Jakarta, Beritasatu.com – Membaca Al-Qur’an bukan hanya sebuah ibadah, tetapi merupakan sumber pengetahuan bagi setiap muslim. Perintah membaca memiliki akar yang kokoh dalam sejarah perkembangan Islam. Dimulai dengan peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW di Gua Hira. Ayat pertama yang diturunkan, Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq (bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan), menjadi fondasi bagi pentingnya membaca dan mencari ilmu dalam Islam. Perintah ini bukan hanya sekedar membaca kata-kata, tetapi mencakup pemahaman mendalam dan pengamalan ajaran yang terkandung didalamnya.
Perintah membaca Al-Qur’an tidak hanya bertujuan untuk menghafal atau mengucapkan kata-kata-Nya, tetapi untuk memahami dan mengamalkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Tadabur atau mendalami, merupakan proses yang penting dalam membaca Al-Qur’an. Istilah ini berasal dari akar kata yang berarti berfikir tentang akhir atau kesudahan sesuatu, sehingga tadabur mencakup sesuatu yang berkaitan dengan Al-Qur’an , baik redaksi maupun kandungannya. Dengan melakukan tadabur, kita dapat menarik maksud dan pesan yang lebih dalam dari Al-Qur’an, yang pada gilirannya akan membantu kita dalam menjalani kehidupan yang lebih baik dan sesuai dengan ajaran islam.
Istilah dalam Membaca Al-Qur’an.
Quraish Shihab menjelaskan dalam bukunya bahwa al-Qur’an setidaknya menyebutkan tiga istilah yang digunakan dalam menggambarkan aktivitas membaca, yaitu iqra’-qiraah, utlu-tilawah, dan rattil-tartil. Masing-masing kata ini memiliki makna dan penggunaan yang berbeda, meskipun saling terkait. Kata iqra’-qiraah memiliki makna dasar menghimpun, menelaah, dan meneliti. Sementara itu, tilawah yang berasal dari akar kata utlu memiliki makna mengikuti yang merujuk pada penyampaian informasi sesuai urutan kejadian. Dalam konteks ini, tilawah menggambarkan proses membaca yang teratur, seperti yang dijelaskan dalam QS Al-Maidah [5]:27.
Di sisi lain, istilah tartil yang berasal dari suku kata rattala yang berarti mengatur dengan baik dan indah. Tartil al-Qur’an mengacu pada cara membaca yang indah dan benar dengan kecepatan yang sedang, serta menerapkan kaidah tajwid untuk menampilkan bunyi huruf dengan tepat. Sementara iqra-qiraah dapat digunakan untuk membaca satu huruf atau lebih, tilawah menuntut bacaan yang terdiri dari beberapa huruf dan kata serta diikuti dengan pemahaman makna dan pengamalannya.
Dalam QS Ali Imran [3]: 164, Allah Swt menegaskan bahwa Rasul-Nya tidak hanya bertugas membacakan ayat-ayat-Nya, tetapi juga menjelaskan maknanya, sehingga umat dapat memahami dan mengamalkan ajaran-Nya. Hal ini menunjukan bahwa pemahaman dan penerimaan terhadap wahyu adalah syarat penting sebelum datangnya siksa dari Allah, sebagaimana dinyatakan dalam QS Al-Qasash [28]: 59 dan QS al-Isra’ [17]: 15.
Tujuan dan Niat dalam Membaca al-Qur’an.
Al-Qur’an menuntut kita untuk membacanya, dan dari perintah ini, kita dapat menarik banyak makna yang mendalam. Menurut Quraish Shihab, Salah satu cendekiawan Muslim terkemuka, Muammad Quthub (1919-2014M), dalam bukunya yang berjudul Dirasah Qur’aniyah, menekankan bahwa seorang Muslim tidak bisa terpisah dari hubungan dengan Al-Qur’an dan aktivitas membacanya. Membaca Al-Qur’an bukan hanya sekedar kegiatan, tetapi merupakan ibadah yang dihadiahkan oleh Allah dengan pahala bagi setiap huruf yang dibaca.
Namun, Quthub mengajukan pertanyaan penting: Bagaimana seharusnya kita membaca Al-Qur’an? Apakah kita membaca untuk mengingat kematian, hari kebangkitan, dan pahala yang akan kita terima? Atau mungkin kita membaca Al-Qur’an untuk menikmati keindahan bahasa dan susunan kata-katanya? Ada juga kemungkinan kita membaca Al-Qur’an untuk mendapatkan berbagai topik dan kajian ilmiah, termasuk teori-teori bidang ekonomi, sosial, pendidikan, dan psikologi. Atau, kita bisa membaca untuk mengambil pesan-pesan moral yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari dan sampaikan kepada orang lain.
Semua tujuan tersebut sah-sah saja dan tidak dilarang. Allah menjanjikan pahala bagi siapa saja yang membaca Al-Qur’an dengan tulus dan mengharapkan keridaan-Nya. Namun, penting untuk dicatat bahwa pahala yang diterima bisa berbeda-beda tergantung pada niat dan hasil dari bacaan yang dilakukan.