JAKARTA – Kawasan Percandian Muarajambi kini sedang bersiap untuk bersinar lebih terang di peta pariwisata global. Bukan sekadar menjadi situs arkeologi yang statis, pemerintah melalui Menteri Kebudayaan Fadli Zon resmi mempercepat pemugaran kompleks Buddha terbesar di Asia Tenggara ini dengan visi besar: Living Heritage.
Apa yang membuat transformasi ini menarik bagi dunia wisata?
Bukan Sekadar Candi, Tapi Ruang yang Hidup
Berbeda dengan museum terbuka pada umumnya, Muarajambi diproyeksikan menjadi ekosistem budaya yang fungsional. Wisatawan nantinya tidak hanya akan melihat tumpukan batu bata kuno, tetapi juga dapat merasakan atmosfer spiritual melalui aktivitas ritual keagamaan yang aktif.
“Muarajambi harus menjadi ekosistem religi yang aktif, bukan sekadar situs statis,” tegas Fadli Zon dalam rapat koordinasi di Jakarta (15/1).
Fokus pada Kedaton dan Koto Mahligai
Untuk tahap awal, perhatian utama tertuju pada Candi Kedaton dan Candi Koto Mahligai. Pemugaran kedua candi ini dilakukan dengan tingkat ketelitian tinggi (craftsmanship) untuk mempertahankan detail arsitektur yang kompleks. Upaya ini memastikan bahwa nilai estetika dan sejarah yang ditawarkan kepada wisatawan tetap otentik dan memukau.
Kolaborasi Spiritual dan Pariwisata
Langkah ini mendapat dukungan penuh dari komunitas umat Buddha (WALUBI). Sinergi ini menjamin bahwa pengembangan wisata di Muarajambi akan tetap menjaga kekhidmatan ritual, sehingga menciptakan pengalaman wisata spiritual (pilgrimage tourism) yang berkualitas bagi pengunjung mancanegara.
Dengan percepatan pembangunan lanskap dan fasilitas pendukung, Muarajambi diharapkan tidak hanya memperkuat identitas budaya nasional, tetapi juga menjadi destinasi kelas dunia yang relevan bagi generasi masa kini.
