Bisnis.com, BALIKPAPAN — Sejumlah analis membeberkan dampak dari beroperasinya Refinery Development Master Plan atau RDMP Balikpapan terhadap ketahanan energi di Indonesia.
Adapun, RDMP Balikpapan baru saja diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin (12/1/2026). Proyek strategis nasional (PSN) senilai Rp123 triliun itu mampu meningkatkan produksi minyak dari 260.000 barel per hari (bph) menjadi 360.000 bph.
Ketua Kelompok Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan (K3EPB) Universitas Indonesia (UI) Ali Ahmudi Achyak mengatakan, dengan peningkatan kapasitas dan kompleksitas kilang, RDMP Balikpapan memungkinkan RI mengolah minyak mentah menjadi produk bernilai tinggi yang sesuai spesifikasi domestik. Ini termasuk untuk mendukung kebijakan pemerintah tentang biodiesel B50.
Menurut Ali, dari sisi ketahanan energi dampak RDMP Balikpapan cukup besar. Pertama, kilang itu akan mengurangi ketergantungan impor solar yang selama ini menjadi salah satu penyumbang defisit neraca migas.
Kedua, meningkatkan fleksibilitas pasokan, karena produksi berada di dalam negeri dan tidak sepenuhnya bergantung pada dinamika pasar global. Ketiga, memperkuat bauran energi nasional, khususnya dalam mendukung kebijakan mandatori biodiesel yang semakin tinggi.
“Namun demikian, apakah impor solar benar-benar bisa dihentikan? Terkait itu kita perlu mencermati secara realistis. RDMP Balikpapan memang sangat signifikan, tetapi belum tentu otomatis membuat impor solar tidak ada lagi [0℅],” ucap Ali kepada Bisnis.
Menurut Ali, impor solar masih bisa terjadi dalam kondisi tertentu. Misalnya, terjadi lonjakan konsumsi yang tidak terduga, gangguan operasi kilang atau perawatan berkala, hingga pertimbangan keekonomian.
“Artinya dengan selesainya RDMP Balikpapan, impor solar berpotensi ditekan sangat jauh, bahkan bisa mendekati nol persen dalam kondisi normal, tetapi belum tentu sepenuhnya dihentikan secara permanen,” jelas Ali.
Adapun peluang ekspor solar ke pasar global tetap terbuka. Namun, hal itu biasanya bersifat “opportunistic” dan kondisional, tergantung surplus produksi dan kondisi harga internasional.
Secara keseluruhan, kata Ali, RDMP Balikpapan adalah tonggak penting menuju kemandirian energi.
“Agar optimal tetap perlu didukung oleh keandalan kilang lain, pasokan crude [minyak mentah] yang terjamin, serta manajemen distribusi yang efisien,” katanya.
Sementara itu, Praktisi Migas Hadi Ismoyo berpendapat bahwa kehadiran RDMP Balikpapan dibarengi dengan implementasi B40 dan B50 dapat membuat RI setop impor solar.
Menurutnya, RDMP Balikpapan sangat strategis dan menjadi tulang punggung pemenuhan kebutuhan solar dalam negeri.
“Menurut pendapat saya dengan tambahan produksi BBM dari RDMP Balikpapan dan dikombinasikan program B40 dan B50. Pemerintah bisa stop impor solar,” ujar Mantan sekjen Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) itu.
RDMP Balikpapan mencakup sistem penerimaan minyak mentah, pengolahan, hingga penunjang keandalan rantai pasok energi secara menyeluruh.
Proyek besutan PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) itu dinilai menjadi tonggak penting dalam pengembangan infrastruktur energi nasional yang terintegrasi.
Pasalnya, proyek dengan total investasi setara Rp123 triliun ini bertujuan untuk memodernisasi kilang eksisting. Oleh karena itu, RDMP Balikpapan akan meningkatkan kapasitas pengolahan minyak, menghasilkan BBM berkualitas tinggi dan ramah lingkungan, mendorong hilirisasi industri petrokimia, serta memperkuat ketahanan energi nasional.
RDMP Balikpapan merupakan proyek strategis yang dibangun secara terintegrasi dari penyediaan bahan baku, pipa transfer hingga produksinya.
Proyek RDMP ini juga dirancang dan dilaksanakan dalam tiga lingkup utama proyek yang saling terhubung dan terintegrasi.
Lingkup pertama adalah early work, yang mencakup 16 paket pekerjaan pendahuluan. Tahap ini meliputi persiapan dan pematangan lahan, pembangunan infrastruktur dasar, penyediaan utilitas sementara, serta pembangunan fasilitas penunjang konstruksi.
Adapun early work menjadi pondasi penting untuk mendukung kelancaran dan keselamatan seluruh tahapan konstruksi utama RDMP Balikpapan.
Pada lingkup kedua, Pertamina melaksanakan pengembangan dan pembangunan fasilitas utama kilang yang mencakup 39 unit, terdiri dari 21 unit proses baru serta 13 unit fasilitas utilitas pendukung.
Pertamina tidak hanya membangun unit baru, proyek ini juga melakukan revitalisasi 4 unit fasilitas utama pengolahan, antara lain unit distilasi minyak mentah, unit pengolahan residu, unit hydrocracking dan hydrotreating, serta pemulihan LPG.
Pembangunan dan revitalisasi unit-unit ini bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas dan keandalan pengolahan minyak mentah, sekaligus mendukung peningkatan kualitas produk BBM sesuai standar yang lebih tinggi.
Lingkup ketiga merupakan penguatan infrastruktur penerimaan dan penyaluran minyak mentah, yang mencakup pembangunan dua tangki penyimpanan minyak mentah berkapasitas masing-masing 1 juta barel.
Pada tahap ini, Pertamina juga membangun jaringan pipa transfer line onshore dan offshore berdiameter 20 inci, unloading line onshore dan offshore berdiameter 52 inci, serta fasilitas Single Point Mooring (SPM) dengan kapasitas sandar kapal hingga 320.000 DWT.