Pengerukan Lahan KDMP Picu Ancaman Longsor Rumah Warga di Karangnongko Pacitan

Pengerukan Lahan KDMP Picu Ancaman Longsor Rumah Warga di Karangnongko Pacitan

Pacitan (beritajatim.com) – Rumah milik Sunardi, warga Dusun Krajan, Desa Karangnongko, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, kini berada dalam ancaman longsor yang serius. Peristiwa yang mengancam keselamatan penghuni rumah ini terjadi pada Sabtu (17/1/2026) malam sekitar pukul 23.30 WIB.

Bencana ini dipicu oleh akumulasi hujan deras yang mengguyur wilayah Pacitan selama beberapa hari terakhir hingga membuat struktur tanah menjadi labil. Selain faktor cuaca, longsor diduga kuat akibat adanya pengerukan tanah di bagian bawah tebing untuk pembangunan gerai Koperasi Desa Merah Putih.

Kondisi cuaca saat kejadian sebenarnya tidak sedang turun hujan, namun pergerakan tanah tetap terjadi secara tiba-tiba. Hal ini mengonfirmasi bahwa kejenuhan air dalam tanah serta hilangnya daya dukung lereng akibat pengerukan menjadi penyebab utama.

“Waktu kejadian memang tidak hujan, tapi sebelumnya hujan deras beberapa hari. Di bawah rumah juga sedang dikeruk untuk pembangunan koperasi,” ujar Sujaryanto, anak pemilik rumah, Senin (19/1/2026).

Sujaryanto menjelaskan bahwa jarak antara bibir longsoran dengan pondasi utama rumah ayahnya kini hanya tersisa sekitar empat meter saja. Mengingat tinggi tebing diperkirakan mencapai 20 meter, risiko bangunan ambruk sewaktu-waktu menjadi ancaman nyata bagi keluarga mereka.

Meski diliputi kekhawatiran, pihak keluarga merasa sedikit tenang karena otoritas desa segera meninjau lokasi untuk melakukan langkah darurat. “Alhamdulillah sudah langsung ditangani oleh pihak desa. Mudah-mudahan aman,” tambahnya.

Kepala Desa Karangnongko, Aminudin, membenarkan bahwa pengerukan lahan tersebut memang dilakukan secara sengaja untuk pembangunan infrastruktur ekonomi desa. Proyek gerai Koperasi Desa Merah Putih ini merupakan bagian dari instruksi pemerintah agar setiap desa menyiapkan lahan strategis bagi program tersebut.

Pemilihan lokasi di lereng tersebut dilakukan karena dinilai paling strategis dan dekat dengan pusat aktivitas ekonomi masyarakat setempat. “Lokasi itu dinilai paling strategis karena dekat dengan pusat aktivitas ekonomi warga. Namun karena berada di lereng, memang harus dilakukan pengerukan terlebih dahulu sebelum pembangunan,” jelas Aminudin.

Pemerintah desa sebenarnya telah menyusun rencana mitigasi dengan membangun talud penahan tebing untuk melindungi area sekitar. Bahkan, konstruksi talud serupa telah lebih dulu diselesaikan di sekitar gedung TK yang posisinya berdekatan dengan area pengerukan tersebut.

Sayangnya, proses pengerjaan talud pengaman untuk area pemukiman warga belum sempat dilakukan sebelum longsor terjadi. Faktor cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kebonagung mendahului jadwal pengerjaan teknis yang telah direncanakan oleh pelaksana proyek.

“Untuk bagian yang dekat dengan rumah warga, pengerjaannya memang belum sampai ke situ. Namun karena faktor cuaca, longsor terjadi lebih dulu,” terangnya.

Proyek pengamanan lingkungan ini didanai oleh anggaran pemerintah desa dengan alokasi mencapai sekitar Rp100 juta khusus untuk pembangunan talud penahan tebing. Sementara itu, anggaran terpisah sebesar Rp60 juta telah dialokasikan untuk keperluan pengerukan lahan awal pembangunan gerai koperasi.

Pemerintah Desa Karangnongko berkomitmen untuk menyelesaikan dampak kerusakan ini agar tidak merugikan warga maupun mengganggu stabilitas struktur rumah Sunardi. “Pemerintah desa bertanggung jawab penuh atas kejadian longsor ini,” pungkas Aminudin. [tri/beq]