Tel Aviv –
Israel berada dalam kondisi siaga tinggi terhadap kemungkinan intervensi Amerika Serikat (AS) di Iran, yang dilanda aksi unjuk rasa antipemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Presiden AS Donald Trump, dalam beberapa hari terakhir, telah berulang kali mengancam akan melakukan intervensi terhadap situasi unjuk rasa yang diwarnai kerusuhan di Iran. Trump bahkan memperingatkan penguasa Iran agar tidak menggunakan kekerasan terhadap para demonstran.
Pada Sabtu (10/1) waktu setempat, Trump mengatakan bahwa AS dalam posisi “siap membantu”.
Menurut tiga sumber Israel yang yang hadir dalam konsultasi keamanan Israel yang digelar akhir pekan, seperti dilansir Reuters, Senin (12/1/2026), Israel kini sedang dalam kondisi siaga tinggi atas potensi langkah AS mengintervensi Iran.
Namun, ketiga sumber itu tidak menjelaskan lebih lanjut soal makna “siaga tinggi” Israel dalam praktiknya.
Sebelumnya pada Juni tahun lalu, Israel dan Iran terlibat perang selama 12 hari, di mana AS bergabung dengan Israel dalam melancarkan pengeboman terhadap fasilitas nuklir Iran.
Dalam percakapan telepon pada Sabtu (10/1) waktu setempat, menurut seorang sumber Israel yang turut hadir saat percakapan dilakukan, Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio membahas kemungkinan intervensi AS di Iran.
Situasi demo rusuh di Teheran, Iran Foto: UGC via AP
Seorang pejabat AS, yang tidak disebut namanya, mengonfirmasi bahwa Netanyahu dan Rubio memang berbicara via telepon, namun enggan mengungkapkan topik percakapan keduanya.
Sebelumnya, ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan, pada Minggu (11/1) waktu setempat, jika AS menyerang terlebih dahulu, maka “baik wilayah pendudukan maupun pusat-pusat militer dan kapal-kapal AS akan menjadi target sah kami”.
Ghalibaf tampaknya merujuk pada Israel, yang tidak diakui oleh Iran dan dianggap sebagai wilayah Palestina yang diduduki.
Sejauh ini, Israel belum memberikan sinyal keinginan mereka untuk juga mengintervensi situasi di Iran saat unjuk rasa besar-besaran mengguncang negara, yang merupakan musuh bebuyutannya tersebut. Ketegangan antara Tel Aviv dan Teheran masih meningkat karena kekhawatiran Israel soal program nuklir dan rudal Iran.
Dalam wawancara dengan media The Economist yang diterbitkan pada Jumat (9/1) pekan lalu, Netanyahu mengatakan bahwa akan ada konsekuensi mengerikan bagi Iran jika mereka menyerang Israel.
Merujuk pada unjuk rasa yang marak di Iran, Netanyahu berkata: “Untuk hal-hal lainnya, saya pikir kita harus melihat apa yang terjadi di dalam Iran.”
Halaman 2 dari 2
(nvc/ita)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5470093/original/022203300_1768197291-IMG_8130.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5470094/original/047742800_1768197305-pelaku_pencurian_di_Kabupaten_Sumba_Timur__NTT_saat_diperiksa_polisi.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)


/data/photo/2025/11/13/691589fed7171.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
