Menjemput Nafkah di Tengah Hujan dan Ombak: Potret Ojek Kapal di Pantai Meneng Banyuwangi

Menjemput Nafkah di Tengah Hujan dan Ombak: Potret Ojek Kapal di Pantai Meneng Banyuwangi

Banyuwangi (beritajatim.com) – Hujan turun nyaris tanpa jeda di Pantai Meneng, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Langit kelabu menggantung rendah, sementara muara sungai yang bermuara langsung ke laut tampak keruh dan beriak pelan. Di sanalah deretan sampan bermesin bergoyang kecil, menunggu panggilan dari tengah laut.

Di atas salah satu sampan, Sunaryo (60) berdiri sambil memastikan mesin perahunya siap dinyalakan. Tangannya yang kasar bergerak luwes, seolah menyatu dengan kayu dan besi yang telah menemaninya puluhan tahun. Usia tak lagi muda, tapi hujan dan ombak tak pernah menjadi alasan baginya untuk berhenti bekerja.

Sunaryo adalah tukang ojek kapal, profesi khas kawasan pesisir Pantai Meneng. Tugasnya mengantar dan menjemput anak buah kapal (ABK) dari kapal-kapal besar pencari ikan yang bersandar sekitar 200 meter dari bibir pantai.

Di kejauhan, belasan kapal motor tampak berderet. Mayoritas kapal itu berasal dari Jawa Tengah, melakukan pelayaran panjang selama berbulan-bulan. Banyuwangi menjadi salah satu tempat singgah mereka, sekadar untuk mengisi logistik dan memberi ruang jeda bagi para ABK yang terlalu lama hidup di tengah laut.

“Kalau kelamaan di kapal, mereka bosan,” ujar Sunaryo. “Biasanya minta diantar ke darat buat belanja atau sekadar jalan.”

Setiap kapal rata-rata membawa sekitar 20 orang ABK. Selama kapal bersandar, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di atas kapal—tidur, memasak, dan menunggu waktu berlayar kembali. Daratan menjadi sesuatu yang dinanti, meski hanya sebentar.

Sunaryo menjadi penghubung rindu itu.

Ia tak perlu menunggu lama di pantai. Begitu ponselnya berdering, ia langsung menyalakan mesin dan meluncur ke arah kapal yang memanggil. Perjalanan dari muara ke kapal hanya sekitar lima menit, tapi bolak-balik itu bisa dilakukan puluhan kali dalam sehari.

“Satu kali antar Rp10 ribu per orang. Kalau pulang pergi Rp20 ribu,” katanya.

Dalam sehari, Sunaryo bisa mengantar puluhan ABK. Pendapatannya bergantung pada ramai sepinya kapal yang bersandar. Saat sepi, ia membawa pulang sekitar Rp200 ribu. Saat ramai, penghasilannya bisa mencapai Rp600 ribu per hari.

Konsekuensinya, bahan bakar cepat habis. Jika lalu lintas penumpang padat, tiga botol pertalite bisa ludes hanya untuk antar-jemput laut dan darat. Sunaryo biasa bekerja sejak pukul 05.00 WIB hingga sekitar pukul 16.00 WIB.

Sampan yang ia gunakan adalah milik pribadi. Dari perahu itulah kehidupan keluarganya bergantung. Profesi ini bukan hal baru baginya. Sunaryo sudah mengenal laut sejak kecil.

“Dulu masih SD sudah bisa bawa perahu,” kenangnya. “Belajar dari bapak.”

Puluhan tahun berlalu, laut tetap menjadi ruang hidupnya.

Di Pantai Meneng, regenerasi tukang ojek kapal berjalan alami. Salah satunya Fikri Firdaus Putra Handata (24). Usianya terpaut jauh dari Sunaryo, tapi kelincahannya mengemudikan sampan tak kalah terampil saat membelah arus dari laut ke muara.

Fikri mulai mengojek sejak usia 16 tahun. Ia tumbuh bersama deru mesin perahu dan gelombang air laut.

“Setiap hari pasti ada yang diantar jemput,” kata Fikri. “Pekerjaan saya ya mengantar anak buah kapal.”

Berbeda dengan Sunaryo, sampan yang dikemudikan Fikri bukan miliknya. Penghasilan harian harus dibagi dengan pemilik perahu. Namun baginya, pekerjaan ini sudah menjadi bagian hidup yang ia pahami dan kuasai.

Di Pantai Meneng, sekitar delapan sampan beroperasi setiap hari. Masing-masing dikemudikan orang berbeda, dengan ritme kerja yang nyaris sama. Mereka hafal betul waktu sibuk, karakter kapal, hingga para ABK yang menjadi pelanggan tetap.

Menariknya, para tukang ojek ini tidak melayani semua penumpang. Ada pembagian peran yang dipahami bersama.

“Kalau pemancing ada yang khusus antar,” ujar Fikri. “Saya hanya mengantar anak buah kapal.”

Hujan kembali turun lebih deras. Mesin sampan Sunaryo menyala, memecah kesunyian pantai. Sebuah kapal di kejauhan menunggu. Lima menit lagi, ia akan kembali ke darat, membawa penumpang dengan cerita dan kebutuhan masing-masing.

Di Pantai Meneng, laut bukan sekadar bentang alam. Ia adalah ruang kerja, ruang hidup, dan sumber penghidupan. Selama kapal-kapal besar masih bersandar, sampan-sampan kecil itu akan terus bergerak—menjemput nafkah, di tengah hujan dan ombak. [alr/beq]