Mengenal Objek Wisata Kalimbuang Bori di Toraja, Tradisi Pemakaman Unik

Mengenal Objek Wisata Kalimbuang Bori di Toraja, Tradisi Pemakaman Unik

YOGYAKARTA -Toraja dikenal sebagai daerah yang memiliki tradisi unik dalam merayakan kematian. Hampir semua destinasi dan atraksi wisatanya pun berhubungan dengan tahap akhir kehidupan manusia tersebut. Nah, dalam artikel ini akan dibahas objek wisata Kalimbuang Bori.

Masyarakat Toraja memiliki keyakinan dan rasa hormat yang khusus pada jiwa-jiwa orang mati. Karena bagi mereka, jiwa-jiwa tersebut adalah leluhur yang harus dihargai dan dihormati.

Objek Wisata Kalimbuang Bori

Dilansir dari Antara, terdapat 102 menhir yang terpasang dan berdiri dengan tegak di kawasan rante. Rante sendiri merupakan kawasan tempat upacara pemakaman Rambu Solo dilaksanakan bagi penduduk tingkat tertinggi di Toraja.

Upacara pemakaman tingkat tinggi ini dikenal sebagai Rapasan Sapurandanan, yaitu sebuah tahapan di mana ketika seseorang meninggal, keluarganya akan menyembelih kerbau minimal sebanyak 24 ekor dan berisi setidaknya empat jenis kerbau Toraja. Umumnya, penduduk yang mencapai tingkat Rapasan Sapurandanan adalah para pemangku adat atau Parenge’ dan bangsawan.

Situs wisata Bori Kalimbuang didirikan sejak tahun 1617 dan berlokasi di Kecamatan Sesean, Kabupaten Toraja Utara. Bebatuan ini dulunya dibawa dari atas gunung batu oleh penduduk setempat bersama-sama saat hendak menyelenggarakan upacara pemakaman.

Meski mempunyai ukuran yang berbeda-beda, menhir atau yang dikenal pula sebagai simbuang batu memiliki nilai yang sama dalam adat Toraja. Oleh karena itu, untuk membawa dan menempatkannya pun tidak sembarangan.

Batu yang akan dibawa harus melewati beberapa tahapan ritual tertentu sebelum diangkut dan ditancapkan di lokasi rante. Di sekeliling menhir, pengunjung akan menemukan bangunan bambu dengan atap berbentuk perahu, khas bangunan Toraja.

Bangunan itu disebut lakkian, sebuah tempat persemayaman peti jenazah saat menjalankan upacara pemakaman Rambu Solo dan juga ballakayan. Tempat ini juga menjadi bangunan yang difungsikan bagi keluarga ataupun tamu yang datang untuk berkumpul dan makan bersama.

Selain dijadikan tempat untuk mengadakan upacara pemakaman, Bori Kalimbuang juga digunakan sebagai tempat memakamkan penduduk Toraja yang meninggal dunia.

Berbeda dengan kawasan pemakaman pada umumnya yang berisi nisan dan kuburan, di tempat ini batu yang dimanfaatkan penduduk Toraja sebagai penyimpan mayat.

Jika Anda berjalan mendaki mengikuti trek yang sudah tersedia, Anda akan melihat kuburan batu di sisi kiri ataupun kanan jalan. Dalam satu liang batu, biasanya tidak hanya berisi satu mayat saja, melainkan bisa satu keluarga.

Karena batu besar yang digunakan tersebut umumnya memang dipersiapkan sebagai kuburan bagi satu keturunan keluarga.

Di sekitar pintu penutupnya terdapat lilin yang masih menyala dan rangkaian bunga. Adapun pada bagian depan batu kuburannya, pengunjung dapat melihat foto-foto mendiang yang sudah meninggal dunia.

Sepanjang mata pengunjung memandang, ada beragam bentuk dan rupa batu yang menarik untuk dilihat.

Selain kuburan batu, ada pula jenazah bayi yang belum tumbuh gigi disimpan dalam pohon tarra. Pemakaman yang dikenal sebagai passilliran itu dilakukan agak jauh dari kawasan rante. Namun, Anda dapat mengikuti penunjuk jalan agar dapat mencapai passiliran tersebut.

Objek wisata Bori Kalimbuang adalah salah satu dari sembilan yang ditetapkan UNESCO sebagai situs warisan dunia untuk kategori budaya di Toraja Utara. Agar dapat menyambanginya, Anda hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp15 ribu dan melakukan perjalanan sekitar lima kilometer dari Rantepao, Ibu Kota Toraja Utara.

Demikian ulasan mengenai objek wisata Kalimbuang Bori​. Kunjungi VOI.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.