Menjelajah Gunung Pandan, Atap Bojonegoro di Jantung Kendeng yang Mulai Dilirik Pendaki

Menjelajah Gunung Pandan, Atap Bojonegoro di Jantung Kendeng yang Mulai Dilirik Pendaki

Bojonegoro (beritajatim.com) – Di gugusan Pegunungan Kendeng, berdiri Gunung Pandan yang menjulang paling tinggi dibanding dua “saudaranya”, Gunung Glagahgede dan Gunung Gambir. Dengan ketinggian sekitar 897 meter di atas permukaan laut (mdpl), Gunung Pandan—yang juga dikenal dengan sebutan Gunung Gede—menjadi titik tertinggi di Kabupaten Bojonegoro sekaligus menyimpan pesona alam dan budaya yang kian menarik perhatian.

Selama ini, Gunung Pandan lebih dikenal lewat cerita rakyat dan kisah-kisah lisan yang hidup di tengah masyarakat sekitar. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, wajah gunung ini mulai berubah. Jalur-jalur setapak yang dahulu hanya dilalui warga kini semakin akrab dengan sepatu pendaki. Bahkan, kawasan ini sempat digunakan sebagai lokasi kegiatan olahraga fun trail run oleh komunitas pelari di Bojonegoro, menandai mulai terbukanya Gunung Pandan sebagai destinasi wisata minat khusus.

Gunung Pandan berada di Desa Klino, Kecamatan Sekar, Kabupaten Bojonegoro. Untuk mencapai puncaknya, pendaki memiliki setidaknya empat pilihan jalur dengan karakter yang berbeda-beda. Jalur yang paling awam dan sering digunakan berada di Dusun Tugurejo, Desa Klino. Aksesnya relatif mudah dan menjadi favorit pendaki lokal yang ingin menikmati panorama Kendeng dari ketinggian.

Pilihan kedua adalah jalur Dusun Jomblangjati, Desa Krondonan, Kecamatan Gondang, yang berbatasan langsung dengan wilayah Bendoasri, Kabupaten Nganjuk. Jalur ini menawarkan pengalaman berbeda karena pendaki akan melewati anak Gunung Pandan serta sebuah sumber mata air alami. Sumber mata air panas itu kerap menjadi tempat singgah untuk beristirahat.

Sebelum mencapai puncak utama, pendaki akan melewati Gunung Gambir dengan ketinggian sekitar 600 mdpl. Gunung ini bukan sekadar persinggahan, melainkan ruang budaya yang masih hidup. Setiap tanggal 1 hingga 15 Suro, warga setempat rutin menggelar tradisi manganan atau sedekah bumi di kawasan tersebut.

“Sedekah bumi dilakukan di sebuah sumber mata air yang kami sebut Sendang Ndimo. Selain itu, sedekah bumi juga dilakukan di puncak Gunung Pandan,” tutur Mbah Saji, Sabtu (10/1/2026).

Tradisi tersebut menjadi penanda kuat bahwa Gunung Pandan bukan hanya ruang geografis, tetapi juga ruang spiritual bagi masyarakat sekitar. Kepercayaan warga setempat juga menyebut bahwa di puncak Gunung Pandan terdapat penunggu tak kasat mata yang dikenal dengan sebutan Ki Drepo dan Nyi Gendrosari. Keduanya kerap disebut warga sebagai seorang tabib yang akhirnya muksa di puncak gunung.

Perpaduan antara alam, budaya, dan kepercayaan inilah yang membuat kawasan Kendeng, termasuk Gunung Pandan, memiliki daya tarik khas yang sulit ditemukan di tempat lain.

Selain dua jalur tersebut, pendakian ke Gunung Pandan juga bisa ditempuh melalui Desa Bandungan di wilayah Kabupaten Nganjuk, serta jalur Lemahbang yang dikenal sebagai akses dari arah Madiun. Meski belum sepopuler jalur Klino dan Krondonan, kedua jalur ini menyimpan tantangan tersendiri bagi pendaki yang mencari suasana berbeda.

Dengan potensi alam yang masih terjaga dan tradisi lokal yang tetap lestari, Gunung Pandan perlahan menjelma menjadi destinasi alternatif bagi pencinta alam dan pegiat olahraga luar ruang. Di balik ketinggiannya, gunung tertinggi di Bojonegoro ini menyimpan cerita, spiritualitas, dan petualangan yang menunggu untuk dijelajahi.

Sementara itu, salah seorang pemerhati sejarah Kabupaten Bojonegoro, Ahmad Wahyu Rizkiawan, dalam artikel yang pernah dipublikasikan di jurnaba.co berjudul Gunung Pandan: Spirit Ekologi dan Pusat Kebudayaan mengungkapkan bahwa keberadaan Gunung Pandan yang berada di Pegunungan Kendeng cukup diperhatikan oleh Raja Dyah Baletung (898–910).

Selama masa kejayaan Medang dengan Raja Dyah Baletung, sangat mengistimewakan keseimbangan sungai (Bengawan Solo) dan pegunungan. Gunung yang juga memiliki nama Gunung Pugawat itu juga telah banyak ditulis dalam sebuah prasasti. Dalam Prasasti Pucangan (1041 M), Gunung Pandan dikenal sebagai tempat pertapaan megah kaum Brahmana yang dibuat oleh Raja Erlangga dari Kerajaan Medang Kahuripan.

“Hal ini menunjukkan bahwa kawasan ini sudah menjadi pusat spiritual dan kebudayaan sejak awal era Hindu-Buddha di Jawa,” ungkap Wahyu dalam tulisannya.

Kemudian, dalam catatan penjelajah dan kolonial sekitar abad ke-19 M, pelancong Jawa bernama Raden Mas Arya Purwalelana melakukan ekspedisi ke lereng Gunung Pandan dan mencatat adanya makam seorang putri bernama Gendrosari serta patung besar yang dikenal masyarakat sebagai Mbah Derpo.

Pada catatan lain, pada tahun 1857, ilmuwan Belanda Roorda Eysinga melaporkan penemuan berbagai benda peribadatan di puncak gunung, termasuk patung Brahma raksasa yang juga disebut Kiai Derpo oleh warga setempat.

Akhir abad ke-19, dalam sebuah laporan arkeologi Hindia Belanda tahun 1910 disebutkan bahwa patung raksasa yang pernah berdiri di puncak gunung hilang sejak 1882. Namun, patung tersebut sempat dideskripsikan oleh peneliti Belanda seperti Dr. Brumund.

Pada awal abad ke-20, para ilmuwan seperti Dr. Frederik David Kan Bosch melakukan penelitian terhadap prasasti seperti Prasasti Sendang Sedati yang ditemukan di batas wilayah Bojonegoro dan Nganjuk. Temuan ini menyebutkan wilayah sekitar Gunung Pandan sebagai bagian wilayah penting dalam penataan administrasi kerajaan dan aktivitas masyarakat zaman dahulu.

“Penemuan prasasti dan catatan ekspedisi serta laporan arkeologi menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki kedalaman sejarah yang signifikan, jauh lebih tua dari kisah-kisah mitos yang kini berkembang,” pungkasnya. [lus/kun]