Blog

  • Menkominfo dan Mendag Kunjungi Pusat Data E1 DCI Indonesia

    Menkominfo dan Mendag Kunjungi Pusat Data E1 DCI Indonesia

    Foto INET

    Rifkianto Nugroho – detikInet

    Kamis, 21 Mar 2024 19:40 WIB

    Jakarta – Menkominfo Budi Arie Setiadi dan Mendag Zulkifli Hasan mengunjungi Pusat Data Center E1 milik DCI Indonesia. Mereka disambut Presdir DCI Indonesia Toto Sugiri.

  • Relawan Prabowo-Gibran di Bangkalan Cukur Gundul

    Relawan Prabowo-Gibran di Bangkalan Cukur Gundul

    Bangkalan (beritajatim.com) – Puluhan relawan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka di Kabupaten Bangkala, mencukur rambut bersama-sama usai KPU menetapkan pasangan Capres dan Cawapres nomer urut dua itu menang dalam Pilpres 2024.

    Ketua Relawan Prabowo-Gibran Madura, KH Muhlis Muhsin mengatakan, cukur gundul yang dilakukan puluhan relawan sebagai bentuk syukur atas kemenangan Prabowo-Gibran. “Ini bentuk syukur kami dengan mengekspresikan cukur gundul massal,” terangnya, Kamis (21/3/2024).

    Tak hanya itu, beberapa relawan juga memilih untuk mengukir rambutnya membentuk angka dua yang menyerupai nomer 2. “Ya tadi juga beberapa rambutnya dibentuk angka dua karena memang saking senangnya atas kemenangan Prabowo-Gibran,” imbuhnya.

    Tidak hanya itu, dengan terpilihnya Prabowo-Gibran sebagai Presiden dan Wakil Presiden bisa memberikan harapan baru masa depan yang lebih baik dan juga menyejahterakan masyarakat.

    “Harapan baru untuk masa depan yang lebih makmur dan memberikan kesejahteraan untuk Indonesia,” pungkasnya.

    Diketahui, selain melakukan cukur rambut, para relawan Prabowo-Gibran juga menyembelih satu ekor sapi dan 2 ekor kambing untuk dibagikan ke warga sekitar. [sar/suf]

  • Stop Perusakan Tanaman Hutan di Kabupaten Malang

    Stop Perusakan Tanaman Hutan di Kabupaten Malang

    Malang (beritajatim.com) – Balai Kesatuan Pemangku Hutan (BKPH) Sumbermanjing, Perum Perhutani KPH Malang, terus melakukan sosialiasi dan penyuluhan kepada masyarakat. Sosialisasi dilakukan paska perusakan tega’an pohon jati di kawasan hutan wilayah Ngantep RPH.Bantur beberapa waktu lalu.

    Guna menghentikan perusakan tanaman dalam kawasan hutan, pihak Perhutani melakukan koordinasi dan komunikasi dengan para Kepala Desa, tokoh masyarakat, Ketua LMDH dan KTH. Seperti yang berlangsung di Desa Tumpakrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang beberapa waktu lalu.

    Selain Desa Tumpakrejo, ada desa lain dengan modus yang sama seperti Desa Gajahrejo dan Sindurejo yang juga terdampak dengan dinamika regulasi.

    “Dilarang melakukan perusakan aset negara berupa tega’an pohon. Dalam pelaksanaan kegiatan pemanfaatan lahan dibawah tega’an pohon tentunya harus dengan komoditas-komoditas tanaman yang sudah memenuhi ketentuan yaitu yang tahan naungan pohon,” terang Kepala BKPH Sumbermanjing, Amir Hamzah mengutip salah satu sosialisasi yang disampaikan kepada masyarakat, Kamis (21/3/2024) kemarin.

    Dikatakan Amir, seperti perusakan tanaman jati di wilayah hutan Ngantep RPH Bantur beberapa waktu lalu. Modus perusakan tanaman jati masuk masa produktif tersebut, pelaku dengan cara menggergaji setengah dari diameter pohon secara membentang. Begitu terkena angin darat, semua pohon itu roboh, saling menimpa pohon satu dengan yang lain.

    “Kayu itu tidak diambil, tujuan pelaku kemungkinan besar ingin memanfaatkan lahan untuk areal pertanian,” tegasnya.

    Sayangnya, untuk sementara waktu pihak Perhutani masih belum bisa mendeteksi secara keseluruhan luas lahan yang sudah dirusak. Karena, lokasi lahan itu sporatif. Tetapi yang jelas, perusakan lahan tersebut dilakukan sejak beberapa tahun paska terbitnya SK IPHPS.

    Perusakan tega’an pohon jati di kawasan hutan wilayah Ngantep RPH Bantur.

    Saat ini, pihak Perhutani sudah melakukan larangan penggarapan lahan serta menutup eks lokasi perusakan baik dalam kawasan IPHPS maupun non IPHPS dengan tujuan untuk menghutankan kembali dan melaksanakan kegiatan perhutanan secara detail sesuai ketentuan yang ada.

    “Dengan adanya program Kawasan Hutan Dengan Pengelolaan Khusus (KHDPH) atas peran serta masyarakat dan stekholder semuanya dapat berjalan dengan baik. Selain itu, fungsi hutan juga berjalan sebagaimana mestinya serta memiliki manfaat bagi masyarakat sekitar hutan,” Amir mengakhiri. [yog/but]

  • DPRD Jember Minta Pembabatan Pohon Kopi Varietas Baru Diproses Hukum

    DPRD Jember Minta Pembabatan Pohon Kopi Varietas Baru Diproses Hukum

    Jember (beritajatim.com) – Komisi B DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, menyarankan agar pembabatan pohon kopi varietas baru di Desa Pace, Kecamatan Silo, diproses secara hukum. Komisi B siap mengawal penyelesaian kasus tersebut.

    Ketua Komisi B Siswono meminta Kepolisian Sektor Sempolan segera bertindak. “Karena di situ sudah ada unsur pembabatan tanpa seizin penyewa tanah,” katanya, ditulis Kamis (21/3/2024).

    Pembabatan terjadi pada medio Februari 2024. Ada kurang lebih tiga ribu batang pohon kopi robusta varietas Milo Pace dan 18 jenis tanaman tnmpang sari yang ditanam Hasan Putra di atas tanah kas desa seluas tiga hektare dibabat oleh perangkat desa.

    Pembabatan diduga karena sewa lahan telah berakhir pada Desember 2023. Namun Zainal Arifin, salah satu petani, menilai pembabatan dikarenakan perbedaan dukungan saat pemilihan kepala desa. “Karena Pak Haji Hasan tidak mendukung calon kepala desa yang sekarang, kopi itu akhirnya ditebang,” katanya.

    “Ini memang harus dilaporkan (ke polisi) untuk dibuktikan apakah ada tindakan kriminal. Kalau tidak ada, biar perkara perdatanya yang muncul, karena itu muncul kerugian,” kata Siswono.

    Siswono menilai, kendati masa sewa sudah habis, pembabatan tanaman tidak serta-merta bisa dilakukan. “Karena di situ ada biaya, perawatan tanaman, dan harapan masyarakat yang menyewa. Semestinya yang dilakukan adalah upaya persuasif negosiasi dengan Pak Hasan sebagai penyewa,” katanya.

    Apalagi, lanjut Siswono, varietas kopi Milo Pace sudah memperoleh sertifikat dari pemerintah. “Ini jadi ikon. Kasihan masyarakat. Dengan adanya sertifikat kopi Milo muncul ikon baru di Jember, khususnya Pace, untuk masa depan masyarakat. Tapi kandas sebelum waktunya. Nah aparat penegak hukum dan pemerintah Kecamatan Silo harus betul-betul hadir mendampingi dan menuntaskan persoalan,” katanya. [wir]

  • Kisah Mistis di Balik RS Gatoel Mojokerto: Pembuangan Jenazah Pejuang dan Luka Perang

    Kisah Mistis di Balik RS Gatoel Mojokerto: Pembuangan Jenazah Pejuang dan Luka Perang

    Mojokerto (beritajatim.com) -Kisah Kebakaran di RS Gatoel Kota Mojokerto membuat warga menjadi mengingat nostalgia saat menjalani perawatan medis atau sedang merasakan pemeriksaan di RS terkemuka di Kota Mojokerto ini.

    Bagi sebagian warga sekitar, area belakang RS Gatoel Mojokerto menyimpan aura mistis dan cerita-cerita angker. Di balik megahnya bangunan modern, tersimpan sejarah kelam yang meninggalkan jejak tak terlupakan.

    Berdasarkan penelusuran Ayuhanafiq, seorang penulis sejarah Mojokerto di Facebook (beritajatim.com telah meminta ijin untuk menculpiknya).

    “Pada masa revolusi, RS Gatoel diambil alih oleh Republik Indonesia,” kata Ayuhanafiq.

    Mojokerto menjadi pusat pengungsian dan RS Gatoel pun menjadi rumah sakit Divisi IV Narotama pimpinan Kolonel Sungkono.

    Peralatan kesehatan dari RS Simpang Surabaya dipindahkan ke RS Gatoel untuk meningkatkan kemampuannya dalam menangani korban pertempuran. Lorong dan teras pun dimanfaatkan sebagai ruang perawatan karena jumlah pasien yang membludak.

    Pada pertengahan Maret 1947, Belanda menduduki Mojokerto dan RS Gatoel. Pasien yang kebanyakan pejuang tidak sempat dievakuasi dan mengalami nasib tragis.

    Menurut beberapa kesaksian, tentara Belanda membunuh sebagian pejuang dan menguburkan mereka dalam lubang besar di belakang rumah sakit.

    Setelah kemerdekaan, RS Gatoel dibagi dua. Sebagian digunakan oleh TNI dan dinamai RS Hoediono Singgih, sedangkan sisanya dikembalikan kepada pihak PN Perkebunan dan berkembang menjadi RS Gatoel yang kita kenal sekarang.

    Kisah kelam di balik RS Gatoel menjadi pengingat sejarah kelam bangsa. Luka perang dan pengorbanan para pejuang terekam dalam setiap sudut bangunan, dan aura mistis yang tercipta menjadi pengingat akan tragedi yang tak terlupakan. (ted)

  • Keponakan Ceritakan Keseharian Semi di Magetan 

    Keponakan Ceritakan Keseharian Semi di Magetan 

    Magetan (beritajatim.com) – Semi, nenek 90 tahun, hidup di sebuah rumah kecil di Desa Gebyog, Kecamatan Karangrejo Kabupaten Magetan. Rumahnya sederhana, tanpa perabotan elektronik. Hanya lampu neon redup yang menerangi ruangan.

    Kamar tidurnya menyatu dengan ruang makan. Ruang tamu dipisahkan dengan lemari dan gorden. Tak ada sofa atau meja, hanya kursi plastik sederhana.

    Mbah Semi memiliki dua adik di desa yang sama, tetapi tinggal di rumah berbeda. Keponakannya, Wintarti, mengatakan Mbah Semi memilih tinggal sendiri. “Mbah Semi tidur di rumah keponakannya malam hari. Jaraknya dekat,” ujar Wintarti.

    Meskipun tinggal sendiri di rumah saat siang, Semi rajin bertetangga. Dia membantu tetangganya membuat kerupuk lempeng untuk mengisi waktu.

    Wintarti membantah bahwa Semi tidak menerima sejumlah bantuan. Wintarti memastikan dirinya sering mengambil bantuan dari pemerintah dan memberikannya kepada Semi.

    “Mbah Semi menerima Bantuan Bunda Kasih Rp 300.000. Saya tabung sebagian untuk kebutuhannya seperti pijat atau obat-obatan,” papar Wintarti.

    Semi mengaku kondisinya sehat dan bersyukur atas bantuan yang diterimanya. “Saya tinggal sendiri. Malam tidur di rumah ponakan. Saya sepuh tidak kerja, jadi cuma bersih-bersih rumah. Bersyukur dapat bantuan beras,” kata Mbah Semi.

    Sebelumnya diberitakan, Kisah Semi (90), seorang nenek warga Desa Gebyog Kecamatan Karangrejo Kabupaten Magetan mendadak gempar. Semi dikabarkan hidup dan sebatang kara dan tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah.

    Narasi itu bahkan mencuat di Rapat Kerja Komisi VIII DPR RI. Legislator Partai Golkar Muhammad Ali RIdha bercerita ke Menteri SOsial RI Tri Rismaharini bahwa Semi hidup sebatang kara dan tak mendapatkan bantuan. Ali menambahkan, Semi hanya makan kacang panjang dan tahu rebus saja. Tak ada beras untuk dimakan.

    Mendengar cerita Ali Ridha, Risma pun menangis di depan jajaran anggota DPR RI. Video itu pun viral di sejumlah media sosial. Namun, bagaimana faktanya di lapangan?

    Usut punya usut, Semi ternyata sudah mendapatkan berbagai macam bantuan sejak 2019 hingga saat ini. Kepala Dinas Sosial Magetan Parminto Budi Utomo mengatakan, berbagai macam bantuan sudah digelontorkan sejak 2019 lalu. Kemudian, Semi juga masih aktif sebagai penerima bantuan yang sudah masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

    “Mbah Semi ini sudah masuk dalam layanan BPJS, penerima bantuan iuran. Kartunya aktif, jika ada keluhan, bisa digunakan untuk berobat secara gratis. Kemudian juga sudah masuk DTKS dan juga merupakan penerima bantuan pangan non tunai (BPNT),” terang Parminto, Kamis (21/3/2024).

    Kemudian, ada pula bantuan dari Sentra Terpadu Kartini Temanggung yang berada di bawah Kemensos. Hingga Bantuan Permakanan Kemensos dalam bentuk makan tiap hari sebanyak dua kali. Sekali makan, nilainya Rp25.000, kemudian yang memberikan makan merupakan kelompok masyarakat yang yang sudah ditunjuk. Ditambah bantuan cadangan pangan, sebulan mendapatkan bantuan beras 10 kilogram. Namun, dilewatkan kerabat karena dikhawatirkan Semi tak bisa memasak dengan mudah.

    Tak hanya itu, untuk bantuan bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) Magetan, Semi mendapatkan bantuan dari program Bunda Kasih. Bantuan itu berupa permakanan. ‘’Nilainya Rp300.000 per bulan. Ini walinya yang ditunjuk untuk memasak dan menyalurkan makanan tersebut kepada Mbah Semi,’’ terang Parminto.

    Parminto menjamin, Semi tidak hidup sendirian dan kekurangan bantuan. Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Magetan sudah memberikan perhatian dan memantau kondisi Semi lewat Pemdes dan kerabat.

    Sementara itu, Kades Gebyog Suyanto memastikan pihaknya selalu mengutamakan Semi sebagai penerima bantuan. Utamanya saat pembagian zakat atau bantuan dari beberapa lembaga. “Kami selalu mengupayakan agar Mbah Semi ini mendapatkan bantuan. Kalau pembagian zakat, nama Mbah Semi kami selalu utamakan,” katanya.

    Diketahui, Semi tidak tinggal sendiri di rumah. Saat siang, dia tinggal di rumahnya sendiri, namun saat malam, dia tidur di rumah keponakannya. Sehingga, Semi tak hidup sebatang kara. [fiq/suf]

  • Baperida Pasuruan: Kedai dan Mobil Kopi Kapiten Penunjang

    Baperida Pasuruan: Kedai dan Mobil Kopi Kapiten Penunjang

    Pasuruan (beritajatim.com) – Pelaksanaan pansus kopi asli Kabupaten Pasuruan, Kopi Kapiten, kembali digelar di gedung DPRD. Dalam kegiatan ini, ada tiga OPD yang dipanggil tim pansus Kopi Kapiten, di antaranya yakni Baperida, Dinkop, dan Bagian Hukum.

    Selama pansus berlangsung para anggota dewan lebih berfokus pada riset dari Baperida dalam pengelolaan kopi di Kabupaten Pasuruan. Menurut Kepala Baperida Kabupaten Pasuruan, Bakti Jati Permana mengatakan bahwa branding kopi asli Kabupaten Pasuruan ini sudah dilakukan sejak tahun 2015.

    “Sebenarnya tahun 2015 sudah mulai naik branding kopi asli kabupaten pasuruan tersebut. Tapi kalau di dokrendra itu sifatnya lebih umum, cuman lebih mengarah ketika RPJMD menjadi RKPD,” jelas bakti, Kamis (21/3/2024).

    Bakti juga mengatakan bahwa untuk mabeling, gedung, dan juga kendaraan yang menggunakan logo kopi asli Kabupaten Pasuruan tersebut hanyalah penunjang. Namun dirinya tak menyebutkan secara rinci fasilitas penunjang tersebut, karena sudah masuk dalam ranah OPD masing-masing.

    Hal ini pun kemudian ditimpali oleh salah satu anggota pansus dari Fraksi PDI Perjuangan, Arifin mengatakan bahwa Baperida terlalu terburu-buru dalam melakukan riset. Sehingga RPJMD tidak fokus dan tidak bisa diimplementasikan sebagai program.

    “Menurut saya risetnta ini gagal dan terlalu terburu-buru. Sehingga RPJMD tidak fokus terfokuskan dalam implementasi program,” tambahnya.

    Sementara itu, ketua pansus, Najib mengatakan bahwa kopi asli Kabupaten Pasuruan ini jangan sampai di anak emaskan. Seperti dengan adanya nama gedung, dan adanya logo di mobil milik pemda.

    Sehingga pada pansus kedepan akan mengundang Asosiasi Petani Kopi Indonesia (Apeki) dan juga sejumlah petani kopi yang tidak tergabung dalam Apeki. “Nanti kami akan mengundang seluruh petani kopi yang ada di Kabupaten Pasuruan termasuk Apeki biar semuanya jelas dan gamblang,” tutupnya. [ada/beq]

  • Peduli Banjir Jateng, Polres Sumenep Kirim Selimut dan Pampers

    Peduli Banjir Jateng, Polres Sumenep Kirim Selimut dan Pampers

    Sumenep (beritajatim.com) – Polres Sumenep mengirimkan bantuan kepada para korban banjir di Jawa Tengah. Bantuan kemanusiaan yang dikirim tersebut berupa perlengkapan perorangan.

    “Bantuan ini merupakan bentuk kepedulian Polres Sumenep terhadap para korban banjir. Bantuan ini kami galang dari sumbangan sukarela anggota Polres Sumenep,” kata Kasi Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti, Kamis (21/3/2024).

    Bentuan dari para anggota Polres Sumenep tersebut berupa selimut 66 pcs, pampers 330 pack, pembalut wanita 410 pack, dan pakaian baru layak pakai 206 pcs.

    “Bantuan dikirimkan menggunakan truk ke Polda Jatim, untuk selanjutnya berangkat bersama sama dari Polda Jatim menuju Polda Jateng. Setiba di Jawa Tengah, nanti bantuan ini akan didistribusikan kepada para korban banjir,” papar Widiarti.

    Bantuan kemanusiaan Polres Sumenep ‘Peduli Bencana Banjir’ di wilayah Jawa Tengah dilepas langsung oleh Kapolres Sumenep AKBP Henri Noveri Santoso didampingi Wakapolres Sumenep Kompol Trie Sis Biantoro serta jajaran pejabat utama Polres Sumenep. Bantuan diberangkatkan dari depan Mako Polres Sumenep.

    “Semoga bantuan ini disalurkan dengan tepat sasaran, dan bisa meringankan beban para korban banjir,” pungkas Widiarti. [tem/beq]

  • Menelusuri RS Gatoel Mojokerto: Dulunya Milik Juragan Pabrik Gula Belanda Eschauzier

    Menelusuri RS Gatoel Mojokerto: Dulunya Milik Juragan Pabrik Gula Belanda Eschauzier

    Mojokerto (beritajatim.com) – Kebakaran yang melanda RS Gatoel dini hari tadi membawa kita kembali ke jejak sejarah panjang rumah sakit tersebut. Dahulu, RS Gatoel merupakan milik seorang warga negara Belanda bernama Eschauzier.

    Menurut Ayunafiq dalamm tulisannya di laman facebook (beritajatim.com telah ijin mencupliknya) menjelaskan pada tanggal 4 April 1930, sebuah rumah sakit diresmikan di Mojokerto.

    “Fasilitas kesehatan yang terhitung modern itu dinamakan Eschauzierfabriken Ziekenhuis atau Rumah Sakit Pabrik (Gula) Eschauzier,” kata Ayuhanafiq asal Mojokerto ini menjelaskan.

    Awal Mula Klinik Pabrik Gula

    Letaknya di Jalan Gatoel, membuat masyarakat lebih mengenalnya sebagai Rumah Sakit Gatoel. Sesuai namanya, rumah sakit ini dikhususkan untuk melayani para pegawai pabrik gula milik Eschauzier.

    Sebagai seorang taipan gula, Eschauzier memiliki banyak pabrik gula di wilayah Mojokerto, dengan SF Brangkal, Dinojo, Sentanen Lor, dan Ketanen sebagai yang terbesar. Ribuan orang yang terlibat dalam proses produksi gula membutuhkan layanan kesehatan yang memadai, dan itulah yang mendorong Eschauzier untuk membangun rumah sakit ini.

    Perkembangan Fasilitas Kesehatan

    Awalnya, di lokasi tersebut terdapat sebuah poliklinik bernama Polikliniek Gatoel yang didirikan pada tahun 1927. Seiring meningkatnya jumlah pasien, kebutuhan akan fasilitas yang lebih lengkap pun semakin mendesak.

    Menjadi Rumah Sakit Modern

    Zeikenhuis Eschauzier, nama resmi RS Gatoel saat itu, diawasi langsung oleh Prof. Rodenwaldt dari Dienst der Assaineering, dinas urusan kebersihan. Keterlibatan seorang pejabat dengan gelar akademis tinggi menunjukkan keseriusan Eschauzier dalam membangun fasilitas kesehatan yang modern.

    Melayani Pasien dari Berbagai Golongan

    Meskipun difokuskan untuk para pegawai pabrik gula, RS Gatoel juga melayani pasien umum. Hal ini dikarenakan Mojokerto memiliki populasi orang asing yang cukup besar, yaitu sekitar 10% dari total penduduk 400 ribu jiwa.

    Mayoritas orang asing di Mojokerto, sekitar 1.600 orang, bekerja di industri gula, sedangkan 4.500 orang China berfokus pada sektor perdagangan. Kedua golongan ini menjadi pengguna utama layanan RS Gatoel, bahkan pasien dari Jombang pun turut berobat di sana.

    Jejak Eschauzier di Bidang Kesehatan

    Selain RS Gatoel, Eschauzier juga membangun beberapa poliklinik, seperti di dekat Pabrik Ketanen Kutorejo. Di Surabaya, ia mendirikan Rooms Katholiek Ziekenhuis (RKZ) yang masih dikenal hingga saat ini.

    Kebakaran RS Gatoel menjadi kehilangan besar bagi dunia kesehatan di Mojokerto. Namun, sejarah panjang dan kontribusinya dalam melayani masyarakat akan selalu dikenang. (ted)

  • Dinkes dan BPOM Kediri Temukan Takjil Mengandung Boraks

    Dinkes dan BPOM Kediri Temukan Takjil Mengandung Boraks

    Kediri (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan Kota Kediri dan BPOM Kediri melakukan sidak ke pedagang takjil dadakan di Jalan Agung Suprapto, pada Kamis sore (21/3/2024). Hasilnya, petugas menemukan takjil yang mengandung zat berbahaya seperti boraks dan formalin.

    Kepala Dinkes Kota Kediri Mohammad Fajri mengatakan dari 30 sampel makanan yang diuji, dua di antaranya positif mengandung boraks dan formalin. Dua bahan berbahaya itu ditemukan pada janggelan (cincau) dan sate kerang.

    “Itu hasil uji cepat kita saat ini. Jadi sementara nanti kita akan lakukan uji konfirmasi lagi untuk memastikan apakah memang Ini memang positif ya,” tegasnya.

    Sebanyak 30 sampel makanan takjil yang diuji itu mulai es buah, es campur, cireng, sempol, dan makanan berat. Tes itu dilakukan di lokasi sidak.

    Terhadap pedagang yang terbukti menjual makanan berbahaya itu, Fajri mengaku akan melakukan pembinaan. Pihaknya juga melarang penggunaan bahan berbahaya lagi.

    Terpisah, Gidion selaku Kepala BPOM Kediri mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam membeli makanan takjil. Makanan yang biasanya berwarna mencolok sebaiknya dihindari, sebab kemungkinan menggunakan pewarna tekstil.

    “itu yang tidak boleh untuk makanan karena mengganggu kesehatan dan juga kayak seperti bakso ataupun olahan tepung. Itu kalau dia terlalu kenyal, keras itu susah pecahnya itu juga bisa mengandung boraks atau formalin,” tutupnya. [nm/beq]