Organisasi: API

  • Sumur Gas Pertamina Meledak di Cidahu Subang – Page 3

    Sumur Gas Pertamina Meledak di Cidahu Subang – Page 3

    Liputan6.com, Jakarta – Ledakan terjadi di sumur gas milik Pertamina EP di Kampung Babakan Cidahu, Desa Cidahu, Kecamatan Pagaden Barat, Subang, Jawa Barat, Selasa (5/8/2025) pagi.

    Ledakan disertai kobaran api besar sempat membuat warga sekitar panik dan berhamburan keluar rumah. Salah seorang warga, Ali Nurdin mengaku sempat kaget saat ledakan pertama terjadi.

    “Ledakan pertama itu dentumannya keras sekali. Sekitar pukul 04.00 WIB,” ucap Ali saat di hubungi Liputan6.com, Selasa (5/8/2025).  

    Ali mengatakan sebelum ledakan terjadi sempat terlihat semburan gas yang asalnya dari arah sumur pengeboran. “Semburannya itu buat api menyala-nyala. tingi sekali,” kata dia. 

    Dia pun khawatir semburan itu berdampak pada lingkungan disekitar rumahnya yang hanya berjarak sekitar 3 hingga 4 kilometer. “Suara apinya menggelegar sekali,” kata dia. 

    Terkait ledakan itu, Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawa membenarkannya. Dia mengatakan pihaknya hingga kini masih melakukan pendalaman.

    ”Selasa 5 Agustus 2025 Pukul Pukul 04.20 Wib bertempat di PT Pertamina EP Regional 2 Zona 7 Field Subang telah terjadi kebocoran gas yang mengakibatkan ledakan,” ucap Hendra. 

    Pasca ledakan hebat akibat kebocoran tabung gas 12 kilogram di sebuah rumah warga di perumahan Golden Palm, Kalideres, Jakarta Barat. Garis polisi terpasang di dalam lokasi kejadian.

  • Republik Srimulat

    Republik Srimulat

    Republik Srimulat
    Dosen Fakultas Hukum Universitas Pasundan & Sekretaris APHTN HAN Jawa Barat
    LANGIT
    boleh kelabu, jalan boleh berlubang, tetapi tawa masih memantul dari dinding—seolah menolak retak.
    Di sudut-sudut kota, radio tua kadang memutar lakon
    Srimulat
    : ledakan guyon, jeda, tepuk tangan palsu yang terasa sungguh.
    Ironisnya, riuh gelak itu kini seperti gema republik—yang di panggungnya pemerintah bergincu, oposisi berkumis palsu, dan khalayak menanti lucu.
    Kita menatapnya, kadang malu, kadang maklum, sebab lelucon kerap lebih jujur daripada pidato kenegaraan.
    Negara selalu membutuhkan teater. Ia membangun set: gedung parlemen bergaya futuristik dengan cat yang terkelupas; baliho berisi janji yang diulang sampai pudar; konferensi pers yang mengkilap, namun kata-katanya serupa suara gamelan patah.
    Di panggung ini para aktor—menteri, juru bicara, influencer bersertifikat—menambahkan “selo” dan “cis” sebagai efek tertawa.
     
    Seperti di Srimulat, kejanggalan sengaja dipelihara: logika dibalik, kesalahan dilupakan, dan penonton digiring percaya bahwa kekonyolan adalah takdir yang mempersatukan.
    Tahun-tahun belakangan, parodi tak lagi sekadar cermin; ia menjadi alat
    kekuasaan
    . Satire diproduksi resmi—varietas “lucu tapi patuh”—agar kritik kehilangan gigi.
    Ketika parlemen tergopoh mengejar tenggat undang-undang, publik disodori drama komedi: akrobat kursi rapat yang kosong, adu pantun di rapat pansus, selebgram diundang untuk “sosialisasi”.
    Srimulat pernah membuat kita tertawa karena jarak antara panggung dan realitas; kini republik membuat kita khawatir karena jarak itu menghilang.
    Di belakang lakon selalu ada sutradara. Ia tak tertawa; ia menghitung durasi, mengatur lampu, memutus siapa boleh bicara.
    Kuasa di republik ini cenderung memilih mode lawak: menutup blunder dengan musik organ tunggal, mengganti skandal dengan gimik kuliner, atau mencuri fokus menggunakan topik “guyon” tentang penasihat spiritual presiden.
    Kini, kekuasaan itu juga menghibur dengan hukum. Di tengah vonis yang baru saja dijatuhkan kepada seorang terdakwa korupsi, Istana menggelar pertunjukan lain: pemberian amnesti dan abolisi.
    Bukan untuk para penyair pengkritik, bukan bagi aktivis pembela lingkungan, tetapi kepada mereka yang jejak pidananya terekam dalam gegap gempita persidangan.
    Hukum dijahit ulang di ruang belakang, diserahkan dengan senyum. Bukan keadilan yang mengantar pulang, melainkan kuasa yang membebaskan.
    Satu tanda tangan mengalahkan ribuan lembar berkas dakwaan. Seperti guyon Srimulat: salah bukan soal bukti, tapi siapa yang pegang mikrofon.
    Dalam hening, korupsi berganti kostum menjadi amal, nepotisme menyerupai “legacy”, dan sensor dikemas sebagai “moderasi konten”.
    Namun, panggung hidup karena penonton. Kita, para pembayar tiket yang dipungut lewat pajak, kerap tergoda ikut tertawa.
    Ada rasa lega ketika komedi menanggalkan kemarahan. Tapi di antara derai tawa itu, ada sepasang mata anak muda yang baru di-PHK—dari 9,9 juta pengangguran terbuka menurut data BPS (Mei 2025); ada petani yang benihnya tergadai—di tengah utang sektor pertanian yang menembus Rp 82 triliun; ada perawat kontrak yang gagal jadi ASN—dari 160.000 tenaga kesehatan non-ASN yang masih menunggu kepastian.
    Mereka ikut menepuk tangan, meski dalam hati penuh denting cemas.
    Republik Srimulat membuat rakyat terhibur sesaat, lalu pulang membawa keresahan yang dilipat rapi di saku.
    Srimulat lahir di era yang serba sumbing—masa ketika tertawa menjadi bentuk perlawanan halus.
    Dalam desingan kontrol politik, mereka menyelipkan sindiran pada hegemoni feodal dan represi militer.
    Kini, kita mewarisi memori itu, tapi lupa menggigit. Lelucon dibiarkan tanpa dendam: ia menguap sebagai hiburan
    streaming
    , bukan pengingat luka.
    Padahal humor sejatinya tajam, seperti pisau dapur yang sanggup mengupas kesewenang-wenangan. Tanpa ingatan, tawa meluruh jadi tepuk tangan otomatis, kehilangan subversi.
    Kebijakan hari ini kerap dibungkus kosa kata lucu: “pemutihan lahan”, “penataan ulang tarif”, “relaksasi pajak dosa”, “digitalisasi santai”. Bahasa meninabobokkan akal.
    Seperti pernah disindir Goenawan Mohamad, kata-kata dapat membentuk pagar tak kasatmata yang membatasi cara kita melihat kenyataan.
     
    Republik Srimulat mengganti debat serius dengan lelucon berbumbu slogan. Percakapan publik menari di atas jargon, sementara detail pasal diselipkan sunyi di lembar penjelasan. Ketika kata kehilangan beban, hukum pun kehilangan gravitasinya.
    Ada ironi besar: semakin banyak panggung humor, semakin tipis ruang tertawa bebas. Komika dipanggil polisi—seperti Mamat Alkatiri yang dilaporkan karena materi lawaknya soal “polisi dan candaan narkoba” (Mei 2023); karikaturis ditangkap—seperti kasus “Putik” di Pamekasan (Januari 2024) yang sketsanya dianggap menghina tokoh publik; warga dituntut UU ITE karena unggahan meme.
    Negara memproduksi candaan, tapi takut pada tawa yang tak ia kendalikan. Di sini, gelak tawa resmi adalah tanda kesetiaan; tawa liar dianggap makar.
    Maka republik ini bagai badut yang melarang lelucon. Kita dipaksa tertawa pada waktu yang tepat, dengan volume yang diukur, demi menjaga kesepakatan sandiwara.
    Meski begitu, harap berderak seperti kayu panggung tua. Di sela skenario, muncul generasi yang menyusun satire baru: kanal YouTube investigatif, puisi di media sosial, film indie yang menggulung fakta dalam absurditas.
    Mereka mengembalikan fungsi humor sebagai lampu sorot, bukan sekadar kembang api. Dalam naskah baru itu, rakyat bukan hanya penonton; mereka penulis, sutradara, sekaligus auditor kebenaran.
    Jika panggung resmi terus mengulang kelakar usang, publik akan menciptakan teater alternatif—tanpa gincu palsu dan tawa kalengan.
    Republik Srimulat mungkin tak bisa menghapus derita, tetapi ia mengingatkan: ketawa adalah hak politik, dan guyon bisa lebih dalam dari pidato.
    Ketika lakon kekuasaan semakin menyerupai dagelan, cara paling waras adalah menertawakan sekaligus menelanjangi.
    Namun hari-hari ini, panggung itu menawarkan pertunjukan baru yang getir: seseorang divonis, dan tak lama kemudian dihapuskan oleh surat sakti dari Istana.
    Abolisi tak pernah dibahas publik, amnesti tak sempat ditimbang publik. Dalihnya hukum, tapi lakonnya guyon. Seolah negara ini bersandiwara sampai akhir babak.
    Lelucon yang baik tak berhenti pada
    punchline
    ; ia mendorong kita bangkit, menata ulang panggung, menulis dialog yang lebih jujur.
    Suatu hari, barangkali, kita menyaksikan pertunjukan baru—di mana tawa bukan kamuflase, melainkan tanda bahwa pemerintah dan rakyat sama-sama manusia. Dan ketika tirai tertutup, kita pulang tanpa rasa diperdaya.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.

  • Senggolan di Jalan, Pengemudi Mitsubishi Pajero Sport Keluarkan Benda Mirip Senjata Api di Pondok Kopi

    Senggolan di Jalan, Pengemudi Mitsubishi Pajero Sport Keluarkan Benda Mirip Senjata Api di Pondok Kopi

    JAKARTA – Dua pengemudi mobil dan motor terlibat cek-cok mulut akibat bersenggolan di kawasan Banjir Kanal Timur (BKT), Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur.

    Kejadian itu terekam kamera amatir warga yang melintas dan diunggah akun Instagram @kabar.jaktim. Dari rekaman tersebut terlihat sejumlah warga mencoba melerai kedua pengemudi yang berselisih.

    “Sudah-sudah, bubar saja sudah,” ucap perekam video sambil berusaha memisahkan keributan tersebut.

    Dalam narasi video disebutkan bahwa pengemudi mobil diduga mengeluarkan senjata api jenis shotgun saat terjadi keributan.

    “Pengemudi mobil mengeluarkan senjata diduga shotgun di Jembatan BKT Pondok Kopi, Duren Sawit Jakarta Timur,” tulis keterangan video yang diunggah @kabar.jaktim.

    Narasi video juga menjelaskan, kejadian bermula ketika sepeda motor menabrak bagian belakang mobil Mitsubishi Pajero Sport. Namun, pengendara motor menolak disalahkan sehingga terjadi adu mulut.

    Menanggapi kejadian tersebut, Kapolsek Duren Sawit AKP Sutikno mengatakan, pihaknya belum dapat memastikan identitas kedua pengendara yang terlibat cekcok tersebut.

    “Kita sudah cek TKP, lebih jauh kita lakukan penyelidikan, siapa itu pemilik (shotgun) ya,” kata Kompol Sutikno saat dikonfirmasi, Senin, 4 Agustus 2025.

    Lebih lanjut Kompol Sutikno mengatakan, sampai saat ini belum ada pihak yang melaporkan kejadian tersebut secara resmi ke Polsek Duren Sawit.

    “Sampai saat ini yang bersangkutan, para pihak ini enggak ada yang buat laporan, jadi kami melakukan penyelidikan saja,” katanya.

  • 20 Contoh Puisi Kemerdekaan Indonesia: Singkat, Mengharukan, dan Penuh Semangat

    20 Contoh Puisi Kemerdekaan Indonesia: Singkat, Mengharukan, dan Penuh Semangat

    Bisnis.com, JAKARTA – Puisi kemerdekaan adalah hasil dari rasa cinta Tanah Air dalam bentuk karya sastra. Puisi ini menjadi jembatan emosi antara sejarah perjuangan dan generasi masa kini.

    Dalam setiap bait puisi, tertuang semangat perlawanan, rasa syukur atas kemerdekaan, dan harapan akan masa depan bangsa.

    Bagi bangsa Indonesia, puisi kemerdekaan bukan sekadar bacaan seremonial. Ia adalah nyanyian jiwa para pejuang yang diwariskan melalui kata-kata. Artikel ini menyajikan lebih dari 30 contoh puisi bertema kemerdekaan: dari yang singkat dan padat, cocok untuk lomba anak-anak, hingga puisi perjuangan yang menggetarkan.

    Apa Itu Puisi Kemerdekaan?

    Puisi kemerdekaan adalah karya sastra yang mengangkat tema kebebasan bangsa, perjuangan pahlawan, serta semangat nasionalisme. Biasanya dibacakan saat Hari Kemerdekaan, puisi ini memiliki kekuatan untuk menginspirasi dan mengobarkan jiwa patriotik.

    Puisi-puisi bertema kemerdekaan penting untuk memperkuat nilai kebangsaan. Dengan bahasa yang indah dan metaforis, puisi ini mengajarkan kita tentang keberanian, pengorbanan, dan harapan.

    Kumpulan Puisi Kemerdekaan Indonesia

    1. Puisi Kemerdekaan 4 Bait

    “Indonesia Merdeka”

    Merah putih berkibar megah,
    Di langit luas penuh sejarah,
    Tetes darah para pejuang,
    Takkan pernah hilang dikenang.

    Langkah tegap para pahlawan,
    Menyusuri medan tanpa ampunan,
    Demi tanah yang mereka cintai,
    Hingga nyawa pun rela dikorbankan.

    Kini kami berdiri gagah,
    Di bawah bendera yang tak goyah,
    Janji kami setia menjaga,
    Tanah air pusaka yang mulia.

    Mari lanjutkan perjuangan ini,
    Dengan ilmu, akhlak, dan budi,
    Indonesia rumah abadi,
    Tempat cinta tak pernah mati.

    “Merah Putih di Pagi Hari”

    Pagi datang, sang fajar bersinar,
    Bendera berkibar penuh getar,
    Merah darah, putih suci,
    Lambang negeri yang berani.

    “Nyanyian Kemerdekaan”

    Bait demi bait kami lantunkan,
    Puisi perjuangan penuh harapan,
    Di balik kata ada semangat,
    Untuk negeri yang hebat dan kuat.

    2. Puisi Kemerdekaan Singkat dan Padat

    “17 Agustus”

    Tujuh belas datang menjelang,
    Merah putih pun berkibar terang,
    Merdeka bukan sekadar slogan,
    Tapi semangat dalam perjuangan.

    “Bendera”

    Kain itu tak hanya warna,
    Ia cerita luka dan bahagia,
    Kami kibarkan dengan bangga,
    Karena kami anak Indonesia.

    “Kemerdekaan”

    Dulu dijemput dengan darah,
    Kini dijaga dengan cinta,
    Merdeka adalah amanah,
    Untuk semua anak bangsa.

    “Pejuang Tak Bernama”

    Tak tertulis namamu di buku,
    Tapi jasamu menyatu,
    Dalam tiap langkahku,
    Menuju masa depan baru.

    3. Puisi Kemerdekaan untuk Anak SD

    “Bendera Merah Putih”

    Warnamu cantik berkibar di angkasa,
    Merah semangat, putih bersih jiwa,
    Aku kecil tapi cinta negara,
    Indonesia tanah air tercinta.

    “Pahlawan Hebat”

    Pahlawan itu orang berani,
    Melawan penjajah tanpa henti,
    Kami sekolah dengan damai,
    Karena jasa mereka yang damai.

    “Sekolah di Negeri Merdeka”

    Aku ke sekolah tiap hari,
    Belajar tentang bumi pertiwi,
    Dulu dijajah, kini merdeka,
    Terima kasih para pahlawan kita.

    “17 Agustus Ceria”

    Pasang bendera di depan rumah,
    Kami lomba sambil tertawa lepas,
    Hari merdeka adalah anugerah,
    Waktu bahagia untuk semua kelas.

    4. Puisi Perjuangan Pahlawan

    “Jejak Pahlawan”

    Langkahmu menapak tanah luka,
    Darahmu menyubur semangat bangsa,
    Namamu abadi di sejarah,
    Jasamu terukir dalam marwah.

    “Kartini dan Cahaya”

    Bukan senjata yang ia genggam,
    Namun pena dan cita membentang,
    Ia nyalakan api pembebasan,
    Bagi perempuan yang ingin terang.

    “Soedirman di Garis Depan”

    Dalam sakit pun tetap berdiri,
    Jiwa besar tak bisa ditaklukkan,
    Strategi dan iman berpadu rapi,
    Memimpin tanpa ragu, tanpa beban.

    “Patimura Bangkit”

    Di Maluku suara bergema,
    Api melawan menembus senjata,
    Patimura berdiri tegak,
    Hingga penjajah terusir jauh ke balik samudra.

    5. Puisi Kemerdekaan Karya Sendiri

    “Tanah Air”

    Tanah ini bukan hanya lumpur,
    Ia tanah darah dan peluh,
    Tempat ibu mengajar cinta,
    Tempat ayah menanam doa.

    “Kemerdekaan adalah Janji”

    Merdeka bukan hanya kata,
    Ia janji untuk setia,
    Pada bangsa, pada cita,
    Hingga habis usia.

    “Negeriku Cahaya”

    Dari Sabang hingga Merauke,
    Aku melihat terang tak pernah mati,
    Bukan dari lampu atau api,
    Tapi dari semangat yang tak bisa mati.

    “Anak Merdeka”

    Aku lahir setelah penjajahan,
    Tapi jiwaku ikut berjuang,
    Karena tanah ini,
    Adalah warisan darah juang.

    “Bait Bait Untuk Negeri”

    Kutulis puisi untukmu Ibu Pertiwi,
    Karena syair kadang lebih pedih dari senapan,
    Dan kata-kata kadang lebih tajam,
    Daripada peluru yang beterbangan.

    Tips Menulis Puisi Kemerdekaan Sendiri

    Gunakan diksi kuat dan penuh makna: Kata-kata seperti “merdeka”, “bangsa”, “pahlawan”, dan “tanah air” sangat relevan.
    Pilih tema spesifik:  Misalnya, perjuangan Bung Karno, kisah Cut Nyak Dien, atau semangat pelajar zaman kini.
    Tambahkan rima dan irama: Rima akhir atau aliterasi membantu puisi terasa musikal dan enak dibaca.
    Gunakan metafora dan imaji kuat: Bayangkan “bendera berkibar seperti dada berdebar” atau “tanah air yang bernapas dalam dada”.
    Latih membaca dengan intonasi: Puisi kemerdekaan sering dibaca lantang. Latih tempo, tekanan, dan ekspresi wajah.

    Contoh pendek:

    “Merdeka”

    Tak sekadar bebas dari rantai,
    Tapi hak untuk bermimpi dan menyuarakan damai.

    Puisi kemerdekaan bukan hanya bentuk karya sastra, tapi juga jendela sejarah dan wadah semangat kebangsaan. Lewat bait-bait puitis, kita mengenang jasa pahlawan dan menyalakan api perjuangan baru di hati generasi muda.

    Dengan membaca dan menulis puisi bertema kemerdekaan, kita ikut melanjutkan warisan kemerdekaan dengan cara yang kreatif dan menginspirasi.

    Disclaimer: Artikel ini dihasilkan dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) dan telah melalui proses penyuntingan oleh tim redaksi Bisnis.com untuk memastikan akurasi dan keterbacaan informasi.

  • Ibu di Jatim Meninggal Saat Nonton Sound Horeg, Dokter Jantung Singgung Efek Bising

    Ibu di Jatim Meninggal Saat Nonton Sound Horeg, Dokter Jantung Singgung Efek Bising

    Jakarta

    Ibu muda bernama Anik Mutmainah (38) warga Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Lumajang meninggal dunia saat menonton karnaval sound horeg. Pihak RSUD Pasirian, tempat Anik dilarikan, mengatakan pasien mengalami henti jantung dan henti napas.

    Tapi, apakah kebisingan ekstrem dari sound horeg dapat membahayakan kesehatan tubuh, terutama organ jantung?

    Menjawab hal ini, spesialis jantung dr Yuri Afifah, SpJP mengatakan suara dengan desibel tinggi, di atas 50 dB bisa mengakibatkan penyakit jantung dan pembuluh darah.

    “Tapi apakah dalam waktu singkat? tentunya nggak ya, butuh waktu yang lama untuk noise pollution menjadi cardiovascular disease,” kata dr Yuri saat dihubungi detikcom, Selasa (5/8/2025).

    “Henti jantung berhubungan sama masalah kelistrikan jantung atau aritmia. Misal dengar suara yang kenceng terus memicu aritmia seseorang muncul, masih mungkin bikin henti jantung ya,” sambungnya.

    dr Yuri menambahkan penelitian menunjukkan bahwa kebisingan yang ‘tidak biasa’ seperti suara pesawat, kereta api, hingga jalan raya memiliki hubungan yang bergantung pada dosis dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas kardiovaskular.

    “Kalau dari jurnal luar negeri lebih ke penelitian ke arah transportation noise ya, yang kita tau desibelnya tidak lebih tinggi dari sound horeg,” katanya.

    Untuk diketahui, tingkat suara yang dihasilkan saat pesawat lepas landas ada di angka 120 dB, sementara sound horeg sendiri bisa mencapai 120-135 dB.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan bahwa ambang batas aman paparan suara adalah 85 dB selama maksimal 8 jam per hari. Paparan suara di atas 100 dB digambarkan sebagai suara yang sangat keras dan berpotensi membahayakan.

    Tingkat suara 120 dB adalah tingkat desibel yang menggambarkan suara sangat keras. Faktanya, pada grafik desibel, 120 dB menandai batas suara yang menyakitkan dan sangat berbahaya bagi telinga manusia. Ini seperti mendengarkan sirine dan batas aman berada di dekatnya hanya 12 detik.

    Halaman 2 dari 2

    (dpy/up)

  • Kriminal kemarin, penodongan senjata api hingga penyiraman air keras

    Kriminal kemarin, penodongan senjata api hingga penyiraman air keras

    Jakarta (ANTARA) –

    Sejumlah peristiwa yang berkaitan dengan keamanan terjadi di Jakarta pada Senin (4/8), mulai dari penodongan senjata api di Jakarta Timur hingga penyiraman air keras di Jakarta Utara.

    Berikut berita selengkapnya yang masih menarik untuk dibaca kembali.

    1. Polisi selidiki pria todongkan senjata api ke pemotor di Jaktim

    Jakarta (ANTARA) – Polisi menyelidiki pria pengemudi mobil yang menodongkan senjata api ke pemotor di kawasan Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur, pada Minggu (3/8) sore.

    “Terkait pengemudi mobil yang mengeluarkan senjata api di Banjir Kanal Timur (BKT), kami masih selidiki,” kata Kapolsek Duren Sawit AKP Sutikno saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin.

    Berita selengkapnya di sini

    2. Empat pelajar di Jakarta Utara jadi tersangka penyiram air keras

    Jakarta (ANTARA) – Unit Reserse Kriminal Polsek Tanjung Priok menetapkan empat pelajar berinisial AR, YA, JBS dan MA sebagai tersangka penyiram air keras terhadap pelajar berinisial AP (17) di Jalan Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara pada Jumat (1/8).

    “Keempat tersangka dijerat Pasal 80 UU Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan pasal 170 ayat 2 kedua KUHP Jo Pasal 55 ayat 1 KUHP dengan ancaman hukuman penjara maksimal sembilan tahun,” kata Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Tanjung Priok AKP Handam Samudro di Jakarta, Senin.

    Berita selengkapnya di sini

    3. Fariz RM dituntut enam tahun penjara atas kasus narkoba

    Jakarta (ANTARA) – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menuntut terdakwa Fariz Roestam Munaf (Fariz RM) selama enam tahun penjara atas kasus penyalahgunaan narkotika, psikotropika dan bahan adiktif lainnya (narkoba) jenis sabu.

    “Menjatuhkan terdakwa dengan pidana penjara selama enam tahun dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan sementara tetap ditahan,” kata salah satu JPU, Indah Puspitarani dalam sidang pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Senin.

    Berita selengkapnya di sini

    4. Pencurian motor beruntun di Jakarta Barat diusut polisi

    Jakarta (ANTARA) – Kepolisian mengusut kasus pencurian sepeda motor beruntun pada dua titik di Kedoya Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat pada Minggu (3/8) dini hari.

    “Masih kita lakukan penyelidikan. Korban dan saksi-saksi sudah kita periksa. Kemudian CCTV di dua lokasi, juga sudah kita ambil untuk bahan penyelidikan,” kata Kanit Reskrim Polsek Kebon Jeruk AKP Ganda Jaya Sibarani saat dihubungi di Jakarta, Senin.

    Berita selengkapnya di sini

    5. Ini penjelasan SPBU Jakbar soal motor pengendara mogok usai isi BBM

    Jakarta (ANTARA) – Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 34.116.12 Pertamina di Jalan Kembang Kerep, Kembangan, Jakarta Barat (Jakbar) mengakui adanya kelalaian petugas berakibat sepeda motor sejumlah pengendara mogok usai mengisi bahan bakar di tempat itu.

    “Terjadi kesalahan pengisian dari mobil tangki ke tabung BBM (bahan bakar minyak) Biosolar masuk ke Pertalite. Itu, kesalahan dari pengawas yang melakukan kegiatan tersebut, tidak memindahkan selangnya ke tangki sehingga motor pelanggan mogok,” ucap Manajer SPBU 34.116.12 Pertamina, Ramses Sitorus di Jakarta, Senin.

    Berita selengkapnya di sini

    Pewarta: Mario Sofia Nasution
    Editor: Rr. Cornea Khairany
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • KAI Buka Refund 100 Persen Dampak KA Argo Bromo Anjlok

    KAI Buka Refund 100 Persen Dampak KA Argo Bromo Anjlok

    Yogyakarta, Beritasatu.com – PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 6 Yogyakarta mengumumkan bahwa pengembalian bea tiket 100% masih dibuka bagi penumpang yang terdampak keterlambatan perjalanan akibat anjloknya KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Pegadenbaru, Cirebon, pada Jumat (1/8/2025).

    Manager Humas KAI Daop 6 Yogyakarta, Feni Novida Saragih menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami penumpang.

    “Kami menginformasikan pengembalian bea tiket sebesar 100% di luar bea pemesanan bagi pelanggan yang terdampak dan batal berangkat sesuai ketentuan yang berlaku,” ujar Feni di Yogyakarta, Senin (4/8/2025).

    KAI memberikan kemudahan proses refund bagi pelanggan yang memilih batal berangkat:

    1. Refund 100% di luar bea pesan untuk jadwal keberangkatan 1–3 Agustus 2025.

    2. Berlaku bagi penumpang yang tidak jadi berangkat akibat keterlambatan atau penundaan perjalanan.

    3. Proses refund:

    Tunai di loket stasiun online: Stasiun Yogyakarta, Lempuyangan, dan Solo Balapan.Transfer melalui Call Center 121, ponsel, atau menu bantuan di aplikasi Access by KAI.

    4. Penumpang harus menyiapkan kode booking, NIK, nama penumpang, nomor rekening, nomor telepon, dan e-mail.

    5. Batas waktu pengajuan refund adalah 7×24 jam sejak tanggal keberangkatan yang tertera di tiket.

    Feni menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk tanggung jawab KAI untuk menjaga kenyamanan dan kepercayaan pelanggan.

    “KAI berkomitmen memberikan pelayanan terbaik, memastikan keselamatan, dan memudahkan penumpang terdampak untuk mendapatkan haknya,” tutupnya.

    Dengan adanya refund tiket KAI 100%, diharapkan penumpang yang perjalanannya terganggu tetap merasa terlayani dengan baik.

  • Bengkayang jadi tuan rumah Anugerah Pesona Indonesia Award 2025

    Bengkayang jadi tuan rumah Anugerah Pesona Indonesia Award 2025

    Ajang API Award ini momentum untuk memperkenalkan lebih luas seluruh pariwisata yang kita miliki, mulai dari wisata alam, budaya hingga wisata sungai

    Bengkayang (ANTARA) – Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, menjadi tuan rumah pelaksanaan ajang nasional Anugerah Pesona Indonesia (API) Award 2025 yang dijadwalkan berlangsung pada November.

    Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis mengatakan bahwa penunjukan Kabupaten Bengkayang sebagai tuan rumah merupakan kehormatan sekaligus peluang untuk mempromosikan kekayaan wisata di wilayah perbatasan RI-Malaysia di Kalbar tersebut.

    “Ajang API Award ini menjadi momentum untuk memperkenalkan lebih luas seluruh sektor pariwisata yang kita miliki, mulai dari wisata alam, budaya, hingga wisata sungai yang tersebar di seluruh kecamatan,” ujar Bupati Darwis di Bengkayang, Senin.

    Ia mengatakan Kabupaten Bengkayang memiliki ratusan objek wisata yang tersebar di 122 desa di 17 kecamatan, mulai dari wisata pegunungan, pantai, pulau-pulau eksotis di wilayah pesisir, hingga ribuan aliran sungai yang berpotensi dikembangkan menjadi destinasi wisata.

    Selain itu, Bengkayang juga memiliki keunikan sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia di Jagoi Babang, yang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

    API Award merupakan ajang tahunan yang diselenggarakan untuk mempromosikan pariwisata nasional serta meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di berbagai daerah.

    Saat ini, kata Bupati, berbagai persiapan terus dimatangkan, termasuk penentuan lokasi utama acara yang direncanakan digelar di depan Kantor Bupati Bengkayang.

    “Karena nanti selain malam penganugerahan, acara juga akan diramaikan dengan penampilan kesenian daerah dan pertunjukan artis nasional, sebagai bagian dari upaya memperkuat daya tarik dan promosi pariwisata lokal,” ujarnya.

    Pemerintah daerah berharap pelaksanaan API Award 2025 di Bengkayang dapat berlangsung lancar dan sukses, serta membawa dampak positif terhadap peningkatan kunjungan wisatawan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.

    Menurut Darwis, API Award merupakan ajang penghargaan tahunan yang strategis dalam rangka mempromosikan pariwisata daerah di tingkat nasional.

    Ia berharap kepercayaan yang diberikan kepada Kabupaten Bengkayang dapat dimanfaatkan maksimal untuk menunjukkan keunggulan sektor pariwisata dan budaya lokal.

    “Ajang ini sekaligus mendorong keterlibatan aktif semua pihak, baik pemerintah daerah maupun masyarakat, dalam mengembangkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif,” ujarnya.

    Pewarta: Narwati
    Editor: Agus Salim
    Copyright © ANTARA 2025

    Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

  • Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut gelar training safetyman bagi pengawas SPBU

    Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut gelar training safetyman bagi pengawas SPBU

    Sumber foto: Diurnawan/elshinta.com.

    Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut gelar training safetyman bagi pengawas SPBU
    Dalam Negeri   
    Editor: Sigit Kurniawan   
    Senin, 04 Agustus 2025 – 16:23 WIB

    Elshinta.com – PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut menyelenggarakan training safetyman atau pelatihan aspek Health, Safety, Security and Environment (HSSE) kepada operator dan pengawas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan memastikan pengawasan operasional sesuai standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

    Area Manager Comm, Rel & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw mengatakan pihaknya telah melaksanakan training safetyman kepada seluruh pengawas SPBU terkait dengan pentingnya aspek HSSE. Program ini merupakan tanggung jawab Pertamina Patra Niaga dalam mengembangkan budaya safety kepada seluruh SPBU Pertamina khususnya dalam menjaga keamanan dan keselamatan operasional SPBU. 

    “Melalui pelatihan HSSE, para operator dan pengawas SPBU dibekali pengetahuan dan keterampilan serta memastikan pengawasan operasional sesuai dengan standar K3. Para peserta sangat antusias mengikuti setiap tahapan pelatihan mulai dari teori hingga praktik penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR),” ujar Fahrougi.

    Training Safetyman ini dilaksanakan oleh Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut melalui Sales Area Retail Sibolga dan diikuti sebanyak 72 pengawas SPBU pada 21-22 Juli 2025. Kemudian, pelatihan ini juga dilakukan oleh Sales Area Retail Medan dan dihadiri oleh 75 pengawas SPBU pada 28-29 Juli 2025. Seluruh kegiatan pelatihan ini berlangsung di Kantor Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Medan.

    Pada kesempatan tersebut, para peserta juga diberi pelatihan penggunaan APAR. Sebelum praktik pemadam kebakaran, para peserta diberi pengarahan oleh Tim HSSE Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut tentang cara mengatasi kebakaran dan penggunaan APAR. Para peserta juga memiliki kesempatan untuk melakukan simulasi pemadam api ringan pada titik api yang telah disiapkan.

    “Harapannya, pengawas SPBU ini menjadi representatif kita menjadi seorang safety man yang nanti bisa menjadi garda terdepan untuk bisa memastikan standar safety, health dan seluruh aspek-aspek operasional di SPBU dapat diterapkan dengan baik demi kepuasan pelanggan,” kata Fahrougi.

    Sementara itu, peserta training safetyman, Muhammad Ardi yang juga merupakan pengawas SPBU di Deli Serdang menyampaikan apresiasinya terhadap training safetyman. Ia menilai pelatihan HSSE yang diselenggarakan Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut ini sangat bermanfaat dan penting untuk meningkatkan wawasan dan kemampuan HSSE.

    “Pelatihan ini sangat bagus, membuka wawasan kami akan pentingnya keselamatan kerja. Mudah-mudahan kegiatan pelatihan ini dapat berkelanjutan untuk lebih meningkatkan kewaspadaan kami di wilayah kerja,” kata Ardi seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Diurnawan, Senin (4/8).  

    Sumber : Radio Elshinta

  • Mobil Carry Diduga Pengedar BBM Subsidi di Situbondo Tiba-tiba Terbakar
                
                    
                        
                            Surabaya
                        
                        4 Agustus 2025

    Mobil Carry Diduga Pengedar BBM Subsidi di Situbondo Tiba-tiba Terbakar Surabaya 4 Agustus 2025

    Mobil Carry Diduga Pengedar BBM Subsidi di Situbondo Tiba-tiba Terbakar
    Tim Redaksi
    SITUBONDO, KOMPAS.com
    – Sebuah mobil Suzuki Carry dengan pelat nomor P 1864 D terbakar secara tiba-tiba di Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten
    Situbondo
    , Provinsi Jawa Timur, Senin (4/8/2025).
    Kapolsek Banyuglugur, AKP Teguh Santoso, mengonfirmasi kejadian tersebut dan menyebutkan bahwa mobil diduga terbakar akibat
    korsleting listrik
    yang menyebabkan ledakan dari dalam kendaraan.
    “Dugaan sementara penyebab mobil Suzuki Carry terbakar akibat korsleting listrik di dashboard mobil,” kata Teguh.
    Pengemudi mobil, Abu Yaman (47), warga Desa Jetis, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, diketahui telah mengisi bensin di SPBU Banyuglugur sebelum berhenti sejenak di sebuah warung kopi.
    Namun, secara tiba-tiba api muncul dari dalam mobil.
    Saat ini, Abu Yaman sedang dirawat di RSUD Besuki untuk menjalani perawatan intensif akibat
    luka bakar
    yang dialaminya.
    Beruntung, dalam peristiwa tersebut tidak ada korban jiwa.
    Rahman (29), warga Desa Kalianget, menyatakan bahwa korban sempat berusaha memadamkan api yang membakar mobilnya, namun usahanya gagal dan justru mengakibatkan luka bakar pada tubuhnya.
    “Korban mengalami luka bakar akibat hendak mematikan api di mobil namun gagal,” ungkap Rahman.
    Rahman juga menambahkan bahwa diduga pemilik mobil adalah pengedar BBM subsidi di SPBU Kalianget.
    Menurutnya, ia sering melihat mobil Suzuki Carry tersebut parkir di daerah itu untuk mengisi bensin yang kemudian dijual kembali.
    “Sering lihat dan biasanya mengisi bensin banyak lalu dijual kembali,” katanya.
    Copyright 2008 – 2025 PT. Kompas Cyber Media (Kompas Gramedia Digital Group). All Rights Reserved.