Warga Tangsel Khawatir Wacana Pilkada Lewat DPRD Bisa Perkuat Oligarki
Tim Redaksi
TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com –
Wacana pemilihan kepala daerah melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) menuai kekhawatiran dari warga Tangerang Selatan (Tangsel).
Mereka menilai mekanisme tersebut berpotensi memperkuat
oligarki
politik dan menguntungkan elite serta partai tertentu.
Warga Ciputat, Iqbal (23), menilai komposisi
DPRD
di sejumlah daerah, termasuk Tangsel dan Provinsi Banten, cenderung didominasi oleh beberapa partai besar.
Kondisi tersebut, menurut dia, berisiko mempersempit pilihan kepala daerah karena hanya berputar di lingkaran elite politik tertentu.
“Menurut pandangan saya, ini malah benar-benar menimbulkan kekhawatiran karena kita bisa lihat, misalkan di Tangsel atau Provinsi Banten, DPRD itu kan dikuasai beberapa partai aja,” ujar Iqbal kepada
Kompas.com
, Rabu (14/1/2026).
Ia mengatakan, apabila pemilihan kepala daerah diserahkan kepada DPRD, proses pemilihan akan berlangsung tertutup dan terbatas di internal partai politik.
Dampaknya, peluang calon independen atau kandidat nonpartai untuk maju sebagai kepala daerah akan semakin kecil.
Iqbal menilai kondisi tersebut berbahaya bagi demokrasi karena akses publik terhadap proses politik menjadi semakin terbatas.
“Hari ini masyarakat sudah cukup bagus dalam melihat politik, kacamata politiknya sudah mulai dipakai gitu kan, sebelum-sebelumnyakan masih tabu. Kalau balik lagi ke sistem dulu ya pada akhirnya kita buta lagi terhadap politik,” jelas dia.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan Ikhwana (28), warga Pondok Ranji.
Ia menilai penyerahan kewenangan pemilihan kepala daerah kepada DPRD berpotensi menguntungkan satu atau dua partai politik tertentu.
“Tentu khawatir, karena pasti akan menguntungkan satu partai politik. Kita enggak tahu siapa yang dipilih dari DPRD itu sendiri,” kata Ikhwana.
Menurut dia, meskipun dalam sistem pemilihan langsung masih banyak warga yang belum sepenuhnya memahami rekam jejak kandidat, mekanisme tersebut tetap memberi ruang bagi publik untuk terlibat dalam proses demokrasi.
Jika pemilihan dilakukan secara tertutup di DPRD, jarak antara masyarakat dan proses penentuan pemimpin daerah akan semakin lebar.
“Kita yang milih saja kadang masih banyak yang enggak sedetail itu memahami calon, apalagi kalau diserahkan ke DPRD. Kita makin enggak tahu siapa kepala daerah itu,” jelas dia.
Wacana pemilihan kepala daerah melalui DPRD kembali mencuat setelah disuarakan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Partai Golkar.
Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia secara terbuka mengusulkan agar mekanisme pemilihan kepala daerah pada pemilu mendatang dilakukan melalui DPRD.
Usulan tersebut disampaikan Bahlil di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat perayaan HUT ke-61 Partai Golkar di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (5/12/2025).
“Khusus menyangkut
pilkada
, setahun lalu kami menyampaikan kalau bisa pilkada dipilih lewat DPRD saja. Banyak pro kontra, tapi setelah kita mengkaji, alangkah lebih baiknya memang kita lakukan sesuai dengan pemilihan lewat DPR kabupaten/kota biar tidak lagi pusing-pusing. Saya yakin ini perlu kajian mendalam,” kata Bahlil.
Hingga kini, sejumlah partai politik telah menyatakan dukungan terhadap wacana pilkada melalui DPRD, di antaranya Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Nasdem, dan Partai Demokrat.
Sementara itu, PDI Perjuangan secara terbuka menyatakan penolakan terhadap usulan tersebut.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.
Blog
-
/data/photo/2025/12/30/6953ae380a633.png?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Warga Tangsel Khawatir Wacana Pilkada Lewat DPRD Bisa Perkuat Oligarki Megapolitan 14 Januari 2026
-

Kapolres Gresik Pertahankan Jargon Spartan Demi Pelayanan Masyarakat
Gresik (beritajatim.com) – Kapolres Gresik AKBP Ramadhan Nasution tetap mempertahankan jargon “Spartan” demi meningkatkan pelayanan masyarakat. Alumnus Akpol 2007 ini juga menyiapkan sejumlah inovasi untuk memaksimalkan pelayanan publik.
Jargon Spartan merupakan akronim dari Sinergitas, Presisi, Amanah, Rukun, Teladan, Aman, dan Nyaman. Adanya jargon tersebut juga untuk memotivasi personel Polres Gresik dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
“Kami siap melayani dengan sepenuh hati untuk memastikan masyarakat merasa aman dan nyaman,” ujar AKBP Ramadhan Nasution, Rabu (14/1/2026).
Perwira menengah (Pamen) Polri ini juga menjelaskan akan meningkatkan pelayanan serta fasilitas untuk mendukung personelnya saat menjalankan tugas. Pelayanan seperti call center 110 terus dioptimalkan sebagai bentuk responsivitas terhadap laporan masyarakat terkait kehadiran Polri. “Layanan call center tersebut akan terus kami maksimalkan untuk menindaklanjuti laporan masyarakat,” ungkapnya.
Mantan Kapolsek Menganti Gresik itu juga memprioritaskan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) sebagai bentuk tanggung jawab dalam menjaga kondusivitas Kabupaten Gresik.
Setelah resmi bertugas sebagai Kapolres Gresik, masih terdapat pekerjaan rumah (PR) berupa kasus menonjol yang belum diungkap. Salah satunya adalah kasus perampokan yang dialami karyawan SPBU dengan kerugian ratusan juta rupiah di Driyorejo yang hingga kini belum terungkap pelakunya. Selain itu, terdapat empat pelaku yang masuk daftar pencarian orang (DPO) dalam kasus pengeroyokan yang menyebabkan korban baru-baru ini. (dny/kun)
-

Cerita Orang Dekat Yaqut Kecewa Tidak Dikasih Kuota Haji
GELORA.CO – Terdapat cerita dari salah seorang yang dekat dengan mantan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut), terkait dengan pengaturan tambahan kuota haji 20 ribu dari Arab Saudi.
Hal tersebut diungkap Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi dalam podcast Akbar Faizal Uncensored, yang tayang perdana pada Rabu, 14 Januari 2026.
“Di keluarga besar saya itu ada dua anggota keluarga besar saya yang belum naik haji. Satu kakak kandung saya. Yang kedua adalah paman saya. Nah dia sudah mendaftar dari tahun 2014. Nggak kunjung-berangkat. Daftar tunggunya lama sekali,” urainya mulai menceritakan.
Dia menjelaskan, saat itu dirinya berpikir bisa mendapat kemudahan untuk mempercepat keberangkatan saudara kandungnya dan pamannya, karena dekat dengan Yaqut yang di tahun 2020 sudah menjadi Menag.
“Nah mumpung saya punya teman, Menteri Agama, dan saya mendengar ada kabar bahwa (Presiden) Jokowi mendapatkan tambahan (kuota) dari Muhammad Bin Salman 20 ribu. Sehingga saya buru-buru datang ke kantor Kementerian Agama waktu itu,” ujarnya.
Namun, saat bertemu Yaqut di kantornya kala itu, respons yang didapat Islah justru tidak seperti yang diharapkan, sehingga sempat tidak percaya dengan yang dia alami.
“Kemudian datang ke Gus Yaqut, ini mumpung ada tambahan 20 ribu kuota ini ya bisa nggak sih paman dan kakak saya ini diselipkanlah sedikit. Dan jawabannya ternyata memang tidak mengenakkan buat saya,” jelasnya.
Lebih lanjut, dia memperjelas ceritanya yang setelah beberapa kali menghadap Yaqut, tetap tidak bisa meloloskan nama saudaranya untuk masuk tambahan kuota 20 ribu haji.
“Karena Gus Yaqut ketika itu bilang, ‘Cak ini sistem meskipun kamu itu teman saya, saya nggak bisa intervensi ke dalam sistem haji itu, sehingga kalau ruang tunggu kakakmu itu sekian tahun ya sudah harus mengikuti sistem itu,” ungkapnya.
“Ya kecewa saya sebagai teman. Tapi saya kemudian berpikir kan ini ada tambahan 20 ribu, bisa nggak sih dipercepat? Kita masuk ke situ. Sebab pada dasarnya cerita ini juga kita rasakan oleh banyak orang. Salah satunya saya,” pungkas Islah.
-
/data/photo/2025/08/08/6895b302df9ca.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
ART di Medan Ketahuan Curi 39 Gram Perhiasan Majikan Usai Beli 2 Motor Baru Medan 14 Januari 2026
ART di Medan Ketahuan Curi 39 Gram Perhiasan Majikan Usai Beli 2 Motor Baru
Tim Redaksi
MEDAN, KOMPAS.com
– Seorang asisten rumah tangga (ART) ditangkap polisi karena mencuri perhiasan dari rumah majikannya di Jalan Bunga Rinte, Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan.
Kapolsek
Medan Tuntungan
, Iptu Syawal Sitepu, mengatakan, pelaku bernama Rukiah (41) dan sang suami Sulistiono (49). Adapun korban ialah AM (45).
Syawal menyampaikan, Rukiah sehari-hari bekerja sebagai asisten rumah tangga.
Pada Sabtu (10/1/2026) korban mulai curiga dengan sikap pelaku yang beberapa kali minta izin pulang kampung.
Bahkan, pelaku meminta agar korban mencari pekerjaan rumah tangga yang lain.
Kemudian, korban bertemu dengan mantan pembantunya bernama Wulan.
“Dari Wulan itulah, korban mendapati kabar pelaku baru beli sepeda motor, bahkan pelaku pernah jual emas ke orang seharga Rp 40 juta,” ucap Syawal dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com melalui saluran telepon pada Rabu (14/1/2026).
Selain itu, pelaku juga tiba-tiba melunasi utangnya. Korban terkejut dan segera mengecek lemari kamarnya.
Saat diperiksa, ternyata perhiasannya sudah raib.
Korban lekas menuju tempat pekerjaan pelaku yang baru di Jalan Stella Raya.
Pelaku pun mengakui perbuatannya, lalu korban mengadu ke Polsek Tuntungan.
Pada Selasa (13/1/2026), pelaku pun ditangkap bersama suaminya Sulistiono yang turut serta membantu menjual barang curian.
Rukiah mengaku sudah tiga kali
mencuri perhiasan
korban.
“Mulai September 2025 satu gelang emas seberat 6 gram, Oktober 2025 satu cincin emas seberat 3 gram, November 2025, gelang emas 30 gram,” ungkap Syawal.
Rukiah pun telah menjual satu cincin emas 3 gram ke toko emas di Pasar Melati seharga Rp 3 juta.
Lalu, gelang emas 30 gram dijual Rp 59 juta.
“Hasil penjualan itu dipakai untuk beli dua motor, satu ponsel, satu
rice cooker
, satu cincin dan anting emas, serta dipakai untuk kebutuhan sehari-hari,” sebut Syawal.
Kini, Rukiah dan suaminya telah ditahan di Polsek Tuntungan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -
/data/photo/2026/01/14/69679a6a049c5.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)
Rumah Warga di Gunung Bugis Balikpapan Ludes Terbakar, Diduga Korsleting Listrik Regional 14 Januari 2026
Rumah Warga di Gunung Bugis Balikpapan Ludes Terbakar, Diduga Korsleting Listrik
Tim Redaksi
BALIKPAPAN, KOMPAS.com
— Kebakaran terjadi di kawasan permukiman padat penduduk di Jalan Sultan Hasanuddin, RT 33, Kelurahan Baru Tengah, Kecamatan Balikpapan Barat, Rabu (14/1/2026) malam.
Satu rumah milik warga ludes terbakar. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
Balikpapan
, Usman Ali, mengatakan api dengan cepat membesar karena material bangunan rumah terbuat dari kayu.
Petugas membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk mengendalikan api agar tidak merembet ke rumah lain.
“Satu
rumah terbakar
dan tidak ada korban jiwa,” ujar Usman.
Ia menjelaskan, proses pemadaman sempat terkendala akses jalan menuju lokasi yang sempit dan padat permukiman.
Kondisi tersebut diperparah oleh warga yang berhenti di badan jalan untuk menyaksikan kebakaran. Sehingga mobil pemadam kesulitan masuk ke area lokasi.
“Mobil pemadam sempat kesulitan masuk karena akses sempit dan banyak warga yang menonton di jalan,” kata Usman.
Sebanyak delapan unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk menangani kebakaran di kawasan yang dikenal dengan sebutan
Gunung Bugis
tersebut.
Ketua RT 33 Kelurahan Baru Tengah, Aco, menyebut rumah yang terbakar merupakan milik warga bernama Sumarni.
Berdasarkan keterangan korban, api diduga berasal dari
korsleting listrik
.
“Di dalam rumah itu dihuni enam kepala keluarga. Saat kejadian, orang tua pemilik rumah sedang berada di Teritip untuk menjaga anak,” kata Aco.
Menurutnya, pemilik rumah bersama warga sekitar sempat berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya.
Namun, api telanjur membesar sehingga mereka memilih menyelamatkan diri dan anggota keluarga.
“Warga sempat berusaha memadamkan api, tapi tidak sempat. Akhirnya yang terpenting menyelamatkan keluarga,” ujarnya.
Copyright 2008 – 2026 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved. -

Berhasil Ungkap Kasus Curas, Kapolres Pamekasan Apresiasi 13 Personil Satreskrim
Pamekasan (beritajatim.com) – Sebanyak 13 personil Satreskrim Polres Pamekasan, mendapat penghargaan sebagai anggota berprestasi berkat hasil ungkap kasus pencurian dengan kekerasan (curas) yang sempat mengagetkan masyarakat di wilayah setempat.
Penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Kapolres Pamekasan, AKBP Hendra Eko Triyulianto dalam Upacara Pemberian Penghargaan Bagi Anggota Berprestasi di Mapolres Pamekasan, Jl Raya Nyalaran 224 Pamekasan, Rabu (14/1/2026).
Ke-13 personil Satreskrim Polres Pamekasan tersebut, masing-masing Kasat Reskrim AkP Dony Setiawan, Kanit Idik I IPDA Reza Farizal Sjafii, serta AIPTU Junaidi, AIPTU Muh Rahbini, AIPDA Mustofa, AIPDA Dedi Novianto, AIPDA Abdul Al Farisi, AIPDA Adi Sutrisno, BRIPKA Deny Irawan, BRIPKA Achmad Hairor Rozi, BRIGPOL Buyung, BRIGPOL Yolanda Rio Fahrurrozi, dan BRIPTU Moh Iqbal Aji Asqolani.
Mereka merupakan personil yang dinilai berhasil mengungkap dan menangkap kasus tindak pidana curas di Jalan Raya Tacempa, Desa Plakpak, Kecamatan Pegantenan, Pamekasan, Madura, Rabu (7/1/2026).
“Kami ucapkan selamat kepada para anggota atas penghargaan ini, hal ini tidak lepas dari kerja keras yang berujung pada prestasi yang ditorehkan. Khususnya dalam mengungkap kasus jambret yang menyebabkan korban meninggal dunia,” kata Kapolres Pamekasan, AKBP Hendra Eko Triyulianto.
Dalam kasus tersebut, tersangka berinisial UA (30) warga Desa Tlagah, Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang, berhasil ditangkap di wilayah Sampang, Sabtu (10/1/2026). Khususnya setelah tiga hari dari kejadian dengan berbekal identifikasi melalui rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian. “Dengan keberhasilan ini, banyak masyarakat yang mengucapkan terima kasih,” ungkapnya.
“Melalui penghargaan ini kami harapkan dapat menjadi motivasi bagi anggota lainnya, khususnya dalam meningkatkan kinerja dan tugas sesuai dengan job masing-masing. Semoga hal ini bisa menjadi motivasi, guna meningkatkan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” pungkasnya. [pin/kun]

/data/photo/2026/01/14/6967b370b0b35.jpeg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)

/data/photo/2026/01/13/69662bacac433.jpg?w=1200&resize=1200,0&ssl=1)