Negara: Amerika Serikat

  • Sindiran Trump ke Politikus Muslim Cawalkot New York

    Sindiran Trump ke Politikus Muslim Cawalkot New York

    New York

    Politikus Muslim dari Partai Demokrat, Zohran Mamdani, berpeluang menjadi calon Wali Kota New York. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terang-terangan mencemooh Mamdani.

    Mamdani yang seorang legislator negara bagian New York mewakili wilayah Queens ini, secara mengejutkan berhasil mengungguli kandidat berpengaruh, mantan Gubernur New York Andrew Cuomo, dalam pemilihan pendahuluan (primary) Partai Demokrat untuk calon Wali Kota New York yang digelar pada Selasa (24/6).

    Hasil pemilihan pendahuluan itu belum diumumkan secara resmi, namun perolehan suara Mamdani yang jauh di atas membuat Cuomo sulit untuk mengejarnya. Cuomo dalam pernyataannya pada Selasa (24/6) malam telah mengakui kekalahannya dan mengucapkan selamat kepada Mamdani.

    Keberhasilan Mamdani tersebut, seperti dilansir TIME dan The Hill, Kamis (26/6/2025), mendorong Trump untuk meluapkan ketidaksenangannya dalam rentetan postingan media sosial pada Rabu (25/6), mulai dari komentar menyerang penampilan, suara, hingga kecerdasan legislator berusia 33 tahun tersebut.

    Zohran Mamdani (Foto: REUTERS/David Delgado)

    Dalam salah satu komentarnya via media sosial Truth Social, Trump mencemooh Mamdani, yang sebelumnya mengklaim dirinya sebagai seorang sosialis, sebagai “seorang komunis gila 100%”.

    “Akhirnya terjadi, Partai Demokrat telah melewati batas. Zohran Mamdani, seorang komunis gila 100%, baru saja memenangkan pemilihan pendahuluan Partai Demokrat, dan ada dalam jalur untuk menjadi Wali Kota,” tulis Trump dalam salah satu postingannya.

    “Kita pernah memilih kaum kiri radikal sebelumnya, tetapi ini menjadi agak konyol. Dia terlihat BURUK, suaranya melengking, dia tidak terlalu pintar,” sebut Trump melontarkan serangan verbal terhadap Mamdani.

    Tonton juga “Sosok Zohran Mamdani, Muslim Calon Kuat Wali Kota New York” di sini:

    Simak selengkapnya di halaman selanjutnya

    Mamdani, yang merupakan anak imigran asal India dan lahir di Uganda, meraup dukungan publik melalui usulan kebijakan yang menarik, termasuk pembekuan biaya sewa bagi banyak warga New York, layanan bus gratis, dan perawatan anak universal.

    Mamdani juga secara tegas mengambil sikap pro-Palestina yang kuat, yang menuai kritikan dari kelompok pendukung Israel dan menjadikan kebijakan luar negeri sebagai titik fokus yang tak terduga dalam pertarungan calon Wali Kota New York.

    Donald Trump (Foto: Getty Images via AFP/ANDREW HARNIK)

    Beberapa waktu lalu, Mamdani secara terbuka mengatakan bahwa dirinya jika menjabat Wali Kota New York, akan menangkap Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu jika dia mengunjungi New York, dengan mengutip perintah penangkapan yang dirilis Mahkamah Pidana Internasional (ICC) pada November 2024.

    Dia juga pernah ikut hadir dan memimpin seruan dukungan terhadap gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi dalam aksi pro-Palestina di AS.

    Tonton juga “Trump: Perang Israel Vs Iran Bisa Meledak Lagi” di sini:

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

  • China Diblokir Total, Amerika Makin Ganas Siapkan Aturan Baru

    China Diblokir Total, Amerika Makin Ganas Siapkan Aturan Baru

    Jakarta, CNBC Indonesia – Amerika Serikat (AS) tengah merancang aturan baru yang secara permanen akan memblokir penggunaan kecerdasan buatan (AI) buatan China di seluruh lembaga eksekutif pemerintah.

    Langkah ini diambil sebagai bentuk perlindungan terhadap keamanan nasional di tengah kekhawatiran meningkatnya pengaruh teknologi asing.

    Rancangan Undang-undang (RUU) yang dinamai No Adversarial AI Act, diperkenalkan oleh kelompok bipartisan di Kongres AS, termasuk John Moolenaar dari Partai Republik dan Raja Krishnamoorthi dari Partai Demokrat.

    RUU ini tidak hanya menyasar China, tapi juga mencakup pelarangan terhadap AI buatan Rusia, Iran, dan Korea Utara.

    “AS harus menarik garis tegas, sistem AI yang bermusuhan tidak boleh beroperasi dalam pemerintahan kita,” ujar Moolenaar, dikutip dari Reuters, Kamis (26/6/2025).

    “Legislasi ini menciptakan tembok permanen untuk menjaga AI musuh keluar dari jaringan paling sensitif kita, di mana biaya dari sebuah kompromi terlalu tinggi,” imbuhnya.

    Langkah ini diperkuat oleh laporan Reuters sebelumnya yang menyebut perusahaan AI China, DeepSeek, diduga membantu operasi militer dan intelijen Beijing.

    Perusahaan tersebut bahkan diketahui memiliki akses besar terhadap chip buatan Nvidia, yang merupakan komponen utama dalam pengembangan AI canggih.

    DeepSeek sempat menggegerkan industri teknologi global setelah mengklaim mengembangkan model AI yang bisa menyaingi ChatGPT milik OpenAI, namun dengan biaya lebih rendah.

    Sejak saat itu, perusahaan dan lembaga pemerintah AS mulai melarang penggunaan DeepSeek dengan alasan keamanan data.

    Aturan ini akan mewajibkan Federal Acquisition Security Council untuk menyusun dan memperbarui daftar model AI dari negara-negara yang dianggap musuh AS. Teknologi dari daftar itu dilarang digunakan, kecuali ada pengecualian khusus seperti untuk tujuan penelitian, dari Kongres atau Kantor Manajemen dan Anggaran AS.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • UMKM Terancam ‘Kabur’ dari Shopee Cs Imbas Rencana Pemungutan Pajak

    UMKM Terancam ‘Kabur’ dari Shopee Cs Imbas Rencana Pemungutan Pajak

    Bisnis.com, JAKARTA – Ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Wisnu Setiadi Nugroho melihat adanya potensi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) beralih ke platform lain, menyusul adanya rencana pemerintah melibatkan marketplace seperti Shopee dan Tokopedia sebagai pemungut pajak dari penjual di platform tersebut.

    Wisnu menyampaikan, rencana ini kemungkinan akan mendorong pelaku UMKM kembali ke jalur penjualan informal seperti media sosial. Mengingat hingga saat ini platform media sosial relatif bebas dari regulasi dan pemungutan pajak.

    “Iya, ada potensi UMKM memilih kembali ke jalur penjualan informal seperti media sosial,” kata Wisnu kepada Bisnis, Kamis (26/6/2025).

    Selain itu, Wisnu melihat kebijakan ini dapat menjadi hambatan awal bagi UMKM yang baru merintis usaha, utamanya yang belum memiliki sistem pencatatan atau model bisnis yang stabil.

    “Apalagi, konsumen kita sangat sensitif terhadap harga. Beban kepatuhan tambahan di tahap awal bisa memengaruhi insentif untuk bertahan di ekosistem digital formal,” tuturnya.

    Menurut Wisnu, kondisi ini dapat menciptakan insentif negatif terhadap formalitas dan transparansi. Untuk itu, penting bagi pemerintah untuk merancang kebijakan yang tidak hanya adil dari sisi fiskal, tapi juga memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha untuk tetap berada di ekosistem formal.

    Misalnya, kata dia, dalam bentuk akses pembiayaan, pelatihan, atau visibilitas pasar yang lebih luas. Dia mencontohkan, banyak UMKM di Amerika Serikat (AS) yang tertib lapor pajak dan melakukan pelaporan administrasi secara formal lantaran ada insentif yang diberikan oleh pemerintah seperti insentif upah dan insentif Covid selama pandemi.

    Di sisi lain, dia memandang sebagian besar UMKM masih menghadapi tantangan dalam hal literasi pajak dan sistem pencatatan keuangan yang memadai.

    Merujuk riset yang ada, Wisnu menyebut bahwa, masih banyak UMKM belum memiliki pembukuan rapi atau memahami klasifikasi pajak yang berlaku.

    Jika kebijakan ini diharapkan dapat efektif dan inklusif, pemerintah perlu mendampingi dengan program edukasi dan digitalisasi pembukuan yang terjangkau, bukan hanya sekadar regulasi semata. 

    “Account representative DJP juga harus berperan aktif menjemput bola dan tidak bisa melakukan business as usual,” pungkasnya. 

  • Mengapa Banyak Orang di Dunia Ingin Punya Anak Tapi Takut Punya Anak?

    Mengapa Banyak Orang di Dunia Ingin Punya Anak Tapi Takut Punya Anak?

    PIKIRAN RAKYAT Orang-orang di seluruh dunia semakin sedikit yang memiliki anak, dan ini bukan semata-mata karena mereka tidak menginginkannya.

    Menurut temuan PBB, rata-rata tingkat kesuburan global kini turun hingga kurang dari setengah dari tingkatnya pada tahun 1960. Angka ini telah berada di bawah “tingkat pengganti” yang dibutuhkan untuk menjaga kestabilan jumlah penduduk di sebagian besar negara.

    Di tengah penurunan bersejarah tersebut, hampir 20% orang dewasa usia reproduksi dari 14 negara di seluruh dunia menyatakan bahwa mereka kemungkinan tidak akan bisa memiliki jumlah anak yang mereka inginkan, hal ini disampaikan dalam laporan yang dirilis minggu ini oleh United Nations Population Fund (UNFPA), badan PBB yang menangani kesehatan dan hak reproduksi. Namun, bagi sebagian besar dari mereka, penyebabnya bukan karena kemandulan yang menghalangi mereka untuk melakukan hal tersebut. Mereka menyebut berbagai faktor seperti keterbatasan finansial, hambatan dalam akses pelayanan kesehatan terkait kesuburan atau kehamilan, dan kekhawatiran terhadap kondisi dunia saat ini yang menjadi penghalang mereka dalam mewujudkan keputusan mereka sendiri terkait kesuburan dan reproduksi.

    Seperti dilansir TIME, “Ada banyak orang di luar sana yang bersedia memiliki anak —bahkan lebih banyak dari yang mereka miliki saat ini— jika kondisinya memungkinkan. Dan kewajiban pemerintah untuk menyediakan kesejahteraan dan jaminan sosial yang memungkinkan terciptanya keseimbangan kerja dan kehidupan, pekerjaan yang aman, pengurangan hambatan hukum, serta layanan kesehatan yang lebih baik,” kata Shalini Randeria, Presiden Central European University di Wina sekaligus penasihat eksternal senior dalam laporan UNFPA tersebut. Namun, menurut Randeria, kebijakan yang diterapkan sebagian pemerintah—seperti pemangkasan layanan Medicaid di AS atau pembatasan hak atas kesehatan dan otonomi reproduksi—merupakan langkah mundur bagi hak individu, sekaligus “kontraproduktif dari sudut pandang demografis.”

    Dalam laporan tersebut, UNFPA bekerja sama dengan YouGov melakukan survei terhadap responden dari 14 negara di Asia, Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Afrika—wilayah yang secara keseluruhan mewakili lebih dari sepertiga populasi dunia.

    “Ada kesenjangan antara jumlah anak yang ingin dimiliki seseorang dan jumlah anak yang benar-benar mereka miliki,” kata Randeria. “Bagi kami, penting untuk mencari tahu—dengan bertanya langsung pada mereka—apa yang menyebabkan kesenjangan itu.”

    Faktor Finansial Jadi Hambatan Utama

    Ilustrasi Seorang Pria Tidak Memiliki Uang freepik.com

    Hambatan paling signifikan yang diidentifikasi para responden survei sebagai alasan mereka tidak memiliki jumlah anak yang diinginkan adalah faktor ekonomi: 39% menyebutkan keterbatasan finansial, 19% keterbatasan dalam ketersediaan perumahan, 12% kurangnya layanan pengasuhan anak yang memadai atau berkualitas, dan 21% pengangguran atau ketidakamanan kerja.

    Harga semua jenis barang dan pelayanan telah naik dengan cepat dalam beberapa tahun terakhir. Inflasi global mencapai tingkat tertinggi sejak pertengahan tahun 1990-an pada Juli 2022, menurut World Bank Group. Meskipun kini sudah menurun, level inflasi saat ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi Covid-19.

    Meningkatnya biaya hidup telah berdampak besar pada perumahan dan pengasuhan anak. Di Amerika Serikat, contohnya, Departemen Keuangan menemukan bahwa harga rumah telah meningkat lebih cepat daripada pendapatan selama dua dekade terakhir, melonjak sekitar 65% sejak tahun 2000 jika disesuaikan dengan inflasi. Riset juga menunjukkan bahwa biaya pengasuhan anak di AS dalam beberapa tahun terakhir bahkan melampaui biaya perumahan atau kuliah bagi banyak keluarga.

    Krisis perumahan saat ini berdampak luas di “semua wilayah dan negara,” menurut laporan Program Pemukiman Manusia PBB (UN-Habitat) tahun lalu, yang memperkirakan bahwa antara 1,6 miliar hingga 3 miliar orang di seluruh dunia tanpa akses perumahan yang layak.   

    Tantangan Akses Reproduksi dan Layanan Kesehatan

    Ilustrasi Wanita Menatap Tes Kehamilan Negatif freepik.com

    Orang-orang mengutip bahwa faktor lain yang menghalangi mereka untuk memiliki jumlah anak yang diinginkan, termasuk hambatan dalam akses terhadap teknologi reproduksi berbantu (seperti IVF, In Vitro Fertilization) dan ibu pengganti (surrogacy)

    Sejumlah negara—termasuk Prancis, Spanyol, Jerman, dan Italia— telah melarang praktik ibu pengganti. Laporan UNFPA juga menunjukkan bahwa banyak negara membatasi atau bahkan melarang akses terhadap reproduksi berbantu dan ibu pengganti bagi pasangan sesama jenis. Di Eropa, contohnya, hanya 17 dari 49 negara yang memperbolehkan inseminasi medis bagi individu, tanpa memandang orientasi seksual atau identitas gender mereka, menurut laporan tersebut.  

    UNFPA mencatat bahwa, di tengah menurunnya angka fertilitas global, beberapa pemerintah mengambil “langkah-langkah drastis untuk mendorong kaum muda mengambil keputusan fertilitas yang sejalan dengan target nasional.” Namun, laporan tersebut menekankan bahwa “krisis yang sebenarnya” adalah “krisis dalam lembaga reproduksi—yaitu kemampuan individu untuk membuat pilihan bebas, terinformasi, dan tidak terkekang dalam segala hal mulai dari berhubungan seks, menggunakan kontrasepsi, hingga memulai sebuah keluarga.”

    Menurut Center for Reproductive Rights, 40% perempuan di usia reproduksi di dunia hidup di bawah hukum aborsi yang ketat. Banyak negara—termasuk Brazil, Filipina, dan Polandia, di antara yang lainnya— memberlakukan pembatasan aborsi. Pada 2022, Mahkamah Agung Amerika Serikat mencabut putusan penting Roe v. Wade, yang menghapuskan hak konstitusional atas aborsi. Sejak saat itu, lebih dari selusin negara bagian di AS telah menerapkan larangan total atau pembatasan aborsi. Ada banyak laporan menyebutkan bahwa perempuan hamil ditolak mendapatkan perawatan kritis karena undang-undang tersebut, dan banyak perempuan mengaku tidak merasa aman untuk hamil di negara bagian yang melarang aborsi.

    Meski semakin banyak perempuan di dunia yang kebutuhan perencanaan keluarganya telah terpenuhi, PBB menemukan bahwa sekitar 164 juta perempuan masih belum mendapatkan akses tersebut hingga tahun 2021, menurut laporan yang dirilis tahun 2022.

    Selain menganggap akses terhadap perencanaan keluarga sebagai hak asasi manusia, PBB juga menekankan bahwa hal ini merupakan kunci dalam upaya pengentasan kemiskinan.

    Ketakutan akan Masa Depan yang Tak Pasti

    Ilustrasi Pasangan Menatap Cakrawala freepik.com

    Sekitar 14% responden dalam laporan UNFPA mengatakan kekhawatiran mereka tentang situasi politik atau sosial, seperti perang dan pandemi, telah atau akan menyebabkan mereka memiliki anak lebih sedikit dari yang diinginkan. Sekitar 9% responden juga menyatakan bahwa kekhawatiran terhadap perubahan iklim atau kerusakan lingkungan telah atau akan mempengaruhi keputusan mereka untuk memiliki lebih sedikit anak dari yang direncanakan.

    Kekerasan dan konflik global meningkat dalam beberapa tahun terakhir.  Periode antara tahun 2021 dan 2023 tercatat sebagai masa paling penuh kekerasan sejak berakhirnya Perang Dingin, menurut World Bank Group. Jumlah korban tewas dalam konflik bersenjata dan jumlah konflik itu sendiri meningkat dalam satu dekade terakhir.

    Kekerasan tersebut turut memicu pada meningkatnya pengungsian global selama bertahun-tahun: Lebih dari 122 juta orang di seluruh dunia terpaksa mengungsi, menurut laporan badan pengungsi PBB pada hari kamis, jumlah tersebut hampir dua kali lipat dari jumlah yang tercatat satu dekade lalu.

    Dampak pandemi global ini semakin terasa, bahkan belum menunjukkan tanda-tanda mereda karena Covid-19 terus menyebar, menghasilkan varian baru, dan berdampak pada jutaan orang dengan masa pemulihan yang bisa berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Di luar Covid-19, wabah penyakit menular menjadi semakin umum terjadi—dan para ahli memperkirakan bahwa di tahun-tahun mendatang risiko wabah meningkat menjadi epidemi dan pandemi akan semakin meningkat.

    Dalam survei Program Pembangunan PBB tahun 2024, yang secara statistik mewakili sekitar 87% populasi global, sekitar 56% responden mengatakan mereka memikirkan tentang perubahan iklim harian atau mingguan. Sekitar 53% dari responden juga mengatakan mereka lebih khawatir tentang perubahan iklim sekarang dari tahun sebelumnya. 1/3 dari responden mengatakan bahwa perubahan iklim secara signifikan mempengaruhi keputusan-keputusan besar dalam hidup mereka.

    “Saya ingin punya anak, tapi makin lama makin sulit,” kata seorang perempuan berusia 29 tahun dari Meksiko dalam laporan tersebut. “Hampir mustahil membeli atau menyewa tempat tinggal dengan harga terjangkau di kota saya. Saya juga tidak ingin melahirkan anak di masa perang dan kondisi planet yang memburuk jika itu berarti si anak harus menderita karenanya.” (Naomi Dongoran/PKL Polban) ***

  • Keluarkan Asap, Pesawat American Airlines Putar Balik ke Bandara Las Vegas

    Keluarkan Asap, Pesawat American Airlines Putar Balik ke Bandara Las Vegas

    Las Vegas

    Pesawat American Airlines 1665 tujuan Bandara Internasional Charlotte Douglas harus kembali ke Bandara Internasional Harry Reid di Las Vegas, Amerika Serikat. Pesawat Airbus A321 itu harus putar balik usai diduga mengalami masalah mesin dan mengeluarkan asap.

    Dilansir CNN, Kamis (26/6/2025), Administrasi Penerbangan Federal (FAA) mengatakan insiden itu terjadi pada pukul 8.20 pagi waktu setempat.

    Sementara itu, juru bicara bandara, Like Nimmo, mengatakan pesawat melaporkan asap keluar dari mesin. “Asap keluar dari mesin kiri,” kata Nimmo.

    “(Setelah pesawat mendarat) petugas pemadam kebakaran memeriksa mesin, dan pesawat melaju ke gerbang dengan tenaganya sendiri,” imbuhnya.

    American Airlines mengatakan ada 153 penumpang dalam penerbangan tersebut dan enam awak pesawat. Sebelumnya, bandara tersebut mengatakan kepada CNN bahwa ada 165 penumpang.

    “Pesawat melaju ke gerbang dengan tenaganya sendiri dan penumpang turun dari pesawat seperti biasa,” kata maskapai tersebut dalam sebuah pernyataan.

    “Kami menghargai profesionalisme awak kami dan berterima kasih kepada tim kami yang bekerja untuk mengantarkan penumpang kami ke tujuan mereka secepat mungkin,” imbuhnya.

    FAA sedang melakukan penyelidikan atas insiden ini.

    Tonton juga “Pesawat American Airlines Ditabrak Pesawat Lainnya di Landasan Pacu” di sini:

    (lir/jbr)

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini

  • Fenomena iPhone Bekas Mendadak Laku Keras, Ini Penyebabnya

    Fenomena iPhone Bekas Mendadak Laku Keras, Ini Penyebabnya

    Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar iPhone bekas tiba-tiba mengalami lonjakan permintaan yang signifikan.

    Studi terbaru Consumer Intelligence Research Partners (CIRP) menunjukkan bahwa hampir separuh pengguna iPhone di Amerika Serikat (49%) memilih menjual atau menukar perangkat lamanya ketika membeli iPhone baru.

    Angka ini meningkat cukup tajam dibandingkan tahun 2020 yang hanya sebesar 43%, demikian dikutip dari 9to5Mac, Kamis (26/6/2025).

    Lonjakan ini mencerminkan perubahan perilaku konsumen yang mulai menyadari bahwa iPhone bekas pun masih memiliki nilai jual tinggi.

    CIRP mencatat bahwa operator seluler kini makin gencar menawarkan program tukar tambah untuk mempertahankan pelanggan maupun menarik pengguna baru.

    Di sisi lain, platform jual beli perangkat bekas juga berkontribusi besar terhadap tren ini.

    Selain dijual, sebanyak 37% pengguna memilih menyimpan iPhone lama sebagai perangkat cadangan atau untuk diberikan kepada orang terdekat. Namun, angka ini menurun dari 44% pada tahun 2020. Sementara itu, 14% perangkat dilaporkan rusak, hilang, atau dicuri.

    Kondisi ini juga dipengaruhi oleh harga iPhone yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, termasuk di AS. Akibatnya, pengguna mulai mencari cara untuk mengurangi beban biaya dengan memaksimalkan nilai jual perangkat lama.

    (fab/fab)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Ketakutan Bayangi AS, Iran Bisa Tiru Korut untuk Kembangkan Nuklir

    Ketakutan Bayangi AS, Iran Bisa Tiru Korut untuk Kembangkan Nuklir

    Jakarta, CNBC Indonesia – Kekhawatiran atas respons Iran terhadap serangan militer Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklirnya makin menguat.

    Jim Himes, anggota senior Partai Demokrat di Komite Intelijen DPR AS, memperingatkan bahwa langkah militer tersebut justru berpotensi mendorong Teheran untuk menjalankan program nuklirnya secara sembunyi-sembunyi, mirip dengan pendekatan yang dilakukan Korea Utara.

    Himes menyampaikan keprihatinannya bahwa serangan semacam itu akan menutup pintu diplomasi dan menghilangkan transparansi dari program nuklir Iran.

    “Kekhawatiran saya bukan soal serangan militer terhadap aset Angkatan Laut kita di Bahrain atau pangkalan udara di Qatar. Kekhawatiran saya adalah bahwa Iran akan melakukan persis seperti yang dilakukan Korea Utara,” ujarnya kepada MSNBC, dikutip Kamis (26/6/2025).

    Himes menilai dari sudut pandang Iran, jalur diplomatik telah gagal total. Ia menyinggung keputusan mantan Presiden AS Donald Trump yang pada 2018 menarik diri dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), kesepakatan nuklir 2015 yang sempat memperlambat pengembangan senjata nuklir Iran.

    “Ketika jalur diplomasi terbukti tidak efektif, terutama setelah serangan militer yang diluncurkan Israel awal bulan ini lewat Operasi Rising Lion, Teheran kemungkinan menganggap bahwa hanya kekuatan militer yang dihormati,” lanjut Himes.

    Ia menambahkan bahwa Iran dapat mengambil pelajaran dari negara-negara seperti Ukraina dan Libya yang menyerahkan program nuklir mereka namun tetap menjadi sasaran intervensi asing. “Alternatif [bagi Iran] adalah meniru Korea Utara, yang mengembangkan bom secara diam-diam,” kata Himes.

    Meskipun Presiden Donald Trump mengeklaim bahwa serangan AS telah menghancurkan kemampuan Iran untuk membuat bom nuklir, laporan intelijen awal yang dikutip oleh CNN International dan The New York Times justru meragukan efektivitas operasi tersebut.

    Sementara itu, Daryl Kimball, Direktur Eksekutif Arms Control Association (ACA), menyebut bahwa serangan militer semata tidak akan menghancurkan pengetahuan nuklir yang telah dimiliki Iran.

    “Serangan militer mungkin hanya akan menunda program nuklir Iran untuk sementara. Tapi ini bisa justru menjadi pembenaran bahwa senjata tersebut diperlukan sebagai alat pencegah, dan bahwa Washington tidak tertarik dengan diplomasi,” jelas Kimball dalam pernyataan resminya.

    Kekhawatiran serupa disampaikan oleh lembaga think tank ternama di AS, Center for Strategic and International Studies (CSIS), yang dalam laporannya Oktober 2024 lalu menegaskan bahwa serangan militer bisa mendorong Iran untuk mengalihkan aktivitas nuklir mereka ke bawah tanah, secara harfiah dan metaforis, sehingga semakin sulit dipantau oleh komunitas internasional.

    Presiden Dewan Nasional Iran-Amerika (NIAC), Jamal Abdi, dalam pernyataannya kepada Newsweek juga menyoroti ketidakpastian seputar komponen-komponen utama dari program nuklir Iran.

    “Masih banyak pertanyaan signifikan tentang ke mana arah program ini akan dibawa Iran setelah serangan-serangan tersebut,” ujarnya.

    Sampai saat ini, dampak penuh dari serangan militer AS terhadap fasilitas nuklir Iran masih belum diketahui secara pasti. Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, bahkan menyebut bahwa keberadaan sebagian stok uranium yang telah diperkaya oleh Iran masih misterius.

     

    (luc/luc)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Seberapa Jauh Jarak Aman Terhindar dari Radiasi Nuklir?

    Seberapa Jauh Jarak Aman Terhindar dari Radiasi Nuklir?

    Jakarta

    Perang Iran-Israel sempat membuat dunia khawatir soal potensi ancaman nuklir. Dunia harus tahu soal jarak aman untuk terhindar dari radiasi nuklir.

    Agustus tahun ini akan menandai genap 80 tahun sejak Kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang dihancurkan oleh serangan nuklir. Banyak hal tentang radiasi nuklir bisa dipelajari dari peristiwa bersejarah ini.

    Kilas balik serangan bom atom ke Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945, lebih dari 200.000 orang meninggal, sebagian besar warga negara Jepang, sebagai akibat langsung dari ledakan tersebut, dan banyak korban mengalami dampak kesehatan jangka panjang.

    Sampai saat ini, itulah satu-satunya contoh senjata nuklir yang digunakan untuk peperangan. Namun kenyataannya, per awal 2025, diketahui masih ada sekitar 12.200 hulu ledak nuklir yang tersisa di dunia.

    Kekhawatiran akan pecahnya perang nuklir kembali mengemuka akhir-akhir ini, dipicu kian memanasnya konflik Israel-Iran-Amerika Serikat. Jadi, apa yang akan terjadi jika perang nuklir meletus?

    Jangan panik, ini hanya hipotesis. Namun dalam video di bawah ini, tim dari AsapSCIENCE menguraikan ilmu di balik bom nuklir untuk memprediksi seberapa besar kemungkinan kalian akan selamat.

    Pertama, perlu diingat bahwa tidak ada cara yang jelas untuk memperkirakan dampak dari sebuah bom nuklir, karena hal itu bergantung pada banyak faktor, termasuk cuaca pada hari bom itu dijatuhkan, waktu ledakannya, letak geografis tempat bom itu jatuh, dan apakah bom itu meledak di darat atau di udara.

    Namun, secara umum, ada beberapa tahap ledakan bom nuklir yang dapat diprediksi yang dapat memengaruhi kemungkinan kalian untuk bertahan hidup.

    Dampak Ledakan Berdasarkan Jarak

    Seperti yang dijelaskan dalam video di atas, sekitar 35% energi ledakan nuklir dilepaskan dalam bentuk radiasi termal. Karena radiasi termal bergerak pada kecepatan cahaya, hal pertama yang akan mengenai kalian adalah kilatan cahaya dan panas yang menyilaukan.

    Cahaya itu sendiri cukup untuk menyebabkan kebutaan mendadak, suatu bentuk kehilangan penglihatan sementara yang dapat berlangsung beberapa menit.

    Video AsapSCIENCE mempertimbangkan sebuah bom berkekuatan 1 megaton, yang 80 kali lebih besar dari bom yang diledakkan di Hiroshima, tetapi jauh lebih kecil dari banyak senjata nuklir modern. Untuk bom sebesar itu, orang-orang yang berada hingga 21 kilometer dari ledakan akan mengalami kebutaan sementara pada hari yang cerah, dan orang-orang yang berada hingga 85 kilometer jauhnya akan mengalami kebutaan sementara pada malam yang cerah.

    Paparan panas menjadi masalah bagi mereka yang berada di dekat ledakan. Luka bakar ringan tingkat pertama dapat terjadi hingga jarak 11 kilometer, dan luka bakar tingkat ketiga, jenis luka bakar yang merusak dan melepuhkan jaringan kulit, dapat memengaruhi siapa pun hingga jarak 8 kilometer. Luka bakar tingkat ketiga yang menutupi lebih dari 24% tubuh kemungkinan besar akan berakibat fatal jika orang tidak segera mendapatkan perawatan medis.

    Jarak tersebut bervariasi, tidak hanya bergantung pada cuaca, tetapi juga pada apa yang kalian kenakan. Misalnya, pakaian putih dapat memantulkan sebagian energi ledakan, sementara pakaian yang lebih gelap akan menyerapnya. Meski demikian, hal itu tidak membuat banyak perbedaan bagi korban yang berada dekat dengan ledakan tersebut.

    Diperkirakan inti senjata nuklir seberat 1 megaton dapat menghasilkan suhu mendekati 100 juta derajat Celsius, atau sekitar lima kali suhu inti Matahari. Itu lebih dari cukup untuk langsung menghancurkan tubuh manusia menjadi unsur-unsur paling dasarnya, seperti karbon.

    Namun bagi mereka yang berada agak jauh dari pusat ledakan, ada dampak lain yang perlu dipertimbangkan selain panas. Ledakan nuklir juga mendorong udara menjauh dari lokasi ledakan, sehingga menciptakan perubahan mendadak pada tekanan udara yang dapat menghancurkan benda dan merobohkan bangunan.

    Dalam radius 6 kilometer dari bom 1 megaton, gelombang ledakan akan menghasilkan gaya 180 metrik ton pada dinding semua bangunan dua lantai, dan kecepatan angin 255 kilometer/jam. Dalam radius 1 kilometer, tekanan puncaknya empat kali lipat dari jumlah tersebut, dan kecepatan angin dapat mencapai 756 kilometer/jam.

    Secara teknis, manusia dapat menahan tekanan sebesar itu, tetapi kebanyakan orang akan terbunuh oleh bangunan yang runtuh. Kalaupun kalian berhasil selamat dari semua itu, mungkin masih ada banyak keracunan radiasi yang harus dihadapi.

    Ledakan yang menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki adalah ledakan udara, dengan setiap ledakan terjadi ratusan meter di atas setiap kota. Jika ledakan terjadi di permukaan tanah, material di permukaan mungkin telah sangat teradiasi saat terlempar tinggi ke atmosfer.

    Dampak Jangka Panjang

    AsapSCIENCE menyinggung konsekuensi dari ‘dampak nuklir’ ini dalam video mereka di atas, tetapi dampak yang terjadi di Bumi berlangsung lebih lama dari yang kalian duga. Misalnya, sebuah studi simulasi yang diterbitkan pada 2019 menemukan bahwa perang nuklir antara AS dan Rusia akan menjerumuskan Bumi ke dalam musim dingin nuklir dalam beberapa hari, karena tingkat asap dan jelaga yang dilepaskan ke atmosfer.

    Kita juga tahu bahwa partikel radioaktif dapat melakukan perjalanan sangat jauh. Sebuah studi terkini menemukan bahwa sisa-sisa karbon radioaktif dari uji coba bom nuklir Perang Dingin telah ditemukan di Palung Mariana, yang merupakan titik terdalam lautan dunia.

    Sekali lagi, semua ini hanya hipotesis. Perlu diketahui juga, ada perjanjian internasional yang dibuat untuk menghentikan penyebaran dan penggunaan senjata nuklir.

    (rns/fay)

  • Breaking News! Iran Ancam Serang Pangkalan AS, Khamenei ‘Tampar’ Trump

    Breaking News! Iran Ancam Serang Pangkalan AS, Khamenei ‘Tampar’ Trump

    Jakarta, CNBC Indonesia – Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyatakan tidak akan menyerah terhadap Amerika Serikat dan mengancam akan kembali menyerang pangkalan militer Negeri Paman Sam.

    Dalam pesan yang disampaikan melalui TV pemerintah, Khamenei ‘menunjuk’ Donald Trump dengan menegaskan tidak akan menyerah atau menuruti permintaan Presiden AS tersebut.

    “Trump dalam salah satu pidatonya mengatakan Iran harus menyerah. Trump telah membuka kenyataan bahwa AS hanya akan puas jika Iran menyerah, tapi hal itu tidak akan terjadi, negara kami kuat,” katanya.

    Khamenei, dalam pesan videonya juga menyatakan bahwa Iran “memberikan tamparan keras ke wajah Amerika”.

    Ia mengatakan bahwa AS hanya melakukan intervensi dalam perang karena “merasa bahwa jika tidak melakukan intervensi, rezim Zionis [Israel] akan hancur total”.

    “Rezim Zionis hampir runtuh dan hancur di bawah serangan Republik Islam,” imbuhnya.

    (luc/luc)

    [Gambas:Video CNBC]

  • Khamenei Puji ‘Kemenangan’ Iran, Klaim Israel Nyaris Hancur

    Khamenei Puji ‘Kemenangan’ Iran, Klaim Israel Nyaris Hancur

    Teheran

    Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyampaikan komentar pertamanya sejak negaranya menyepakati gencatan senjata dengan Israel yang mengakhiri perang selama 12 hari antara kedua negara. Khamenei memuji apa yang disebutnya sebagai “kemenangan” Iran atas Israel.

    Khamenei, seperti dilansir AFP dan CNN, Kamis (26/6/2025), juga menyebut Israel “nyaris kolaps dan hancur” saat menghadapi serangan balasan Iran.

    “Saya ingin mengucapkan selamat kepada bangsa Iran yang hebat… atas kemenangannya atas rezim Zionis yang sesat,” kata Khamenei dalam pernyataan publik pertamanya sejak gencatan senjata berlaku pada Selasa (24/6) waktu setempat.

    Dalam pernyataannya, yang dilaporkan kantor berita IRNA dan disiarkan televisi pemerintah Iran ini, Khamenei mengklaim Iran nyaris “menghancurkan” Israel.

    “Terlepas dari semua kegaduhan, dan dengan semua klaim tersebut, rezim Zionis hampir runtuh dan hancur di bawah serangan-serangan Republik Islam (Iran),” sebut Khamenei.

    Perang antara Iran dan Israel meletus pada 13 Juni lalu ketika Tel Aviv melancarkan serangan udara besar-besaran menargetkan fasilitas nuklir dan militer Teheran, yang diklaim bertujuan mencegah musuh bebuyutannya itu mengembangkan senjata nuklir. Iran telah berulang kali membantah tuduhan semacam itu.

    Pertempuran diakhiri dengan gencatan senjata yang mulai berlaku sejak Selasa (24/6), yang menghentikan pertempuran udara yang sengit selama 12 hari.

    Tonton juga “Khamenei: Pernyataan Presiden AS Konyol, Iran Tak Takut Ancaman!” di sini:

    Menurut data terbaru Kementerian Kesehatan Iran, rentetan serangan udara Israel telah menewaskan sedikitnya 627 orang dan melukai lebih dari 4.800 orang lainnya selama perang berlangsung.

    Gelombang serangan balasan Iran, menurut data otoritas Tel Aviv, dilaporkan menewaskan sedikitnya 28 orang di wilayah Israel.

    Khamenei Sebut AS Tak Dapat Apa Pun dari Serangan ke Iran

    Khamenei, dalam pernyataannya, juga menyebut bahwa Amerika Serikat (AS), yang mengebom fasilitas nuklir Iran, “tidak memperoleh apa pun” dari seranganya tersebut.

    Disebutkan oleh Khamenei bahwa AS “terlibat langsung dalam perang tersebut, meyakini bahwa penolakan untuk melakukan intervensi akan menyebabkan kehancuran total rezim Zionis”.

    “Amerika Serikat tidak memperoleh apa pun dari perang ini,” tegas Khamenei.

    Dia mengklaim Iran telah memberikan “tamparan keras” dengan membalas serangan AS tersebut melalui serangan terhadap pangkalan militer Washington yang ada di Qatar.

    “Republik Islam (Iran) menang, dan sebagai balasannya, telah memberikan tamparan keras di wajah Amerika,” sebutnya.

    Tonton juga “Khamenei: Pernyataan Presiden AS Konyol, Iran Tak Takut Ancaman!” di sini:

    Hoegeng Awards 2025

    Baca kisah inspiratif kandidat polisi teladan di sini