Pertumbuhan Ekonomi RI Diprediksi Hanya 4 Persen Imbas Perang Iran-Israel

Pertumbuhan Ekonomi RI Diprediksi Hanya 4 Persen Imbas Perang Iran-Israel

JAKARTA – Ekonom UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya 4 persen di tahun 2025 imbas konflik Iran dan Israel.

“Padahal sebelumnya diproyeksikan bertahan di kisaran 4,5 hingga 4,7 persen. Kenaikan harga minyak akan menekan daya beli, meningkatkan inflasi, dan memperberat anggaran negara,” ungkapnya, Minggu, 22 Juni.

Dia menjelaskan, perang Iran dan Israel bukan sekadar perang regional tapi berpotensi menjadi perang global yang mengancam kestabilan ekonomi global dan nasional.

Contohnya, dampak yang langsung dirasakan adalah kenaikan harga minyak mentah Brent hingga 5 persen, sementara minyak WTI melonjak lebih dari 6 persen.

Sumber utama kekhawatiran berada di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilintasi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Jika konflik berlanjut dan jalur ini terganggu, lonjakan harga minyak akan merembet ke semua sektor.

Menurut Achmad, angka pertumbuhan ekonomi telah menjadi tantangan di tengah pemulihan paska pandemi dan tekanan inflasi global, kini terancam semakin tertekan oleh gejolak eksternal yang diakibatkan oleh konflik di Timur Tengah.

Sebab, bila harga kebutuhan pokok melambung karena kenaikan harga minyak, daya beli keluarga akan terkikis, inflasi domestik akan melonjak, dan beban hidup masyarakat akan meningkat secara signifikan.

Demikian juga dengan investasi asing langsung (FDI) yang menjadi motor penggerak pertumbuhan terancam tersendat karena meningkatnya ketidakpastian global dan investor yang memilih menunda ekspansi.

Selain itu, pendapatan negara dari ekspor komoditas, yang sempat menjadi penyelamat di masa krisis sebelumnya, juga akan terpengaruh jika permintaan global menurun atau rantai pasok terganggu akibat biaya logistik yang melonjak dan disrupsi pengiriman.

Di sisi lain, sektor pariwisata Indonesia yang mulai bangkit paska pandemi dan sangat bergantung pada mobilitas internasional, akan terpukul keras jika masyarakat global menunda perjalanan akibat ketidakpastian dan kenaikan biaya.

“Sektor manufaktur yang bergantung pada impor bahan baku dan ekspor produk jadi juga akan terkena dampak. Peningkatan biaya bahan baku dan kesulitan pengiriman dapat menghambat produksi dan daya saing,” tutup Achmad.