Pemprov Bali Lanjutkan Titik 9 dan 10 Shortcut Singaraja-Mengwitani

Pemprov Bali Lanjutkan Titik 9 dan 10 Shortcut Singaraja-Mengwitani

DENPASAR – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali menggelar upacara Ngeruak sebagai penandaberlanjutnya pembangunan Shortcut Singaraja-Mengwitani.

Gubernur Bali Wayan Koster dalam keterangan yang diterima di Denpasar, Rabu, mengatakan tahun ini mereka melanjutkan titik 9 dan 10 atau paket satu dan dua.

Proyek jalan pintas penghubung Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Badung ini bisa berjalan melalui kerja sama Pemprov Bali dengan Kementerian Pekerjaan Umum, dimana sejak 2025 lalu Gubernur Koster sudah meminta dukungan pusat.

“Pembangunan shortcut ini kebutuhannya sangat mendesak, baik untuk pelayanan transportasi penumpang maupun logistik, karena itu saya mohon agar pembangunan titik 9 dan 10 dapat segera dilanjutkan, dan sekarang sudah berjalan,” kata dia, Rabu, 7 Januari.

Dalam kelanjutan Shortcut Singaraja-Mengwitani ini Kementerian PU menyalurkan anggaran pembangunan sementara Pemprov Bali andil dalam pembebasan lahan hingga 316 bidang tanah senilai Rp193 miliar.

Sebelumnya, pembangunan jalan pintas ini telah rampung dan dimanfaatkan masyarakat pada titik 3, 4, 5, 6, 7 (A, B, C, D, E), dan 8, sehingga setelah kini memulai titik 9 dan 10 ada harapan agar titik 11 dan 12 juga dapat dikerjakan 2027.

“Masih harus lanjut titik 11, 12, 1, dan 2, jadi saya mohon Pak Menteri PU agar pembangunan ini berlanjut karena kebutuhannya mendesak untuk mengatasi layanan transportasi penumpang, logistik, maupun pariwisata,” ujar Gubernur Koster.

Pemprov Bali memandang kelanjutan Shortcut Singaraja-Mengwitani dan sejumlah pembangunan infrastruktur jalan sangat penting untuk keberlanjutan Bali sebagai destinasi pariwisata dan pusat usaha kelas dunia.

Pariwisata memberi kontribusi 66 persen terhadap perekonomian Bali, bahkan sepanjang 2025 lalu jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 7,05 juta.

Menurut Gubernur Bali tak tepat rasanya jika Bali tak dibantu dalam hal pemenuhan fasilitas pendukung wisatawan, sebab Bali tak bisa bekerja sendirian dalam menjaga keberlanjutan pariwisata.

“Masalahnya, daerah tidak punya anggaran cukup besar untuk menyelesaikan persoalan kemacetan ini sendirian, kalau tidak segera ditangani Bali bisa merosot daya saingnya karena isu kemacetan terus-menerus,” kata Koster.

Oleh karena itu ia berterima kasih atas dukungan Kementerian PU dan mendorong percepatan pembangunan infrastruktur strategis ini agar bisa semakin bermanfaat untuk masyarakat.

Direktur Pembangunan Jalan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian PU Asep Syarif Hidayat sendiri menyampaikan pembangunan titik 9 dan 10 ini panjangnya mencapai 3,90 kilometer, terdiri dari jalan sepanjang 2,95 kilometer dan jembatan sepanjang 942 meter.

“Proyek ini memiliki nilai kontrak sebesar Rp290,84 miliar dengan masa pelaksanaan 750 hari kalender, pekerjaan meliputi pembangunan jalan sepanjang 0,93 kilometer dan tiga jembatan dengan total panjang 593 meter, yang dikerjakan oleh Waskita–Sinarbali KSO dengan pendanaan dari SBSN Tahun Anggaran 2025–2027,” kata dia.

Sedangkan selanjutnya untuk pembangunan Shortcut Singaraja-Mengwitani titik 10 atau paket dua dengan nilai kontrak sebesar Rp187 miliar.

Kementerian PU melihat kondisi ruas jalan Singaraja–Mengwitani sendiri berisiko tinggi, dengan kelandaian mencapai 27 persen dan tercatat sekitar 140 kecelakaan per tahun dan 16 korban meninggal dunia.

Melalui perbaikan geometrik jalan ini, waktu tempuh dapat dipangkas dari 21,22 menit menjadi 8,61 menit, jumlah tikungan berkurang drastis, serta tingkat kelandaian diturunkan hingga maksimal 10 persen.

“Manfaatnya sangat signifikan, mulai dari peningkatan keselamatan, efisiensi perjalanan, hingga pengurangan emisi karbon kendaraan sekitar 10 persen,” ujar Asep.