PIKIRAN RAKYAT – Pejabat senior Hamas meminta para pendukungnya di seluruh dunia agar mengangkat senjata dan melawan rencana Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump untuk merelokasi lebih dari dua juta warga Gaza ke negara-negara tetangga seperti Mesir dan Yordania.
Benjamin Netanyahu sebelumnya mengumumkan langkah Israel yang sedang mengupayakan rencana yang diusulkan oleh Trump memindahkan warga Gaza ke negara lain.
“Menghadapi rencana jahat ini, yang menggabungkan pembantaian dengan kelaparan, siapa pun yang dapat memanggul senjata, di mana pun di dunia, harus mengambil tindakan,” kata Sami Abu Zuhri dalam sebuah pernyataan, Senin, 31 Maret 2025.
“Jangan menahan diri (untuk menggunakan) bahan peledak, peluru, pisau, atau batu. Biarkan semua orang berhenti berdiam diri,” katanya lagi.
Seruan Abu Zuhri datang sehari setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menawarkan untuk membiarkan para pemimpin Hamas meninggalkan Gaza, namun menuntut agar kelompok militan Palestina itu melucuti senjata mereka pada tahap akhir kesepakatan.
Hamas telah menyatakan kesediaannya untuk menyerahkan pemerintahan Gaza, tetapi telah memperingatkan bahwa senjatanya adalah “batas akhir” kesabaran mereka.
‘Keberangkatan sukarela’
Negara-negara Arab sejak itu telah mengajukan rencana alternatif untuk membangun kembali Jalur Gaza tanpa merelokasi penduduknya, yang akan dilakukan di bawah pemerintahan mendatang Otoritas Palestina dengan pusatnya di Ramallah.
Bagi warga Palestina, setiap upaya untuk memaksa mereka keluar dari Gaza akan membangkitkan kenangan kelam tragedi “Nakba”, atau bencana pemindahan massal warga Palestina selama pembentukan Israel pada tahun 1948 silam.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada bulan Februari 2025 mengatakan, sebuah badan khusus akan dibentuk untuk mengurusi ‘keberangkatan sukarela’ warga Gaza.
“Rencana awal mencakup bantuan ekstensif yang akan memungkinkan setiap penduduk Gaza yang ingin beremigrasi secara sukarela ke negara ketiga, agar menerima paket komprehensif, meliputi pengaturan keberangkatan khusus via jalur laut, udara, dan darat,” demikian pernyataan kementerian pertahanan Israel.
Israel melanjutkan pemboman hebat di Gaza pada tanggal 18 Maret dan kemudian melancarkan serangan darat baru, yang mengakhiri gencatan senjata selama hampir dua bulan dalam perang dengan Hamas.
Sejak pertempuran dimulai kembali, Kementerian Kesehatan di Gaza yang dikuasai Hamas mengatakan bahwa sedikitnya 1.001 orang telah tewas.
Kampanye militer Israel sejak Oktober 2023 telah menewaskan sedikitnya 50.357 orang di Gaza, sebagian besar dari mereka adalah warga sipil. ***
Simak update artikel pilihan lainnya dari kami di Google News