Jakarta, Beritasatu.com – Ramadan adalah bulan yang penuh berkah bagi umat Islam. Selain menjadi waktu untuk meningkatkan ibadah dan memperkuat hubungan dengan Allah Swt, bulan suci ini juga menjadi ajang memperbaiki pola hidup dan membangun kebiasaan yang lebih baik. Salah satu aspek yang sering terabaikan selama Ramadan adalah dampaknya terhadap lingkungan.
Fenomena seperti meningkatnya sampah plastik akibat kemasan takjil, pemborosan makanan saat berbuka dan sahur, serta lonjakan konsumsi listrik di masjid-masjid dan rumah-rumah, menjadi permasalahan yang sering terjadi.
Padahal, Islam telah menekankan pentingnya keseimbangan alam (al-mizan) dan tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Konsep Keseimbangan Alam dalam Islam
Ramadan seharusnya tidak hanya menjadi momen pengendalian diri dalam hal makan dan minum, juga dalam cara mengelola sumber daya alam. Artikel ini akan mengulas bagaimana Islam mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan serta bagaimana umat muslim dapat menjadikan Ramadan sebagai momentum membangun kesadaran ekologi untuk menjaga kesehatan lingkungan.
Islam mengajarkan bahwa keseimbangan adalah bagian dari sunnatullah yang harus dijaga. Allah Swt berfirman dalam QS. Ar-Rahman ayat 7-9:
وَالسَّمَآءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الۡمِيۡزَانَۙ ٧
was-samâ’a rafa‘ahâ wa wadla‘al-mîzân
Langit telah Dia tinggikan dan Dia telah menciptakan timbangan (keadilan dan keseimbangan)
اَلَّا تَطۡغَوۡا فِى الۡمِيۡزَانِ ٨
allâ tathghau fil-mîzân
agar kamu tidak melampaui batas dalam timbangan itu.
وَاَقِيۡمُوا الۡوَزۡنَ بِالۡقِسۡطِ وَلَا تُخۡسِرُوا الۡمِيۡزَانَ ٩
wa aqîmul-wazna bil-qisthi wa lâ tukhsirul-mîzân
Tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi timbangan itu.
Ayat ini menegaskan bahwa keseimbangan dalam alam adalah bagian dari sistem yang telah Allah tetapkan. Manusia diperintahkan untuk tidak merusaknya dengan cara berlebihan dalam menggunakan sumber daya atau melakukan tindakan yang dapat mencemari lingkungan.
Dalam QS. Al-A’raf ayat 31, Allah Swt juga mengingatkan:
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَࣖ
yâ banî âdama khudzû zînatakum ‘inda kulli masjidiw wa kulû wasyrabû wa lâ tusrifû, innahû lâ yuḫibbul-musrifîn
“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”
Ayat ini secara jelas melarang pemborosan, baik dalam makanan, minuman, maupun dalam hal lain yang bisa merugikan diri sendiri dan lingkungan.
Rasulullah SAW juga mencontohkan pola hidup sederhana dan penuh kesadaran. Beliau bersabda,”Tidaklah manusia memenuhi suatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi manusia beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)
Hadis ini mengajarkan bahwa hidup hemat dan sederhana bukan hanya baik bagi kesehatan, juga untuk menjaga kelestarian sumber daya alam yang semakin terbatas.
Permasalahan Lingkungan Selama Ramadan
1. Sampah plastik dari kemasan takjil
Setiap sore menjelang berbuka puasa, pasar takjil di berbagai daerah dipenuhi masyarakat yang membeli makanan dan minuman untuk berbuka. Sayangnya, sebagian besar makanan tersebut dikemas dalam plastik sekali pakai. Akibatnya, limbah plastik meningkat drastis selama Ramadan.
Sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik akan mencemari tanah dan air, serta membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai. Oleh karena itu, perlu ada kesadaran untuk mengurangi penggunaan plastik selama Ramadan. Misalnya, dengan membawa wadah sendiri saat membeli takjil.
2. Pemborosan makanan
Banyak keluarga yang menyiapkan makanan dalam jumlah besar untuk berbuka dan sahur. Namun, tidak semua makanan tersebut habis dikonsumsi, sehingga sebagian terbuang.
Sebagai wujud refleksi dari fenomena ini, Rasulullah SAW bersabda,”Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR Tirmidzi)
Daripada membuang makanan, alangkah baiknya jika makanan berlebih diberikan kepada yang membutuhkan.
3. Konsumsi energi berlebihan
Selama Ramadan, konsumsi listrik meningkat akibat penerangan di masjid-masjid dan rumah-rumah. Pendingin ruangan (AC), kipas angin, dan alat elektronik lainnya, sering digunakan secara berlebihan tanpa mempertimbangkan efisiensi energi.
Konsumsi energi yang tinggi berdampak pada peningkatan emisi karbon yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Oleh karena itu, perlu ada kesadaran untuk menggunakan energi secara lebih bijak.
Solusi Ramadan Ramah Lingkungan
Untuk menjadikan Ramadan lebih ramah lingkungan, umat muslim bisa menerapkan langkah-langkah berikut:
1. Mengurangi pemborosan makanan
Salah satu langkah utama untuk menjadikan Ramadan lebih ramah lingkungan adalah mengurangi pemborosan makanan. Hal ini bisa dimulai dengan mengambil makanan secukupnya saat berbuka dan sahur agar tidak ada yang terbuang sia-sia. Makanan yang tersisa juga sebaiknya dikelola dengan baik.
Misalnya dengan menyimpannya untuk dikonsumsi kembali atau membagikannya kepada yang membutuhkan. Selain itu, memasak sesuai dengan porsi keluarga juga menjadi langkah penting untuk mencegah makanan berlebih yang akhirnya terbuang.
2. Mengurangi penggunaan plastik
Penggunaan plastik sekali pakai selama Ramadan meningkat drastis, terutama dari kemasan takjil dan kantong belanja. Untuk menguranginya, bisa dimulai dengan membawa wadah sendiri saat membeli makanan berbuka, sehingga tidak bergantung pada kemasan plastik.
Menggunakan botol minum isi ulang juga menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan membeli minuman dalam kemasan plastik. Selain itu, tas kain atau anyaman dapat menjadi pengganti kantong plastik, yang tidak hanya lebih tahan lama, juga lebih ramah lingkungan.
3. Menghemat energi
Konsumsi energi selama Ramadhan sering kali meningkat akibat penggunaan listrik yang lebih tinggi, terutama untuk penerangan dan pendingin ruangan. Penghematan bisa dilakukan dengan menggunakan lampu hemat energi dan mematikan alat elektronik yang tidak digunakan. Penghematan juga dapat dilakukan dalam penggunaan air. Misalnya, tidak berlebihan saat berwudu atau mencuci peralatan makan. Bahkan, jika memungkinkan, penggunaan energi alternatif, seperti panel surya, untuk penerangan masjid bisa menjadi solusi jangka panjang yang berkelanjutan.
4. Mengelola sampah dengan bijak
Sampah yang dihasilkan selama Ramadan perlu dikelola dengan baik agar tidak mencemari lingkungan. Sampah organik dan anorganik harus dipilah sehingga bisa didaur ulang. Sampah makanan yang tidak habis dapat diolah menjadi kompos untuk mengurangi limbah dan bermanfaat bagi tanah. Selain itu, mendukung program bank sampah atau sedekah sampah juga merupakan langkah konkret dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan.
Kesimpulan
Ramadan bukan hanya bulan ibadah, juga momentum untuk mengendalikan konsumsi dan peduli lingkungan. Islam mengajarkan manusia sebagai khalifah wajib merawat bumi demi kelestarian generasi mendatang. Dengan menjadikan Ramadan sebagai ajang perubahan, umat muslim tidak hanya meningkatkan ketakwaan, juga berkontribusi menjaga keseimbangan alam sebagai bagian dari amanah Allah.
Penulis adalah mahasiswa pascasarjana Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI).
