Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi mengumumkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk SMA/MA/SMK pada 2025. Adapun, TKA ini menjadi instrumen baru pemerintah untuk memetakan capaian akademik peserta didik pendidikan menengah secara nasional.
Pelaksanaan TKA 2025 diikuti oleh lebih dari 3,47 juta murid dari total 4,19 juta populasi murid yang terdaftar. Tingkat partisipasi tercatat mencapai 84,02%, dengan tingkat kehadiran murid yang mengikuti TKA sebesar 98,56%. Sementara itu, satuan pendidikan yang mengikuti TKA mencapai 98,96% dari total sekolah yang mendaftar.
Berdasarkan jenis satuan pendidikan, tingkat partisipasi tertinggi berasal dari SMA dengan persentase pendaftaran 96,82%, disusul SMK 93,43% dan MA 86,92%. Sementara itu, TKA yang juga berfungsi sebagai uji kesetaraan diikuti oleh 63,22% Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan 34,84% pondok pesantren.
Kendati demikian, Kemendikdasmen mencatat pelaksanaan TKA 2025 tak terlepas dari sejumlah kendala dan pelanggaran. Beberapa di antaranya adalah pemadaman listrik akibat cuaca ekstrem, gangguan jaringan internet, hingga serangan siber.
Selain itu, ditemukan pula anggapan dari sebagian peserta bahwa tingkat kesulitan soal terlalu tinggi atau belum diajarkan di sekolah.
Inspektorat Jenderal Kemendikdasmen mengidentifikasi sedikitnya 11 jenis pelanggaran yang melibatkan murid, pengawas, maupun teknisi. Seluruh laporan pelanggaran tersebut ditindaklanjuti secara langsung dan pelanggar yang terbukti dikenai sanksi sesuai dengan Keputusan Mendikdasmen Nomor 95 Tahun 2025.
Meskipun sempat beredar isu kebocoran soal, Kemendikdasmen menegaskan hasil TKA tidak terpengaruh oleh upaya tersebut. Analisis perbandingan antara peserta gelombang pertama dan kedua menunjukkan tidak terdapat kenaikan jumlah jawaban benar yang bersifat sistematis, termasuk pada mata pelajaran Biologi.
Dari sisi wilayah, DI Yogyakarta mencatat tingkat partisipasi tertinggi secara nasional dengan total 95,22%, diikuti DKI Jakarta 94,85% dan Gorontalo 92,24%. Sebaliknya, Papua Pegunungan mencatat partisipasi terendah dengan total 52,40%.
Secara nasional, rerata nilai mata pelajaran wajib menunjukkan capaian Bahasa Indonesia sebesar 55,38, Matematika 36,10, dan Bahasa Inggris 24,93. Capaian ini menunjukkan masih adanya tantangan dalam penguatan literasi numerasi dan bahasa asing di pendidikan menengah.
Jika ditinjau per provinsi, DI Yogyakarta mencatat rerata nilai tertinggi untuk ketiga mata pelajaran wajib, yakni Bahasa Indonesia 65,89, Matematika 43,09, dan Bahasa Inggris 30,00. Sementara itu, sejumlah provinsi di kawasan timur Indonesia masih mencatatkan rerata nilai di bawah rata-rata nasional.
Kemendikdasmen juga mencatat secara umum capaian SMA berada di atas MA dan SMK pada seluruh mata pelajaran wajib. Di lain sisi, pada mata pelajaran Bahasa Inggris, rerata nilai Paket C tercatat lebih tinggi dibandingkan MA dan SMK.
Dalam pengolahan nilai, TKA menggunakan metode Item Response Theory (IRT) model dua parameter logistik yang mempertimbangkan tingkat kesulitan dan daya beda soal. Metode ini dinilai lebih adil dan informatif dibandingkan penskoran klasik karena mampu membedakan kemampuan peserta secara lebih presisi.
Hasil TKA akan disampaikan kepada murid melalui satuan pendidikan masing-masing dalam bentuk Sertifikat Hasil TKA yang telah dilengkapi tanda tangan elektronik dan kode verifikasi QR.
Ke depannya, Kemendikdasmen menilai TKA dengan cakupan di atas 95% populasi SMA dapat dimanfaatkan sebagai dasar pemetaan capaian akademik antarwilayah dan perumusan kebijakan peningkatan mutu pendidikan nasional.
