BOGOR – Situs Cibalay di Kabupaten Bogor menyimpan jejak peradaban yang diduga jauh lebih tua dari perkiraan selama ini. Setelah meninjau langsung lokasi, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai susunan teras dan menhir di kawasan tersebut menunjukkan ciri bangunan buatan manusia, bukan formasi alam.
Penilaian itu disampaikan Fadli saat meninjau Situs Cibalay di Desa Tapos 1, Kecamatan Tenjolaya, Jumat (16/1). Ia menekankan bahwa secara visual dan struktural, kawasan tersebut memperlihatkan pola konstruksi yang disengaja. Teras-teras tampak rata dan tersusun, disertai tonggak-tonggak batu yang diduga bagian dari altar.
“Kalau dilihat sepintas, ini seperti konstruksi punden berundak. Batu-batunya disusun oleh manusia, bukan terbentuk secara alami,” kata Fadli di lokasi.
Situs Cibalay merupakan tinggalan punden berundak yang berorientasi utara–selatan mengarah ke Gunung Salak. Kawasan ini terdiri atas lima teras, dengan bagian tertinggi berada di sisi selatan. Menhir tersebar di setiap teras, meski jumlahnya berbeda di tiap tingkat.
Fadli menegaskan, susunan batu yang terlihat saat ini sangat mungkin telah berubah akibat faktor alam. Pergerakan tanah, aliran air, serta pertumbuhan vegetasi dinilai memengaruhi posisi dan struktur batu dari bentuk awalnya. “Yang kita lihat sekarang bisa saja sudah bergeser dari konstruksi aslinya. Karena itu, kajian lanjutan menjadi penting,” ujarnya.
Data awal Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jawa Barat mencatat sedikitnya 33 titik yang berpotensi sebagai tinggalan budaya di kawasan Cibalay. Temuan ini membuka kemungkinan bahwa nilai arkeologis situs jauh lebih luas dibanding pemahaman selama ini.
Dalam kunjungan yang sama, Fadli juga meninjau Situs Arca Domas yang berada satu kawasan dengan Cibalay. Menurutnya, kondisi Arca Domas masih relatif utuh dan minim ekskavasi. Zona budaya yang saat ini ditetapkan sekitar enam hektare, namun potensi kawasan diperkirakan dapat meluas hingga 62 hektare.
“Kawasan ini menyimpan anomali yang menarik untuk diteliti. Indikasi awal menunjukkan jejak peradaban sekitar 2.000 hingga 3.000 tahun lalu, meski usia pastinya tetap harus dibuktikan secara ilmiah,” kata Fadli.
Peninjauan tersebut menjadi sinyal dorongan Kementerian Kebudayaan untuk mempercepat riset dan pelestarian Situs Cibalay dan Arca Domas, sekaligus membuka peluang pengelolaan kawasan berbasis budaya tanpa mengorbankan keaslian tinggalan sejarahnya.
