan selebaran berisi perintah agar warga sipil Gaza segera mengungsi dan meninggalkan area pertempuran di utara dan selatan wilayah Palestina, Rabu (19/3/2025).

    Perintah itu disampaikan juru bicara militer Avichay Adraee saat kampanye pengeboman udara meningkat di daerah kantong Palestina.

    Dalam keterangan resminya ia memerintahkan warga di sejumlah daerah di Beit Hanoun dan Khan Younis untuk mengungsi.

    Tak hanya itu, warga Palestina juga didesak untuk  segera meninggalkan kota Beit Hanoun di Gaza utara dan Khuza’a serta Abasan di Selatan, karena wilayah-wilayah ini merupakan zona pertempuran berbahaya.

    “Demi keselamatan Anda sendiri, Anda harus segera mengungsi ke tempat perlindungan yang diketahui di bagian barat Kota Gaza dan di Khan Younis,” katanya di akun X miliknya seperti dilansir Anadolu.

    Pasca perintah evakuasi di keluarkan, sejumlah warga Palestina mulai berbondong-bondong meninggalkan rumahnya an mencari tempat lain yang lebih aman, menyusul rencana serangan besar-besaran Israel, di Jalur Gaza, Palestina.

    Sambil membawa barang yang bisa diselamatkan, warga Gaza mulai berjalan kaki menuju pengungsian, menyusul rencana serangan besar-besaran Israel, di Jalur Gaza, Palestina.

    Israel tak menyebut sampai kapan evakuasi ini akan berlangsung.

    Namun menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) tidak ada jaminan keselamatan, perlindungan, dan kesejahteraan yang diberikan bagi mereka yang diperintahkan untuk pergi, terlebih lagi bagi mereka yang tetap tinggal.

    Netanyahu Ancam Bakal Lanjutkan Serangan di Gaza

    Adapun perintah evakuasi ini mencuat usai Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu bersumpah akan terus melanjutkan serangan besar-besaran ke jalur Gaza yang merupakan daerah kantong Palestina.

    Ancaman ini dilontarkan Netanyahu untuk menggertak Hamas, usai militan Palestina ini menolak membebaskan sandera Israel.

    Dari 251 sandera, Israel menyebut masih tersisa 58 orang yang ditahan Hamas sejak Oktober 2023 lalu.

    “Saya memperingatkan Hamas bahwa jika mereka tidak membebaskan tawanan kami, kami akan melanjutkan pertempuran dan itulah yang telah kami lakukan,” ujar Netanyahu di kutip dari Anadolu.

    “Ini baru permulaan. Mulai sekarang, kami akan bertindak melawan Hamas dengan intensitas yang semakin meningkat, bernegosiasi hanya di bawah tembakan, dan kami akan terus berjuang untuk mencapai semua tujuan perang,” imbuh Netanyahu.

    Meski tindakan Israel mendapat kecaman dari sejumlah pihak dan pemimpin dunia, namun hal tersebut tak membuat Netanyahu mundur.

    Netanyahu berkomitmen untuk terus melanjutkan serangan mematikan,  mengatakan bahwa serangan itu baru tahap permulaan.

    Korban Tewas Gaza Tembus 436 Jiwa

    Imbas serangan brutal Israel, Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan bahwa  lebih dari 438 orang dilaporkan tewas.

    Termasuk diantaranya dalah 183  anak-anak, sementara sisanya di dominasi oleh wanita dan orang tua.

    Lebih lanjut, selain warga sipil Israel juga turut menargetkan serangan ke anggota biro politik dan pejabat senior Hamas.

    Setidaknya sudah ada 5 petinggi Hamas yang tewas lantaran menjadi target serangan militer Israel di Gaza pada Selasa dini hari (18/3/2025).

    Menurut saksi mata, tanki-tank Israel menembaki dari seberang perbatasan utara ke selatan Jalur Gaza, menghantam rumah-rumah dan perkemahan tenda pengungsi.

    “Itu adalah malam neraka. Rasanya seperti hari-hari pertama perang,” kata Rabiha Jamal, 65 tahun, seorang ibu dari lima anak dari Kota Gaza.

    (Tribunnews.com / Namira)

  • Lagi-lagi Israel Gempur Gaza hingga Para Pejabat Hamas Tewas

    Lagi-lagi Israel Gempur Gaza hingga Para Pejabat Hamas Tewas

    Jakarta

    Lagi-lagi Israel menggempur wilayah Jalur Gaza, Palestina, di Ramadan ini. Akibat serangan itu, para pejabat Hamas tewas seketika.

    Dirangkum detikcom, Rabu (19/3/2025), kelompok Hamas menyatakan sejumlah pejabat mereka tewas dalam gelombang serangan udara Israel terhadap Jalur Gaza pada Selasa (18/3) yang menewaskan lebih dari 400 orang. Salah satu yang tewas disebut sebagai kepala pemerintahan Hamas di Jalur Gaza yang bernama Essam al-Dalis.

    “Para pemimpin, bersama dengan keluarga mereka, menjadi martir setelah menjadi sasaran langsung oleh pesawat pasukan pendudukan Zionis,” demikian pernyataan Hamas, seperti dilansir AFP dan Al Arabiya.

    Essam al-Dalis, atau yang disebut juga sebagai Essam Addalees, diyakini merupakan kepala de-facto pemerintahan Hamas di Jalur Gaza.

    Al-Dalis yang merupakan anggota biro politik Hamas di Jalur Gaza, terpilih menjadi salah satu pemimpin kelompok itu sejak Maret 2021 dan menjadi kepala pemerintahan Hamas di Jalur Gaza pada Juni tahun yang sama.

    Pada November 2023, Israel mengklaim telah mengebom sebuah bangunan milik Hamas, saat Al-Dalis ada di dalamnya. Diklaim oleh Tel Aviv pada saat itu bahwa Al-Dalis bersama para tokoh pemimpin Hamas lainnya tewas dalam serangan itu.

    Dalam pernyataannya, Hamas juga menyebut Mahmoud Abu Watfa yang memimpin Kementerian Dalam Negeri Hamas dtewas dalam serangan udara Israel. Watfa, yang disebut sebagai Jenderal Hamas, juga memimpin kepolisian dan dinas keamanan internal Hamas yang ada di Jalur Gaza.

    Petinggi Hamas Tewas

    Foto: Ilustrasi Gaza (REUTERS/Mahmoud Al-Basos).

    Satu lagi petinggi Hamas yang tewas dalam serangan Israel, menurut pernyataan Hamas itu, adalah Bahjat Abu Sultan yang merupakan direktur jenderal pada dinas keamanan internal Hamas.

    Sebelumnya, menurut laporan Reuters dan ynetnews.com, sedikitnya ada lima pejabat senior Hamas yang tewas bersama anggota keluarga mereka dalam serangan udara Israel pada Selasa (18/3).

    Selain Al-Dalis, Watfa dan nama-nama yang disebutkan di atas, ada satu nama lagi yang dilaporkan tewas, yakni Ahmed Al-Hetta yang menjabat Wakil Menteri Kehakiman Hamas ddan Mohammad Al-Jmasi yang merupakan anggota Biro Politik Hamas.

    Selain menewaskan para petinggi Hamas, menurut para saksi mata, serangan-serangan udara Israel juga menghantam rumah-rumah warga dan area perkemahan yang menampung warga sipil Palestina yang mengungsi. Tank-tank Israel bahkan dilaporkan melintasi garis perbatasan Gaza.

    Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, dalam pernyataannya, mengatakan dirinya telah memerintahkan militer untuk mengambil “tindakan keras” terhadap Hamas sebagai respons atas penolakan kelompok itu untuk membebaskan para sandera yang tersisa, dan karena penolakan mereka terhadap proposal gencatan senjata.

    Israel bersumpah akan terus bertempur hingga semua sandera yang masih disandera Hamas dan militan sekutunya di Jalur Gaza dibebaskan.

    Halaman 2 dari 2

    (whn/maa)

    Hoegeng Awards 2025

    Usulkan Polisi Teladan di sekitarmu

  • ‘Lepaskan Pakaian Perbudakan’, Kata-Kata Fenomenal Jubir PIJ Abu Hamza Sebelum Dibunuh Israel – Halaman all

    ‘Lepaskan Pakaian Perbudakan’, Kata-Kata Fenomenal Jubir PIJ Abu Hamza Sebelum Dibunuh Israel – Halaman all

    ‘Lepaskan Pakaian Perbudakan’, Kata-Kata Fenomenal Jubir PIJ Abu Hamza Sebelum Dibunuh Israel

    TRIBUNNEWS.COM – Gerakan Jihad Islam Palestina (Palestine Islamic Jihad/PIJ) telah mengonfirmasi identitas sebenarnya juru bicara sayap militernya, Abu Hamza, yang tewas dalam serangan udara Israel pada Selasa (17/3/2025) malam.

    Serangan itu merupakan bagian dari serangan Israel yang sedang berlangsung di Jalur Gaza, yang mengakibatkan kematian lebih dari 400 warga Palestina, termasuk hampir 200 anak-anak dalam 48 jam terakhir.

    Dalam sebuah pernyataan, gerakan tersebut mengumumkan kalau Abu Hamza adalah Naji Abu Seif.

    Beberapa anggota keluarganya terbunuh bersamanya, termasuk istrinya Shaimaa Abu Seif, saudaranya Ghassan Maher Abu Seif, saudara iparnya Sara Abu Seif, dan anak-anak mereka.

    “Dengan penuh kebanggaan dan kehormatan, Gerakan Jihad Islam di Palestina mengumumkan kepada rakyat Palestina yang agung dan kepada negara-negara Arab dan Islam tentang kesyahidan pemimpin Naji Abu Saif Abu Hamza”, kata PIJ, seraya menambahkan bahwa ia “dibunuh oleh tentara kriminal dalam serangan berbahaya yang juga menargetkan keluarganya dan keluarga saudaranya.”

    Berikut ini beberapa pernyataan fenomenal Abu Hamza yang paling terkenal semasa menjadi juru bicara PIJ, seperti dilansir PC:

     

    ‘Pedang Yerusalem’

    Sejak 2014, Abu Hamza telah menjabat sebagai juru bicara Brigade Al-Quds, sayap militer PIJ.

    Ia dikenal karena penampilannya yang menonjol di media, terutama setelah konfrontasi militer utama dengan Israel.

    Pada bulan Juni 2021, Abu Hamza membuat pernyataan penting setelah Operasi Pedang Yerusalem, nama yang disematkan milisi Palestina untuk perlawanan terhadap serangan Israel di Jalur Gaza yang terkepung antara 11 dan 21 Mei 2021.

    Serangan selama 11 hari tersebut mengakibatkan tewasnya lebih dari 260 warga Palestina di Gaza, dan sedikitnya 2.000 lainnya terluka.

    Selama periode ini, kelompok perlawanan Palestina menembakkan roket ke arah Yerusalem untuk pertama kalinya, mengejutkan Israel dengan jangkauannya, yang melumpuhkan bandara dan transportasi Israel.

    Untuk pertama kalinya, warga Palestina di Israel juga ikut serta dalam pertempuran tersebut.

    Saat itu Abu Hamza menegaskan:

    “Brigade Al-Quds akan terus melanjutkan operasinya terhadap lokasi pendudukan Israel kapan saja. Perlawanan Palestina tidak akan tunduk pada tekanan atau ancaman apa pun. Perjuangan kami terus berlanjut dan tak tergoyahkan.”

    ‘Pertempuran Balas Dendam dan Harga Diri’

    Pada tanggal 7 Oktober 2023, milisi Perlawanan Palestina melancarkan Banjir Al-Aqsa, serangan mendadak berskala besar yang melibatkan tembakan roket ke wilayah Israel dan infiltrasi oleh pejuang Palestina melintasi pagar yang memisahkan Gaza dari Israel selatan.

    “Hari ini, kita telah memulai pertempuran balas dendam dan harga diri. Kita berada di tengah-tengah perang menyeluruh dengan musuh Zionis, dan ini baru permulaan,” kata Abu Hamza pada kesempatan itu.

    Pada hari yang sama, Israel melancarkan perang genosida di Gaza, yang sejauh ini telah menewaskan hampir 50.000 warga Palestina dan melukai banyak lagi, serta menyebabkan kerusakan luas di Jalur Gaza yang terkepung.

    ‘Tidak Ada Alasan’

    Selama Ramadan pertama di bawah genosida, pada 2 Maret 2024, Abu Hamza menyampaikan pesan yang kuat kepada dunia Muslim dalam sebuah pernyataan yang disiarkan di saluran Telegram Brigade Al-Quds.

    “Tidak ada alasan bagi siapa pun untuk mengabaikan pertempuran yang kita lakukan atas nama negara Islam, terutama mereka yang memiliki tentara, pesawat, dan artileri,” kata Abu Hamza, seraya menambahkan:

    “Bukankah sudah waktunya bagi kalian untuk mengerahkan artileri kalian seperti orang-orang bebas di Yaman, Lebanon, dan Irak? Bukankah sudah waktunya bagi kalian untuk menanggalkan jubah perbudakan dan kehinaan terhadap Amerika, Setan Besar, dan mengikuti contoh dari orang-orang yang terhormat?”

    “Kami katakan kepada bangsa Arab dan umat Islam, sebagaimana kalian menghadap Allah dengan salat wajib dan puasa, menghadaplah Palestina dengan senjata dan kewajiban jihad,” lanjutnya.

    ‘Mitra dalam Takdir’

    Abu Hamza selalu menegaskan pentingnya persatuan di medan perang, di mana semua gerakan perlawanan harus bekerja sama.

    “Biarkan musuh tahu bahwa kita bersama Lebanon, Yaman, dan Irak—satu front dalam damai dan perang, mitra dalam takdir dan pengambilan keputusan,” katanya.

    “Mahkota di Kepala Kita”

    Berbicara kepada rakyat Palestina, mendiang juru bicara militer tersebut mengatakan: “Kalian adalah simbol martabat, kebanggaan, dan mahkota kepala kami, dan kami tidak akan melepaskan hak-hak kalian, tidak peduli seberapa besar kami berbagi rasa sakit dan luka dengan kalian.

    “Kita mampu meneruskan pertempuran ini, tidak peduli berapa lama itu berlangsung,” pungkas Abu Hamza.

    “Tidak Lain Selain Perlawanan”

    Menyikapi masalah Gaza pasca perang, Abu Hamza mengirim pesan yang jelas kepada Israel:

    “Pesan kami kepada musuh dan pemimpin gerombolan, Netanyahu, adalah bahwa masalah hari berikutnya di Gaza ditentukan tidak lain oleh perlawanan Palestina.”

    Menghadapi Musuh

    Pada tanggal 22 Januari, dalam pernyataan tertulis tiga hari setelah gencatan senjata dicapai, Abu Hamza menolak gagasan bahwa perang Israel di Gaza merupakan reaksi terhadap operasi militer tunggal.

    Sebaliknya, ia berpendapat hal itu mencerminkan kebijakan perang dan genosida jangka panjang Israel terhadap rakyat Palestina.

    “Kami memulai pertempuran ini dengan percaya kepada Tuhan, meninggalkan rumah, keluarga, dan harta benda kami, sepenuhnya menyadari beratnya tanggung jawab yang kami dan rakyat kami tanggung,” katanya.

    Menyoroti aliansi yang lebih luas dalam perjuangan ini, ia menyatakan:

    “Kami menghadapi pendudukan bersama sekelompok orang beriman di Yaman, Lebanon, Irak, dan Iran atas nama 1,5 miliar Muslim.”

    Secara langsung menanggapi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, ia menambahkan:

    “Sejak awal, motto kami adalah: tidak peduli berapa lama perang ini berlangsung, kami siap menghadapinya.”

    Face To Face

    Abu Hamza menekankan bahwa pejuang Palestina telah terlibat konfrontasi langsung dengan pasukan Israel sepanjang perang.

    “Semua orang menyaksikan bagaimana kami berhadapan langsung dengan tank musuh, menunjukkan klaim sah kami atas tanah tersebut,” katanya.

    “Sejak tank pertama memasuki Gaza, para pejuang kami berada di lapangan, muncul dari terowongan dan posisi tempur untuk mengusir penjajah menggunakan aset tempur.”

    Abu Hamza menguraikan bagaimana operasi perlawanan berlanjut hingga saat-saat terakhir sebelum gencatan senjata, dan menganggap ketahanan mereka berkat persiapan selama bertahun-tahun.

    “Musuh mengantisipasi penyerahan kami dengan bendera putih tetapi hanya menemukan spanduk hitam dan kematian di medan perang Gaza.”

    “Militer Israel gagal melenyapkan perlawanan, menyelamatkan tawanan, atau mencapai tujuan apa pun selain penghancuran dan kepunahan,” imbuhnya.

    “Pilar-Pilar Tanah Ini”

    Abu Hamza berpendapat bahwa meskipun kekuatan militernya sangat besar, Israel telah gagal mencapai tujuannya.

    Ia menunjuk ketahanan Palestina sebagai ciri khas perang:

    “Salah satu ciri paling menonjol dari pertempuran ini adalah ketangguhan legendaris rakyat Palestina yang hebat, yang memberikan contoh yang tak tertandingi dalam hal perjuangan dan keteguhan.”

    Akhirnya, ia berbicara langsung kepada rakyat Palestina:

    “Kalian adalah pilar negeri ini dan landasan setiap harapan. Tanpa keteguhan kalian, perlawanan tidak akan ada, dan kita tidak akan mencapai keberhasilan ini.”
    (Kronik Palestina)

  • Menteri Pertahanan Israel Katz Ngomong Begini Setelah Israel Melancarkan Serangan ke Gaza – Halaman all

    Menteri Pertahanan Israel Katz Ngomong Begini Setelah Israel Melancarkan Serangan ke Gaza – Halaman all

    Menteri Pertahanan Israel Katz Ngomong Begini Usai Israel Melancarkan Serangan ke  Gaza

    TRIBUNNEWS.COM- Israel akan melanjutkan operasinya di Gaza sampai semua sandera Israel dibebaskan dari daerah kantong itu, Menteri Pertahanan Israel Katz mengumumkan Selasa malam, Anadolu Agency melaporkan.

    Tentara Israel menggempur Jalur Gaza Selasa pagi, menewaskan sedikitnya 404 orang, melukai lebih dari 562 orang, dan melanggar perjanjian gencatan senjata yang berlaku pada 19 Januari.

    Gambar-gambar dari Gaza menunjukkan bahwa mayoritas korban adalah warga sipil yang rumahnya dibom pada malam hari, termasuk wanita dan anak-anak.

    Berbicara saat berkunjung ke Pangkalan Udara Tel Nof di Rehovot, Israel bagian tengah, seperti dilansir harian Israel Yedioth Ahronoth, Katz mengucapkan selamat kepada angkatan udara dan darat atas “operasi pencegahan yang belum pernah terjadi sebelumnya” yang dilakukan semalam di Gaza.

    “Hamas harus memahami bahwa aturan mainnya telah berubah,” katanya. “Kami tidak akan berhenti bertempur sampai semua tawanan dikembalikan dan ancaman apa pun terhadap penduduk selatan dihilangkan,” imbuhnya, mengacu pada permukiman di dekat Gaza.

    Israel memperkirakan bahwa 24 warga Israel disandera di Gaza, bersama dengan jenazah 35 orang lainnya. 

    Sebaliknya, lebih dari 9.500 warga Palestina masih dipenjara di penjara-penjara Israel, mengalami penyiksaan, perampasan hak asasi manusia, dan pengabaian medis, yang telah merenggut banyak nyawa, menurut laporan hak asasi manusia Palestina dan Israel.

    Sementara Katz mengutip pembebasan tawanan dan mengakhiri ancaman yang dirasakan dari Gaza sebagai tujuan, analis Israel menghubungkan genosida baru itu dengan dorongan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk meloloskan anggaran dan mencegah keruntuhan pemerintahannya pada akhir Maret.

    Dengan melanjutkan pembantaian, Netanyahu memastikan kembalinya Menteri Keamanan Nasional yang mengundurkan diri, Itamar Ben-Gvir, ke koalisi, dan memastikan dukungan partai Kekuatan Yahudi sayap kanannya terhadap anggaran.

    Katz memperingatkan, “Jika Hamas tidak segera membebaskan semua tawanan, gerbang neraka akan terbuka bagi mereka, dan Hamas akan menghadapi kekuatan penuh militer Israel melalui udara, laut, dan darat hingga Hamas benar-benar musnah.”

    Hampir 50.000 warga Palestina terbunuh, sebagian besar wanita dan anak-anak, dan lebih dari 112.000 lainnya terluka dalam kampanye militer brutal Israel di Gaza sejak Oktober 2023.

    November lalu, Pengadilan Kriminal Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanannya Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

    Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas perangnya di daerah kantong tersebut.

     

     

    SUMBER: MIDDLE EAST MONITOR

  • Anggota Parlemen AS Menuntut Embargo Senjata Israel dan Setop Dukungan Terhadap Israel – Halaman all

    Anggota Parlemen AS Menuntut Embargo Senjata Israel dan Setop Dukungan Terhadap Israel – Halaman all

    Anggota Parlemen AS Menuntut Embargo Senjata dan Mengakhiri Dukungan Terhadap Israel

    TRIBUNNEWS.COM- Anggota DPR AS Rashida Tlaib, Ilhan Omar dan Summer Lee menuntut embargo senjata pada hari Selasa dan diakhirinya dukungan AS terhadap Israel menyusul dimulainya kembali serangan udara di Jalur Gaza yang menewaskan lebih dari 404 korban.

    Para anggota parlemen mengutuk dimulainya kembali kekerasan, yang menghancurkan gencatan senjata yang telah berlaku sejak 19 Januari.

    “Rezim apartheid Israel telah melanjutkan genosidanya, melancarkan serangan udara di seluruh Gaza dan menewaskan ratusan warga Palestina,” tulis Tlaib di X. Ia mengatakan Israel tidak akan pernah berhenti sampai ada sanksi dan embargo senjata.

    Omar menyuarakan sentimen serupa.

    “Netanyahu telah menghancurkan perjanjian gencatan senjata, membunuh ratusan orang di Gaza tanpa pandang bulu … Embargo senjata SEKARANG,” katanya.

    Lee menyoroti krisis kemanusiaan, dengan menyatakan bahwa “Israel secara konsisten melanggar gencatan senjata dan memutus semua bantuan ke Gaza … Genosida yang didukung AS ini harus diakhiri.”

    Permintaan itu muncul di tengah meningkatnya kritik terhadap dukungan AS terhadap kampanye militer Israel di Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 48.500 warga Palestina, sebagian besar wanita dan anak-anak, sejak Oktober 2023.

    Pengadilan Kriminal Internasional telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas kejahatan perang, sementara Israel menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional.

     

    SUMBER: MIDDLE EAST MONITOR

  • 436 Warga Gaza Tewas Akibat Bombardir Israel, 183 di Antaranya Anak-anak

    436 Warga Gaza Tewas Akibat Bombardir Israel, 183 di Antaranya Anak-anak

    Gaza

    Pasukan Israel terus membombardir Gaza usai gencatan senjata dengan Hamas berakhir. Terkini, sudah ada 436 warga Palestina yang tewas.

    Dilansir Aljazeera, Rabu (19/3/2025), dari 436 warga Palestina yang tewas, 183 di antaranya anak-anak. Data ini dihimpun oleh Kementerian Kesehatan Gaza.

    Seorang pejabat Hamas, Taher al-Nono, mengatakan kelompok itu tak menutup pintu untuk negosiasi lanjutan terkait gencatan senjata, meski Israel kembali membombardir jalur Gaza.

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut serangan ke Gaza itu baru ‘permulaan’. Netanyahu memastikan semua negosiasi gencatan senjata sudah kolaps.

    Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan setidaknya 49.547 warga Palestina telah dipastikan tewas dan 112.719 terluka akibat serangan Israel di Gaza, yang sering disebut genosida. Serangan brutal Israel ini berlangsung sejak akhir 2023.

    Kantor Media Pemerintah Gaza memperbarui jumlah korban tewas menjadi lebih dari 61.700. Jumlah ini berdasarkan ribuan warga Palestina yang dinyatakan hilang dan diduga jasadnya masih berada di bawah reruntuhan bangunan.

    (isa/jbr)

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

  • 8 Update Perang Gaza: Netanyahu Warning Hamas-Laut Merah Membara

    8 Update Perang Gaza: Netanyahu Warning Hamas-Laut Merah Membara

    Jakarta, CNBC Indonesia – Eskalasi mulai terbentuk kembali di Timur Tengah. Hal ini terjadi setelah Israel melanggar keputusan gencatan senjata dengan milisi penguasa Gaza Palestina, Hamas.

    Hal ini pun memancing aksi dari sekutu Hamas yang ada di kawasan. Selain itu, langkah ini juga mengaburkan prospek perdamaian dan juga pembebasan tawanan antara Hamas dan Israel.

    Berikut perkembangan terbaru eskalasi itu sebagaimana dirangkum beberapa sumber, Rabu (19/3/2025).

    1. Netanyahu Warning Hamas

    Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan bahwa serangan pada Selasa, “baru permulaan”. Hal ini, tegasnya, akan terus berlanjut hingga Israel mencapai tujuan perangnya yakni menghancurkan Hamas dan membebaskan seluruh sandera yang ditahan oleh kelompok militan tersebut.

    Negosiasi gencatan senjata lebih lanjut, kata Netanyahu dalam pidato televisi Selasa malam, akan berlangsung “di bawah tembakan”. Ini adalah pernyataan pertamanya setelah serangan yang menewaskan lebih dari 400 orang dalam satu hari, menjadi hari paling berdarah sejak awal perang pada 2023.

    “Hamas sudah merasakan kekuatan tangan kami dalam 24 jam terakhir, dan saya ingin berjanji kepada Anda-dan kepada mereka-bahwa ini baru permulaan,” ujar Netanyahu, sebagaimana dikutip The Guardian.

    Hal sama juga dikatakan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant. Ia memperkirakan bahwa perang di Gaza bisa berlangsung selama beberapa minggu atau bahkan berbulan-bulan.

    “Hamas harus memahami bahwa aturan permainan telah berubah,” kata Menteri Pertahanan Israel lainnya, Israel Katz, dalam kunjungannya ke pangkalan udara.

    “Gerbang neraka akan terbuka dan mereka akan menghadapi kekuatan penuh IDF di udara, laut, dan darat jika Hamas tidak membebaskan sandera.”

    2. Israel Turunkan Perintah Evakuasi

    Militer Israel telah mengeluarkan perintah evakuasi bagi wilayah utara dan timur Gaza, mengindikasikan kemungkinan serangan darat dalam waktu dekat. Adapun sejauh ini, erangan dilaporkan terjadi di Gaza utara serta di kota-kota Deir al-Balah dan Khan Younis di bagian tengah.

    “Salah satu serangan dilaporkan menewaskan 17 anggota satu keluarga di Rafah, termasuk lima anak, orang tua mereka, serta seorang pria dengan tiga anaknya,” menurut laporan tenaga medis di rumah sakit setempat.

    Di rumah sakit al-Shifa di Kota Gaza, para penyintas mengadakan pemakaman darurat bagi puluhan jenazah yang berjejer di halaman. Para ibu meratapi tubuh anak-anak mereka yang berlumuran darah sementara pesawat tempur terus berdengung di langit.

    Dokter berjuang keras menangani arus korban yang terus berdatangan. Per;u diketahui, korban tewas termasuk pejabat tinggi Hamas, pemimpin politik tertinggi di Gaza dan beberapa menteri, selain banyak perempuan dan anak-anak.

    3. Israel Klaim Hamas Ingin Menculik Warga

    Juru bicara militer Israel Letkol Nadav Shoshani menyatakan bahwa serangan ini diluncurkan setelah intelijen menemukan rencana Hamas untuk melakukan serangan baru, menculik atau membunuh warga sipil atau tentara Israel. Hamas juga disebut menolak membebaskan lebih banyak dari 59 sandera yang masih ditahan di Gaza, yang menurut Israel merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada Januari.

    “Hamas bisa saja memilih jalur lain. Mereka bisa memilih untuk membebaskan semua sandera, tetapi mereka malah memilih penolakan, teror, dan perang,” kata Shoshani dalam sebuah pernyataan.

    4. Laut Merah Makin Panas

    Di sisi lain, makin beringasnya Israel membuat kelompok Houthi makin reaktif. Milisi penguasa Yaman itu mengatakan akan makin gencar menyerang kapal-kapal pengiriman, terutama Israel, di Laut Merah.

    Ini menjadi dukungan baru Houthi terhadap warga Palestina di Gaza. Pernyataan serangan baru dikeluarkan di tengah tekanan militer Amerika Serikat (AS) untuk menyerang lagi Yaman dan Iran.

    “Tidak akan ada pembicaraan tentang pengurangan operasi sebelum mengakhiri blokade bantuan di Gaza. Iran tidak ikut campur dalam keputusan kami, tetapi yang terjadi adalah Iran terkadang menjadi penengah, tetapi tidak dapat mendikte sesuatu,” kata Jamal Amer, menteri luar negeri kelompok tersebut, seperti dikutip Reuters.

    Houthi telah melancarkan lebih dari 100 serangan yang menargetkan pengiriman ke Israel sejak November 2023, dengan mengatakan mereka bersolidaritas dengan Palestina atas perang Israel dengan Hamas, sekutu regional Iran lainnya, di Gaza. Mereka menghentikan operasi ketika gencatan senjata Gaza mulai berlaku pada Januari.

    5. Menlu Jerman: Perdamaian Arab Buyar

    Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock mengatakan sebelum kunjungannya ke Lebanon bahwa dimulainya kembali pertempuran membahayakan upaya positif negara-negara Arab, yang bersama-sama ingin menempuh jalur damai bagi Gaza, bebas dari Hamas. Ia mengatakan perdamaian Arab dalam bencana.

    “Semua pihak dalam konflik harus menunjukkan pengekangan diri, menghormati hukum humaniter, dan kembali berunding,” tuturnya.

    6. Israel ‘Serang’ PBB

    Serangan Israel yang tak pandang mulu menyerang PBB. di Deir el-Balah, pasukan Israel menargetkan salah satu wisma tamu PBB tempat para pekerja kemanusiaan internasional tinggal.

    Akibatnya, empat pekerja yang terluka dibawa ke Rumah Sakit Al-Aqsa dengan ambulans. Dokter di Rumah Sakit Al-Aqsa membawa mereka ke unit gawat darurat dan mencoba memberi mereka obat.

    Ini bukan satu-satunya serangan yang terjadi dalam satu jam terakhir. Pasukan Israel juga menargetkan sebuah rumah di Nuseirat.

    Situasinya semakin memburuk, dengan ledakan terus-menerus. sirene ambulans makin sering terdengar.

    Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Israel juga menyerang Kepala PBB Antonio Guterres. Ia dituding mengalami ‘kebangkrutan moral’ setelahmengatakan bahwa ia ‘marah’ dengan serangan udara Israel yang baru di Gaza.

    “Kami marah karena Anda (Antonio Guterres) menjadi Sekretaris Jenderal PBB,” tulis juru bicara Kementerian Luar Negeri Oren Marmorstein di X.

    Marmorstein menuduh kepala PBB tidak menyebutkan usulan AS untuk memperpanjang fase pertama gencatan senjata. Penolakan Hamas untuk memperpanjang fase pertama terjadi karena Hamas tetap berkomitmen untuk melaksanakan kesepakatan yang disepakati di semua fasenya.

    “Memang, kami marah dengan kebangkrutan moral Anda.”

    7. Tokoh Ekstrim Israel Kembali Jadi Menteri

    Sementara itu, tokoh sayap kanan anti-Palestina Israel, Itamar Ben-Gvir akan kembali ke posisi yang pernah dipegangnya sebelumnya, Menteri Keamanan Dalam Negeri. Ada suara bulat untuk pemulihan jabatannya.

    Ben-Gvir sendiri sebelumnya menduduki jabatan itu sebelum mundur karena kesepakatan gencatan senjata pertama Israel-Hamas. Ia merupakan tokoh yang menolak berdamai dengan Hamas, sambil terus melakukan sejumlah kunjungan provokatif ke Masjid Al Aqsa di Tepi Barat

    8. Warga Israel Pendemo Netanyahu Ditangkap

    Polisi Israel telah menahan Brigadir Jenderal Angkatan Udara Israel yang sudah pensiun, Amir Haskel, seorang aktivis anti pemerintah terkemuka. Menurut media setepat, ini terjadi saat ia melakukan unjuk rasa di kediaman pribadi Netanyahu di Yerusalem.

    Haskel menggunakan megafon untuk menuduh PM “menghancurkan gencatan senjata dan kesempatan untuk menyelamatkan para sandera”. Ketika ia ditangkap, ia dibawa ke kantor polisi Moriah.

    (sef/sef)