Misi PSIM Yogyakarta di Putaran Kedua Super League

Misi PSIM Yogyakarta di Putaran Kedua Super League

YOGYAKARTA – PSIM Yogyakarta menjadi kejutan di kompetisi Super League 2025/2026. Berstatus tim promosi sebagai juara Liga 2, PSIM sukses menembus papan atas di kasta tertinggi. Tim berjuluk Laskar Mataram pun mengusung misi khusus saat memasuki putaran kedua kompetisi.

Siapa menyangka PSIM bisa menduduki peringkat enam saat menutup putaran pertama kompetisi. Di posisi itu, PSIM mampu mengungguli tim-tim papan atas, Bali United, Persebaya Surabaya, Arema FC hingga PSM Makassar.

Tak hanya itu, PSIM juga mencatat rekor sebagai salah satu tim yang paling sedikit menelan kekalahan. Mereka hanya kalah tiga kali saat melawan Persija Jakarta, Persita Tangerang dan Bali United dengan meraih delapan kemenangan dan enam kali imbang. Kekalahan 4-0 saat menyambangi markas Persita menjadi kekalahan terbesar dari tim asuhan Jean Paul van Gastel.

Menariknya hanya tiga tim yang baru kalah tiga kali musim ini. Selain PSIM ada Persib Bandung yang memimpin klasemen dan Maluku Utara (Malut) yang menyamai pencapaian tim Kota Yogyakarta ini. Namun PSIM membuktikan sebagai tim yang paling konsisten di paruh pertama kompetisi.

“Konsistensi tim terlihat berdasarkan posisi di klasemen. PSIM selalu berada di peringkat empat hingga enam. Kami naik turun di posisi tersebut. Ada tim yang tidak konsistensi seperti pernah di posisi atas tetapi kemudian melorot jauh. Kami tidak ingin seperti itu dan berusaha untuk konsisten,” ucap manajer Razzi Taruna menanggapi kesiapan memasuki putaran kedua kompetisi.

“Keberhasilan menduduki posisi enam di klasemen dengan meraih 30 poin memang cukup memuaskan mengingat kami merupakan tim promosi. Tetapi ini belum apa-apa. Kami tentu berharap meraih hasil lebih baik di putaran kedua dan harus lebih konsisten,” kata dia lagi.

Meski bertahan di papan atas dan tak pernah terlempar dari 10 besar, namun PSIM tetap realistis saat melakoni putaran kedua yang bakal lebih ketat dengan persaingan sengit. Pasalnya, tim-tim di zona bawah bakal berusaha untuk menjauh dari ancaman degradasi.

Perburuan titel juara kian menegangkan karena Persib yang bertengger di puncak klasemen dengan mengantungi poin 38 hanya unggul tipis atas pesaingnya. Borneo FC yang menempati peringkat dua, misalnya, hanya terpaut satu poin.

Sementara, di peringkat tiga ada Persija yang memiliki poin 35. Malut pun masih layak diperhitungkan karena hanya terpaut empat poin dengan Maung Bandung.

“Dengan melihat peta persaingan itu, kami bersikap realistis saja. Kami ingin bertahan dengan kondisi nyaman. Tetapi kalau mendapat kesempatan meraih posisi lebih tinggi, tentu kami tak keberatan,” ucapnya.

PSIM tak ingin lengah dan berleha-leha saat memasuki putaran kedua. Apalagi, tim bakal melakoni laga dengan jadwal yang berat di bulan Februari.

Bagaimana tidak, setelah menjamu Persebaya yang mengawali putaran kedua, PSIM melakoni laga tandang yang sulit karena menghadapi Borneo FC, Persik Kediri dan PSBS Biak. Saat menjamu Borneo FC, tim dipaksa menyerah 3-1 dan bermain imbang 2-2 melawan PSBS.

Di kandang sendiri, PSIM menghadapi Persis Solo dalam Derbi Mataram dan Bali United. Menurut Razzi tantangan fisik menjadi perhatian utama tim, mengingat intensitas pertandingan meningkat pada putaran kedua. Razzi menegaskan pentingnya menjaga fokus dan kebugaran pemain agar tren positif tetap terjaga.

“Dengan jadwal padat dan lawan berat di bulan Februari, pemain harus tetap fokus dan fit. Ini menjadi kunci supaya performa tetap konsisten,” kata dia lagi.