JAKARTA – Kementerian Luar Negeri RI memantau kondisi warga negara Indonesia (WNI) di Iran terkait dengan situasi di negara tersebut, sementara evakuasi dinilai belum diperlukan namun KBRI Teheran tetap menyiapkan rencana kontijensi.
Protes terjadi di ibu kota Tehran pada 28 Desember, terkait kondisi ekonomi Iran yang kemudian menyebar ke sejumlah wilayah di Iran dan diikuti dengan adanya bentrokan antara pengunjuk rasa dengan aparat keamanan.
Kementerian Luar Negeri RI mengatakan, “berdasarkan komunikasi KBRI Tehran dengan para WNI di berbagai wilayah di Iran, kota-kota simpul utama komunitas WNI seperti Qom dan Isfahan relatif tidak terdapat gangguan keamanan yang signifikan.”
“WNI di Iran sebagian besar berstatus sebagai pelajar atau mahasiswa di berbagai lembaga pendidikan di Iran, khususnya di Kota Qom,” tulis Kemlu RI dalam keterangannya, Senin (12/1).
“Berdasarkan asesmen KBRI dan dengan memperhatikan kondisi di lapangan per 12 Januari, saat ini belum diperlukan evakuasi. Namun demikian persiapan mengantisipasi eskalasi situasi keamanan sesuai rencana kontigensi terus dilakukan,” lanjut kementerian.
Protes oleh para pedagang di Grand Bazaar Teheran terkait depresiasi tajam nilai tukar rial dan memburuknya ekonomi, menyebar ke sejumlah wilayah di Iran, dengan mahasiswa bergabung dalam protes mulai 30 Desember, dikutip dari TASS.
Pada 8 Januari malam, kerusuhan pecah dalam unjuk rasa yang menyebabkan 13 warga sipil, termasuk seorang anak, tewas, sementara pihak berwenang melaporkan kematian 38 petugas penegak hukum.
Wali Kota Tehran, Alireza Zakani, menyatakan para perusuh membakar 25 masjid, merusak 26 bank, tiga pusat kesehatan, 10 gedung pemerintahan, lebih dari 100 truk pemadam kebakaran, bus, dan ambulans, serta 24 apartemen.
Sedangkan kelompok hak asasi manusia yang berbasis di AS, HRANA, melaporkan kematian 490 demonstran dan 48 personel keamanan, dengan lebih dari 10.600 orang ditangkap, meskipun belum ada perkiraan resmi jumlah korban.
“KBRI Tehran mengimbau seluruh WNI di Iran agar senantiasa meningkatkan kewaspadaan, memantau perkembangan situasi melalui sumber informasi resmi, menghindari lokasi pusat-pusat demonstrasi dan kerumunan massa, serta menjaga komunikasi dengan KBRI Tehran,” kata kementerian.
“Bagi WNI yang memiliki rencana perjalanan ke Iran, diimbau agar menunda perjalanan hingga situasi dan kondisi keamanan dinyatakan kondusif,” lanjut kementerian.
“Dalam situasi darurat, WNI dapat segera menghubungi Hotline KBRI Tehran melalui nomor +98 9914668845 / +98 902 466 8889 atau Hotline Direktorat Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri melalui nomor +62 812-9007-0027,” tandas pernyataan itu.
