Bisnis.com, JAKARTA — Celios menilai target Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terkait nilai ekonomi digital nasional mencapai Rp155,57 triliun pada 2026 perlu diperjelas, khususnya terkait indikator yang akan digunakan.
Ekonom Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mempertanyakan dasar perhitungan kontribusi Komdigi terhadap nilai ekonomi digital, khususnya pada data 2025 yang dijadikan pijakan untuk target 2026. Menurut Huda, sejumlah komponen utama justru menunjukkan tren perlambatan.
Komponen pertama berasal dari nilai investasi startup digital yang dinilai tengah melemah. Dia merujuk pada data investasi sepanjang 2025 yang belum menunjukkan pemulihan signifikan.
“Kita tahu, data dari Tech in Asia, nilai investasi di Q1/2025 secara total hanya Rp749,5 miliar. Pun dengan semester berikutnya juga sama. Investasi venture capital dalam negeri pun mengalami perlambatan,” kata Huda kepada Bisnis, Senin (12/1/2026).
Komponen kedua, lanjut Huda, berasal dari gross revenue industri game yang dinilai belum memiliki kejelasan definisi dalam indikator tersebut. Dia menyebut perkembangan game lokal masih terbatas.
Menurutnya, apabila perhitungan tersebut mengacu pada game asing, maka tidak ada urgensi bagi Komdigi untuk mendorong pengembangan game lokal, mengingat perputaran ekonomi game luar negeri jauh lebih besar.
Sementara itu, komponen ketiga berupa sektor logistik dinilai tidak sepenuhnya relevan sebagai dampak dari intervensi Komdigi.
“Intervensinya di bagian mana, dan dampaknya seperti apa. Industri logistik berkembang karena permintaan, bukan intervensi Komdigi. Jadi memang dari pembuatan indikatornya saja sudah tidak kredibel,” kata Huda.
Dia menambahkan, target nilai kontribusi yang ditetapkan tergolong sangat tinggi jika dibandingkan dengan kondisi industri digital saat ini. Menurutnya, investasi startup masih tertekan akibat tech winter, sementara perkembangan game lokal juga belum signifikan.
Huda menilai kontribusi tersebut pada akhirnya hanya bergantung pada sektor logistik, yang intervensi kebijakannya relatif kecil. Bahkan jika tetap diterapkan, tantangan utama masih berasal dari perlambatan investasi dan minimnya perkembangan industri game lokal.
Sebelumnya, Pengamat Telekomunikasi sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Information and Communication Technology (ICT) Institute, Heru Sutadi, menilai target kontribusi Komdigi terhadap ekonomi digital nasional relatif realistis, meskipun menghadapi sejumlah tantangan.
Menurut Heru, peluang pencapaian target tersebut ditopang oleh besarnya pasar domestik, tingginya adopsi teknologi digital oleh usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pertumbuhan sektor fintech, e-commerce, dan ekonomi berbasis data.
“Transformasi digital layanan publik juga berpotensi menciptakan efek berganda bagi ekonomi,” kata Heru kepada Bisnis, Senin (12/1/2026).
Meski demikian, Heru menyoroti sejumlah tantangan struktural, mulai dari kesenjangan infrastruktur digital antarwilayah, keterbatasan talenta digital, hingga regulasi yang dinilai belum sepenuhnya adaptif terhadap inovasi teknologi.
“Kita juga menghadapi tantangan eksternal seperti perlambatan ekonomi global dan juga domestik. Di sisi lain, disrupsi teknologi yang cepat juga dapat mempengaruhi kinerja sektor digital nasional jika tidak diantisipasi secara strategis,” ujarnya.
Heru juga menyinggung keterbatasan anggaran Komdigi pada 2026 yang dinilai belum sejalan dengan kebutuhan pengembangan sektor digital.
“Ini yang sayangnya, anggaran Komdigi di 2026 ini jauh dari postur kebutuhan anggaran Komdigi yang di atas Rp20 triliunan,” imbuhnya.
Berdasarkan hasil pembahasan Badan Anggaran DPR pada September 2025, anggaran Komdigi ditetapkan sebesar Rp8 triliun, tanpa tambahan dari usulan sebelumnya sebesar Rp12,6 triliun. Dengan demikian, total kebutuhan anggaran yang diajukan Komdigi sebesar Rp20,3 triliun tidak terpenuhi.
Dalam Renstra Komdigi 2025–2029, kontribusi Komdigi terhadap nilai ekonomi digital nasional ditargetkan meningkat secara bertahap dari Rp137,89 triliun pada 2025 menjadi Rp155,57 triliun pada 2026, Rp172,43 triliun pada 2027, Rp189,30 triliun pada 2028, hingga Rp206,16 triliun pada 2029.