Jepang Bersiap Aktifkan Kembali PLTN Terbesar Dunia, Trauma Fukushima Belum Hilang

Jepang Bersiap Aktifkan Kembali PLTN Terbesar Dunia, Trauma Fukushima Belum Hilang

Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah Jepang bersiap menghidupkan kembali Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Kashiwazaki-Kariwa. Pembangkit nuklir terbesar di dunia setelah tragedi Fukushima.

Aktivitas di sekitar kompleks Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Kashiwazaki-Kariwa di kawasan pesisir Prefektur Niigata, Jepang, meningkat dalam beberapa waktu terakhir. 

Sejumlah ruas jalan menuju fasilitas tersebut diperlebar, truk logistik terlihat keluar masuk area yang dijaga ketat aparat keamanan. Pagar tinggi berlapis kawat berduri juga terpasang mengelilingi kompleks pembangkit yang memiliki tujuh reaktor nuklir.

Dari kejauhan, reaktor-reaktor tersebut tampak menjulang dengan latar Gunung Yoneyama yang tertutup salju, seiring persiapan pengoperasian kembali fasilitas tersebut.

Jika seluruh reaktornya beroperasi, Kashiwazaki-Kariwa mampu menghasilkan 8,2 gigawatt listrik, cukup untuk menerangi jutaan rumah tangga. Namun sejak 2012, pembangkit ini benar-benar mati, ditutup menyusul bencana Fukushima Daiichi pada 2011 kecelakaan nuklir terburuk sejak Chernobyl yang memaksa sekitar 160.000 orang mengungsi.

Melansir dari The Guardian Senin (19/1/2026), saat ini menjelang peringatan 15 tahun tragedi tersebut, operator pembangkit Tokyo Electric Power (Tepco) berencana mengaktifkan kembali Reaktor No. 6, yang diperkirakan dapat menambah sekitar 2% pasokan listrik untuk wilayah Tokyo. Meski sempat tertunda karena alarm rusak saat uji coba, pengoperasian kembali reaktor itu disebut hanya tinggal menunggu hari.

Bagi pemerintah Jepang, langkah ini sangat penting. Kembalinya energi nuklir menjadi bagian utama strategi untuk menekan emisi karbon dan memperkuat ketahanan energi nasional, terutama di tengah ketidakpastian pasokan energi global.

Bagi sekitar 420.000 warga yang tinggal dalam radius 30 kilometer dari pembangkit, keputusan ini terasa seperti perjudian dengan nyawa mereka.

Warga Desa Kariwa, Ryusuke Yoshida, 76 tahun yang rumahnya berjarak kurang dari dua kilometer dari pembangkit. Ia menyoroti lemahnya rencana evakuasi, terutama saat musim dingin. “Semuanya membuat saya khawatir,” ujar Yoshida.

Tepco berusaha meyakinkan publik bahwa mereka telah belajar dari Fukushima. Perusahaan itu menjanjikan investasi 100 miliar yen untuk Prefektur Niigata dalam 10 tahun ke depan, serta memperkuat sistem keselamatan mulai dari dinding penahan tsunami, pintu kedap air, generator darurat, hingga sistem penyaring radioaktif yang lebih canggih.

“Keselamatan adalah prioritas utama kami. Dukungan warga setempat adalah syarat mutlak,” ujar juru bicara Tepco, Tatsuya Matoba.

Namun, kepercayaan itulah yang justru sulit diperoleh. Survei pemerintah prefektur menunjukkan lebih dari 60% warga di sekitar pembangkit tidak percaya bahwa syarat keselamatan untuk pengoperasian kembali telah terpenuhi. Seruan untuk menggelar referendum daerah pun diabaikan.

Kekhawatiran warga semakin besar setelah terungkap bahwa perusahaan listrik lain, Chubu Electric Power, memalsukan data risiko gempa saat proses evaluasi dua reaktor nuklir.

Wilayah Kashiwazaki-Kariwa sendiri berada di zona rawan gempa. Pada 2007 gempa berkekuatan 6,8 sempat merusak fasilitas pembangkit dan memicu kebakaran, meski reaktor saat itu otomatis berhenti.

Sebelum Fukushima, Jepang mengoperasikan 54 reaktor nuklir yang menyuplai sekitar 30% kebutuhan listrik nasional. Kini, dari 33 reaktor yang layak beroperasi, hanya 14 yang aktif, sementara sisanya terhambat penolakan publik. (Nur Amalina)