JAKARTA – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memperkuat kemitraan riset dan industri Indonesia-Jepang melalui diskusi strategis bersama New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) Jepang dan Toyota di Institut Teknologi Bandung (ITB) beberapa waktu lalu.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek Fauzan Adziman mengatakan pertemuan ini diarahkan untuk mendorong lahirnya proyek percontohan kolaboratif yang terfokus dan berdampak.
Pemerintah menargetkan peluncuran sejumlah proyek kunci dalam waktu relatif singkat dengan memanfaatkan kapasitas terbaik dari institusi di Indonesia dan Jepang.
“Peran kami adalah memastikan kolaborasi yang sudah kuat ini dapat dipercepat melalui dukungan kebijakan dan program, sehingga hasil riset dapat segera diimplementasikan dan memberi dampak luas,” katanya dilansir ANTARA, Sabtu, 10 Januari.
Dirjen Fauzan menekankan pentingnya membangun kemitraan Indonesia-Jepang dalam kerangka jangka panjang, sejalan dengan visi penguatan ekosistem riset dan inovasi hingga satu dekade ke depan, fokus kerja sama ini diarahkan pada bidang-bidang strategis, termasukbiofueldan teknologi berkelanjutan, selaras dengan prioritas riset NEDO saat ini.
Sementara itu, Rektor ITB Tatacipta Dirgantara menyampaikan kolaborasi Indonesia-Jepang berangkat dari kolaborasi akademik jangka panjang yang kini diperkuat melalui kerja sama riset berkelanjutan.
Ia mencontohkan pengembangan pabrik katalisbiofuelbersama Pertamina sebagai wujud riset yang diarahkan pada implementasi dan kebutuhan energi masa depan.
“Energi ramah lingkungan adalah arah pengembangan energi global, dan kolaborasi lintas negara, industri, perguruan tinggi, serta pemerintah menjadi kunci agar riset memberi manfaat nyata bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Direktur Eksekutif NEDO Kikuo Kishimoto menilai pertemuan ini produktif dan menegaskan komitmen Jepang untuk berbagi pengetahuan teknologi guna mendukung pembangunan Indonesia, sekaligus membangun kolaborasi dua arah yang berkelanjutan dan berdampak positif bagi kedua negara.
“Kami ingin membangun kolaborasi yang tidak hanya berbagi teknologi, tetapi juga tumbuh bersama untuk menghadapi tantangan masa depan,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, delegasi juga melakukan kunjungan ke sejumlah fasilitas riset dan laboratorium di lingkungan ITB untuk melihat secara langsung kapasitas infrastruktur, aktivitas penelitian, serta dukungan ekosistem riset dalam pengembangan dan hilirisasi inovasi sains dan teknologi.
Forum ini difokuskan untuk mempercepat kolaborasi riset yang lebih aplikatif di bidangbiofueldan energi berkelanjutan, sejalan dengan agenda transisi energi dan penguatan daya saing industri nasional.
