Jakarta –
Iran kembali menyaksikan gelombang baru aksi protes massal di berbagai wilayah dalam beberapa pekan terakhir. Meski demonstrasi dipicu oleh meningkatnya kemarahan publik atas melambungnya harga kebutuhan pokok, aksi-aksi tersebut juga mencerminkan kekecewaan yang kian mendalam di kalangan kelompok masyarakat yang semakin luas terhadap sistem politik Republik Islam Iran.
Para aktivis menyebut lebih dari 2.000 orang telah ditangkap sejak rangkaian protes berlangsung. Setidaknya 34 demonstran dilaporkan tewas, menurut jaringan hak asasi manusia berbasis di Amerika Serikat (AS), HRANA.
Banyak pihak khawatir rezim teokratis Iran akan mengerahkan kepolisian dan Basij, kelompok paramiliter relawan yang berada di bawah kendali Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), untuk menindak para pengunjuk rasa secara paksa.
IRGC, salah satu organisasi paling kuat di Iran, merupakan cabang angkatan bersenjata Iran yang bertanggung jawab langsung kepada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Didirikan setelah Revolusi 1979, tugas utamanya adalah mempertahankan rezim Islam.
IRGC dan kepolisian Iran memiliki pengalaman panjang dalam menumpas demonstrasi besar-besaran anti-pemerintah secara brutal, termasuk dalam satu dekade terakhir.
Protes mahasiswa Juli 1999
Pada musim panas 1999, pemerintah Iran menutup surat kabar berhaluan reformis, Salam. Langkah tersebut memicu aksi protes damai mahasiswa di ibu kota Teheran. Namun, pada malam 8 Juli, aparat keamanan menyerbu asrama mahasiswa dan menewaskan setidaknya satu orang mahasiswa.
Operasi ini memicu gelombang protes nasional yang berlangsung selama beberapa hari.
Gerakan Hijau 2009
Sepuluh tahun kemudian, pada 2009, Iran kembali dilanda protes massal.
Kerusuhan dipicu oleh pemilihan presiden yang kontroversial. Para pengkritik rezim menolak kemenangan presiden saat itu, Mahmoud Ahmadinejad, dan menuding adanya kecurangan pemilu secara luas.
Jutaan warga Iran turun ke jalan untuk berunjuk rasa. Media sosial memainkan peran besar dalam memobilisasi massa sehingga gerakan ini kerap dijuluki sebagai “revolusi Twitter.”
Namun, rezim menolak pemilu ulang, memperketat sensor, dan menindak para demonstran.
Puluhan orang tewas dan ribuan lainnya ditangkap. Gerakan yang berlangsung selama berbulan-bulan itu akhirnya berakhir tanpa hasil.
Protes “November Berdarah” 2019
Sepuluh tahun berikutnya, pada November 2019, protes mendadak pecah di berbagai wilayah Iran menyusul kenaikan harga bahan bakar secara tiba-tiba. Aksi yang dengan cepat menyebar ke lebih dari 20 kota ini awalnya berlangsung damai, dengan tuntutan ekonomi sebagai fokus utama.
Namun, suara-suara anti-rezim semakin menguat, disertai seruan terbuka untuk menggulingkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Pemerintah merespons dengan memutus akses internet dan melakukan penindakan keras. Peristiwa ini kemudian dikenal dalam sejarah terbaru Iran sebagai “November Berdarah.”
Gerakan “Perempuan, Kehidupan, Kebebasan” 2022
Pada September 2022, Jina Mahsa Amini, perempuan berusia 22 tahun, meninggal dunia saat berada dalam tahanan polisi setelah ditangkap oleh “polisi moral” karena diduga tidak mengenakan hijab dengan benar. Di Iran, perempuan diwajibkan memakai penutup kepala di ruang publik.
Kematian Amini memicu protes massal dengan slogan “Perempuan, Kehidupan, Kebebasan.” Para demonstran, yang sebagian besar anak muda, menuntut hak yang lebih luas bagi perempuan.
Pemerintah merespons dengan gelombang represi baru, termasuk penggunaan peluru tajam oleh aparat keamanan terhadap demonstran. Ribuan orang ditangkap dan banyak di antaranya tewas.
Puluhan demonstran muda dijatuhi hukuman mati melalui proses pengadilan singkat. Meski demikian, aksi protes terus berlangsung selama berbulan-bulan dan menjadi salah satu tantangan terbesar bagi Republik Islam Iran dalam beberapa dekade terakhir.
Ketidakpuasan terhadap rezim Iran menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh gelombang protes ini.
Alih-alih menyelesaikan persoalan politik, ekonomi, dan sosial yang mendasar, pemerintah kerap mengandalkan aparat keamanan untuk membungkam perbedaan pendapat.
Meski rezim sejauh ini masih mampu mempertahankan kekuasaan, gelombang protes terbaru menunjukkan bahwa persoalan-persoalan mendalam tersebut dapat muncul kembali kapan saja dan memicu perlawanan baru di Iran.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rivi Satrianegara
Editor: Hani Anggraini
(ita/ita)
